Berdasarkan beberapa kesimpulan di atas, disarankan bagi pihak sekolah untuk melaksanakan pelatihan serupa secara rutin dan terprogram kedalam program sekolah, sehingga perkembangan media pembelajaran berbasis IT yang berkembang sangat pesat dapat selalu diikuti oleh guru-guru, untuk menunjang peningkatan kompetensi guru dan mengoptimalkan pencapaian target pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Mohammad, Esni Triaswati, Hariyanto & Pujiati. 2006. Penggunaan Media Ceritera Bergambar Berbasis Pendekatan Komunikasi Total untuk
Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Tunarungu Kelas Rendah di SLB Bagian B YPTB Malang, (Diunduh dari
http://www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/sari_penelitian_ppkp_pips.pdf, tgl 2 Desember 2012). Hansen, B. 1980. Aspects of Deafness and Total Communication in Denmark.
Copenhagen: The Center for Total Communication.
Khaer, Abu. 2008. Video Pembelajaran untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Upaya Menemukan Suatu Model, (Diunduh dari
http://ssmkn2.dispendik.surabaya.go.id/download.php?id=35, tgl 12 Januari 2013)
Nugroho, Topiq. 2009. Metode Pembelajaran Matematika di Sekolah Luar Biasa Tunarungu Melalui Komputer untuk Peningkatan Hasil Belajar Siswa, (Diunduh dari http://etd.eprints.ums.ac.id/3437/2/A410050094.pdf, tgl 25 Desember 2012)
Suryadi, A. dan Wiana. 1993. Kerangka Konseptual Mutu Pendidikan dan Pembinaan Kemampuan Profesional Guru. Jakarta: Cordimas Metropole
Lampiran-lampiran
Lampiran 1. Keterangan Pelaksana Kegiatan
KETERANGAN PELAKSANA KEGIATAN
1. Ketua Pelaksana
1.1. Nama Lengkap dan Gelar : Desak Putu Eka Nilakusmawati, S.Si., M.Si. 1.2. Pangkat/Gol./NIP : Pembina/IV/a /19710611 199702 2 001 1.3. Jabatan Fungsional : Lektor Kepala
1.4. Bidang Keahlian : Matematika Terapan 1.5. Tempat Kegiatan : SLB/B Kabupaten Tabanan 1.6. Waktu yang disediakan untuk kegiatan ini : 10 jam/minggu 2. Anggota Pelaksana I
2.1. Nama Lengkap dan Gelar : Ir Komang Dharmawan, M.Math., Ph.D 2.2. Pangkat/Gol./ NIP : Penata Tk.I/III/d /19620218 198803 1 001 2.3. Jabatan Fungsional : Lektor
2.4. Bidang Keahlian : Matematika
2.5. Waktu yang disediakan untuk kegiatan ini: 10 jam/minggu 3. Anggota Pelaksana II
3.1. Nama Lengkap dan Gelar : Drs. Ketut Jayanegara, M.Si.
3.2. Pangkat/Gol./ NIP : Penata Tk. I/IIId /19650302 199203 1 001 3.3. Jabatan Fungsional : Lektor
3.4. Bidang Keahlian : Matematika Terapan
3.5. Waktu yang disediakan untuk kegiatan ini : 10 jam/minggu 4. Anggota Pelaksana III
4.1. Nama Lengkap dan gelar : Ni Made Asih, S.Pd., M.Si
4.2. Pangkat/Gol./ NIP : Penata Tk.I/III/d /19770314 200604 2 001 4.3. Jabatan Fungsional : Lektor
4.4. Bidang Keahlian : Matematika
5. Anggota Pelaksana IV
5.1. Nama Lengkap dan gelar : Kartika Sari, S.Si., M.Sc.
5.2. Pangkat/Gol./ NIP : Penata Tk.I/III/d /19700711 200312 2 001 5.3. Jabatan Fungsional : Lektor
5.4. Bidang Keahlian : Matematika Terapan
5.5. Waktu yang disediakan untuk kegiatan ini: 10 jam/minggu 6. Anggota Pelaksana V
6.1. Nama Lengkap dan gelar : Ir. I Putu Eka N. Kencana, MT.
6.2. Pangkat/Gol./ NIP : Penata Tk.I/III/d / 19650614 199203 1 004 6.3. Jabatan Fungsional : Lektor
6.4. Bidang Keahlian : Matematika Terapan
6.5. Waktu yang disediakan untuk kegiatan ini: 10 jam/minggu 7. Tenaga Pembantu : -
Lampiran 2. Realisasi Penggunaan Biaya Pengabdian
PENGGUNAAN BIAYA PENGABDIAN
a. Biaya pembuatan proporsal : Rp. 188.500,- b. Modul Materi Pelatihan: Modul Matematika SD Kelas 4
(40 eks @ Rp.30.000) : Rp. 1.200.000,- c. Materi Perancangan Media Audio Visual &
Contoh (40 eks @ Rp. 10.000) : Rp. 400.000,- d. Bahan untuk media pelatihan: CD 40bh @ Rp.5.000,
map 40 bh @ 3.000, dan Kertas HVS 3 rim @ 35.000 : Rp. 385.000,- e. Print buku referensi tentang media audio visual : Rp. 179.000,- f. Fotocopy materi pelatihan, pre-test, post test, : Rp. 132.000,- g. Transportasi : Rp. 900.000,- h. Penggandaan Laporan Kemajuan : Rp. 115.500,- i. Konsumsi peserta pelatihan (2 x 25 kotak snack @ 5.000
Dan 25 box nasi kotak @ 12.000,-) : Rp. 550.000,- j. Potongan pajak 15% : Rp. 750.000,- k. Biaya cetak piagam 20 lbr @ 5.000,- : Rp. 100.000,- l. Penggandaan Laporan Akhir 10 eks @ 10.000,- : Rp. 100.000,-
Total Biaya : Rp. 5.000.000,-
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIOVISUAL BERBASIS IT BAGI GURU-GURU SEKOLAH LUAR BIASA BAGIAN B
KABUPATEN TABANAN
DESAK PUTU EKA NILAKUSMAWATI
Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Udayana Email: [email protected]
ABSTRAK
Beberapa tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, adalah: (1) Mengenalkan cara-cara pembuatan dan pengembangan media pembelajaran audiovisual dengan menggunakan software Microsoft Power Point, Macromedia Flash, software lainnya bagi Guru-guru di SLB/B Tabanan untuk Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA); (2) Meningkatkan kompetensi guru-guru dalam pengembangan media pembelajaran yang inovatif bagi siswa tuna rungu di SLB/B Tabanan; (3) Menghasilkan media pembelajaran yang lebih inovatif untuk mata pelajaran matematika dan IPA untuk siswa tuna rungu; dan (4) Menghasilkan media pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam menyerap materi ajar secara lebih optimal.
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah berupa pelatihan pengembangan media pembelajaran audiovisual untuk pengajaran matematika dan IPA siswa tuna rungu dengan metode presentasi dan demonstrasi, dan praktik pembuatan media pembelajaran audio visual oleh peserta pelatihan secara mandiri maupun berkelompok. Evaluasi dari kegiatan pengabdian ini meliputi pemberian pre test dan post test. Indikator keberhasilan kegiatan ini adalah adanya peningkatan pengetahuan guru peserta pelatihan tentang pengembangan media pembelajaran audiovisual. Peningkatan ini dapat dilihat dari hasil analisis data skor pengetahuan peserta pada pre test dan post test, serta dari hasil observasi selama praktik oleh peserta pelatihan.
Hasil pelaksanaan kegiatan diperoleh bahwa pemberian pelatihan memberikan manfaat dalam meningkatkan pengetahuan guru-guru di SLB.B Tabanan tentang cara-cara mengembangkan media pembelajaran audiovisual berbasis IT untuk pengajaran matematika dan IPA siswa tuna rungu di Sekolah Luar Biasa Bagian B Tabanan. Rata-rata nilai pre test adalah 60, Rata-rata-Rata-rata hasil post test adalah 83,33, dan Rata-rata-Rata-rata persentase peningkatan sebesar 42,21%, Media audiovisual dapat digunakan untuk pembelajaran di SLB.B untuk siswa tuna rungu yang masih memiliki sisa pendengaran (Hard of Hearing), sedangkan untuk kasus dimana siswa hilang total pendengarannya (deaf) lebih optimal menggunakan media visual saja.
Kata kunci: Media pembelajaran, media audiovisual, pembelajaran siswa tuna rungu, SLB/B
PENDAHULUAN
Hak penyandang cacat dalam pendidikan tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 Pasal 11, yang berbunyi setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan untuk mendapat pendidikan pada satuan, jalur, dan jenjang pendidikan sesuai jenis dan derajat kecacatan, dan Pasal 12 menekankan bahwa setiap
lembaga pendidikan memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada penyandang cacat sebagai peserta didik pada satuan, jalur, dan jenis pendidikan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan serta kemampuannya. Sehingga hak para penyandang cacat memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan, dimana hal ini dijamin oleh undang-undang.
Menurut Hansen (1980), Sekolah Luar Biasa adalah salah satu jenis sekolah yang bertanggung jawab melasanakan pendidikan untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Sekolah luar biasa menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 merupakan sekolah khusus yang diselenggarakan bagi peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan atau mental cacat.
Anak tuna rungu pada umumnya memerlukan fasilitas pendidikan yang relatif sama dengan anak normal. Namun, karena anak tuna rungu mempunyai hambatan dalam mendengar dan berbicara maka mereka memerlukan alat bantu khusus seperti
audiometer, hearing aids, audiovisual (berupa film, video tape, dan televisi), tape recorder, spatel, cermin, dan gambar-gambar. Penggunaan media audio visual sangat bermanfaat bagi siswa tuna rungu, karena melalui media audio visual siswa tuna rungu dapat memperhatikan sesuatu yang ditampilkan, walaupun dalam kemampuan mendengar yang terbatas.
Kesulitan guru dalam penyampaian materi pelajaran disebabkan karena siswa tuna rungu mengalami masalah dalam pendengaran, disamping itu keterbatasan siswa dalam kosa kata turut menjadi kendala dalam penyampaian materi pelajaran. Hal ini berlaku bagi seluruh mata pelajaran termasuk matematika dan IPA. Seorang guru luar biasa dalam penyampaian materi ajarnya harus jelas dan konsisten dalam menggunakan kosa kata, karena latar belakang anak tuna rungu yang sangat kekurangan kosakata dalam berkomunikasi. Menurut Khaer (2008), pengajaran akan lebih efektif apabila objek pengajaran dapat divisualisasikan secara realistis menyerupai keadaan sebenarnya. Melalui visualisasi, materi/isi ajar akan lebih mudah dipahami sehingga akan meningkatkan kuantitas perolehan belajar siswa.
Pemanfaatan media pembelajaran untuk mengajaran siswa tuna rungu merupakan hal yang sangat bermanfaat untuk menunjang proses belajar di sekolah luar biasa. Penelitian Effendi, et. al (2006) mengenai ”Penggunaan Media Cerita Bergambar
Berbasis Pendekatan Komunikasi Total untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak
Tuna Rungu Kelas Rendah di SLB Bagian B YPTB Malang” menjelaskan penggunaan
bahasa anak tuna rungu. Dalam memahami informasi dari lingkungannya, anak tuna rungu sebagian besar mengandalkan kemampuan indera penglihatannya, sehingga hal ini membuat para peneliti menggunakan media cerita bergambar dalam neningkatkan kemampuan bahasa anak tuna rungu. Penggunaan media gambar yang dikombinasikan dengan komunikasi total dalam pelajaran bahasa anak tuna rungu, berpeluang memberikan hasil yang baik. Pemberian materi pembelajaran yang menggunakan ilustrasi gambar yang relevan sangat membantu anak tuna rungu dalam meningkatkan kemampuan bahasa, terutama memahami kosa kata yang terdapat dalam materi ajarnya.
Khaer (2008) dalam penelitiannya mengenai ”Video Pembelajaran untuk Siswa Berkebutuhan Khusus Upaya Menemukan Suaru Model”. Visualisasai hasil video
pembelajaran tersebut berisi tentang materi ajar, berupa visualisasai teks, drama yang menggunakan bahasa isyarat, animasi dan teks, sehingga lebih mudah dipahami siswa. Selama proses pemutaran, guru yang mengendalikan video tersebut berperan serta menjelaskan isi dari video dengan menggunakan bahasa isyarat.
Penelitian mengenai ”Metode Pembelajaran Matematika di Sekolah Luar Biasa
Tuna Rungu Melalui Alat Peraga untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa” yang dilakukan oleh Nugroho (2009), menjelaskan hasil hasil belajar siswa setelah menggunakan alat peraga pada pelajaran matematika. Pada saat kegiatan belajar mengajar matematika, alat peraga digunakan agar dapat menghasilkan gambaran atau bentuk yang mendekati nyata, sehingga para siswa dapat memahami dengan jelas tentang materi yang dijelaskan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam proses pembelajaran, media pembelajaran yang mendukung proses belajar sangat berperan penting dalam pencapaian standar minimal proses pembelajaran.
Permasalahan dari para guru adalah masalah terbatasnya media alat bantu yang tepat untuk mengajar anak tuna rungu. Standar kurikulum yang disetarakan dengan siswa normal, tetapi tidak menyesuaikan dengan kebutuhan khusus anak tuna rungu dalam memahami materi suatu pelajaran, turut menjadi kendala dalam penyampaian materi ajar. Menjelaskan suatu materi pelajaran pada anak tuna rungu membutuhkan metode dan media penyampaian yang berbeda dengan anak normal, karena jika dibandingkan dengan anak normal maka siswa tuna rungu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyerap dan memahami materi yang diajarkan.
Disamping itu, keterbatasan alat peraga dan tidak adanya penjelasan gambar-gambar yang memadai sangat menyulitkan guru-guru untuk menjelaskan materi-materi
menjadi masalah, namun tidak bagi guru-guru yang tidak dapat menggambar, sehingga penjelasan materi hanya dijelaskan dalam bentuk tulisan dan dalam bentuk verbal (oral). Visualisasai kata-kata sangat dibutuhkan pada mata pelajaran yang membutuhkan banyak penjelasan materi berupa gambar, terutama pada mata pelajaran Matematika dan IPA yang sangat membutuhkan alat yang lebih kearah visual.
Kurangnya alat peraga dan adanya kesulitan guru-guru di SLB/B Tabanan dalam menjelaskan materi dari buku pelajaran yang digunakan dari bahasa verbal ke dalam bentuk visual, serta terbatasnya penguasaan guru dalam inovasi media pembelajaran berbasis IT merupakan kendala bagi guru-guru dalam pengajaran Matematika dan IPA pada siswa tuna rungu di SLB/B Tabanan.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka kegiatan pengabdian masyarakat
”Pengembangan Media Pembelajaran Audio Visual Berbasis IT bagi Guru-Guru Sekolah Luar Biasa Bagian B Kabupaten Tabanan”, sangat penting untuk dilakukan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk: (1) menunjang guru-guru dalam rangka memperlancar proses belajar mengajar; (2) meningkatkan kemampuan guru dalam pengembangan media pembelajaran berbasis IT, dalam hal ini media audio visual; (3) mengembangkan kemampuan profesionalisme guru khususnya SLB/B Tabanan; (4) menyajikan media pembelajaran yang lebih inovatif untuk anak tuna rungu; dan (5) menghasilkan media pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam menyerap materi ajar secara lebih optimal.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka permasalahan yang sangat memerlukan penanganan adalah: Bagaimana mengenalkan cara-cara mengembangkan media pembelajaran audio visual berbasis IT bagi guru-guru di SLB/B Tabanan untuk pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) siswa tuna rungu di Sekolah Luar Biasa Bagian B Tabanan yang menjadi sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini.
Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, adalah: (1) Mengenalkan cara-cara pembuatan dan pengembangan media pembelajaran audio visual dengan menggunakan software Microsoft Power Point, Macromedia Flash, software
lainnya bagi Guru-guru di SLB/B Tabanan untuk Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA); (2) Meningkatkan kompetensi guru-guru dalam pengembangan media pembelajaran yang inovatif bagi siswa tuna rungu di SLB/B Tabanan; (3) Menghasilkan media pembelajaran yang lebih inovatif untuk mata pelajaran Matematika dan IPA untuk siswa tuna rungu; dan (4) Menghasilkan media pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam menyerap materi ajar secara lebih optimal.
METODE PEMECAHAN MASALAH
Khalayak sasaran kegiatan ini adalah guru-guru pengampu mata pelajaran Matematika dan IPA di Sekolah Luar Biasa Bagian B yang terpilih sebagai sasaran kegiatan, serta sangat membutuhkan pelatihan ini dan sesuai dengan tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, yaitu guru-guru SLB/B Kabupaten Tabanan.
Tahapan pemecahan masalah yang dihadapi oleh mitra, adalah sebagai berikut: (1) Mempersiapkan draft materi pelatihan yang merupakan ringkasan atau rangkuman dari isi materi pada buku-buku yang menjadi buku pegangan guru dalam pengajaran matematika dan IPA di SLB/B Tabanan; (2) Dari ringkasan/rangkuman materi ajar tersebut kemudian menjadi bahan dalam pembuatan media pembelajaran audio visual. Dalam ringkasan yang merupakan materi ajar ini diberikan catatan-catatan khusus hal-hal/materi-materi mana yang seringkali menjadi kendala siswa dalam memahami sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus ketika menuangkannya ke dalam media audio visual (merupakan hasil kesepakatan antara pelaksana kegiatan dengan guru-guru sasaran kegiatan); (3) Tahap selanjutnya adalah tahap menuangkan konsep verbal yang ada dalam ringkasan materi pelajaran tersebut ke dalam bentuk media pembelajaran audio visual, dengan memanfaatkan sofware Microsoft Power Point, Macromedia Flash, software
lainnya; (4) Mempersiapkan beberapa media audio visual untuk pembelajaran matematika dan IPA sebagai contoh-contoh yang akan dijadikan bahan dalam pemberian pelatihan bagi guru-guru di SLB/B Tabanan; (5) Memperkenalkan cara-cara pembuatan media pembelajaran audio visual dengan memanfaatkan beberapa sofware yang telah disebutkan di atas, menggunakan metode ceramah dan demonstrasi untuk mendemonstrasikan tahapan-tahapan dari pembuatan media pembelajaran tersebut. (6) Melakukan evaluasi peningkatan pemahaman guru-guru SLB/B Tabanan tentang cara-cara pembuatan media pembelajaran audio visual untuk mata pelajaran Matematika dan IPA, dengan praktik secara mandiri maupun berkelompok oleh peserta pelatihan, sampai pada tingkat tuntas.
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah berupa pelatihan pengembangan media pembelajaran audio visual dengan memanfaatkan beberapa
software seperti Microsoft Power Point, Macromedia Flash, software lainnya, untuk pengajaran matematika dan IPA siswa tuna rungu dengan metode presentasi dan demonstrasi, dan praktik pembuatan media pembelajaran audio visual oleh peserta pelatihan secara mandiri maupun berkelompok. Dalam pelatihan, guru-guru akan dibantu
mulai dari merancang media pembelajaran audiovisual, membuat media audio visual, dan pengembagan media audiovisual tesebut.
Evaluasi dari kegiatan pengabdian masyarakat ini, meliputi pemberian pre test tentang pengetahuan awal peserta pelatihan mengenai media pembelajaran audio visual berbasis IT serta pengembangannya, pemanfaatan software untuk pembuatan media pembelajaran audio visual, media yang biasa dipergunakan sebelumnya dalam pengajaran matematika dan IPA siswa tuna rungu. Setelah diberikan pelatihan, akan diberikan evaluasi berupa post test mengenai kemampuan guru dalam pengembangan media pembelajaran audio visual tersebut. Indikator keberhasilan kegiatan ini adalah adanya peningkatan pengetahuan guru peserta pelatihan tentang pengembangan media pembelajaran audiovisual. Peningkatan ini dapat dilihat dari hasil analisis data skor pengetahuan peserta pada pre test dan post test, serta dari hasil observasi selama praktik oleh peserta pelatihan. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskritif kualitatif terhadap data yang diperoleh dari hasil observasi, sedangkan analisis data kuantitatif dilakukan terhadap data-data yang diperoleh dari hasil pre test dan post test.
HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada tanggal 27 September 2014, bertempat di SLB.B Tabanan. Pelatihan diikuti oleh 15 orang guru. Pelaksanaan kegiatan pelatihan dengan metode presentasi dan demonstrasi, dan praktik pembuatan media pembelajaran audiovisual oleh peserta pelatihan secara mandiri maupun berkelompok, serta pemberian pre test dan post test untuk evaluasi kegiatan. Rangkaian kegiatan selama pelatihan berlangsung didokumentasikan pada gambar-gambar berikut:
Gambar 1. Peserta pelatihan sedang mengerjakan pre test
Gambar 3. Peserta pelatihan sedang
Gambar 2. Presentasi materi pelatihan Gambar 4. Penyajian contoh media audiovisual mata pelajaran biologi
Materi pelatihan yang diberikan tentang teori-teori dan konsep dasar perancangan media audiovisual serta contoh media untuk mata pelajaran matematika, dengan mengambil materi pecahan senilai. Contoh media untuk mata pelajaran IPA mengambil pokok bahasan dauh hidup hewan.
Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Pengetahuan awal peserta pelatihan tentang media audiovisual dilihat dari jawaban peserta pelatihan terhadap pre test yang diberikan. Pengetahuan awal peserta pelatihan mengenai perlunya dikembangkan inovasi metode pembelajaran untuk mengoptimalkan pembelajaran di kelas khususnya SLB.B. Seluruh peserta pelatihan
menjawab “perlu” dengan alasan-alasan antara lain: (1) karena siswa mengalami kekurangan audionya sehingga perlu inovasi metode pembelajaran; (2) karena hasil belajar siswa akan lebih baik dan lebih optimal jika dilakukan inovasi metode pembelajaran; (3) karena anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus lebih cepat menyerap dengan metode pembelajaran yang inovatif; (4) inovasi metode pembelajaran perlu untuk meningkatkan pemahaman siswa yang mengalami keterbatasan; (5) agar siswa tidak bosan dengan metode pembelajaran yang diberikan oleh guru dan karena ilmu pengetahuan itu berkembang seiring kemajuan teknologi; (6) perlu karena inovasi metode pembelajaran memudahkan siswa maupun guru dalam kegiatan belajar mengajar; (7) karena siswa akan lebih semangat belajar jika metodenya inovatif, dan juga anak tidak akan cepat bosan; (8) dengan inovasi metode pembelajaran akan mempermudah pencapaian pembelajaran sesuai karakteristik kekhususan siswa.
Jawaban peserta pelatihan pada pre test mengenai pertanyaan “apakah inovasi
metode pembelajaran dengan memanfaatkan media audiovisual dapat mengatasi
permasalahan pembelajaran di kelas, sehingga hasil belajar menjadi optimal?”. Seluruh peserta pelatihan menjawab “ya”, dengan alasan-alasan yang dikemukakan sebagai berikut: (1) sebab dengan melihat, siswa dapat mengingat sebagian pengetahuan yang diberikan; (2) karena dengan audiovisual model pembelajaran bisa dibuat lebih menarik sehingga siswa bisa berkonsentrasi dan lebih memahami maksud dari materi pembelajaran yang disampaikan; (3) audiovisual sangat membantu anak memahami konsep-konsep pembelajaran; (4) karena siswa SLB tidak bisa memahami materi secara abstrak; (5) dengan dengan media audiovisual anak akan lebih cepat mengerti materi yang disampaikan oleh guru; (6) siswa, khususnya yang bagian B tidak mampu berimajinasi, jadi sangat diperlukan media audiovisual disamping melatih pendengaran dan melihat materi; (7) media audiovisual membantu siswa menerima informasi melalui indera yang masih berfungsi normal; dan (8) untuk kasus dimana siswa total hilang pendengarannya lebih optimal menggunakan media visual saja.
Soal pre test untuk pertanyaan apakah pernah memanfaatkan media audiovisual untuk proses pembelajaran di kelas dan pada pembelajaran apa diberikan, sebagain besar peserta pelatihan menyatakan tidak dan sebagian kecil saja menjawab “ya”. Diantara
peserta pelatihan yang menjawab tidak pernah memanfaatkan media audiovisual, mereka menggunakan media kartu gambar untuk pembelajaran Bahasa Indonesia dan matematika, media gambar, dan software paint dalam pembelajaran . Sedangkan untuk sebagian kecil peserta yang menyatakan pernah menggunakan media audiovisual, mereka memanfaatkan Microsoft powerpoint untuk: (1) penjelasan materi mengenal huruf, benda, dan angka; (2) menjelaskan tentang bagian-bagian tubuh hewan & manusia;
Post test diberikan pada akhir kegiatan, setelah pemberian materi pelatihan selesai diberikan. Beberapa pertanyaan yang diberikan hampir sama dengan pretest, dan ditambah dengan pertanyaan baru mengenai minat para guru kedepannya untuk menggunakan media audiovisual dalam pembelajaran siswa di SLB.B.
Hasil analisa skor pre test dan post test diperoleh nilai rata-rata pre test adalah 60 dan rata-rata hasil post test adalah 83,33. Persentase peningkatan sebesar 42,21%. Persentase peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan memberikan manfaat bagi peningkatan pengetahuan guru-guru di SLB.B Tabanan tentang cara-cara mengembangkan media pembelajaran audiovisual berbasis IT untuk pengajaran Matematika dan IPA siswa tuna rungu di Sekolah Luar Biasa Bagian B Tabanan.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan hasil jawaban peserta pelatihan pada soal pre test maupun post test, sebagian besar peserta pelatihan berpendapat bahwa perlu dikembangkan inovasi metode pembelajaran untuk mengoptimalkan pembelajaran di kelas khususnya SLB.B. Beberapa alasan yang mendasari adalah: karena siswa SLB.B mengalami kekurangan dalam audionya; karena siswa yang berkebutuhan khusus lebih cepat menyerap dengan metode pembelajaran yang inovatif; inovasi metode pembelajaran perlu untuk meningkatkan pemahaman siswa yang mengalami keterbatasan serta mengoptimalkan hasil belajar