• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : SIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Berdasarkan simpulan di atas, peneliti mengajukan saran yang dapat dipertimbangkan dan harapannya berguna di waktu yang akan datang. Adapun saran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Setelah menyelesaikan perkuliahan, individu yang merupakan sarjana baru akan dihadapkan dalam dunia pekerjaan, LinkedIn dapat menjadi suatu medium bagi para sarjana baru untuk mencari pekerjaan. Agar dapat dikenal baik, seharusnya para sarjana baru yang menggunakan LinkedIn memuat profilnya secara lengkap, mengisi profil secara jujur dan rinci agar memudahkan para perekrut untuk mendeteksi mereka yang ingin melamar kerja. Ketika sarjana baru melakukan hal tersebut, maka mereka juga memiliki peluang untuk dilirik oleh perusahaan penyedia lapangan kerja.

2. Pengelolaan kesan yang tepat adalah jika seseorang melakukannya dengan cara yang baik dan jujur. Tiap individu diharapkan dapat mengelola kesan tersebut, bukan hanya saat dihadapkan pada dunia profesional, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

1.3 Implikasi Teoretis

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memperkaya khazanah dalam bidang ilmu komunikasi, menambah pengetahuan serta wawasan bagi penulis maupun mahasiswa lainnya mengenai pengelolaan kesan atau impression management sarjana baru Universitas Sumatera di media sosial LinkedIn.

1.4 Implikasi Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan sumbangan pada penelitian berikutnya. Mahasiswa juga harus peka dan tahu mengenai fenomena apa yang saat ini sedang terjadi, yang berkaitan dengan ilmu komunikasi serta media sosial yang dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR REFERENSI

Afrizal. (2016). Metode Penelitian Kualitatif: Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif Dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta:

Rajawali Pers

Amri, K., & Dian Marisha P. (2019). Sosiolinguistik Analisis Interferensi Budaya pada Media Sosial. Bandung: Manggu Media.

Hidayat, K., & Khoiruddin B. (2016). Psikologi Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Humaizi. (2018). Uses and Gratifications Theory. Medan: USU Press.

Ibrahim. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Liliweri, A. (2017). Komunikasi Antar Personal. Jakarta: Kencana.

Martono, N. (2016). Metode Penelitian Sosial Konsep-Konsep Kunci. Jakarta:

Rajawali Pers.

Maryam, Effy Wardati. (2018). Buku Ajar Psikologi Sosial Jilid I. Sidoarjo:

UMSIDA Press

Mulyana, D. (2010). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muslih, M. (2016). Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: LESFI.

Ruben, Brent D., & Lea P. Stewart. (2014). Komunikasi dan Perilaku Manusia Edisi Kelima. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Surip, M. (2011). Teori Komunikasi: Perspektif Teoritis Teori Komunikasi. Medan:

UNIMED.

Umiarso, & Elbadiansyah. (2014). Interaksionisme Simbolik Dari Era Klasik Hingga Modern. Jakarta: Rajawali Pers.

Widyastuti, Y. (2014). Psikologi Sosial. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Jurnal:

Chandra, Fransisca Stefanie. 2017. Kepuasan Pengguna Jejaring Sosial LinkedIn sebagai Jejaring Sosial yang Berorientasi pada Dunia Bisnis dan Profesional di Indonesia. Jurnal e-Komunikasi. 2(2): 2.

Dewi, Retasari dan Preciosa Alnashava Janitra. 2018. Dramaturgi dalam Media Sosial: Second Account di Instagram Sebagai Alter Ego. Jurnal Ilmu Komunikasi. 8(3): 342.

Mutia, Tika. 2018. Geberasi Milenial, Instagram dan Dramaturgi: Suatu Fenomena Dalam Pengelolaan Kesan. Komunikasiana. 1(1): 4.

Nihayati dan Laksmi. 2020. Perilaku Pencarian Informasi Pekerjaan oleh Sarjana Fresh Graduate dengan Analisis Model Wilson. Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi. 16(1): 56.

Paliszkiewicz, Joanna and Magdalena Madra-Sawicka. 2016. Impression Management in Social Media: The Example of LinkedIn. Management. 11(3):

206.

Pratama, Beny Dwi dan Suharnan. 2014. Hubungan Antara Konsep Diri dan Internal Locus of Control dengan Kematangan Karir Siswa SMA. Persona, Jurnal Psikologi Indonesia. 3(3). 216.

Sunarwan, Bambang. 2015. Aktifitas Komunikasi dan Media Sosial (Survei Pola Komunikasi Masyarakat DKI Jakarta Melalui Social Network Sites). Jurnal Studi Komunikasi dan Media. 19(1): 94.

Wibisono, Gunawan. 2017. Media Baru dan Nasionalisme Anak Muda: Pengaruh Penggunaan Media Sosial ‘Good News Indonesia’ Terhadap Perilaku Nasionalisme. Jurnal Studi Pemuda. 6(2): 592.

Skripsi:

Ainun, Ranjani Sukma. 2020. Motif Penggunaan Aplikasi LinkedIn Sebagai Media Pencari Kerja Terhadap Tingkat Kepuasan Pengguna. Universitas Sumatera Utara.

Efendi, Eky Hilmy. 2016. Hubungan Antara Citra Diri Dengan Self-Esteem Terhadap Remaja Pelaku Selfie yang Diunggah di Media Sosial Pada Siswa Madrasah Aliyah Tawakkal Denpasar. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Harulito, Janis. 2012. Pengaruh Pemberitaan Bank Century di Surat Kabar Harian Bernas Jogja Terhadap Persepsi Mayarakat Dusun Plemburan Tentang Wakil Presiden Budiono. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Monica. 2018. Analisis Pengaruh Perceived Employability, Job Search Self-Efficacy, Job Search Attitude Terhadap Job Search Intention (Kasus Pada Fresh Graduate di Wilayah DKI Jakarta Dan Banten). Universitas Multimedia Nusantara.

Tarigan, Chindy Gloria Hariagitta. 2020. Konsep Diri Pengguna Finstagram Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara.

Zakirah, Dinda Marta. 2017. Mahasiswa dan Instagram (Studi tentang Instagram Sebagai Sarana Membentuk Citra Diri di Kalangan Mahasiswa Universitas Airlangga). Universitas Airlangga. Surabaya.

LAMPIRAN

PEDOMAN WAWANCARA

A. Identitas Subjek 1. Nama Lengkap 2. Jenis Kelamin

3. Tempat dan tanggal lahir 4. Alamat tempat tinggal saat ini 5. Profesi

B. Sarjana Baru Universitas Sumatera Utara dan Hubungannya dengan Media Sosial LinkedIn

1. Bagaimana Anda menggunakan media sosial LinkedIn dalam kehidupan sehari-hari?

2. Faktor-faktor atau hal apa saja yang membuat Anda menggunakan media sosial LinkedIn?

3. Mengapa anda memilih untuk menggunakan media sosial LinkedIn dibandingkan platform sejenis lainnya?

4. Bagaimana anda memandang para sarjana baru ketika mereka menggunakan media sosial LinkedIn dalam mengelola kesan dan menampilkan dirinya?

5. Bagaimana kepuasan yang anda rasakan saat menggunakan media sosial LinkedIn?

6. Bagaimana anda memanfaatkan LinkedIn sebagai wadah dalam menampilkan dan memasarkan diri anda?

7. Apa hal yang anda lakukan dalam mengelola kesan (impression management) dalam rangka membangun citra positif?

8. Bagaimana upaya anda dalam melakukan pengelolaan kesan di media sosial LinkedIn? (misal: menggunakan foto profil dengan atribut rapi, meng-upload portofolio dengan mencantumkan prestasi dan pengalaman, dan sebagainya) 9. Menurut anda, bagaimana kesan yang anda tampilkan dalam media sosial

LinkedIn?

10. Pembentukan kesan seperti apa yang ingin anda tampilkan dalam media sosial LinkedIn?

11. Mengapa anda berusaha melakukan pengelolaan kesan di media sosial LinkedIn?

Apa motif atau tujuan anda mengelola kesan di media sosial tersebut?

12. Apa yang menjadi kendala saat anda melakukan pengelolaan kesan di media sosial LinkedIn?

13. Bagaimana perasaan anda ketika anda mencantumkan informasi kontak pribadi di media sosial LinkedIn?

14. Apa harapan anda saat menggunakan media sosial LinkedIn dan mengelola kesan dengan baik dalam media sosial tersebut?

15. Menurut anda bagaimana membangun citra positif di media sosial LinkedIn agar dilirik oleh perusahaan?

16. Apa dampak yang anda peroleh ketika anda mengelola kesan sebaik mungkin di media sosial LinkedIn untuk membangun citra positif anda di mata perusahaan penyedia lapangan kerja?

C. Pihak Perusahaan Penyedia Lapangan Kerja 1. Bagaimana anda menggunakan media sosial LinkedIn?

• Sejak kapan menggunakan LinkedIn?

• Intensitas dalam mengakses LinkedIn berapa kali?

• Konten atau aktivitas apa yang sering dibagikan?

2. Bagaimana sudut pandang anda tentang sarjana baru?

3. Bagaimana anda atau perusahaan melihat citra positif para sarjana baru melalui media sosila LinkedIn?

4. Bagaimana pendapat anda tentang pengelolaan kesan yang dilakukan sarjana baru dalam media sosial LinkedIn untuk membangun citra positifnya di mata perusahaan?

5. Dari sudut pandang anda sebagai pihak perusahaan, bagaimana anda memandang media sosial sebagai medium bagi perusahaan dalam mencari calon tenaga kerja?

6. Menurut pendapat anda, bagaimana efektivitas media sosial LinkedIn jika dibandingkan dengan platform sejenis lainnya?

7. Bagaimana kepuasan yang anda rasakan saat menggunakan media sosial LinkedIn?

8. Bagaimana gambaran tentang citra sarjana baru bagi perusahaan penyedia lapangan kerja?

9. Menurut anda, apa saja kriteria yang diperlukan oleh sarjana baru dalam mempresentasikan dirinya agar mereka dilirik oleh perusahaan?

10. Bagaimana perusahaan berusaha untuk melakukan impression management agar perusahaan tersebut dilirik oleh para calon tenaga kerja?

D. Dosen Psikologi (Triangulasi)

1. Bagaimana anda memandang para sarjana baru ketika mereka sudah menyandang gelarnya dan mereka berusaha mengelola kesan dalam media sosial LinkedIn (aplikasi pencarian kerja)?

2. Bagaimana keterlibatan para sarjana baru yang menggunakan media sosial LinkedIn untuk menampilkan dirinya guna mendapat atensi oleh perusahaan penyedia lapangan kerja?

3. Bagaimana perilaku sarjana baru dalam melakukan impression management (pengelolaan kesan) dalam media sosial LinkedIn?

4. Bagaimana seharusnya para sarjana baru mengelola kesan yang baik dalam media sosial (LinkedIn)?

5. Bagaimana seharusnya para sarjana baru membangun citra positif dalam media sosial LinkedIn?

6. Bagaimana penampilan presentasi diri yang baik dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri?

7. Dalam pengelolaan kesan, tidak hanya sarjana baru yang melakukannya, tetapi perusahaan juga akan melakukan impression management agar dilirik oleh para calon tenaga kerja. Bagaimana impression management yang dilakukan oleh perusahaan?

E. Dosen Ilmu Komunikasi (Triangulasi)

1. Bila dilihat dari penggunaannya, bagaimana menurut pandangan ibu terkait faktor apa saja yang mempengaruhi para sarjana baru (fresh graduate) memilih untuk mempresentasikan dirinya dalam media sosial LinkedIn tersebut?

2. Menurut pandangan ibu, apakah jika seseorang menyatakan dirinya dalam media sosial baru akan dianggap dalam sebuah interaksi sosial? Mengapa hal tersebut bisa saja terjadi?

3. Tiap-tiap penggunaan media sosial akan menimbulkan kepuasan sendiri bagi para penggunanya. Bagaimana kepuasan dalam media sosial (khususnya LinkedIn) tersebut dapat diukur?

4. Bagaimana perbedaan signifikan antara seorang sarjana baru yang menggunakan media sosial LinkedIn dengan orang yang di luar sarjana baru menggunakan media sosial LinkedIn? (misal: sarjana baru akan berusaha lebih aktif dalam menggunakan media sosial ini karena dia ingin membangun karirnya/mencari pekerjaan)

5. Bagaimana efektivitas media sosial LinkedIn jika dibandingkan dengan media sosial lainnya?

6. Bagaimana cara mengukur engagement dan cara meningkatkan interaksi pada sebuah media sosial, agar nilai dari penggunaan media sosial itu (dan para penggunanya) juga bertambah?

7. Menurut sudut pandang ibu, bagaimana media sosial (dalam hal ini LinkedIn) dimanfaatkan oleh sebuah perusahaan untuk memudahkan mereka dalam mencari calon tenaga kerja?

TRANSKRIP WAWANCARA

Berikut adalah transkrip wawancara antara peneliti dengan informan:

Informan 1

Nama : Eric Witarsa

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat / Domisili : Jalan Binjai km 10,5 No. 8 Profesi : Karyawan swasta

Pertanyaan:

1. Bagaimana Ko Eric sendiri menggunakan LinkedIn dalam kehidupan sehari-hari?

“Sebenarnya penggunaan saya sejak tahun lalu. Cuma saya sendiri kemaren ada upload portofolio, CV saya. Sekarang lebih ke perluasan koneksi aja.”

2. Punya LinkedIn itu kira-kira di tahun berapa ko?

“Udah lama ya, pas masih kuliah udah buat, cuma hampir gak pernah dibuka. Dibukanya itu pas terakhir mendekati lulus lah.”

3. Hal apa yang membuat koko menggunakan LinkedIn?

“Menurutku sih kemudahan ya. Kita gak perlu tanya ke orang lain kalau misalnya mau cari kerja.”

4. Nah kan ada aplikasi sejenis lainnya, Koko sendiri kenapa lebih memilih menggunakan LinkedIn?

“LinkedIn menurut saya konektivitasnya lebih luas sih. Lebih gampang aja kalau di LinkedIn.”

5. Bagaimana kepuasan yang dirasakan saat menggunakan LinkedIn?

“Kepuasannya lebih ke kemudahan yang diberikan dari aplikasi itu, gitu sih.”

6. Bagaimana koko memanfaatkan LinkedIn dalam menampilkan diri?

“Pemanfaatannya memang lebih ke posting-posting portofolio, skill apa yang kita punya,lebih ke memberi tahu orang-orang kalau kita punya skill. Terus kita lebih bisa menceritakan yang kita lalui ke orang lain.”

7. Apa konten yang pernah diposting, konten yang sering dilihat atau disukai di LinkedIn, Ko?

“Kalau untuk sekarang tidak pernah posting konten. Tapi kalau konten yang disukai itu berhubungan dengan IT. Karena itu memang ketertarikan saya selain arsitek.”

8. Apa yang koko lakukan dalam mengelola kesan untuk membentuk citra positif?

“Kalau saya lebih ke buat CV, tapi bukan kayak CV biasanya ya. Dalam satu halaman saya membuatnya dengan lengkap. Lebih ke effort gimana kita buat CV itu bukan hanya tulisan aja, tapi harus menarik juga.”

9. Upaya seperti apa yang koko lakukan untuk mengelola kesan di media sosial LinkedIn?

“Biar lebih kelihatan profesional, saya sih pakai foto profil dengan pakaian rapi, pakai jas gitu. Terus memperbaharui portofolio, karena di bidang arsitek portofolio itu yang mencerminkan diri kita.”

10. Kesan yang seperti apa yang koko tampilkan dalam LinkedIn?

“Kesan profesional tapi kasual juga. Profesional itu menampilkan foto yang pakai jas, tapi di sisi lain saya juga bisa tampil kasual.”

11. Kalau koko sendiri pengennya membentuk kesan yang bagaimana?

“Lebih ke, kalau orang lihat LinkedIn saya itu mungkin kayak oh iya, orang ini punya kemampuan seperti ini. Mungkin seperti itu ya.”

12. Apa motif atau tujuan koko mengelola kesan di LinkedIn?

“Tujuannya lebih pengennya kalau kita itu kelihatan menarik gitu. Saya sih pengen bisa ada skill di luar akademik, jadi kelihatannnya menarik.”

13. Apa yang jadi kendala saat koko melakukan pengelolaan kesan di media sosial LinkedIn?

“Mungkin kalau di awal ya, karena baru pertama pakai, gimana sih cara upload dan masukin data kita itu gimana. Tapi karena udah dicoba pada akhirnya tahu gimana memakainya.”

14. Apakah koko mencantumkan kontak pribadi di LinkedIn?

“Ada, paling utama sih email ya. Jadi kalau ada yang mau contact kita bisa melalui email.”

15. Apakah ada rasa was-was ketika koko mencantumkkan kontak pribadi?

“Kalau saya enggak sih. Nomor telepon dan email yang cantumkan saya bedakan, nomor pribadi dengan nomor buat kerja.”

16. Apa harapan koko saat menggunakan LinkedIn dan mengelola kesan di LinkedIn?

“Dulu awalnya waktu buat sih harapannya supaya bisa dapat kerja dari sosial media ini. Tapi kalau untuk sekarang karena udah dapat kerja, kalau misalnya ada kerjaan freelance, untuk upload portofolio.”

17. Menurut koko bagaimana cara membangun citra positif di LinkedIn agar dilirik oleh perusahaan?

“Yang kayak tadi sih, misalnya kayak CV. Intinya kalau kita mengerjakan itu harus bagus.”

18. Apakah ada dampak yang koko peroleh ketika mengelola kesan di media sosial LinkedIn untuk membangun citra positif di mata perusahaan?

“Kalau untuk sekarang masih belum terasa feedbacknya ya. Tapi yang menariknya dari LinkedIn ini kita bisa tahu misalnnya di minggu ini profil kita di-search oleh berapa banyak orang. Itu sih yang buat kita jadi ada harapan. Berharapnya sih dampaknya sih nanti bisa dapat job yang lebih baik, gitu.”

Informan 2

Nama : Tesayunidia Tebe Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat / Domisili : Jalan Sei Padang No. 76 Profesi : Belum bekerja

Pertanyaan:

1. Kalau boleh tahu, sejak kapan kakak menggunakan LinkedIn?

“Awal mula pakai LinkedIn itu lupa pastinya kapan, tapi kayaknya dari semester 4 apa 5 udah buat akun LinkedIn. Cuma belum tahu gimana cara ngisinya. Udah ada akunnya tapi belum ada isinya.Pas mau akhir selesai kuliah itu baru diisi.”

2. Kalau intensitas buka LinkedIn itu berapa kali seminggu kak?

“Kayaknya tiap hari sih. Mungkin dari sekitar 7 bulan yang lalu setelah resmi jadi jobseeker, jadi LinkedIn itu aplikasi yang harus ada di handphone dan aktif juga. Mungkin dalam sehari itu ada dua atau tiga kali buka LinkedIn.”

3. Bagaimana kakak menggunakan LinkedIn dalam kehidupan sehari-hari?

“Kalau sekarang gunain LinkedIn itu untuk cari informasi, terutama di pekerjaan. Kalau nge-branding sekarang belum sih, karena belum dapat kerja juga. Mungkin kalau nanti udah dapat kerja pengen sih untuk nge-branding diri, mungkin share pengalaman.”

4. Faktor apa yang mempengaruhi kakak dalam menggunakan LinkedIn?

“Faktor pendorongnya sih karena lihat-lihat mahasiswa luar Sumatera yang udah menggunakan aplikasi itu duluan.”

5. Mengapa kakak lebih memilih untuk menggunakan LinkedIn dibandingkan platform sejenis lainnya seperti Kalibrr atau Jobstreet?

“Yang pertama sih informasi di LinkedIn itu bisa dilihat semua orang. Beda ya kalau Kalibrr sama Jobstreet itu yang bisa lihat adalah para rekruter. Terus di LinkedIn itu kita bisa berinteraksi dengan banyak orang, kalau di Jobstreet sama Kalibrr kita berinteraksi dengan rekruter. Bisa lebih tahu banyak informasi lah dari LinkedIn.”

6. Bagaimana kepuasan kakak terhadap media sosial LinkedIn?

“Hmm kalau dibilang puas pakai LinkedIn enggak yang puas kali juga gitu ya.

Kayak biasa aja sih. Dia emang ada informasi yang kita butuhkan untuk di dunia profesional gitu. Biasa aja gitu.”

7. Bagaimana Kak Tesa memanfaatkan LinkedIn dalam menampilkan diri dan memasarkan diri?

“Kayak yang kita ceritain tadi, yang pertama memang kita isi aja data dan profil diri. Terus kalau memasarkan diri dengan cara follow atau meng-add orang-orang yang punya pengaruh atau dari perusahaan tersebut.”

8. Kesan seperti apa yang kakak tampilkan di profil LinkedIn milik kakak?

Apakah kesan profesional atau bagaimana kak?

“Iya sih, kesan profesional. Karena kesan profesional itu harus kita tampilin di LinkedIn, apalagi kan fresh graduate. Kita pengen menarik perhatian para rekruter di perusahaan-perusahaan.”

9. Kalau di waktu yang akan datang, kesan seperti apa yang mau kakak tampilkan, selain kesan profesional?

“Humble sih. Pengen sih kayak ngasih portofolio di LinkedIn itu tentang kegiatan-kegiatan sosial yang pernah dilakuin, gitu.”

10. Mengapa kakak melakukan upaya untuk mengelola kesan? Apa motif atau tujuannya?

“Tujuannya untuk menarik perhatian rekruter, karena kalau profil kita bagus, kesan yang ditampilkan bagus gitu kan, itu akan menarik perhatian mereka.”

11. Selain menarik perhatian rekruter, apakah ada tujuan lain kak?

“Iya, membangun relasi sama orang-orang. Kakak kan suka nyari tahu tentang ini itu, oh mungkin si a kerja di sini ya, cobalah add, gitu.”

12. Pada saat menggunakan LinkedIn, apa kendala yang kakak alami?

“Awalnya ngisi-ngisi data, itu kendala ya. Apa yang mau diisi kan belum tamat. Susahnya itu, kadang mikir ini LinkedIn harus isi pakai bahasa Indonesia atau Inggris ya. Itu sih paling.”

13. Kalau kakak profil LinkedIn-nya pakai Bahasa Indonesia atau Inggris kak?

“Bahasa Inggris.”

14. Itu salah satu usaha juga ya untuk membentuk kesan?

“Iya. Walaupun kita gak pandai bahasa Inggris, kita kan bisa menggunakan platform yang lain, apakah pakai google translate, pakai grammarly.”

15. Apa yang menjadi harapan kakak saat menggunakan LinkedIn dan mengelola kesan di LinkedIn?

“Paling kalau udah isi semuanya, senang sih. Kayak akhirnya LinkedIn aku nih bagus, terpenuhi nih. Ketika LinkedIn kita penuh, enak dilihat, itu kan kepuasan tersendiri. Harapannya kepuasan sih.”

16. Apakah kakak pernah mendapatkan dampak atau impact dari menggunakan LinkedIn ini?

“Dampaknya itu ada. Itu tuh dampaknya dihiring, di-dm sama salah satu start up di Medan. Disuruh ngirim CV ke mereka, ngelakuin interview juga. Itu sih.”

Informan 3

Nama : Wilyanto Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat / Domisili : Jalan Pasar 3 Krakatau No. 2 DD Profesi : Software Developer

Pertanyaan:

1. Kalau boleh tahu, sudah menjadi fresh graduate itu berapa lama ko?

“Kalau dihitung dari wisuda, itu bulan Oktober. Berarti sudah sembilan bulan.”

2. Mulai aktif dan menggunakan LinkedIn itu sejak kapan ko?

“Tepatnya tahun lalu sih, saya mulai ada achievement misalnya dapat beasiswa Tanoto Foundation, XL Future Leaders. Disana kita udah diajarin nih gimana kita bangun profil yang bagus. Membangunnya itu dari tahun lalu.”

3. Intensitas dalam membuka LinkedIn itu kira-kira satu hari berapa kali ko? atau dalam seminggu seberapa sering koko mengakses LinkedIn?

“Bervariasi sih. LinkedIn ini juga bukan tempat saya naruh experience saya juga. Kalau Eunike tahu kan, di LinkedIn kita bisa ambil assessment juga, kayak ujian gitu. Apalagi mereka sangat meng-support orang-orang kaya developer gitu, mereka ada kasih ujian untuk Adobe, Microsoft, dan Programming. Kadang kalau saya iseng-iseng saya suka ambil assessmentnya

tuh. Jadi kalau ditanya seberapa sering, bervariasi sih. Kadang dalam seminggu bisa tiap hari, tapi kadang dalam seminggu pun enggak sama sekali, gitu.”

4.Bagaimana koko menggunakan LinkedIn dalam kehidupan sehari-hari?

“Untuk branding. Biasanya saya suka share sertification ke LinkedIn saya.

Tujuannya itu untuk branding.”

5. Faktor apa yang membuat koko menggunakan LinkedIn?

“Kalau aku sih lebih ke professionalism, sesuatu yang berbau profesional saya taruh di LinkedIn sih.”

6. Mengapa koko lebih memilih untuk menggunakan LinkedIn dibandingkan dengan platform sejenis lainnya?

“Menurut saya LinkedIn dimana-mana lebih populer sih, dan lebih lengkap sih fitur-fiturnya.”

7. Sejauh ini bagaimana kepuasan yang koko rasakan saat menggunakan media sosial LinkedIn?

“Sampai sekarang puas.”

8. Koko kan cukup rutin dalam membagikan sesuatu di LinkedIn. Itu kan salah satu upaya dalam mengelola kesan. Nah, selain posting, apa hal yang koko lakukan dalam melakukan pengelolaan kesan untuk membangun citra positif?

“Sesimple saya memberikan like, memberi komen, dan say congrats to our friends. Spread the good news, dengan hal- hal kecil itu sih.”

9. Interaksi dengan orang lain juga bisa memberikan feedback yang bagus juga ya ko? Jadi mereka juga terkesan.

“Yes, lebih terkesan dua arah sih. Kayak gak hanya fokus ke diri kita aja gitu.

That’s a point.”

That’s a point.”