Uraian Sebelum
RSPO
Setelah
RSPO t-hitung t-tabel Sig
Mean Biaya Produksi
(Dalam Milyar Rupiah) 329.41 382.28 0.181 12.7 0.886
Sumber: PTPN III, 2008-Agustus 2011 (Lampiran 27)
Dari Tabel 31 dapat dilihat bahwa rata-rata biaya produksi pada PTPN III setelah memperoleh sertifikat RSPO dan sebelum memperoleh sertifikat RSPO
tidak terdapat perbedaan pada α = 0.05, nilai t-hitung = 0.181 dan t-tabel = 12.7. Pada rata-rata biaya produksi dapat dilihat bahwa rata-rata biaya produksi pada PTPN III setelah memperoleh sertifikat RSPO lebih besar daripada rata-rata biaya produksi sebelum memperoleh sertifikat RSPO. Maka, t-hitung < t-tabel maka keputusannya adalah H1 ditolak dan H0 diterima. Sehingga secara statistik dapat dinyatakan tidak ada perbedaan pada biaya produksi pada PTPN III setelah memperoleh sertifikat RSPO dibandingkan dengan sebelum memperoleh sertifikat RSPO.
5.2.4. Analisis Perbandingan Pendapatan
Untuk mengetahui apakah RSPO bermanfaat untuk suatu perusahaan perkebunan yang memilikinya dapat dilihat melalui pendapatan sebelum perkebunan itu memiliki sertifikat RSPO dengan pendapatan setelah perkebunan
68
tersebut memperoleh sertifikat RSPO. Untuk PTPN III selaku perkebunan yang telah mendapat sertifikat RSPO, pendapatannya dapat dilihat pada Tabel 32. Tabel 32. Pendapatan PTPN III Sebelum (2005-2009) Dan Sesudah
(2010-Agustus 2011) Memperoleh Sertifikat RSPO
2008 2009 2010 2011 (sd
Agustus)
Pendapatan (Dalam Milyaran
Rupiah) 292.61 237.52 560.90 215.96
Sumber: Analisis Data, 2005-2011 (Lampiran 1,2,3,4,5,7dan 8)
Dari Tabel 32 dapat dilihat bahwa pada tahun pertama, yakni tahun 2010 memperoleh sertifikat RSPO memang terjadi kenaikan pendapatan namun di tahun berikutnya terjadi penurunan yang sangat besar yanh hampir sekitar 50 %. Terjadinya kenaikan pendapatan dikarenakan semakin banyaknya permintaan dunia untuk ekspor CPO dari PTPN 3 namun PTPN III juga harus mengeluarkan sejumlah biaya yang besar untuk melakukan sertifikasi.
Untuk melihat perbedaan pendapatan sebelum sertifikasi RSPO dengan setelah sertifikasi RSPO dilakukan uji beda rata-rata yang hasilnya dapat dilihat pada Tabel 33.
Tabel 33. Hasil Analisis Uji Beda Rata-Rata Pendapatan PTPN III Sebelum (2005-2009) Dan Sesudah (2010-Agustus 2011) Memperoleh
Sertifikat RSPO
Uraian Sebelum
RSPO
Setelah
RSPO t-hitung t-tabel Sig
Mean Pendapatan
(Dalam Milyar Rupiah) 265.07 388.43 0.851 12.70 0.551
Sumber: Analisis Data, 2005-2011 (Lampiran 30)
Dari Tabel 33 dapat dilihat bahwa rata-rata pendapatan PTPN III sebelum memperoleh sertifikat RSPO dengan setelah memperoleh sertifikat RSPO tidak
terdapat perbedaan pada α = 0.05, nilai t-hitung = 0.851 dan t-tabel = 12.70. Pada rata-rata pendapatan dapat dilihat bahwa rata-rata-rata-rata pendapatan PTPN III setelah
mendapatkan RSPO lebih besar dibandingkan sebelum mendapatkan sertifikat RSPO. Maka, t-hitung < t-tabel maka keputusannya adalah H1 ditolak dan H0 diterima. Sehingga secara statistik dapat dinyatakan tidak ada perbedaan pada pendapatan PTPN III sebelum memperoleh sertifikat RSPO dengan setelah memperoleh sertifikat RSPO.
Sehingga dari analisis uji beda 4 (empat) komponen di atas dapat disimpulkan bahwatidak terdapat perbedaan baik harga, volume penjualan, biaya produksi dan tentu saja pendapatan pada PTPN III setelah perusahaan perkebunan tersebut mensertifikasi perusahaan perkebunannya. Jadi RSPO tidak akan meningkatkan pendapatan suatu perusahaan perkebunan dalam jangka pendek. 5.3. Pertimbangan Suatu Perusahaan Perkebunan Untuk Mendapatkan Atau
Tidak Mendapatkan Sertifikat RSPO PTPN III
PTPN III selaku perusahaan perkebunan pertama di Indonesia yang telah menerima sertifikat RSPO memiliki beberapa alasan untuk mensertifikasi unit-unit kebun ataupun pabrik kelapa sawit yang diusahakan. PTPN III memperoleh sertifikat RSPO pada 16 Agustus 2010 dengan perjalanan dan tahapan yang panjang sejak tahun 2008. Sebelumnya PTPN III telah menjadi anggota RSPO sejak tahun 2008. Menurut data yang diperoleh dari badan RSPO, ada 46 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang telah bergabung menjadi anggota RSPO dan 13 perusahaan perkebunan diantaranya telah memperoleh sertifikasi dari badan RSPO tersebut (Lampiran 31).
70
Maraknya isu negatif terhadap minyak sawit seperti menjadi penyebab kerusakan lingkungan dan keanekaragaman hayati, penyebab degradasi lahan dan deforestrasi, terpinggirkannya penduduk lokal, berkurangnya satwa langka dan penyebab emisi gas rumah kaca, dan lain sebagainya. Untuk menjawab isu tersebut, stakeholder kelapa sawit internasional telah sepakat membentuk asosiasi nirlaba yakni Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Organisasi ini bertujuan untuk mengimplementasikan standar global untuk minyak sawit berkelanjutan. RSPO merupakan organisasi yang standardnya diakui oleh internasional sehingga PTPN III ikut dalam organisasi ini dan mengurus sertifikat agar CPO yang dihasilkan PTPN III diakui pasar internasional sebagai CPO yang dihasilkan dengan memperhatinkan keberlanjutan lingkungan dan ekosistem.
PT. Perkebunan Nusantara III sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sebagian besar bisnisnya bergerak dalam pengelolaan kelapa sawit sangat peduli terhadap Pengelolaan Sawit Lestari. PTPN III juga merasa peduli terhadap masyarakat sekitar tempat industri kelapa sawit. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaan PT. Perkebunan Nusantara III dalam keanggotaan RSPO dengan berperan aktif dalam memberikan sumbangsih saran untuk meningkatkan serta memajukan prinsip dan kriteria RSPO. Memang belum ada konsekuensi jika suatu perusahaan perkebunan tidak mendapat sertifikat RSPO namun sebagai suatu perusahaan perkebunan yang selalu berusaha memberikan yang terbaik sesuai visi dan misinya maka PTPN III memilih untuk mengurus sertifikat RSPO.
Alasan lain yang dikemukakan oleh PTPN III adalah adanya permintaan pasar akan CSPO (Certified Sustainable Palm Oil). Dari data yang diperoleh dari RSPO (2011) penjualan CSPO sampai dengan September 2011 meningkat menjadi 1.764.039 juta ton dari tahun 2010 sebesar 1.281.134 juta ton. Oleh karena adanya permintaan pasar tersebut maka PTPN III merasa adanya peluang untuk mensertifikasi perkebunannya. Jika dilihat dari share margin total ekspor PTPN III terhadap kebutuhan minyak kelapa sawit dunia di 2 (dua) tahun terakhir cukup besar yakni menyumbangkan 4,84 % di tahun 2010 dan 1,55 % sampai dengan Agustus 2011. Namun, mereka juga sadar akan biaya yang tinggi untuk mengurusi sertifikasi RSPO tersebut dan belum adanya kompensasi akan harga premium dari penjualan CSPO tersebut. Sehingga walaupun banyaknya permintaan akan CPO yang dihasilkan oleh perusahaan perkebunan bersertifikat RSPO belumlah menutupi biaya yang dikeluarkan dalam pengurusan sertifikat RSPO.
PTPN II
Lain halnya dengan pertimbangan yang dikemukakan oleh PTPN II tentang mengapa mereka tidak mengurus sertifikat RSPO atau bahkan tidak menjadi anggota RSPO. Beberapa tanggapan PTPN II terhadap RSPO adalah sebagai berikut:
1. RSPO merupakan sesuatu hal yang bagus dalam industri kelapa sawit namun tergantung kondisi pelaku industri kelapa sawit itu sendiri. Dalam kegiatan RSPO dituntut produksi yang berkelanjutan mulai dari lahan, produk dan lingkungan. Dengan demikian diperlukan adanya teknologi dalam proses ini
72
karena limbah yang dihasilkan tidak boleh mengganggu lingkungan agar terjadi keberlanjutan produksi.
2. Sistem dan Lingkungan Tempat Industri Kelapa Sawit itu Ada
Sistem yang dimaksudkan disini adalah peraturan pemerintah dan peraturan perindustrian. Belum adanya peraturan pemerintah akan pentingnya suatu perusahaan perkebunan mensertifikasi perkebunannya. Terdapat dampak negatif yang ditimbulkan dari pengembangan industri kelapa sawit, seperti kerusakan lingkungan dan konflik sosial. Dampak negatif ini terjadi karena terdapat distorsi tata kelola dan implementasi peraturan perundang-undangan terutama terkait dengan perizinan. Prospek positif industri kelapa sawit ternyata juga diwarnai dinamika Negara pengimpor minyak sawit yang mengarah pada kampanye negatif kelapa sawit. Dua isu menonjol yang ditampilkan adalah pembangunan kelapa sawit dikaitkan dengan perubahaniklim sebagi akibat dari kerusakan lingkungan (emisi karbon, degradasi lahan dan kehilanganbiodiversity) dan juga dikaitkan dengan konflik sosial. Pertumbuhan ekonomi sebagai hasil pengembangan industri kelapa sawit diklaim menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan lingkungan dan konflik sosial. Salah satu perusahaan besar nasional (Sinar Mas) mengalami pembatalan kontrak yang dilakukan oleh beberapa perusahaan multinasional (Unilever, Nestle dan Burger King).Dampak negatif yang ada terhadap lingkungan di atasi dengan kebijakan penerapan standar pembangunan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia (ISPO) secara mandatory. ISPO ini dirancang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Konflik sosial yang ada di atasi dengan kebijakan pengembangan mekanisme
resolusi konflik, terutama terkait dengan sertifikat lahan dan Hak Guna Usaha (HGU), pengembangan aksesibilitas petani terhadap sumber daya untuk peningkatan produktivitas dan peremajaan. Sementara, masalah perizinan di atasi dengan kebijakan reformasi tata kelola perizinan dan transparansi informasi. Kebijakan menanggulangi kelemahan di atas digunakan untuk memanfaatkan peluang melalui penerapan kebijakanpengembangan (diversifikasi) dan peningkatan nilai tambah produk. Sustainable Palm Oil
(ISPO) merupakan petunjuk pelaksanaan pengembangan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia yangdidasarkan kepada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia. ISPO ini dapat dijadikan alat promosi, advokasi dan kampanye publik untuk memperkuat posisi tawar kelapa sawit Indonesia. Seperti ditentukan dalam konsep, ISPO mensyaratkan 7 prinsip yangditurunkan tidak kurang dari 20 peraturan perundang-undangan dalam penerapan pembangunan perkebunan kelapa sawit, yaitu:
1. Sistem perizinan dan manajemen kebun
2. Penerapan pedoman teknis sistem budidaya dan pengolahan kelapa sawit 3. Pengelolaan dan pemantauan lingkungan
4. Tanggung jawab terhadap pekerja
5. Tanggung jawab terhadap individu dan komunitas (masyrarakat sekitar perkebunan kelapa sawit)
6. Pemberdayaan kegiatan ekonomi masyarakat
7. Komitmen terhadap perbaikan ekonomi secara terus menerus.
ISPO secara resmi ditandatangani oleh Menteri Pertanian Suswono pada 30 Maret 2011 dan kebijakan standardisasi usaha sawit nasional tersebut
74
tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 19 tahun 2011. Berdasarkan ISPO, perusahaan perkebunan kelapa sawit harus memenuhi tujuh prinsip, 41 kriteria, dan 28 indikator sebelum memperoleh sertifikasi ISPO.
ISPO penting diberlakukan karena aturan yang terdapat pada RSPO hanya mengutamakan kepentingan konsumen sementara kepentingan produsen tidak diperhatikan sama sekali. prinsip dasar ISPO adalah mengatur perkembangan industri sawit di dalam negeri agar tidak merusak lingkungan. Meski demikian, penyusunan ISPO tetap mengacu dan disesuaikan pada kondisi lingkungan maupun kepentingan pembangunan di Indonesia. Karena itulah, pemerintah mengambil keputusan mengembangkan standar regulasi tersendiri kendati saat ini sudah ada standar dan aturan internasional yang disebut Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). pentingnya ISPO, mengingat selama ini pengembangan kelapa sawit di Indonesia selaku berpedoman pada peraturan luar negeri yang terkadang tidak sesuai dengan kondisi di Indonesia. Contohnya, RSPO tidak membedakan aturan perkebunan sawit yang dikelola oleh perusahaan perkebunan besar dengan kebun sawit yang dikelola oleh petani perorangan.
Hampir seluruh unit kebun PTPN II dekat dengan pemukiman atau pusat kota berbeda halnya dengan lingkungan unit kebun PTPN III yang berada jauh dari pemukiman. Dengan demikian sulit untuk menjaga kelestarian lingkungan di sekitar perkebunan. Sehingga sulit bagi PTPN II untuk mendapatkan sertifikat RSPO namun PTPN II akan berusaha mengikuti peraturan yang ditetapkan dalam ISPO.
3. Adanya Persaingan
PTPN II melihat adanya sertifikasi RSPO adalah suatu barrier (hambatan) bagi CPO yang berasal dari Indonesia untuk masuk ke pasar negara Uni Eropa. Pasar Uni Eropa ingin melindungi produk sejenis kelapa sawit yang berasal dari negara mereka dengan politik dumping. Dalam rangka memperkuat daya saing minyak nabati selain minyak sawit, stakeholders minyak nabati lain dimotori oleh LSM lingkungan dan sosial dalam kerangka RSPO mengembangkan hambatan teknis bagi minyak kelapa sawit. Alasannya adalah peningkatan luas areal kelapa sawit diklaim sebagian berasal dari konversi hutan alam dan lahan gambut yang berpengaruh terhadap perubahan iklim global. Minyak kelapa sawit menghadapi hambatan teknis perdagangan melalui pemberlakuan prinsip dan kriteria pembangunan berkelanjutan, sementara hal yang sama tidak berlaku untuk minyak nabati lain (minyak rapeseed, kedelai dan lainnya). Akibatnya, persaingan antar minyak nabati menjadi tidak sesuai ketentuan WTO yang menerapkan tarif impor.
4. Penjualan CPO cenderung masih local oriented
Jika dilihat dari share margin total ekspor PTPN II terhadap kebutuhan minyak kelapa sawit dunia di 2 (dua) tahun terakhir tidak terlalu besar yakni hanya menyumbangkan 3,48 % di tahun 2010 dan 1,10 % sampai dengan Agustus 2011. Sehingga dari penjualan yang tidak berorientasi ekspor dan tidak banyaknya konsumen dari pasar dunia terutama Uni Eropa maka PTPN II mempertimbangkan bahwa sertifikasi RSPO belum penting untuk lahan perkebunannya.
76