• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.4 Level Realitas, Representasi, dan Ideologi Tokoh Ratna

4.2.4.1 Scene 00:23:05 – 00:24:34

Gambar 4.9 Scene 00:23:05 – 00:24:34 MARWAN Assalamualaikum RATNA

Waalaikumsallam.... Baru pulang mas? Kok gak ada kabar? MARWAN

Biasa, lembur dadakan RATNA

Tapi semaleman gak ada kabar.. aku kan jadi khawatir MARWAN

Aku gak bisa telepon... semua ini aku lakukan untuk anak kita sayang. Gimana? Bayinya sehat? Hati-hati jangan kecapean. Nanti bayinya kenapa-napa. Kamu kan susah

hamil RATNA

Mas ada waktu kan untuk nemenin aku? MARWAN

Aduh, aku capek... udah gitu bentar lagi harus balik kerja.... sayang, ini demi anak kita! RATNA

Yaudah, aku siapin dulu makanan sama air mandinya Deskripsi Narasi

Ratna bekerja sebagai penjahit. Ketika sedang menjahit, suami Ratna baru pulang dari kantor. Ratna menanyakan mengapa suaminya pulang terlambat dan tidak memberikan kabar. Suaminya beralasan bahwa dirinya lembur dadakan. Sembari menyiapkan baju suaminya, Ratna meminta suaminya untuk menemani dirinya check up ke dokter terkait kehamilan dia. Kehamilan Ratna adalah hal yang ditunggu-tunggu setelah lima tahun menikah. Tetapi suaminya tidak bisa menemani Ratna karena harus kembali bekerja. Ratna terdiam kemudian mengiyakan.

Tabel 4.23

Level Realitas Scene 00:23:05 – 00:24:34

Sequence Level Realitas Unit Analisis Pemaknaan

Shot 1 Kostum Ratna:

Baju berwarna coklat Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Warna coklat berarti memiliki kedekatan

hati, arif, sopan, hemat, bijaksana (Sanyoto, 2009, h. 51) Perilaku Membantu suaminya membuka jaket Perempuan berperan memproduksi, yaitu mengurus suami (Walby, 1990, h. 21) Lingkungan Rumah (ruang

tamu)

Rumah adalah tempat

berkumpulnya keluarga: ayah, ibu, dan anak (Gunarsa, 1987, h. 2 – 4) Shot 2 Kostum Ratna:

Baju berwarna coklat Warna menunjukkan suasana emosional (Mulyana, 2008, h. 427-433). Warna coklat berarti memiliki kedekatan hati, arif, sopan, hemat, bijaksana (Sanyoto, 2009, h. 51) Gerak Isyarat (gesture) Ratna: Menghindari kontak mata Memperteguh pesan verbal dan mengkomunikasikan emosi (Mulyana, 2008, h. 353-371).

Menghindarkan kontak mata atau memandang ke arah lain adalah bentuk mengalah (Cohen, 2009, h. 56) Ekspresi Ratna: Tanpa ekspresi senyum, gerak-gerik seperti melengkung ke bawah suduh bibir

Fungsi ekspresif (memberi tahu orang lain bagaimana perasaannya

terhadap orang lain) (Mulyana, 2008, h. 372- 378). Kesedihan dan kekecewaan digambarkan melalui tanpa

ekspresi senyum dan gerak-gerik seperti melengkung ke bawah suduh bibir (Wainwrig, 2006, h. 44)

Deskripsi Level Realitas

Adegan shot 1dan 2 memperlihatkan karakter perempuan dan laki-laki yang hidup dalam sebuah rumah tangga. Hal itu terlihat dari lingkungan rumah. Karakter perempuan, Ratna, digambarkan sebagai sosok istri yang memiliki sifat

kedekatan hati, arif, sopan, hemat, bijaksana. Hal ini didukung dengan perilaku Ratna yang melayani suaminya dengan membuka jaket suaminya, menyiapkan baju dalam adegan shot 1.

Ratna menyadari adanya otoritas suaminya dan peran dia sebagai istri untuk melayani suaminya terpancar dalam adegan shot 2. Di mana saat Ratna memiliki keinginan untuk mengajak suaminya ke rumah sakit tetapi suaminya menolak akibat kecapean, ekspresi kekecewaan dan kesedihan Ratna tercipta dari gerak-gerik seperti melengkung ke bawah suduh bibir. Tetapi Ratna menyadari otoritas suaminya sebagai kepala rumah tangga melalui tatapan matanya yang menghindari kontak mata dengan suaminya yang artinya mengalah. Sedangkan karakter suami Ratna yang mengerti kekuasaan dia sebagai suami yang harus dilayani oleh istri terlihat dari dirinya yang menerima perilaku Ratna melayaninya sebagai suami.

Tabel 4.24

Level Representasi Scene 00:23:05 – 00:24:34

Sequence Level

Representasi

Unit Analisis Pemaknaan

Shot 1 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)

Frame FS (Full Shot) Memperlihatkan objek dengan

lingkungan sekitar (Baksin, 2013, h. 127)

Lighting High Key Lighting Digunakan pada

adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)

Shot 2 Angle Eye Level Tidak

mengandung kesan tertentu (Baksin, 2013, h. 123)

Frame MCU (Medium

Close Up)

Menegaskan profil seseorang (Baksin, 2013, h. 126)

Lighting High Key Lighting Digunakan pada

adegan-adegan formal dan biasa (Pratista, 2008, h. 79-80)

Deskripsi Level Representasi

Level representasi yang muncul dalam scene ini secara teknis ingin mendukung visual yang ditampilkan dalam level realitas namun dengan sudut pandang sinematografi. Secara keseluruhan, adegan shot 1 dan 2 memiliki kesamaan dalam angle eye level dan high key lighting. Suasana yang terjadi dalam kedua adegan ini adalah suasan formal dan biasa.

Tetapi yang menjadi perbedaannya adalah pada teknik pengambilan gambar. Pada shot 1 menggunakan full shot untuk memperlihatkan kedua tokoh berinteraksi didukung oleh latar tempatnya. Dari sinilah terlihat bahwa kedua tokoh adalah suami istri dan memperlihat lebih jelas lagi bagaimana perlakuan istri terhadap suami, yaitu melayani. Sedangkan dalam shot 2 menggunakan teknik pengambilan gambar medium close up, untuk menegaskan profil seseorang. Profil dalam konteks ini adalah sosok Ratna yang mengalah akan pengambilan keputusan yang didominasi oleh suaminya.

Tabel 4.25

Level Ideologi Scene 00:23:05 – 00:24:34

Sequence Level Ideologi

Shot 1, 2 Gagasan konsep yang terkandung adalah budaya patriarki dalam rumah tanga. Di dalam kehidupan rumah tangga di ambil alih oleh suami atau laki-laki sedangkan istri atau perempuan hanya melayani. Sistem kepercayaan dan keyakinan dalam masyarakat bahwa posisi laki-laki dengan perempuan dalam rumah tangga tidak setara. Hal ini terlihat dari aspek narasi dan dialog memperlihatkan bahwa Marwan mengambil keputusan dalam keluarga dan Ratna sebagai istri harus menerimanya walaupun bertentangan dengan dirinya sendiri. Sedangkan dari aspek karakter dan aksi Marwan menerima perannya sebagai suami yang dilayani Ratna. Selain itu dari aspek karakter dan aksi Ratna juga menerima

perannya sebagai istri yang melayani Marwan. Hal ini diperkuat oleh latar tempat, yaitu rumah. Sehingga walaupun ada konflik batin dari diri Ratna saat Marwan mengambil

keputusan, dirinya tidak dapat menolak karena dia menyadari posisi dia di dalam rumah tangga berada di bawah laki-laki (suami).

Deskripsi Level Ideologi

Salah satu konsep patriarki yang diungkapkan Walby (1990, h. 20-21), yang paling utama adalah patriarki dalam rumah tangga. Di dalam rumah, perempuan mendapat kedudukan lebih rendah daripada laki-laki. Hal ini berasal dari adanya perbedaan antara ciri perempuan dan laki-laki. Berdasarkan struktur sosial, perempuan dituntut untuk berada di dalam rumah lebih lama daripada laki-laki. Sehingga ketika berkeluarga, budaya perempuan melayani laki-laki dan laki-laki melayani perempuan telah menjadi hal yang wajar. Umumnya hal tersebut dianggap sebagai kewenangan masing-masing. Walaupun pada akhirnya dominasi laki-laki tetap ada dalam pengambilan keputusan rumah tangga.

Pada kehidupan rumah tangga Ratna, adanya budaya patriarki dalam kehidupan keluarganya, terpancar dari peran Ratna sebagai istri yang melayani suaminya, baik itu dari perilaku maupun perkataan: “Yaudah, aku siapin dulu

makanan sama air mandinya”. Hal ini didukung dengan perilaku suami Ratna

yang menerima Ratna melayani dirinya karena tidak adanya bentuk gerak isyarat penolakan.

Dominasi suami Ratna dalam pengambilan keputusan juga menuntut Ratna untuk menerimanya. Walaupun Ratna ingin menolak dan tidak menyetujui keputusan suaminya. Hal ini terlihat dari gerak isyarat dan ekspresi Ratna saat

mengajak suaminya pergi bersama-sama ke rumah sakit. Ketika suami Ratna menolak dengan banyak alasan, ekspresinya menunjukkan kekecewaan. Tetapi pada akhirnya Ratna mengakui bahwa dalam rumah tangga, suaminyalah yang berperan mengambil keputusan melalui tatapan matanya yang mengalah.

Pada akhirnya budaya patriarki yang ada dalam sebuah keluarga akan merugikan kaum perempuan. Tetapi dari adegan Ratna dan suaminya, menunjukkan bahwa budaya patriarki tersebut telah menjadi hal yang wajar. Karena pada akhirnya dalam masyarakat di Indonesia, suami yang banyak mengambil keputusan dalam kehidupan berkeluarga dan istri harus menuruti keputusan suami.