• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3. Sarana dan Prasarana

a. Transportasi

Desa Tegalangus dapat dicapai dengan kendaraan umum dalam bentuk ojeg motor dan angkutan umum. Angkutan umum berangkat dari Kampung Melayu dengan jam pemberangkatan tertentu dengan tujuan akhir Pantai Tanjung Pasir. Untuk menuju desa Tegalangus dari arah Kampung Melayu maka akan melewati salah satu sisi bandara Soekarno Hatta dengan akses jalan yang relatif mudah namun pada jam tertentu mengalami kemacetan akibat jam berangkat atau pulang karyawan PT di sekitar wilayah Kampung Melayu.

Sarana jalan di desa Tegalangus tepatnya di kampung Pondok Bahagia, Pondok Indah, Suka Tani dan Suka Jaya umumnya berupa jalan aspal dengan kondisi yang masih cukup baik. Kondisi sarana akses transportasi dan jalan yang cukup baik tersebut menyebabkan mobilitas masyarakat desa Tegalangus maupun dari luar desa cukup mudah sehingga akses terhadap perkembangan informasi dan ekonomi bisa lebih baik. Sedangkan sarana jalan di kampung lainnya yaitu kampung Pondok Makmur, Pondok Karya dan Suka Maju umumnya sudah dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat meskipun sarana jalan rata-rata masih menggunakan paving blok.

b. Kesehatan

Akses terhadap sarana kesehatan di desa Tegalangus sebenarnya tergolong mudah. Tercatat ada bidan desa, mantri dan Puskesmas yang terletak berdekatan dengan kantor desa Tegalangus. Sehingga dari aspek kesehatan masyarakat desa Tegalangus tidak mengalami kesulitan jika sewaktu-waktu harus berobat.

c. Pendidikan

Sarana pendidikan di desa Tegalangus saat ini cukup memadai. Tercatat ada 11 lembaga pendidikan yang tergolong dalam beberapa jenjang pendidikan dari mulai Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) serta 20 Tempat Pengembangan al-Qur’an (TPQ).

d. Peribadatan

Masyarakat desa Tegalangus umumnya memeluk agama Islam, tetapi ada juga yang beragama Kristen dan Hindu. Tercatat ada 4 masjid, 19 musholla, 1 gereja dan 1 pura sebagai tempat atau sarana peribadatan bagi masyarakat desa Tegalangus.

Berikut ini daftar secara rinci sarana dan prasarana yang dimiliki atau terdapat di desa Tegalangus:

Tabel 4.2. Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana Jumlah

Masjid 4 Musholla 19 Gereja 1 Pura 1 MA TK 2 TPQ 20 SDN 2 SMPN/MTsN 3 SMP/MTs Swasta 3 SMAN/MA 1 Puskesmas 1

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas masyarakat desa Tegalangus beragama Islam. Meskipun demikian ada sebagian kecil

masyarakat yang beragama Hindu dan Kristen. Sarana pendidikan di desa Tegalangus saat ini cukup memadai. Tercatat ada 11 lembaga pendidikan yang tergolong dalam beberapa jenjang pendidikan dari mulai Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) serta 20 Tempat Pengembangan al-Qur’an (TPQ) dengan sarana kesehatan yaitu Puskesmas sebagai pelengkapnya.

B. Tradisi Tahlilan dalam Kehidupan Masyarakat Desa

Tegalangus (Analisis Sosio Kultural)

1. Motivasi Masyarakat Desa Tegalangus dalam Menghadiri

Pelaksanaan Tahlilan di Tempat Orang yang Meninggal

Tahlilan itu berasal dari kata hallala, yuhallilu, tahlilan, artinya membaca kalimat la ilaha illallah.1 Kata tahlil merupakan kata yang disingkat dari kalimat

la ilaha illallah. Penyingkatan ini sama seperti takbir (dari Allahu Akbar),

hamdalah (dari Alhamdu Lillah), hauqalah (dari La Haula Wala Quwwata Illah Billah), basmalah (dari Bismillah ar-Rahman ar-Rahim) dan sebagainya.2

Tahlilan merupakan tradisi yang sudah dijalani oleh sebagian masyarakat secara turun-temurun semenjak masuknya Islam di Jawa hingga sekarang ini untuk memperingati waktu kematian seseorang. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Achmad Zamroni (tokoh masyarakat desa Tegalangus) bahwa “tahlilan adalah tradisi masyarakat muslim dalam rangka mendo’akan mereka yang telah meninggal secara bersama-sama.”3

Tahlilan bagi masyarakat desa Tegalangus merupakan suatu kegiatan yang telah menjadi budaya atau kebiasaan. Selain di kediaman orang yang meninggal, pembacaan tahlil banyak dibaca setiap minggunya di masjid dan musholla sebelum pengajian dimulai, seperti yang dilakukan jamaah pengajian masjid Hidayaturrohman dan jam’ah pengajian kaum ibu musholla Al-Hilal.

1

Munawar Abdul Fattah, Tradisi Orang-orang NU, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2012), h. 276.

2Muhammad Ma’ruf Khozin, Tahlilan Bid’ah Hasanah, (Surabaya: Muara Proresif, 2013), h. 1.

3

Wawancara pribadi dengan Bapak Achmad Zamroni, Tokoh Masyarakat Desa Tegalangus, (Sabtu, 21 Desember 2013).

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, secara bahasa pengertian tahlilan adalah membaca lafadz la ilaha illallah, tetapi tahlilan menurut Ustadz Ikhwan Muhtarip (tokoh agama masyarakat desa Tegalangus) secara umum dapat diartikan “suatu acara yang diadakan dalam rangka mengiringi hari kematian seorang muslim dengan mendo’akannya melalui bacaan al-Qur’an, tahlil, sholawat dan sebagainya”. Maka dari itulah tidak heran bagi masyarakat desa Tegalangus jika menyebut kata tahlilan maka yang dimaksud adalah tahlilan dalam rangka

mendo’akan orang yang telah meninggal yang dilaksanakan di rumah orang yang

meninggal tersebut.4

Tujuan masyarakat mengikuti tahlilan pun beragam, seperti misalnya

taqorruban illallah (mengharap berkah dari Allah) dengan mendo’akan sesama muslim, mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir (membaca tahlil, tasbih, sholawat yang biasanya terdapat dalam prosesi tahlilan), dan memberi dukungan terhadap keluarga yang ditinggalkan. Selain itu, ada juga masyarakat yang mengikuti tahlilan untuk bersilaturrahmi dengan tetangga.5

Selain untuk mendo’akan orang yang telah meninggal dunia, tahlilan memiliki fungsi lain bagi masyarakat desa Tegalangus, misalnya berfungsi sebagai penyambung tali silaturahim diantara kerabat, tetangga, saudara dan masyarakat sekitar. Secara langsung mapun tidak langsung tahlilan juga berfungsi sebagai nasihat atau pelajaran untuk mengingatkan bahwa kita pun akan mengalami yang namanya kematian dan untuk membiasakan masyarakat berdzikir.6

Pelaksanaan tahlilan di kediaman orang yang meninggal dunia berlangsung selama tujuh hari setelah jenazah dikebumikan atau dikuburkan sampai hari ketujuh dari prosesi penguburan tersebut. Seperti yang diutarakan oleh Ustadz Ahmad Yuarsa (tokoh agama masyarakat desa Tegalangus): “di Tegalangus tahlilan dimulai setelah jenazah dikubur. Misalnya, kalau dikuburnya pada pagi, siang atau sore hari senin, maka tahlil dimulai pada hari senin setelah sholat ‘isya.

4

Wawancara pribadi dengan Ustadz Ikhwan Muhtarip, Tokoh Agama Masyarakat Desa Tegalangus, (Minggu, 22 Desember 2013).

5

Rangkuman peneliti berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber (draft wawancara terlampir).

6

Rangkuman peneliti berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber (draft wawancara terlampir).

Tetapi jika dikuburnya malam hari setelah maghrib atau ‘isya, maka tahlil akan dimulai besok malam setelah sholat ‘isya.”7

Setelah tujuh hari akan dilanjutkan pada hari ke 15, 40, 100 dan satu tahun meninggalnya seseorang yang sering disebut dengan istilah haul. Umumnya masyarakat desa Tegalangus melaksanakan tahlilan setelah sholat ‘isya, tapi kadang ada juga yang memulainya setelah maghrib, hal tersebut dikarenakan ada dua tempat (ada dua orang yang meninggal pada hari yang sama atau berdekatan harinya) sehingga tahlilan dibagi menjadi dua waktu.8

Setelah tahlilan selesai, biasanya tuan rumah (shohibul musibah) menghidangkan makanan dan minuman kepada para jama’ah tahlil, bahkan kalau malam pertama, ketiga dan ketujuh sebelum pulang pun juga dibekali berkat

(makanan/jajanan yang dibungkus untuk dibawa pulang) dengan maksud bersedekah. Konsumsi yang disajikan pun beragam, dari mulai makanan ringan, seperti kacang, kuping gajah, keripik pangsit, kue basah, seperti kue pisang, kue talam, putu ayu dan lain-lain. Selain itu ada juga buah-buahan, seperti semangka, melon, salak, pisang, jeruk, rambutan dan duku. Sedangkan minuman yang disajikan berupa air mineral ukuran gelas dan kopi. Penyuguhan konsumsi di acara tahlilan umumnya hanyalah makanan ringan saja seperti yang telah disebutkan di atas, tetapi jika yang meninggal dunia seorang tokoh masyarakat terkadang ada jamuan makan malam untuk para jama’ah tahlilan sebelum pelaksanaan tahlilan dimulai.9

Dalam menghadiri pelaksanaan tahlilan masyarakat pun memiliki alasan yang berbeda-beda, sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan motivasi atau dorongan bagi masyarakat dalam menghadiri pelaksanaan tahlilan. Seperti, masyarakat lebih termotivasi untuk hadir dan mengikuti pelaksanaan tahlilan jika orang yang meninggal atau keluarga yang tertimpa musibah (yang ditinggal oleh

7

Wawancara pribadi dengan Ustadz Ahmad Yuarsa, Tokoh Agama Masyarakat Desa Tegalangus, (Sabtu, 21 Desember 2013).

8

Wawancara pribadi dengan Ahmad Baihaqi Nasrulloh, Masyarakat Desa Tegalangus, (Sabtu, 21 Desember 2013).

9

Data diperoleh berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti dan wawancara dengan beberapa narasumber (draft wawancara terlampir).

salah satu anggota keluarganya) adalah temannya, keluarga temannya, atau bahkan seorang tokoh masyarakat.10

Perbedaan motivasi tersebut bisa dilihat juga dari jumlah jama’ah tahlil pada hari pertama, ketiga dan ketujuh dibanding dengan keempat hari lainnya (kedua, keempat, kelima dan keenam). Biasanya hari pertama, ketiga dan ketujuh akan lebih banyak dihadiri jama’ah dibanding dengan hari lainnya karena ada ceramah agama dan berkat (nasi bungkus dengan lauk ayam, ikan dan lainnya) yang biasa menjadi buah tangan untuk para jama’ah. Meskipun demikian, masih cukup banyak jama’ah yang benar-benar kehadirannya dimotivasi oleh niatan untuk mendo’akan almarhum/almarhumah dan tidak sedikit pula jama’ah yang kehadirannya dimotivasi oleh perasaan tidak enak.11

2. Nilai-nilai Positif yang Terkandung dalam Tradisi Tahlilan

di Desa Tegalangus

Tahlilan merupakan salah satu tradisi yang sering mendapatkan tantangan dari orang-orang yang kontra atau tidak setuju dengan tradisi tersebut dengan alasan

bid’ah dan lain sebagainya. Secara tekstual memang tidak ada nash al-Qur’an maupun hadits yang memerintahkan acara tahlilan, tetapi secara tradisi, tahlilan tidak bertentangan dengan ayat atau pun hadits.12 Hal tersebut dikarenakan kegiatan dan bacaan yang dilakukan dalam prosesi tahlilan, seperti dzikir bersama membaca lafadz la ilaha illallah dan menghadiahkan bacaan tersebut untuk si Mati semuanya terkandung dan diperintahkan dalam al-Qur’an dan hadits. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Sarip Hidayatulloh (tokoh masyarakat desa Tegalangus):

“secara bahasa pengertian tahlilan adalah membaca lafadz laa ilaha illallah,

sedangkan keutamaan bagi orang yang membaca lafadz tersebut sangatlah banyak. Contoh, dalam kitab Tanqihul Qoul karangan Syekh Nawawi

10

Wawancara pribadi dengan Ustadz Ikhwan Muhtarip , Tokoh Agama Masyarakat Desa Tegalangus, (Sabtu, 21 Desember 2013) dan Bapak Sarip Hidayatulloh, Tokoh Masyarakat Desa Tegalangus, (Minggu, 22 Desember 2013).

11

Rangkuman peneliti berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber (draft wawancara terlampir).

12

Wawancara pribadi dengan Ustadz Ikhwan Muhtarip, Tokoh Agama Masyarakat Desa Tegalangus, (Minggu, 22 Desember 2013).

Tanahara Banten ada hadits qudsi yang artinya: Allah berkata, lafadz Laa Ilaha Illallah adalah kalam-Ku, dan Aku adalah Allah, siapa yang membacanya maka ia masuk benteng-Ku, dan siapa yang masuk benteng-Ku maka ia aman dari siksa-Ku”.13

Dalam pelaksanaan tahlilan di desa Tegalangus, banyak sekali nilai-nilai positif yang bisa didapatkan oleh masyarakat. Seperti berkumpulnya masyarakat dalam rangka mendo’akan kerabat atau tetangganya yang meninggal mengandung nilai silaturahmi, adanya ceramah agama yang memuat nilai pengetahuan karena bisa dijadikan input pengetahuan agama oleh masyarakat, terutama seputar kematian.

Banyaknya tetangga, sanak famili, kerabat yang membawakan makanan ke rumah orang yang meninggal yang nantinya akan disajikan pada acara tahlilan, atau menghibur dan mengajak keluarga almarhum/almarhumah agar senantiasa bersabar atas musibah yang telah dihadapinya dimana kegiatan tersebut sangat kental nilai solidaritasnya. Adanya kesadaran bersama atau kesadaran kolektif untuk membantu dan menghibur kerabat atau tetangga yang sedang tertimpa musibah menunjukan rendahnya sifat individualis yang dimiliki oleh masyarakat desa Tegalangus, sehingga dapat dikatakan masyarakat desa Tegalangus tergolong dalam solidaritas mekanik. Sesuai dengan pernyataan Emile Durkheim dalam

Piotr Sztompka, bahwa salah satu ciri dari solidaritas mekanik adalah posisi individu yang bersifat kolektifitas bukan individualis.14

Tahlilan secara langsung dan tidak langsung mengandung nasihat bagi yang masih hidup untuk mengingat akan kematian serta dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Selain itu, tahlilan juga berisi ajakan untuk beramal shaleh melalui silaturrahmi, membaca do’a, ayat-ayat al-Qur’an dan sholawat, berdzikir, dan bersedekah.15

Di dalam Islam, nilai-nilai positif yang terkandung dalam tradisi tahlilan tersebut merupakan kegiatan yang bersifat religi (ibadah) yang memiliki ganjaran

13

Wawancara pribadi dengan Bapak Sarip Hidayatulloh, Tokoh Masyarakat Desa Tegalangus, (Minggu, 22 Desember 2013).

14

Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenada, 2004), h. 123.

15

Wawancara pribadi dengan Ustadz Ahmad Yuarsa, Tokoh Agama Masyarakat Desa Tegalangus, (Sabtu, 21 Desember 2013).

pahala. Ada hal tertentu di dalam diri manusia yang mampu mendorong manusia melakukan kegiatan tersebut. Hal tersebut senada dengan apa yang dikatakan oleh

Koentjaraningrat, bahwa semua aktivitas manusia yang bersangkutan dengan religi berdasarkan atas suatu getaran jiwa, yang biasanya disebut emosi keagamaan atau religious emotion. Emosi keagamaan itulah yang mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi.16 Seperti silaturrahmi, berdo’a dan berdzikir dengan ayat’ayat al-Qur’an, bersedekah dan saling membantu satu sama lain.

3. Dampak Negatif yang Ditimbulkan dari Tradisi Tahlilan di

Desa Tegalangus Terhadap Masyarakatnya

Tahlilan merupakan suatu kegiatan yang erat hubungannya dengan agama, maka dari itu tidak heran jika tahlilan sering disebut sebagai salah satu dari upacara keagamaan. Menurut Koentjaraningrat, sistem upacara keagamaan memiliki empat aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) tempat upacara keagamaan, (2) saat-saat upacara keagamaan dijalankan, (3) benda-benda dan alat-alat upacara, (4) orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara.17 Selain merupakan kegiatan yang memiliki hubungan erat dengan agama, tahlilan dikatakan sebagai upacara keagamaan dikarenakan memiliki keempat aspek tersebut.

Penjabaran mengenai empat aspek di atas terkait dengan tradisi tahlilan di desa Tegalangus adalah sebagai berikut: (1) tahlilan biasa dilakukan di kediaman orang yang meninggal, di masjid dan di mushola (2) tahlilan di kediaman orang yang meninggal berlangsung selama tujuh hari terhitung dari hari meninggalnya seseorang, sedangkan tahlilan di masjid dan di mushola biasa dilakukan sebelum pengajian dimulai, (3) dalam pelaksanaan tahlilan biasanya memerlukan benda atau alat, seperti buku yang di dalamnya terdapat surat Yasin, alas duduk dan pengeras suara agar suara pemimpin upacara ini terdengar oleh seluruh jama’ah

16

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 376-377.

17

yang hadir, (4) tahlilan biasanya dipimpin oleh seorang tokoh agama setempat (ustadz/ustadzah).

Meskipun sarat akan nilai positif yang terkandung didalamnya tidak membuat tahlilan luput dari nilai negatif. Hal ini sesuai dengan konsep fungsi nyata dan fungsi tersembunyi Robert Merton dalam teori strukturalisme fungsional. Kedua istilah ini memberikan tambahan penting bagi analisis fungsional. Menurut pengertian sederhana, fungsi nyata adalah fungsi yang diharapkan, sedangkan fungsi yang tersembunyi adalah fungsi yang tak diharapkan. Pemikiran ini dapat dihubungkan dengan konsep lain Merton, yakni akibat yang tak diharapkan (unanticipated consequences). Tindakan mempunyai akibat, baik yang diharapkan dan tidak diharapkan.18

Tahlilan acap kali menjadi ranah politik, banyak yang menjual tahlilan untuk kepentingan politik, terlebih jelang pemilihan umum dari mulai pemilihan kepala desa (Pilkades), legislatif, kepala daerah sampai kepala Negara, sehingga menyebabkan melencengnya atau tidak sesuainya fungsi dan tujuan tahlilan, yang seharusnya berfungsi dan bertujuan untuk mendo’akan mereka yang telah meninggal dunia, untuk bersilaturrahmi, untuk introspeksi diri malah dijadikan tempat untuk kampanye atau menyampaikan visi misi yang mungkin berisi kepentingan dari salah satu calon.

Selain itu kebiasaan menyuguhkan aneka hidangan untuk jama’ah tahlilan seakan memberatkan keluarga, terutama keluarga yang tidak mampu. Seperti yang diutarakan oleh Bapak Sarip Hidayatulloh (tokoh masyarakat desa Tegalangus):

“negatifnya itu kalau ada keluarga yang tidak mampu dan salah satu anggota keluarganya ada yang meninggal, mereka sampai memaksakan menyuguhkan hidangan untuk tahlilan meskipun harus pinjam sana-sini. Padahal, masyarakat bakal tetap hadir ko tanpa ada hidangan sekalipun, ya memang tidak sebanyak biasanya. Tapi kan yang terpenting do’anya bukan jumlah yang hadirnya”.19 Sangat disayangkan, nilai-nilai yang begitu indah itu kurang dipahami oleh sebagian masyarakat. Padahal, salah satu esensi dari kegitan ini adalah nilai

18

George Ritzer, Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), h. 141.

19

Wawancara pribadi dengan Bapak Sarip Hidayatulloh, Tokoh Masyarakat Desa Tegalangus, (Minggu, 22 Desember 2013).

solidaritas yang terselip kepedulian dari masyarakat terhadap orang yang tertimpa musibah, bukan memberatkan diri sendiri atau anggota keluarga.

66

Alhamdulillah dengan rahmat, hidayat dan taufik Allah SWT, akhirnya penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Dalam penutup ini, penulis mengutarakan beberapa kesimpulan dan saran.

A. Kesimpulan

1. Dalam menghadiri pelaksanaan tahlilan, masyarakat desa Tegalangus memiliki perbedaan motivasi. Seperti, masyarakat akan lebih termotivasi untuk hadir dan mengikuti pelaksanaan tahlilan jika orang yang meninggal atau keluarga yang tertimpa musibah adalah temannya, keluarga temannya, atau bahkan seorang tokoh masyarakat. Perbedaan motivasi tersebut bisa dilihat juga dari jumlah jama’ah tahlil pada hari pertama, ketiga dan ketujuh dibanding dengan keempat hari lainnya (kedua, keempat, kelima dan keenam). Biasanya hari ketiga dan ketujuh akan lebih banyak dihadiri jama’ah dibanding dengan hari lainnya karena ada ceramah agama dan berkat (nasi bungkus dengan lauk ayam, ikan dan lainnya) yang biasa menjadi buah tangan untuk para jama’ah. Meskipun demikian, masih cukup banyak jama’ah yang benar-benar kehadirannya dimotivasi oleh niatan untuk mendo’akan almarhum/almarhumah dan tidak sedikit pula jama’ah yang kehadirannya dimotivasi oleh perasaan tidak enak.

2. Tradisi tahlilan di desa Tegalangus mengandung nilai-nilai positif, seperti adanya pengetahuan agama lewat ceramah agama, adanya nilai silaturahmi, nilai solidarits sosial dan nasihat untuk kita yang masih hidup. Selain itu, tahlilan juga berisi ajakan untuk beramal shaleh melalui silaturrahmi, membaca do’a, ayat-ayat al-Qur’an dan sholawat, berdzikir, dan bersedekah.

3. Di satu sisi, adanya nilai-nilai positif tersebut tidak membuat tradisi ini luput dari nilai negatif. Tahlilan acap kali menjadi ranah politik, banyak

yang menjual tahlilan untuk kepentingan politik. Selain itu tahlilan membentuk kebiasaan masyarakat dalam menyuguhkan aneka hidangan untuk jama’ah tahlilan yang terkadang memberatkan keluarga, terutama keluarga yang tidak mampu.

B. Saran

1. Masyarakat desa Tegalangus harus tetap melaksanakan dan melestarikan tradisi tahlilan karena banyak mengandung nilai-nilai positif.

2. Dalam masjlis ta’lim atau tempat-tempat ‘ilmu lainnya, pengajar (tokoh masyarakat/ustadz) harus mampu menjelaskan esensi dan tujuan tahlilan kepada jama’ahnya agar tidak melenceng dengan esensi dan tujuan tahlilan yang sebenarnya.

3. Majelis ‘Ulama Indonesia (MUI) desa Tegalangus harus menjelaskan masalah hukum tahlilan secara jelas agar tidak terjadi lagi polemik di masyarakat.

4. Bagi pembelajaran sosiologi, sebagai bahan pengayaan terutama mengenai konsep-konsep tradisi, budaya dan interaksi sosial.

5. Pemerintah harus ikut berperan dalam menjaga dan melestarikan tradisi tahlilan.

68 Yogyakarta.

Abed Al Jabir, Muhammad, 2000, Post Tradisionalisme Islam, LKiS, Yogyakarta. Ahmad S, Beni, 2008, Metode Penelitian, Pustaka Setia, Bandung.

Amin Nugroho, Muhammad Yusuf, 2012, Fiqh Al-Ikhtilaf NU-Muhamadiyah, [t.p.], Wonosobo.

Amin Nurdin, Muhammad dan Ahmad Abrori, 2006, Mengerti Sosiologi: Pengantar Memahami Konsep-Konsep Sosiologi, UIN Jakarta Press, Jakarta.

Aziz, Arnicun dan Hartono, 1993, MKDU Ilmu Sosial Dasar, Bumi Aksara, Jakarta. Bungin, Burhan, 2007, Analisis Data Penelitian Kualitatif, PT Rajagrafindo Persada,

Jakarta.

Campbell , Tom, 1994, Tujuh Teori Sosial, Kanisius, Yogyakarta.

Danial Royyan, Muhammad, 2013, Sejarah Tahlil, LTN NU Kendal dan Pustaka Amanah, Kendal.

Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Dwi Susilo, Rahmad K. 2008, 20 Tokoh Sosiologi Modern, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta.

Elisabeth, Koes Soedijati, 1995, Solidaritas dan Masalah Sosial Kelompok Waria, UPPM STIE, Bandung.

El Rinaldi, Ebiza, 2012, Haramkah Tahlilan, Yasinan dan Kenduri Arwah?, Pustaka Wasilah, Klaten.

Faisal, Sanapiah, 1990, Penelitian Kualitatif: Dasar-dasar dan Aplikasi, Yayasan Asih Asah Asuh, Malang.

Idrus Ramli, Muhammad, 2010, Membedah Bid’ah dan Tradisi Dalam Perspektif

Ahli Hadits dan Ulama Salafi, Khalista, Surabaya.

Ma’ruf Khozin, Muhammad, 2013, Tahlialn Bid’ah Hasanah, Muara Progresif, Surabaya.

Moleong, Lexy J., 1997, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Munandar Soelaeman, Muhammad, 1993, Ilmu Sosial Dasar: Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Eresco, Bandung.

Nasution, 1996, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Tarsito, Bandung.

Poloma, Margaret M., 2007, Sosiologi Kontemporer, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Ranjabar, Jacobus, 2013, Sistem Sosial Budaya Indonesia, Alfabeta, Bandung.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman, 2010, Teori Sosiologi Modern, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Saifuddin Anshari, Endang, 2004, Wawasan Islam:Pokok-Pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sistem Islam, Gema Insani Press, Jakarta.

Setiadi, Elly M dan Usman Kolip, 2011, Pengantar Sosiologi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Shalaby, Ahmad, 2001, Kehidupan Sosial Dalam Pemikiran Islam, Amzah, Jakarta. Subyantoro, Arief dan FX. Suwarto, 2007, Metode dan Teknik Penelitian Sosial, CV.

Andi Offset, Yogyakarta.

Soekanto, Soerjono, 2007, Sosiologi Suatu Pengantar, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Sunanto, Musyrifah, 2010, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Sunarto, Kamanto, 2004, Pengantar Sosiologi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Sunyoto, Agus, 2011, Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan,

Transpustaka, Tangerang.

Suyanto, Bagong dan Sutinah, 2005, Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan, Kencana, Jakarta.

Tumanggor, Rusmin, 2004, Sosiologi Dalam Perspektif Islam, UIN Jakarta Press, Jakarta.

Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar, 2008, Metodologi Penelitian Sosial, Bumi Aksara, Jakarta.

Atwar Bajari, “Mengolah data dalam Penelitian Kualitatif”

http://atwarbajari.wordpress.com/2009/04/18/mengolah-data-dalam-penelitian-kualitatif, (diakses pada hari Minggu tanggal 03 Februari 2013 Pukul 15.09). Fb, Karyawan. “Sejarah Awal Mula Munculnya Tradisi Tahlilan”.

http://karyawanfb.mwb.im/sejarah-awal-mula-munculnya-tradisi-tahl.xhtml

Dokumen terkait