BAB V PENUTUP

5.2. Saran

Saran yang dapat diajukan berdasarkan dari simpulan diatas adalah

sebagai berikut:

5.2.1 Bagi Pihak PT. Go-Jek Indonesia

1. Pihak Go-Jek perlu mempertahankan kualitas pelayanan yang baik,

sehingga kepercayaan konsumen tidak hilang. Kualitas pelayanan

khususnya aspek jaminan perlu diperhatikan lagi seperti dalam hal sikap

ramah dan santun karena hal inilah yang bisa dirasakan langsung oleh

konsumen. Selain itu, perlu juga pihak Go-Jek meningkatkan pengetahuan

mengenai rute-rute jalan kepada para rider.

2. Selain kualitas pelayanan, pihak Go-Jek juga hendaknya memperhatikan

harga yang ditawarkan atas jasa yang dijualnya, harga yang ditawarkan

bila mengalami perubahan hendaknya diberitahukan agar pelanggan tidak

kecewa atas perubahan harga barang yang ditawarkan. Perubahan ini juga

harus di iringi dengan kualitas pelayanan yang ditawarkan harus sesuai

dengan keinginan pelanggan.

5.2.2. Bagi Penelitian Selanjutnya

Bagi peneliti yang akan datang disarankan untuk dapat menambahkan

variabel lain yang diduga berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan, seperti

lokasi dan promosi. Sehingga diperoleh informasi secara lengkap terkait dengan

hal-hal yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam menggunakan layanan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu

Pengaruh Harga dan Kualitas Layanan Terhadap Keputusan Pembelian Pada

PT. Cahaya Sakti Yamaha Di Surabaya oleh Radiktya Hutama Putra tahun 2013.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Harga dan Kualitas

Layanan Terhadap Keputusan Pembelian. Populasi dalam penelitian ini adalah

keseluruhan konsumen PT. Cahaya Sakti Yamaha pada bulan Januari – Maret

2013, dengan jumlah sampel 131 konsumen. Pengujian hipotesis yang digunakan

dalam penelitian ini adalah analisis multivariate dengan PLS. Penaksiran

pengaruh pada masing – masing variabel bebas terhadap variabel terikatnya

menggunakan koefisien jalur, hal ini dikarenakan pada penelitian ini memiliki

beberapa indikator dari masing-masing variabel bebas dan terikat. Berdasarkan

hasil pengujian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Harga tidak

dapat memberikan kontribusi terhadap keputusan pembelian, hal ini membuktikan

bahwa dealer – dealer Yamaha di Surabaya memiliki harga yang hampir sama,

memiliki selisih yang tidak begitu berbeda. Kualitas layanan dapat memberikan

kontribusi terhadap keputusan pembelian, hal ini membuktikan bahwa pelayanan

yang baik akan dapat menciptakan loyalitas pelanggan yang semakin melekat erat

dan pelanggan tidak berpaling pada perusahaan lain.

Eko Yuwananto dengan judul “Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Harga

Terhadap Kepuasan Pelanggan Pada Usaha Bahan Bangunan Sembilan Lima di

Kecamatan Gunungpati”. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1)

Bagaimana pengaruh harga terhadap kepuasan pelanggan?, serta (3) bagaimana

pengaruh kualitas pelayanan dan harga terhadap kepuasan pelanggan?. Tujuan

dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap

kepuasan pelanggan, untuk mengetahui pengaruh harga terhadap kepuasan

pelanggan dan untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan dan harga terhadap

kepuasan pelanggan pada usaha bahan bangunan Sembilan Lima di kecamatan

Gunungpati. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelanggan yang

menikmati jasa di usaha bahan bangunan sembiln lima . Sampel ditentukan

dengan teknik sampel area dengan responden sebanyak 115 orang.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner (angket) dan

dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji

instrumen (uji validitas dan uji reliabilitas), analisis regresi linier sedrhana,

pengujian hipotesis, dan koefisien determinasi dengan menggunakan program

SPSS 13.

Hasil penelitian diperoleh persamaan regresi linier sederhana Y = 2,675+

0,042 X1 + 0,579X2. Ada pengaruh antara kualitas pelayanan secara

parsialdengan nilai t=3,687, ada pengaruh harga terhadap kepuasan pelanggan

secaraparsial dengan nilai t = 11,831 dan ada pengaruh kualitas pelayanan dan

harga secara simultan dengan nilai F = 139,327. Secara keseluruhan kualitas

pelayanan dan harga mempengaruhikepuasan pelanggan sebesar 0,708, hal ini

berarti 70,8% kepuasan pelanggan pada usaha bahan bangunan sembilan lima

dipengaruhi oleh variabel kualitas pelayanan dan harga, sedangkan sisanya 29,2%

dipengaruhi oleh variabel lain yang berada di luar variabel yang diteliti dalam

bahwa ada pengaruh yang signifikan kualitas pelayanan dan harga terhadap

kepuasan pelanggan usaha bahan bangunan Sembilan lima.

2.2 Pemasaran

2.2.1 Pengertian Pemasaran

Pemasaran merupakan fungsi bisnis yang berhubungan langsung dengan

konsumen. Kesuksesan perusahaan banyak ditentukan oleh prestasi di bidang

pemasaran. Pemasaran merupakan proses mempelajari kebutuhan dan keinginan

konsumen, dan memuaskan konsumen dengan produk dan pelayanan yang

berkualitas dan pada harga yang kompetitif.

Pemasaran adalah sekelompok aktivitas yang saling berkaitan yang

dirancang untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan mengembangkan

distribusi, promosi, dan penetapan hara serta pelayanan untuk memuaskan

kebutuhan konsumen pada tingkat keuntungan tertentu. (Kismono, 2001:293).

Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan

memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. (Assauri,

2007:5)

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan pemasaran adalah suatu

aktivitas dimana produsen mencari konsumen, kemudian mengenali kebutuhan

konsumen, merancangkan produk yang akan dipasarkan dengan tepat menentukan

harga jual yang layak, mempromosikan produk atau jasa tersebut kemudian

menyampaikannya ke konsumen.

2.2.2 Bauran Pemasaran Jasa

Demi kesuksesan, perusahaan harus mampu merencanakan bauran

lain, perusahaan harus dapat menyakinkan diri sanggup memanipulasi 4P di mana

produk atau jasa tersedia pada waktu yang tepat, tempat yang tepat, promosi dan

saluran distribusi yang tepat.

Menurut Kotler (dalam Kismono, 2001:308) bauran pemasaran adalah

kombinasi dari variable atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran

yang terdiri strategi produk, harga, promosi, dan distribusi.

Bauran pemasaran sebagaimana yang sudah dikenal terdiri dari empat

elemen (4 P’s): Produk, Harga, Distribusi, dan Promosi. Dengan sejumlah

penyesuaian, keempat elemen ini juga penting dalam pemasaran jasa. Akan tetapi,

dalam pemasaran jasa, ada elemen-elemen lain yang bisa dikontrol dan

dikoordinasikan untuk keperluan komunikasi dengan dan memuaskan konsumen

jasa. Elemen-elemen tersebut adalah: orang (People or participant), lingkungan

fisik, di mana jasa diberikan atau bukti fisik (physical evidence), dan proses jasa

itu sendiri (process). Dengan demikian 4 P’s yang pada mulanya menjadi bauran

pemasaran barang, perlu diperluas menjadi 7 P’s jika ingin digunakan dalam

pemasaran jasa.

2.2.3 Harga

Harga adalah nilai yang disebutkan dalam rupiah dan sen atau medium

moneter lainnya sebagai alat tukar, atau secara singkat merupakan sejumlah uang

yang dibutuhkan untuk memperoleh satu atau beberapa kombinasi dari sebuah

produk dan pelayanan yang menyertainya (Stanton, 1996:308).

Swashta dan Sukotjo (1998:210) mengemukakan, harga dapat didefinisikan

sebagai sejumlah uang (ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk

Selanjutnya, Lamb, Hair, dan McDaniel (2001:268) mengemukakan bahwa

harga merupakan sesuatu yang diserahkan dalam pertukaran untuk mendapatkan

suatu barang ataupun jasa. Seacara khusus, harga merupakan pengorbanan berupa

uang maupun pengorbanan dalam bentuk lain, yakni berupa waktu, tenaga,

maupun pikiran.

Penentuan harga oleh suatu perusahaan, dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Faktor yang pertama adalah kondisi perekonomian. Kondisi perekonomian sangat

mempengaruhi tingkat harga yang berlaku. Suatu reaksi akibat pengaruh kondisi

perekonomian adalah kenaikan harga-harga.

Faktor yang kedua adalah penawaran dan permintaan. Permintaan adalah

sejumlah barang yang dibeli oleh pembeli pada tingkat harga tertentu. Sedangkan

penawaran merupakan kebalikan dari permintaan, yaitu suatu jumlah yang

ditawarkan oleh penjual pada suatu tingkat harga tertentu.

Faktor yang ketiga adalah elastisitas permintaan. Faktor lain yang dapat

mempengaruhi penentuan harga adalah sifat permintaan pasar. Sifat permintaan

pasar ini tidak hanya mempengaruhi penentuan harganya tetapi juga

mempengaruhi volume yang dapat dijual.

Faktor yang keempat adalah persaingan. Harga jual beberapa macam

barang atau jasa sering dipengaruhi oleh keadaan persaingan yang ada.

Banyaknya penjual dan pembeli akan mempersulit penjualan seseorang untuk

menjual dengan harga yang lebih tinggi kepada pembeli lain. Selain persaingan

murni, dapat pula terjadi keadaan persaingan lainnya, seperti: persaingan tidak

Faktor yang kelima adalah biaya. Biaya merupakan dasar dalam penentuan

harga, sebab suatu tingkat harga yang tidak dapat menutup biaya akan

mengakibatkan kerugian. Sebaliknya, apabila suatu tingkat harga melebihi semua

biaya, baik biaya produksi, biaya operasi maupun biaya non operasi, akan

menghasilkan keuntungan.

Faktor selanjutnya adalah tujuan manajer. Penetapan harga suatu barang

atau jasa sering dikaitkan dengan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Setiap

perusahaan tidak selalu mempunyai tujuan yang sama dengan perusahaan lainnya.

Tujuan- tujuan yang hendak dicapai tersebut misalnya memperoleh laba

maksimum, pengembalian modal, pencapaian volume penjualan tertentu maupun

penguasaan pasar.

Faktor yang terakhir adalah pengawasan pemerintah. Pengawasan

pemerintah juga mempengaruhi dalam penentuan harga. Pengawasan pemerintah

tersebut dapat dalam bentuk: penentuan harga maksimum dan minimum,

diskriminasi harga, serta praktek-praktek lain yang mendorong atau mencegah

usaha-usaha monopoli (Swasha dan Sukotjo, 1998:211).

Dengan demikian, harga mempunyai peranan penting, dimana harga

merupakan kunci bagi pendapatan, yang pada gilirannya merupakan kunci

keuntungan bagi organisasi. Pendapatan adalah harga yang dibebankan kepada

para pelanggan dikalikan dengan jumlah unit terjual. Pendapatan adalah sesuatu

yang dibayar untuk setiap kegiatan perusahaan: produksi, keuangan, penjualan,

distribusi, dan seterusnya. Nilai yang tersisa (bila ada) merupakan keuntungan.

Para manajer biasanya berusaha keras mengenakan suatu harga yang akan

Dalam menilai suatu penetapan harga di perusahaan, terdapat indikator yang

harus diperhatikan yaitu: keterjangkauan harga, dimana harga yang ditetapkan

perusahaan dapat dijangkau oleh kemampuan pelanggan; kesesuaian harga dengan

kualitas produk/jasa, yakni harga yang ditetapkan sesuai dengan kualitas yang

dibeli; daya saing harga, yakni harga yang kompetitif atau relatif murah bila

dibandingkan dengan harga yang ditawarkan oleh pesaing; kesesuaian harga

dengan manfaat, yakni harga yang ditawarkan sesuai dengan manfaat produk

(Lembang, 2010:24).

2.3. Kulitas Pelayanan

Menurut Lovelock (2008:88), kulaitas adalah tingkat mutu yang diharapkan

dan pengendalian keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi

kebutuhan konsumen.

Menurut Kotler (2008:85), pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan

yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya

tidak terwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat

dikaitkan atau tidak dikaitkan pada satu produk fisik.

Menurut Utami (2010:88), pelayanan didefenisikan sebagai aktivitas,

manfaat, kepuasan dari sesuatu yang ditawarkan dalam penjualan. Para pengusaha

harus dapat mengusahakan jenis layanan yang ditawarkan dengan unsure-unsur

lainnya dalam bauran ritel. Contohnya, toko yang menetapkan harga jual di atas

harga pasar harus memberikan pelayanan yang benar-benar sesuai dengan harga

Kualitas pelayanan merupakan tingkat kesempurnaan yang diharapkan dan

pengendalian atas kesempurnaan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan

(Tjiptono, 2005:52).

Kualitas pelayanan mempunyai peranan penting karena memiliki

keterkaitan erat dengan kepuasan pelanggan. Kualitas memberikan suatu

dorongan kepada pelanggan untuk menjalin ikatan yang kuat dengan perusahaan.

Dalam jangka panjang, ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan untuk

memahami dengan seksama harapan pelanggan serta kebutuhan mereka. Dengan

demikian, perusahaan dapat meningkatkan kepuasan pelanggannya, dimana

perusahaan memaksimumkan pengalaman pelanggan yang menyenangkan dan

meminimumkan atau meniadakan pengalaman pelanggan yang kurang

menyenangkan. Pada gilirannya kepuasan pelanggan dapat menciptakan kesetiaan

atau loyalitas pelanggan terhadap perusahaan yang memberikan kualitas

memuaskan (Tjiptono, 1996:51).

Menurut Lamb at al (2001:485), pengukuran atau indikator kualitas

pelayanan dapat dilihat dari lima komponen, yakni dari segi keandalan, daya

tanggap, kepastian atau jaminan, empati serta bukti fisik/wujud.

2.4. Keputusan Pembelian

2.4.1 Definisi Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian menurut Schiffman dan Kanuk (2007:508) adalah

“the selection of an option from two or alternative choice”. Jadi, keputusan pembelian adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari

Menurut Peter & Olson (2010:160), Pengambilan keputusan konsumen

(consumer decision making) adalah proses pengintegrasian yang

mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku

alternatif, dan memilih salah satu diantaranya. Hasil dari proses pengintegrasian

ini adalah suatu pilihan, yang disajikan secara kognitif sebagai keinginan

berperilaku.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Keputusan pembelian

adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk

mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah satu

diantaranya.

2.4.2 Proses Keputusan Pembelian

Ada lima tahap dalam proses keputusan membeli, yaitu:

Gambar: 2.1

Proses Keputusan Pembelian

Secara kompleks menurut Kotler dan Amstrong (2008:179) proses itu

dapat dilihat sebagai berikut:

Pengenalan Kebutuhan Pencarian Informasi Evaluasi Alternatif Keputusan Pembelian Perilaku Pasca Pembelian

1. pengenalan kebutuhan/ masalah (Problem Recognizing)

Proses membeli dengan pengenalan masalah atau kebutuhan pembeli

menyadari suatu perbedaan antara keadaan yang sebenarnya dan keadaan

yang diingingkannya. Kebutuhan itu dapat digerakkan oleh rangsangan

dari dalam diri pembeli atau dari luar.

2. Pencarian Informasi (Informasi Search)

Setelah konsumen mengetahui dan merasakan adanya kebutuhan sesuatu

barang atau jasa selanjutnya konsumen mencari informasi baik yang

terdapat dalam pikiran ataupun yang didapat dari lingkungan.

Sumber-sumber informasi konsumen terdiri dari :

a. Sumber pribadi

b. Sumber niaga

c. Sumber umum

d. Sumber pengalaman

3. Evaluasi Alternatif (Evaluation of alternative)

Setelah informasi diketahui, konsumen mengevaluasi berbagai alternatif

pilihan dalam memenuhi kebutuhan itu.

4. Keputusan Pembelian (Purchase Decition)

Konsumen yang telah melakukan pilihan terhadap berbagai alternatif

biasanya memilih produk yang paling disukai yang membentuk suatu

keputusan untuk membeli. Faktor- faktor yang menyebabkan keputusan

a. Sikap orang lain, antara lain: keluarga, tetangga, teman, dan

lain-lain.

b. Situasi tak terduga, antara lain: harga, pendapatan keluarga,

manfaat yang diharapkan.

c. Faktor yang dapat diduga, antara lain: faktor situasional yang dapat

diantisipasi oleh konsumen.

5. Perilaku Pasca Pembelian (Post Purchase Behavior)

Apabila barang yang dibeli tidak memberikan kepuasan yang diharapkan,

maka pembeli akan merubah sikapnya terhadap merek produk tersebut

menjadi sikap negative, bahkan mungkin akan menolak dari daftar pilihan.

Sebaliknya bila konsumen mendapat kepuasan dari produk barang/jasa

yang dibelinya maka keinginan untuk membeli terhadap merek produk

tersebut cenderung untuk menjadi lebih kuat. Produsen harus mengurangi

perasaan tidak senang atau perasaan negatif terhadap suatu produk dengan

cara membantu konsumen membenarkan informasi yang membenarkan

pilihan konsumen melalui komunikasi yang diarahkan pada orang yang

baru saja membeli produknya.

2.4.3 Jenis perilaku pembelian

Menurut Peter & Olson (2010:174), pemasar membagi variasi kegiatan

pemecahan masalah menjadi tiga tingkat :

1. Pengambilan keputusan ekstensif (extensive decision making)

Biasanya melibatkan sejumlah besar perilaku pencarian yang dibutuhkan

untuk mengidentifikasi alternatif pilihan dan mencari kriteria pilihan yang

pilihan dan upaya kognitif serta perilaku yang cukup besar. Pengambilan

keputusan ini cendurung membutuhkan waktu yang cukup lama dan hanya

pada sedikit masalah pilihan konsumen.

2. Pengambilan keputusan terbatas (limited decision making)

Jumlah upaya pemecahan masalah yang dibutukan dalam pengambilan

keputusan terbatas berkisar dari rendah ke sedang. Dibandingkan dengan

pengambilan keputusan ekstensif, pengambilan keputusan ini melibatkan

tidak banyak upaya pencarian informasi, lebih sedikit alternatif yang

dipertimbangkan dan proses integrasi yang dibutukan. Pilihan yang

melibatkan pengambilan keputusan terbatas biasanya dilakukan cukup

cepat, dengan tingkat upaya kognitif dan perilaku yang sedang.

3. Perilaku pilihan rutin (routinized choice behavior)

Perilaku yang muncul secara otomotis dengan sedikit atau bahkan tanpa

ada proses kognitif. Dibandingkan dengan tingkat yang lain, perilaku

pilihan rutin membutuhkan sedikit kapisitas kognitif atas control sadar.

2.4.4 Dimensi Keputusan Pembelian

Menurut Peter & Olson (2010:162), keputusan pembelian terjadi melalui

proses yang terdiri dari lima tahap yaitu:

1. Pengenalan kebutuhan, yaitu proses pengambilan keputusan pembelian

dimana konsumen mengenali suatu masalah atau kebutuhan, konsumen akan

membeli suatu produk atau jasa sebagai solusi atau permasalahan yang

dihadapinya. Tanpa adanya pengenalan masalah yang muncul, konsumen

2. Pencarian informasi, yaitu proses pengambilan keputusan pembelian dimana

konsumen telah tertarik untuk mencari lebih banyak informasi, konsumen

mungkin hanya meningkatkan perhatian atau mencari informasi. Terdapat

berbagai macam sumber informasi yaitu sumber pribadi, komersial, public,

dan pengalaman.

3. Evaluasi terhadap berbagai macam alternatif, yaitu proses pengambilan

keputusan pembelian dimana konsumen menggunakan informasi untuk

melakukan evaluasi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya

terhadap berbagai pilihan.

4. Keputusan pembelian, yaitu proses pengambilan keputusan pembelian

dimana konsumen benar-benar membeli produk. Setelah konsumen

mengevaluasi beberapa alternatif strategis yang ada, konsumen akan

membuat keputusan pembelian. Terkadang waktu yang dibutuhkan untuk

membuat keputusan pembelian dengan menciptakan pembelian yang aktual

tidak sama dikarenakan adanya hal-hal yang perlu dipertimbangkan.

5. Evaluasi keputusan pembelian, yaitu proses melakukan evaluasi terhadap

keputusan pembelian yang telah dilakukan sebelumnya apakah telah sesuai

dengan keinginan dan kebutuhan yang perlu diperlukan sebelumnya,

konsumen akan melakukan evaluasi apakah produk atau jasa tersebut sesuai

dengan harapannya.

Suatu proses keputusan membeli bukan hanya mengetahui berbagai faktor

akan mempengaruhi pembeli, tetapi berdasarkan peranan dalam pembelian dan

2.5 Kerangka Konseptual

Menurut Kuncoro (2003) kerangka konseptual adalah pondasi utama dimana

sepenuhnya proyek penelitian ditujukan, dimana hal ini merupakan jaringan

hubungan antar variabel yang secara logis diterangkan, dikembangkan, dan

dielaborasi dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi melalui proses

wawancara, observasi, dan survey literature.

Maka dengan demikian, dalam kerangka penelitian ini dikemukakan variabel

yang akan diteliti yaitu kualitas pelayanan, dan harga, serta keputusan pembelian.

Menurut Kotler (2005:486) jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang

ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak terwujud

dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau

tidak dengan suatu produk fisik.

Bauran Pemasaran jasa Seperti yang dikemukakan oleh Ziethaml, Bitner &

Gremler (2009:24) terdiri dari 7P yaitu product, price, place, promotion, people,

physical evidence, dan process.

Perilaku konsumen menurut Michael R. Solomon (2007:7) adalah studi

tentang proses yang terlibat ketika individu atau kelompok memilih, membeli,

menggunakan atau membuang produk, jasa, ide, atau pengalaman untuk

memenuhi kebutuhan dan keinginan.

Pengambilan keputusan konsumen (consumer decision making) menurut

Peter & Olson (2010), adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan

pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif, dan memilih

salah satu diantaranya. Hasil dari proses pengintegrasian ini adalah suatu pilihan,

2.6. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran merupakan sintesa tentang hubungan beberapa variabel

yang diteliti, yang disusun dari berbagai teori yang dideskripsikan. Kerangka

konseptual merupakan dasar dalam pembuatan hipotesis (Sugiyono, 2004:49).

Berdasarkan teori diatas, maka kerangka pemikiran yang sesuai untuk

penelitian ini adalah gambar berikut:

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran Kualitas Pelayanan (X1) Harga/Tarif (X2) Keputusan pembelian (Y)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Salah satu sektor jasa yang memiliki peranan yang cukup vital dalam

menunjang kegiatan sehari-hari adalah sektor jasa transportasi. Transportasi

merupakan sarana mobilitas yang penting bagi kehidupan. Pentingnya transportasi

tersebut tercermin pada semakin meningkatnya kebutuhan akan jasa angkutan

bagi mobilitas orang serta barang sebagai akibat meningkatnya perkembangan

penduduk dan pengembangan pemukiman di kota-kota besar.

Zaman globalisasi sekarang ini, ilmu pengetahuan dan teknologi

berkembang sangat pesat dan hal tersebut membantu perkembangan dunia bisnis

khususnya di bidang jasa transportasi. Perkembangan ini mengakibatkan

terjadinya persaingan bisnis yang ketat antar pelaku usaha sehingga menimbulkan

adanya perubahan pola dan strategi para pengusaha untuk bersaing dalam

mempertahankan bisnisnya. Oleh karena itu, setiap pelaku bisnis dituntut untuk

memiliki kepekaaan terhadap perubahan kondisi bisnis yang terjadi di pasar dan

menempatkan orientasi terhadap kemampuan untuk menarik keputusan pembeli

dalam menjalankan bisnisnya.

Mengingat bahwa keputusan konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang

dan jasa sangat dipengaruhi oleh kebutuhan, disinilah pelaku bisnis harus mampu

mengenali keberagaman kebutuhan konsumen, sehingga mampu merumuskan

strategi-strategi yang tepat dan efektif dengan harapan mampu menguasai pasar

Kebutuhan-kebutuhan masyarakat sangat beragam. Seperti halnya

kebutuhan akan jasa transportasi khususnya di perkotaan seperti kota Medan.

Medan merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia dengan jumlah

penduduknya berkisar 2.122.804 jiwa (Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera

Utara, 2012) yang artinya kota Medan merupakan wilayah yang sangat strategis

untuk menjadi pangsa pasar dalam berbisnis khususnya bisnis transportasi. Jumlah

penduduk yang tergolong cukup besar itu juga mempengaruhi tingkat mobilitas

masyarakat itu sendiri, dimana akan semakin tinggi juga tingkat permintaan

terhadap jasa transportasi.

Transportasi di kota Medan tidak jauh berbeda dengan kota-kota lainnya di

Indonesia. Ada banyak jenis transportasi di kota Medan untuk saat ini, seperti

angkot (angkutan kota) dengan berbagai jenisnya, becak mesin (becak motor),

becak dayuh, dan ojek (RBT) yang merupakan jawaban untuk berbagai kebutuhan

mobilitas masyarakat kota Medan. Angkutan kota merupakan bentuk tranportasi

roda empat yang paling mudah di temui di kota Medan, sehingga tidak sulit untuk

memperolehnya. Selain mudahnya memperoleh jasa angkutan kota ini, harga yang

diberikan kepada masyarakat pun tergolong cukup terjangkau. Tarif yang

diberikan sudah jelas, dengan membayar Rp4000,- sampai dengan Rp5000,-

penumpang akan diantar ke tempat tujuan sesuai dengan rute angkutan tersebut.

Dikarenakan setiap angkutan kota di Kota Medan sudah memiliki rute-rute

Dalam dokumen Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Harga Terhadap Keputusan Konsumen Menggunakan Jasa Go-Ride (Studi Perilaku Konsumen Go-Jek Khusus Layanan Go-Ride di Universitas Sumatera Utara) (Halaman 65-106)