• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Sejarah Berdirinya PT. Berlian Laju Tanker

PT. Berlian Laju Tanker Tbk didirikan berdasarkan akta No. 60 tanggal 12 Maret 1981 dengan nama PT. Bhaita Laju Tanker, yang kemudian dengan akta No. 4 tanggal 5 September 1988 di ubah namanya menjadi PT Berlian Laju Tanker. PT Berlian Laju Tanker adalah perusahaan yang bergerak di bidang transportasi. Perusahaan ini bahkan disebut-sebut sebagai a leading tanker operator in the world. Saat pertama didirikan BLTA berfungsi sebagai penyalur domestik tanker minyak Pertamina, lalu BLTA berkembang ke tanker untuk bahan-bahan kimia dan gas. BLTA tidak bergantung pada Pertamina, tapi menjadi pilihan perusahaan minyak dan kimia terkemuka dunia, seperti Exxon, Shell, BASF, SABIC dan Dow Chemical.

Pada tahun 1990, BLTA menjadi perusahaan pelayaran Indonesia pertama yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. BLTA memiliki jaringan internasional yang kuat, baik dalam wilayah pengoperasian, maupun penjualan dan pemasaran. BLTA memperluas jaringan hampir di seluruh dunia dengan pendirian anak perusahaan, antara lain : GBLT UK Shipmanagement (UK) di Glasgow, GBLT Shipmanagement Pte Ltd di Singapore, dan Gold Bridge Shipping Ltd di Hongkong. BLTA juga membuka cabang di Bangkok, Shanghai,

47 Beijing, Mumbai, Dubai, Westport, dan Sao Paolo. Kunci sukses BLTA, terletak pada reputasi yang bagus dalam keamanan , keterjangkauan dan ketersediaan armada tanker, serta dalam hal harga.

Perusahaan memiliki 100% saham Indigo Pacific International Corporation, Diamond Pacific International Corporation dan Asean Maritime Corporation (ketiganya berkedudukan di luar negeri dan bergerak dalam bidang investasi). Perusahaan juga memiliki PT Banyu Laju Shiping, PT Brotojoyo Maritime dan PT Buana Listya Tama yang bergerak dalam bidang agen perkapalan. BLTA berkedudukan di Jakarta, mempunyai dua kantor cabang di Merak dan Dumai. Kantor pusat beralamat di Wisma Bina Surya Group (BSG) Lt.10 Jl. Abdul Muis No. 40 , Jakarta.

Sebelumnya , BLTA telah menerbitkan sukuk mudharabah pada tahun 2003 dengan margin bagi hasil 25% dan berhasil menarik banyak investor. Sehingga pada perkembangan selanjutnya , BLTA membutuhkan dana yang lebih besar untuk pengembangan usaha yang kemudian BLTA menerbitkan sukuk ijarah pada tahun 2007 dengan kapal tanker milik BLTA sebagai underlying asset nya. BLTA menerbitkan sertifikat sukuk ijarah tersebut dan memperoleh dana dari investor dengan mentransfer manfaat kapal tanker kepada investor. Investor memberikan kepercayaan kepada BLTA untuk menyewakan kapal tersebut kepada pihak ketiga. Dari transaksi tersebut, BLTA memperoleh uang sewa secara berkala, dan mendistribusikan kepada investor sebagai fee ijarah .

48 PT BLTA menerbitkan sukuk ijarah selama dua tahap yaitu pada tahun 2007 dan 2009 yang keduanya jatuh tempo pada tahun 2012. Sukuk BLTA I diterbitkan tahun 2007 sebesar Rp 200 milyar dengan tenor 5 tahun dan jatuh tempo pada tanggal 5 Juli 2012, dengan objek ijarah berupa kapal tanker. Pembayaran cicilan dan fee ijarah sebesar Rp 5.150.000.000,- per kuartal (3bulan) dengan discount rate sebesar 10,3% . Rating PEFINDO (PT Pemeringkat Efek Indonesia) pada saat sukuk ijarah diterbitkan adalah id AA- (sy).

Sukuk BLTA II diterbitkan pada tahun 2009 dan dibagi menjadi dua seri yaitu seri A dengan nilai sebesar Rp 45 milyar dan seri B dengan nilai sebesar Rp 55 milyar. Berjangka waktu 3 tahun dan jatuh tempo pada tanggal 28 Mei 2012 , dengan objek ijarah berupa kapal tanker. Discount rate untuk seri A adalah 15,5% dan discount rate untuk seri B adalah 16,25%. Pembayaran cicilan dan fee ijarah dibayarkan per triwulan (3bulan).

Pada perkembangan selanjutnya , PT Berlian Laju Tanker menunda pelunasan pokok dan pembayaran fee Ijarah ke-20 Sukuk Ijarah BLTA I tahun 2007 serta Sukuk Ijarah BLTA II tahun 2009 seri A dan seri B pada kuartal kedua tahun 2012 yang seharusnya menjadi tanggal jatuh tempo ketiga sukuk tersebut. Dan pada juli 2012, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat sukuk ijarah milik PT Berlian Laju Tanker dari idCCC menjadi idD atau default yang dikarenakan ketidakmampuan BLTA membayar pokok pinjaman beserta fee ijarah.

49 2. Skema Sukuk Ijarah PT Berlian Laju Tanker

PT Berlian Laju Tanker (BLTA) menerbitkan sukuk ijarah untuk memperoleh dana dari investor dengan mentransfer manfaat kapal tanker sebagai underlying asset nya kepada investor. Kemudian PT BLTA membantu investor untuk mencari end customer yang berminat untuk menyewa kapal tanker PT BLTA tersebut. Dari transaksi dengan end customer tersebut, PT BLTA memperoleh fee sewa secara berkala yang diteruskan kepada investor sebagai fee ijarah (discount rate). Pada skema ini tidak digunakan SPV karena konsep SPV tidak dikenal dalam rezim hukum di Indonesia. (Siskawati , 2010:6) . Berikut adalah skema sukuk ijarah PT Berlian Laju Tanker (BLTA) :

Gambar 4.1

Skema Sukuk Ijarah PT BLTA

e a

f d

g c b

Keterangan :

a. PT BLTA (Originator) menerbitkan Sukuk Ijarah b. Investor membeli Sertifikat Sukuk Ijarah

c. Investor menyetorkan dana

d. Dana atas pembelian kapal tanker oleh investor diserahkan kepada PT BLTA

Pihak Penyewa Tanker

(end customer) Originator

Sertifikat Sukuk

50 e. Investor memberikan amanah kepada originator untuk mengelola penyewaan

kapal tanker kepada pihak ketiga

f. Originator menerima fee dari penyewaan kapal tanker

g. Originator mendistribusikan fee sewa atas kapal tanker dalam bentuk fee ijarah (discount rate) secara periodik kepada investor

3. Deskripsi Variabel Penelitian a. Fee Ijarah Default Sukuk

Pada penelitian ini, yang dijadikan variabel dependen adalah fee ijarah default sukuk. Default Sukuk dapat dideskripsikan sebagai suatu keadaan dimana emiten selaku debitur yang telah melakukan ingkar janji (wanprestasi) terhadap kewajibannya untuk membayar pokok pinjaman dan atau discount rate (fee ijarah) pada saat jatuh tempo kepada investor. PT BLTA dinyatakan default setelah tidak mampu membayar discount rate (fee ijarah) dan pokok pinjaman para investor pada tahun 2012. Sebelumnya , PT BLTA tetap teratur melakukan pembayaran discount rate dari mulai kuartal III tahun 2007 hingga kuartal I 2012. Berikut adalah tabel pembayaran discount rate (fee ijarah) PT BLTA :

Tabel 4.1

Tabel Pembayaran Discount Rate (Fee ijarah) PT BLTA

2007 2008 2009 2010 2011 2012

kuartal I 0,103 0,103 0,140 0,140 0,140

kuartal II 0,103 0,103 0,140 0,140

kuartal III 0,103 0,103 0,140 0,140 0,140

kuartal IV 0,103 0,103 0,140 0,106 0,140

51 Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa pembayaran fee ijarah (discount rate) pertama dilakukan pada kuartal III karena sukuk ijarah PT BLTA diterbitkan pertama kali pada Juli 2007. Peningkatan pembayaran discount rate pada pertengahan tahun 2009 disebabkan karena penerbitan sukuk ijarah kedua yaitu seri A dan seri B. Namun pada kuartal kedua 2012 , PT BLTA mengalami masalah yang berakibat pada kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran fee ijarah (discount rate) dan pokok pinjaman yang jatuh tempo pada Mei 2012 . Dan pada akhirnya pada juli 2012, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat sukuk ijarah milik PT Berlian Laju Tanker dari idCCC menjadi idD atau default yang dikarenakan ketidakmampuan BLTA membayar pokok pinjaman beserta fee ijarah atau fee ijarah .

b. Inflasi

Krisis global yang terjadi di Amerika pada tahun 2008 telah memberikan dampak buruk baik pada negara maju maupun negara berkembang. Pada tahun 2007, tingkat inflasi di Indonesia hanya sebesar 6 % . Terjadinya krisis global mengakibatkan naiknya tingkat inflasi Indonesia pada tahun 2008 sebesar 10,3 %. Sedangkan pada tahun-tahun berikutnya inflasi Indonesia mengalami penurunan. Berikut adalah data inflasi periode tahun 2007 sampai tahun 2012 :

52 Tabel 4.2

Data Inflasi

Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

Jika ditinjau berdasarkan pergerakan inflasi periode tahun 2007 sampai tahun 2012 diperoleh sebagai berikut :

Grafik 4.1 Perkembangan Inflasi

Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

Berdasarkan grafik 4.1 dapat diketahui bahwa perkembangan tingkat inflasi dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi. Tingkat Inflasi di Indonesia mempunyai rata-rata tertinggi pada kuartal III tahun 2008 dan tingkat inflasi terendah terjadi pada kuartal IV tahun 2009, dimana angka rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Juli - September 2008 sebesar 11,96% dan angka terendah berada pada bulan Oktober - Desember 2009 sebesar 2,59%. Hal ini dikarenakan Indonesia masih

0,00% 5,00% 10,00% 15,00%

Kuartal I Kuartal II Kuartal III Kuartal IV

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Kuartal I 0.064 0.076 0.086 0.037 0.068 0.037 Kuartal II 0.060 0.101 0.057 0.044 0.059 0.045 Kuartal III 0.065 0.120 0.028 0.062 0.047 0.045 Kuartal IV 0.067 0.115 0.026 0.063 0.041 0.044

53 terkena dampak krisis global yang melanda Amerika di tahun 2008. Namun pada kuartal berikutnya Indonesia mengalami deflasi berturut-turut. Hal tersebut menggambarkan kondisi perekonomian terarah lebih baik dibandingkan di tahun 2008 dan mulai stabil pada tahun 2012 yaitu sekitar 4 %.

c. Jumlah Uang beredar

Banyaknya jumlah uang beredar mencerminkan perkembangan ekonomi. Apabila perekonomian suatu negara tumbuh dan berkembang, biasanya jumlah uang beredar bertambah. Dan apabila perekonomian semakin maju, porsi penggunaan uang kartal makin sedikit, digantikan uang giral atau near money yang lebih banyak beredar di masyarakat. Berikut adalah data jumlah uang beredar selama periode 2007-2012 :

Tabel 4.3

Data Jumlah Uang Beredar (dalam milyar Rupiah)

2007 2008 2009 2010 2011 2012 kuartal I 1.368.891 1.590.616 1.897.035 2.084.141 2.436.076 2.872.231 kuartal II 1.409.549 1.648.246 1.939.075 2.163.467 2.477.516 2.989.890 kuartal III 1.491.083 1.707.567 1.991.585 2.243.001 2.609.744 3.032.416 kuartal IV 1.576.516 1.842.649 2.075.036 2.375.953 2.761.515 3.323.833 Sumber : Bank Indonesia (diolah)

Perubahan dalam uang beredar akan menimbulkan perubahan tingkat bunga. Keynes berpendapat bahwa apabila uang beredar bertambah maka permintaan akan uang untuk tujuan spekulasi akan bertambah, atau sebaliknya apabila uang

54 beredar berkurang maka permintaan akan uang untuk tujuan spekulasi akan berkurang. Perubahan ini akan menimbulkan perubahan atas tingkat bunga, yaitu pertambahan uang beredar akan menambah uang untuk tujuan spekulasi, maka tingkat bunga akan turun (Sukirno, 2001:250). Berikut adalah perkembangan jumlah uang beredar tahun 2007-2012 :

Grafik 4.2

Perkembangan Jumlah Uang Beredar

Sumber : Bank Indonesia (diolah)

Berdasarkan grafik 4.2 , jumlah uang beredar di Indonesia menunjukkan kenaikan tiap tahun nya. Pada tahun 2007 rata-rata per tahun mencapai 1.461.510 milyaran Rupiah dan terus mengalami peningkatan pada tahun 2012 mencapai 3.323.833 milyaran Rupiah.

d. BI rate

BI rate merupakan suku bunga acuan Bank Indonesia dan merupakan sinyal (stance ) dari kebijakan moneter Bank Indonesia. BI rate adalah suku bunga

0 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000 3.000.000 3.500.000

Kuartal I Kuartal II Kuartal III Kuartal IV

2007 2008 2009 2010 2011 2012

55 Bank Indonesia yang ditetapkan pada Rapat Dewan Gubernur untuk berlaku selama triwulan berjalan. Berikut adalah data BI rate selama periode 2007-2012 :

Tabel 4.4 Data BI rate 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Kuartal I 0.093 0.080 0.083 0.065 0.067 0.058 Kuartal II 0.088 0.083 0.073 0.065 0.074 0.058 Kuartal III 0.083 0.090 0.066 0.065 0.068 0.058 Kuartal IV 0.082 0.094 0.065 0.065 0.058 0.058 Sumber : Bank Indonesia (diolah)

Tingkat keuntungan yang diharapkan dari adanya investasi akan menurun dengan cepat jika tingkat bunga meningkat, sehingga bagi para pelaku ekonomi semakin rendah tingkat suku bunga adalah semakin baik. Apabila tingkat suku bunga semakin tinggi, maka para investor lebih cenderung menggunakan dana nya dalam bentuk deposito dibandingkan berinvestasi di pasar modal. Jika ditinjau berdasarkan perkembangan BI rate tahun 2007 sampai tahun 2012 akan diperoleh grafik sebagai berikut :

Grafik 4.3 Perkembangan BI rate 0,00% 2,00% 4,00% 6,00% 8,00% 10,00%

Kuartal I Kuartal II Kuartal III Kuartal IV

2007 2008 2009 2010 2011 2012

56 Berdasarkan grafik 4.3 dapat diketahui bahwa tingkat suku bunga yang tertinggi terjadi pada akhir tahun 2008 pada kuartal IV, BI rate terendah terjadi pada tahun 2011 kuartal IV, dimana suku bunga tertinggi pada bulan November-Desember tahun 2008 yaitu sebesar 9,41%, sedangkan suku bunga terendah pada bulan Oktober-Desember tahun 2011 yaitu sebesar 6,16% dan mulai stabil di tahun 2012. Dalam sektor keuangan, BI rate memiliki korelasi yang terbalik dengan nilai surat berharga dalam pasar modal. Apabila BI rate naik maka nilai surat berharga akan menurun, begitu juga sebaliknya, apabila BI rate turun maka nilai surat berharga akan cenderung naik.

e. Kurs Rupiah

Kurs dalam keuangan dikenal sebagai nilai tukar mata uang asing terhadap pembayaran saat kini atau di kemudian hari, untuk memperoleh atau membeli satuan jenis mata uang. Pemerintah Indonesia biasanya berperan dalam penentuan kurs agar sampai pada tingkat yang kondusif bagi dunia usaha. Tingkat keuntungan yang diharapkan dari adanya investasi akan menurun dengan cepat jika nilai kurs berubah tajam, sehingga bagi para pelaku ekonomi semakin rendah tingkat perubahan nilai kurs adalah semakin baik.

Kurs khususnya kurs Rupiah terhadap Dollar sangat sering digunakan karena mata uang ini merupakan mata uang dunia yang sering digunakan dalam perdagangan dan berkaitan erat mempengaruhi arus barang dan jasa serta modal dari dalam dan keluar Indonesia. Dalam hal ini Indonesia sebagai negara pengimpor sehingga banyak komponen harga barang mengandung unsur kurs.

57 Akibatnya jika kurs meningkat maka berdampak terhadap perdagangan dan kemampuan keuangan perusahaan-perusahan. Berikut adalah data nilai tengah kurs Rupiah terhadap Dollar selama periode 2007-2012 :

Tabel 4.5 Data Kurs

Sumber : Bank Indonesia (diolah)

Kurs ini mengakibatkan investasi yang dilakukan mengandung risiko untuk menjadi lebih besar dari sebelumnya. Jadi saat dimana nilai kurs tinggi merupakan bukan saat yang tepat untuk melakukan investasi karena mengandung risiko penurunan kemampuan keuangan suatu perusahaan. Berikut perkembangan kurs Rupiah tahun 2007 sampai tahun 2012 diperoleh sebagai berikut :

Grafik 4.4

Perkembangan Kurs Rupiah

Sumber : Bank Indonesia (diolah)

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000

kuartal I kuartal II kuartal III kuartal IV

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2007 2008 2009 2010 2011 2012 kuartal I 9122,67 9186,33 11636,67 9271,67 8863 9088,33 kuartal II 8988,33 9259 10426 9091,67 8569,33 9411,67 kuartal III 9244,33 9216,33 9887 8972,33 8636,33 9544,33 kuartal IV 9299,33 11365,3 9523,33 8977,33 9024,33 9630

58 Berdasarkan grafik 4.4, Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar (USD) cenderung berfluktuasi selama periode pengamatan, ini bisa dilihat dari rata-rata nilai tengah tukar Rupiah terhadap Dollar (USD) pada tahun 2009 sebesar Rp. 11.600 per Dollar menjadi Rp 9.200 per Dollar pada tahun 2010, Namun pada tahun 2012 kurs Rupiah terhadap Dollar kembali melemah menjadi Rp 9600 per Dollar. B. Pengujian dan Pembahasan

Model yang digunakan sebagai alat analisis untuk penelitian ini adalah Ordinary Least Square (pangkat kuadrat terkecil) . OLS bertujuan untuk mengetahui hubungan antara suatu variabel dependen dan variabel independen. Pengolahan data dilakukan secara elektronik dengan menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS 18 untuk mempercepat perolehan hasil yang dapat menjelaskan variabel-variabel yang akan diteliti. Penyajian penelitian ini akan dilakukan beberapa pengujian tahap awal menggunakan pengujian asumsi klasik berupa : Uji Normalitas, Uji Multikolinieritas, Uji Heteroskedastisitas dan Uji Autokorelasi serta uji kesesuaian model dan hipotesis menggunakan Adjusted R square, uji F, dan uji t.

1. Pengujian Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependent, variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Salah satu cara termudah untuk melihat data

59 berdistribusi normal atau tidak adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal , dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Berikut ini adalah uji normalitas dengan normal probability plot :

Grafik 4.5

Uji Normalitas dengan Normal P-P Plot

Berdasarkan tampilan grafik 4.5 , terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal dan penyebarannya mendekati atau mengikuti garis diagonal sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.

Untuk melakukan uji normalitas juga dapat menggunakan uji statistik yaitu dengan menggunakan uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S).

60 Pedoman Suatu regresi berdistribusi normal atau tidak, menggunakan hipotesis sebagai berikut :

Ho = Data berdistribusi normal Ha = Data berdistribusi tidak normal

Ho diterima apabila nilai sig lebih besar daripada 0,05 dan Ho ditolak (Ha diterima) apabila nilai sig lebih kecil daripada 0,05. Berikut ini adalah uji normalitas menggunakan uji kolmogorov-Smirnov :

Tabel 4.6

Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov Test One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 19

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation .00962055

Most Extreme Differences Absolute .116

Positive .070

Negative -.116

Kolmogorov-Smirnov Z .506

Asymp. Sig. (2-tailed) .960

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Dapat dilihat pada tabel 4.6 bahwa nilai sig adalah 0,960 yang berarti nilai sig > 0,05 yang artinya seluruh data pada model persamaan regresi dengan variabel dependen fee ijarah default sukuk berdistribusi secara normal.

61 b. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Metode statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan uji glejser. Uji glejser dilakukan dengan meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen lainnya yang apabila nilai sig diatas 0,05 maka tidak terdapat masalah heteroskedastisitas. Berikut ini adalah uji heteroskedastisitas menggunakan uji glejser :

Tabel 4.7 Uji Heteroskedastisitas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .037 .019 1.960 .070 Inflasi .097 .087 .508 1.115 .283 JUB -5.039E-9 .000 -.402 -1.299 .215 Kurs 1.027E-6 .000 .166 .545 .594 BIrate -.470 .233 -1.218 -2.019 .063

a. Dependent Variable: AbsUt

Dalam tabel 4.7 menunjukan bahwa variabel inflasi, jumlah uang beredar, kurs, dan BI rate memiliki nilai sig 0,283; 0,215; 0,594; dan 0,63 yang kesemuanya diatas 0,05. Berarti tidak terdapat masalah heteroskedastisitas dalam model ini, dengan kata lain semua variabel independen yang terdapat dalam model ini memiliki sebaran varian yang sama / homogen.

62 c. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen yang digunakan dalam penelitian. Pedoman bahwa suatu persamaan regresi tidak terjadi masalah multikoliniearitas adalah data mempunyai nilai VIF (Variance Inflation Factor) < 10 dan mempunyai nilai TOLERANCE > 0,1 . Berikut adalah hasil dari uji multikolinieritas :

Tabel 4.8. Uji Multikolinieritas

Dapat dilihat pada table 4.8 bahwa nilai VIF semua variabel kurang dari 10, dan nilai dari Tolerance lebih dari 0,1 . Hal ini menandakan bahwa pada persamaan regresi linier berganda dengan variabel dependent fee ijarah default sukuk tidak terdapat masalah multikolinieritas.

Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

1 Inflasi .241 4.145

JUB .523 1.912

Kurs .541 1.849

BIrate .137 7.279

63 d. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi salah satunya yang umum digunakan adalah dengan Uji Durbin Watson. Suatu model regresi dinyatakan tidak terdapat permasalahan autokorelasi apabila :

du < d < 4 - du

Dimana :

d = Nilai DW hitung

du = Nilai batas atas tabel Durbin Watson Tabel 4.9 Uji Autokorelasi

Model Durbin-Watson

1 2.090a

Pada tabel 4.9 , nilai DW hitung sebesar 2,090 akan dibandingkan dengan nilai DW tabel . Dengan menggunakan derajat kepercayaan 5%, jumlah sampel 19 dan jumlah variabel independen 4 , maka di tabel DW akan diperoleh nilai :

Model Summaryb

a. Predictors: (Constant), BIrate, Kurs, JUB, Inflasi b. Dependent Variable: Ijroh

64 Tabel 5.0

Durbin Watson Tabel

Oleh karena nilai DW hitung lebih besar daripada batas atas 1,8482 dan lebih kecil daripada 4 - du = 4 - 1,8482 = 2,1518 , atau :

du < d < 4 - du

1,8482 < 2,090 < 4 - 1,8482 1,8482 < 2,090 < 2,151

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi positif dan negatif dalam model regresi ini.

Dokumen terkait