• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEBERADAAN JURNALIS DALAM MEDAN PERANG

A. Sejarah Keberadaan Jurnalis dalam Medan Perang

Berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik merujuk awal mula jurnalisme pada Acta Diurna pada zaman Romawi Kuno, khususnya masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM). Acta Diurna merupakan sejenis majalah dinding atau papan informasi yang digunakan sebagai koran pada masa itu. Papan ini merupakan ukiran batu atau logam yang beisi berita publik dan dipamerkan di Forum Romawi. Acta Diurna diyakini sebagai produk jurnalistik pertama, pers, media massa, surat kabar, atau koran pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”.76

Berdasarkan sejarah, Julius Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu atas perintah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada Annals, yaitu papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan atau informasi bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya. Saat Julius Caesar berkuasa, hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan di Acta Diurna. Hal ini berlaku juga pada berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui oleh rakyat.

76Ross Eaman, Historical Dictionaries of Journalism, (Plymouth: The Scarecrow Press, Inc., 2009), hlm. 4.

1. Masa Perkembangan Jurnalistik

Kegiatan penyebaran informasi melalui tulis-menulis semakin meluas pada masa peradaban Mesir ketika masyarakatnya menemukan teknik pembuatan kertas dari serat tumbuhan yang bernama Phapyrus. Pada abad 8 M tepatnya tahun 911 M muncul surat kabar cetak pertama dengan nama “King Pau”

atau Tching–pao yang berarti “Kabar dari Istana” di Cina. Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu secara teratur seminggu sekali.

Penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat semenjak mesin cetak ditemukan oleh Johan Guttenberg pada tahun 1450. Koran cetakan yang berbentuk seperti sekarang ini muncul pertama kali pada tahun 1457 di Nurenberg, Jerman.77 Salah satu peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara luas di surat kabar adalah hasil ekspedisi Christopher Colombus ke Benua Amerika pada 1493.

Pelopor surat kabar sebagai media berita pertama yang bernama Gazetta lahir di Venesia, Italia, tahun 1536 M. Saat itu Republik Venesia sedang perang melawan Sultan Sulaiman. Pada awalnya surat kabar ini ditulis tangan dan para pedagang penukar uang di Rialto menulisnya dan menjualnya dengan murah, tapi kemudian surat kabar ini dicetak. Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah Oxford Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian berganti nama menjadi London Gazzette

77 Einstein E., The Printing Press as an Agent of Change: Communication and Cultural Transformations in Early Modern Europe (New York: Cambridge University Press, 1979), dalam Karin Wahl-Jorgensen, The Handbook of Journalism Studies (New York: Routledge, 2009), hlm.

dan ketika Henry Muddiman menjadi editornya, untuk pertama sekali dia telah menggunakan istilah Newspaper. Di Amerika Serikat ilmu persuratkabaran mulai berkembang sejak tahun 1690 M dengan istilah Journalism. Saat itu terbit surat kabar dalam bentuk yang modern, Publick Occurences, Both Foreign and Domestick, di Boston yang dipelopori oleh Benjamin Harris.78

Pada Abad ke-17, di Inggris kaum bangsawan umumnya memiliki penulis-penulis yang membuat berita untuk kepentingan sang bangsawan. Para penulis itu membutuhkan suplai berita. Organisasi pemasok berita (sindikat wartawan atau penulis) bermunculan bersama maraknya jumlah koran yang diterbitkan. Pada saat yang sama koran-koran eksperimental, yang bukan berasal dari kaum bangsawan, mulai pula diterbitkan pada Abad ke-17 itu, terutama di Prancis. Pada abad ke-17 pula, John Milton memimpin perjuangan kebebasan menyatakan pendapat di Inggris yang terkenal dengan Areopagitica, A Defence of Unlicenced Printing. Sejak saat itu jurnalistik bukan saja menyiarkan berita (to inform), tetapi juga mempengaruhi pemerintah dan masyarakat (to influence).79

Pada Abad ke-18, jurnalisme lebih merupakan bisnis dan alat politik ketimbang sebuah profesi. Komentar-komentar tentang politik, misalnya, sudah bermunculan pada masa ini. Demikian pula keterampilan desain/perwajahan mulai berkembang dengan kian majunya teknik percetakan. Pada abad ini juga perkembangan jurnalisme mulai diwarnai

78Ross Eaman, Op.cit., hlm. 8-16.

79Ibid., hlm. 22.

perjuangan panjang kebebasan pers antara wartawan dan penguasa. Pers Amerika dan Eropa berhasil menyingkirkan batu-batu sandungan sensorsip pada akhir Abad ke-18 dan memasuki era jurnalisme modern seperti yang kita kenal sekarang. Di Universitas Bazel, Swiss, jurnalistik untuk pertama kali dikaji secara akademis oleh Karl Bucher (1847–1930) dan Max Weber (1864–1920) dengan nama Zeitungskunde tahun 1884 M. Sedangkan di Amerika mulai dibuka School of Journalism di Columbia University pada tahun 1912 M/1913 M dengan penggagasnya bernama Joseph Pulitzer (1847–

1911).

Perceraian antara jurnalisme dan politik terjadi pada sekitar 1825-an, sehingga wajah jurnalisme sendiri menjadi lebih jelas: independen dan berwibawa.80 Sejumlah jurnalis yang muncul pada abad itu bahkan lebih berpengaruh ketimbang tokoh-tokoh politik atau pemerintahan. Jadilah jurnalisme sebagai bentuk profesi yang mandiri dan cabang bisnis baru.

Pada pertengahan 1800-an mulai berkembang organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah. Kantor berita pelopor yang masih beroperasi hingga kini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).

Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu

80 John R. R, Spreading the News: The American Postal System from Franklin to Morse,

lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst. Ciri khas “jurnalisme kuning”

adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu: meningkatkan penjualan. Namun, jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi.81

“Kebebasan pers” menjadi salah satu cerita umum untuk sejarah awal jurnalisme. Pada masa Revolusi, cerita mengenai jurnalis heroik dan para propagandis yang berjuang melawan penyensoran menjadi bagian dari tulisan publik seputar pertentangan mengenai bentuk pemerintahan. Era Revolusi mengusulkan bahwa tata pemerintahan yang demokratis harus didasarkan pada opini publik yang dihasilkan dari arena diskusi yang diatur oleh norma percakapan rasional yang tidak memihak.82

Sebagai catatan, surat kabar generasi pertama di AS awalnya memang partisan, serta dengan mudah menyerang politisi dan presiden tanpa pemberitaan yang objektif dan berimbang. Namun, para jurnalisnya kemudian memiliki kesadaran bahwa berita yang mereka tulis untuk publik haruslah memiliki pertanggungjawaban sosial. Kesadaran akan jurnalisme yang profesional mendorong para wartawan untuk membentuk organisasi profesi mereka sendiri. Organisasi profesi jurnalis pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti

81Ross Eaman, Op.cit., hlm. 31-32.

82Karin Wahl-Jorgensen, The Handbook of Journalism Studies (New York: Routledge, 2009), hlm. 19.

pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme profesional.83

2. Jurnalisme di Medan Perang

Jurnalis perang memiliki umur yang sama dengan jurnalisme itu sendiri.

Sebelum jurnalisme modern berkembang, berita yang ada ditulis menjadi sebuah tulisan sejarah setelah perang berakhir. Catatan paling pertama tentang sejarah perang yang diterbitkan di Inggris adalah sebuah selebaran berita sekitar tahun 1513 yang memuat catatan saksi mata pertempuran Flodden dan ditulis oleh Richard Faques. Akan tetapi, tulisan pertama mengenai perang yang dikenal adalah catatan Herodotus tentang Perang Persia, meskipun Herodotus sendiri tidak ikut berpartisipasi dalam perang itu.

Thucydides yang menulis tentang Perang Peloponnesia adalah narasumber Herodotus dalam menulis catatan sejarah Perang Persia. Pada abad kedelapan belas, sebuah tulisan berjudul “The Baroness Frederika Charlotte Riedesel’

Letters and Journals Relating to the War of the American Revolution and the Capture of the German Troops at Saratoga” dianggap sebagai tulisan pertama perempuan tentang perang.

Jurnalis perang yang pertama ialah seorang pengacara bernama Henry Crabb Robinson yang melaporkan kampanye Napoleon di Elbe pada tahun 1807 untuk The Times, dan laporannya memakan waktu beberapa minggu untuk sampai di London. Tahun berikutnya Robinson juga meliput

kemenangan Inggris di Corunna, namun sebagian besar laporannya dikumpulkan dari wacana yang diterbitkan di surat kabar lokal dan tidak akurat. Jurnalis yang menulis kebenaran laporan kemenangan Inggris di Corunna adalah Charles Lewis Guneison dari The Morning Post saat ia meliput perang saudara Spanyol tahun 1835-1837. Kemudian, jurnalis perang modern pertama adalah William Howard Russell dari The Times, yang mengungkapkan ketidakcakapan dan kesalahan manajemen militer Inggris kuno selama Perang Krimea.84 Hal ini mengakibatkan perubahan yang begitu besar terhadap sikap para tentara dalam memperlakukan orang-orangnya dan perombakan dalam sistem administrasi dan logistik yang tidak memadai.

Secara luas jurnalis perang dianggap menghasilkan penggambaran perang yang terlalu berlebihan diantara 1914-1918 dan pekerjaan mereka menyimpang dari pemahaman sipil akan konflik yang sedang terjadi.

Anggapan lain mengatakan bahwa para jurnalis menggambarkan kenyataan yang begitu kejam seakurat mungkin dalam keterbatasan yang mereka hadapi saat bertugas.85 Pembaca surat kabar Inggris, Prancis dan Amerika di tahun 1914 mengharapkan laporan perang yang menarik dan inspiratif. Pada pertengahan abad ke 19, teknologi termasuk telegraf elektronik dan fotografi telah mempengaruhi peliputan berita. Para pembaca merasakan perubahannya pada pemberitaan Perang Krimea (1852-1856), Perang Saudara Amerika

84 British Library, “British Military History Collection, 1801-1945”, http://www.bl.uk/reshelp/findhelprestype/news/britmilhist/britmilhist.html, diakses pada 29 Juni 2017 pukul 12.45.

85 Stephen Badsey, J.B McDowell and British Official Filming on the Western Front, in:

McEwen, Yvonne/Fisken, Fiona (eds.): War, Journalism and History: War Correspondents in the Two World Wars, (New York: Oxford University Press Inc., 2012) hlm. 14.

(1861-1865), dan Perang Franco-Prusia (1970-1871). Dalam perang tersebut jurnalis profesional yang bertugas secara independen menjadikan tentara perang sebagai narasumber. Terlebih pada akhir abad ke 19 karya penjelajah seperti William Howard Russell (1821-1907) dari The Times and Archibald Forbes (1838-1900) di London’s Daily News membangkitkan tradisi jurnalisme yang tegas dan berani, dan mampu menarik perhatian pembaca.

Jurnalis perang adalah tokoh yang dianggap begitu penting hingga saat Perang Dunia I pergerakan mereka dibatasi karena dianggap sebagai pemberontak.86

Pada tahun 1914-1918 jurnalis perang berhenti menjadi pengamat perang yang independen dan mulai bekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan konvensi yang mendorong mereka menulis untuk mendukung propaganda perang. Sydney Moseley (1888-1961), seorang jurnalis Inggris, menggambarkan keadaan tersebut sebagai masa dimana ketika akhirnya mereka mendapatkan kebebasan dari para penguasa dan sensornya yang begitu menyiksa. Setelah perang terjadi Philip Gibbs dari the Daily Chronicle menulis:

We identified ourselves absolutely with the Armies in the field. We wiped out of our minds all thought of personal scoops and all temptation to write one word which would make the task of officers and men more difficult or dangerous. There was no need of censorship of our despatches. We were our own censors.87

86 Tim Luckhurst, “War Correspondents”, dalam 1915-1918 Online, International Encyclopedia of the First World War, March 2016, hlm. 2.

Ketika perang dimulai pada bulan Agustus 1914, pemerintah dan komandan militer bergerak cepat untuk melarang para reporter masuk dari garis depan. Perwira lapangan Lord Horatio Herbert Kitchener menunjuk sekretaris perang Inggris untuk sengera mencegah seluruh jurnalis berada di sekitar tentaranya, The British Expeditionary Force. Tiga hari kemudian, editor surat kabar mendapat pemberitahuan mengenai pengadaan kantor pers yang akan menyediakan laporan resmi dan menyensor berita para jurnalis, dan berdasarkan kesepakatan negosiasi sukarela yang terjadi pada tahun 1912, surat kabar Inggris menerima penyensoran diri secara sukarela tentang masalah keamanan.88 Akan tetapi, ternyata inisiatif dari penyensoran ini tidak berjalan efektif. Pada minggu pertama perang, beberapa jurnalis pemberani bergerak secara bebas dengan hidup sebagai buronan untuk mewartakan berita tanpa batasan. Mereka menghasilkan beberapa liputan Perang Dunia I yang paling berkesan.

Jurnalis yang berada di garis depan memiliki kontribusi yang sedikit dalam surat kabar yang diterbitkan negara berkonflik tahun 1914-1918. Sebagian besar dari laporan itu dikumpulkan oleh para reporter dan penulis yang bekerja di rumah dan diinformasikan melalui pengumuman resmi. Para jurnalis perang gagal untuk menyuguhkan maksud dan tujuan yang layak dari jurnalisme liberal yang mereka pegang. Meskipun kontribusi mereka pada kesalahan informasi di masyarakat relatif kecil, namun tingkah laku mereka memberikan pandangan kepada generasi penerus bahwa surat kabar telah

88 Matthew Farish, Modern Witnesses. Foreign Correspondents, Geopolitical Vision and the First World War, in: Transactions of the Institute of British Geographers, dalam Ibid, hlm. 3.

gagal melaksanakan tugasnya dan penuh dengan manipulasi. Hal ini juga mendorong pemahaman diantara para pemimpin militer dan politisi bahwa jurnalis perang dapat dieksploitasi dengan menjadikan mereka sebagai agen propaganda negara. Para jurnalis tidak lagi merasakan kebebasan yang mereka dapat sebelum tahun 1914 dan pembaca surat kabar tidak lagi mengharapkan mereka untuk berbicara mengenai kebenaran atas kekuasaan, karena mereka telah kehilangan kepercayaan itu.89

B. Kedudukan Jurnalis dalam Perspektif Hukum Humaniter

Pekerjaan seorang jurnalis dalam konflik bersenjata bisa berbahaya.

Jurnalis dan anggota kru yang bertugas meliput konflik bersenjata menanggung banyak risiko. Mereka dapat terkena bahaya yang timbul dari operasi militer, mereka bisa menjadi korban dalam medan perang.90 Di lingkungan yang tidak bersahabat, para pihak yang terlibat dalam konflik dapat menganggap jurnalis sebagai saksi yang tidak diinginkan, yang ingin menghalangi misi mereka. Oleh karena itu, perlindungan terhadap jurnalis di medan perang sangat penting untuk memastikan keselamatan mereka dan kebebasan atas informasi.91Seorang jurnalis yang berperilaku profesional saat menjalankan tugasnya diberikan perlindungan khusus, contohnya sebagai warga sipil. Jurnalis harus diperlakukan sebagai warga

89Tim Luckhurst, Op.cit., hlm. 14.

90 Knut Dormann, International Humanitarian Law and Protection of Media Professionals Working in Armed Conflicts, p. 9 cited in Philippe Stoll & Surinder Oberoi (eds), Media Reporting: Armed Conflict and Violance, South Asian Senior Editors’ Conference, 2007, Dhaka, Bangladesh, dalam Shishir K. Yadav, “Journalist and News Media Personnel in Armed Conflicts:

Protection Measures in International Humanitarian Law”, 2004, hlm. 2.

91 Seo Yeon Youn, “Protecting the Right of Free Press in Areas of Armed Conflict”, dalam

sipil selama mereka tidak melakukan hal yang bertentangan, yaitu terlibat aktif dalam pertempuran. Namun, jurnalis dan tim pendampingnya juga dapat menjadi korban tindak kekerasan seperti pembunuhan, penangkapan, penyiksaan atau penghilangan yang dilakukan oleh anggota bersenjata atau pihak keamanan atau oleh anggota bersenjata tidak resmi di negara tempat jurnalis tersebut bekerja.

Hukum humaniter internasional mengenal perbedaan antara jurnalis lepas yang bekerja di medan perang dan koresponden perang, akan tetapi tidak menjelaskan perbedaan tersebut secara spesifik.

1. Jurnalis yang Terlibat dalam Misi Profesional Berbahaya di Daerah Konflik Bersenjata (Journalists Engaged in Dangerous Professional Missions in Areas of Armed Conflict)

Jurnalis yang terlibat dalam misi profesional berbahaya di daerah konflik bersenjata adalah jurnalis yang tidak terikat dengan pihak manapun dalam konflik.92Jurnalis ini kadang disebut sebagai “wartawan sepihak”.93 Seorang jurnalis yang terlibat dalam misi profesional berbahaya di daerah konflik bersenjata mendapatkan status sebagai warga sipil. Sebagai konsekuensi maka ia tidak boleh dijadikan sebagai objek serangan dan tidak mendapat status sebagai tawanan perang apabila tertangkap, kecuali jika ia kehilangan statusnya. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Pasal 79 AP I

92Article 2 (1) Draft United Nations Convention on the Protection of Journalists Engaged in Dangerous Missions in Areas of Armed Conflict (1 August 1975):

The word “journalist” shall mean any correspondent, reporter, photographer, and their technical film, radio and television assistants who are ordinarily engaged in any of these activities as their principal occupation and who, in countries where such activities are assigned their particular status by virtue of laws, regulations or, in default thereof, recognized practices, have that status (by virtue of the said laws, regulations or practices).

93J. De Preux P, et.al., Commentary on the Additional Protocols of 8 June 1977 to the Geneva Conventions of 12 August 1949, (Dordrecht: Martinus Nijhoff Publishers, 1987), hlm. 923.

menyatakan bahwa jurnalis lepas dalam konflik bersenjata dianggap sebagai warga sipil dengan semua perlindungan dan kekebalan yang diberikan hukum humaniter internasional. Oleh karena itu mereka dilindungi dari permusuhan dan terhadap perilaku sewenang-wenang dari pihak yang terlibat konflik ketika mereka ditangkap atau ditahan.

Status yang didapat jurnalis yang terlibat dalam misi profesional berbahaya di daerah konflik bersenjata sebagai warga sipil sifatnya kondisional. Status mereka sebagai warga sipil akan hilang apabila mereka ikut ambil bagian langsung dalam perang. Jika mereka ingin mempertahankan status mereka sebagai warga sipil, mereka tidak boleh ikut serta dalam konflik. Ini berarti bahwa jurnalis perang yang digunakan untuk tujuan militer tertentu atau dicurigai berperilaku sebagai kombatan menjadi target militer yang sah.94

Bagian III GC IV menjelaskan bahwa jurnalis perang menerima perlindungan tambahan ketika mereka ditangkap, yaitu ketika mereka menjadi “orang-orang yang dilindungi” sesuai dengan paragraf pertama Pasal 4 GC IV. Pada saat ditangkap jurnalis perang mendapat jaminan sebagai berikut:

1. Hak untuk berhubungan dengan keluarga ( Pasal 25-26);

2. Hak atas perlakuan yang layak (Pasal 27);

3. Hak atas kunjungan dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC) (Pasal 30);

94 D. Fleck (ed.), The Handbook of International Humanitarian Law (3rd ed.), (New York:

4. Larangan atas penyiksaan (Pasal 31-32);

5. Larangan atas hukuman kolektif dan penjarahan (Pasal 33);

6. Larangan atas penyanderaan (Pasal 34)

2. Koresponden Perang (War Correspondents)

Berdasarkan Pasal 4 GC III koresponden perang adalah jurnalis yang mengikuti angkatan bersenjata tanpa benar-benar menjadi anggota daripadanya. Koresponden perang menurut Dictionnaire de Droit International Public adalah

specialized journalist who is present, with the authorization and under the protection of the armed forces of a belligerent, on the theatre of operations and whose mission is to provide information on events relating to ongoing hostilitie.95

Jurnalis perang ini disebut juga sebagai jurnalis penyerta (embedded journalist). Sebagai koresponden perang yang bukan merupakan bagian dari angkatan bersenjata, mereka menikmati status sebagai warga sipil dan oleh karena itu mereka menerima perlindungan hukum sebagai warga sipil.

Meskipun disebut sebagai koresponden perang, jurnalis perang ini tetap mendapatkan perlindungan umum dan kekebalan terhadap bahaya yang timbul dari operasi militer. Mereka tidak akan menjadi objek serangan atau balas dendam karena status sipil mereka.

Seorang koresponden perang hanya akan mendapat perlindungan khusus apabila mereka diberi wewenang untuk menyertai angkatan bersenjata. Untuk

95Alexandre Balguy-Gallois, Loc.cit.

membuktikan hal ini angkatan bersenjata diwajibkan untuk memberikan kartu identitas bagi koresponden perang. Perlindungan yang diberikan GC III tidak bergantung kepada kartu identitas tersebut, akan tetapi pada hak mereka dalam menyertai angkatan bersenjata.96Dengan menggunakan kartu identitas, koresponden perang akan terlihat jelas berbeda dengan para pihak berkonflik, selain itu akan memudahkan pihak musuh untuk mengenali mereka sebagai sipil. Selain itu, dengan adanya kartu identitas sebagai koresponden perang maka saat mereka jatuh ke tangan musuh mereka akan mendapatkan status sebagai tawanan perang. Hal inilah yang menjadi perbedaan antara jurnalis lepas dengan koresponden perang. Keduanya diakui sebagai warga sipil, tetapi hanya koresponden perang saja yang berhak atas status sebagai tawanan perang.

Sejak tahun 1949 koresponden perang menerima status khusus sebagai tawanan perang saat mereka ditngkap oleh musuh. Sebelum GC III berlaku, mereka tidak memiliki status khusus sebagai tawanan perang, tetapi mendapatkan perlindungan yang sejalan sebagai tawanan perang.97 Peningkatan status hukum sebagai tawanan perang memberikan perlindungan yang lebih kuat lagi kepada para koresponden perang. Sebagai tawanan perang koresponden perang mendapatkan hak sebagai berikut:

a. Hak atas perlakuan yang layak (Pasal 13);

b. Hak atas perawatan medis (Pasal 15);

c. Hak untuk tidak menjawab saat ditanyai (Pasal 17);

96J. De Preux P, et.al., Op.cit., hlm. 64-65.

d. Hak atas kepemilikan barang pribadi (Pasal 18)

3. Tawanan Perang (Prisoner of War/POW)

Hukum humaniter menentukan bahwa tidak semua orang yang ditawan oleh pihak lawan mempunyai hak untuk diperlakukan sebagai tawanan perang (prisoner of war). J.G Starke menjelaskan bahwa dalam suatu konflik bersenjata, pihak-pihak yang bertikai dibagi ke dalam dua status, yaitu sebagai kombatan dan berhak ikut serta secara langsung dalam permusuhan, boleh membunuh dan dibunuh, dan apabila ditangkap diperlakukan sebagai tawanan perang, dan sebagai civilian; tidak boleh ikut serta dalam permusuhan, harus dilindungi dan tidak boleh dijadikan sasaran serangan.

Kombatan terdiri dari dua golongan, yaitu lawful combatant dan unlawful combatant. Lawful combatant akan mendapat perlindungan sebagai tawanan perang dan berstatus sebagai tawanan perang karena ia mengindahkan ketentuan hukum humaniter, sedangkan unlawful combatant akan mendapatkan resiko yang lebih berat atau perlakuan khusus yang lebih keras

Kombatan terdiri dari dua golongan, yaitu lawful combatant dan unlawful combatant. Lawful combatant akan mendapat perlindungan sebagai tawanan perang dan berstatus sebagai tawanan perang karena ia mengindahkan ketentuan hukum humaniter, sedangkan unlawful combatant akan mendapatkan resiko yang lebih berat atau perlakuan khusus yang lebih keras

Dokumen terkait