• Tidak ada hasil yang ditemukan

SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN,

Dalam dokumen Ensiklopedia Pendidikan - Test Repository (Halaman 183-191)

Pengertian: 1) Armai Arief (2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers): Alat pendidikan adalah suatu tindakan/perbuatan/situasi/ benda yang sengaja diadakan untuk mempermudah pencapaian tujuan pendidikan. Alat pendidikan dapat juga disebut dengan sarana dan prasarana pendidikan . 2) Ahmad Tafsir,1991, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya): Peralatan pendidikan adalah semua yang digunakan guru dan murid dalam proses pendidikan. Klasifikasi Sarana Pendidikan: Klasifikasi sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi dua yaitu sarana fisik dan non fisik pendidikan. Sarana Fisik: Sarana ini terbagi menjadi dua yaitu lembaga pendidikan dan media pendidikan. Lembaga Pendidikan atau Badan Pendidikan: Lembaga pendidikan atau badan pendidikan adalah organisasi atau kelompok manusia yang memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan. Lembaga pendidikan ini dapat berbentuk formal, informal, dan non-formal. Media Pendidikan: Media pendidikan berarti alat- alat/benda-benda yang dapat membantu kelancaran proses pendidikan. Media apapun yang digunakan dalam proses pengajaran agama Islam kepada peserta didik mempunyai peran dan dampak tersendiri terhadap materi ajar yang disampaikan oleh seorang guru. Oleh karena itu, seorang guru dituntut mampu memilih dan memilah media yang dipandang tepat untuk mengajarkan suatu materi. Hal ini karena dapat saja materi yang akan disampaikan seorang

guru sudah dipersiapkan dengan baik dan tepat, tetapi media yang dipakai tidak tepat sehingga menyimpang dari tujuan yang akan dicapai (Abdul Madjid, 2000, Tantangan dan Harapan Umat Islam di Era Globalisasi, Bandung: Pustaka Setia. Sarana Non-fisik Pendidikan: Sarana non-fisik pendidikan yaitu alat pendidikan yang tidak berupa bangunan tetapi berupa materi atau pokok-pokok pikiran yang membantu kelancaran proses pendidikan yang terdiri dari kurikulum, metode, dan evaluasi. 1) Kurikulum: Kurikulum merupakan bahan-bahan pelajaran apa saja yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan, 2) Metode: Metode merupakan cara mengajar untuk mencapai tujuan. Penggunaan metode dapat memperlancar proses pendidikan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Evaluasi.: Evaluasi merupakan suatu cara memberikan penilaian terhdap hasil belajar murid.

SEKOLAH

Lingkungan sekolah merupakan fase kedua setelah keluarga. Pembenaran tatanan nilai sekan diakui dan dilakukan dalam lembaga yang bernama sekolah ini. Penguatan dan pengembangan dilakukan untuk melatih daya intelektual peserta didik sesuai dengan usia perkembangan yang ada. Dalam pengembangan terhadap kekayaan peserta didik untuk dapat melaksanakan pendidikan selanjutnya, maka dalam proses pendidikan di sekolah harus mengarah pada community oriented. Dengan demikian, dalam proses selanjutnya peserta didik tidak stiril dengan kondisi sebenarnya menjadi satu bagian dari anggota masyarakat. SEKULERISASI

Sekulerisasi dalam pendidikan Islam: Arti sekuler secara leksikal: Secara leksikal kata sekuler berasal dari kata latin saeculum yang berarti ruang dan waktu. Ruang menunjuk pada duniawi dan waktu menunjuk pada masa kini. Menurut Juhaya S.Praja (1987: 94) akar kata sekulerisasi adalah kata latin saeculum yang berarti 'dunia', satu abad lebih sedikit atau

(Hendropuspito, 1999: 136, Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius) dunia seperti apa adanya beserta keseluruhan nilai-nilainya yang sering dikatakan orang nilai duniawi. Dalam beberapa kamus sekuler berarti sesuatu yang tidak berhubungan dengan agama, keduniawian. The new Grolier Webster International Dictionanry of English Language Voll II sekuler berarti: An age generation, a century, the time, the world, pertaining to this present world or to things not spiritual or secreed; temporal, worldly, not devoted to sacred or religious. Jadi istilah saeculum berarti peristiwa keduniawian yang terjadi pada masa kini. Secara historis, istilah sekuler dilahirkan dalam sejarah Kristen Barat. Pada abad pertengahan, Di Barat terjadi langkah-langkah pemisahan persoalan agama dengan persoalan non-agama (sekuler). Sebagaimana diketahui, sekuler berarti hal-hal yang berhubungan dengan persoalan duniawi yang terjadi pada masa kini merupakan langkah-langkah pemisahan Gereja dari urusan- urusan keduniawian seperti masalah politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan, (Pardoyo, 1993:18-19, Sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti). Arti sekuler secara Istilah Menurut Pardoyo (1993:20:18-19, Sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti)) Istilah sekuler memunculkan istilah sekulerisasi. Sekulerisasi berarti sebagai proses pembebasan manusia dari dari urusan duniawi dengan agama. Persoalan duniawi yang terjadi pada masa kini pada dasarnya terlepas dari pengertian- pengertian religius yang suci Harun Nasution (1989:188, Islam Rasional, Bandung: Mizan), Sekulerisasi adalah proses penduniawian, yaitu proses melepaskan hidup duniawi dari kontrol agama dari ikatan-ikatan agama. Sekulerisasi bersifat dinamis dan membawa kepada perubahan dan pembaharuan. Surjanto Poepowardojo seperti dikutip Pardoyo (1993:20:18- 19, Sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti)), Sekulerisasi pada hakekatnya menginginkan adanya pembebasan yang tajam antara agama dengan ilmu pengetahuan, dan memandang ilmu pengetahuan itu otonom pada dirinya sendiri. Oleh sebab

itu, manusia mempunyai otonomi dalam melakukan perbuatan atas dasar rasionya. Sayyed Hossein Nasr (1999: P. 8 Islamic life and Thought, London, George Allen and Unwin, Boston Sydney) Secularisme may be considered as everything whose origin is merely human and therefore non divine, and whose metaphysical basis lies in this ontologycal hiatus between man and God. Of course in reality even this void is a symbol of the divine. (Sayyed Hossein Nasr, 13 ,Islamic life and Thought, London, George Allen and Unwin, Boston Sydney) Secularisme has made a certain encroachment in the form of rationalisme or of various apologistic tendencies (Sayyed Hossein Nasr, Islamic life and Thought, London, George Allen and Unwin, Boston Sydney). Berdasarakan dari berbagai pendapat di atas, sekulerisasi dapat didefinisikan suatu proses pemisahan persoalan duniawi yang terjadi pada masa kini dari kontrol agama, dan manusia memiliki otonomi dalam mengembangkan ilmu pengetahuannya atas dasar kemampuan rasionya. Akar sekulerisasi: Akar sekulerisasi secara

historis sebenarnya berangkat dari mitologi, melalui filsafat ke agama dan ilmu pengetahuan. Pendapat ini didukung oleh pengakuan Habermas, salah seorang filsuf Jerman terkemuka. Ia menguraikan bahwa dalam tradisi Marxis pun terdapat mitologi keagamaan jauh sebelum Hegel (Hardiman, 2000: 3) Menurut Herbamas, dikisahkan tuhan sang pencipta digambarkan sebagai tuhan yang polos dan jenaka. Dalam proses kejadian tuhan itu, tuhan menjadi sesuatu yang lain dari diri-Nya sendiri, tidak melalui manivestasi diri atau eksternalisasi diri melainkan melakukan pengasingan diri-Nya ke dalam diri-Nya sendiri secara egoistis. Dia masuk ke dalam dasar yang tidak berdasar. Dengan cara begitu dia menjadi yang lain dari diri-Nya. Yang lain inilah yang menjadi alam semesta, yakni dunia. Jelas tuhan dalam mitos tadi, tuhan yang meruntuhkan tahta-Nya sendiri, atau merendahkan diri. Ketika kekuatan

tuhan "kembali pulih”, ternyata alam semesta, paling tidak bumi, telah dikuasai oleh Adam dan anak-anaknya, sehingga tuhan pun tersingkir untuk kedua kalinya. Artinya urusan dunia

terlepas dari kuasa tuhan. Lahirnya sekulerisasi: Sekulerisme juga lahir dari kesuraman institusi agama atau gereja pada abad pertengahan di Eropa. Pada waktu itu terjadi persaingan antara kaum agamawan dan kaisar dalam upaya menguasai negara yang kadang tidak jarang juga mereka "saling membantu" dalam mengendalikan masyarakat. Prinsip pemisahan agama dan negara jika ditelusuri ternyata berpangkal pada ajaran agama itu sendiri, seperti dialog Isa Al-Masih dengan pengikutnya berikut ini: "…teacher, we know that you are sincere and

that You teach the way of God henestly. You are afraid of none and You court no one's favour. Give us therefore your opinion: is it right to pay tax to Caesar or not? But Jessus saw thought their malice and said, "why do you test me, you hypocrites? Show me a coin. And they brought him a coin. Whose is this likeness and signature? He asked them. They said, Caesar's. he told them, then pay Caesar what is due to Caesar, and God what is due to God (Matthew, 22: 17-21). Adanya dua kekuasaan ini karena pembatasan wilayah-wilayah atau lingkungan kekuasaan sekuler di satu pihak dan kekuasaan spiritual di pihak lain. Keduanya memiliki tugasnya sendiri-sendiri. Tugas negara adalah mengatur dunia masyarakat, pemerintahan dan sebangsanya. Tugas tuhan yang diwakili agamawan, mengatur segala aspek keagamaan, pembaptisan, jabatan kependetaan, kebaktian, yang masing-masing tidak boleh saling mengintervensi. Dalam perspektif pemikiran Agustinus (354-430)

misalnya, semenjak jatuhnya Adam dan Hawa ke dalam dosa, sejak itulah "negara' sekuler mulai menampakkan diri dalam wujud yang nyata. Menurut Agustinus, semua makhluk adalah vestigia dei (jejek-jejak tuhan) yang menyatakan bahwa tuhan telah lewat, dan puncaknya pada manusia sebagai citra tuhan (Verhaak, 2000: 3-35). Terjadinya peristiwa buruk yang dialami manusia akibat adanya pertempuran antara civitas terrena (negara dunia) dengan civitas dei (dunia tuhan) yang diwakili gereja. Akhirnya terjadilah perceraian talak tiga antara agama dan dunia, maka ilmu pengetahuan yang dihasilkan dan terus

dikembangkan manusia tampil ke depan dengan independensinya yang mutlak. Sementara itu dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tonggak terpisah antara agama dan ilmu pengetahuan dimulai sejak peristiwa Galileo Galilei dan penemuan Copernicus tentang tata surya. Ilmu mulai dipisah dari agama. Sir Issac Newton, tokoh yang sering disebut sebagai bapak materialisme, memandang seluruh alam sebagai atom yang mempunyai hukum-hukum tertentu yang bebas dari pengaruh langsung dari tuhan. Bagi Newton, dunia ini dicipta oleh

tuhan lengkap dengan hukum-hukumnya yang pasti sehingga setelah penciptaan tuhan tidak lagi campur tangan di dalamnya. Kerja tuhan telah selesai manakala dunia dengan hukum- hukumnya telah tercipta. Paham inilah yang dalam filsafat ketuhanan disebut deisme. Kerja Newton ini dilanjutkan oleh Charles Darwin dalam bidang Biologi, Sigmund Freud dalam Psikoanalisa. Dalam fisika Quantum, Steven Hawking menambahkan bukti-bukti ilmiah tak terbantah tentang tidak mempunyai dogma agama (baca: kristen) mengatasi ilmu pengetahuan. Muhammad Al Bahy dalam Pardoyo (1993:32-37, Sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti), perkembangan sekulerisasi dalam kerangka pemikiran filsafat dapat dibagi menjadi dua periode. Periode pertama, adalah periode sekulerisme moderat yang terjadi antara abad ke-17 sampai dengan abad ke–18. Periode kedua, adalah periode sekulerisme ekstrem yang berkembang pada abad ke-19 dan mencapai puncaknya pada abad ke-20 ketika terjadi pemikiran metrialisme historis. Periode Pertama, Prinsip Sekuler(isasi): Pada periode pertama/sekulerisme moderat, agama dianggap sebagai masalah individu yang tidak ada hubungannya dengan negara. Meskipun demikian, negara masih berkewajiban memelihara gereja seperti menyerahkan pajak. Pada periode ini terjadi pengingkaran sebagian ajaran-ajaran agama. Ajaran-ajaran Agama dituntut tunduk pada akal, dan prinsip-prinsip alam. Penganut ajaran ini sering disebut aliran “Deisme” yang mengakui adanya Tuhan sebagai asal muasal alam, akan tetapi mengingkari adanya mukjizat, wahyu,

dan menggolongkan tuhan ke dalam alam. Tuhan menyerahkan alam kepada nasibnya sendiri. Tokoh: Tokoh-tokoh sekulerisme moderat diantaranya; Francois Voltaire (1694- 1778), Lessing (1729-1781), dan John Locke (1632-1704). Period ke-dua, Prinsip Sekuler(isasi): Pada periode kedua/sekulerisme ekstrem, agama tidak hanya menjadi urusan pribadi, akan tetapi justru negara memusuhi agama, sehingga negara memusuhi orang-orang yang beragama. Periode sekulerisme ekstrem merupakan periode meterialisme yang sering disebut sebagai revolusi sekuler. Tokoh: Tokoh sekulerisme ekstrem, diantaranya; Ludwig Feuerbach (1804-1872), Karl Marx (1818-1883), dan Lenin (1870-1924). Akar Munculanya Sekulerisme: Menurut Muhammad Al Bahy dalam Pardoyo (1993:37-38, Sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti), pokok permasalahan yang berkaitan dengan munculnya sekulerisme di Barat adalah 1) Adanya perebutan kekuasaan antar negara dan gereja. Dengan pemisahan gereja dengan negara dipandang dapat mengatasi perebutan kekuasaan tersebut, 2) Adanya pembentukan kekuasaan pada kelompok baru. Sebelumnya kelompok kekuasaan yang hanya dimiliki oleh gereja dan negara perlu dihapuskan dan membentuk kelompok kekuasaan baru pada Buruh atau Sosial atau Negara atau Partai, 3) Adanya penelitian terhadap alam dan kemajuan ilmu pengetahuan menyebabkan kaum intelek berani keluar dari dogma gereja, 4) Pemikiran filosofis sekuler menghadapi tentangan dari kelompok pemikiran filosofis lainnya, 5) Adanya negara yang menyatakan diri sebagai negara sekuler, akan tetapi dalam prakteknya tetap memelihara kehidupan keagamaan. Pandangan-pandangan terhadap Sekulerisasi: Berdasarkan penelitian Donald Eugene Smith dalam Pardoyo (1993:52-56, Sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti), sikap agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Katolik, dan Islam memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap kemunculan sekulerisasi. Agama Hindu yang sifatnya ahistoric

mempertahankan sistem kasta. Demikian juga sikap agama Budha yang sifatnya ahistoric juga sangat terbuka terhadap munculnya sekulerisasi. Agama Katolik paling tangguh dalam membendung munculnya sekulerisasi. Agama Islam dalam memandang sekulerisasai dibedakan atas sifatnya yang historis dan organis. Sebagai sistem organis, Islam kurang berhasil membendung dalam menjelaskan doktrin sosialnya. Sedangkan sebagai sistem historis, Islam senantiasa dengan inspirasi dan perspektif yang mendasar dalam mengembangkan idiologi untuk menuntun perubahan sosial. Secularisme implies ideas and institutions of purely human origin. Not derived from inspired source. Therefore, we should not considere anything that does not lie specifically within the teaching of Islam as secular nor everything foractised. By those who protess Islam as necessarely religious. (Sayyed Hossein Nasr, 8, Islamic life and Thought, London, George Allen and Unwin, Boston Sydney)

Aspek Sekulerisasi: Menurut Smith, sekulerisasi sesuatu yang tidak dapat dielakkan, karena sebagai prasyarat modernisasi. Secara garis besar sekulerisasi ditandai dengan empat aspek, 1) Sekulerisai pemisahan antara pemerintahan dan idiologi keagamaan dan struktur kegerejaan, 2) Sekulerisasi pengembangan pemerintahan untuk melaksanakan fungsi-fungsi pengaturan dalam bidang sosial ekonomi yang semula ditangani oleh struktur keagamaan, 3) Sekulerisasi penilaian ulang atas kultur politik guna menekankan tujuan-tujuan dan alasan keduniaan yang tidak transenden, dan sarana-sarana pragmatis, 4) Sekulerisasi kekuasaan pemerintahan terhadap kepercayaan dan praktek keagamaan dan struktur kegerejaan. Pro dan Kontra terhadap Sekulerisasi: Pro sekulerisasi: Nurcholish Madjid dalam Pardoyo (1993:89-966, Sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti), Menyatakan bahwa dalam melakukan pembaharuan diperlukan sekulerisasi. Meskipun demikian sekulerisasi tidak dimaksudkan untuk melahirkan sekulerisme yang menjadikan kaum

muslim menjadi sekuler. Pamisahan persoalan duniawi dengan ukhrowi, lebih dimaksudkan untuk memantapkan tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Sekulerisasi bukan berarti westernisasi tapi rasionalisasi. Kontra: Turner dalam Pardoyo (1993: 63-67 Sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti), Menolak terhadap sekulerisasi. Menurutnya, sekulerisasi mengesankan suatu kekosongan moral yang tidak dapat diisi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan tidak dapat dimiliki kembali oleh dewa-dewa yang lama. Lebih lanjut Turner berpendapat bahwa dunia Barat merupakan pusat timbulnya sekulerisasi, terutama pada masyarakat Kristen Barat. Muhammad Al Bahy dalam Pardoyo (1993:77-78: sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti), Secara tegas menolak sekulerisasi. Menurutnya posisi Islam kebalikan dari sekulerisme. Islam dan sekulerisme merupakan kedua hal yang antagonistik. Apabila terdapat negara yang berpegang sekulerisme mencapai kemajuan, bukan berarti Islam menjadi penyebab kemunduran suatu negara. Al Qutb dalam Pardoyo (1993: 81 Sekulerisasi dalam Polemik, Jakarta: Pustaka Utama Graffiti), Secara tegas menolak sekulerisme. Qutb menyimpulkan bahwa orang Islam terasing dari bumi Islam, karena bumi telah dikuasai oleh sekulerisme dan atisme. Hal ini merupakan tantangan bagi umat Islam.

Dalam dokumen Ensiklopedia Pendidikan - Test Repository (Halaman 183-191)