Bab III: Metode Penelitian
3.2. Alat Analisis dan Data Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Menurut Aspers dan Corte (2019), penelitian kualitatif adalah penelitian yang menganalisa suatu karakteristik dari subjek penelitian. Hasil dari analisis ini adalah suatu pemahaman baru mengenai subjek penelitian tersebut.
Pemahaman baru ini dapat termanisfestasikan dalam lahirnya konsep baru, ataupun identifikasi hal-hal baru mengenai subjek penelitian yang dibahas. Dalam mencapai suatu
penamahan baru ini, peneliti perlu melakukan proses deduksi ataupun induksi terhadap variabel-variabel penelitian. Variabel penelitian dari penelitian kualitatif biasanya adalah interaksi manusia, pengalaman, kepercayaan, sikap, dan perilaku (Pathak, Jena, & Kalra, 2013). Penelitian kualitatif adalah cara untuk meneliti aspek dari manusia yang sulit untuk dievaluasi dengan angka.
Metode dari penelitian ini sendiri adalah studi literatur. Menurut Lin (2009), studi literatur adalah metodologi yang proses pengambilan datanya berasal dari literatur akademik lain.
Karena metode ini tidak berhubungan langsung dengan subjek penelitian, maka studi literatur sering juga disebut dengan “metodologi tanpa kontak.” Pada studi literatur, fokus dari penulis adalah untuk menemukan data yang sesuai dengan tujuan dari penelitian, dibandingkan untuk menemukan data selengkap-lengkapnya (Lin, 2009). Tujuan dari studi literatur sendiri metodologi yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan menggunkaan riset-riset relevan dengn tujuan untuk menemukan data-data empiris yang bisa menjawab pertanyaan penelitian atau hipotesis (Snyder, 2019)
Menurut Synder (2019), studi literatur dilaksanakan dengan melakukan empat langkah:
mendesain studi, melakukan penelitian, analisis studi, dan menulis hasil studi. Desain dari studi ditentukan dengan menetapkan signifikansi dari studi, dan juga kata kunci yang akan dipakai untuk menentukan data dari penelitian. Penentuan dari pemilihan data harus disesuaikan dengan pertanyaan penelitian. Setelah mendesain studi, langkah kedua adalah melakukan penelitian itu sendiri. Proses ini harus memastikan kesesuaian data dengan tujuan penelitian.
Sedangkan, langkah ketiga adalah menganalisis data yang sudah didapatkan dalam bentuk yang sesuai. Sedangkan langkah terakhir adalah penyajian dari data. Bentuk penyajian
data berupa analisis dapat berupa analisis historis, agenda untuk riset di masa depan, model untuk suatu konsep atau kategorisasi, atau pembuktian dari suatu efek (Snyder, 2019).
BAB IV: ANALISIS FAKTOR KUALITAS SEKTOR KESEHATAN DAN KEBIJAKAN
Pemerintah
Bab ini akan membahas tentang kualitas sektor kesehatan dan kebijakan pemerintah selama pandemi bagi masing-masing subjek penelitian. Pembahasan dari kedua indikator ini akan menggunakan dua indeks khusus. Untuk sektor kesehatan, indeks yang digunakan adalah Global Health Security Index (GHSI). Indeks ini khusus untuk menilai kualitas sektor kesehatan dilihat dari perspektif pandemi. Sedangkan, The Oxford COVID-19 Government Response Tracker (OxCGRT) adalah indeks yang digunakan untuk mengukur kualitas kebijakan pemerintah selama pandemi.
4.1. Kualitas Sektor Kesehatan: Global Health Security Index (GHSI)
Global Health Security Index adalah salah satu indeks pengukuran kesehatan dari 195 negara di dunia. Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan masing-masing negara dalam mengurangi Global Catastrophic Biological Risks (GCBRs) atau resiko bencana biologikal global. Laporan terakhir dari indeks ini terbit pada tahun 2019 dan hanya berjarak 45 hari dari kasus pertama COVID-19 ditemukan di China. GHS yang dijadikan sumber dari penelitian ini adalah laporan GHSi dari tahun 2019 atau tepat satu tahun sebelum pandemi.
Global Health Security Index (GHSI) adalah indeks yang digunakan dengan tujuan sebagai alat ukur untuk menilai kesiapan negara dalam melawan epidemi yang nantinya berpotensi untuk menjadi pandemi. Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan masing-masing
negara dalam mengurangi Global Catastrophic Biological Risks (GCBRs) atau resiko bencana biologikal global.
Indeks GHS berupa nilai dari rentang 0 sampai 100, dengan 100 sebagai nilai yang paling baik. Nilai ini tidak merefleksikan kesempurnaan dari kualtias kesehatan negara. Hanya saja angka yang tinggi merefleksikan keadaan yang lebih dipreferensikan untuk dimiliki oleh negara-negara dalam konteks menjaga kesehatan masyarakatnya.
Rentang nilai dari 0-100 ini menghasilkan tiga tingkatan. Negara-negara dengan nilai 0-33,3 masuk dalam tingkat “nilai bawah”. Kelompok negara dengan nilai di antara 33,4-66,6 termasuk dalam tingkat “moderat” sedangkan yang berada di rentang 66,7-100 merupakan tingkat “nilai atas”. Nilai rata-rata GHS dari 195 negara adalah 40,2 dari total 100. Secara khusus GHS menemukan bahwa tidak ada negara yang siap sepenuhnya dalam merespon
“penyebaran internasional dari patogen baru”.
Indeks GHS terbentuk melalui 140 pertanyaan yang terfokus untuk memberikan penilaian terhadap kesiapan negara dalam menghadapi pandemi. Keseluruhan pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dikategorikan lagi ke dalam 6 kelompok, berdasarkan 34 indikator, dan 85 sub-indikator. Enam kelompok utama yang diteliti adalah
i. Pencegahan pertumbuhan patogen
ii. Pendeteksian awal dan pelaporan potensi epidemi yang memungkinkan pandemi iii. Kecepatan respon dan kemampuan mitigasi perkembangan epidemi
iv. Struktur kesehatan yang cukup dan mampu dalam melindungi tenaga kesehatan v. Komitmen untuk memperbaiki kemampuan, jarak, dan mengikuti standar global vi. Total resiko dan kerentanan negara terhadap ancaman biologikal.
Masing-masing nilai dari enam kelompok ini memiliki persentase nilai yang berbeda yang nantinya akan menjadikan indeks GHS dari masing-masing negara. Persentase kepentingan setiap kategori nilanya hampir sama. Kategori i. memiliki berat 16,3% dan kategori ii. dan iii. memiliki berat 19,2%. Kategori iii-v berturut-turut adalah 16,7%, 15,8% dan 12,8%.
Kategori ii. dan iii. adalah yang paling tinggi dengan persentase 19,2. Dibandingkan dengan indikator lain, kedua indikator ini berfokus kepada deteksi awal dan kemampuan respon pemerintah dalam memitigasi epidemi. Artinya, kemampuan negara dalam mencegah pandemi mempengaruhi nilai GHS lebih besar dibanding indikator-indikator lain.
4.1.1. Global Health Security Index (GHSI): Amerika Serikat dan Korea Selatan
Tabel 4.1 Perbandingan GHSI Amerika Serikat dan Korea Selatan
Kategori Proporsi Rata-rat a global
Amerika Serikat Korea Selatan
Nilai Peringkat Global
Nilai Peringkat Global
1 16,3% 34,8 83,1 1 57,3 19
2 19,2% 41,9 98,2 1 92,1 5
3 19,2% 38,4 79,7 2 71,5 6
4 16,7% 26,4 73,8 1 58,7 13
5 15,8% 48,5 85,3 1 64,3 23
6 12,8% 55 78,2 19 74,1 27
Total 100% 40,2 83,5 1 70,2 9
Amerika Serikat menempati peringkat 1 dalam peringkat GHS tahun 2019. Nilai yang dicapai adalah 83,5 dari 100. 4 dari 6 indikator tersebut, Amerika Serikat menempati posisi satu. Dari kategori 1 sampai 6 nilai berturut-turut adalah 83,1; 98,2; 91,9; 73,8; 85,3; dan 78,2. Nilai tertinggi adalah 98,2 untuk kategori ii. pendeteksian awal dan pelaporan potensi epidemi yang memungkinkan pandemi.
Amerika Serikat selalu menempati posisi 1 kecuali pada indikator 3 dan 6. Indikator 3 adalah kemampuan cepat dalam merespon dan memitigasi epidemik. Pada indikator 3 nilai Amerika Serikat 79.7, berbeda 12.2 poin dari peringkat nomor satu yaitu Inggris. Indikator 6 adalah tentang resiko dan kerentanan terhadap ancaman biologi di mana Amerika Serikat berada pada posisi 19 dengan indeks sebesar 78,2 berbeda sebanyak 9,7 poin dari peringkat pertama Liechtenstein.
Korea Selatan memiliki indeks GHS sebesar 70,2. Nilai ini menempatkan mereka berada di posisi 9 dari 195 negara. Nilai masing-masing dari ke-enam kategori secara berurutan adalah 57,3, 92,1, 71,5, 58,7, 64,3, dan 74,1. Nilai paling tinggi adalah 92,1 dalam kategori dua yang merupakan pendeteksian awal dan pelaporan potensi epidemi yang memungkinkan pandemi.
Sedangkan nilai paling rencah adalah 57,3 pada kategori i yang merupakan i. pencegahan pertumbuhan patogen. Berdasarkan nilai masing-masing kategori ini, peringkat Korea Selatan perkategori secara berturut-turut adalah 19, 5, 6, 13, 23, dan 27. Peringkat paling tinggi merupakan kategori ii. sedangkan peringkat terendah adalah kategori iv.
Secara keseluruhan nlai masing-masing kategori dari Amerika Serikat, dan Korea Selatan memiliki nilai di atas rata-rata nilai global. Walau GHS menghimbau bahwa tidak ada negara
yang betul-betul siap dalam menghadapi pandemi, Amerika Serikat menjadi negara yang dianggap paling siap relatif dengan negara lain yang diteliti.
4.1.2. Perbandingan Global Health Security Index (GHSI)
Daftar peringkat dari total agregat nilai GHSI ditambah daftar peringkat dari masing-masing indikator membuat GHSI memiliki total 7 daftar peringkat. Dari ketujuh peringkat ini, GHSI mengkategorikan lagi negara menjadi tiga berdasarkan kesiapannya yaitu yang paling siap, lebih siap dan paling tidak siap. Amerika Serikat unggul di semua indikator dibandingkan dengan Korea Selatan. Dari tujuh daftar peringkat ini indikator, Amerika Serikat selalu dikategorikan sebagai kelompok yang paling siap oleh GHSI. Sedangkan, Korea Selatan selalu masuk di dalam kelompok yang paling siap juga kecuali dalam daftar peringkat untuk indikator i dan iv.
Dalam daftar peringkat agregat, perbedaan dari total nilai kedua negara adalah 13,3 poin, dan 8 peringkat. GHSI mengkategorikan negara-negara yang menduduki peringkat agregat 1 sampai 13 sebagai kelompok negara paling siap. Artinya, Amerika Serikat dan Korea Selatan masuk sebagai negara yang dianggap paling siap oleh GHSI, karena mereka masing-masing menduduki posisi 1 dan 9 secara agregat.
Kedua negara memiliki kelebihan yang sama, yakni nilai tertinggi mereka ada di indikator ii.
Berdasarkan penilaian, sektor kesehatan Amerika Serikat dan Korea Selatan paling baik kualitasnya dalam pendeteksian dan pelaporan potensi dari epidemi yang berbahaya. Selain itu, kedua negara juga memiliki kelemahan yang sama. Amerika Serikat dan Korea Selatan kualitas kesehatannya paling lemah dalam indikator vi. Artinya, kedua negara ini cukup rentan terhadap ancaman biologikal.
4.2. Kualitas Kebijakan Pemerintah
Oxford COVID-19 Government Response Tracker (OxCGRT) adalah seperangkat indeks yang mengumpulkan dan mengukur kualitas dari kebijakan pemerintah di seluruh negara di dunia dalam menghadapi pandemi. Indeks ini merupakan hasil kerja dari tim dari Universitas Oxford. Tim ini terdiri dari 100 orang staff dan mahasiswa yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Seluruh data mereka bisa diakses melalui website www.bsg.ox.ac.uk/research/research-projects/covid-19-government-response-tracker.
Kerjasama mereka ini menghasilkan berbagai indeks pengukuran kebijakan negara-negara di dunia selama pandemi. Ada tiga indeks dari OxCGRT yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Government Response Index, Risk of Openness Index, dan Response-risk Ratio.
Masing-masing indeks berhubungan dengan keadaan pandemi dan juga kebijakan pemerintah yang ada. Ketiga rasio ini akan digunakan untuk menganalisis kedua subjek penelitian, yang kemudian akan dibandingkan perbedaan indeksnya.
Indeks yang pertama dan paling dasar adalah Government Response Index atau GRI. GRI adalah indeks dari kebijakan pemerintah berdasarkan berbagai indikator. Indikator kedua adalah adalah Risk of Openness Index atau RoOi. RoOi adalah indeks perbandingan yang menunjukkan tingkat bahaya dari suatu negara bila tidak mengimplementasikan rekomendasi kebijakan dari WHO. Indikator yang ketiga adalah Response-risk Ratio atau indeks yang membandingkan GRI dengan bahaya pandemi di negara tersebut.
4.2.1 Government Response Index
“Government Response Index” atau GRI adalah indeks komposit kebijakan dari pemerintah dalam penanganan pandemi. Perhitungan dari Government Response Tracker ini dari 0-100,
dengan indeks 100 menunjukkan nilai yang paling baik. Indeks ini sendiri berasal dari perhitungan berbagai indikator yang sudah distandarisasikan. Nilai dari GRI ini sendiri digunakan untuk mengukur empat komponen utama: respon pemerintah secara umum, implementasi pembatasan ruang gerak masyarakat seperti lockdown, dukungan ekonomi untuk masyarakat, dan indeks keketatan pemerintah. Walaupun nilai ini tidak merefleksikan kualitas dari penerapan kebijakan dan juga ketepatan kebijakan, nilai ini dapat memberikan gambaran dari kualitas kebijakan yang diambil masing-masing negara relatif terhadap perkembangan kasus yang terjadi.
OxCGRT sendiri membuat GRI untuk hampir seluruh negara di dunia. Fungsi dari indeks ini sendiri ada tiga. Pertama, indeks ini digunakan untuk memberikan deskripsi respon pemerintah. Kedua, indeks juga dapat digunakan untuk menjelaskan respon suatu negara sampai ke pemerintahan yang lebih rendah. Ketiga, indeks ini dapat memberikan perbandingan respon pemerintah antar negara. Untuk masing-masing negara, OxCGRT menyediakan grafik yang berisi perkembangan Government Response Index yang langsung dibandingkan terhadap jumlah kematian harian di negara tersebut.
4.2.1.1. Government Response Index dan Tingkat Kematian Harian: Amerika Serika
Grafik 4.1 Perbandingan Government Response Index dan Tingkat Kematian Harian dari Amerika Serikat
Di dalam grafik 4.1. di atas, ada GRI dan pola peningkatan kasus dari tanggal 1 Januari 2020 sampai dengan 1 Januari 2021. Garis ungu adalah pola kematian harian. Di sisi lain, garis merah adalah nilai GRI. Kedua hal ini kemudian dibandingkan sesuai dengan perkembangannya selama periode 1 tahun.
Respon pemerintah dianggap masih kurang kuat. Hal ini dikarenakan GRI-nya masih di bawah dari perkembangan kematian harian dari periode Maret sampai Desember 2020. Setelah adanya kematian pertama, GRI dari Amerika Serikat melonjak dari angka sekitar 10 ke sekitar 70 hanya dalam satu bulan. Namun, pergerakan tersebut tidak bergerak secara signifikan. GRI di Amerika Serikat selalu berfluktuasi di rentang angka 60-70 setelah bulan April.
Dalam perbandingan ini dapat ditafsirkan bahwa tingkat implementasi dari kebijakan-kebijakan mengenai pandemi masih belum bisa mengikuti perkembangan kematian harian.
GRI-nya tidak berubah secara signifikan bahkan ketika tingkat kematian selalu berada di sekitar angka 1.000 kematian pada periode April sampai Mei 2020. Pemerintah dianggap bisa merespon perkembangan kematian harian dengan memberikan kebijakan-kebijakan yang lebih kuat seharusnya ketika ada kasus kematian yang besar-besaran. Namun, bahkan sampai periode di mana kematian lebih dari 1.000, GRI-nya tidak berubah secara signifikan. Artinya pemerintah tidak mengeluarkan atau melaksanakan kebijakan untuk merespon tingginya jumlah kematian di bulan April sampai Mei 2020.
4.2.1.2. Government Response Index dan Tingkat Kematian Harian: Korea Selatan
Grafik 4.2Perbandingan Government Response Index dan Tingkat Kematian Harian dari Korea Selatan
Di dalam grafik 4.2., ada GRI dan pola peningkatan kasus dari tanggal 1 Januari 2020 sampai dengan 1 Januari 2021. Garis ungu adalah pola kematian harian. Di sisi lain, garis merah adalah nilai GRI. Kedua hal ini kemudian dibandingkan sesuai dengan perkembangannya selama periode 1 tahun.
Untuk negara Korea Selatan, kematian harian COVID-19 pertama terjadi pada pertengahan Februari 2020. Sekitar sebulan sebelum adanya kasus pertama COVID-19, GRI dari Korea
Selatan sudah meningkat dari 0 sampai dengan di atas 20. Seterusnya, selama periode dari kasus kematian pertama di tengah Februari, GRI dari Korea Selatan terus meningkat bahkan sampai pada angka mendekati sekitar 70. Setelah mengalami penurunan drastis dari nilai 70 ke sekitar 50 dalam waktu kurang dari 1 bulan, GRI dari Korea berfluktuasi di sekitar angka 50 dan 60 sampai dengan akhir tahun 2020.
Nilai GRI di Korea Selatan lebih tinggi dari angka kematian di dalam negaranya. Nilai ini sangat jauh dari tingkat perkembangan kasus yang berada di bawah 10 kematian dari bulan Januari hingga pertengahan Desember. Jarak yang besar antara pola kematian dan juga GRI bisa menunjukkan secara tidak langsung adanya kebijakan negara yang lebih ketat dibandingkan jumlah kematian harinya. Kebijakan pemerintah di Korea Selatan juga bisa dibilang responsif. Hal ini dapat ditunjukkan dari meningkatnya nilai GRI seiring dengan terjadinya peningkatan jumlah kematian pada bulan Desember pertengahan sampai dengan akhir 2020.
4.2.1.3. Tingkat Kematian (CFR) Dua Negara
Grafik 4.3 Perbandingan Tingkat Kematian (CFR) Dua Negara
Karena Amerika Serikat dan Korea Selatan memiliki perbedaan populasi yang signifikan, maka penelitian ini menggunakan Tingkat Kematian (CFR) untuk membandingkan. CFR sendiri adalah tingkat kematian dari COVID-19 dibandingkan dengan total kasus. Dengan perbandingan ini, penelitian bisa melihat tingkat efektivitasan dari pemerintah dalam menangani kasus. Periode yang diteliti adalah dari 22 Februari 2020 – 1 Januari 2021 mengikuti periode dari GRI yang dipakai di Bab 4.
Nilai CFR sendiri diambil dari Our World in Data yang menyediakan nilai CFR dan juga total kematian dari COVID-19 di setiap negara di dunia. Berdasarkan Our World in Data, tingkat kematian di Amerika Serikat sempat mencapai 10% pada bulan Maret 2020. Selanjutnya kematian berada di sekitar angka 3% hingga 5%. Tingkat kematian dari Korea Selatan lebih
rendah dari Amerika Serikat dengan tingkat kematian melebihi Amerika Serikat hanya untuk waktu yang sebentar di sekitar 3%.
4.2.1.4. Government Response Index setelah Kasus ke-100
Grafik 4.4 Government Response Index Setelah Kasus ke-100
Selain membandingkan GRI dengan tingkat kematian harian, OxCGRT juga membandingkan GRI dengan jumlah kasus. Untuk kasus Korea Selatan dan Amerika Serikat, perbandingannya ada dalam grafik 4.3. Garis merah menunjukkan tingkat respon dari pemerintah sedangkan garis hitam menunjukkan perkembangan kasus. Grafik 4.3.
menunjukkan data per Agustus 29 tahun 2020. Periode yang direkam oleh grafik adalah 200 hari. Periode ini dimulai setelah kasus ke-100 di masing-masing negara terjadi. Garis merah adalah GRI, sedangkan garis biru adalah untuk menunjukkan pola perkembangan kasus.
Berdasarkan perbandingan di atas, Korea Selatan dan Amerika Serikat menunjukkan pola respon pemerintah yang berbeda. Selama 200 hari periode di grafik, Korea Selatan memiliki kasus dengan rata-rata 10.000. Selama 200 hari ini, nilai GRI-nya secara garis besar berada di atas pola kasus. Pola GRI ini berfluktuasi, terutama pada sekitar periode di hari ke 50 di mana
kasus di Amerika Serikat berkembang sekitar 1.000.000 kasus. GRI-nya secara garis besar mengikuti pola perkembangan kasus. Hanya saja, GRI-nya dominan berada di bawah dari perkembangan kasus. Untuk periode dari hari ke-100 sampai 200, GRI-nya menurun, berkebalikan dari pola perkembangan kasus yang meningkat.
4.2.2. Response-Risk Ratio
Grafik 4.5 Response-Risk Ratio
OxCGRT juga mengeluarkan Response-Risk Ratio atau rasio yang menjelaskan perbandingan dari tingkat bahaya kasus di masing-masing negara dengan respon dari pemerintahannya. Ada perbedaan Response-Risk Ratio dengan dua jenis GRI sebelumnya yang ada di penelitian ini. GRI yang pertama adalah GRI dibandingkan dengan tingkat kematian harian masing-masing negara. GRI yang kedua adalah GRI yang dibandingkan dengan tingkat perkembangan kasus setelah kasus ke-100 ditemukan. Sedangkan,
Response-Risk Ratio adalah perbandingan dari GRI dan perkembangan kasus secara umum.
Selain itu, Response-Risk Ratio juga membandingkan dengan berbagai negara lain di dunia.
Grafik 4.4. menggabungkan hasil GRI dan juga perkembangan kasus dari berbagai negara sehingga data menampilkan keadaan negara satu relatif ke negara lainnya. Data dalam grafik ini menunjukkan respon maksimum dari suatu negara yang kemudian dibandingkan dengan total kasus dari negara tersebut selama dua periode: 1 Maret dan 27 Maret 2020. Garis miring tengah adalah nilai rata-rata dari rasio global sehingga negara-negara yang berada di atas garis memiliki kualitas kebijakan di atas rata-rata.
Berdasarkan grafik tersebut kita dapat melihat Amerika Serikat yang rasionya berada di bawah rata-rata ketika total kasus yang total kasus yang terkonfirmasi masih di bawah 100.
Lalu, rasionya kemudian meningkat mendekati 70 ketika kasus mencapai 1.000.000. Di sisi lain, rasio Korea Selatan meningkat dari 60 ke 80 selama kasus berkembang dari bulan Maret hingga akhir Mei dengan total kasus masih di bawah 10.000.
4.2.3. Risk of Openness Index (RoOI)
Risk of Openness Index atau RoOi adalah tingkat resiko yang akan diterima negara apabila tidak mengimplementasikan kebijakan penutupan negara yang direkomendasikan oleh WHO.
Enam rekomendasi tersebut adalah untuk negara mengimplementasikan kebijakan yang mampu untuk memastikan
i. Kontrol transmisi COVID-19 ii. Cukupnya fasilitas kesehatan
iii. Minimalisasi outbreak di daerah yang tinggi resiko iv. Kebijakan keamanan di tempat kerja
v. Penanganan resiko transmisi dari wilayah tinggi resiko transmisi vi. Keterlibatan masyarakat
Risk of Openness Index membuat indeks berdasarkan dari empat rekomendasi WHO tersebut yakni rekomendasi 1, 2, 5 dan 6. Tujuan dari indeks ini untuk menjelaskan resiko perkembangan COVID-19 di masing-masing negara dan melihat perkembangan resiko tersebut dan respon pemerintah yang terkait. Untuk mengukur respon pemerintah yang terkait Stringency Index adalah indeks yang digunakan untuk mengukur kekuatan dari kebijakan pemerintah dalam merespon resiko penyebaran COVID-19.
Grafik 4.6 Risk of Openness Index
Kedua indeks ini digabungkan dalam satu grafik yang terbagi menjadi empat kuadran yang memiliki arti masing-masing. Negara akan semakin aman apabila memiliki stringency index yang tinggi tetapi risk of openness-nya rendah. Kuadran I adalah negara-negara yang memiliki resiko yang tinggi dan tingkat kebijakan pemerintahnya tinggi juga. Kuadran II adalah negara-negara yang memiliki resiko yang tinggi tetapi tingkat kebijakannya lemah.
Kuadran III adalah negara yang tingkat resikonya termasuk rendah. Di saat yang bersamaan, tingkat keketanan dari kebijakan pemerintahnya juga rendah. Kuadran IV adalah sekelompok
Untuk Risk of Openness Index, OxCGRT hanya menyediakan untuk empat bulan yakni bulan Juni 2020 sampai dengan September 2020. Selama empat bulan pendataan, Amerika Serikat selalu berada di Kuadran I. Artinya, Amerika Serikat berada dalam keadaan yang beresiko, tetapi diiringi dengan tingkat kebijakan pemerintah yang cukup ketat juga. Korea Selatan selalu berada di dalam Grup 3 terkecuali pada bulan Juli. Selama empat bulan penelitian, Korea Selatan berada dalam keadaan aman. Keadaan ini juga diiringi oleh kebijakan yang ketat dari pemerintahnya.
Perbandingan indeks ini dapat memberikan gambaran secara umum penanganan kasus antara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Penanganan Korea Selatan menunjukkan kekuatan yang selalu lebih tinggi dibanding resiko penyebaran virus. Artinya kebijakan yang dikeluarkan telah mampu untuk menyesuaikan keadaan. Untuk Amerika Serikat sendiri, selama kurun waktu yang terekam, pemerintahannya dan resikonya sama-sama tinggi. Dalam kasus Amerika Serikat, kebijakannya dapat ditafsirkan masih belum bisa melampaui resiko karena
Perbandingan indeks ini dapat memberikan gambaran secara umum penanganan kasus antara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Penanganan Korea Selatan menunjukkan kekuatan yang selalu lebih tinggi dibanding resiko penyebaran virus. Artinya kebijakan yang dikeluarkan telah mampu untuk menyesuaikan keadaan. Untuk Amerika Serikat sendiri, selama kurun waktu yang terekam, pemerintahannya dan resikonya sama-sama tinggi. Dalam kasus Amerika Serikat, kebijakannya dapat ditafsirkan masih belum bisa melampaui resiko karena