BAB V PENUTUP
5.2 Saran
Untuk pengembangan kawasan wisata berikat ini perlu sebenarnya untuk campur tangan berbagai pihak untuk merealisasikan termasuk pemerintah, wisatawan maupun masyarakat yang ada.
Pemerintah dengan berbagai kebijakan untuk penguatan ini sangat diharapkan. Dengan kebijakan yang ada maka Kawasan Kesawan pada umumnya dan Restoran Tip Top pada khususnya dapat terjaga dan terus bertahan menyajikan pesona wisata. Tentunya dalam pembuatan kebijakan sendiri sangat diharapkan etikad baik serta keseriusan para pengambil kebijakan untuk benar benar bertindak dijalur yang benar. Mengingat telah begitu banyak bangunan bersejarah yang telah punah akibat ketidak seriusan dan permainan belaka para pengambil kebijakan.
Kehadiran para wisatawan juga sangat diharapkan. Hal ini karena kehadiran wisatawan mampu menjaga eksistensi sebuah daerah wisata untuk terus beroperasi. Dengan adanya wisatawan diharapkan devisa untuk merevitalisasi wisata ini tetap berkesinambungan
Selain wisatawan dan pemerintah andil masyarakat juga sangat diharapkan. Sebagai kontrol sosial dan juga sebagai pemilik sah sebenarnya dari sejarah yang menjadikan kota tempat kelahirannya. Ketiga stake holder ini mampu bersinergi dan merasa memiliki wisata ini.
Dari sudut pandang antropologi pariwisata keberadaan Restoran Tip Top cukup memberikan ruang khasanah bagi terbentuk kajian kajian terkait. Seperti kajian kajian tentang pariwisata yang mampu memberikan secara menyatu antara
wisata sejarah dan kuliner nmenjadi satu kesatuan. Dan masyarakat yang menikmati Restoran Tip Top bebar benar mampu merasakan dimensi yang benar benar dirasakan ketika berada di dalamnya.
Kontradiksi penghancuran bangunan bersejarah terjadi karena, dalam kenyataannya, di Kota Medan sedang digalakkan upaya industrialisasi pariwisata yang berkenaan dengan pemanfaatan aneka bangunan tua bersejarah sebagai objek dan daya tarik wisata utama, yang sebenarnya potensial menyejahterakan masyarakat dan menjaga pelestarian warisan budaya itu sendiri.
Perda No. 6 Tahun 1988 yang sudah ada hendaknya tidak dijadikan “macan kertas” di mana di dalamnya terdapat penegakan hukum yang konsisten dan pemerintah sudah seharusnya berada terdepan dalam penegakannya, lebih-lebih Orde Baru sudah berlalu dan saat ini eranya reformasi. Bila perlu, bangunan-bangunan bersejarah lainnya yang belum dilindungi segera dimasukkan dalam Perda tersebut. Masyarakat sebaiknya berada di belakang kelompok kritis dan intelektual yang membela pemberhentian penghancuran bangunan bersejarah. Kalau tidak, penghancuran akan dengan lebih mudah terjadi.
Serta pembentukan kearsipan terhadap Restoran Tip Top juga menjadi suatu yang penting. Dimana Dengan adanya arsip blue print sebuah bangunan bersejarah, maka akan lebih mudah ketika harus membangun ulang bangunan tersebut Berdasarkan pengalaman ini disadari betul betapa pentingnya keberadaan arsip bangunan bersejarah. Terkait dengan hal tersebut. Sebuah bangunan kuno yang sudah ada arsipnya, tersimpan rapi dan mudah diakses, akan sangat membantu proses renovasi atau peremajaan kembali suatu bangunan. Sangat
membantu arsitek, karena dalam disiplin bidang konservasi, ada penilaian mengenai autentisitas, orisinalitas. Jadi, dari desain aslinya, kita tahu apakah sebuah bangunan itu tambahan saja. Oleh sebab itu arsip dan arsitektur harus menyatu ibarat lampu dengan cahaya, dan air dengan gemericiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Adhisakti, L. Mengasah Pusaka dan Desa Menjadi Media Usaha yang Berkilau. Jurnal INSINYUR. XXIII (3). 2001
Budihardjo. Eko. Arsitektur dan Kota di Indonesia, Alumni. 1992
Breman, Jan. Menjinakkan Sang Kuli; Politik Kolonial, Tuan Kebun, dan Kuli di Sumatra Timur pada Awal Abad Ke-20. P.T. Pustaka Utama Grafiti – Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal, Land-en Volkenkunde, Jakarta. 1997.
Erawan I Nyoman. Pariwisata dan Pembangunan ekonomi (Bali sebagai Kasus), Denpasar, Upada Sastra, 1994
Gerritsen Fokke. Local Identity, Landscape And Community In The Prehistoric, Amsterdam, Amsterdam University Press, 2003
Hall, C. M. and McArthur, S. Wasteland to World Heritage, University Press, Melbourne. 1996
Ihromi T.O. Pokok-pokok Antropologi Budaya, Jakarta, PT. Gramedia, 1990
Kartawan. Dampak Pengembangan Produk Wisata Pantai Terhadap Lama Tinggal Wisatawan, dalam Jurnal Ekonomi & Bisnis, Polban, Bandung, 2000 Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi I, Jakarta. UI-Press, 1980
Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi I, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1996
Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi II, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1997
Maran Rafael Raga. Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2007
Marpaung, Happy. Pengetahuan Kepariwisataan. Bandung: Alfabeta. 2002. Maryani, Enok. Dimensi Geografi Dalam Kepariwisataan. Jurnal Pariwisata. 2000.
Matondang, Ibnu Avena. Berawal Dari Masa Depan Menatap Sejarah: Bangunan Bersejarah diantara Realitas dan Fungsional. Jurnal Arabesk. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh, Wilayah Kerja Provinsi Aceh dan Sumatera
Utara, Seri Informasi Kepurbakalaan Nomor 1 Edisi XI Januari – Juni 2011.
Matondang, Ibnu Avena. Rumah Sakit Deli Maatschappaij; Ikon Sejarah Kesehatan dan Aspek Legalitas. Jurnal Arabesk. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh, Wilayah Kerja Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, Seri Informasi Kepurbakalaan Nomor 1 Edisi XII Januari – Juni 2012.
Passchier, Corr. Medan; Urban Development by Planters and Entepreneurs 1870-1940. Issues in Urban Development, CNWS Leiden University. 1995
Pelzer, Karl. J. Toean Keboen dan Petani; Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatra Timur 1863-1947. Penerbit Sinar Harapan.
Pendit Nyoman S. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana, Jakarta. PT. Pradaya Paramita, 2003
Picard, Michel. Bali Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata. Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia, 2006
Said, Muhammad. Suatu Zaman Gelap Di Deli; Koeli Kontrak Tempo Doeloe Dengan Derita dan Kemarahannya, Percetakan Waspada, Medan, 1977.
Sidharta, & Eko Budiharjo. Konservasi Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta. Yogyakarta: Gadjahmada University Press. 1989
Silas, Johan. Perkembangan Perumahan Indonesia. Bandung. Sila Press. 2007 Sinar. Tengku Luckman. Jatidiri Melayu. Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya Melayu, 1994
Soekadijo R. G. Anatomi Pariwisata Memahami Pariwisata sebagai “systemic lingkage, Jakatra. PT. Gramedia Pusaka Utama, 1996
Sugiama, Gima. A. Pengembangan Kepuasan Wisata Bermakna, Polban, Bandung, 2001
Sugiama, A. Gima. Pariwisata: Prinsip, Konsep, dan Aplikasi. Diktat Mata Kuliah Pengantar Pariwisata Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Bandung. 2000.
Suprayitno. Medan Sebagai Kota Pembauran Sosio Kultur di Sumatera Utara Pada Masa Kolonial Belanda, Medan. bulletin Historisme Edisi No.21/Tahun x, 2005.
Suryawan. I Wayan. Genealogi Kekerasan dan Pergolakan Subaltern, Bara di Bali Utara. Jakarta: kencana, 2010.
Yoety, Oka A. (1996). Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung : Angkasa.
Sumber lain :
detik.com, “Gedung Tua di Medan, Perda, dan Penyalahgunaan Izin”, Selasa 26 Oktober 2004