• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen Syahrizal Akbar S841108032 (Halaman 142-155)

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

C. Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi yang telah dirumuskan saran

penelitian ini sebagai berikut.

1. Bagi guru hendaknya memperkenalkan nove

Tuan Guru

karya Salman

Faris ini kepada peserta didiknya sebagai bahan pengajaran karena

memuat kehidupan sosial budaya suatu masyarakat (Lombok) yang kental

serta mengandung nilai-nilai pendidikan yang penting bagi siswa dalam

berinteraksi dengan orang lain, baik di sekolah maupun ketika berada di

tengah masyarakat.

commit to user

2. Bagi siswa hendaknya novel

Tuan Guru

karya Salman Faris bisa dijadikan

bahan pembelajaran dalam menganalisis sebuah karya sastra serta

amanat-amanat penting yang terkandung di dalamnya. Siswa dapat mencermati

bagaimana pengarang dalam mengisahkan sisi kehidupan tokoh-tokoh

yang ada dalam novel untuk dapat menghasilkan sebuah karya sastra yang

lebih baik.

3. Bagi penikmat novel

Tuan Guru

karya Salman Faris secara umum

hendaknya memahami karya ini sebagai sebuah karya yang mampu

memberikan informasi dan hal-hal positif. Terlepas dari kontroversial yang

mengiringi pengkisahan novel ini, pembaca bisa memetik nilai-nilai luhur

yang terkadung dalam novel sebagai bahan pembelajaran bersama. Banyak

nilai-nilai pendidikan dan pelajaran yang bisa dikaji untuk menambah

pemahaman dan pengetahuan tentang kehidupan peradaban suatu

masyarakat yang memiliki sisi “unik” dan tidak ditemukan pada daerah

lainnya.

commit to user

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Moeslim. 2003.

Islam Pribumi: Mendialogkan Agama Membaca

Realitas

. Jakarta: Erlangga.

Abrams, M.H. 1971.

A Glossary of Literary Term

. New York: Holt, Rinehart and

Wiston.

Baribin, Raminah. 1985.

Teori dan Apresiasi Prosa Fiksi

. Semarang: IKIP

Semarang Press.

Bartholomew, John. R. 1999.

Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak.

Yogyakarta: Tiara Wacana.

Budiwanti, Erni. 2000.

Islam sasak Wetu Telu versus Wetu lima

. Yogyakarta:

LKIS.

Buehler, Michael. 2009. “Islam and democracy in Indonesia”.

Journal Insight

Turkey.

Vol. 11. No. 4, pp. 51-56.

Di, Arianto Sam. 2008.

Pengertian Novel

. Diunduh tanggal 23 April 2012 dari

http://sobatbaru.blogspot.com/2008/04/pengertian-novel.html.

Djumhana, Hanna. 2003.

Islam Untuk Disiplin Ilmu Psikologi

. Jakarta:

Departemen Agama RI Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam.

Elizabeth, Torn Burn (ed). 1973.

Sociology of Literature & Drama.

Harmondswort: Penguin Books.

Endraswara, Suwardi. 2008.

Metodologi Penelitian Sastra.

Yogyakarta:

MedPress.

Goldman, Lucien. 1967. “The Sociology of Literature: Status And Problems of

Method”

International Social Science Journal.

Volume XIX. No 4. pp

493-516.

---. 1977.

The Word a Sociology of the Noveel.

London: Pavistock

Publications Limited.

Hadi, Soedomo. 2003.

Pendidikan Suatu Pengantar

. Surakarta: UNS Press.

Jabrohim. 2003.

Metodologi Penelitian Sastra

. Yogyakarta: Hanindita Graha

commit to user

Joko Susilo. 2007. Pembodohan siswa tersistematis. Yogyakarta: Pinus Book

Publisher.

Jusmaliani. 2008.

Bisnis Berbasis Syariah

. Jakarta: Bumi Aksara.

Kartono, Kartini. 1996.

Pendidikan Politik

. Bandung: Mandiri Maju.

Kenny, William. 1966.

How to Analyze Fiction

. Amerika: Nomarch Press.

Klaus, Krisspendorff. 2004.

Content Analysis an Introduvtion to its Methodology

.

California: Sage Publication, Inc.

Koentjaraningrat. 1985.

Budaya, Mentalitas, dan Pembangunan

. Jakarta:

Gramedia.

Leenhardt, Jacques. 1967. “The Sociology of Literature: Some Stages In Its

History”

International Social Science Journal.

Volume XIX. No 4. pp

517-533.

Lorens, Bagus. 2002.

Kamus Filsafat

. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

LPSA. 2007.

Definisi Sejarah

.

http://lpsa.wordpress.com/2007/11/14/definisi-sejarah/. Diunduh tanggal 20 Juni 2012.

Machali, Rochayah. 2005. “Challenging Tradition: The Indonesian Novel

Saman

”.

Journal of Language Studies

. Vol. 5 (1).

Miles, B. Mattew dan Michael A. Huberman. 1992.

Analisis Data Kualitatif

Terjemahan oleh Tjejep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press.

Moleong, Lexy. 2008.

Metodologi Penenlitian Kualitatif

. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Mouillaud, Genevieve. 1967. “The Sociology of Stendhal's Novels: Preliminary

Research”

International Social Science Journal.

Volume XIX. No 4. pp

581-598.

Mujani, Siful. 2007.

Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan

Partisipasi Politik di Indonesia Pasca Orde Baru.

Jakarta: Gramedia.

.

Mulkhan, Abdul Munir. 2009.

Politik Santri

. Yogyakarta: Kanisius.

Nasir, M.. 1992.

Metodologi Penenlitian

. Jakarta: Usaha Nasional.

Nurgiyantoro, Burhan. 2002.

Teori Pengkajian Fiksi.

Yoyakarta: Gajah Mada

commit to user

Pospelov, G.N. 1967. “Literature and sociology”

International Social Science

Journal.

Volume XIX. No 4. pp 534-550.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007

. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra

.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rushing Robert. 2004.

Theory of Literature. Modern Critical Theory

. (http:

//www.answer.com/topic.sociology-of-literature). Diunduh tanggal 20 Juli

2012.

Sangidu. 2004.

Penenlitian Sastra: Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat

.

Yogyakarta: Unit Penerbitan Sastra Asia Barat.

Semi, Atar. 1993.

Anatomi Sastra

. Padang: FBSS IKIP Padang.

Siswantoro. 2005.

Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologis

. Surakarta:

Muhammadiyah University Press.

Soekanto, Soedjono. 1996.

Perkembangan Sosiologi

. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Stanton, Robert. 2007.

Teori Fiksi. Terjemahan oleh Sugihastutik dan Rossi Abi

AlIrsyad

. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sumardjo, Jacob. 1999.

Konteks Sosial Novel Indonesia 1920-1977

. Bandung.

Suryabrata, Sumadi. 1992.

Metodologi Penenlitian

. Yogyakarta: Andi Offset.

Sutiyono. 2010.

Benturan Budaya Islam: Puritan dan Sinkretis

. Jakarta: Kompas.

Sutopo, H. B.. 2002.

Metodologi Penenlitian Kualitatif

:

Dasar, Teori, dan

Terapannya dalam Penenlitian

. Surakarta: UNS Press.

Swingewood, Alan and Dina Laurenson. 1971.

The Sociology of Literature

.

London.

Tahir, Masnun. 2008. “Tuan Guru dan Dinamika Hukum Islam di Pulau

Lombok”.

Jurnal Asy-Syir’ah, Vol. 42, No. 1 (2008).

Uhbaiti, Nur dan Abu Ahmadi. 2001.

Ilmu Pendidikan

. Jakarta: Rineka Cipta.

Waluyo, Herman J. 2002.

Apresiasi dan Pengkajian Prosa Fiksi

. Salatiga: Widya

Sari Press.

commit to user

Wellek, Rene and Austin Warren. 1956.

Theory of Literature

. New York:

Harcourt Brace Jovanovich, Publishers.

Widagdo, Joko. 2001.

Sosiologi Sastra

. Jakarta: Departemen P dan K.

commit to user

SINOPSIS

TUAN GURU

Tuan guru merupakan sosok yang kharismatik, disegani, dihormati, dan

disanjung tinggi oleh semua msayarakat Lombok terlebih di kampung ku

Kembang Sandat, Tanjung Ringgit di wilayah Lombok Selatan atau yang biasa di

sebut

gumi paer lauq

(bumi bagian selatan). Di kampung ku masyarakat rela

mengorbankan apapun demi tuan guru beserta madrasahnya.

Di sela-sela ceramahnya, tuan guru sering mencuri iklan untuk

mempromosikan madrasahnya. Menurutnya, sekolah negeri merupakan sekolah

yang tidak menanamkan nilai agamis. Anak-anak akan lupa menghormati orang

tuanya, lupa shalat, dan menghambakan diri pada dunia.

Hal itu mempengaruhi pemikiran orang tuaku yang merupakan pengikut

fanatik tuan guru. Foto-foto tuan guru beserta nenek moyang dan keteurunannya

dibingkai dan dipajang di rumah serta harus selalu dalam keadaan bersih. Semua

kalimat yang terlontar dari mulut tuan guru merupakan fatwa yang harus selalu

diikuti dan ditaati oleh semua masyarakat. Apapun yang diminta oleh tuan guru

akan masyarakat berikan. Bahkan itu akan dianggap sebuah kehormatan bagi

masyarakat yang diminta oleh tuan guru tersebut.

Bila tuan guru meminta minum, masyarakat akan menawarkan

minuman-minuman terenak yang bahkan mereka sendiri belum meminumnya. Cangkir atau

gelas bekas tuan guru tersebut akan menjadi barang mewah yang menjadi

kebanggaan keluarga bahkan tidak jarang ada yang mengkramatkannya.

Gejala tersebut membuat aku jengah. Aku ingin mengubah pola pikir

masyarakat yang terlalu menghambakan diri pada sosok tuan guru yang tidak lain

merupakan manusia biasa juga yang tak luput dari kesalahan. Namun

pembaharuan yang aku lakukan harus terbentur tembok tebal, yakni orang tua.

Fanatisme yang ditunjukkan orang tua terhadap sosok tuan guru membuat

ku merasa sakit. Hal-hal yang di luar logika pun mereka ikuti dengan taat karena

terlontar dari mulut tuan guru. Ibu rela di pukul ayah bertubi-tubi tanpa

melakukan perlawanan sekecil apapun karena menurut tuan guru surga istri

terletak pada suami, jadi apapun yang diminta dan dilakukan suami harus diikuti.

Lebih tragisnya lagi, Ibu mengucapkan

Alhamdulillah

ketika dipukul ayah, tetapi

itu dianggap sebagai suatu perlawanan oleh ayah sehingga ibu dipukul lagi.

Aku membentak ayah, dengan memanggilnya bernada tinggi. Tetapi ayah

mengatakan kalau aku masih kecil dan tidak patut berlaku demikian. Ketika aku

hendak merangkul ayah untuk menghentikan tindakannya, ibu malah menarik ku

sehingga kami terjungkal bersama ke lantai. Ibu mengatakan tidak pantas aku

berbuat seperti itu pada ayah.

Setelah semua perlakuan yang diterima ibu, ia tetap meperlakukan ayah

seperti seorang raja. Ketimpangan-ketimpangan ibu lakukan demi ayah. Ia

meperlakukan kami seperti binatang peliharaan. Aku dan kedua saudaraku diberi

makan ikan asin yang telah digoreng beberapa hari yang lalu dengan minyak

bekas yang kemudian dihangatkan kembali. Sementara ayahku, diberi daging

commit to user

ayam kalau tidak lima butir telur. Kami akan di marah jika makan dengan lesu,

sementara ayah makan dengan lahap tanpa memerdulikan kami.

Ibu akan rela berhutang demi memberikan sumbangan kepada pesuruh

tuan guru, baik untuk alasan pengajian ataupun pembangunan madrasah. Pemberi

sumbangan terbanyak akan dijanjikan doa dari tuan guru dan disebut namanya

beserta keluarganya di tengah-tengah pengajian. Ibu selalu ada uang demi

kegiatan yang berkaitan dengan tuan guru, bahkan ia rela meminjam uang yang

dibungakan demi itu. Sedangkan pada saat kami yang meminta uang hanya untuk

sekedar membeli jajan yang hampir tidak pernah kami rasakan, ibu selalu

beralasan tidak ada.

Ketika pengajian tiba, masyarakat akan berebut mencium tangan tuan

guru. Tanpa peduli, apakah mereka lebih tua dari tuan guru. Setelah itu, tangan

mereka gosokkan tiga kali lalu diusapkan ke kepala dengan harapan mendapat

berkah. Kadang pada saat pengajian, tuan guru membawa anaknya yang dianggap

potensial meski ia masih kecil. Secara tidak langsung anak tersebut telah

mendapatkan calon jamaah yang akan mengikutinya kelak.

Hal yang selalu aku harapkan setelah pengajian adalah

dulang

atau

hidangan yang selalu disajikan setelah pengajian tuan guru di hari-hari besar

keagamaan.

Dulang

disantap secara bersama-sama, dalam satu wadah disajikan

untuk tiga sampai lima orang. Pada saat ini semua melebur, tanpa memerhatikan

tingkatan sosial, semua menyatu dalam suka cita.

Aku selalu ingin melihat masyarakatku larut dalam kebahagiaan seperti

ini. Tetapi fatwa tuan guru telah melahirkan perceraian. Orang yang benar tetapi

menyimpang dari ajaran tuan guru akan dikucilkan oleh masyarakat luas. Ia

dianggap

nyembali

, berbeda dari yang lainnya. Hal itulah yang juga disematkan

kepadaku. Karena aku menentang pendapat tuan guru yang menurutku salah, aku

dianggap berbeda.

Perlawanan ini bermula saat aku masuk asrama pondok pesantren tuan

guru. Suatu hari, utusan tuan guru bertamu ke rumah dengan membawa amanah

dari tuan guru. Tuan guru mengharapkan aku dan kedua saudaraku masuk ponpes

yang dipimpin tuan guru. Orang tuaku sangat senang. Disaat para orang tua

berebut memasukkan anaknya ke pondok pesantren, kami malah diminta sendiri

oleh tuan guru.

Sejak utusan itu meninggalkan rumah kami, perlakuan orang tuaku

berubah drastis. Ibu memandikan kami sambil bernyanyi. Seolah-olah ibu diberi

kesempatan kedua oleh tuan guru. Kesempatan pertama disia-siakan ibu karena

menikah dengan ayah. Dulu, ibu pernah dipinang oleh tuan guru, tetapi karena

tuan guru pergi melanjutkan studi ke tanah Arab, ayah datang melamar ibu dengan

membawa ratusan ekor sapi. Nenek tidak bisa menolak lagi, diadakanlah pesta

besar-besaran karena ayah merupakan orang kaya.

Kesempatan kedua ini dimanfaatkan oleh ibu. Ayah dan ibu mendidik

kami dalam hal berprilaku. Bagaimana berjalan, berbicara, dan menghadap tuan

guru. Selama beberapa malam kami bertiga dilatih sampai jam sebelas malam.

Sedikit saja kami membuat kesalahan maka kayu akan menempel pada tubuh

kami. Perih yang membuatku terkadang tidak bisa memejamkan mata sampai

subuh.

commit to user

Setelah beberapa hari pelatihan militer ala orang tuaku, datanglah mobil

jemputan dari pondok pesantren yang membawa kedua adikku. Sedangkan aku

dibiarkan berangkat sekolah sendirian. Setelah menamatkan madrasah aliyah, aku

dimasukkan juga ke dalam jeruji, yang disebut asrama pesantren miliki tuan guru.

Perlahan-lahan karena kemampuan yang kumiliki, tuan guru

mengangkatku menjadi orang kepercayaannya. Mewakilinya mengisi beberapa

pengajian di beberapa daerah. Sebenarnya, predikat ini tidak aku inginkan. Orang

mulai berebut mencium tangan ku. Orang tua ku terlebih ibu menjadi sangat

bangga mendengar berita ini. Para istri-istri muda menangis mencium tangan ku

bahkan mereka rela menyerahkan diri mereka kepadaku. Dan anehnya, para suami

akan menganggap bahwa ketaatan istri mereka telah naik satu tahap.

Hal-hal aneh seperti inilah yang ingin ku dobrak. Meskipun ujungnya, tak

selamanya niat yang baik dapat diterima baik. tetapi bakan pendobrak memang

telah melekat dalam diriku sejak kelahiran. Menurut papuk Odah, dukun beranak

yang memabntu proses kelahiranku, ibu ku tidak perlu terlalu berjuang keras

melahirkanku karena menurut papuk Odah, aku sendiri seolah berjuang sendiri

untuk lahir.

Papuk Odah, merupakan orang yang memiliki pengaruh yang besar

terhadap pola pikir ku. Ia orang yang bijaksana, pemikirannya lebih layak dan

lebih berterima daripada pemikiran tuan guru yang selama ini menjadi anutan

masyarakat. Tetapi karena papuk Odah jarang shalat dan praktik pengobatannya

dianggap seperti dukun yang kata tuan guru mendekati syirik, orang-orang

mengucilkannya.

Tetapi dalam perlawanan terhadap tuan guru, aku tidak melakukannya

secara terang-terangan. Apa yang diajarkan dipesantren aku ikuti dengan baik. Di

pesantren kami dijejali dengan kitab-kitab gundul yang harus selalu kami pelajari.

Buku-buku pengetahuan lainnya dianggap barang haram. Tetapi aku mendapat

supali buku dari teman-temanku yang sekolah di Jawa. Melalui buku-buku itu aku

lebih bisa membuka mata, tidak terpaku oleh jeruji yang dibangun tuan guru.

Buku-buku itu aku pinjamkan juga ke beberapa teman terdekatku di pesantren.

Jalal dan Jumahur. Mereka merupakan ‘pengikut’ kecilku di pesantren. Sahabat

yang selalu setia mendampingiku disaat-saat tersulit. Terlebih Jalal. Ketika

berkunjung ke kamarku, ia tidak pernah mau duduk bersama di atas tempat tidur.

Tanpa dikomando, ia langsung mengambil sajadah dan duduk di lantai kamar.

Aku tidak bermaksud membentuk jemaah baru menandingi tuan guru

dengan cara yang tuan guru terapkan. Aku akan menerapkan sistem yang lebih

terbuka. Membuka dialog di tengah ceramaah. Tidak seperti tuan guru yang

mengurung jamaahnya dengan ucapan-ucapan dia yang serta merta langsung

dianggap sebagai fatwa dan melarang adanya jamaah yang bertanya atau

berkomentar atas apa yang ia sampaikan, baik itu sesuatu yang benar ataupun

salah.

Di asrama, selain menjalin hubungan persaudaraan, aku juga menjalin

kasih sesama santri. Najma, seorang yang cantik dan memiliki kecerdasan di atas

santriwati lainnya merupakan gadis pertama yang hadir dalam kisah cintaku.

Kami menjalin pertemuan secara diam-diam saat semua santri terlelap. Terkadang

commit to user

kami ketahuan oleh santri yang rutin menjalankan shalat sunat tahajud, namun

alasan yang sama kami lontarkan yakni melaksanakan shalat sunat tahajud.

Semua menjadi sirna ketika tuan guru meminang Najma untuk menjadi

istri ketiganya. Orang tua Najma yang mengetahui hal tersebut tentu menyambut

gembira tanpa menanyakan apakah Najma senang dan menyetujui hal tersebut.

Tetapi, aroma surga yang ditiupkan surga menurut kebanyakan orang telah

menutup mata orang tua Najma.

Najma pun menyetujui hal tersebut meski dalam hati menentang. Jadilah

Najma, umi di pesantren. Dan aku harus memanggilnya umi juga. Jumahur dan

Jalal selalu berada di belakangku. Kisahku diikuti oleh kisah santri lainnya, yakni

Kabir. Kabir merupakan santri yang selalu diolok karena mulutnya yang hitam

tebal akibat lilitan rokok yang selalu dihisapnya.

Ia sangat menghormati tuan guru, tetapi ia akan rela tidak menjadi tuan

guru jika dilarang merokok. Cinta Kabir terenggut oleh tuan guru. Tetapi bukan

karena tuan guru menikahi gadis yang dicintai Kabir, melainkan tuan guru

menjodohkan Salimah dengan Zainal.

Seiring berjalannya waktu, di pesantren muncul seorang gadis yang tak

kalah pesonanya dengan Nailal. Ia merupakan salah satu santriwati kebanggaan.

Ia menurunkan kemampuan abahnya yang memang lulusan Arab. Akupun mulai

menjalin kasih dengannya. Perlahan,aku bisa melupakan Najma dan mengganti

dengan Nailal.

Suatu hari, di saat pengkajian kitab gundul oleh tuan guru, aku memecah

kesunyian pembelajaran kolot di pesantren yang tanpa dialog untuk meminta ijin

ke belakang. Tuan guru melarang. Ia tidak memperbolehkan seorangpun keluar

dari majlis selama kegiatan masih berlangsung. Tetapi aku tetap bersikeras,

hingga akhirnya tuan guru melemparkan kitab gundul yang sedang dikajinya tepat

mengenaiku.

Santri-santri yang lain melongo menatapku sinis. Aku dianggap abu jahal

modern. Tidak akan ada yang mau memihak kepadaku. Lalu aku memutuskan

untuk tetap berada di majlis dengan syarat tuan guru meberikan kesempatan

kepadaku untuk bertanya dan berdialog dengannya. Tuan guru semakin marah.

Santri-santri memelototiku. Jalal sebagai senior berdiri dan menyuruh para santri

menundukkan pandangan dan melihat kitab. Tuan guru marah, ia menyuruh Jalal

untuk duduk. Jumahur lebih bijak. Ia meminta para santri untuk tenang sehingga

tidak tampak keberpihakannya kepadaku di depan tuan guru.

Berita itu ternyata menyebar hingga ke telinga ibuku. Ia merasa terpukul.

Ia menganggapku sebagai pembangkang. Ia mengusirku dari rumah. Ia

menganggapku

nyembali

.

Sejak saat itu, aku lebih memilih pergi berkunjung ke desa-desa daripada

harus mengikuti kegiatan di pesantren. Lama tidak di pesantren, terdengar kabar

bahwa Nailal dipersunting tuan guru. LAgi-lagi ia menggunakan statusnya untuk

dengan mudah menikahi siapapun. Untuk yang satu ini, Najma melarang keras

tuan guru. Tetapi tuan guru tetap bersikeras. Ia akan menikah dengan atau tanpa

persetujuan Najma.

commit to user

Dalam kegalauannya, Najma berlari menghampiriku di kamar asrama. Ia

lalu merasukiku untuk berbuat yang tidak senonoh. Kami melakukan sesuatu yang

tidak semestinya dilakukan.

Kini aku harus kembali kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua

kalinya gara-gara orang yang sama, yakni tuan guru. Aku mulai tidak betah di

pesantren. Aku berkelana ke Sumbawa untuk melakukan pengajian atau lebih

tepatnya penyuluhan. Sepulang dari Sumbawa, aku mengasingkan diri di tempat

pamanku. Aku banyak bertanya seputar kisah ibu ke paman.

Hingga akhirnya berita perih menghampiriku. Papuk Odah meninggal.

Tanpa pikir panjang, aku bersama Nuh pergi ke rumah papuk Odah. Betapa

terkejutnya aku melihat mayat papuk Odah yang terbujur kaku dan telah

mengeluarkan bau menyengat.

Menurut perkiraanku, papuk Odah telah meninggal tiga hari yang lalu.

Tetapi kenapa tidak ada seorangpun yang mau mengurusnya. Aku lalu

menyempatkan diri untuk sengaja shalat berjamaah di lingkungan papuk Odah.

Seolah jamaah tahu maksudku. Mereka semua terdiam. Selesai shalat, beberapa

sesepuh desa tetap diam di masjid beserta imam masjid. Beberapa orang telah

meninggalkan masjid.

Aku mulai membuka pembicaraan prihal jenazah papuk Odah. Mereka

tidak mau mengurus jenazah papuk Odah karena menganggap papuk Odah

berbeda dari mereka. Alasan itu semakin kuat tertuju pada satu orang yakni tuan

guru, karena berdasarkan info yang ku dengar beberapa hari yang lalu tuan guru

menggelar pegajian di desa ini.

Aku menegur mereka semua hingga imam masjid naik pitam. Imam yang

sebenarnya dari segi bacaan masih belum layak, tetapi karena ia ditunjuk langsung

oleh tuan guru. Aku lalu pergi ke rumah tuan guru. Betapa terkejutnya aku,

ternyata di sana sudah ada beberapa orang yang tadi shalat berjamaah bersamaku.

Ia telah lebih dahulu menyampaikan maksud kedatanganku. Tuan guru memberi

tanggapan yang sama seperti jamaahnya. Lalu aku memutuskan untuk

menguburkan jenazah papuk Odah berdua dengan Nuh.

Sejak saat itu, kebencian tuan guru memuncak. Subuh yang kelam, saat

aku tidur di rumah, seperti di sengaja suara kaset ngaji yang diperdengarkan di

masjid dibunyikan sekeras-kerasnya. Dan orang tuaku pergi ke masjid lebih awal

dari biasanya. Di luar rumah aku mendengar langkah kaki segerombolan orang

dan mulai mendekat.

Mereka bermaksud membunuhku. Aku mengenal salah seorang dari

mereka, yakni Anwar. Orang sangat benci kepadaku, karena ingin menggantikan

posisiku sebagai imam masjid. Ia ditemani oleh beberapa orang dari kampung

sebelah. Aku mempersilakan mereka masuk dan menantang untuk

mesiat

,

berkelahi secara jantan.

Menurut kepercayaan di kampungku, jika tuan rumah mengetahui

kedatangan orang yang berbuat jahat terutama pencuri maka pantang bagi pencuri

itu untuk masuk. Bagaimanapun ia melawan, ia akan kalah juga. Tetapi ambisi

Anwar untuk membunuhku sangat berapi-api meski beberapa orang yang lain

telah memperingatinya. Ia akhirnya menjebol sisi rumahku yang terbuat dari

pagar. Lalu akupun keluar rumah, tanpa disadari golok sudah berada di tanganku.

commit to user

Aku menantang mereka untuk berperang. Tak seorangpun dari mereka

yang berani. Kecuali Anwar yang tetap diam. Tetapi ia tidak berani

Dalam dokumen Syahrizal Akbar S841108032 (Halaman 142-155)

Dokumen terkait