Pengukuran capaian kinerja Sekretariat Jenderal berdasarkan sasaran pada Perjanjian Kinerja Sekretariat Jenderal Tahun 2017 dari perspektif proses bisnis internal dapat dilihat pada Tabel 3.5.
a. Mewujudkan Sistem Perencanaan yang Berkualitas
Terdapat Terdapat 3 (tiga) Indikator Kinerja (IK) pada sasaran strategis ini. Realisasi antara dari masing-masing IK dapat dilihat pada tabel di bawah:
Tabel 3.5.
Capaian Sasaran Strategis Mewujudkan Sistem Perencanaan yang Berkualitas
Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Satuan
2015 2016 2017 2018 2019 T R C T R C T R C T T Mewujudka n sistem perencanaa n yang berkualitas Persentase kesesuaian rencana program dan kegiatan prioritas dengan dokumen Trilateral Meeting Persen 90 90 100 90 92,2 102 90 98 108,8 95 95 Persentase anggaran Kementerian Perindustrian yang masuk dalam Catatan Halaman IV Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) atau persentase anggaran Kementerian Perindustrian yang dibintangi akibat kesalahan dalam perencanaan Persen 10 6,21 104,2 15 11,5 130 10 5,03 198,8 5 5 Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kementerian Perindustrian Nilai Belum Dijadikan IKU A (73,90) (75,49) BB 98,5 76 76,34 100,45 77 80 (1) Persentase kesesuaian rencana program dan kegiatan prioritas dengan dokumen
trilateral meeting. Indikator ini digunakan sebagai upaya dalam meningkatkan
kualitas perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan yang memang sesuai dengan kebutuhan dalam rangka pembangunan industri. Indikator kinerja ini diukur dengan melakukan penilaian atas kegiatan yang diajukan oleh seluruh unit kerja di
lingkungan Kementerian Perindustrian. Target indikator ini sama dengan Tahun 2015 yakni 90 (sembilan puluh) persen. Indikator kinerja ini diukur dengan melakukan penilaian capaian kegiatan unit kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian untuk tahun 2018, dimana pelaksanaan penilaiannya dilaksanakan pada tahun 2017.
Hingga akhir Tahun 2017, tingkat kesesuaian rencana kegiatan dengan dokumen perencanaannya adalah 98 persen. Nilai tersebut dihitung berdasarkan 95 kegiatan yang terdapat pada Trilateral Meeting TA 2017 sedangkan yang terdapat pada rencana kegiatan Kementerian pada tahun 2017 adalah sebanyak 94 kegiatan. Berdasarkan Trilateral Meeting yang dilaksanakan pada tahun 2017, Kementerian Perindustrian sesuai Trilateral Meeting dengan Bappenas, dan Kementerian Keuangan memiliki 55 kegiatan prioritas, sedangkan pada RKA-KL Kementerian Perindustrian pada tahun 2018 hanya terdapat 54 kegiatan prioritas. Capaian indikator tingkat kesesuaian rencana program dan kegiatan prioritas dengan dokumen trilateral meeting adalah 98%.Target ini dicapai melalui beberapa tahap kegiatan seperti penilaian dan reviu program/kegiatan.
Berdasarkan capaian dari tahun 2015-2017 yang terus meningkat, diproyeksikan target pada Renstra sampai dengan 2019 dapat tercapai dengan kegiatan-kegiatan yang mendukung pencapaian kinerja ini antara lain adalahpenyempurnaan dokumen perencanaan, danmenyusun Perencanaan Jangka Panjang, Menengah dan Pendek.
(2) Persentase anggaran Kementerian Perindustrian yang masuk dalam Catatan Halaman IV Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) atau persentase anggaran Kementerian Perindustrian yang dibintangi akibat kesalahan dalam perencanaan. Dalam rangka peningkatan kualitas perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan industri maka perlu dilakukan berbagai upaya untuk mencapainya, antara lain penyusunan, penelitian serta pelaksanaan finalisasi program dan kegiatan sehingga dapat mendeteksi program dan kegiatan yang tidak sesuai dari awal. Penyusunan rencana kerja yang baik dan benar dengan mengacu kepada arah kebijakan dan direktif presiden melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional diharapkan dapat
meminimalisir blokir anggaran. Indikator ini dihitung berdasarkan persentase dari anggaran tahun 2018 yang diblokir dibagi total pagu Kementerian Perindustrian. Pemblokiran anggaran menjadi salah satu penyebab tidak maksimalnya penyerapan anggaran. Oleh karena itu, pencapaian target ini didukung oleh berbagai program kegiatan seperti penyempurnaan sistem penganggaran. Program ini merupakan kegiatan yang dilakukan dalam upaya menganalisis, mengevaluasi, memperbaiki serta menyusun perencanaan penganggaran. Penyempurnaan sistem penganggaran ini mencakup peningkatan kualitas koordinasi dan jejaring yang dilaksanakan melalui rapat kerja serta rapat koordinasi dalam penyusunan rencana penganggaran.
Pada tahun 2017, Sekretariat Jenderal melalui Biro Perencanaan telah melaksanakan penelitian dan reviu RKA-K/L TA 2018 dan RKA-K/L RAPBN-P TA 2017 yang diikuti oleh setiap unit kerja di Lingkungan Kementerian Perindustrian. Disamping itu juga dilaksanakan rapat pembahasan penghematan dan pemotongan anggaran belanja Kementerian Perindustrian TA 2017.Target sasaran strategis ini adalah 10 persen. Realisasi untuk indikator ini adalah 5.03 persen sehingga capaian indikator ini setelah dihitung hingga akhir tahun 2017 adalah 198,8 persen. Upaya pencapaian realisasi antara untuk indikator kinerja ini dilakukan melalui 1) Menyusun RKA-KL RAPBN Tahun 2018; 2) Penelaahan dan reviu RKAKL RAPBN Tahun 2018 dan 3) Penelaahan ADIK Tahun 2018.
Anggaran Kementerian Perindustrian pada tahun 2018 sebesar Rp. 2.827.854.207.000 dan anggaran yang bintangi akibat kesalahan dalam perencanaan sebesar Rp. 142.140.962.000 (5.03%). Target ini dapat dicapai melalui kegiatan penelitian dan reviu RKA-K/L TA 2018. Beberapa penyebab anggaran masuk dalam Catatan Halam IV DIPA atau dibintangi akibat kesalahan dalam perencanaan, antara lain data dukung yang kurang lengkap, proporsi anggaran yang kurang tepat, penelahaan dilakukan secara online dan waktu yang singkat, mengakibatkan penjelasan pada waktu pendalaman terhadap kegiatan-kegiatan yang disampaikanbelum maksimal, serta adanya Inpres No.4 tahun 2017, yang mengatur bahwa belanja barang pada tahun 2018 tidak boleh melebihi belanja barang tahun 2017. Dengan melihat capaian selama tahun 2015-2017 dan masukan terhadap perencanaan, target sampai dengan 2019 diharapkan dapat tercapai.
(3) Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kementerian Perindustrian. Predikat ini diperoleh dari hasil evaluasi akuntabilitas kinerja atas implementasi SAKIP Tahun 2016/2017 di Kementerian Perindustrian yang dilaksanakan oleh tim auditor Kementerian PAN dan RB. Terdapat 5 (lima) aspek yang dinilai dalam evaluasi SAKIP, yaitu sebagai berikut.
• Aspek perencanaan, komponen-kompenen yang dievaluasi antara lain: (1) perencanaan strategis; (2) perencanaan kinerja; (3) penetapan kinerja; dan keterpaduan serta keselarasan diantara subkomponen tersebut.
• Aspek pengukuran kinerja, komponen-komponen yang dievaluasi adalah: (1) indikator kinerja secara umum dan indikator kinerja utama (IKU), (2) pengukuran,serta (3) analisis hasil pengukuran kinerja.
• Aspek pelaporan kinerja, yang dinilai adalah ketaatan pelaporan, pengungkapan dan penyajian, serta pemanfaatan informasi kinerja guna perbaikan kinerja. • Aspek evaluasi kinerja, yang dinilai adalah pelaksanaan evaluasi kinerja dan
pemanfaatan hasil evaluasi. • Capaian kinerja.
Dalam rangka peningkatan capaian indikator ini juga telah dilaksanakan kegiatan penilaian kinerja unit kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian, dimana salah satu komponen penilaiannya adalah implementasi SAKIP dengan indikator penilaian komponen ini adalah nilai hasil evaluasi akuntabilitas kinerja (SAKIP).
Target nilai SAKIP Kementerian Perindustrian tahun 2016/2017 ini adalah dengan nilai 76, yang didapatkan melalui assessment oleh Kementerian PAN dan RB. Adapun nilai SAKIP Kementerian Perindustrian Tahun 2016 di tahun 2017 setelah melewati proses penilaian oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menghasilkan nilai 76,34. Ini berarti capaian kinerja untuk tahun 2017 adalah 100,45 persen.Kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangka mencapai target nilai SAKIP tersebut antara lain adalah diseminasi SAKIP, workshop Penyiapan Dokumen Akuntabilitas Kinerja, dan pelaksanaanReviu atau Evaluasi SAKIP Kemenperin.Dengan melihat capaian selama tahun 2015-2017 dan masukan terhadap perencanaan, target sampai dengan 2019 diharapkan dapat tercapai.
b. Layanan administrasi yang profesional dan akuntabel.
Sasaran strategis Sekretariat Jenderal tahun 2017 berupa layanan admistrasi yang professional dan akuntabel dengan capaian indikator sebagai berikut:
Tabel 3.6.Capaian Sasaran Strategis Layanan Administrasi yang Profesional dan Akuntabel
Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Satuan
2015 2016 2017 2018 2019 T R C T R C T R C T T Layanan administras i yang profesional dan akuntabel Tingkat akuntabilitas laporan keuangan dan BMN Nilai Capaian Standar Tertinggi 100 Capaian Standar Tertinggi 100 Capaian Standar Tertinggi 100 Capaian Standar Tertinggi Persentase nilai BMN Kementerian Perindustrian yang ditetapkan status penggunaannya Persen Belum Dijadikan IK 10 16.5 11 11 26,56 241,45 12 13
Nilai hasil audit
kearsipan Nilai Belum Dijadikan IK Belum Dijadikan IK 70 70 100 75 80 Persentase
pemberitaan negatif sektor industri
Persen Belum Dijadikan
IK 9 0.1 9000 8 0.6 1333,33 7 6
Terdapat 4 (empat) Indikator Kinerja pada sasaran strategis layanan administrasi yang profesional dan akuntabel ini. Realisasi antara dari masing-masing IK adalah sebagai berikut:
(1) Tingkat Akuntabilitas Laporan Keuangan dan BMN merupakan tingkat kualitas laporan keuangan dan BMN yang dipublikasikan oleh Kementerian Keuangan. Hasil publikasi oleh Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa tingkat akuntabilitas laporan keuangan dan BMN Kementerian Perindustrian memperoleh capaian standar tertinggi.
Untuk mencapai sasaran tersebut, layanan laporan keuangan Sekretariat Jenderal melalui Biro Keuangan telah melakukan pembinaan dan monitoring Laporan Keuangan dan BMN Kementerian Perindustrian serta Penataan Tertib Administrasi dan Pengelolaan Barang Milik Negara secara terus menerus. Biro Keuangan juga melakukan kordinasi danpenyusunan Laporan Keuangan dan BMN baik tingkat Eselon I Sekretariat Jenderal, maupun tingkat Kementerian.
Capaian Standar Tertinggi diberikan kepada Kementerian/Lembaga yang berhasil menyajikan Laporan Keuangan dengan kualitas opini Wajar Tanpa Pengecualian. Untuk tahun 2017, Biro Keuangan telah menerima penghargaan Capaian Standar Tertinggi untuk Laporan Keuangan Kementerian Perindustrian Tahun 2016. Kementerian Perindustrian yang telah mendapatkan opini Wajar Tanpa
x 100%
x 100%
Pengecualian (WTP) selama 9 kali berturut-turut sejak tahun 2008 juga mendapatkan predikat Capaian Standar Tertinggi sebanyak 3 kali.
Realisasi kinerja dari indikator ini sampai akhir tahun 2017 adalah capaian standar atas tingkat akuntabilitas laporan keuangan dan BMN. Sehingga capaian kinerja untuk indikator ini adalah 100 persen. Kegiatan yang dilakukan dalam mendukung indikator kinerja tersebut adalah dengan melakukan penyusunan laporan keuangan dan BMN Tahun 2017 tingkat Sekretariat Jenderal dan Kementerian serta dengan melakukan finalisasi penilaian laporan keuangan Satker di lingkungan Kemenperin. Tingkat akuntabilitas laporan keuangan dan BMN dengan target nilai capaian standar tertinggi dan tercapai 100%. Berdasarkan target yang tercapai selama tahun 2015-2017, diharapkan sampai dengan tahun 2019, Kementerian Perindustrian terus mempertahankan kinerja sehingga target Capaian Standar Tertinggi untuk Laporan Keuangan Kementerian Perindustrian dapat tercapai.
(2) Persentase nilai BMN Kementerian Perindustrian yang ditetapkan status penggunaannya. Indikator ini menunjukkan tingkat ketertiban administrasi pengelolaan BMN di lingkungan Kementerian Perindustrian, dengan target 11%. Realisasi kinerja dari indikator ini dilihat melalui persentase nilai penetapan status penggunaan BMN. Nilai persentase diperoleh melalui perbandingan nilai BMN yang telah ditetapkan statusnya dengan nilai sisa BMN yang belum ditetapkan statusnya. Realisasi capaian IK ini adalah 26,56 persen dari target sebesar 11 persen. Sehingga capaian kinerja untuk indikator ini adalah 241,45 persen. Aset tetap meliputi tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, irigasi, jaringan, aset tetap lainnya dan konstruksi dalam pengerjaan (PP 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah). Data aset tetap yang belum ditetapkan statusnya per 31 Desember 2016 adalah sebesar Rp. 4.999.671.582.269,-. Realisasi = Σ Nilai BMN yang telah ditetapkan statusnya Σ Nilai Sisa BMN yang belum ditetapkan statusnya = Rp. 1.328.211.193.743 Rp. 4.999.671.582.269 = 26,56%
Realisasi Penetapan Status penggunaan BMN Kementerian Perindustrian per Desember 2017 adalah sebesar Rp. 1.328.211.193.743,- dari total aset yang belum ditetapkan statusnya sebesar Rp. 4.999.671.582.269,- atau sebesar 26,56% dengan rincian:
1. Penetapan Status Penggunaan BMN yang telah ditetapkan Pengguna Barang sebesar Rp. 148.180.602.217,-
2. Penetapan Status Penggunaan BMN yang telah ditetapkan Pengelola Barang sebesar Rp. 1.180.030.591.526,-
Capaian indikator kinerja ini adalah sebesar 241,45% dari target yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan beberapa hal antara lain :
1. Adanya penyelesaian Penetapan Status Penggunaan (PSP) gedung dan bangunan yang sebelumnya diprediksi tidak selesai pada tahun 2017. Hal ini tidak terlepas dari koordinasi yang dilakukan Biro Keuangan serta kecepatan Kementerian Keuangan dalam memproses PSP yang diusulkan Kementerian Perindustrian.
2. Pelaksanaan sosialiasi serta monitoring terkait pemanfaatan BMN guna meningkatkan kesadaran satuan kerja untuk mengusulkan penggunaan status aset yang dimiliki. Sehingga satker/unit kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian lebih giat dalam pengusulan PSP.
3. Pemutakhiran data BMN Kementerian Perindustrian yang telah ditetapkan status penggunaannya sehingga Biro Keuangan dapat memetakan potensi PSP di ingkungan Kementerian Perindustrian.
Kegiatan yang telah dilaksanakan dalam mendukung capaian meliputi
• Penatausahaan penggunaan, pemanfaatan,pemindahtanganan dan penghapusan BMN di lingkungan Kemenperin;
• Monitoring data penggunaan, pemanfaatan, pemindahtanganan dan penghapusan BMN di lingkungan Kemenperin;
• Sosialisasi aplikasi SIMAK BMN dan e-BMN.
Berdasarkan capaian tahun 2015-2017 yang menunjukkansemakin banyak BMN yang sudah ditetapkan status penggunaannya, target sampai dengan tahun 2019 diharapkan dapat terus tercapai. Target persentase nilai BMN Kementerian Perindustrian yang ditetapkan status penggunaannya meningkat pada tahun 2018 adalah 12 persen dan pada tahun 2019 adalah sebesar 13 persen. (3) Nilai hasil audit kearsipan. Realisasi dari indikator kinerja ini sampai dengan akhir tahun 2017 adalah 70 persen sama dengan target kinerja yang direncanakan yaitu 70 persen sehingga capaian kinerja untuk IK ini adalah 100 persen. Realisasi antara
untuk capaian IK ini dilakukan dengan pelaksanaan bimbingan teknis pembinaan dan pengawasan tata kelola arsip di masing-masing satker. Indikator nilai hasil audit kearsipan dengan nilai hasil audit kearsipan yang dilakukan oleh ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) diperoleh nilai 70. Berdasarkan rekomendasi hasil audit, aspek yang masih perlu ditingkatkan utamanya adalah aspek penyusutan arsip, bahwa masih terdapat unit kerja yang belum melaksanakan pemindahan arsip inaktif kepada Unit Kearsipan I (Biro Umum). Selain itu, pada aspek kelembagaan, perlu dibuat pengaturan Unit Kearsipan (UK) berjenjang, mulai dari UK I sampai dengan UK III, serta mengingat rentang kendali organisasi yang cukup besar, perlu penggantian struktur organisasi kearsipan menjadi Bagian Arsip, terdiri dari : (a) Sub Bagian Persuratan, (b) Sub Bagian Pengelolaan Arsip Inaktif, dan (c) Sub Bagian Pembinaan dan Pengawasan Kearsipan.
Target kinerja dari indikator ini terus meningkat pada tahun 2018 dan 2019 yaitu 75 persen dan 80 persen. Dengan menindaklanjuti hasil audit oleh ANRI diharapkandapat meningkatkan tata kelola arsip di masing-masing satker sehingga target yang ditetapkan dapat dicapai.
(4) Persentase pemberitaan negatif sektor industri. Indikator ini merupakan penilaian terhadap kinerja dari pemberitaan yang dilakukan oleh Sekretariat Jenderal melalui Biro Hubungan Masyarakat. Pengukuran dilakukan dengan melakukan monitor terhadap pemberitaan oleh media massa tentang Kementerian Perindustrian. Realisasi capaian indikator kinerja ini dapat tercapai dengan melakukan 1) Monitoring dan Analisa Berita Sektor Industri; 2) Pembuatan Kumpulan Sektor Industri; 3) Pemberitaan di Media Online; 4) Koordinasi Pemberitaan Sektor Industri; 5) Diskusi Pimpinan dengan Media Massa dan6) Publikasi Kinerja Industril di Media Massa.Tahun 2017, Sekretariat Jenderal menetapkan target untuk indikator ini sebesar 8 % Pemberitaan negatif Sektor Industri di Media Massa. Maksud dari indikator ini adalah pemberitaan negatif yang dimuat di media massa terkait dengan kinerja KementerianPerindustriantidak boleh melampaui 8 % dari total pemberitaan. Persentase berita negatif merupakan penilaian terhadap kinerja dari pemberitaan yang dilakukan oleh Sekretariat Jenderal melalui Biro Hubungan Masyarakat.Pengukuran dilakukan dengan melakukan monitoring terhadap pemberitaan di media massa tentang berita-berita kinerja Kementerian Perindustrian selama1 (satu) tahun. Total pemberitaan tahun 2017 sebanyak 31.058
artikel di berbagai media massa.Adapun jenis media yang dilakukan monitoring oleh Sekretariat Jenderal melalui Biro Hubungan Masyarakat antara lain:
Tabel 3.7.Pemberitaan Sektor Industri di Media Massa
No Kategori Media Total Pemberitaan
1 Internet 13.831 2 Majalah 186 3 Koran Nasional 13.293 4 Koran Lokal 2.806 5 Televisi 937 6 Radio 5 Gambar 3.1.
Berdasarkan data diatas artikel terkait industri paling banyak muncul di media internet dan koran nasional, ini disebabkan cepatnya penyebaran berita/informasi di dunia digital. Terjadinya pergeseran penggunaan media dari cetak ke digital dan banyaknya media digital yang berkembang di Indonesia. Untuk pemberitaan koran nasional disebabkan dekatnya lokasi akses informasi dengan pusat media. Akses informasi ini maksdunya lokasi kantor pusat Kementerian Perindustrian dengan kantor pusat koran-koran nasional.
Selama tahun 2017. banyak topik terkait sektor industri yang di bahas di berbagai media massa. Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian melalui Biro Hubungan Masyarakat melakukan pemetaan dan membuat ranking 15 isu yang paling banyak di bahas. Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini: Gambar 3.2. Berdasarkan data pada grafik diatas, dapat dilihat tahun 2017 isu/topik yang paling banyak mendapat perhatian adalah isu vokasi industri. Ini sejalan dengan banyaknya program dan kebijakan terkait vokasi industri yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian. Program dan kebijakan vokasi industri ini juga mendapat perhatian dari Presiden dengan ikut serta pada peluncuran dan link and match vokasi industri. Selain itu Wakil Presiden, Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pendidikan juga ikut serta dalam beberapa pelaksanaan peluncuran dan link and match vokasi industri.
Tahun 2017, Sekretariat Jenderal Kementerian Perindustrian melalui Biro Hubungan Masyarakat melakukan monitoring dan evaluasi pemberitaan dimedia massa dengan pembagian 3 jenis pemberitaan. Pemberitan positif, pemberitan netral dan pemberitaan negatif. Untuk lebih detailnya dapat dlihat pada grafik di bawah ini:
Gambar 3.3.
Melihat dari data tersebut pada tahun 2017 persentase berita negatif mengenai Kementerian Perindustrian hanya sebesar 0.6 % atau 171 artikel dari 31.058 artikel. Pada Renstra Sekretariat Jenderal, pada tahun 2018 dan 2019 indikator ini adalah 7 persen dan6 persen. Hal ini menunjukkan Sekretariat Jenderal melalui Biro Humas terus berusahadan melakukan strategi yang lebih baik agar pemberitaan negatif Kementerian Perindustrian dapat semakin menurun. Berdasarkan capaian sampai dengan tahun 2017, diharapkan target 2018 dan 2019 dapat terus tercapai. c. Layanan hukum dan organisasi yang andal Terdapat 3 (tiga) indikator kinerja pada sasaran strategis layanan hukum dan organisasi, yaitu sebagai berikut: Tabel 3.8. Capaian Sasaran Strategis Layanan Hukum dan Organisasi yang Andal Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Satuan
2015 2016 2017 2018 2019 T R C T R C T R C T T Layanan hukum dan organisasi yang andal Persentase peraturan perundang-undangan bidang industri yang diundangkan Persen Belum Dijadikan IK 95 73,17 95 95 95,65 100.68 95 100 Persentase kasus hukum yang diselesaikan Persen Belum
Dijadikan IK Belum Dijadikan IK 80 83.33 104.16 90 95
Tingkat efektivitas organisasi
Kementerian
Persen Belum
(1) Persentase peraturan perundang-undangan bidang industri yang diundangkan, dengan target sebesar 95 persen. Persentase ini didapatkan dengan menghitung perbandingan antara peraturan Menteri Perindustrian yang ditetapkan dengan yang diundangkan. Realisasi pada tahun 2017 adalah 95,65 atau lebih tinggi dari target yang direncanakan sehingga capaian untuk indikator ini adalah 100,68 persen. Pada tahun 2017, Biro Hukum dan Organisasi telah mengundangkan 44 Peraturan Menteri Perindustrian dari 46 Peraturan Menteri Perindustrian yang ditetapkan, 2 (dua) Peraturan Menteri tersebut adalah Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 03/M-IND/PER/1/2017 tentang Pedoman Pembinaan Dan Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan Berbasis Kompetensi yang Link And Match Dengan Industri dan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 37/M-IND/PER/10/2017 tentang Pencabutan Peraturan Menteri Perindustrian No.64/M-IND/PER/8/2015 tentang Pendelegasian Kewenangan Menteri Perindustrian Selaku Pengguna Barang Kepada Pejabat Struktural Di Lingkungan Kementerian Perindustrian Dalam Rangka Administrasi Pengelolaan Barang Milik Negara Kementerian Perindustrian.
Berdasarkan capaian sampai tahun 2017, diharapkan target pada Renstra Sekretariat Jenderal terkaitpersentase peraturan perundang-undangan bidang industri yang diundangkansampai dengan tahun 2019 dapat terus tercapai.
(2) Persentase kasus hukum yang diselesaikan. Indikator ini dihitung berdasarkan permintaan konsultasi dan advokasi hukum yang terlayani. Realisasi kinerja untuk indikator ini didapatkan dengan menghitung perbandingan antara kasus hukum yang ditangani dengan yang diselesaikan Sampai akhir tahun 2017, kasus hukum yang bisa diselesaikan adalah 83,3 persen dari seluruh kasus yang ditangani. Sehingga capaian untuk indikator ini adalah sebesar 104.16 persen.
Pada tahun 2017, Biro Hukum dan Organisasi melayani permintaan konsultasi dan advokasi hukum terhadap 6 pendampingan permasalahan hukum dan 1 kasus Litigasi yang terselesaikan, namun ada 1 kasus litigasi yang belum selesai dikarenakan menunggu proses putusan dari pengadilan.
Rincian kasus tersebut adalah sebagai berikut: 1) Pendampingan PT Barata Indonesia
2) Pendampingan CV Supra Ideal 3) Pendampingan PT Gunung Raja Paksi
4) Pendampingan Pengusaha Perorangan 5) PT Indo Bharat Rayon
6) Perkara Peninjauan Kembali atas Putusan Kasasi Mahkamah Agung Nomo 3520/K/PDT/2015
7) Perkara Banding atas Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nomor 57/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Tim
Berdasarkan capaian sampai tahun 2017, diharapkan target pada Renstra Sekretariat Jenderal terkait persentase kasus hukum yang diselesaikan sampai dengan tahun 2019 dapat terus tercapai.
(3) Tingkat efektivitas organisasi Kementerian, dengan target sebesar80 persen. Kinerja dari indikator ini dihitung dengan melakukan perbandingan antara perkerjaan tugas pokok dan fungsi dengan perkerjaan non tugas pokok dan fungsi yang dilaporkan pegawai di laporan kinerja harian. Realisasi kinerja tahun 2017 untuk indikator ini adalah 80,5 persen sehingga capaian untuk indikator ini adalah 100,64 persen.
Tingkat efektivitas organisasi Kementerian Perindustrian dihitung berdasarkan perbandingan presentase tugas dan fungsi dengan tugas non tugas dan fungsi dari setiap pegawai di Kementerian Perindustrian yang diiisi melalui aplikasi kinerja di intranet.kemenperin.go.id. Kemudian data tersebut diolah menjadi data tingkat efektivitas organisasi Kementerian.
Untuk indikator tingkat efektivitas organisasi Kementerian, target pada tahun 2018 meningkat menjadi 85 persen dan 90 persen pada tahun 2019. Berdasarkan capaian sampai tahun 2017, diharapkan target pada Renstra Sekretariat Jenderal terkait persentase kasus hukum yang diselesaikan sampai dengan tahun 2019 dapat terus tercapai.
d. Tata kelola Barang Milik Negara (BMN) Kementerian yang efektif dan efisien Terdapat 2 (dua) Indikator Kinerja pada sasaran strategis ini, yaitu sebagai berikut: Tabel 3.9.Capaian Sasaran Strategis Tata kelola Barang Milik Negara (BMN) Kementerian
yang Efektif dan Efisien
Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Satuan
2015 2016 2017 2018 2019 T R C T R C T R C T T Tata kelola Barang Milik Negara (BMN) Kementerian yang efektif dan efisien Persentase sarana-prasarana yang dapat dimanfaatkan Persen Belum Dijadikan IK 95 92.5 97.36 95 95 100% 95 95 Persentase penurunan konsumsi energi Persen Belum Dijadikan IK 10 6.53 65.30% 7 7,06 100.86% 7.5 8
(1) Persentase sarana-prasarana yang dapat dimanfaatkan. Capaian IK ini berkaitan dengan kegiatan perawatan/pemeliharaan/perbaikan gedung/bangunan dan utilitas (peralatan) gedung. Realisasi kinerja dari indikator ini didapatkan dengan membandingkan sarana-prasarana yg ada dengan sarana-prasarana yang dapat dimanfaatkan. Apabila sedang ada kerusakan/permasalahan dan sedang dalam perbaikan, maka artinya sarpras tersebut tidak dapat dimanfaatkan. Sampai dengan akhir tahun 2017, realisasi kinerja dari indikator ini adalah 94 persen, yang lebih rendah dari target kinerja untuk indikator ini. Tidak tercapainya target kinerja yang ditetapkan dikarenakan ada perbaikan yang membutuhkan waktu lebih lama dari yang seharusnya, seperti penggantian suku cadang lift yang menggunakan sistem