BAB III BIOGRAFI KOMARUDDIN HIDAYAT
D. Karya-Karya Komaruddin Hidayat
Adapun karya-karya Mas Komar, hampir semua buku yang ditulisnya berkaitan erat dengan tema-tema keagamaan dan kemanusiaan. Semisal bagaimana agama hadir dalam kehidupan manusia, bagaimana agama mempengaruhi sebuah bangsa, dan bagaimana agama mengatur serta memberikan jalan hidup agar pemeluknya mencapai nilai tertinggi yaitu kebahagiaan.
Berikut adalah buku-buku yang pernah beliau tulis, baik dilakukan sendiri maupun berdua dengan koleganya. Sedangkan buku-buku yang beliau hadir sebagai editor, tidak dicantumkan karena keterbatasan pencarian dan ingatannya dalam memberikan informasi. Buku-buku tersebut adalah:
1. Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Parennial, salah satu penulis (Paramadina, 1995) mengulas tentang agama yang diperkirakan muncul di masa depan melalui pendekatan filsafat perennial sebagai salah satu metodologi dalam memahami agama.
2. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik (Paramadina, 1996) berisikan kajian mengenai masalah-masalah yang timbul dalam agama, khususnya dengan menelisik bahasa yang digunakan oleh agama
sendiri untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Melalui pendekatan hermeneutik sebagai salah satu alat mendekati makna yang tersirat dalam sebuah teks-teks agama guna menjawab persoalan hidup manusia dan nilai-nilai kemanusiaan.
3. Tragedi Raja Midas: Krisis Agama dan Krisis Modernitas (Paramadina, 1998) berisi tentang pesan-pesan agama khususnya dikaitkan dengan mitologi Yunani Kuno yaitu Raja Midas yang rakus, sehingga dari kerakusannya itu tidak lain yang dicelakakan adalah dirinya sendiri.
Demikian pula manusia dalam berpikir yang mulai mementingkan dirinya sendiri padahal dirinya hidup dalam ranah sosial.
4. Tuhan Begitu Dekat: Menangkap Makna-Makna Tersembunyi Di Balik Perintah Beribadah (Paramadina, 2000) merupakan kumpulan esai yang hendak menegaskan bahwa salah satu penghayatan dari doktrin sebuah agama adalah kenyataan bahwa Tuhan begitu dekat (omnipresent), yang selalu memberikan pengawasan dan bimbingan serta perlindungan bagi setiap hamba-hamba yang memohon dengan segala kesungguhan kepadaNya. Dengan penghayatan tersebut, seseorang diajak menyadari hakikat kemerdekaannya, dan memahami bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki moralitas dan mendambakan akhlak mulia serta selalu ingin memegang sebuah amanat untuk dilaksanakan.
5. Wahyu Di Langit Wahyu Di Bumi: Doktrin dan Peradaban Islam di Panggung Sejarah (Paramadina, 2003) memuat pengalaman pribadi seorang Komaruddin Hidayat sebagai penutur agama atau pendakwah. Di dalamnya berisi tentang sejarah agama dalam sejarah, pergumulan agama
dan budaya, dan agama sebagai fenomena sosial. Sebab agama adalah komunitas tersebesar umat manusia yang memiliki ragam ras, budaya, bahasa, maka kontekstualisasi atas pesan dan nilai-nilai agama menjadi sebuah keharusan.
6. Manuver Politik Ulama: Tafsir Kepemimpinan Islam dan Dialektika Ulama-Negara, salah satu penulis (Jalasutra, 2004) mengulas tentang kekuatan Islam di Indonesia yang memasuki lorong politik dengan licin dan menjebak. Drama politik Islam mengalami perebutan khususnya dari kalangan ulama yang semakin berani tampil, tidak terkecuali berisi tentang bagaimana seharusnya Islam Indonesia bernegara dan bagaimana ulama masa depan hidup dalam dunia politik.
7. Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme (Hikmah, 2005) merupakan refleksi penulis untuk menyikapi kematian sebagai sebuah nikmat yang harus disyukuri. Kematian bukan sesuatu yang ditakutkan, dan melalui buku tersebut yang kemudian menjadi best-seller dan melambungkan namanya, Komaruddin Hidayat hendak mengungkap sedikit rahasia kematian, serta yang paling penting bagaimana menghadapi kematian dengan optimisme sebagaimana judul bukunya, bahkan menjemput maut dengan hati tenang.
8. Politik Panjat Pinang: Di Mana Peran Agama? (Kompas, 2005) berisi himpunan opini dan refleksi diri yang diterbitkan di koran Kompas.
Bahasan utamanya adalah mempersoalkan peran agama dalam sebuah negara atau apakah agama memiliki peran dalam politik? Selain menghadirkan narasi-narasi yang mengalir juga penuh dengan
perumpamaan yang mudah untuk memahami bagaimana seharusnya agama berperan dalam perhalanan sebauh negara, khususnya Indonesia.
Tidak terlepas etika yang harus selalu dimunculkan dalam kemanusiaan kita baik dalam beragama maupun bernegara.
9. The Wisdom of Life: Menjawab Kegelisahan Hidup Beragama (Kompas, 2008) merupakan kumpulan esai yang mengahadirkan wajah agama bagi kemanusiaan, khususnya mereka yang beragama Islam. Agama sebagai petunjuk jalan sudah memberikan banyak nilai-nilai untuk manusia agar digunakan dalam menjalani kehidupan guna menjadikan tatanan manusia yang memiliki moralitas tinggi dan kehidupan penuh harmoni.
10. Psikologi Ibadah: Menyibak Arti Menjadi Hamba dan Mitra Allah Di Bumi (Serambi, 2008) membahas tiga hal utama, yaitu: Taalluq (berusaha mengingat dan mengikatkan hati dan pikiran kepada Allah); Takhalluq (secara sadar meneladani sifat-sifat Allah); dan Tahaqquq (secara sadar menjadi transmitter atau pemancar sifat-sifat Allah yang mulia). Sebab agama sudah membimbing manusia dalam memberikan kesadaran bahwa dalam nuraninya ada ruh yang senantiasa menatan kepada Tuhan, sehingga dengan ruh dan agama itu manusia tidak dalah dalam mengembangkan fitrah atau bakat bawaannya.
11. Memaknai Jejak-Jejak Kehidupan (GM, 2009) berisi tiga sub bab utama tentang bagaimana mencintai Indonesia dan merawatnya sebagai negara yang baik melalui berbagai hal seperti adanya kesadaran untuk berpolitik, dan keharusan menyadari pluralitas agama sehingga harus menebar toleransi dan menjaga bersama rumah bernama Indonesia. Kemudian
bagaimana menjalani kehidupan sebagai warga negara dan bersikap santun dalam perilaku sosial, untuk menunjukkan moralitas bangsa yang kuat dan berdaulat. Lalu yang terakhir bagaimana agama tetap menjadi salah satu poros utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
12. Spiritual Side of Golf: Menjaga Konsistensi dan Kejujuran (Expose, 2009) merupakan refleksi tentang manusia dan permainan, meminjam istilah dalam filsafat bahwa manusia adalah termasuk homo luden. Ada banyak nilai-nilai agama dan spiritualitas yang ada dalam sebuah permainan. Semisal hikmah bahwa permainan hari ini harus lebih baik dari kemarin dan seterusnya.
13. Berdamai Dengan Kematian: Menjemput Ajal dengan Optimisme, sempat berganti judul dengan Psikologi Kematian 2 (Hikmah, 2009) maerupakan lanjutan dari buku pertama tentang kematian, bahwa kematian merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari namun juga tidak perlu ditakuti dengan mempersiapkan diri melalui kesadaran diri tentang makna kehidupan yang sudah dijalani selama ini.
14. Ungkapan Hikmah: Membuka Mata Menangkap Makna (Noura Books, 2010), pernah terbit juga dengan judul 250 Wisdom (Hikmah, 2010).
15. Psikologi Beragama: Menjadikan Hidup Lebih Nyaman dan Santun (Hikmah, 2010) berisi tulisan ringan tentang bagaimana manusia hidup dengan alam dan menyikapinya, bagaimana manusia seharusnya hidup bersosial, bagaimana manusia seharusnya Bahagia, bagaimana manusia seharusnya hidup dalam persahabatan, bagaimana manusia seharusnya
menebarr kasih sayang dan cinta kepada sesama makhluk baik tumbuhan, hewan, dan sesame manusia lainnya melalui cinta dan kasih Tuhan.
16. Agama Punya Seribu Nyawa (Noura Books, 2012) adalah kumpulan esai yang mengulas tentang hakikat beragama seperti mengapa manusia harus berdoa dan apa manfaat berdoa hingga memahami dimensi-dimensi yang dimiliki agama. Selain juga berisi tentang bukti dari peran agama dalam kehidupan umat manusia, serta pembentukan manusia karena agama.
Meski dalam agama sendiri muncul kekerasan akibat adanya kesalahan dalam menafsirkan makna dan nilai agama sehingga menghalalkan kemanusiaan yang tidak sejalan dengan pribadi atau kelompoknya, hingga bukti bahwa agam tidak akan pernah mati dengan bukti sejarah bahwa orang beragama justru lebih banyak daripada mereka yang tidak mempercayai adanya agama karena agama memiliki seribu nyawa, hilang satu maka akan tumbuh lainnya.
17. Life’s Journey: Hidup Produktif dan Bermakna (Noura Books, 2013) memuat esai tentang dimensi atau unsur-unsur penciptaan manusia hingga perjalanannya dalam hidup mengarungi permasalahn demi permasalahan lingkungan sosial agama yang dianutnya.
18. Psikologi Kebahagiaan: Merawat Bahagia Tiada Akhir (Noura Books, 2013) ulasan tentang manusia dan keadaan jiwanya dalam pembentukan diri menjalani hidup. Bagaimana pun manusia selalu menuntut diri untuk bahagia karena kebahagiaan adalah salah satu tujuan utama manusia dalam menjalani kehidupan baik di dunia maupun di akhirat nantinya.
19. Path of Life: Menanam Kebajikan Dalam Setiap Langkah (Noura Books, 2014) merupakan refleksi atas kejadian-kejadian dalam hidup manusia yang semakin plural karena perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Sebab tersebut menuntut manusia agar selalu melihat ke dalam dirinya untuk menemukan kebajikan yang tersimpan guna menjalani hidup dengan optimis dan penuh makna.
20. Penjara-Pernjara Kehidupan (Noura Books, 2016) mengulas tentang manusia dan tantangan-tantangan yang dihadapi seiring berjalannya waktu. Hidup membutuhkan masalah untuk membuat manusia semakin matang dalam menemukan dan menjadi dirinya sendiri, namun demikian bahwa dalam diri manusia juga terdapat cahaya yang mampu menerangi persoalan-persoalan dalam hidup, dan salah satunya dipermudah oleh agama.
21. Iman Yang Menyejarah: Memeluk Agama: Kebutuhan Menemukan Pijakan (Noura Books, 2018) merupakan tulisan yang membahas tentang asal usul manusia atau dalam falsafah Jawa dikenal dengan istilah sangkang paraning dumadi. Berlanjut tentang keterlemparan manusia ke bumi merupakan sesuatu yang memiliki maknanya sendiri sehingga manusia harus memulai pencarian dirinya dalam kehidupan. Berkat ruh yang ada di dalam tubuh manusia sendiri, ia dalam menjalani hdiup selalu memiliki optimisme untuk menegetahui asal muasal dirinya sambil lalu bertatih menajalani hari demi hari sehingga dalam pengembaraan itu ada yang sampai dan menemukan apa yang dicarinya, bahwa keadaan dirinya adalah ketiaadaan yang diadakan. Salah satu peranti yang digunakan
manusia untk hal tersebut selain ruh adalah keimanan yang mendapat bimbingan dan penerangan melalui agama.
22. Agama Untuk Peradaban: Membumikan Etos Agama Dalam Kehidupan (Alvabet, 2019) berisikan empat pembahan utama yaitu: agama, sosial-budaya, sosial-politik, dan pendidikan. Dalam agama disoroti bahwa pesan-pesan agama harus bisa mengikuti arus zaman dalam penyebarannya, termasuk memperhatikan sasaran kalangan muda yang menggandrungi teknologi. Dengan begitu, penyampaian pesan-pesan agama melalui media sosial berbasis internet adalah keharusan untuk mengimbangi pengetahuan yang semakin plural dan bebas guna tetap menjadi masyarakat memiliki moralitas yang tinggi.
Sosial-budaya mengulas perihal butuhnya kesadaran untuk menghargai lingkungan, dan bagaimana hidup dalam komunitas yang semakin plural dan tidak terhindari penyebaran budaya setiap daerah sehingga membutuhkan penanaman kesadaran untuk bisa saling memahami satu sama lain, bahwa kita adalah satu dalam kemanusiaan.
Mengenai sosial-politik menyoroti tentang dunia politik yang tidak sehat karena digunakan sebagai alat kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok sendiri, selaian ada tawaran bagaimana harus berpolitik dengan santun dan mengembalikan marwah politik ke asalnya sebagai alat untuk mengutamakan nilai kesejahteraan manusia, sehingga rumah bernama Indonesia yang menjadi tempat lahir, tumbuh hingga mati menjadi tempat yang menyenangkan bagi segenap bangsanya.
Terakhir tentang pendidikan, yang sebagian besar menyoroti kisah hidup penulis sendiri yang lebih memilih terjun di dunia akademisi daripada politik-praktis. Dimulai dari perjalanannya sebagai mahasiswa dan menikmati iklim pendidikan kota yang semakin membuatnya takjub dan bersemangat menuntaskan jenjang pendidikan yang ada. Sebab melalui ilmu pengetahuan manusia bisa mengeliling bumi tanpa harus melakukannya langsung, ditambah sekarang perkembangan ilmu pengetahuan semakin memesatkan teknologi dan informasi sehingga ilmu pengetahun harus selalu dikembangkan sambil lalu tetap memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan.
58 BAB IV
TEOLOGI PLURALIS KOMARUDDIN HIDAYAT
A. Manusia, Agama, dan Tuhan
Manusia adalah jenis makhluk hidup, sedangkan makhluk hidup sendiri memiliki tiga spesies yakni: hewan, tumbuhan, dan malaikat. Manusia sendiri masuk ke dalam golongan hewan yang didefinisikan sebagai hewan yang bergerak dan memiliki ciri khas berbicara, yang dari pembicaraan ini nanti dapat dipahami bahwa manusia memiliki akal.1
Harus disadari bahwa terciptanya manusia di muka ini memiliki ragam jenis kelamin, bangsa, dan suku. Dari tiga ragam utama yang melekat pada manusia tersebut, melahirkan budaya berupa bahasa, agama, dan pranata sosial lainnya. Hal ini didasarkan pada salah satu ayat al-Quran surah al-Hujarat (49): 13 yaitu:
اَهُّيَ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ayat tersebut memiliki implikasi bahwa realitas manusia itu plural. Adanya bangsa, suku dan budaya sudah membuktikan keaneragaman manusia dalam kehidupan. Kemajemukan itu merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditolak, oleh
1 Mulyadhi Kertanegara, Lentera Kehidupan: Panduan Memahami Tuhan, Alam, dan Manusia (Bandung: Mizan, 2017), h. 135-136.
karenanya kenyataan tersebut membuat penyelidikan tentang manusia, setidaknya meliputi dua hal, yaitu keadaan yang berubah dan keadaan yang tetap. Pendekatan yang dilakukan atas penyelidikan tersebut mencakup tiga hal, yaitu:
1. Orang dapat menyelidiki manusia dalam hakikatnya yang murni dan esensial. Pendekatan ini biasa dilakukan oleh para filosof.
2. Orang yang dapat melakukan penyelidikan dengan mencurahkan segala perhatiannya kepada prinsip-prinsip ideologis dan spiritual yang mengatur segala tindakan manusia serta memberikan pengaruh terhadap pembentukan personalitasnya. Penyelidikan ini dilakukan oleh ahli moral dan sosiolog.
3. Dengan mengambil konsep tentang manusia dari penyelidikan-penyelidikan tentang lembaga etika dan yuridis yang telah terbentuk dari pengalaman-pengalaman sejarah dan kemasyarakatan, dan dihormati karena lembaga tersebut telah dapat melindungi perorangan dan masyarakat dengan menerangkan hak dan kewajiban serta timbal-balik antar manusia. Pendekatan ini dilakukan oleh ahli hukum dan sejarawan.2 Bertalian dengan hal tesebut, menurut Komaruddin Hidayat bahwa terciptanya manusia memiliki lima mata rantai eksistensi, yaitu jasadi, nabati, hewani, insani, dan ruhani. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Jasadi, pada keadaan ini manusia yang tercipta dari tanah akan kembali ke tanah.
2. Nabati, kondisi ini manusia mengalami pertumbuhan dengan pemenuhan diri pada tubuhnya berserta keunikan yang ada di dalamnya.
2 Marcel A. Boisard, Humanisme dalam Islam. Penerjemah H. M. Rasjidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), 92-93.
3. Hewani, adalah dimensi di manusia memulai hidupnya dengan tumbuh, bergerak, berlari dan melakukan aktivitas lainnya serupa binatang di sekitanya.
4. Insani, merupakan dimensi manusia yang mengungguli dunia flora dan fauna sebelumnya. Keadaan ini memberikan kesadaran kepada manusia akan kemampuan daya dirinya yang terletak pada otak untuk berpikir dan melakukan tindakan dalam menjalani kehidupan.
5. Ruhani, adalah dimensi tertinggi eksistensi manusia. Dimensi ini memberikan gambaran adanya ruh dalam diri manusia yang ditiupkan langsung, bukan hanya diciptakan oleh Tuhan. Didasarkan pada ayat al-Quran surah al-Sajadah [32]: 7-8 yang maknanya, Manusia diciptakan berasal dari tanah, lalu Allah menjadikan proses keturunannya dari air mani dan yang lebih hebat lagi, disempurnakanlah dengan ditiupkan ruhNya ke dalam diri manusia.3
Kelima eksistensi tersebut memberikan gambaran bagaimana manusia dibentuk dan membentuk dirinya dalam menjalani kehidupan. Manusia adalah ciptaan paripurna Tuhan. Jika bisa secara intens mampu melakukan penghayatan dan menemukan makna di dunia ini, sesungguhnya setiap hari adalah kelahiran dan kematian, dengan begitu setiap hari manusia melakukan dua perayaan sekaligus.4 Perayaan senang karena sudah kembali dihidupkan ke dunia, dan sedih serta penuh harap khawatir ajal tiba-tiba menjemput lantaran adanya keterikan dengan dunia yang belum dituntaskan.
3 Komaruddin Hidayat, Life’s Journey: Hidup Produktif dan Bermakna (Jakarta: Noura Books, 2013), h. 8-32.
4 Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme. Cet.
XI (Jakarta: Hikmah, 2008), h. 8.
Keterikatan tersebut karena manusia adalah makhluk yang senang bermain (homo luden). Kesenangan bermain ini juga diakibatkan adanya hikmah spiritual yang bisa dipetik. Seperti filosofi bahwa permainan hari ini harus lebih baik dan menyenangkan dari kemarin sehingga besok dan seterusnya akan memainkannya kembali.5
Kesadaran tersebut disebabkan karena manusia memiliki akal, sehingga dalam perjalanannya pun menjadikan manusia sebagai subjek dan objek bagi dirinya sendiri. Sebagaimana disebut di atas, pada dimensi insaninya manusia memiliki kesadaran dan penyadaran diri. Hal tersebut menjadi manusia sebagai makhluk yang selalu penasaran atau makhluk penanya.
Falsafah Jawa menyimpulkan dalam sangkang paraning dumadi yang menegaskan rumah sejati tempat manusia kembali. Dalam al-Quran sendiri terumus pada potongan ayat surah al-Baqarah [2]: 156 yaitu, “… inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali).
Kesadaran tersebut pada dasarnya juga karena manusia memiliki ruh, yang dalam al-Quran disebutkan dua kali dengan redaksi yang sama pada surah yang berbeda, yaitu QS. al-Hijr [15]: 29, dan QS. Shad [38]: 72 sebagai berikut:
اَذدإَف
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
5 Komaruddin Hidayat, Spiritual Side of Golf: Menjaga Konsistensi dan Kejujuran. Cet. II (Jakarta: Expose, 2012), h. 28.
Pengulangan redaksi yang sama tersebut tidak lain dimaksudkan untuk mengingatkan manusia yang memiliki sifat bawaan pelupa. Salah satu kata yang merujuk kepada manusia dalam Bahasa Arab adalah kata nisyan (pelupa) yang memiliki keterhubungan dengan kata insan (manusia), sehingga muncul adagium al-insanu mahallu al-khatha’ wa al-nisyan (manusia adalah tempat salah dan pelupa).
Sifat bawaan tersebut melekat pada manusia sehingga dalam perjalan hidup ini diutuslah seorang pengingat berupa nabi, rasul dan guru kehidupan yang mereka mendapat percikan kebenaran langsung dari Tuhan untuk menyampaikan kepada manusia tentang asal usul dirinya.
Pada gilirannnya, pesan-pesan Tuhan itu terlembagakan dan kemudian dikenal dengan istilah agama. Agama lahir sebagai institusi tertua umat manusia, terlepas dari rumpun yang ada dalam perjalanan nantinya. Dalam pemaknaannya pun beragam, para pemikir baik dari kalangan filsuf, teolog, dan sosiolog memaknainya dengan berbeda-beda. Hal tersebut disadari oleh Max Weber, memaknai agama adalah suatu hal yang mustahil, meskipun hal tersebut dapat diupayakan dan kalau memang bisa.6 Karenanya dapat dipahami bahwa sebuah konsep lahir dari pergumulan masyarakat yang panjang serta dalam kondisi waktu dan tempat yang berlainan, tidak terkecuali adanya kepentingan yang diselipkan.
Hal serupa juga disadari oleh Quraish Shihab, meski agama bisa digambarkan sebagai hubungan antara ruh manusia dengan kekuatan gaib, yang dia percaya bahwa kemaslahatannya bergantung atau ditentukan oleh kekuatan tersebut
6 Max Weber, Sosilogi Agama: A Handbook. Penerjemah Yudi Santoso, (Yogyakarta:
IRCiSoD), h. 97.
sehingga ia terdorong untuk berhubungan dan menyesuaikan diri dengan apa yang dikehendaki kekuatan tersebut.7
Sedikit tambahan dilakukan oleh Yuval Noah Harari, agama selain merupakan suatu sistem norma dan nilai manusia yang didasari suatu kepercayaan terhadap tatanan adimanusia, ternyata agama juga merupakan pemersatu akbar ketiga umat manusia setelah uang dan imperium.8 Harari kembali menambahkan dua sifat yang harus dimiliki oleh agama untuk mempersatukan wilayah yang sangat luas dan dihuni oleh beragam manusia di dalamnya meliputi: Pertama, agama harus mendukung adanya keberadaan tatanan adimanusiawi universal kapan pun dan di mana pun. Kedua, agama harus bisa bersikeras menyebarkan ajaran-ajaran kepercayaan itu kepada semua manusia, atau dalam kata lain, agama harus bersifat universal dan berdakwah (missionary).
John D. Caputo secara jujur mengatakan bahwa agama sebagai subyek yang berdiri sendiri tidak terjelaskan bagaimanapun. Baginya terlalu banyak makna dan terlalu majemuk untuk dimasukkan dalam satu subjek saja. Dengan menyebut
‘agama’, secara tidak langsung ia sedang memulai—meminjam istilah Augustinus—cinta kasih Tuhan.9
Menilik paham Parennialisme, agama Tuhan yang paling benar itu hanya satu, yaitu yang dalam penulisannya dimulai dengan huruf kapital, sebut saja Religion. Maksud dari Religion ini adalah yang kebenaranya bersifat absolut, universal, dan metahistoris,sebagai jalan lurus menuju Tuhan, yang pintu
7 M. Quraish Shihab, Islam Yang Saya Anut: Dasar-Dasar Ajaran Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2018), h. 32-35.
8 Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Penerjemah Damaring Tyas Wulandari Palar, Cet. VII (Jakarta: KPG, 2019), h. 248-249.
9 John D. Caputo, Agama Cinta: Agama Masa Depan. Penerjemah Martin Lukito Sinaga (Bandung: Al-Mizan, 2013), h. 1-2.
gerbangnya selalu terbuka bagi setiap hambaNya yang hendak melakukan pendakian spiritual-esoteris.10
Menjadi jelas bahwa keterikatan manusia dengan Tuhan semakin baik dengan adanya agama. Penjabaran agama tentang Tuhan membuat manusia mulai mengenal Tuhan. Sebab bagaimana pun, sepanjang sejarah manusia tak pernah berhenti mencari Tuhan dengan menempuh beragam cara dan jalan yang dilalui.
Bahkan apa yang disebut agama sesungguhnya tidak lain adalah jalan untuk mengenal dan dekat dengan Tuhan.11 Selain itu, Komaruddin Hidayat menyadari bahwa realitas agama itu plural. Dalam artian, agama yang ada di muka bumi ini ada yang memang langsung dari Tuhan, dan ada pula yang muncul dari hasil pemikiran komtemplatif manusia.
Perjalanan setiap agama yang ada mengalami pasang-surut. Dan, hanya agama yang dianggap cocok dan mampu menghadapi kritik dan kebutuhan manusia, itulah agama yang akan bertahan.12 Dari sini dapat ditarik kesimpulan perihal sifat dari agama atas pernyataan Komaruddin Hidayat, bahwa agama yang memiliki karakter inklusif (terbuka) yang akan bertahan. Sebaliknya, agama yang tertutup atau eksklusif (tertutup) cenderung tidak akan bertahan lama dan hanya menjadi sejarah bahwa agama tersebut pernah ada.
Salah satu orang yang fenomenal dalam menulis sejarah tentang pencarian mengenal, menemukan dan dekat dengan Tuhan itu adalah Karen Armstorng dalam bukunya Sejarah Tuhan yang mempertanyakan Tuhan dari kecil. Pergumulan
10 Hidayat, Wisdom of Life, h. 69-70.
10 Hidayat, Wisdom of Life, h. 69-70.