• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran Terpenuhinya Ketahanan Pangan Masyarakat

2017 ditetapkan sebagai Kabupaten Kreatif oleh

8. Sasaran Terpenuhinya Ketahanan Pangan Masyarakat

Sesuai

dengan Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2015 – 2019, pembangunan sektor pertanian mengacu pada Paradigma Pertanian untuk Pembangunan (Agriculture for Development) yang memposisikan sektor pertanian sebagai penggerak transformasi pembangunan yang berimbang dan menyeluruh mencakup transformasi demografi, ekonomi, intersektoral, spasial, institusional, dan tatakelola pembangunan. Paradigma tersebut memberikan arah bahwa sektor pertanian mencakup berbagai kepentingan yang tidak saja untuk memenuhi kepentingan penyediaan pangan bagi masyarakat tetapi juga kepentingan yang luas dan multifungsi.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah, Kabupaten Bantul menempatkan pertanian dalam mendukung pencapaian ketahanan pangan melalui sasaran terpenuhinya ketahanan pangan masyarakat merupakan pelaksanaan dari Misi 3 “Mewujudkan kesejahteraan masyarakat difokuskan pada percepatan pengembangan perekonomian rakyat dan pengentasan kemiskinan”.

a. Pertumbuhan produksi daging (sapi, kambing, domba, kuda, unggas)

Pertumbuhan produksi daging (sapi, kambing, domba, kuda, unggas) menunjukkan keberhasilan, dimana pada tahun 2019 capaian kinerjanya tercapai 196,25% dari target yang telah ditetapkan atau masuk dalam kriteria Sangat Tinggi. Dari target 0,8%, realisasi tahun 2019 menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi daging mencapai 1,57%. Pencapaian ini telah menyumbangkan sebesar 157% dibandingkan dengan target capaian pada akhir RPJMD tahun 2021, yang dapat diartikan sebagai indikasi pencapaian target pada akhir RPJMD. Produksi daging pada tahun 2019 meningkat sebesar 1,5 % dari sebesar 14.855,73 ton pada tahun 2018 menjadi 15.088,32 ton.

Peningkatan produksi hasil peternakan menjadi sebuah tuntutan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Pada tahun 2019 terjadi kenaikan produksi daging. Produksi Daging pada tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar 1,54%. Peningkatan produksi daging ini didukung oleh adanya peningkatan populasi ternak yang dilaksanakan guna mendukung swasembada daging yang dicanangkan Pemerintah Pusat dengan program UPSUS SIWAB (upaya khusus sapi indukan wajib bunting). Program ini berlangsung sejak Tahun 2017 dan di tahun 2019, Kabupaten Bantul memperoleh target akseptor dari program ini sebanyak 27.000 dosis, target bunting 18.900 ekor dan lahir 15.120 pedet Dari target tersebut diperoleh realisasi akseptor sebanyak 37.258 (138%), bunting 20.732 (110%), dan lahir 16.492 (109%).

b. Pertumbuhan produksi tanaman pangan

Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 19 tahun 2019 tentang perubahan Peraturan Daerah nomor 11 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2016-2021, produksi tanaman pangan merupakan penjumlahan dari produksi padi, jagung, kedelai yang merupakan tanaman pangan utama yang ada di Kabupaten Bantul.

Pertumbuhan produksi tanaman pangan kinerjanya tercapai 3757% dari target yang telah ditetapkan, masuk dalam kriteria kinerja Sangat Tinggi. Dari target 0,102%, realisasi tahun 2019 menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi tanaman pangan mencapai 3,83%.

Pencapaian ini telah menyumbangkan sebesar 3718 % dibandingkan dengan target capaian pada akhir RPJMD tahun 2021, yang bisa diartikan sebagai indikasi pencapaian target pada akhir RPJMD. Berikut adalah tabel lengkap dari luas tanam, produksi dan produktivitas dari ketiga komoditas tersebut.

Pada tahun 2019 terjadi penurunan produksi padi sebesar 0.05 % atau turun sebesar 94 ton dibandingkan tahun 2018. Dari produksi padi sebesar 188.183 ton GKG menjadi 188.089 ton GKG. Penurunan produksi padi tahun 2019 ini disebabkan adanya kemarau yang cukup panjang. Produksi jagung pada tahun 2019 adalah 34.903 ton sedangkan tahun 2018 adalah 26.086 ton sehingga bisa dikatakan produksi jagung mengalami kenaikan yaitu sebesar 25,28 % atau naik sebesar 8.823 ton dibandingkan tahun 2018. Walaupun begitu, terjadi penurunan produktivitas yang disebabkan karena kekurangan air terutama masa pertumbuhan biji yang berakibat pada berkurangnya ukuran tongkol.

Tabel. 3.B.13. Rencana dan Realisasi Capaian Sasaran Terpenuhinya Ketahanan Pangan Masyarakat

No Indikator Kinerja Utama Capaian 2018

2019 1. Pertumbuhan produksi daging (sapi,

kambing, domba, kuda, unggas)

0,71 0,8 1,57 196,25 1 157 Sangat Tinggi

2. Pertumbuhan produksi tanaman pangan

0,13 0,1020 3,8330* 3757 0,103 3721 Sangat Tinggi

3. Pertumbuhan produksi tanaman hortikultura

0,85 1,08 1,09* 100,92 1,125 96,89 Sangat Tinggi

4. Pertumbuhan produksi tanaman perkebunan

0,24 0,25 0,57 228 0,35 162,86 Sangat Tinggi

Sumber : Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan, 2020, data diolah *)Data sementara

Selain tanaman padi, komoditas yang termasuk tanaman pangan adalah palawija. Palawija unggulan Kabupaten Bantul antara lain jagung, dan kedelai. Produksi kedelai, pada tahun 2019 ini juga mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018. Penurunanan produksi kedelai mencapai 23,26 % atau 438 ton. Penurunan ini di sebabkan karena faktor panjangnya musim kemarau selama tahun 2019, sehingga mengalami kemunduran tanam , dimana petani sudah menyiapkan benih siap tanam, tetapi hujan tidak kunjung turun. Faktor air yang menjadi sumber kehidupan tanaman kedelai dimana dibutuhkan pada saat masa pengisian polong tetapi tanaman kekurangan air , jadi pengisian polong tidak penuh sehingga menyebabkan produktivitas kedelai menurun.

Upaya yang dilakukan demi peningkatan produktivitas ini diantaranya dengan penyediaan berbagai prasarana dan sarana pertanian (seperti pembangunan saluran irigasi), pelatihan dan pendampingan kepada kelompok tani mulai dari on farm sampai dengan off farm, pengawasan peredaran pupuk dan pestisida serta pengendalian hama dan organisme penggangu tanaman (OPT). Pada tahun 2019 kabupaten Bantul paling rendah mengalami serangan OPT dibandingkan dengan Kabupaten lain di DIY sehingga terhindar dari terhindar dari gagal panen dan produktifitas bisa meningkat tajam.

Selain itu, dukungan terhadap penyediaan benih berkualitas senantiasa dilakukan oleh UPT Balai Benih Pertanian (BBP). Pada tahun 2019, UPT BBP mampu memproduksi benih padi sebanyak 14,700 ton terdiri dari benih dasar (BD) dan benih pokok (BP), benih yang siap dipasarkan, sebagai berikut :

Pada tahun 2019 terdapat 9 kelompok penangkar benih padi. Total luasan yang dikelola oleh kelompok penangkar seluas 18,5 ha, yang merupakan total luasan dalam satu kali musim tanam. Kelompok agribisnis penangkar yang bekerjasama dengan UPT Balai Benih Pertanian melakukan tanam benih padi tiga kali dalam setahun.

Pada tahun 2019, Inovasi dan Teknologi SIPERKASA (Sistem Penjemuran Karya Santoso) yang dikembangkan oleh Kepala UPT BBP (Budi Santoso, SP., MMA.) mendapatkan memenangkan penghargaan TOP 45 INOVASI PELAYANAN PUBLIK dari Kementrian PANRB. SIPERKASA ini bisa diaplikasikan oleh para petani dalam menangani masalah pascapanen khususnya dalam penjemuran karena alat ini fleksibel, efektif, efisien dan ekonomis. Sistem ini bisa diterapkan di mana saja baik di halaman rumah, pekarangan, di sawah, di kebun sehingga petani dalam menjemur tidak di jalan umum yang tentunya mengganggu kepentingan umum. Bahan bakunya pun mudah didapatkan dari lingkungan sekitar.

Gambar. Bp Budi Santoso, SP., MMA dengan Teknologi SIPERKASA (Atas); Gelar Potensi Peternakan Kab. Bantul 2019 (Kanan)

3. Pertumbuhan produksi tanaman hortikultura

Tanaman hortikultura terdiri dari tanaman sayuran dan buah-buahan. Produksi tanaman hortikultura pada indikator ini merupakan penjumlahan dari produksi bawang merah, cabai merah dan pisang sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 11 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2016-2021.

Pertumbuhan produksi tanaman hortikultura menunjukkan keberhasilan, dimana pada tahun 2019 capaian kinerjanya tercapai 100,92 % dari target yang telah ditetapkan, masuk dalam kriteria kinerja Sangat Tinggi.

Produksi Tanaman Hortikultura pada tahun 2019 meningkat sebesar 1,07 % dari sebesar 15.635,3 ton pada tahun 2018 menjadi 15.805,41 ton di tahun 2019. Pencapaian ini telah menyumbangkan sebesar 96,89 % dibandingkan dengan target capaian pada akhir RPJMD tahun 2021, yang bisa diartikan sebagai indikasi pencapaian target pada akhir RPJMD.

Data luas panen, produksi dan produktivitas tanaman hortikultura dapat dilihat pada Tabel Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Pangan Tahun 2017 - 2019

Gambar: (Atas) Gerakan Panen Jagung bersama Bupati Bantul di Srigading; (Bawah) Panen Padi di Kawasan Minapadi, Ngebleng, Tamanan, Banguntapan

68 Laporan Kinerja2019 69

Kabupaten

Tabel 3.B.14. Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Pangan Tahun 2017 - 2019

No. Komoditas Uraian Tahun

Keterangan

2017 2018 2019*

1 Padi Sawah Luas Panen 29.981 31.182,3 29.524 Ha

Produktivitas (GKG) 60,85 60,06 63,56 ku/ha

Produksi (GKG ) 190144 187.285 187.655 Ton

Produksi beras 119.296,3 120.099 Ton

2 Padi Ladang Luas Panen 45 197 23 Ha

Produktivitas (GKG) 35,75 45,56 50,10 ku/ha

Produksi (GKG ) 176 898 115 Ton

Produksi beras 110 575 73.6 Ton

3 Padi Luas Panen 30.026 31.379,3 29.597 Ha

Produktivitas (GKG) 63,39 59,97 63,55 ku/ha

Produksi (GKG ) 190.320 188.183 188.089 Ton

Produksi beras 119.407 120.474,757 120.377 Ton

4 Jagung Luas Panen 3.283 3.565,1 4.934 Ha

Produksi (pipilan) kering)

24.222 26.086 34.903 Ton

Produktivitas 73,78 73,17 70,74 ku/ha

5 Kedelai Luas Panen 969 1.213,6 909 Ha

Produksi (wose kering)

1.325 1.883 1.445 Ton

Produktivitas 13,67 15,52 15,90 ku/ha

Sumber: Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan, 2019 (*Angka Sementara)

Bawang merah mengalami peningkatan produksi yang cukup signifikan sebesar 18,14 % atau 1.447,2 ton. Kenaikan produksi ini terjadi karena terdapat peningkatan produktifitas sebesar 9,9 %. Peningkatan produksi ini karena adanya bantuan benih dan pupuk serta penerapan sistem tata tanam tepat. Akan tetapi, Produksi cabai merah mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu dari 1.752,6 ton pada tahun 2018 menjadi 1.166,41 ton pada tahun 2019. Penurunan produksi ini disebabkan penurunan produktifitas sebesar 18,37%. Selain itu, pisang juga mengalami penurunan produksi sebesar 11,7 % dari produksi sebesar 5.902,90 ton pada tahun 2018 menjadi 5.211,40 ton pata tahun 2019.

Penurunan produksi cabe dan pisang ini dipengaruhi oleh cuaca iklim yang tidak mendukung produksi dimana pada tahun 2018 bulan kering lebih panjang dari bulan basah sehingga mengganggu pertumbuhan kedua komoditas. Kemarau panjang mengakibatkan pohon pisang kekurangan air sehingga mengganggu pertumbuhan dan pemasakan buah. Akibatnya produksi pisang juga ikut menurun. Sementara itu, kemarau panjang menyebabkan kekurangan air yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan Cabe. Akibatnya tanam Cabe menurun sebesar 25,87 % dari 402 Ha pada tahun 2018 menjadi 298 Ha pada tahun 2019.

4. Pertumbuhan produksi tanaman perkebunan

Komoditas perkebunan yang menjadi andalan di Kabupaten Bantul antara lain:

tembakau, mete, tebu dan kelapa sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 11 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2016-2021. Pertumbuhan produksi tanaman perkebunan kinerjanya tercapai 228% dari target yang telah ditetapkan, masuk dalam kriteria kinerja Sangat Tinggi. Dari target 0,25%, realisasi tahun 2019 menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi tanaman perkebunan mencapai 0,57%.

Pencapaian ini telah menyumbangkan sebesar 162,86% dibandingkan dengan target capaian pada akhir RPJMD tahun 2021, yang bisa diartikan sebagai indikasi pencapaian target pada akhir RPJMD. Berikut adalah tabel lengkap Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Perkebunan.

Tabel 3.B.15. Produksi Benih Padi UPT BBP Tahun 2019

No Varieatas Jumlah Produksi (ton)

BD BP Total

1 Inpari 30 - 13.080 13.080

2 Inpari 23 Bantul 3.180 30.365 33.545

3 Situ Bagendit 2.875 27.325 30.200

4 Inpari 24 Gabusan - 5.560 5.560

5 Ciherang 1.465 21.170 22.635

6 Pepe 2.755 26.520 29.275

7 Mekongga 1.240 28.080 29.320

8 Inpari 33 595 - 595

9 Sunggal 2.590 - 2.590

10 Inpari 42 - 1.560 1.560

Total (ton) 14.700 153.660 168.360

Sumber: Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan, 2019

Pada tahun 2019 produksi tembakau mengalami penurunan sebesar 54,33 % atau 1571,7 ku, dengan penurunan produktivitas sebesar 1,95 ku/ha dibanding tahun 2018. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya luas panen pada tahun 2019 sebanyak 132 Ha. Sementara itu, produksi kelapa juga mengalami peningkatan cukup signifikan sebesar 862,9 ku. Meningkatnya produksi disebabkan oleh meningkatnya luas panen pada tahun 2019 yaitu sebesar 57,78 ha. Selain itu, jumlah kelapa yang produktif berbuah meningkat pada tahun 2019.

Produksi tebu tahun 2018 meningkat 4,01 % atau 1.541,17 ku dibanding tahun 2018 sehingga produktifitas juga meningkat 2,02 % dari 37,57 ku/ha menjadi 38,33 ku/ha. Peningkatan produksi ini didukung oleh adanya program Rawat Ratoon yang lebih intensif. Rawat ratoon adalah pemeliharaan tanaman tebu keprasan secara intensif. Dengan adanya program ini terjadi peningkatan rendemen tebu sehingga produksi tebu juga meningkat. Selain itu, cuaca kemarau yang lebih panjang pada tahun 2019 juga mendukung peningkatan produksi. Tananam tebu membutuhkan sinar matahari selama masa tumbuh dan pemasakannya sehingga masa kemarau yang panjang sangat mendukung pertumbuhan tebu yang pada akhirnya meningkatkan produksinya juga

Tabel 3.B.16. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Tanaman Hortikultura Tahun 2017-2019

No. Komoditas Uraian Tahun

Keterangan

2017 2018 2019**

1 Bawang Merah Luas Panen 830 835 893 Ha

Produksi 7910,2 7.979,8 9.427 Ton

Produktivitas 9,53 9,61 10,56 ton/ha

2 Cabai Merah Luas Panen 366 402 298 Ha

Produksi 1497,6 7.979,8 1.166,41 Ton

Produktivitas 4,09 4,79 3,91 Ton/ha

3 Pisang Produksi 6095,9 5.902,90 5.211,40 Ton

Sumber: Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan, 2019 (**Angka Sementara)

Tabel 3.B.17. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Perkebunan Tahun 2017-2019

No. Komoditas Uraian Tahun

Keterangan

2017 2018 2019**

1 Tembakau Rakyat

Luas Panen 316,00 305,00 173 ha

Produksi 3.044 2.893,00 1.321,3 ku (rajang

kering)

Produktivitas 9,63 9,49 7,64 ku/ha (rajang

kering)

2 Tebu Luas Panen 1.207,69 1.022,89 1.042,67 ha

Produksi 29.186,75 38.430,00 39.971,17 ku (hablur )

Produktivitas 26,76 37,57 38,33 ku/ha (hablur

)

3 Kelapa Luas Panen 10.464,73 7.050,03 7.107,81 ha

Produksi 112.677 103.931,80 104.794,70 ku (kopra)

Produktivitas 15,87 14,74 14,74 ku/ha (kopra)

Sumber: Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan, 2019 (**Angka Sementara)

Permasalahan :

1. Penurunan kesuburan tanah akibat pemakaian pupuk kimiawi berlebihan.

2. Rendahnya Tingkat penerapan teknologi pertanian anjuran.

3. Penurunan kondisi infrastruktur pertanian.

4. Alih fungsi lahan pertanian.

5. Belum optimalnya penanganan pasca panen.

6. Manajemen pengelolaan peternakan belum optimal.

7. Rendahnya minat generasi muda dalam pembangunan bidang pertanian

Solusi :

1. Gerakan penggunaan pupuk berimbang, program optimasi lahan dan program SRI dan konservasi lahan, serta penggunaan pupuk organik.

2. Pendampingan kepada kelompok tani, demplot, pelatihan dan sekolah lapangan.

3. Pembangunan/rehabilitasi infrastruktur yang telah rusak.

4. Percepatan Perda LP2B dan sertifikasi gratis lahan pertanian.

5. Pelatihan penanganan pasca panen, program pengolahan hasil, promosi, dan labelling.

6. Optimalisasi pengelolaan peternakan.

7. Sosialisasi dan pembentukan Taruna Tani serta pengembangan pertanian berbasis wisata dan edukasi serta penggunaan teknologi pertanian untuk menarik minat generasi muda

Strategi kedepan guna meningkatkan capaian indikator di atas, diupayakan dengan beberapa hal antara lain :

1. Peningkatan Ketahanan Pangan Pertanian/Perkebunan melalui kegiatan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman baik pertanian, hortikultura maupun perkebunan.

2. Peningkatan Kesejahteraan Petani melalui berbagai kegiatan peningkatan agribisnis pertanian seperti pameran dan promosi produk pertanian melalui pasar tani, Bantul Ekspo, pameran tingkat kecamatan, berbagai pelatihan pasca panen dan pengolahan produk pertanian

3. Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan; melalui berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan pada kelompok tani serta penyediaan sarana prasarana pendukung pertanian seperti pembuatan dan perbaikan jaringan irigasi, pembuatan embung dan sumber air tanah dangkal dan dalam.

Capaian kinerja di atas merupakan hasil dari program yang dilakukan terkait terpenuhinya ketahanan pangan masyarakat. Pada tahun 2019, program yang dilaksanakan untuk sasaran strategis ini yaitu :

1. Program peningkatan Sarana dan Prasarana Pertanian 2. Program peningkatan produksi pertanian/perkebunan 3. Program pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak 4. Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan

5. Program peningkatan pemasaran hasil produksi peternakan 6. Program peningkatan ketahanan pangan pertanian/ perkebunan

72 Laporan Kinerja2019 73

Kabupaten