BAB III PERKEMBANGAN AVROS TAHUN 1910-1945

3.1 Manajemen AVROS

3.1.3 Sarana dan Prasarana

1. Gedung, Perumahan, Gudang (hong)

Gedung (kantor) merupakan sarana penting yang dibutuhkan sebagai sarana penunjang bagi AVROS. Gedung menjadi tempat bertemunya para pegawai AVROS

69 Ibid. 70 Ibid. 71 Ibid.

untuk bekerja, mengadakan rapat, dan lain-lain. Gedung yang dibangun dengan indah juga dapat menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mengalami perkembangan dan kemajuan yang baik, sehingga dapat memberikan kebanggaan bagi pemiliknya.

Sama halnya seperti AVROS yang memiliki beberapa gedung yang tidak hanya berada di Sumatera Timur tetapi juga di daerah Jawa (Semarang dan Bandung). Di Sumatera Timur, AVROS memiliki gedung yang dijadikan sebagai kantor, antara lain gedung AVROS di jalan Sukamulia72 dan gedung penelitian APA di Kampung Baru.73

1. Perusahaan Langereis dengan tawarannya sebesar 119.000 gulden.

Pembangunan gedung AVROS di jalan Sukamulia dimulai sejak bulan Februari 1918, dimana AVROS melakukan tender untuk proyek pembangunan gedung AVROS. Beberapa perusahaan kontraktor terlihat mengikuti tender ini, perusahaan-perusahaan tersebut antara lain:

2. Perusahaan Metz dengan tawarannya 138.000 gulden. 3. Perusahaan Bennik dengan tawarannya 142.000 gulden, dan

4. Perusahaan Meeuwse dengan tawarannya sebesar 187.000 gulden. 74

Angka-angka yang ditawarkan pada tender proyek ini jelas menunjukkan bahwa untuk pembangunan gedung AVROS diserahkan kepada Perusahaan

72

Lihat lampiran II.

73

Lihat lampiran IV.

74

Langereis.75 Sebagai arsitek pembangunan gedung AVROS diserahkan kepada G. H. Mulder. Di tangan arsitek ini, gedung AVROS dibangun dengan gaya art- neauvo yang pada saat itu gaya ini memang sedang sangat minati.76

Pembangunan gedung AVROS memakan waktu tiga bulan lamanya. Setelah selesai gedung AVROS diperindah dengan perabotan dan perlengkapan kayu untuk ruang bagian dalam. Untuk perabotan AVROS, sebagaian besar di pesan dari Firma Andriessen di Semarang. Seluruh gedung di cat berwarna kuning yang ditambah dengan hiasan hijau dan putih.77

Pada saat itu, gedung AVROS memang menjadi salah satu bangunan yang terindah di daerah kesawan, sampai ada pernyataan yang dikeluarkan oleh sebuah surat kabar yang mengusulkan untuk memberi nama di sekitar jalan dekat gedung AVROS dengan nama jalan AVROS.78

75

“Het AVROS Gebouw”, De Sumatra Post, 16 Februari 1918.

Pernyataan ini tentunya tidak hanya mengacu pada keindahan gedung AVROS, tetapi lebih dari itu kontribusi AVROS terhadap perkembangan ekonomi perkebunan yang sebenarnya membuatnya lebih dikenal.

76

Art Nouveau adalah sebuah gaya arsitektur yang muncul pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Prinsip dasar dalam gaya arsitektur ini adalah ekspresi unsur-unsur utilitarian dari suatu bangunan (perencanaan, metode konstruksi, dan bahan) melalui citra artistik. Dalam sintesis artistik bangunan-bangunan yang memakai gaya art-nouveau, dekor ornamental tidak begitu menentukan esensi dari gayanya. Ornamen-ornamen dekoratif justru lebih sering mengambil bentuk dan merupakan ciri khas dari art nouveau. “Art Nouveau di Riga” diunduh tanggal 20 Januari 2015.

77

“De AVROS”, De Sumatra Post, 26 Maret 1919.

78

Selain pembangunan gedung AVROS di jalan Sukamulia, AVROS juga melakukan pembangunan gedung laboratorium APA yang ditujukan sebagai balai penyelidikan AVROS. Pembangunan gedung ini diserahkan kepada seorang arsitek yang sama dengan yang membangun gedung AVROS di jalan Sukamulia, yaitu G.H. Mulder. Bangunan ini bergaya klasik Eropa (art- neauvo juga)yang dibangun pada tahun 1917-1918. Di lingkungan bangunan APA ini juga dilengkapi dengan rumah-rumah dinas yang dibangun untuk para pegawainya dan berada tepat di depan gedung APA.79

“Seluruh kompleks bangunan yang didirikan oleh AVROS mencapai harga seperempat juta gulden. Menurut apa yang diketahui, di sana ada sebuah gedung yang digunakan bagi pusat percobaan, sebuah rumah direktur, rumah-rumah bagi para asisten, dan sebagainya. Seluruhnya dikerjakan oleh Firma J.W. Metz dan berada di bawah pengawasan arsitek G.H. Mulder.” Berikut mengenai keterangannya:

80

Selain kedua gedung ini, AVROS juga memiliki gedung atau kantor lain seperti kantor JIB di Glugur, kantor ADEK di Bandung, kantor VEDA di Semarang, serta kantor AVROS di Jakarta dan Kotaraja yang bertindak sebagai kantor perwakilan.81

79

Lucas Partanda Koestoro, dkk., Medan, Kota di Pesisir Timur Sumatera dan Peninggalan Tuanya, dalam Berita Penelitian Arkeologi Medan No. 28, Medan: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan - Balai Arkeologi Medan, Medan, hlm. 71-72.

80

“De AVROS”, De Sumatra Post, 1 November 1918.

81

Gudang (hong) juga merupakan merupakan salah satu fasilitas yang dibutuhkan dan dimiliki oleh AVROS. Gudang yang dimiliki oleh AVROS berada di Glugur, fungsi dari gudang tersebut adalah sebagai tempat penyimpanan beras ataupun sebagai depot penampungan sementara bagi para buruh yang baru tiba dari luar Sumatera Timur.82

2. Kereta Api, Kapal laut, dan Kereta yang Menggunakan Hewan Penarik. Transportasi merupakan sarana yang sangat penting bagi perkebunan. Dengan adanya transportasi, maka akan lebih memudahkan dan mempercepat proses pengangkutan barang maupun jasa keluar maupun kedalam lingkungan perkebunan. Transportasi-transportasi yang dimaksud ini bukan merupakan transportasi milik AVROS, tetapi sarana ini digunakan oleh AVROS. Transportasi ini biasanya mengangkut hasil panen perkebunan, barang-barang yang dibutuhkan perkebunan ataupun pengangkutan buruh. Transportasi yang digunakan oleh AVROS berupa kereta api, Deli Spoorweg Maatschappij (DSM). DSM yang telah berdiri sejak 1883, pada awalnya membuka jalur-jalurnya untuk wilayah perkebunan tembakau. Kemudian pada tahun 1903 dibukalah jalur ke wilayah-wilayah perkebunan karet, jalur yang dibuka dari Lubuk Pakam ke Tebing Tinggi kemudian ke Bangun Purba. Pada tahun 1904 di buka lagi jalur dari Binjai ke Pangkalan Brandan. Jalur baru kemudian dibuka kembali untuk tanaman baru dari Tebing Tinggi ke Tanjung Balai

82

sepanjang 110 km dan dari Tebing Tinggi ke Siantar sepanjang 46 km.83

Perjalanan yang tidak dapat ditempuh melalui jalur darat, membuat jenis tranportasi laut menjadi pilihan yang tepat. Dalam hal pengangkutan buruh yang berasal dari luar Sumatera Timur seperti Pulau Jawa, maka dilakukan penyebrangan melalui jalur ini dilakukan dengan menggunakan jasa dariKoninklijke Paketvaart Maatschappij atau KPM. Kepentingan seperti pengangkutan buruh dari satu daerah ke daerah lain atau pengangkutan buruh Jawa ke Sumatera Timur, memang sangat dibutuhkan. Sehingga dalam hal ini, AVROS menjalin kerjasama dengan KPM untuk memastikan bahwa AVROS akan selalu mendapatkan tempat untuk pengangkutan buruhnya masuk dan keluar Sumatera Timur.

Pembukaan jalur-jalur kereta api yang menuju area perkebunan karet ini menunjukkan bahwa adanya kerjasama atau hubungan antar AVROS dan DSM yang tentunya akan mempermudah proses pengangkutan barang maupun manusia.

84

Perkembangan yang dialami oleh perkebunan sejak masa kolonial sangatlah penting. Walaupun telah bermunculan sarana transportasi modern pada saat itu, namun kereta yang biasa ditarik dengan tenaga hewan seperti sapi, ternyata masih digunakan pada saat itu. Pada tahun 1910, di Sumatera Timur sempat diberlakukan larangan impor ternak dari Asia maupun Afrika dengan pengecualian hewan ternak biak yang terhitung sejak 1911. Hal ini diberlakukan sehubungan dengan

83

Descriptive Catalogue of Their Exhibit with a Short Review of the Agricultural District of the East Sumatra and Acheen., Batavia: International Rubber Congress, 1914, hlm. 6-7

84

mewabahnya penyakit pes pada hewan ternak saat itu. Seperti yang telah disebutkan, bahwa kebutuhan akan hewan penarik yaitu sapi sangat mendesak pada saat itu. Dalam masalah ini, ketua AVROS yaitu Van Ris, mencoba untuk membuat permohonan sekaligus pengajuan keberatan kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda atas larangan impor ternak ini.85

Sebagai hewan penarik kereta yang mengangkut hasil panen, sebenarnya larangan impor hewan ternak ini tidak begitu berdampak pada tanaman karet. Justru lebih berdampak pada tanaman tembakau dan kopi, karena hasil panennya harus secepatnya diolah. Sedangkan pada perkebunan karet, sebenarnya yang menjadi permasalahan adalah kondisi dari perkebunan karet yang pada saat itu masih dalam tahap perkembangan, membuat jalan-jalan menuju daerah yang baru dieksploitasi letaknya sangat jauh dan sulit dilalui, sehingga jumlah hewan penarik yang dibutuhkan juga tiga kali besarnya seperti dalam kondisi normal.86

Penyakit pes yang menjangkiti hewan ternak, pada saat itu memang sedang mewabah dan penyebarannya juga cepat sekali, sehingga membuat Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan larangan impor sapi terutama dari India. Hewan ternak impor ini ditakutkan akan menularkan penyakitnya pada hewan ternak lokal. Untuk memenuhi kebutuhan hewan ternak yang terhambat akibat larangan impor ini,

85

Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie van den 11 Januari 1911 No.14.

86

maka pernah dilakukan impor hewan ternak dari Bali, Madura, dan Australia, namun tidak berhasil karena tingkat kematian tinggi, yang disebabkan oleh kurangnya daya tahan tubuh hewan ternak sehingga terkena penyakit ternak. Kendati gagal, namun percobaan ini terus dilakukan.87

Alternatif lain yang dilakukan adalah dengan menggantikan sapi dengan kerbau. Bagi perkebunan karet tidak terjadi keberatan atas hal ini. Kerbau memang dapat dibeli dalam jumlah memadai dan ketersediaannya juga banyak di seluruh Hindia Belanda, namun hal ini akan menjadi masalah untuk perkebunan kopi maupun tembakau. Hewan kerbau lebih cepat kehabisan tenaga saat menarik beban daripada sapi. Sedangkan hasil panen kopi maupun tembakau harus segera disimpan di gudang ataupun segera difermentasikan, dan tidak boleh sampai malam hari, sehingga sapi lebih dipilih sebagai hewan penarik.88

Buruh merupakan salah satu faktor pokok dalam menjalankan industri perkebunan, namun faktor pokok ini juga sangat sulit untuk didapatkan di SumateraTimur. Untuk mengatasi persoalan pengadaan buruh ini, maka didatangkanlah buruh dari Jawa maupun Cina. Dalam mendatangkan buruh-buruh ini

3.2 Peran AVROS dalam Perusahaan Perkebunan

Dalam dokumen Algemeene Vereeniging Van Rubberplanters Ter-Ooskust Van Sumatra (Avros) 1910-1958 (Halaman 30-37)