BAB II TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM NOVEL HUJAN
2.2 Penokohan
2.2.1 Sarwono
Penokohan Sarwono digambarkan sebagai berikut. Sarwono berasal dari Solo. Ia dibesarkan dari keluarga sederhana. Ayah Sarwono merupakan pensiunanan PNS. Setelah lulus SMA Sarwono nekat sekolah di Jakarta. Dengan usahanya sendiri, Sarwono berhasil mendapat gelar S2 dan membuat keluarganya bangga.
(20) Ayahnya bangga dia bisa menjadi Sarjana Magister pertama di lingkungan keluarga besar Eyang Tirto, kakeknya entah berapa generasi, yang tentu saja tidak pernah dikenalnya. (Damono, 2015: 16).
Dalam novel Hujan Bulan Juni, Sarwono digambarkan sebagai seorang laki-laki yang sederhana karena hasil didikan Ayah dan Ibunya yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, tetapi sangat mementingkan pendidikan. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang sangat cerdas. Sarwono lulus SMA dengan nilai yang baik dan bersekolah di Jakarta hingga berhasil mendapat S-2 Magister bahkan Sarwono hampir saja melajutkan studinya ke Amerika tetapi gagal karena ditemukan flek hitam mencurigakan di paru-paru Sarwono.
(21) Ia lulus SMA dengan nilai sangat baik, tetapi paman-pamannya mendesak ibunya gar ia langsung bekerja saja dulu. Meraka khawatir kalau keluarga duafa itu tidak mampu menyekolahkan anaknya sampai selesai (Damono, 2015: 19-21).
(22) Dari si rambut putih ini, Pingkan tahu bahwa sebenarnya Sarwono pernah gagal melanjutkan studi ke Amerika gara-gara ada flek yang mencurigakan di paru-parunya(Damono, 2015: 28-29).
Sarwono sudah menjalin hubungan serius dengan Pingkan dan menganggap Pingkan salah satu orang yang penting dalam hidupnya.Sarwono juga merupakan tipe orang yang pemikir keras.
(23) Ia mencintai gadis itu, tetapi tidak mampu berbuat apa pun tak terkecuali menulis puisi kalau sedang dalam keadaan puyeng memikirkannya. Ia harus nimbang cintanya, atau hanya mampu menimbang-nimbangnnya, kalau dalam keadaan tenang-setenang-tenangnya menghadapinya agar bisa diajak berbicara yang kemudian diselipkannya di antara larik-larik sajaknya (Damono, 2015: 25-26).
Sarwono pandai memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk menafkahi diri sendiri salama berada di Jakarta. Sarwono pandai menulis, dengan kemampuannya membuat puisi, artikel, opini, atau apapun yang layak diterbitkan di koran atau majalah Sarwono mampu hidup mandiri karena ia tidak ingin menyusahkan kedua orang tuannya.
(24) Hujan, bisiknya entah kepada siapa. Kata temannya yang menjadi redaktur budaya Koran Swara Keyakinan, puisinya akan dimuat hari itu. Koran sore itu menyediakan ruangan khusus sastra setiap sabtu.Tulisan Sarwono boleh dibilang menjadi pengisi tetap di media cetak itu; apa saja tulisannya, dari sepak bola sampai politik, sesuai dengan janji kepada dirinya sendiri untuk tidak tergantung kepada orang tuanya yang PNS, yang gajinya pas-pasan saja untuk menyelenggarakan hidup (Damono, 2015: 2).
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Sarwono telah belajar Karawitan yang membuatnya mengenal banyak alat musik, dan peka terhadap bunyi. Sarwono sangat menyukai music jazz atau music klasik. Sarwono agak berbeda dengan laki-laki lain jaman sekarang yang lebih menyukai musik pop atau bahkan music rock.
(25) Pelajaran karawitan di SD telah membentuk Sawono menjadi pemuda yang peka terhadap bunyi, terhadap nada-nada yang disampaikan oleh berbagai alat musik modern yang malah mengingatkan nya pada berbagai jenis gendhing, ketawang, dan ladrang dalam karawitan- jenis-jenis karawitan yang harus dikenalnya dengan baik kalau tidak ingin nunggak kelas (Damono, 2015: 59-60).
Sarwono merupakan sosok yang pandaidan sangat mencintai pekerjaannya.Prinsip Sarwono adalah menjalani pekerjaan dengan senang hati, dan selalu tepat waktu.Diceritakan juga bahwa Ia mencintai negeri Indonesia tempatnya lahir dan besar. Sarwono tidak pernah berpikir untuk bekerja di negara lain, meskipun banyak yang menawarkan dengan gaji yang cukup besar.
(26) Dalam keadaan apa pun ia harus mencari data agar laporan bisa disusun tepat waktu meskupun selalu saja terlambat karena ini dan itu. Dan terlambat berarti ada sekian persen dana dipotong, sesuai dengan perjanjian. Prodi tentu tidak mau hal itu terjadi sebab pengaruhnya terhadap honor semua pihak terlibat. Itu sebabnya Sarwono berusaha sebaik-baiknya untuk menaati jadwal yang sudah disusunnya sendiri, yang kalau meleset berarto berkurangnya kemungkinan untuk diikutkan lagi dalam proyek (Damono, 2015: 6).
Dalam hubungannya bersama Pingkan, terdapat banyak perbedaan yang menghalangi.Perbedaan budaya dan keyakinan adalah masalah utama. Meskipun Sarwono mencintai Pingkan, Sarwono merasa ragu akan kelanjutan hubungannya bersama Pingkan apalagi Pingkan yang akan melanjutkan studynya ke Jepang semakin membuat Sarwono gelisah karena Sarwono tahu, salah satu dosen muda di Jepang yang bernama Katsuo menyukai Pingkan.
(27) Rupanya tante-tante itu membawa amanat kaumnnya agar membujuk Bu Pelenkahu mengawasi anak perempuannya, khawatir kalau jatuh ke tangan si Jawa itu, ya Sarwono itu. Mereka rupanya kena pengaruh dosen UNSRAT yang ternyata menyimpan keinginan untuk menikahi Pingkan (Damono, 2015 : 85).
(28) Pingkan pernah dekat dengan seorang mahasiswa Jepang yang belajar sejarah masa pendudukan Jepang di Program Pascasarjana. Namanya Katsuo, dari Kyoto. Pingkan sama sekali tidak pernah menyinggung hubungannya dengan orang Jepang itu, tetapi Sarwono pernah diberi tahu jauh sebelumnya bahwa Unioversitas Kyoto adalah tempat belajarnya nanti (Damono, 2015:65).
Keraguan dan kegelisan tersebutlah yang membuat kecemasan pada Sarwono muncul. Sarwono seringkali berdebat dengan dirinya sendiri tentang masa depannya bersama Pingkan yang penuh ketidakpastian. Sarwono mengalihkan semua kecemasannya tersebut dengan membuat puisi, artikel maupun berita yang nantinya akan di kirim ke media cetak untuk diterbitkan.
(29) Ia mencintai gadis itu, tetapi tidak mampu berbuat apa pun- tak terkecuali menulis puisi kalau sedang dalam keadaan puyeng memikirkannya. Ia harus nimbang cintanya, atau hanya mampu menimbang-nimbangnya, kalau dalam keadaan tenang-setenang-tenangnya menghadapinya agar bias diajak berbicara yang kemudian diselipkannya di antara larik-larik sajaknya (Damono, 2015: 25-26).
Sarwono dan Pingkan sama-sama disibukkan dengan kegiatan mereka. Sarwono disibukkan dengan banyak penelitian ke berbagai daerah terpencil, sedangkan Pingkan yang berada di Jepang disibukkan dengan persiapan beberapa mahasiswa Jepang yang akan ke Indonesia selama beberapa minggu. Kesibukan mereka berdua membuat komunikasi hanya dapat dilakukan dengan sekedar berkirim foto kegiatan masing-masing yang dilakukan via Whatsapp (WA). Pada akhir cerita, diceritakan bahwa Sarwono jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit dalam beberapa minggu.
(30) Bebera bulan setelah kepergian Pingkan ia sempat berkeliling Indonesia, terutama ke kawasan Timur yang menurut banyak rekannya masih perlu „diperawani‟ demi menghasilkan penelitian yang sehat (Damono, 2015 : 104).
(31) Pingkan juga sangat amat sibuk menyiapkan 20 mahasiswa yang akan ke Indonesia selama beberapa minggu untuk mengikuti berbagai kegiatan, sambil mempraktikkan kemampuan berbahasa (Damono, 2015 : 103-104).
(32) Mula-mula Pingkan menduga ada apa-apa dengan ibunya, tetapi WA selanjutnya menjelaskan bahwa Sarwono sedang mengalami perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat (Damono, 2015: 127).