• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah dan Perkembangan Penerbitan Indonesia

Dalam dokumen EKONOMI KREATIF Rencana Pengembangan PEN (Halaman 34-44)

BAB 1 PERKEMBANGAN PENERBITAN DI INDONESIA

1.2 Sejarah dan Perkembangan Penerbitan

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Penerbitan Indonesia

Sejarah penerbitan di mana pun tentunya terkait erat dengan sejarah pers, tak terkecuali di Indonesia yang kemudian dapat dirunut ke dalam beberapa masa, yaitu: masa penjajahan Belanda, Era Orde Lama, Era Orde Baru, Era Reformasi.

Masa Penjajahan Belanda.Usaha penerbitan di Indonesia pada awalnya dimulai pada zaman penjajahan Belanda yang berfokus pada kegiatan pers, hal ini ditandai dengan diterbitkannya surat kabar pertama kali terbit pada 1615, yaitu Memoria der Nouvells, di mana teksnya ditulis dengan tangan. Lembar tersebut memuat informasi pemerintah VOC mengenai mutasi pejabat di wilayah Hindia Belanda. Lebih daripada satu abad kemudian, tulisan tangan tersebut diterbitkan kembali di surat kabar Bataviaasche Nouvelles pada 17 Agustus 1744 sebagai surat kabar pertama di Hindia Belanda. Surat kabar ini merupakan surat kabar pemerintah Hindia Belanda yang diterbitkan dan dicetak oleh VOC. Dalam surat kabar ini hampir seluruh halamannya dipenuhi oleh iklan. Setelah itu muncul pula penerbitan buku-buku sastra Melayu dan buku bahasa daerah.

Pelaku usaha penerbitan pada zaman Belanda cenderung dikuasai oleh para pendatang dan pribumi. Dalam rangka mengimbangi perusahaan penerbitan yang dilakukan bangsa Indonesia, maka pada 1908 Pemerintah Belanda membangun usaha penerbitan milik Belanda bernama

Commissie voor de Volkslectuur yang selanjutnya dikenal dengan nama Balai Pustaka. Sebagai badan penerbitan, Balai Pustaka mencitrakan sekumpulan orang terhormat, terpelajar, dan paling berjasa dalam membangun sastra, bahasa, dan kebudayaan Indonesia.

Salah satu penerbitan yang juga penting dalam sejarah kebudayaan dan sastra adalah Boekhandel Tan Khoen Swie. Boekhandel Tan Khoen Swie adalah penerbit yang menerbitkan buku-buku dengan penggunaan bahasa maupun gaya penulisan yang membangun nilai kultural dan estetik dalam setiap terbitannya. Kehadirannya memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan sastra, sehingga sampai saat ini buku-bukunya masih dianggap penting. Karya yang diterbitkan adalah versi-versi awal Serat Kalatidha (Ranggawarsita) dan Serat Wedhatama (Mangkunagara IV).5

Penerbit Balai Pustaka

Sejarah perkembangan industri penerbitan sangat erat kaitannya dengan berdirinya perusahaan pener- bitan dan percetakan milik negara pertama bernama Balai Pustaka pada abad ke-18. Balai Pustaka didirikan dengan nama Commissie voor de Volkslectuur (bahasa Belanda: Komisi untuk Bacaan Rakyat) oleh pemerintah Hindia-Belanda pada 1908 kemudian berubah menjadi Balai Poestaka pada 1917. Tujuan pendirian Balai Pustaka adalah untuk mengembangkan bahasa-bahasa daerah utama di Hindia Belanda. Bahasa-bahasa ini adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Melayu, dan bahasa Madura. Melalui Balai Pustaka, Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat kuat dalam karya sastra melayu, seperti Sitti Nurbaya karya Marah Rusli dan Serat Rijanto karangan Raden Bagoes Soelardi. Tetapi dalam perkembangannya, karya-karya yang dihasilkan oleh Balai Pustaka tidak lagi kompetitif dengan munculnya perusahaan penerbitan swasta yang menguasai industri dari hilir ke hulu.

Era Orde Lama. Setelah masa kemerdekaan, pada 1950-an penerbit swasta nasional mulai bermunculan. Sebagian besar berada di Pulau Jawa dan selebihnya di Sumatera. Pada awalnya, mereka bermotif politis dan idealis. Mereka ingin mengambil alih dominasi para penerbit Belanda yang setelah penyerahan kedaulatan pada 1950 masih diizinkan beroperasi di Indonesia.

Pada 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan menasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia, termasuk Balai Pustaka. Setelah itu, pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan dan perkembangan usaha penerbitan buku nasional dengan memberikan subsidi dan bahan baku kertas bagi para penerbit buku nasional dan mewajibkan penerbit menjual buku- bukunya dengan harga murah.

Pemerintah kemudian mendirikan Yayasan Lektur yang bertugas mengatur bantuan pemerintah kepada penerbit dan mengendalikan harga buku. Dengan adanya yayasan ini, pertumbuhan dan perkembangan penerbitan nasional dapat meningkat dengan cepat. Di samping itu, pada 1950, berdirilah Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang beranggotakan 13 penerbit Indonesia dan bertujuan untuk menaungi keberadaan penerbit-penerbit Indonesia.

Masa tersebut juga ditandai oleh munculnya apa yang dikenal sebagai sastrawan angkatan 1945, yang mempunyai karakteristik revolusioner dan penuh dengan nasionalisme, bebas berkarya sesuai dengan alam kemerdekaan dan hati nurani. Para sastrawan angkatan ini antara lain Chairil Anwar (Kerikil Tajam), Idrus (1948), dan Achdiat K.Miharja (Atheis). Selain itu, sejak 1950–1960-an, muncul pula komik-komik silat seperti Sri Asih (1954) karya R.A. Kosasih dan Si Buta dari Goa Hantu (1967) karya Ganes T.H.

Terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B Jassin menandakan munculnya sastrawan angkatan 1950–1960-an, antara lain Pramoedya Ananta Toer (Bukan Pasar Malam), N.H. Dini (Dua Dunia), Mochtar Lubis (Tak Ada Esok), Ajip Rosidi (Tahun-Tahun Kematian), dan W.S. Rendra (Balada Orang-Orang Tercinta).

Era Orde Baru. Pada 1965, penerbit yang menjadi anggota IKAPI telah berjumlah lebih daripada 600, namun saat itu terjadi perubahan situasi politik di tanah air. Salah satu akibat dari perubahan itu adalah keluarnya kebijakan baru pemerintah dalam bidang politik, ekonomi dan moneter. Pada akhir 1965, subsidi bagi penerbit dihapus. Akibatnya, hanya 25% penerbit yang bertahan dan situasi perbukuan mengalami kemunduran.

Masa Orde Baru dikenal sebagai masa kelam bagi industri penerbitan maupun pers. Pada masa ini, aktivitas penerbitan ditandai dengan pembredelan dan penahanan, dan tidak sedikit wartawan ataupun penulis yang dikucilkan dan dianiaya. Buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan beberapa pengarang lainnya tidak dapat dipasarkan karena dianggap bertentangan dengan ideologi yang berlaku pada masa itu.

Namun, bukan berarti dunia sastra Indonesia mati. Pada 1966–1970-an, ditandai dengan terbitnya majalah Horison pimpinan Mochtar Lubis, muncul generasi sastrawan baru, antara lain Taufik Ismail (Puisi-Puisi Langit), Umar Kayam (Para Priyayi), Sapardi Djoko Darmono (Dukamu Abadi) dan Leon Agusta (Monumen Safari).

Pada 1980 pemerintah Indonesia menyadari pentingnya peran buku untuk memajukan peradaban bangsa sehingga pada 17 Mei 1980 pemerintah membangun Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang berlokasi di Jakarta. Selanjutnya pada 17 Mei diperingati sebagai hari buku nasional

Sumber: www.profil.merdeka.com

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1925. Pram adalah salah satu sastrawan besar Indonesia yang telah menghasilkan artikel, puisi, cerpen, dan novel lebih daripada 50 karya dan telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa asing. Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa.

Dalam perjalanan hidupnya, beberapa karya Pram dilarang untuk dipublikasikan karena dianggap mengganggu keamanan negara pada zamannya. Meskipun demikian, Pram mendapatkan banyak penghargaan dari lembaga-lembaga di luar negeri. Salah satunya pada 1995, Pram memperoleh Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995 untuk kategori Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif.

Pram meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun. Ia merupakan sosok idealis dalam dunia kesastraan Indonesia. Karya-karya terbaik yang telah dihasilkannya antara lain, Bumi Manusia, Gadis Pantai, Arus Balik, dan N yanyi Sunyi Seorang Bisu yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, dengan judul The Mute’s Soliloquy: A Memoir.

Pram memperoleh penghargaan di antaranya: Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988; Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989; Wertheim Award, untuk pelayanannya dalam memperjuangkan emansipasi orang Indonesia dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995; UNESCO Madanjeet Singh Prize, sebagai pengakuan pada kontribusinya dalam mengkomunikasikan toleransi dan tanpa kekerasan dari UNESCO, Prancis, 1996; Doctor of Humane Letters, sebagai pengakuan pada tulisannya yang melawan tirani dan perjuangannya dalam kebebasan intelektual dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999; Chancellor’s distinguished Honor Award, untuk kontribusinya terhadap toleransi etnis dan pemahaman global, dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999; Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Perancis, 1999; New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000; Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000; The Norwegian Authors Union, 2004; Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004.

Era Reformasi.Setelah Reformasi bergulir tahun 1998, kebebasan penerbitan dan pers mulai diperoleh kembali. Pada 1999, dikeluarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Di dalam undang-undang yang menyangkut kebebasan pers, tidak ada lagi penyensoran, pembredelan, dan pelarangan penyiaran pada pers nasional.

Setelah itu, terjadilah booming penerbitan media massa yang menghasilkan potret dunia penerbitan di Indonesia yang jauh lebih terbuka dibandingkan masa-masa sebelumnya. Fenomena ini ditandai dengan munculnya media-media baru baik cetak maupun elektronik dengan berbagai kemasan dan segmen. Namun, di sisi lain, beberapa pihak beranggapan bahwa tidak ada keseimbangan antara kebebasan pers/penerbitan dengan tanggung jawab sosial. Media menjadi bebas untuk mengeksploitasi informasi bersifat sensasional tanpa ada penegakan terhadap peraturan perundangan serta etika jurnalistik yang berlaku. Oleh karena itu keberadaan otoritas yang memiliki kewenangan untuk menegur atau menindaklanjuti kebijakan mengenai konten perlu segera diberikan wewenang yang memadai.

Dari sisi karya, misalnya terkait dengan komik, di masa ini ditandai dengan munculnya generasi baru komikus Indonesia seperti Is Yuniarto dengan komik Wind Rider-nya pada pertengahan akhir 2000-an. Selain itu, tidak sedikit buku terbit dan kemudian menjadi bestseller alias laris manis di pasaran dan terus diperbincangkan publik. Novel-novel ini banyak juga yang lantas diadaptasi menjadi film, antara lain Laskar Pelangi, Jakarta Undercover, Habibie & Ainun, serta karya-karya Raditya Dika yang juga sukses secara komersial dan mencetak tren sastra pribadi di dunia penerbitan.

Memasuki era digital dan Internet, timbul dilema dalam keberlangsungan karya penerbitan cetak. Pada era digital, sumber informasi yang mudah diakses lewat berbagai media, tidak hanya media cetak, membuat daya tarik konsumen terhadap karya penerbitan cetak mulai menurun, terganti oleh karya cetak digital. Pada era ini, banyak penerbit di Indonesia mulai memanfaatkan format buku digital (e-book) untuk pembacanya. Era ini juga ditandai dengan munculnya penerbit- penerbit mandiri (self-publisher) yang memberikan kemudahan kepada penulis untuk menerbitkan karya kreatifnya dan memasarkannya secara mandiri. Penerbitan mandiri memiliki prinsip bahwa setiap penulis berhak menerbitkan buku seperti apa pun yang mereka kehendaki. Konsep pelayanan penerbitan self-publisher adalah membantu mewujudkan impian penulis menerbitkan buku secara gratis dan mudah.

Bila dilihat dari sejarah pendiriannya, keberadaan self-publisher di Indonesia sudah dimulai pada 2008 dengan berdirinya komikoo.com. Komikoo adalah portal pertama di Indonesia yang memuat komik online dengan konten swadaya dari para anggotanya. Keberadaannya sebagai pelopor situs komik Indonesia online memberikan kesempatan kepada komikus (penulis) berbakat untuk berekspresi atau menampilkan karya-karyanya.

Perkembangan kondisi pasar dan tingginya penetrasi penggunaan Internet di Indonesia juga menjadi alasan berdirinya platform startupself-publishing online pertama di Indonesia bernama Nulisbuku.com oleh Aulia Halimatussadiah (Ollie) dan teman-temannya pada 2010. Pendiriannya dilatarbelakangi kesulitan yang dialami beberapa penulis untuk menerbitkan buku yang mengalami penolakan dari penerbit besar karena dianggap tidak sesuai dengan selera pasar.

Dalam pemasarannya, selain menggunakan media sosial untuk kegiatan promosi, nulisbuku.com juga bermitra dengan salah satu toko buku online bernama Kutukutubuku.com (sebuah toko buku online yang menjual dan memasarkan buku-buku dengan beragam kategori dan produksi dalam dan luar negeri). Pada 2012, keberadaan self-publisher lainnya mulai bermunculan. Salah satunya adalah dapurbuku.com oleh Jonru Ginting, seorang penulis, blogger dan entrepreneur di bidang penulisan. Dapurbuku bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual buku-buku self-publishing di Indonesia.

Pada awal 2013, penerbit di Indonesia mulai mengembangkan format buku digital versi keempat atau yang dikenal dengan buku digital interaktif. Melalui buku tersebut, konsumen dapat membaca karya penerbitan secara interaktif dan aplikatif. Salah satu penerbit Indonesia yang sukses mengembangkan karya penerbitan digital adalah PT Pesona Edu. Oleh karena itu, dalam perkembangannya ke depan, penerbit Indonesia akan menghadapai banyak tantangan, di satu sisi karya cetak penerbitan mulai ditinggalkan konsumen seiring perkembangan teknologi, tetapi di sisi lain penerbitan karya digital muncul dengan versi yang terus berkembang tetapi belum sepenuhnya dapat menggantikan karya cetak penerbitan. Oleh karena itu, dibutuhkan peran pemerintah dalam mengatur kebijakan karya cetak penerbitan yang memperhatikan keberlangsungan karya penerbitan cetak dan digital secara merata di seluruh Indonesia.

Nulisbuku.com adalah sebuah perusahaan jasa layanan penerbitan mandiri (online self-publishing print on demand) di Indonesia yang membantu mewujudkan impian semua orang menerbitkan buku secara gratis dan mudah. Kehadirannya lebih sebagai mitra para penulis untuk menerbitkan buku sendiri. Nulisbuku.com menyediakan sebuah toko buku online yang digunakan sebagai tempat untuk berbagi atau menjual sebuah karya (buku) yang telah diterbitkan. Keunikan dalam pelayanannya adalah penulis dapat menentukan sendiri harga jual buku dan royaltinya sendiri. Dalam perkembangannya Nulis.buku.com memiliki anggota sebanyak 36.000 (active) dan 10.000 (inactive). Jumlah buku yang telah diterbitkan sebanyak 3.880 naskah. Twitter @nulisbuku memiliki 100.000 followers dengan Facebook Nulisbuku.com 25.146 likes. Nulisbuku.com telah memiliki 55% web visitors menggunakan desktop, 44% menggunakan smartphone, sisanya menggunakan tablet.

1982

500 SM 105 SM

Penemuan kertas yang terbuat dari serat papyrus sebagai media menulis/media informasi sekitar sungai Nil

Penemuan kertas oleh bangsa Tiongkok

ERA PRAMODERN

ERA PRAMODERN

The Diamond Sutra, sebuah gulungan tujuh halaman yang dicetak dengan balok kayu di atas kertas, yang diproduksi di Cina

abad ke-11

Cina dan Korea mengembangkan teknik pencetakan movable type, menggunakan tanah liat, kayu, perunggu dan besi

1790

Penemuan Kamera oleh Thomas Wedgewood

1892

Mesin pencetakan 4 warna ditemukan

1886

Penemuan linotype

1796

Jerman Alois Senefelder mengembangkan litografi, metode transfer gambar yang menghasilkan gambar berkualitas tinggi dicetak

1843

Mesin tenaga uap mendorong penemuan mesin pencetakan yang efisien dan menbawa bisnis penerbitan menjadi manufaktur

1891

UU Hak Cipta 1891 melarang penerbitan kembali judul bahasa Inggris dalam bentuk kertas, membuat novel hampir tidak ada

1455

Gutenberg mencetak buku pertamanya dalam bentuk Injil

1731

Majalah majalah modern pertama, diterbitkan di Inggris ‘The Gentleman’

1440

Jerman Johann Gutenberg menciptakan mesin pencetakan pertama di dunia

1605

Surat Kabar Dunia Pertama yang diterbitkan di Jerman

808

ERA MODERN

1899

Penerbitan National Geographic dimulai

1922

Penerbitan Readers Digest dimulai

1923

Penerbitan Time mulai muncul

1970

Transmedia storytelling mulai dikembangkan

Konsep Internet mengambil alih dunia

1995

Penerbit Amazon.com memulai penjualan secara online

1980

Kadokawa Shoten mempelopori industri konten melalui gerakan Media Mix

1985

Dengan tersedianya relatif murah printer laser dan komputer, alat untuk desktop publishing mulai umum digunakan

1990

Kebanyakan surat kabar mulai menggunakan teknik produksi digital dan layout menggunakan perangkat lunak

1996

Munculnya toko buku swasta sehingga mematikan toko buku kecil bangkrut

1997

Beberapa surat kabar tradisional meluncurkan versi online untuk internet

1999

Blogger ditemukan dan Self-publishing mulai berkembang. Kehadiran self-publisher memberikan orang blog gratis untuk berbagi pikiran, pendapat, dan menulis secara online

2006

Twitter muncul sebagai cara baru menerbitkan informasi pendek serta cara baru untuk menyampaikan berita dan menyebarkan informasi

2007

Amazon Kindle rilis penjual, yang mulai mendapatkan traksi

2010

Penjualan tablet terus tumbuh, membuat eBook lebih populer dari sebelumnya

2011

Untuk pertama kalinya, eBook out penjualan buku cetak di Amazon

1982 1986

Akademik Amerika Encyclopedia tersedia pada CD-ROM. Ini adalah karya referensi pertama kali diterbitkan pada media ini

1615

Surat kabar pertamakali terbit yaitu “memoria der Nouvells”

ERA penjajahan

belanda

1908

Pendirian usaha penerbitan milik Belanda Commissie voor de Volkslectuur, yang sekarang bernama Balai Pustaka

1922

Penerbitan Karya Sitti nurbaya, Marah Rusli ,oleh Balai Pustaka

1945

Muncul Sastrawan angkatan 45, antara lain Chairil Anwar, Idrus

1955

Pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan menasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia

1950-1960

Terbitnya karya Kisah Asuhan H.B Jassin, dan beberapa sastrawan pada zaman ini adalah Pramoedya Ananta Toer, Ajip Rosidi, W.S Rendra

1966-1970

Mulai bangkitnya dunia sastra Indonesia. Ditandai dengan munculnya majalah Horison oleh Muchtar lubis, dan beberapa sastrawan seperti Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail

1950

Penerbitan swasta nasional milik pribumi mulai bermunculan

1990

Internet mulai masuk ke Indonesia

1998

Adanya gerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang menjatuhkan kekuasaan presiden Soeharto

Penerbitan Laskar Pelangi, novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka

1999

Kebebasan penerbitan dan pers mulai diperoleh kembali

2000

Munculnya generasi baru komikus Indonesia seperti Is Yuniarto

2001

Industri buku mulai mengembangkan e-book

2001

Mulai berkembangnya pengembangan software pendidikan di Indonesia

2008

Berdirinya portal komik online komikoo.com di Indonesia

2010

Berdirinya platform startup self-publishing online pertama di Indonesia

2013

Berkembangnya buku digital interaktif di Indonesia

2014

ASEAN Literary Festival 2014. Pada festival ini sastrawan dan aktivis Wiji Thukul mendapat penghargaan atas dedikasinya menyuarakan pesan moral, keadilan dan sosial

2015

Indonesia menjadi Guest of Honour dalam Frankfurt Bookfair

2000

Booming penerbitan media massa

1950

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) didirikan oleh 13 penerbit

1954

Terbitnya konten lokal komi berjudul Sri Asih oleh R.A Kosasih

1965

Subsidi bagi penerbit dihapus, matinya kebebasan pers

1972

Penerbit Gramedia Pustaka Utama berdiri untuk memberikan layanan jasa cetak Koran, tabloid, buku, majalah dan material promosi

1980

Pembangunan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta. Tanggal 17 Mei 1980. Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional

1967

Penerbitan karya Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes T.H

ERA REFORMASI

2005

ERA orde lama

ERA orde baru

Dalam dokumen EKONOMI KREATIF Rencana Pengembangan PEN (Halaman 34-44)