PENANGANAN KEMISKINAN
2.1 Sasaran Program Penanganan Kemiskinan
Penanganan kemiskinan tetap menjadi fokus utama pemerintah di tengah gejolak kenaikan harga minyak dunia (BBM). Pemerintah telah menetapkan beberapa program penanganan kemiskinan terbagi ke dalam tiga kluster, sesuai karakteristik sasaran dapat kita lihat seperti;
1. Bantuan dan Perlindungan Sosial Kelompok Sasaran
Sasaran 19,1 juta RTS/Rumah Tangga Sasaran (Raskin, BLT, PKH, BOS, JAMKESMAS) termasuk pemberian layanan khusus bagi 3,9 juta RTSM.
2. Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
Program-program yang tergabung dalam PNPM. Fokus: 5.270 kecamatan dalam bentuk: Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Rp.3 Milyar/kec./tahun.
3. Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UMK)
Sasaran: pelaku usaha mikro dan kecil. Penyaluran KUR; diarahkan untuk kredit Rp.5 juta ke bawah. Plus: penyaluran program pendanaan.29
Di tengah perjalanan menuju masa membangun, negara Indonesia dihadapi dengan permasalahan krisis perekonomian dunia. Dimana krisis perekonomian ini 2.2 Program Bantuan Langsung Tunai (BLT)
menyangkut pada masalah yang sangat vital yakni bahan bakar minyak yang disingkat dengan BBM. Kebijakan pemerintah dengan menaikkan harga BBM pada bulan Maret rata-rata 29 persen dan Oktober tahun 2005 hingga mencapai 126% dan pada tahun 2008 membuat masyarakat menjadi gelisah untuk memenuhi kebutuhan pokok kehidupan sehari-hari. Dampak dari kebijakan tersebut dirasakan oleh setiap lapisan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat yang berada pada garis kemiskinan.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2004-2009 pemerintah akan menargetkan pengurangan angka kemiskinan dari 18,2 persen tahun 2002 menjadi 8,2 persen tahun 2009. Adapun angka pengangguran terbuka diharapkan turun dari 8,1 persen tahun 2002 menjadi 6 persen tahun 2009. Dengan kenaikan harga pangan dan BBM, orang miskin berpotensi meningkat sebesar 15 persen, atau tambahan 19,01 juta jiwa lebih (sehingga total orang miskin mencapai 56,6 juta jiwa) pada tahun ini;sementara tambahan pengangguran terbuka baru bisa mencapai 18,61 jiwa sehingga total pengangguran terbuka mencapai 29,94 juta jiwa.30
Namun demikian, rencana pembangunan pemerintah yang dibuat harus sejalan dengan apa yang terjadi di lapangan. Ternyata di tengah kondisi Indonesia yang mengalami krisis perekonomian yang berkaitan dengan dunia Internasional memaksa pemerintah untuk membuat kebijakan dengan menaikkan harga BBM sebanyak dua kali dalam setahun pada tahun 2005 setinggi 29 % dan 126 % pada bulan Maret dan Oktober.
Krisis harga minyak dunia menyebabkan naiknya harga minyak dunia hingga mencapai 72,4 dollar AS perbarel menciptakan dilema bagi pemerintah. Menurut Bambang Heru dalam tulisannya menyebutkan bahwa ada dua kelompok yang pro dan kontra terhadap naikknya harga BBM. Kelompok pertama adalah mereka yang menikmati pertumbuhan ekonomi dan agak tidak peduli dengan inflasi. Kelompok kedua, mereka yang berpenghasilan tidak tetap, bahkan tak menentu, sedikit tersentuh pertumbuhan ekonomi, dan rentan kenaikkan harga bahan bakar pokok. Jika dilakukan voting, kata Bambang maka yang menang adalah kelompok kedua. Namun, pada akhirnya pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM dengan alasan pemerintah tidak sanggup mensubsidi BBM karena akan terjadi defisit pada APBN.
Keputusan kenaikkan harga BBM pada tahun 2005 dan bulan Juni tahun 2008 yang secara otomatis diikuti oleh naikknya harga kebutuhan barang pokok membuat gelisah kelompok kedua yang dijelaskan diatas yang merupakan sebagian besar pada kelas menengah kebawah dan berada pada garis kemiskinan selain itu mengakibatkan masyarakat miskin tersebut akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan perkembangan harga di pasar dan warga masyarakat miskin akan terkena dampak sosial semakin menurun taraf kesejahteraannya atau menjadi miskin. Maka dari itu, seiring dengan naikknya harga BBM yang pastinya akan membawa dampak, pemerintah perlu mereview kebijakan tentang subsidi BBM, sehingga subsidi yang selama ini dinikmati juga oleh golongan masyarakat mampu dialihkan untuk golongan masyarakat miskin dan membuat suatu program sebagai kompensasi dari kenaikkan harga BBM sebagai subsidi bagi masyarakat miskin. Untuk itu diperlukan program perlindungan sosial bagi
masyarakat miskin dalam bentuk program kompensasi (compensatory program) yang sifatnya khusus (crash program) atau program jaring pengaman sosial (social safety net)31
- Bantuan Langsung Tunai tanpa syarat kepada Rumah Tangga Sasaran (unconditional cash transfer) sebesar Rp.100.000,- per bulan selama satu tahun, dan setiap tahap diberikan Rp.300.000,-/3 bulan. Sasarannya Rumah Tangga
, program kompensasi inilah yang disebut dengan Kompensasi Bantuan Langsung Tunai.
Program ini merupakan bentuk bantuan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat miskin. Program tersebut berupa bantuan subsidi langsung tunai tanpa adanya syarat kepada rumah tangga miskin. Pada tahun 2005 dan 2006 pemerintah melaksanakan skema program PKPS (Progam Kompensasi Pengurangan Subsidi)-BBM yang meliputi:
a. PKPS BBM Tahap I :
- Bidang pendidikan, yang diarahkan untuk menyukseskan program wajib belajar 9 tahun melalui pemberian bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan khusus murid (BKM).
- Bidang kesehatan, diarahkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan melalui system jaminan kesehatan bagi penduduk miskin, yang meliputi layanan kesehatan dasar, layanan kesehatan rujukan dan pelayanan penunjang lainnya. - Bidang infrastruktur perdesaan, diarahkan pada penyediaan infrakstruktur di desa-desa tertinggal (jalan, jembatan, air bersih, sanitasi, tambatan perahu, irigasi desa sederhana dan penyediaan listrik bagi daerah yang betul-betul memerlukan.
Sasaran sejumlah 19,1 juta sesuai hasil pendataan yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik dan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) Departemen Sosial yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan32
Dan dapat kita lihat Realisasi bayar di Provinsi Sumatera Utara khususnya Kota Medan bantuan langsung tunai (BLT) 2008 tahap I dengan alokasi BLT terhadap Rumah Tangga Sasaran (RTS) sebanyak 83.525 dengan distribusi kartu (RTS) sebanyak 82.258 dan realisasi pembayaran untuk Rumah Tangga Sasaran sebesar Rp.24.351.300.000 sebanyak 81.171 RTS. Untuk tahap II, alokasi BLT (RTS) 83.525, distribusi kartu (RTS) 82.258, realisasi bayar sebesar Rp. 32.215.600.000 sebanyak 80539 RTS.
.
Pada pelaksanaanya, pada tahun 2005 dan sekarang pada tahun 2008 pemerintah melanjutkan skema program PKPS BBM tersebut dari bulan Juni s.d Desember 2008 dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai tanpa syarat kepada Rumah Tangga Sasaran (unconditional cash transfer) sebesar Rp.100.000,- per bulan selama 7 bulan, dengan rincian diberikan Rp.300.000,-/3 bulan (Juni-Agustus) dan Rp.400.000,-/4 bulan (September-Desember).
33
Kompensasi ini dikeluarkan oleh pemerintah dengan anggapan bahwa menghadapi masyarakat miskin selayaknya tidak dengan program yang sifatnya hit and run, harus dengan program yang mampu memenuhi kebutuhan dasar secara berkelanjutan dan mendorong mereka untuk mendayagunakan potensi dan sumber yang dimilikinya (empowering). Namun pada sisi lain pemerintah juga berkewajiban memberikan perlindungan sosial (social protection) bagi masyarakat miskin untuk mengurangi dampak negatif dari kebijakan penyesuaian
harga BBM atau dalam keadaan adanya kebijakan/program penyesuaian secara struktural akan mempengaruhi masyarakat luas (Structural Adjusment Program/SAPs). Karena itu program BLT-RTS dalam rangka PKPS BBM diselenggarakan dalam kerangka kebijakan perlindungan sosial (social protection) melalui asistensi sosial (social assistance)34.
Dalam perkembangannya, komitmen nasional pemerintah adalah mewujudkan pelaksanaan Program Bantuan langsung Tunai dalam rangka kompensasi pengurangan subsidi BBM, harus langsung menyentuh dan memberi manfaat langsung kepada masyarakat miskin, mendorong tanggung jawab sosial bersama serta dapat menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat terhadap perhatian pemerintah kepada masyarakat miskin.