• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Jawa Pos dan Kompas

4.1.2 Sejarah Perkembangan Kompas

4.1.2.1 Sebaran dan Profil Pembaca Kompas

Jumlah oplah yang diantaranya menunjukkan kepercayaan masyarakat pembaca, sejak harian terbit menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan hasil audit independen Prasetio Utomo & Co. Jakarta dan perhitungan yang tertera pada publikasi Audit Bureau of Circulation (ABC) di Sidney Australia, Kompas mengawali oplah rata-rata sebesar 7.739 eksemplar tiap harinya. Dalam kurun waktu lima tahun, melonjak sepuluh kali lipat mencapai angka 77.390 eksemplar. Masa selanjutnya justru terjadi peningkatan oplah spektakuler, yaitu mencapai angka 600.000 eksemplar setiap harinya.

Memiliki predikat sebagai harian nasional, Kompas tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Melihat proporsi sebaran, DKI Jakarta beserta kawasan Bogor, Tangerang dan Bekasi menduduki peringkat tertinggi, mencapai 63%.

Bagaimana dengan jumlah pembaca? Merujuk hasil survey lembaga riset AC Nielsen (1999), dari perkiraan 2.762.223 anggota populasi di kawasan Jabotabek, Bandung, Semarang, Medan, Palembang dan Makassar, tercatat 2.270.000 orang pembaca harian ini. Berdasarkan paparan sepintas diatas, dapat disimpulkan bahwa harian ini berada pada jajaran terdepan dalam jumlah pembaca, oplah dan sebaran media cetak sejenis.

Selain persoalan oplah dan sebaran pembaca, yang juga tak kalah menarik adalah siapa dan berasal dari kalangan manakah pembaca Kompas? Berbagai survey yang dilakukan lembaga riset indepeden maupun lembaga riset intern. Berikut ini adalah data litbang Kompas 1998 tentang pendidikan pembaca Kompas :  Lulus SD : 0,7%  Lulus SMP : 2,49%  Lulus SMA : 2,49%  Akademi/D1/D2 : 2,49%  Sarjana Muda : 8,20%  Sarjana S1 : 45,64%  Sarjana S2/S3 : 7,50%

Dari data tingkat pendidikan yang ada di atas membuktikan bahwa sebagian besar pembaca adalah kalangan masyarakat yang dikelompokkan dalam kelas sosial ekonomi menengah keatas. Kesimpulan itu antara lain terlihat dari tingkat kemampuan ekonomi rumah tangga dan jenjang pendidikan pembaca.

Sedangkan dari segi penghasilan pembaca Kompas (berdasarkan data AC Nielsen Media Index, 1999) adalah sebagai berikut :

 > Rp 1.500.000 : 33,2%  Rp 1.000.000 – 1.500.000 : 20,9%  Rp 700.000 – 1.000.000 : 16,7%  Rp 500.000 – 700.000 : 16,3%  Rp 350.000 – 500.000 : 6,7%  Rp 250.000 – 350.000 : 5,1%  < Rp 250.000 : 1,1%

Sedangkan dari segi pengeluaran pembaca Kompas (berdasarkan data AC Nielsen Media Index, 1999) adalah sebagai berikut :

 > Rp 1.500.000 : 14,1%  Rp 1.000.000 – 1.500.000 : 15,8%  Rp 700.000 – 1.000.000 : 22,8%  Rp 500.000 – 700.000 : 23,83%  Rp 350.000 – 500.000 : 12,3%  Rp 250.000 – 350.000 : 7,4%  < Rp 250.000 : 3,3%

Dari data-data di atas membuktikan bahwa sebagian besar pembaca Kompas adalah kalangan masyarakat yang dikelompokkan dalam kelas sosial ekonomi menengah keatas. Kesimpulan itu antara lain terlihat dari tingkat kemampuan ekonomi dan jenjang pendidikan pembaca. Dari sisi penghasilan misalnya riset AC Nielsen (1999) menyatakan, proporsi terbesar 33,2% responden

pembaca berpenghasilan diatas 1,5 juta per bulan. Sementara dari sisi pengeluaran, lebih dari separuh responden pembaca memiliki pengeluaran minimal Rp 700.000 per bulan.

Dari sisi pendidikan, hasil beberapa angket pembaca yang dilakukan Kompas menempatkan kalangan berpendidikan tinggi sebagai basis pembaca. Sekitar 46% pembaca memiliki latar pendidikan Sarjana S1 dan 7,5% responden pembaca tamatan pasca sarjana. Berdasarkan gambaran ini, Kompas memang melekat pada kalangan menengah Indonesia, kelompok yang selama ini identik dengan agen perubahan dan ujung tombak demokratisasi bangsa.

Pada tahun 1993, PT. Cisi Raya Utama pernah mengkalkulasi PT. Kompas Media Nusantara, penerbit harian Kompas telah mencapai angka Rp 240 miliar, laba bersih Rp 30 miliar. Sementara asetnya diperkirakan sekitar Rp 150 miliar – 160 miliar. Tahun 1994, lembaga riset ini memperkirakan kenaikan pendapatan Kompas rata-rata 10% - 11%.

Saat ini tak kurang terdapat delapan divisi yang membawahi unit-unit usaha di bawah Kelompok Kompas Gramedia (KKG), meliputi divisi pers daerah, surat kabar, majalah, perdagangan, percetakan, properti, penerbitan dan divisi lembaga keuangan. Kepesatan laju perkembangan Kompas dalam bisnis media ini tidak lepas dari kepiawaian Pak Ojong dan Jakob Oetama dalam memimpin hingga menjadikan Kompas sebagai Koran terbesar, baik dari segi oplah maupun pemasukan iklan.

Khusus bisnis medianya, kelompok Kompas komplit merambah berbagai peluang yang menjadikannya sebagai sebuah konglomerasi, disamping harian

Kompas, PT. Gramedia menerbitkan pula The Jakarta Post, tabloid Nova, Citra, Bola, Otomotif, Hopla, Pramuka dan Info Komputer serta majalah Hai, Jakarta Jakarta, Tiara, Intisari, Kontan, Harian Bernas (Yogyakarta), Sriwijaya Pos, Serambi Indonesia (Aceh), Harian Pos Maluku, Fifa (Jayapura), majalah Kawanku, Bobo, Angkasa, Fotomedia, Nikita dan Senior.

Tantangan bagi Kompas terbentang jelas. Masyarakat dan khalayak pembaca memerlukan informasi yang menarik, sekaligus berarti dan bermakna. Ikut membantu menjelaskan duduk perkara. Bukan sekedar kumpulan berita, kejadian maupun persoalan. Tetapi lebih kepada menyajikan informasi tentang kejadian dan masalah, sehingga jelas arti dan maknanya.

Cakrawala kehidupan khalayak semakin luas, semakin kaya dan bervariasi ke dalam dan semakin kaya serta beragam keluar. Orang suka membaca yang menarik, yang memperkaya kehidupan, yang menggetarkan rasa kemanusiaan dan rasa retia kawan. Orang suka membaca yang menarik, menarik huruf dan grafiknya, menarik fotonya, menarik raut wajahnya. Tata wajah koran seluruh dunia berubah. Tujuan pembaharuan tata wajah ialah memperkuat ekspresi jati diri surat kabar itu sendiri. Kompas juga mencoba melakukan secara bijak, sesuai dengan masukan keterlibatan khalayak pembaca.

4.1.2.2. Kebijakan Redaksional

Kompas lebih suka menamakan dirinya sebagai surat kabar yang berorientasi independen. Sementara yang dimaksud dengan surat kabar independen dalam kaitannya ini tidak lain adalah surat kabar yang dalam cara pemberitannya tidak memposisikan dirinya pada satu pihak, dengan kata lain tidak

menempatkan dirinya pada salah satu kekuatan politik yang ada. Untuk itu pula surat kabar ini menggunakan motto Amanat Hati – Nurani Rakyat. Dengan cara ini Kompas mencoba selalu bersikap obyektif dalam mengupas suatu peristiwa dan senantiasa membela keinginan dan cita-cita rakyat banyak.

Pada masa Orde Lama, Kompas pernah berorientasi politik atau agam tertentu. Hal ini disebabkan karena pada masa Demokrasi Liberla itu Deppen mengharuskan semua surat kabar mengaitkan eksistensinya dengan salah satu kekuatan politik yang ada saat itu. Kompas yang berdirinya dirintis oleh PK Ojong dan Jakob Oetama ini pada awal terbitnya hanya dibaca oleh orang-orang Katolik Jakarta. Akhirnya berafiliasi dengan Partai Katolik pada saat pemerintahan Orde Baru yang menghapus peraturan tersebut. Kompas melepaskan diri dari Partai Katolik dan diputuskan sejak saat itu sasaran Kompas adalah kelas menengah dan atas sehingga tipografi dan penampilan Kompas disesuikan dengan masyarakat kelas tersebut.

Konotasi bahwa Kompas masih berafiliasi dengan Partai Katolik tampaknya masih berbekas, terutama untuk mereka yang masih awam dengan Kompas. Hal ini bisa diperkuat apabila dilihat dari siapa yang mengasuh dan memiliki surat kabar ini. Demikian juga orientasi politiknya kadang-kadang muncul secara terselubung walaupun barangkali tidak disadarinya. Hal ini ternyata berkaitan erat dengan sejarah berdirinya Kompas yang pada awalnya memang dekat dengan Partai Katolik. Ketika Partai Katolik difungsikan ke dalam PDI tahun 1973, Kompas mulai berusaha menjadi koran yang independen dan lebih berorientasi bisnis. Meskipun demikian, latar belakangnya sebagai koran

yang dekat dengan perdebatan politik, terutama bila perdebatan itu menyangkut atau menyinggung kekuatan politik Islam.

Namun pada perkembangannya Kompas berusaha untuk membenahi diri menjadi sebuah media massa cetak profesional yang berusaha untuk bersikap netral dan tidak melakukan pengkotak-kotakan berdasarkan kondisi demografis khalayaknya. Hal ini tercermin dalam motto Amanat Hati – Nurani Rakyat dibawah logo Kompas, menggambarkan visi dan misi bagi disarankannya hati nurani rakyat. Kompas ingin berkembang menjadi institusi pers yang mengedepankan keterbukaan, meninggalkan pengkotakan latar belakang suku, agama, ras dan golongan. Ingin berkembang sebagai Indonesia mini, karena dia sendiri telah menjadi lembaga yang terbuka dan kolektif. Ingin ikut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kompas ingin ditempatkan sebagai nilai tertinggi. Mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai yang mengatasi kepentingan kelompok. Rumusan bakunya adalah Humanisme Transedental. Pada ulang tahun Kompas yang ke 35 ditemukan pepatah Kata Hati Mata Hati menegaskan semangat emphaty dan compassion Kompas.

Lembaga media massa, seperti Harian Pagi Kompas, tidak terlepas dari gejolak masyarakatnya. Dalam setiap pergolakan itu, Kompas terus berusaha membangun kepercayaan masyarakat lewat berita dan tulisan yang komprehensif. Cover Both Sides, tidak menyakiti hati secara pribadi, mendudukkan soal, membuka cakrawal tidak memihak, kecuali pada kebenaran dan demi penghargaan tinggi pada harkat kemanusiaan.

Tabel 4.4

Halaman 1 Memuat berita-berita utama nasional dan internasional Halaman 2-5 Memuat berita-berita politik dan hukum

Halaman 6-7 Memuat tajuk rencana, opini dan surat pembaca Halaman 8-11 Memuat berita-berita internasional

Halaman 12-14 Memuat berita-berita humaniora

Halaman 15 Memuat berita-berita umum dan sambungan dari halaman 1

Halaman 16 Sosok

Halaman 17-22 Memuat berita-berita bisnis dan keuangan Halaman 23 Memuat acara hari ini

Halaman 24-25 Memuat berita-berita Nusantara

Halaman 26-28 Halaman Metropolis, Memuat berita-berita seputar Jabotabek

Halaman 29-32 Memuat berita-berita olahraga Halaman 33-40 Memuat berita-berita otomotif Halaman 41-48 Memuat iklan