BAB II : KONSEP DIVERSI DAN RESTROACTIVE JUSTICE
A. Sejarah Diversi dan Restroactive Justice
Perkembangan hukum tidak dapat kita lepaskan dari perkembangan yang terjadi di masyarakat. Komuniti atau masyarakat adalah penduduk yang masing-masing anggotanya baik pribadi maupun kelompok saling mengadakan hubungan karena adanya naluri untuk hidup bersama dengan orang lain untuk memenuhi kepentingan-kepentingannya namun tentunya masing-masing orang dilandasai Hak dan Kewajiban agar terciptanya suatu keteraturan. Adanya aturan adalah sebagai ketertiban didalam masyarakat kiranya perlu diregulasikan secara baik atau relevan dengan kebutuhan di masyarkat. Khususnya yang berkaitan dengan pemidanaan atau penal polcy yang langsung menyangkut masa depan, status, atau nasib seseorang yang diancam pemidanaan sebagaimana yang dikatakan oleh Bagir Manan bahwa Kaidah-kaidah pemidanaan, terutama kaidah pidana materiil (substantive criminal law), adalah kaidah yang mengandung muatan membatasi atau mengurangi (abridging), bahkan dapat mencabut atau meniadakan hak asasi (elimating) hak asasi manusia. Setiap bentuk sanksi pidana merupakan pengurangan atau pencabutan hak asasi manusia, karena akan mencabut kemerdekaan (pidana badan), perampasan harta benda, bahkan nyawa (pidana mati). Untuk menghindari pelanggaran hak asasi yang tidak cukup beralasan (unreasonable), apalagi sewenang-wenang (arbitraty), perlu pengaturan yang baik
dalam tata cara (criminal law procedure).32
Menurut Wirdjono Prodjodikkoro tujuan pemidanaan adalah untuk memenuhi rasa keadilan.
Berarti dengan kata lain bahwa setiap orang haruslah diangap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Bahkan sekalipun seseorang di anggap bersalah dan telah dijatuhi hukuman tetap memperhatikan hak-hak dari terdakwa itu sendri.
33
Ada juga yang mengemukakan bahwa tujuan pemidanaan dapat dilihat melalui 2 (dua) teori mengenai alasan-alasan yang membenarkan (justificaion) pencatuhan hukuman (sanksi) yaitu teori Absolut (vergeldingstheorie) dan Teori Relatif (doeltheorie)34
Menurut Theorie Absolut (vergeldingstheorie) tujuan pemidanaan sebagai pembalasan terhadap para pelaku karena telah melakukan kejahatan yang mengakibatkan kesengasaraan terhadap orang lain atau anggota Masyarakat, sedangkan Roeslan Saleh mengatakan sebagai reaksi-reaksi atas delik, yang berwujud suatu nestapa yang sengaja ditimpakan negara kepada pembuat delik.
35
a. Menjerakan, agar si pelaku atau terpidana menjadi jera dan tidak menglanginya lagi perbuatannya (speciale preventie) serta masyarakat
umum agar mengatahui jika melakukan perbuatan yang sama, akan mengalami hukuman yang serupa atau disebut pula general
prenventive
Menurut Theorie Relatif (doeltheorie), tujuan pemidanaan adalah :
32
Bagir Manan, Penegakan Hukum Dalam Perkara Pidana,
33
Wirdjono Prodjodikkoro, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta. Sinar Grafika. Mei, 2005, Cetakan Pertama, hal. 4
34
Leden Marpaung, Asas Teori Praktek Hukum Pidana, Jakarta : Sinar Grafika, Mei 2005, Cetakan Pertama, hal. 4
35
b. Memperbaiki pribadi si terpidana, berdasarakan perlakuan dan pendidikan selama menjalani hukuman, terpidana merasa menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya dan kembali kepada masyarakat sebagai orang baik dan berguna
c. Membinasakan (menjatuhkan pidana mati) atau membuat terpidana tidak berdaya dengan menjatuhkan seumur hidup36
Pandangan di atas sangatlah wajar apabila beranjak dari pandangan bahwa hukum pidana adalah hukum sanksi (bijzonderesanctierecht), sebab dengan bertumpu pada sanksi itulah hukum pidana yang difungsikan untuk menjamin keamanan, ketertiban dan keadilan. Namun disatu sisi apakah tidak ada jalan lain di luar pemidanaan?
Ketidakpuasaan terhadap penal sistem khususnya terhadap tindak pidana anak yang pula menekankan perlindungan dan rehabilitasi terhadap pelaku anak melahirkan suatu cara baru yaitu diversi dan restroactivejustice. Anak yang melakukan pelanggaran atau tindak pidana sangat besar dipengaruhi oleh faktor diluar anak tersebut seperti pergaulan, pendidikan, teman bermain dan sebagainya. Untuk melakukan perlindungan terhadap anak dari pengaruh formal sistem peradilan pidana, maka timbul pemikiran manusia atau para ahli hukum dan kemanusian untuk membuat aturan formal tindakan mengeluarkan (remove) seorang anak yan melakukan pelanggaran hukum atau melakukan tindak pidana dari proses peradilan pidana dengan memberikan alternatif lain yang dianggap
36
Rudy satriyo Mukantardjo, “Ketentuan Pidana Dalam Sistem Peradilan di Indonesia”, (Makalah Disampaikan Pada Acara Ceramah Peningkatan Pengetahuan Perancangan Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM Dirjen Peraturan Perundang-undangan, Jakarta, 27 Agustus 2010
lebih baik untuk anak. Berdasarkan pikiran tersebut maka lahirlah konsep diversion yang dalam istilah bahasa indonesia disebut diversi atau pengalihan.37
Sebelum berbicara tentang diversi ada baiknya akan dijelakan mengenai diskresi sebagai pengantar ke konsep diversi. Diskresi adalah wewenang dari aparat penegak hukum yang menangani kasus tindak pidana untuk mengambil tindakan meneruskan perkara atau mengehentikan perkara, mengambil tindakan tertentu sesuai dengan kebijakan yang dimiliknya
38
Dalam buku Juvenile Delinquency yang ditulis oleh Clemens Bartolla ditulis beberapa faktor yang mempengaruhi aparat penegak hukum yaitu polisi dalam melakukan diskresi terhadap anak di Amerika Serikat terdapat beberapa faktor yang sering menjadi dasar tak tertulis dalam diskresi. Pertama sifat keseriusan dari pelangaran yang dibuat anak yakni keberartian dari pelangaran tersebut terhadap bahaya yang ditimbulkannya. Faktor kedua tanggapan dari
warga atau masyarakat terhadap pelaku atau pelanggaran yang dibuatnya. Jika masyarakat sangat menghendaki anak diteruskan ke pengadilan, maka polisi
akan sulit untuk melepaskannya kembali ke masyarakat dan meneruskannya ke pengadilan. faktor ketiga jenis kelamin dari pelaku perempuan lebih suka dikembalikan polisi kepada orang tua dibanding anak laki-laki. Hal ini karena pertimbangan perlindungan anak permpuan yang sulit jika diproses di Pengadilan atau dipenjara. Anak perempuan yang diteruskan ke Pengadilan untuk kasus seperti pelacuran, pembangkangan terhadap orang tua dan melarikan diri dari rumah.
37
Marlina, S.H., M. Hum, Pengantar Konsep Diversi dan Restroative Justice Dalam Hukum Pidana, USU Press, 2010, Cetakan Pertama, hal. 1
Faktor ke empat ras warga minoritas lebih sering diteruskan ke Pengadilan dibanding kelompok mayoritas39
Menurut Bagir Manan diskresi adalah ranah hukum administrasi. Diskresi (beleidsvrijheid) merupakan kelengkapan yang secara inheren melekat pada setiap administrasi negara atau setiap pengelola organisasi. Lebih lanjut , faktor tingkatan ekonomi dan sosial menjadi pertimbangan kelima dalam pelaksanaan diskresi. Faktor keenam yaitu kondisi individu pelaku sendiri menjadi pertimbangan diskresi oleh polisi seperti umur anakriwayat pelangaran yang dibuat anak, pergaulan, situasi keluarga dan hubungan baik dengan orang tua. Jika kondisi lingkungan dan keluarganya tidak mendukung perbaikan anak maka polisi akan meneruskan kasusunya ke pengadilan. faktor ke tujuh mengenai interaksi antara polisi dan anak pelaku saat penanganan kasus. Anak yang sopan dan bekerjasama dengan baik akan lebih disukai untuk dikembalikan ke rumah daripada anak yang tidak sopan dan faktor terakhir berasal dari tekanan masyarakat di luar polisi dan anak seperti media massa dan departemen atau bagaian dari polisi yang menangani anak tersebut.
Faktor-faktor itulah yang menimbulkan adanya diskresi oleh aparat penegak hukum. Aparat penegak hukum dalam melaksanakan diskresi masih menjadi bagian kontroversial karena pengambilan kebijakan penghukuman mengikuti sifat kebijakan pribadi seseorang. Dalam hal ini mengizinkan suatu pembedaan tindkan terhadap kasus pidana oleh pelakunya, sehingga dapat menimbulkan permsalahan dalam hal keadiian terhadap masyarakat.
39
Thedoere N. Ferdinand dan Elimer C. Luchterhand. “Inner City Youths, the Police, the Juvenile Court, and Justice”, Social Problems 17 (spring 1970), hal. 510-527 dan Goldman, The differential Selections of Juvenile Offender for Court Appearances; Piliavin and Briar. “Police Encounters With Juveniles”. Dikutip dari buku Clemens Bartollas
mengatakan Diskresi merupakan instrumen memecahkan masalah, mendorong dinamika dan kreativitas dan lain-lain yang tidak dapat dijangkau oleh hukum
(legality, rechtmatigheid). Ada yang melukiskan hubungan antara hukum (law, legislation) dengan diskresi (discretion) bak hubungan antara rangka
(susunan tulang) dengan otot (daging). Diskresi sebagai otot akan memungkinkan susunan tulang (peraturan, hukum) bergerak atau digerakkan secara teratur.
Harus diakui, dalam beberapa analisis atau praktik, terkesan atau dikesankan, seolah-olah diskresi mengandung muatan yang membenarkan tindakan di luar kerangka hukum (out of legal frame). Hal ini terjadi karena istilah yang dipergunakan dan fungsi diskresi. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa apabila ditinjau dalam ilmu hukum administrasi Indonesia yang berakar dari Belanda dan Jerman, lazim dipergunakan sebutan Freis Ermessen atau beleidsvrijheid yang lazim diterjemahkan sebagai kebebasan bertindak. Karena bebas bertindak, secara gampang dimaknakan sebagai boleh bertindak di luar hukum. Ungkapan lain untuk membedakan tindakan menurut hukum dan diskresi adalah rechtmatigheid
dan doelmatigheid. Tindakan menurut atau berdasarkan hukum hanya dapat dilakukan kalau ada dasar hukum (legality, legaliteitsbeginsel). Tidak demikian dengan diskresi. Dalam diskresi yang dikedepankan adalah manfaat atau tujuan. Pemahaman-pemahaman seperti ini tidak tepat. Paling tidak, ada tiga landasan diskresi yang benar.
1. Pembuat diskresi harus mempunyai wewenang menurut hukum. Tanpa wewenang, suatu diskresi adalah tindakan sewenang-wenang (arbitrary, willekeur).
2. Tujuan diskresi tidak boleh bertentangan dengan hukum (legal purposeful). 3. Kebebasan dalam diskresi adalah kebebasan memilih (freedom of choice)
berdasarkan masalah yang dihadapi yang berada dalam lingkungan landasan pertama dan kedua.
Memperhatikan landasan di atas, maka sesungguhnya unsur legality dalam diskresi sama sekali tidak boleh diabaikan. Kebebasan (freedom of choice) ada pada pilihan agar mencapai manfaat sebesar-besarnya tanpa bertentangan dengan hukum.40
Diskresi yang memberikan kesempatan bagi penegak hukum adalah sebuah kebebasan dalam membuat keputusan sesuai dengan rasa keadilan oleh pribadi seseorang yang mempunyai wewenang kekuasaan. Namun yang perlu diperhatikan bagaimana seseorang petugas secara individu atau kelompok yang punya wewenang dalam menangani suatu kasus untuk mengunakan kebijakan sendiri dalam suatu situasai yang terjadi untuk melakukan atau tidak melakukan. Secara sederhana diskresi menunjukan kebebasan kekuasaan untuk membuat keputusan dengan pertibangan pribadi yang memperhatikan kebaikan dan keadilan bagi semua pihak, guna mencari alternatif lain yang bukan pidana. Prakteknya pertimbangan atau pilihan dikresi banyak dipaksakan tidak hanya oleh aturan formal yang ada tapi juga oleh desakan ekonomi, sosial dan politik yang terjadi atas pilihan yang ada. Desakan-desakan tersebut menjadi alasan petugas menetapkan kebijakan akan tetapi kebijakan yang di tetapkan tidak membuat pelanggaran atas norma-norma hukum lain atau hak-hak yang mestinya dipenuhi.
40
Alasan tersebutlah yang menjadi salah satu hal penting yang sesuai dengan point-point dari pembuat kebijakan diskresi untuk membuat prosedur dan metode kerjanya juga. Oleh karena itu diskresi yang berjalan pada semua bagian dari pembuat sistem peradilan pidana dan berhubungan dengan penggontrolan aparat.
Sekarang marilah kita melihat sejarah dari diversi itu sendiri. Menurut catatan sejarah di negara Inggris polisi telah lama melakukan diskresi
dan mengalihkan anak kepada proses non formal seperti pada kasus penanganan terhadap anak-anak yang mempergunakan barang mainan yang membahayakan orang lain. Catatan pertama kali dilakukannya perlakuan khusus untuk anak atas tindak pidannya adalah pada tahun 1833, yakni dengan melakukan proses informal di luar peradilan.41 Menurut aturan Children Act tahun 1908 polisi diberi tugas menangani anak sebelum masuk ke pengadilan dengan lebih memperhatikan pemberian kesehjatraan dan keadilan kepada anak pelaku tindak pidana. Pemberian perlakuan khusus terhadap anak pelaku tindak pidana ini termasuk program diversi.42
Di Inggris perkembangan pelaksaaan diversi terhadap anak terus dilaksanakan sampai akhirnya tercatat akhir abad ke 19 yaitu, negara Inggris yang merupakan negara yang paling banyak melakukan diversi terhadap anak dengan mengunakan peradilan khusus untuk anak atau pengadilan anak.
41
Loraine Geltshorpe dan Nicola Padfield. Op.Cit., hal 29, Yang dikutip dari buku Pengantar Konsep Diversi dan Restorative Justice Dalam. USU Press. Medan. 2010. hal. 25. DR. Marlina, SH, M.Hum
42
Pada tahun 1890 di negara Australia semasa berada dalam kolonial Inggris telah melakukan pemisahan peradilan anak dan dewasa dan dilakukan pelatihan dan pendidikan bagi para petugas peradilan untuk melakukan rehabilitasi terhadap anak, sedangkan di Amerika Serikat pembuatan pengadilan anak yang pertama pada tahun 1899 dengan membuat perlakuan hukum khusus bagi pelaku anak.43
Program yang besar pada abad ke 19 tentang gerakan keselamatan anak
44
yaitu untuk membuat bentuk peradilan yang bersifat informal, lebih memberi perhatian terhadap masalah perlindungan anak secara alami daripada menitik beratkan sifat pelanggaran yang dilakukannya, selain itu untuk memindahkan tanggung jawab dengan memperhatikan kesehjatraan dan kepentingan terbaik untuk anak daripada keadilan terhadap pribadi atau memberikan kekuasaan kepada peradilan untuk menyatakan anak telah bersalah melakukan pelanggaran hukum.45
Ilmu sosial mempunyai peran untuk melawan sistem yang telah berjalan saat ini paling tidak dengan dua cara. Pertama dari sisi teori labeling yang diakibatkan sistem peradilan pidana formal telah memberikan identitas negatif bagi pelaku anak sehingga membahayakan kehidapan mereka secara sosial. Kedua ada akumulasi dari pengaruh studi evaluasi yang memberikan dukungan kepada kesimpulan umum bahwa kekurangan tersebut menjadi usaha untuk
43
Ibid, hal 24. Yang dikutip dari buku L. Empey dan MC. Stafford (1991), American Delinquency. USA; Homewood Iiinois, hal.59
44
Ibid. Yang dikutip dari buku Anthony M Platt. (1997). The Child Savers; The Invention of Delinquency. Chicago; The University of Chicago Press. Second edition. Enlarged, hal. 139-145
45
Ibid. Yang dikutip dari buku. Folk, Kenneth (Desember 2003) Early Intervention Diversion And Youth Conferencing, A National Review Of Current approach To Diverting Juvenile Frm The Criminal Justice System. Australia Goverment attorney general’s Departement, Canberra, Commonwealth of Australia
merekapitulasi atau memperbaiki komponen peradilan yang tidak berjalan dalam sebuah sistem peradilan46
Muncie, J. Berpendapat sedikitnya ada tiga komponen berbeda yang diinginkan masyarakat umum berdasarkan pendapat yang dikemukakan Cohen pada tahun 1985. ketidak teraturan yang dikemukakan Cohen yaitu, termasuk :
(Folk Kennth (Desember 2003) Early Intervention Diversion And Youth Conferencing, A National Review Of Current approach To Diverting Juvenile Frm The Criminal Justice System. Australia Goverment attorney general’s Departement, Canberra, Commonwealth of Australia)
Pada tahun 1960 kedua pemikiran ini digabungkan ketika adanya pertumbuhan yang tinggi terjadinya penyimpangan dan hak hukum dari anak. Akhirnya kedua pemikiran tersebut menghasilkan model kesehjateraan melakukan pendekatan yang berbeda dalam melakukan upaya cara penanganan tindak pidana yang dilakukan oleh anak, selanjutnya dengan pertimbangan tersebut diharapkan pengambilan keputusan pemidanaan dilakukan melalui perundingan di luar sistem peradilan pidana formal yang ada.
47
1. Diversi dari kejahatan, jenisnya adalah sejumlah pendekatan baik lembaga pemerintah atau sosial dalam usaha pencegahan kejahatan (crime prevention)
2. Diversi dari penuntutan umum, termasuk tahapan dari polisi atau peradilan anak untuk memindahkan anak muda dari sistem peradilan pidana formal setelah persentuhan awal dan juga kepada keputusan hakim pengadilan
46
Ibid
47
3. Diversi dari tahanan, termasuk prosedur dan tahapan mencari sanksi alternatif melalui pengecualian dalam memberikan tuntutan dan menjatuhkan hukuman terhadap anak muda atau melalui penahanan yang dibuat dalam kerangka institusi lembaga anak negara.
Tiga hal di atas perlu dilakukan untuk mendukung proses kriminal yang dijalankan terhadap anak selain proses yang ada dalam penanganan kriminal secara formal pada umumnya. Di Australia sejak tahun 1980 sampai dengan tahun 1990 merupakan masa yang panjang dalam proses reformasi untuk mengkritik bentuk perlindungan yang diberikan dalam peradilan pidana anak. Keberadaan peradilan anak (due proces) dan intervensi masalah non kriminal akan dapat memenuhi tuntutan masyarakat dalam menangani perkara anak.
2. Sejarah Restroactiv Justice
Penegakan hukum melalui sistem peradilan pidana saat ini masih didominasi oleh cara berpikir positivis yang beranggapan bahwa penyelesian kasus tindak pidana hanya bersandarkan pada peraturan perundang-undangan. Hal ini sangat berlawanan dengan pemahaman yang ada bahwa hukum hanya merupakan sarana/upaya hukum terakhir (ultimum remedium). Masalah penegakan hukum pidana dilakukan dalam rangka penanggulangan kejahatan di masyarakat. Hukum merupakan sarana untuk menyelesaikan konflik, menegakanan kebenaran dan keadilan. Dalam upaya penangulangan kejahatan maka tidak dapat dipisahkan kaitannya dengan politik kriminal (criminal policy), yaitu sebagai usaha rasional
masyarakat dalam menanggulangi kejahatan, secara operasional dapat dilakukan baik melalui sarana penal maupunj non penal, kedua sarana ini (penal dan non penal) merupakan suatu pasangan yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Penyelesaian melalui sarana penal dirasa kuranglah efektif. Fungsinya pun kadang-kadang tidak bersifat masksimal (total enforcement). Sarana yang diharapkan berfungsi dengan baik yaitu sarana non penal.
Di berbagai negara untuk mengembangkan dan mengimplementasikan Restroactivejustice, PBB dalam kongres ke 10 tentang pencegahan tindak pidana dan perlakuan terhadap para pelanggar (The Tenth UN Congres on Crime Prevention and Treatment of Offenders) yang diadakan di Wina pada awal tahun 2000 telah mengeluarkan resolusi, yaitu Basic Principles on the use of Restroactivejustice Programers in Criminal Matters (UN) 2000 yang kemudian
dipertegas dalam Deklerasi Wina tentang tindak Pidana dan Keadilan (Vienna Declaration on Crime and Justice “Meeting the Challenges of the
Twenty-first Century) dalam butir 27 dan 28 dan kemudian di adopsi dalam
Resolusi Majelis Umum Perserikatan bangsa-bangsa Nomor 55/59 tanggal 4 Desember tahun 2000.48
48
Nur Rochaeti, Model Restroactive Justice Anak-anak Delinkuen, hal. 13 th 2008
Konsep Restroactive justice merupakan teori keadilan yang tumbuh dan berkembang dari pengalaman pelaksanaan pemidanaan di berbagai negara dan akar budaya masyarakat yang ada sebelumnya dalam menangani permasalahan kriminal jauh sebelum dilaksanakannya sistem perdilan pidana tradisional.
Konsep tersebut berkembang bersamaan dengan perkembangan zaman dari waktu ke waktu. Hal ini telah dikemukakan oleh orang-orang yang banyak membahas permasalahan yang berhubungan dengan sistem peradilan pidana secara umum dan khusus meneliti masalah Restroactive justice seperti Braithwaite (Australia), Elmar G. M. Weitekamp (Belgia) Howard Zehr (USA), Kathleen Daly (Australia), Mark S. Umbreit (USA) dari Robert Coates (USA)49
Sejarah perkembangan hukum modern penerapan restroactive justice diawali dari pelaksanaan sebuah program penyelesian di luar peradilan tradisional yang dilakukan masyarakat yang disebut dengan victim offender meditation yang dimulai pada tahun 1970-an di negara Canada.50 Program ini awalnya dilaksanakan sebagai tindakan alternatif dalam menghukum pelaku kriminal anak, dimana sebelum dilaksanakan hukuman pelaku dan korban di izinkan bertemu untuk menyusun usulan hukuman yang menjadi salah satu pertimbangan dari sekian banyak hakim. Program ini menganggap pelaku akan mendapatkan keuntugan dan manfaat dari tahapan ini dan korban juga akan mendapatkan perhatian dan manfaat secara khusus sehinga dapat menurunkan jumlah residivis dikalangan pelaku anak dan meningkatkan jumlah anak brtanggung jawab dalam memberikan ganti rugi pada pihak korban. Dari pelaksanaan program tersebut diperoleh hasil tingkat kepuasan yang lebih tinggi bagi korban dan pelaku daripada saat mereka menjalani proses peradailan tradisional.51
49
Elmar G, M. Weitekamp & Hanse-Jurgen Kerner (2003) Retroactive Justice in Context Internatioanal Practices and directions; UK, Willan Publishing First Edition.
50
Allison Morris & Gabrielle Maxwell (2001) Retroactive Justice for Juvenile Conferencing, Mediation and Circle, Oxford-Portland Oregon USA, Hart Publishing, hal.4, yang dikutip dari Buku Pengantar Konsep Diversi dan Restroactive Justice Dalam Hukum Pidana; Marlina, SH, M.Hum
51
Howard Zehr, (1990, Changging Lenses; A New Focus for Crime and Justice, Pensylvania; Herald Press, Scottdale,. Hal 158-174, yang dikutip dari Buku Pengantar Konsep Diversi dan Restroactive Justice Dalam Hukum Pidana ; Marlina
Para pengamat dan praktisi yang membahas tentang restroactive justice menyimpulkan selama ini korban secara esensial tidak di ikut sertakan dalam proses peradilan pidana tradisional. Para korban hanya dibutuhkan sebagai saksi jika diperlukan, tetapi dalam kebijakan pengambilan keputusan mereka tidak dilibatkan sama sekali. Pengambilan keputusan hanya dilakukan oleh hakim berdasarkan pemeriksaan selama proses pengadilan. bagi pelaku keterlibatan mereka dalam pengadilan hanya bersifat pasif saja, kebanyakan peran dan partisipasi mereka diwakili dan disuarakan oelh pihak pengacaranya.
Praktek pelaksanaan victim offender maditation didapatkan perlakuan dan peran serta yang berbeda dengan peradilan tradisional. Perlakuan tersebut adalah peran serta korban yang terlibat langsung dalam pembuatan kesepakatan hukuamn, sehingga dapat menentukan hasil keputusan yang terjadi. Dalam proses
victim offender maditation bukan hanya korban yang menjadi fokus peran, tetapi pelaku juga dilibatkan secara langsung dan dapat berperan dalam perumusan keputusan sehingga teraprestasi secara nyata dan langsung.
Perkembangan konsep Restroactive justice dalam 20 tahun terakhir mengalami perkembangan yang sangat pesat di beberapa negara seperti Australia, Canada, Inggris dan wales, New Zaeland dan beberapa negara lainnya di Eropa dan kawasan Pasifik. Begitu juga di Amerika Serikat sebagai sebuah negara yang lebih sering membauat perkumpulan dengan negara-negara untuk memperkenalkan ukuran penghukuman secara represif tidak dapat menghindar dari pengaruh kuat perkembangan restroactive justice. Michael Tonry pada tahun 1999 memulai survey terhadap kebijakan pemidanaan orang Amerika dengan hasil penelitiannya mendapatkan beberapa konsep yang hidup mengenai pemidanaan sampai
sekarang52
Sebelum konsep ini dilaksanakan perlu memperhatikan kondisi masyarakat saat ini dan pada masyarakat mana pelaksanaanya akan dimulai termasuk kondisi budaya, persiapan aparat penegak hukum, aturan sistem peradilan pidana yang ada, dukungan undang-undang dan kesiapan dana negara untuk melaksanakan konsep tersebut mulai dari sebuah pilot project-nya.
yaitu structured sentencing (pemidanaan struktural) riskbased sentencing (pemidanaan berdasarkan resiko) indeterminate (pemidanaan yang tidak menentukan) dan restroratived/community justice (pemulihan/keadilam masyarakat). Jadi restroactive justice termasuk salah satu konsep pemidanaan yang dikembangkan dari sudah berjalan di Amerika Serikat
Menurut pandangan Michael Tonry restroactive justice mempunyai pengaruh besar karena kemapuan konsep tersebut memberikan manfaat kepada semua tahapan proses peradilan dan menempatkan pelaku dengan tepat dalam proses peradilan.
Program restroactive justice telah berkembang dengan pesat