BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
SASARAN STRATEGIS 3
Meningkatnya kepatuhan produk terhadap SNI
Tabel III.6 Capaian Kinerja Sasaran Strategis 3
No Indikator
Kinerja Satuan
Realisasi Capaian 2021 Capaian 2021 atas Renstra s.d 2024 (kumulatif)
*) untuk kepentingan perhitungan rata-rata capaian, batas toleransi maksimal % capaian kinerja adalah120%.
**) IKU baru
Untuk mengukur terwujudnya sasaran meningkatnya kepatuhan produk terhadap SNI adalah dengan indikator kinerja Persentase peningkatan produk yang sesuai dengan SNI. Capaian kinerja untuk indikator kinerja ini pada tahun 2021 adalah sebesar 116,91% atau telah melebihi dari target yang ditetapkan. Berikut disampaikan rincian capaian indikator kinerja sasaran 3.
2021| Laporan Kinerja Badan Standardisasi Nasional 38
Indikator Kinerja 5 Persentase peningkatan produk yang sesuai dengan SNI
Pemenuhan produk terhadap (sesuai dengan) SNI adalah produk yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan SNI dan persyaralan lain yang ditetapkan K/L.
Persentase peningkatan produk yang sesuai dengan SNI diperoleh melalui formula perhitungan sebagai berikut:
Σ produk yang sesuai SNI (n) - Σ produk yang sesuai SNI (n-1)
Σ produk yang sesuai SNI (n-1) x 100%
Capaian kinerja untuk indikator kinerja ini pada tahun 2021 adalah sebesar 116,91%. Mengingat indikator kinerja ini merupakan indikator kinerja baru pada tahun 2021 sehingga belum dapat diperbandingkan capaiannya dengan tahun 2020. Jika dibandingkan dengan rencana pencapaian target tahun 2024 sebesar 70%, maka persentase capainnya sampai sekarang sebesar 91,85%.
Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, BSN melakukan uji petik kesesuaian untuk memastikan efektivitas penerapan SNI serta mengetahui manfaat dan kendala penerapan SNI bagi penerap. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut, BSN berkoordinasi dengan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian.
Dari pengamatan terhadap penggunaan Tanda SNI, pencantuman Tanda SNI pada barang yang beredar di pasar dapat digolongkan menjadi 4 (empat) kelompok:
1. Pencantuman Tanda SNI pada produk oleh pelaku usaha sesuai SPPT SNI yang diberikan oleh BSN. Penerbitan SPPT SNI dengan memperhatikan hasil verifikasi BSN terhadap sertifikat kesesuaian yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) yang telah diakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) sesuai dengan ruang lingkup akreditasinya.
2. Pencantuman Tanda SNI pada produk oleh pelaku usaha berdasarkan SPPT SNI yang diberikan oleh BSN. Penerbitan SPPT SNI dengan memperhatikan hasil verifikasi BSN terhadap sertifikat kesesuaian yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) yang telah ditunjuk oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN).
2021| Laporan Kinerja Badan Standardisasi Nasional 39
3. Pencantuman Tanda SNI pada produk oleh pelaku usaha berdasarkan SPPT SNI yang diberikan oleh regulator melalui LSPro yang diakreditasi KAN sesuai ruang lingkup akreditasinya dan ditunjuk oleh regulator.
4. Pencantuman Tanda SNI pada produk oleh pelaku usaha berdasarkan SPPT SNI yang diberikan oleh regulator melalui LSPro ditunjuk olehnya.
Untuk melihat efektivitas penerapan SNI pada barang yang beredar di pasar, maka dilakukan kegiatan uji petik. Pada tahun 2021, BSN berkoordinasi dan bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Pengawas Obat dan Makanan, dan Badan Perlindungan Konsumen Nasional melakukan kegiatan uji petik di beberapa kota di Indonesia. Hasil Koordinasi menetapkan 8 (delapan) kelompok produk yang akan disampling dan 2 (dua) SNI bidang jasa dan sistem. Pengambilan sample dilakukan pada produk yang beredar di pasar dan e-commerce. Sedangkan uji petik sistem dan jasa dilakukan dengan penyebaran survei.
Pelaksanakan Uji petik mengacu pada panduan pelaksanaan kegiatan uji petik tahun 2021. Panduan ini dimaksudkan agar pelaksana uji petik memiliki persepsi yang sama dalam pelaksanaan monitoring produk beredar, teknik pengambilan sampel, jenis sampel yang diambil, pengemasan dan pengiriman sampel. Oleh karena itu sebelum pelaksanaan uji petik, BSN melakukan pembekalan kepada pelaksana untuk menginformasikan mengenai panduan pelaksanaan dan persiapan pelaksanaannya.
Panduan monitoring dan uji petik penerapan standar dan penilaian kesesuaian yang disusun mencakup:
1. produk yang SNI-nya telah diberlakukan wajib, yaitu: tepung terigu
2. produk yang SNI-nya diterapkan secara sukarela dan telah mendapatkan sertifikat/Tanda SNI atau mencantumkan tanda SNI pada produk, yaitu: beras, mi instan, abon ikan, cat tembok emulsi, cookware, masker medis, dan masker kain.
Kegiatan monitoring produk dan pengambilan sampel produk dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2021 di 28 kota dan 12 kabupaten di Indonesia, dengan total pengambilan sampel sebanyak 140 merek. Pada tahun 2021 uji petik dilakukan dengan mengambil sample secara langsung di pasar tradisional, pasar modern, dan secara daring dengan melakukan pembelian sampel produk melalui produsen dan e-commerce. Sampel produk uji petik berasal dari Kota Banda Aceh, Kota Medan, Kota Bukittinggi, Kota Palembang, Kabupaten Ogan Ilir, Kota Pekanbaru, Kota Jambi,
2021| Laporan Kinerja Badan Standardisasi Nasional 40
Kabupaten Pringsewu, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Jakarta Utara, Kota Jakarta Barat, Kota Jakarta Pusat, Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Selatan, Kota Depok, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bekasi, Kota Bandung, Kota Semarang, Kabupaten Ungaran, Kota Yogyakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sleman, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Jember, Kabupaten Situbondo, Kota Pontianak, Kota Banjarmasin, Kota Bontang, Kota Banjarbaru, Kota Makassar, Kabupaten Maros, Kota Mataram, dan Kota Ambon.
Tahapan pelaksanaan monitoring dan uji petik untuk SNI barang digambarkan pada gambar III.1
Gambar III.2 Tahapan Pelaksanaan Monitoring dan Uji Petik SNI Barang Tahun 2021 Berdasarkan hasil uji petik barang tahun 2021 tingkat pemenuhan produk terhadap persyaratan mutu dan penandaan SNI mencapai 64,3%, dimana target di tahun 2021 sebesar 55% sehingga capaian dibandingkan dengan target sebesar 116,91%. Rekomendasi hasil uji petik 2021 telah disampaikan kepada stakeholder terkait sebagai berikut:
1. Rekomendasi kepada Kementerian/Lembaga yang memiliki tupoksi pengawasan untuk meningkatkan pengawasan Produk tepung terigu, masker medis, dan masker kain
2. Rekomendasi kepada Kementerian/Lembaga terkait untuk melakukan pembinaan kepada pelaku usaha produk tepung terigu.
3. Rekomendasi kepada unit kerja BSN terkait untuk melakukan kaji ulang SNI untuk produk abon ikan, masker medis, dan masker kain, cookware dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan yg dihadapi oleh pelaku usaha,
4. Rekomendasi kepada KAN untuk mengevalusi kredibilitas dan kinerja LSPro yg diakreditasinya dan mengambil tindakan lain yg diperlukan untuk memastikan
2021| Laporan Kinerja Badan Standardisasi Nasional 41
kredibilitas sertifikat yang diterbitkan terutama untuk ruang lingkup akreditasi SNI produk beras, mi instan, abon ikan, cat tembok emulsi, cookware terhadap SNI.
5. Rekomendasi kepada Unit kerja BSN terkait untuk meningkatkan pembinaan penerapan SNI bagi pelaku usaha terutama pelaku usaha yang memproduksi beras, mi instan, abon ikan, cat tembok emulsi, cookware, masker medis, dan masker kain.
6. Rekomendasi kepada unit kerja BSN yang terkait untuk menganalisis kesulitan pemenuhan persyaratan SNI beras, abon ikan, cat tembok emulsi, masker medis, dan masker kain meminta bersama pelaku usaha terkait.
7. Peningkatan sosialisasi mengenai penandaan SNI ke pelaku usaha terutama untuk produk tepung terigu, beras, mi instan, abon ikan, cat tembok emulsi, cookware, masker medis, dan masker kain.
8. Pemberian apresiasi kepada penerap SNI yang produknya memenuhi SNI melalui surat dan promosi produk tepung terigu, beras, mi instan, abon ikan, cat tembok emulsi, cookware, masker medis, dan masker kain.
9. Penyempurnaan perluasan pengambilan sample pelaksanaan uji petik untuk SNI sektor jasa dan SNI Sistem manajemen, yang mencakup penerap standar dan stakeholder penerima dampak dan manfaat penerapan standar jasa dan sistem manajemen.
Dalam rangka peningkatan kinerja kegiatan uji petik, terdapat beberapa pengembangan dan inovasi yang dilakukan pada tahun 2021, adalah:
1. Efisiensi dan efektifitas penyampaian rekomendasi hasil uji petik per produk.
Pelaksanaan analisa tingkat efektifikas penerapan SNI per produk yang diambil samplenya tanpa menunggu semua sample selesai diuji, dilanjutkan dengan penyusunan dan penyampaian rekomendasi untuk disampaikan kepada stakeholder untuk ditindaklanjuti.
2. Pemberian apresiasi kepada penerap SNI yang produknya memenuhi SNI melalui surat dan promosi produk yang memenuhi SNI di media sosial BSN.
Uji petik penerapan SNI untuk bidang jasa dilakukan terhadap penerapan SNI 8152:2015 Pasar Rakyat dan untuk bidang sistem manajemen terhadap penerapan SNI ISO 37001 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) oleh organisasi/pelaku usaha. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengetahui efektivitas penerapan SNI 8152:2015 Pasar Rakyat dan SNI ISO 37001 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) dengan menggali manfaat penerapan SNI yang diperoleh organisasi/pelaku usaha.
2021| Laporan Kinerja Badan Standardisasi Nasional 42
Selain itu uji petik bidang jasa dan sistem ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi kendala penerapannya untuk penyusunan rekomendasi perbaikan yang diperlukan kepda bagi stakeholder terkait.
Pelaksanaannya dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Desember 2021.
Kegiatan ini diawali dengan sharing knowledge aturan dan penerapan pasar rakyat SNI 8152:2015 dan SNI ISO 37001 yang dihadiri perwakilan Kementerian/Lembaga, KAN, dan narasumber ahli. Metode yang digunakan dalam uji petik SNI bidang sistem dan jasa bersifat cross sectional, dengan pengumpulan data melalui pengisian survei atau kuisioner oleh penerap SNI pasar rakyat dan SMAP dengan media google form.
Selanjutnya dilaksanakan penyebaran kuesioner ke para penerap SNI pasar rakyat dan SMAP. Jumlah responden pasar rakyat sebanyak 4 penerap, sedangkan responden SMAP sebanyak 115 responden.
Tahapan pelaksanaan monitoring dan uji petik untuk SNI jasa dan sistem sebagai berikut.
Gambar III.3 Tahapan Pelaksanaan Monitoring dan Uji Petik SNI Jasa dan Sistem Tahun 2021
Hasil survei Uji petik terhadap penerapan terdapat manfaat yang dirasakan oleh penerap SNI sebagai berikut:
2021| Laporan Kinerja Badan Standardisasi Nasional 43
Tabel III.7 Manfaat Yang DIrasakan Penerap SNI sesuai Hasil Survei Uji Petik
No Manfaat Penerapan SNI
Sistem Manajemen Anti Penyuapan Manfaat Penerapan SNI Pasar Rakyat 1 Kemampuan yang lebih baik dalam
melakukan mitigasi resiko penyuapan Pasar lebih bersih dan tertata dengan baik
2
3 Mampu untuk mendeteksi praktek penyuapan
Peningkatan jumlah pengunjung
4 Jumlah laporan penyuapan mengalami penurunan
Peningkatan jumlah pendapatan pengelola pasar
5
Siap diaudit oleh badan pemeriksa keuangan yang independen setelah mendapatkan sertifikat SNI ISO 37001
Peningkatan omset penjualan pedagang
Sedangkan kendala yang masih dirasakan baik oleh penerap SNI SMAP maupun SNI Pasar rakyat secara umum:
1. Masih rendahnya keterlibatan dan kompetensi SDM dalam penerapan kebijakan dan informasi terdokumentasi.
2. Terbatasnya sumberdaya baik sumberdaya keuangan, jumlah SDM dan infrastruktur,
3. Belum memadainya turunan Sistem dan peraturan perundangan terkait.
4. Masih kurangnya kesadaran pihak eksternal yang terkait untuk mengikuti aturan/sistem yang ditetapkan penerap SNI.
Untuk mengetahui tingkat efektivitas penerapan SNI bidang jasa dan sistem yang lebih komprehensif kedepan akan dilakukan improvement pelaksanaan uji petik dengan:
1. Pemanfaatan klarifikasi pengisian survei dengan zoom meeting.
2. Perluasan responden survei yang terdiri atas penerap SNI, stakeholder penerima dampak atau manfaat dari penerapan SNI.
3. Penguatan basis data dan responden survei melalui pengembangan aplikasi bangbeni.
2021| Laporan Kinerja Badan Standardisasi Nasional 44