5. PENUTUP
5.2. Saran
Pada akhirnya Penulis mencoba memberikan saran-saran sebagai berikut: 1. Dalam menghadapi bahaya tindak pidana perdagangan orang terutama
perempuan dan anak, perlu ada perubahan cara pandang Hakim agar keputusan yang diambil tidak hanya bertujuan untuk menghukum pelaku yang bersalah, tapi juga merupakan upaya pencegahan sejak dini, perlindungan terhadap korban, dan dapat mencegah orang-orang atau pihak lain untuk coba-coba melakukannya, agar upaya pencegahan dan penanggulangan kejahatan terhadap kemanusiaan ini dapat berjalan dengan baik.
2. Dalam hukum acara pidana, khususnya dalam pidana perdagangan orang, Hakim mempunyai peran yang menentukan untuk mencari kebenaran materiel, untuk menetapkan secara tepat peraturan hukum yang dilanggar, sehingga Hakim tidak hanya harus menguasai sepenuhnya hukum yang tertulis, tapi juga harus dapat melihat suasana kebatinan yang ada di masyarakat berkaitan dengan tindak pidana perdagangan orang yang bertentangan dengan harkat dan martabat manusia serta menjadi ancaman terhadap masyarakat, bangsa, dan negara, serta terhadap norma-norma kehidupan yang dilandasi penghormatan terhadap hak asasi manusia. 3. Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang seringkali mengalami
ketakutan terhadap aparat penegak hukum, karena mereka juga melakukan pelanggaran hukum berkaitan dengan terjadinya kejahatan yang kemudian menimpa mereka, misalnya pemalsuan identitas. Oleh karena itu, mereka membutuhkan petugas yang memang terlatih menghadapi kondisi korban seperti itu. Dengan demikian, di setiap kantor polisi seharusnya tersedia sejumlah petugas yang dilatih khusus untuk menangani kasus perdagangan orang. Petugas-petugas ini haruslah polisi yang memiliki keterampilan sosial, pengetahuan tentang posisi dan permasalahan yang dihadapi korban serta terbiasa bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang dapat
menyediakan bantuan, pelayanan, dan pendampingan korban, baik lembaga swadaya masyarakat maupun instansi pemerintah, misalnya dinas sosial.
4. Mengingat sarana atau fasilitas yang mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, organisasi yang baik, dan peralatan yang memadai merupakan salah satu faktor yang mendukung efektivitas penegakan hukum, maka dalam penanganan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang, mensyaratkan keahlian khusus bagi penyidik dalam melakukan pemeriksaan dan memberikan perlindungan kepada saksi/korban, terutama untuk mencegah agar tidak terjadi reviktimisasi terhadap korban, khususnya dalam kasus perdagangan orang untuk tujuan pelacuran atau bentuk-bentuk eksploitasi seksual lainnya. Riwayat hidup korban, serta riwayat pekerjaan korban tidak boleh digunakan untuk memojokkan korban atau mengesampingkan laporan korban atau dijadikan alasan untuk menghentikan penyidikan atau penuntutan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
5. Untuk membangun sistem penegakan hukum yang baik, peningkatan kesejahteraan aparat penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan) yang dibarengi dengan sistem Reward and Punishment, menjadi suatu yang harus mendapat prioritas utama, dan mengingat masih terdapat kendala dana/anggaran dalam penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang, maka Pemerintah Pusat perlu meningkatkan anggaran negara bagi penanganan tindak pidana perdagangan orang dan mendorong Pemerintah Daerah yang belum membentuk Gugus Tugas Daerah, untuk segera membentuknya. Untuk Budaya Hukum (legal Culture) yang berkaitan dengan persepsi dan apresiasi masyarakat terhadap hukum, diperlukan upaya membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap penegakan hukum, khususnya penegakan hukum terhadap Tindak Pidana Perdagangan Orang.
6. Sebagai sebuah negara yang menganut prinsip negara hukum (rechtsstaat), Indonesia memiliki kewajiban untuk mengakui dan melindungi hak asasi manusia setiap individu tanpa membedakan latar belakangnya (non
discriminative). Secara konstitusional pengakuan negara telah tercermin dalam konstitusi yang mengatakan semua orang memiliki hak diperlakukan sama di hadapan hukum (equality before the law), dan hak untuk mendapat bantuan hukum (access to legal counsel) adalah hak asasi manusia yang sangat mendasar bagi setiap orang dan oleh karena itu merupakan salah satu syarat untuk memperoleh keadilan bagi semua orang. Bagi kalangan yang memiliki kemampuan secara ekonomi dapat menunjuk advokat jika dibutuhkan untuk membela kepentingannya. Sedangkan bagi kalangan miskin (the poor) yang tidak memiliki kemampuan secara ekonomi tidak dapat menunjuk advokat sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok yang memiliki kemampuan secara ekonomi, karena itu menjamin hak masyarakat mendapatkan bantuan hukum khususnya bagi masyarakat miskin, negara memiliki kewajiban untuk menyediakannya. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari pengakuan negara yang mengatakan, "Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya” (pasal 27 ayat (1) UUD 1945).
DAFTAR REFERENSI
I. BUKU
Bogdan, Robert dan Steven. J. Taylor. Introduction to Qualitative Research Methods. USA: John Wiley & Sons Inc. 1975.
Bradley, Keith. R.. Slavery and Rebellion in the Roman World 140BC-70BC. Bloomington, USA: Indiana University Press, 1989.
Bradley, Keith, R. Slave and Masters in Rome Empire: A Study in Social Control. England: Oxford University, 1987
Eddyono, Supriyadi Widodo. Perdagangan Manusia Dalam Rancangan KUHP. ELSAM-Lembaga Studi Dan Advokasi Masyarakat, 2005.
Garner, Bryan, A.Black’s Law Dictionary(8th ed.). Editor in Chief, 2004.
Houtsma, M, TH. et al., eds., The Encyclopædia of Islam: A Dictionary of the Geography, Ethnography and Biography of the Muhammadan Peoples, 4 vols. and Suppl., Leiden: Late E.J. Brill and London: Luzac, 1979
Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan. Buku Pegangan Pemberantasan Perdagangan Orang, 2008.
Kiernan, Ben. Blood and Soil: A World History of Genocide and Extermination from Sparta to Darfur. USA: Yale University Press, 2007.
Lewis, Diedit oleh Dammen McAuliffe et al Jane., Ensiklopedi Alquran, Edisi 1., 5 jilid. plus index., Leiden: Brill Publishers, 2001-2006.
Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian hukum. Jakarta: UI Press, 1984.
Sutopo, Heribertus. Pengantar Penelitian Kualitatif. Surakarta: Puslitbang UNS,1998.
Sewall, Samuel. The selling of Joseph: A Memorial. USA: Boston: Green and Allen
Soesilo, R. KUHP serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal.Bogor: Politea, 1995
Prodjodikoro, Wirjono. Tindak Pidana Tertentu di Indonesia. Jakarta-Bandung: PT. Eresco, 1980.
Sekjen DPR-RI. Proyek Proper-UNDP Indonesia. Buku Kompilasi: Pengarusutamaan Gender dalam Parlemen. Jakarta, 2008
Tim ACIL’S dan ICMC. Penyediaan Layanan bagi Korban Perdagangan Orang di Indonesia. Jakarta: Magenta Fine, 2009.
Makalah
Ahmad, Ruben. “Pencegahan dan Penanggulangan Kejahatan Perdagangan Manusia”. Disampaikan pada Seminar BKS-PTN Bidang Ilmu Hukum di Pontianak, 5 Oktober 2004
Brosur,Leafletdan sejenisnya
Press Release: Mensosialisasikan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual dan Komersial Terhadap Anak (RAN PESKA). Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 21 November 2006
Leaflet: Trafficking (Perdagangan) Perempuan dan Anak, Jakarta: Kementrian Pemberdayaan Perempuan diperbanyak oleh Biro Kesra Setda Jateng, 2004
II. SERIAL
Shahab, Alwi.. Lelang Budak di Batavia. Republika. 3 September 2000
III. PUBLIKASI ELEKTRONIK
Sejarah VOC di Indonesia. 17 maret 2009. diunduh 10 Desember 2009 <http://www.scribd.com/doc/13353992>
Perdagangan Perempuan (Women Trafficking) di Eropa. 08 Oktober 2006. 14 April 2010.<www.kajianeropa.org>,
Merriam-Webster's,. Dictionary.Slave. 2009. 17 Desember 2009 <http://www.merriam-webster.com/dictionary/slave>.
Gascoigne, Bamber. “History of Slavery” History World. From 2001. 8 Maret 2010.
<http://www.historyworld.net/wrldhis/PlainTextHistories.asp?groupid 1764&HistoryID=ab50>.
"Mesopotamia:The Code of Hammurabi”. 8 Maret 2010
<http://www.wsu.edu/~dee/MESO /CODE.HTM "e.g. Prologue, "the shepherd of the oppressed and of the slaves". Code of Laws #7, "If any one buy from the son or the slave of another man">.
Gascoigne, Bamber.“History of Babylon”History World. From 2001. 8 Maret 2010.
<http://www.historyworld.net /wrldhis/Plain Text Histories. diunduh tgl. 8 Maret 2010>
Peradaban Romawi, cms 206/206 sejarah. 8 Maret 2010. <http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_slavery>.
"African Holocaust Special". 8 Maret 2010.
<http://www.africanholocaust.net/html_ah/ holocaustspecial. htm>.
IV. UNDANG-UNDANG
Indonesia, Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, UU No. 21 Tahun 2007, LN No. 58 Tahun 2007, TLN No. 4720. Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht), UU
No. 1 Tahun 1946.
Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, UU No. 8 Tahun 1981, LN No. 76 Tahun 1981.
Indonesia, Undang-Undang Tentang Hak Asasi Manusia, UU No,39 Tahun 1999, LN No.165 Tahun 1999, TLN No. 3886
Indonesia, Undang-Undang Tentang Perkawinan, UU No. 1 Tahun 1974, LN No.1
Indonesia, Undang-Undang Tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita, UU No. 7 Tahun 1984.
Indonesia, Undang-Undang Tentang Pengesahan ILO Convention NO.138 Concerning Minimum Age for Admission to Employment (Konvensi ILO tentang Usia Minimum Untuk Diperbolehkan bekerja), UU No. 20 Tahun 1999.
Indonesia, Undang-Undang Tentang Pengesahan ILO Convention No. 182 Concerning the Prohibition and Immediate Action for the Elimination of the Worst Forms of Child Labour (Konvensi ILO No. 182 tentang Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak), UU No. 1 Tahun 2000
Indonesia, Undang-Undang Tentang Pengesahan Perjanjian Antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik Dalam Masalah Pidana (Treaty Between The Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters), UU No. 1 Tahun 1999.
Indonesia, Undang-Undang Tentang Pengesahan Persetujuan Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar Hukum yang Melarikan Diri (Agreement Between The Government of The Republic of Indonesia and The Government of Hongkong For The Surrender of Fugitive Offenders), UU No. 1 Tahun 2001.
Indonesia, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tentang Tata Cara dan Mekanisme Pelayanan Terpadu Bagi Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang. PP No. 9 Tahun 2008, LN No. 22 Tahun 2008, TLN No.4818
Indonesia, Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (Unit PPA) di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia, PerKap. No. Pol.: 10 Tahun 2001