• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Penelitian ini masih berdasarkan pengaruh membaca terhadap motivasi belajar, untuk itu peneliti menyarankan agar seterusnya dilakukan penelitian terhadap objek yang sama yaitu novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi dengan pengaruh yang lain. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh apa saja yang terdapat pada novel tersebut secara menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Irwansyah. 1989. ”Syair Putri Hijau; Telaah Sejarah Teks dan Resepsi”

(Tesis S2). Fakultas Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Lexy J. Moleong. 2011. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung:

Rosdakarya

Sardiman, 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sari, Ovet Novita. 2014. ”Makna Lima dalam Novel Negeri Lima Menara Karya Ahmad Fuadi Sebuah Kajian Semiotik”. (Skripsi) Bengkulu:

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu.

Repository.unib.ac.id. Diakses pada tanggal 01 Mei 2016

Subagio Sastrowardoyo, 1992. Sekilas Sosial Sastra dan Budaya. Jakarta:

Balai Pustaka

Tampubolon, DP. 1987. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung: Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur, 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung:

Angkasa.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Waluyo, Herman J, 2002. Pengkajian Prosa Fiksi, Surakarta: UNS Press.

Waluyo, Herman J, 2006. Puisi Prosa Fiksi dan Drama Bagian II.

Surakarta: UNS Press.

Zuhlia, Ma’rifatu. 2011. ”Amanat dalam Novel Negeri Lima Menara”.

(Makalah) Jember: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pedidikan Universitas Jember http://leeanz.blogspot.co.id/ Diakses pada tanggal 12 Maret 2016 pukul 11.46 WIB.

Lampiran 1

SINOPSIS NOVEL NEGERI LIMA MENARA KARYA AHMAD FUADI

Novel Negeri Lima Menara berkisah tentang enam orang sahabat yang bersekolah di Pondok Madani (PM), Ponorogo, Jawa Timur. Mereka dengan sungguh-sungguh akhirnya berhasil meraih mimpinya yang awalnya dinilai terlalu tinggi. Mereka adalah Alif Fikri Chaniago, Raja Lubis, Said Jufri, Dulmajid, Atang, dan Baso Salahuddin.

Alif adalah seorang anak dari sebuah kampung yaitu Desa Bayur yang terletak di dekat Danau Maninjau, Sumatera Barat. Alif baru saja lulus dari SMP dan ia ingin melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri dan kemudian ke ITB Bandung untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang pakar dan ahli iptek.

Ia tak ingin seumur hidupnya tinggal di kampung dan mempunyai cita-cita untuk merantau. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti sejumlah tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Tapi orang tuanya menginginkan Alif mendalami ilmu agama dan menjadi seseorang yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Melalui Amak (ibunya), Alif diminta untuk meneruskan pendidikan ke pesantren yaitu Pondok Madani di sudut Kota Ponorogo, Jawa Timur.

Keinginan itu juga merupakan keinginan ayahnya, yang diperkuat oleh pernyataan dari “Mak Etek” atau paman yang sedang kuliah di Kairo. Keluarga mengharapkan Alif bisa bermanfaat bagi masyarakat seperti Bung Hatta dan Buya

Hamka. Namun Alif sendiri ingin menjadi seseorang yang menguasai teknologi tinggi seperti B.J. Habibie.

Dengan setengah hati, akhirnya berangkat juga Alif ke Pondok Pesantren atas saran dari keluarganya. Dia bersama ayahnya naik bus tiga hari tiga malam melintasi Sumatera dan Jawa menuju sebuah pesantren yang bernama Gontor.

Ketika sampai, kesan pertama yang Alif dapatkan yaitu tempat yang aturannya sangat ketat. Apalagi ada keharusan mundur setahun untuk kelas adaptasi. Alif menguatkan hati untuk mencoba menjalankan setidaknya tahun pertama di Pondok Madani ini. Seiring berjalannya waktu Alif mulai bersahabat dengan teman sekamarnya, Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, dan Dulmajid dari Madura.

Keenam anak yang menuntut ilmu di Pondok Madani Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan unik yaitu menjelang azan magrib berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Ketika membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Alif membayangkan awan itu berbentuk seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin dikunjunginya setelah lulus nanti. Begitu pula yang lainnya membayangkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa.

Berawal dari kebiasaannya berkumpul di bawah menara masjid tadi, mereka berenam pun menamakan diri Sahirul Menara, artinya pemilik menara. Di Pondok Madani itu ada ungkapan luar biasa yang selalu diingat oleh Alif.

Ungkapan itu disampaikan oleh salah seorang guru bernama Ustad Salman yaitu

“Man jadda wa jada” yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Ungkapan tersebut sangat bermakna bagi enam sahabat ini.

Kemudian mereka mulai memiliki impian dan bertekad untuk meraihnya.

Di Pondok Pesantren mereka dididik sangat ketat. Mulai dari keharusan berbicara menggunakan bahasa Arab atau Inggris dan akan dihukum jika menggunakan bahasa Indonesia.

Mereka juga dilatih dengan disiplin yang sangat ketat. Semua siswa harus epat waktu dalam segala aktivitas. Kalau terlambat beberapa menit saja langsung mendapatkan hukuman. Dari proses belajar dan ungkapan dari Pondok Madani itulah keenam sahabat itu jadi memiliki cita-cita besar.

Mereka masing-masing memiliki ambisi untuk menaklukkan dunia. Mulai dari tanah Indonesia lalu ke Amerika, Asia, atau Afrika. Di bawah menara Madani, mereka berjanji dan bertekad untuk menaklukkan dunia dan menjadi orang besar yang bermanfaat bagi banyak orang.

Tapi sayang, salah seorang dari sahabat tersebut yaitu Baso harus keluar dari pesantren. Ia meninggalkan Pondok Madani untuk menjaga neneknya dan berusaha menghafal Alquran di kampungnya.

Waktu terus berjalan, Sahibul Menara yang lain terus melanjutkan pendidikan di Pondok Madani. Hari ke hari terasa makin indah bagi mereka.

Makin banyak manfaat yang mereka peroleh, baik dari persahabatan mereka, mau pun dari sistem pendidikan yang sangat baik. Hingga akhirnya mereka bisa meraih mimpi yang selama ini hanya bayangan.Mereka membuktikan bahwa mereka bias menaklukkan dunia. Mereka kemudian bernostalgia dan membuktikan impian

mereka ketika melihat awan di bawah menara masjid Pondok Pesantren Madani, Jawa Timur.

Ternyata bagi mereka, menempuh pendidikan di pesantren mempunyai makna indah yang tak ternilai. Alif yang tadinya beranggapan pesantren itu kampungan dan kuno, ternyata salah besar. Pendidikan di pesantren sangat menjunjung tinggi disiplin sehingga mencetak generasi yang bertanggung jawab dan mempunyai komitmen. Apalagi di pesantren, jiwa dan gelora muda para santri disulut dan dibakar oleh para ustad agar tidak gampang menyerah. Secara rutin, setiap pagi didengungkan kata-kata sakti “Man jadda wa jada”. Alif menjadi bersyukur dan berterima kasih kepada Amaknya yang telah menyuruhnya melanjutkan sekolah di pesantren.

Lampiran 2

WAWANCARA PENGARUH NOVEL NEGERI LIMA MENARA TERHADAP SANTRI MAS PONDOK PESANTREN ISLAM IBADURRAHMAN STABAT

LANGKAT Nama:

Kelas:

Pertanyaan Pembuka

1. Apakah Anda pernah membaca novel Negeri Lima Menara?

...

2. Milik siapa novel Negeri Lima Menara yang Anda baca?

...

3. Apakah Anda tahu arti kata dari Negeri Lima Menara?

...

4. Berapa lama Anda menghabiskan waktu membaca novel Negeri Lima Menara?

...

5. Siapakah pengarang novel Negeri Lima Menara?

...

Pertanyaan Inti

1. Apakah novel Negeri Lima Menara menjadi sumber utama pengaruh motivasi Anda?

...

2. Pengaruh motivasi apa saja yang Anda temukan setelah membaca novel Negeri Lima Menara?

...

3. Bagian cerita manakah yang mempengaruhi motivasi tersebut?

...

4. Siapa sajakah tokoh pada novel Negeri Lima Menara yang paling mempengaruhi motivasi tersebut?

...

5. Bagaimanakah motivasi belajar Anda sebelum membaca novel Negeri Lima Menara?

...

6. Darimana sajakah motivasi belajar Anda dapatkan sebelum membaca novel Negeri Lima Menara?

...

7. Bagaimanakah motivas belajar Anda setelah membaca novel Negeri Lima Menara?

...

8. Bagian cerita manakah yang paling memotivasi belajar Anda?

...

9. Siapa sajakah tokoh pada novel Negeri Lima Menara yang mempengaruhi semangat belajar Anda?

...

10. Apa tanggapan Anda setelah membaca novel Negeri Lima Menara?

...

Dokumen terkait