• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.1 Deskriptif Sejarah dan Profil Lembaga Pemasyarakatan

4.1.1. Sejarah Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia

Sebelum menganut sistem pemasyarakatan, di Indonesia dianut sistem pemidanaan yang dikenal dengan sistem kepenjaraan atau pidana pencabutan kemerdekaan. Sistem penjara ini memandang bahwa hukuman merupakan isolasi terhadap penjahat untuk melindungi masyarakat, lebih mengutamakan pembalasan atau memuaskan dendam masyarakat terhadap si penjahat, dan sama sekali tidak ada unsur pembinaan terhadap si pelaku kejahatan tersebut. Pencabutan kemerdekaan merupakan jenis pidana yang memegang peran penting selama beberapa abad terakhir ini yang lazim disebut pidana penjara.

Di Indonesia sistem pemenjaraan baru dikenal pada zaman penjajahan.

Pada zaman VOC pun belum dikenal penjara seperti sekarang, yang ada ialah rumah tahanan yang diperuntukkan bagi wanita tunasusila, pengangguran, gelandangan, pemabuk dan sebagainya. Diberikan pula pekerjaan dan pendidikan agama. Tetapi hanya ada di Batavia, terkenal dengan Spinhuis dan Rasphuis.

(Andi Hamzah, 1993:109).

Pola pembinaan narapidana mengalami pembaharuan sejak dikenal gagasan pemasyarakatan yang dikemukakan oleh DR. Sahardjo, S.H. pada pidato penerimaan gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Ilmu Hukum dari Universitas Indonesia tanggal 5 Juli 1963 dengan pidatonya “Pohon Beringin

Pengayoman”. Ia menggambarkan sebuah Pohon Beringin untuk melambangkan tugas hukum memberi pengayoman agar cita-cita luhur bangsa tercipta dan terpelihara. Dalam pidatonya beliau memberikan rumusan dari tujuan pidana penjara sebagai berikut :

a. Tujuan dari pidana penjara disamping menimbulkan rasa derita pada terpidana karena hilangnya kemerdekaan bergerak, membimbing terpidana bertobat, mendidik supaya ia menjadi seorang anggota masyarakat sosialis Indonesia yang berguna.

b. Tujuan dari pidana penjara adalah pemasyarakatan. (Sahardjo dalam Muladi, 1992:73).

Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, yang dimaksud pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara pemidanaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana.

Gagasan pemasyarakatan pada hakekatnya bersumber pada falsafah pembinaan narapidana yang dikemukakan oleh DR. Sahardjo, S.H. bahwa :

”…narapidana bukanlah orang hukuman melainkan orang tersesat yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertobat. Tobat tidak dapat dicapai dengan penyiksaan melainkan melalui bimbingan.” (Sahardjo dalam Petrus Irawan P dan Pandapotan Simorangkir, 1995:38).

Gagasan tentang pemasyarakatan ini mencapai puncaknya pada tanggal 27 April 1964 melalui Konferensi Nasional Kepenjaraan di Grand Hotel Lembang,

didahului oleh amanat Presiden Republik Indonesia, yang dibacakan oleh Astrawinata, S.H. yang menggantikan kedudukan Almarhum DR. Sahardjo, S.H.

sebagai Menteri Kehakiman. Istilah Kepenjaraan diganti dengan Pemasyarakatan, saat bersejarah itu akhirnya ditetapkan sebagai Hari Pemasyarakatan (Simon &

Sunaryo, 2011). Konferensi tersebut berhasil merumuskan prinsip-prinsip pokok yang menyangkut perlakuan terhadap narapidana. Kesepuluh prinsip pemasyarakatan yang disepakati sebagai pedoman pembinaan terhadap narapidana di Indonesia tersebut, yaitu:

1. Ayomi dan berikan bekal hidup agar mereka dapat menjalankan perannya sebagai warga masyarakat yang baik dan berguna.

2. Penjatuhan pidana bukan tindakan balas dendam negara.

3. Berikan bimbingan bukan penyiksaan supaya mereka bertaubat.

4. Negara tidak berhak membuat mereka lebih buruk atau jahat dari pada sebelum dijatuhi hukuman pidana.

5. Selama kehilangan kemerdekaan bergerak, para narapidana dan anak didik harus dikenalkan dengan dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat.

6. Pekerjaan yang diberikan kepada narapidana dan anak didik tidak boleh bersifat sekedar mengisi waktu, juga tidak diberikan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dinas atau kepentingan negara sewaktu-waktu saja.

Pekerjaan yang diberikan harus satu dengan pekerjaan di masyarakat dan yang menunjang usaha peningkatan produksi.

7. Bimbingan dan didikan yang diberikan kepada narapidana dan anak didik harus berdasarkan Pancasila.

8. Narapidana dan anak didik sebagai orang-orang tersesat adalah manusia dan mereka harus diperlakukan manusia.

9. Narapidana dan anak didik hanya dijatuhi pidana hilang kemerdekaan sebagai satu-satunya derita yang dialaminya.

10. Disediakan dan dipupuk sarana-sarana yang dapat mendukung fungsi rehabilitatif, korektif, dan edukatif dalam sistem Pemasyarakatan.

Perkembangan selanjutnya, sejak tahun 1964 pembinaan terhadap Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan mengalami perubahan secara mendasar, yaitu dari sistem pemenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan. Sistem Pemasyarakatan menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 tahun 1995 adalah tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat dan dapat hidup secara wajar sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab.

Adapun yang menjadi hak-hak bagi narapidana diatur dalam UU No. 12 Tahun 1995 Pasal 14 ayat (1) yang berbunyi :

1) Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya 2) Mendapatkan perawatan baik perawatan rohani maupun jasmani 3) Mendapatkan pendidikan dan pengajaran

4) Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makan yang layak

5) Menyampaikan keluhan

6) Mendapatkan bahan bacaan dan mengkuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang.

7) Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan.

8) Menerima kunjungan keluarga, penasehat hukum, atau orang tertentu lainnya

9) Mendapatkan pengurangan masa pidana (remisi)

10) Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga

11) Mendapatkan pembebasan bersyarat 12) Mendapatkan cuti menjelang bebas dan

13) Mendapatkan hak-hak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Beberapa hak narapidana yang dalam pemenuhannya melahirkan negosiasi dan memunculkan tatanan yang dinegosiasikan di antaranya: hak untuk mendapatkan makanan yang layak dan hak menyampaikan keluhan, hak mendapatkan remisi, Cuti Mengunjungi Keluarga (CMK), PB (Pembebasan Bersyarat), dan Cuti Menjelang Bebas (CMB).

Selain perubahan sistem, perubahan yang terjadi juga mencakup perubahan institusi yang digunakan dalam pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan. Berdasarkan surat Instruksi Kepala Direktorat Pemasyarakatan Nomor J.H.G 8/506/ tanggal 17 Juni 1964, Rumah Penjara dan Rumah Pendidikan Negara berubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan. Dengan adanya sistem pemasyarakatan, tujuan pidana penjara tidak hanya lagi sekedar penjeraan

tetapi juga merupakan usaha rehabilitasi dan resosialisasi Warga Binaan Pemasyarakatan. Warga Binaan Pemasyarakatan diayomi melalui pembinaan, bimbingan dan diberi keterampilan sebagai bekal hidup agar dapat menjadi warga yang berguna dalam masyarakat (Prihartanti, 2006).

Dalam sistem pemasyarakatan, pembinaan dan bimbingan yang dilakukan oleh para pembina, melalui tahap-tahap yaitu: administrasi/orientasi, pembinaan dan asimilasi.

1. Tahap administrasi dan orientasi, meliputi pengenalan terhadap suasana lembaga, petugas-petugas lembaga/pembina, tata tertib/disiplin, hak dan kewajiban selama berada didalam lembaga.

2. Tahap pembinaan, pada tahap ini dilakukan pengawasan dilakukan sangat ketat dengan tujuan agar warga binaan pemasyarakatan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan peraturan-peraturan yang berlaku terutama dalam hal perilaku.

3. Tahap asimilasi, pada tahap ini mulai diperkenalkan warga binaan pemasyarakatan dengan jati diri (kecerdasan, mental dan iman) secara lebih mendalam pada masyarakat sekeliling lembaga melalui olaraga, pramuka dan lain-alinnya.

4. Tahap integrasi, bagi warga binaan pemasyarakatan yang betul-betul sadar dan berkelakuan baik berdasarkan pengamatan pemasyarakatan dapat mengusulkan cuti biasa, cuti menjelang dan pembebasan bersyarat.

Sedangkan rung lingkup pembinaan dapat dibagi dalam 2 bidang yakni:

1) Pembinaan kepribadian yang meliputi :

b. Pembinaan Kesadaran Berbangsa dan Bernegara c. Pembinaan Kemampuan Intelektual (kecerdasan) d. Pembinaan Kesadaran Hukum

e. Pembinaan mengintegrasikan diri dengan masyarakat 2) Pembinaan Kemandirian yang meliputi :

a. Keterampilan untuk mendukung usaha-usaha mandiri misalnya kerajinan tangan, industri rumah tangga dan sebagainya

b. Keterampilan untuk mendukung usaha-usaha industri kecil, misalnya pengolahan bahan mentah dari sektor pertanian dan bahan alam menjadi bahan setengah jadi

c. Keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan bakatnya masingmasing, dalam hal ini bagi mereka yang memiliki bakatnya itu. misalnya kemampuan dibidang seni, maka diusahakan untuk disalurkan keperkumpulan seniman.

Pelaksanaan pidana penjara dengan sistem pemasyarakatan tidak hanya memperhatikan kesalahan narapidana semata, melainkan juga memperhatikan ke masa depan mereka setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan.