BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Level Realitas, Representasi, dan Ideologi Tokoh Lily
4.2.1.1 Scene 00:07:22 – 00:10:53
Gambar 4.2 Scene 00:07:22 – 00:10:53 Shot 5 Shot 2 Shot 3 Shot 4 Shot 1 Shot 6
Rumah Lily / Flashback LILY
(Berteriak)
Rumah Sakit / Lily Berkonsultasi LILY
Gak apa-apa kok dok. Enggak sakit Rumah Lily / Flashback
SUAMI LILY
Gue juga hamil, tapi gue enggak manja kayak loe! Gue pengen elo yang layanin gue. Bukan gue yang layanin loe.
LILY (berteriak) (SFX Lily ditampar)
SUAMI LILY
Kenapa sih kamu main kasar?
Gue pengen elo yang ngelayanin gue. Bukan gue yang ngelayanin elo, goblok! Rumah Sakit / Lily Berkonsultasi
DR. KARTINI Lily, saya tahu.
LILY Dia enggak sengaja Rumah Lily / Flashback
LILY
Gue juga hamil, tapi gue enggak manja kayak loe! SUAMI LILY
Kurang keras! LILY
Gue juga hamil, tapi gue enggak manja kayak loe! SUAMI LILY
Lagi! Ayo terusin! LILY
Gue pengen elo yang ngelayanin gue. Bukan gue yang ngelayanin elo! Rumah sakit / Lily berkonsultasi
LILY Aduh.. DR. KARTINI
Lily, utamakan kandunganmu ini. Saya tahu itu bukan karena jatuh. LILY
Dia enggak sengaja, Dok! DR. KARTINI
Nanti kalau periksa lagi, suaminya diajak ya. Maaf Lily, boleh saya foto?
LILY Buat apa, Dok?
dr. Kartini Untuk file saja.
Deskripsi Narasi
Lily bertemu dengan dr. Kartini untuk konsultasi rutin kandungannya. dr. Kartini terkejut melihat wajah Lily yang memar. Kemudian cerita flashback ketika Lily berada di rumah. Suaminya tiba-tiba merangkulnya dan memaksanya untuk melakukan hubungan seksual di tengah kondisi Lily yang hamil. Suami Lily
mengikat kedua tangan Lily dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian memaksa Lily melakukan hubungan seksual dan menamparnya. Kemudian situasi berganti menjadi suami Lily yang berbaring di atas tempat tidur dan memaksa Lily melakukan apa yang dia perintahkan. Cerita flashback berhenti dan kembali ke suasana rumah sakit. dr. Kartini memeriksa kandungan Lily dan menemukan lebam di perutnya akibat perlakuan suaminya. Lily terus membela suaminya. Usai pemeriksaan, dr. Kartini meminta foto wajah Lily sebagai kumpulan file dia.
Tabel 4.2
Level Realitas Scene 00:07:22 – 00:10:53
Sequence Level
Realitas
Unit Analisis Pemaknaan
Shot 1 Kostum Lily mengenakan: Baju tidur pengantin berwarna putih
Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang,kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49) Suami Lily mengenakan:
Baju tidur pengantin perempuan berwarna putih Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan kewanitaan (Sanyoto,
2009, h. 49) Perilaku Suami Lily:
Memeluk perempuan dan mencium pundak
perempuan
Memeluk bahu dan badan yaitu jenis sentuhan menggetarkan hasrat seks seperti saling menyentuh dilanjutkan dengan permainan cinta (Wainwrig, 2006, h. 165) Gerak Isyarat (gesture) Lily: Menyilangkan kedua tangan di atas perut
Sikap badan agak condong ke belakang Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371) Sikap yang
menolak orang lain dapat dilihat dari sikap tubuh yang menyilangkan tangan (Wainwrig, 2006, h. 113)
Sikap negatif dan bermusuhan ditandai dengan mencodongkan tubuh ke belakang (Wainrig, 2006, h. 112)
Baju tidur pengantin berwarna putih
suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49)
Suami Lily mengenakan: Baju tidur pengantin perempuan berwarna putih Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49)
Perilaku Suami Lily: Menarik rambut perempuan
Kekerasan fisik yang dialami perempuan adalah menjambak (menarik rambut), memukul, menendang, menampar, dan sebagainya (Purniati dan Kolibonso, 2003, h. 47) Gerak Isyarat (gesture) Lily: Memainkan tangan – seperti memegang dan menahan tangan laki-laki
Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371). Memainkan tangan
terjadi ketika seseorang tidak mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapat dan ketidaksukaannya pada seseorang (Putra, 2013, h. 123) Ekspresi Lily:
Mulut terbuka lebar, mata tertutup
Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Tindakan mulut
terbuka, tubuh bergetar yang mempengaruhi wajah dan tubuh adalah ekspresi dari
kekhawatiran atau ketakutan (Wainwrig, 2006, h. 45)
Shot 3 Kostum Lily:
Baju berwarna hitam
Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Hitam melambangkan kesengsaraan, kebodohan, misteri, kesedihan, kesuraman,
kemurungan, ketakutan, ketidakbahagiaan (Sanyoto, 2009, h. 50) Ekspresi Lily:
Tatapan mata ke bawah
Fungsi pengatur (memberi tahu orang lain apakah akan melakukan hubungan dengan orang tersebut atau menghindari) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Memandang ke bawah
memberitahukan bahwa tidak merasa begitu bahagia (Wainwrig, 2006, h. 49)
Shot 4 Kostum Lily mengenakan: Baju tidur pengantin berwarna putih
Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49)
Suami Lily mengenakan: Baju tidur pengantin perempuan berwarna putih Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan
kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49)
Perilaku Lily:
Berbaring di atas kasur dengan tangan terikat
Kekerasan fisik yang dialami perempuan jika melibatkan penganiayaan (Purniati dan Kolibonsi, 2003, h. 31) Suami Lily: Melempar bantal ke wajah perempuan
Kekerasan fisik yang dialami perempuan jika melibatkan
penganiayaan (Purniati dan Kolibonsi, 2003, h. 31)
Ekspresi Lily:
Tatapan mata agak takut-takut, mata merah berair seperti mau menangis
Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Tanda-tanda orang sedih, kecewa, atau stres yaitu tatapan mata agak takut-takut, mata merah berair seperti mau menangis, bibir bergetar (Putra, 2013, h. 138)
Shot 5 Kostum Lily mengenakan: Baju tidur pengantin
Warna menunjukkan suasana emosional
berwarna putih (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49)
Suami Lily mengenakan: Baju tidur pengantin perempuan berwarna putih Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan kewanitaan (Sanyoto, 2009, h. 49) Gerak Isyarat (gestures) Lily: Memainkan tangan – seperti mengacak-acak rambut Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371). Memainkan tangan terjadi ketika seseorang tidak mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapat dan ketidaksukaannya pada seseorang (Putra, 2013, h. 123). Tangan juga dapat digunakan pada sentuhan diri seperti
meremas rambut yang menandakan stress (Wainwrig, 2006, h. 170)
Shot 6 Ekspresi Lily:
Tatapan mata terbuka lebar, gerak-gerik seperti melengkung ke bawah sudut bibir, muka mengerut
Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Kesedihan,
kekecewaan, depresi ditandai dengan tanpa ekspresi senyum dan umumnya roman muka terlihat mengerut. Untuk ketakutan dan kekhawatiran ditandai dengan tatapan mata terbuka lebar
(Wainwrig, 2006, h. 44-45)
Deskripsi Level Realitas
Adegan flashback diuraikan dalam shot 1, 2, 4, dan 5 serta diperankan oleh dua tokoh, perempuan (Lily) dan laki-laki (suami Lily). Mereka berdua sama-sama menggunakan baju tidur pengantin perempuan berwarna putih. Sanyoto (2009, h. 49) mengatakan putih sebagai simbol sifat mengalah, merangsang, dan
kewanitaan. Sehingga dapat digambarkan adegan dalam shot 1 bahwa keduanya adalah suami istri. Adegan ini diperkuat dengan perilaku suami Lily yang memeluk Lily dari belakang. Perilaku mengajak Lily untuk melakukan hubungan seksual. Tetapi terlihat sikap penolakan dari Lily melalui sikap badan yang agak condong ke belakang dan menyilangkan kedua tangan di atas perut.
Dalam adegan shot 2, suami Lily menarik rambut Lily. Ini merupakan jenis kekerasan fisik karena memaksa Lily untuk melakukan hubungan seks. Lily tetap menolak melalui gerak-isyarat tangannya. Dia terlihat memainkan tangan, yaitu seperti menahan dan memegang tangan suaminya tetapi tidak mampu menahannya. Memainkan tangan terjadi ketika seseorang tidak mempunyai keberanian untuk mengemukakan pendapat dan ketidaksukaannya pada seseorang (Putra, 2013, h. 123). Penolakan itu didukung dengan ekspresi Lily yang khawatir, ketakutan, dan kesakitan.
Dalam adegan shot 4, suami Lily terlihat mengangkat bantal tinggi-tinggi, dan melempar Lily dengan bantal. Sedangkan Lily dibaringkan di atas tempat tidur dengan tangan terikat. Tatapan mata Lily agak takut-takut, mata merah berair seperti mau menangis menunjukkan rasa ketakutan dan kesakitan Lily karena dirinya yang hamil. Adegan selanjutnya berganti Lily dipaksa melakukan hubungan seksual dalam shot 5. Lily sebenarnya enggan melakukan perintah suaminya itu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa terlihat dari gerak isyarat tangan Lily mengacak-acak rambutnya seperti menutup telinga.
Selanjutnya adegan di rumah sakit diuraikan dalam shot 3 dan 6. Dalam adegan shot 3, Lily terlihat depresi, sengsara, sedih melalui baju yang berwarna hitam yang dikenakannya. Selain itu, ekspresi Lily yang selalu menatap ke bawah dan tidak melihat dr. Kartini secara langsung saat terjadi percakapan menunjukkan Lily enggan mengalami pembicaraan lebih lanjut dengan dr. Kartini mengenai suaminya. Terakhir dalam adegan shot 6, perasaan ketakutan, kesedihan, dan depresi yang dialami Lily diperkuat melalui ekspresinya saat difoto, yaitu tatapan mata terbuka lebar, gerak-gerik seperti melengkung ke bawah sudut bibir serta muka mengerut.
Tabel 4.3
Level Representasi Scene 00:07:22 – 00:10:53
Sequence Level
Representasi
Unit Analisis Pemaknaan
Shot 1 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame KS (Knee Shot), 2 S (two shot
Memperlihatkan dua sosok objek dan saling berinteraksi (Baksin, 2013, h. 126-128)
adegan-adegan bersifat intim, mencekam, suram, serta mengandung misteri (Pratista, 2008, h. 79-80) Shot 2 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame KS (Knee Shot), 2 S (two shot
Memperlihatkan dua sosok objek dan saling berinteraksi (Baksin, 2013, h. 126-128)
Lighting Low Key Lighting Digunakan dalam adegan-adegan bersifat intim, mencekam, suram, serta mengandung misteri (Pratista, 2008, h. 79-80) Shot 3 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Close Up) seseorang (Baksin, 2013, h. 126)
Lighting High Key Lighting Digunakan pada
adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)
Shot 4 Angle Frog Eye Menimbulkan kesan dramatis untuk
memperlihatkan suatu
pemandangan yang aneh, ganjil, ‘kebesaran’, atau ‘sesuatu’ yang menarik (Baksin, 2013, h. 124)
Frame KS (Knee Shot), 2 S (two shot)
Memperlihatkan dua sosok objek dan saling berinteraksi (Baksin, 2013, h. 126-128)
Lighting Low Key Lighting Digunakan dalam adegan-adegan bersifat intim, mencekam, suram, serta mengandung misteri (Pratista,
2008, h. 79-80) Shot 5 Angle Frog Eye Menimbulkan
kesan dramatis untuk
memperlihatkan suatu
pemandangan yang aneh, ganjil, ‘kebesaran’, atau ‘sesuatu’ yang menarik (Baksin, 2013, h. 124)
Frame KS (Knee Shot), 2 S (Two Shot)
Memperlihatkan dua sosok objek dan saling berinteraksi (Baksin, 2013, h. 126-128)
Lighting Low Key Lighting Digunakan dalam adegan-adegan bersifat intim, mencekam, suram, serta mengandung misteri (Pratista, 2008, h. 79-80) Shot 6 Angle Eye Level Tidak
mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)
Frame BCU (Big Close Up) Menonjolkan objek untuk menimbulkan ekspresi tertentu (Baksin, 2013, h. 125)
Lighting High Key Lighting Digunakan pada
adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)
Deskripsi Level Representasi
Level representasi yang muncul dalam scene ini secara teknis ingin mendukung visual yang ditampilkan dalam level realitas namun dengan sudut pandang sinematografi. Dalam adegan flashback yang diuraikan dalam shot 1, 2,
4,dan 5, menggunakan Low Key Lighting untuk memberikan kesan dramatis dan
keintiman antara pemeran laki-laki dan perempuan. Untuk shot 1 dan 2, angle yang digunakan adalah Eye Level dengan jenis frame KS (Knee Shot) 2 S (Two
Shot), yaitu untuk memperlihatkan kedua objek dan perilakunya dengan jelas di
mana saat suami Lily memeluk Lily dan menarik Lily ke tempat tidur. Untuk shot
4 dan 5, angle yang digunakan adalah Frog Eye, yang memperlihatkan kesan
dramatis yang janggal, yaitu Lily yang berbaring di tempat tidur dengan tangan terikat serta Lily dipaksa melayani suaminya. Melalui adegan ini terlihat ada yang tidak lazim dalam hubungan suami-istri yang dialami Lily dengan suaminya.
Sedangkan frame yang digunakan adalah frame KS (Knee Shot) 2 S (Two Shot), yaitu untuk memperlihatkan kedua objek berinteraksi yang mendukung level realitas.
Sedangkan dalam adegan di rumah sakit yang diuraikan dalam shot 3 dan 6, menggunakan High Key Lighting yang memperlihatkan adegan biasa dan formal. Dalam adegan shot 3 menggunakan frame yang menegaskan profil Lily. Sedangkan dalam shot 6, menggunakan frame BCU (Big Close Up), yang menonjolkan Lily untuk menimbulkan ekspresi Lily yang diuraikan dalam level realitas.
Tabel 4.4
Level Ideologi Scene 00:07:22 – 00:10:53
Sequence Level Ideologi
Shot 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 Gagasan konsep yang terkandung dalam scene ini adalah kekerasan dalam rumah tangga yang terlihat dari latar tempat yang adalah rumah dan kamar. Hal ini tercipta dari aspek narasi dan dialog suami Lily yang memandang rendah perempuan hamil. Dari segi karakter dan aksi Lily yang menolak tapi tak berdaya atas kekuasaan suaminya. Sehingga konflik muncul dari diri Lily atas dominasi suaminya, melalui ekspresi dan gerak isyarat. Ideologi ini terkait sistem kepercayaan dan keyakinan masyarakat terhadap kekuasaan laki-laki dalam kehidupan berumah tangga.
Deskripsi Level Ideologi
Walby (1990, h. 20-21), membagi konsep patriarki ke dalam enam struktur, salah satunya adalah kekerasan dari laki-laki. Kekerasan yang digambarkan Walby, terbagi atas dua jenis, yaitu kekerasan rutin yang dialami perempuan dan kekerasan luar biasa. Ketika perempuan sudah membina hubungan rumah tangga, kekerasan yang dialami perempuan akan dikategorikan dalam kekerasan dalam rumah tangga.
Kekerasan dalam rumah tangga dibagi dalam lima kelompok. Secara keseluruhan dalam cuplikan shot 1 hingga 6 membawa gagasan konsep kekerasan dalam rumah tangga yang dialami tokoh Lily. Kekerasan yang dialami Lily, masuk dalam kelompok teori biologis dan teori feminis. Menurut Poli, Abubakar, dan Bulkis (2008, h. 30-36), kekerasan rumah tangga dalam teori biologis adalah tindakan kekerasan laki-laki terhadap perempuan di dalam rumah tangga disebabkan karena pihak laki-laki mengalami gangguan mental dan perempuan tetap memelihara hubungan dengan pihak laki-laki juga mengalami gangguan mental. Sedangkan teori feminis adalah struktur masyarakat yang mengutamakan kekuasaan laki-laki di atas kekuasaan perempuan.
Gagasan yang mendukung teori biologis terlihat dari narasi, dialog dan penampilan suaminya. Lily mmembela suaminya di depan dr. Kartini: “Gak
apa-apa kok dok. Enggak sakit.” dan “Dia enggak sengaja, dok”. Sedangkan dari segi
adegan ini, terlihat bahwa Lily menerima perlakuan suaminya yang terlihat memiliki kelainan mental.
Sedangkan gagasan yang mendukung teori feminis terlihat dari narasi, dialog, dan perilaku. Suami Lily memandang rendah Lily yang tengah hamil serta memaksa Lily menuruti keinginannya melakukan hubungan seksual: Gue juga
hamil, tapi gue enggak manja kayak loe! Gue pengen elo yang layanin gue. Bukan gue yang layanin loe”, “Kurang keras!”, “Lagi! Ayo terusin!”. Inilah adalah
bentuk kekerasan verbal, di mana suami Lily memperlakukan Lily sebagai istri yang menjadi pemuas hawa nafsu dia walaupun dia tahu Lily sedang hamil. Suaminya menuntut agar Lily tetap menjalankan kewajiban dia sebagai istri. Dari segi perilaku, Lily mengalami penganiayaan fisik, yaitu jambakan dan tamparan, serta penyalahgunaan seksual, yaitu pemerkosaan yang dilakukan suami sendiri. Menurut Purniati dan Kolibonso (2003, h. 2) kekerasan terhadap perempuan telah menjadi sebuah struktur sosial karena norma-norma budaya yang metoleransi atau bahkan menuntut kekerasan. Seperti halnya surat ijin pemukulan (Greenblat dan Straus), di dalamnya terdapat aturan penggunaan. Misalnya menampar pasangan, dapat ditolerir jika pasangan dianggap melakukan suatu kesalahan serius dan “tidak akan mendengarkan berbagai alasan”. Hal tersebut didukung oleh struktur masyarakat Indonesia yang masih melihat kekuasaan laki-laki terhadap perempuan.
Ketidaksetaraan atau patriarki ini muncul akibat institusi hasil budaya manusia. Melalui pendidikan keluarga, anak laki-laki dididik untuk agresif, pergi
ke luar, bermain di luar rumah. Sementara anak perempuan dididik untuk memasak, kerasan di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah, melayani ayah dan saudara laki-laki. Pendidikan ini akan berakibat laki-laki dilayani dan perempuan melayani (Murniati, 2004, h. 96). Inilah yang menyebabkan keterwakilan perempuan di Indonesia dianggap rendah.