• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran

Dalam dokumen PEMULIAAN IKAN PATIN SIAM (Halaman 21-28)

Sasaran dari pelaksanaan kegiatan pemuliaan ini adalah terbentuknya ikan Patin Siam galur pertumbuhan yang memiliki keunggulan performa pertumbuhan minimal 30% lebih tinggi dibandingkan dengan populasi dasar.

Ikan Patin Siam yang diambil dari 7 daerah di Indonesia (Riau, Jambi, Lampung, Bekasi, Subang, Bogor, Mandiangin), Kamboja dan Vietnam yang selanjutnya disebut sebagai populasi founder. Selanjutnya populasi founder dipijahkan dan anaknya digabung untuk membentuk populasi dasar. Kegiatan ini dilaksanakan di BPBAT Sungai Gelam – Jambi, kolam tadah hujan dan KJA di Provinsi Jambi dan Jawa Barat, serta Laboratorium Genetik Departemen Budidaya Perairan FPIK, IPB.

Sedangkan metode yang dilakukan mengacu pada Protokol Pemuliaan (Genetic Improvement) Ikan Patin Siam No. PO 01 Seleksi Individu dengan modifikasi. Kegiatan telah dilakukan sejak tahun 2009 sampai 2020 untuk mendapatkan generasi ketiga dengan performa yang dapat diandalkan.

‘’

‘’

II. BAHAN, PELAKSANAAN DAN METODE

2.1. Bahan Awal Program Seleksi

Bahan awal program seleksi ini merupakan ikan Patin Siam yang diambil dari 7 daerah di Indonesia (Riau, Jambi, Lampung, Bekasi, Subang, Bogor, Mandiangin), Kamboja dan Vietnam yang selanjutnya disebut sebagai populasi founder. Selanjutnya populasi founder dipijahkan dan anaknya digabung untuk membentuk populasi dasar. Program seleksi untuk galur pertumbuhan diseleksi dari populasi dasar. Rincian mengenai populasi founder dan populasi dasar akan dijelaskan sebagai berikut.

▪ Populasi Awal (founder)

BPBAT Sungai Gelam telah mendatangkan benih Patin Siam ukuran 1.5-2 inci dari tujuh daerah di Indonesia (Riau, Jambi, Lampung, Bekasi, Subang, Bogor, Mandiangin) antara bulan Januari sampai dengan Februari 2009. Dan pada bulan September 2009, juga mendatangkan benih Patin Siam ukuran 1.5-2 inci dari Vietnam dan Kamboja. Daerah tersebut dipilih karena merupakan sentra produksi benih Patin Siam. Benih Patin Siam yang berasal dari Vietnam merupakan hasil produksi unit usaha pembenihan Patin Siam sedangkan benih yang dari Kamboja merupakan hasil tangkapan dari alam. Patin Siam dari tujuh daerah di Indonesia, Kamboja dan Vietnam selanjutnya akan disebut sebagai populasi founder. Populasi founder ini yang masih berukuran benih dibesarkan sampai dewasa dan dalam proses pembesarannya dilihat performa pertumbuhan dan perkembangan gonadnya. Performa populasi founder pada tahap pembesaran, perkembangan gonad dan hasil uji genotipe disajikan sebagai berikut.

▪ Uji Fenotipe Populasi Awal

Bobot tubuh rerata pada umur 23 bulan dari tujuh populasi dari Indonesia berkisar antara 2185.93-2542 gram per ekor untuk betina dan 1375.87-1796.60 gram per ekor untuk jantan. Gambar 1 menunjukkan ada perbedaan bobot tubuh rerata antara betina dengan yang jantan. Namun bila dilihat dari standar deviasi, tidak ada perbedaan bobot tubuh betina dan jantan antar populasi dari Indonesia. Sedangkan laju pertumbuhan harian Patin Siam dari tujuh populasi dari Indonesia dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.

Laju pertumbuhan harian Patin Siam populasi Lampung paling tinggi yaitu sebesar 0.276% dan yang terendah dari populasi Bogor sebesar 0.212%.

Gambar 1. Grafik bobot tubuh rerata ika Patin yang berasal dari tujuh daerah/populasi di Indonesia pada umur 23 bulan.

Gambar 2. Grafik laju pertumbuhan harian Patin Siam dari tujuh daerah/populasi di

Indonesia

Gambar 3 memperlihatkan perkembangan gonad ikan Patin Siam yang betina dari tujuh populasi Indonesia. Nilai GSI (gonado somatic indexs) pada umur 15 sampai dengan 17 bulan masih sangat rendah (0.35-0.67%). Kenaikan GSI mulai terlihat pada umur 18 bulan dengan nilai tertinggi sebesar 6.95% dan

0,000

Bogor Subang Bekasi Jambi Riau M. Angin Lampung

LPH (%)

Mandiangin Subang Bekasi Jambi Bogor Riau Lampung

Betina Jantan

Bobot tubuh rerata (g)

pada umur 22 bulan, GSI rerata tertinggi yaitu populasi Lampung sudah mencapai 10.59%, seperti ESI pada ikan Patin dewasa. Diameter oocyte pada umur 17 bulan sudah cukup besar seperti ikan Patin dewasa yaitu berkisar antara 1.08 – 1.18 mm.

▪ Uji Genotipe Populasi Awal

Uji genotipe terhadap populasi “awal” dilakukan pada tahun 2010 di LAPTIAB BPPT Serpong. Uji genotipe bertujuan untuk melihat tingkat kekerabatan antara populasi Patin Siam baik yang dari Indonesia maupun dari Kamboja dan Vietnam. Metoda yang digunakan yaitu dengan menganalisa gen microsatellite pada lokus Phy05-KUL dan lokus Phy01-KUL (Sumber : Volckaert et al, 1999). Hasil dari uji genotipe tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 4.

Tabel 1 menunjukkan jarak genetik antar Patin Siam yang dikoleksi dari beberapa daerah Indonesia, Kamboja dan Vietnam. Jarak genetik terjauh yaitu antara populasi Lampung dan Jambi dengan nilai 0.4366. Sedangkan jarak yang terdekat yaitu antara populasi Bogor dengan Lampung dengan nilai 0.0541.

0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00

15 16 17 18 19 20 21 22

BOGOR JAMBI MANDIANGIN LAMPUNG RIAU BEKASI SUBANG

Gambar 3. Grafik perkembangan gonad patin siam yang betina dari tujuh daerah/populasi di Indonesia

GSI (%)

Bulan

Tabel 1. Minimum genetic distances antar populasi Patin Siam (Nei's, 1972)

Population 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1

2 0.0541 *****

3 0.3571 0.4366 *****

4 0.3071 0.3866 0.3700 *****

5 0.2534 0.3703 0.3537 0.2588 *****

6 0.2751 0.3663 0.3731 0.2881 0.1819 *****

7 0.2818 0.3508 0.3620 0.2745 0.1812 0.1450 *****

8 0.2243 0.2428 0.3888 0.3350 0.2725 0.2719 0.1620 *****

9 0.2571 0.3678 0.1300 0.3075 0.2087 0.2169 0.2106 0.2962 *****

Catatan: 1: Bogor, 2: Lampung, 3: Jambi, 4: Riau, 5: Bekasi, 6: Mandiangin, 7: Kamboja, 8: Vietnam, 9: Subang.

Sedangkan Gambar 4. menunjukkan bahwa populasi Kamboja lebih dekat kekerabatannya dengan populasi Mandiangin dibandingkan dengan populasi lainnya. Kekerabatan populasi Vietnam lebih dekat dengan populasi Bogor dan Lampung. Sedangkan populasi Jambi lebih dekat dengan populasi Subang.

2.1.1 Pembentukan Populasi Dasar (Ds)

Populasi founder dewasa pada awal tahun 2011. Setelah populasi founder dewasa, dilakukan pemijahan untuk membentuk populasi dasar. Jumlah induk Gambar 4. Dendrogram patin siam dari populasi Indonesia, Kamboja dan Vietnam

betina yang dipijahkan dari masing-masing sub-populasi founder sebanyak 3 ekor yang dibuahi oleh gabungan sperma jantan dari seluruh sub-populasi founder. Kemudian larva dari masing-masing sub-populasi founder dicampur secara proporsional dan dipelihara hingga dewasa yang selanjutnya disebut sebagai populasi dasar yang diberi notasi GiDs (Gi: generasi ke i; Ds: populasi dasar). Populasi dasar inilah yang digunakan dalam program seleksi (selective breeding) ikan Patin Siam oleh BPBAT Sungai Gelam.

Jumlah larva populasi dasar yang dipelihara sebanyak 425,000 ekor.

Pakan larva untuk umur 30 jam s.d 7 hari yaitu naupli artemia dan dari 8-12 hari yaitu moina beku dan cacing tubifex. Sintasan rerata larva yang dipelihara di hatcheri selama 12 hari yaitu sebesar 56.7%. Setelah berumur 12 hari, larva didederkan di dalam kolam dengan dasar tanah. Luasan kolam yaitu 225 m2 dan kedalaman air 1 m. Jumlah larva yang didederkan di kolam yaitu sebanyak 150 ribu ekor yang dipelihara dalam tiga kolam. Sintasan benih yang didederkan di kolam selama 1.5 bulan yaitu berkisar antara 87.8-95%. Selanjutnya benih tersebut dibesarkan pada kolam pembesaran dengan luasan 500 m2 dan kedalaman air 1.5 m. Benih yang digunakan untuk pembentukan populasi dasar tidak dilakukan sortasi, namun diambil secara acak. Jumlah benih populasi dasar yang dipelihara sebanyak 9000 ekor yang dipelihara dalam dua unit kolam dengan luasan masing-masing 500 m2 dan ketinggian air 1.8 m. Pada umur 16 bulan dilakukan sampling terhadap 2317 ekor betina dan 1362 ekor jantan.

Betina memiliki bobot rerata sebesar 1.010±0.356 kg ekor-1 dan CV (koefisien variasi) sebesar 35.25%. Jantan memiliki bobot tubuh rerata sebesar 0.867±0.248 kg ekor-1 dan CV sebesar 28.60%. Distribusi bobot tubuh betina dan jantan disajikan pada Gambar 5 di bawah ini. Selanjutnya populasi ini disebut sebagai populasi dasar generasi I dengan notasi G1Ds. G1Ds inilah yang digunakan sebagai populasi dasar yang akan digunakan dalam program seleksi (selective breeding) ikan Patin Siam di BPBAT Sungai Gelam. Sebanyak 250

ekor (200 betina dan 50 ekor jantan) diambil secara acak yang akan digunakan sebagai pembanding (kontrol) terhadap hasil pemuliaan dan juga untuk peremajaan populasi dasar.

Gambar 5. Distribusi bobot tubuh populasi dasar (G1Ds) pada umur 16 bulan.

Dalam dokumen PEMULIAAN IKAN PATIN SIAM (Halaman 21-28)

Dokumen terkait