• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN NEGARA DAN AGAMA :

A. Sekilas perjalanan hidup Soekarno dan Mohammad Natsir

1. Soekarno

Soekarno dilahirkan di Surabaya pada 06 Juni 1901, anak Raden Sukemi Sosrodihardjo, seorang mantri guru sekolah dan Ida Nyoman Rai, seorang wanita Bali.59 Ayahnya, satu dari delapan orang anak Raden Hardjodikromo, anggota bangsawan Jawa kelas priyayi dan ibunya juga adalah seorang bangsawan Bali keturunan kasta Brahmana.

58 Suhelmi, Polemik Negara Islam; Soekarno versus Natsir (Jakarta, Teraju, 2002) Cet ke 1, hlm.xxiii.

59 CLM Panders, The Life and Times of Soekarno, (Kuala Lumpur, Oxford University Press, 1975) hlm.1.

Ketika masih usia kanak-kanak sekitar empat-lima tahun, Soekarno menetap dengan kakeknya di Tulung Agung Kediri. Kakek Soekarno, sebagai-mana ayahnya adalah seorang Jawa fanatik terhadap wayang. Terhadap cucunya itu, ia berusaha mewariskan kecintaannya pada mitologi klasik Jawa itu. Karena kecintaannya pada wayang, ia menjadi pecinta wayang yang fanatik dan mengagumi falsafah-falsafah ceritanya. Kisah perang Mahabrata dan Ratu Adil merupakan kisah-kisah yang paling memukaunya, dan figur Bima telah mem-berikan pengaruh mistis pada Soekarno lebih dari figur-figur wayang lainnya.

Bernhard Dham60 menilai, pemikiran mitologis tradisional itu telah mem-berikan “pengaruh normative (normative influence) dalam perkembangan ideology Soekarno selama masa kanak-kanaknya dan mungkin juga memberikan kecen-drungan pada suatu sintesis politik Jawa yang tipikal”. Dan gagasan-gagasan yang diserapnya masa kecil itu “mengeras” dalam pemikiran Soekarno setelah ia terjun langsung ke dunia politik dan berkomunikasi dengan para pejuang Nasionalisme militan.

Memasuki usia muda, adalah suatu hal yang signifikan bahwa di masa mudanya, Soekarno tidak pernah memasuki suatu sekolah keagamaan muslim, seperti madrasah, surau atau pondok pesantren yang umumnya banyak terdapat di Jawa Timur. Juga, tidak sebagaimana lazimnya anak-anak muslim yang sejak usia dini telah mempelajari agama dan membaca al-Quran. Soekarno tidak mengalami tahapan pendidikan ini. Fakta ini berindikasi kuat keluarga Sukemi Sosrodiharjo bukanlah keluarga santri yang taat beribadah. Mereka keluarga abangan penganut Mistisme Jawa (Kejawen), sejenis agama orang Jawa (Religion of Java)61

Pendidikan formal pertama Soekarno adalah pendidikan bergaya Barat yaitu ELS (Europeeche Largere School) pada tahun 1914, kemudian melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School) dan lulus pada tahun 1921. Sebagai siswa inlander (pribumi) Soekarno dan rekan-rekannya sering mengalami pengalaman pahit.

Akibat perlakuan diskriminatif itu, ia dan rekan-rekannya bergerak dalam aktifitas politik “Trikoro Darmo”, tiga tujuan suci dan melambangkan kemer-dekaan politik, ekonomi, dan social. Dari sinilah kemudian ia bertemu dengan intelektual muslim seperti H. Agus Salim, Cokroaminoto dll. Pertemuan Soekarno dengan tokoh-tokoh itu yang mewakili berbagai aliran utama Nasionalisme Indonesia; Islam Konservatif dan Reformis, Tradisionalisme Jawa, Marxisme atau Komunisme. Keadaran politik dan gaya intelektual Soekarno mulai terbentuk.

Setamat dari HIS, Soekarno melanjutkan ke Techniche Hoge School (ITB sekarang). Di Bandung ia bertemu dengan dr. Soetomo, Inggit Ganarsih dan Doewis Dekker. Dua tokoh terakhir memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemikiran oekarno.

Ditinjau dari segi ideology, Soekarno sering dianggap sebagai seorang sinkritis, karena dirinya merupakan personifikasi dari empat aliran ideology:

60 Bernhard Dham. Soekarno and The Struggle for Indonesia Independence, (Ithaca and London, Cornell University Press, 1969) hlm. 5.

61 Suhelmi, ibid. hal. 18

Tradisionalime Jawa, Nasionalisme, Islam, dan Marxisme.62 Sedangkan bila ditilik dalam segi keagamaan menurut Clifford Geertz,63 ia penganut agama yang memiliki gaya keagamaan sendiri gaya Soekarno.

Oleh karena itu, sulit untuk menentukan secara tepat kapan ia mulai mengenal ajaran-ajaran Islam. Diduga, baru setelah menanjak remaja tatkala tinggal di rumah Cokroaminoto, bertemu dengan Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya, dan A. Hassan di Bandung. Dari sinilah kemudian ia banyak ber-diskusi, membaca buku-buku agama. Ia tidak hanya mempelajari Islam dari penulis Muslim, tetapi juga dari kalangan Orientalis Barat. Dengan demikian, di duga kuat gagasan-gagasan kritis dan rasional Soekarno tentang Islam, karena banyaknya ia mempelajari karya-karya orientalis pada masa pembuangannya di Ende.

2. Mohammad Natsir.

Mohammad Natsir lahir di kota Alahan Panjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908 dan meninggal di Jakarta, 6 Pebruari 1993. Ayahnya adalah seorang pegawai pemerintahan di sana, dan kakeknya seorang ulama.64 Ketika kecil, pendidikan formal Natsir pada usia delapan tahun, saat ia memasuki HIS ( Hollande Inlandee School) yag didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad (salah eorang tokoh pembaru ) di kota Padang. Sore harinya ia sekolah agama Islam yang dipimpin oleh para pengikut Haji Rasul. Namun, masa pendidikan Natsir di HIS ini tidak lama, karena ia dipindahkan ayahnya ke HIS pemerintah yang sepenuhnya mengikuti sistem pendidikan Barat (Belanda) di kota Solok. Disinilah fase awal interaksi Natsir dengan sistem kolonial.

Dipindahkannya Natsir ke HIS oleh ayahnya, dalam penilaian Suhelmi 65 yang jutru berhasil membentuk karakter pribadi Natsir (juga Soekarno) yang menjunjung tinggi etika kerja, ulet, dedikatif, memiliki integritas, dan teguh memegang prinip hidup. Karena di sekolah itu, disiplin pribadi yang ketat, tuntutan belajar keras, guru-guru yang tegas dan dedikatif.

Setelah lulus HIS tahun 1923, Natsir melanjutkan pendidikannya ke MULO (Middlebare Uitgebreid Larger Ondery ) di kota Padang. Sekolah ini dikenal dimata mayarakat saat itu sebagai sekolah orang terpandang dalam masyarakat, memiliki kapasitas intelektual memadai dan pasti mampu berbahaa Belanda dengan baik.

Aktifitasnya ketika di MULO dalam pandu Natipij dari Perkumpulan Jong Islamieten Bond (JIB). Sekalipun aktifitas Natsir dalam JIB ini berifat sosial edukatif-intelektual, tetapi JIB memberikan latihan kepemimpinan dan kesadaran politik kepadanya.

62 Gambaran mengenai watak ideology Soekarno ini dapat ditelusuri dalam artikel yang ditulisnya dalam tahun 1926, “ Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”, dalam Di Bawah Bendera, lihat hal. 18.

63 Clifford Geertz. Islam yang saya Amati, terj. (Jakarta, Yayaan Ilmu-ilmu oial, 198) hal. 10.

64 http;// id. Ikipedia. Org/iki/Mohammad Natsir.

65Suhelmi. Ibid, hlm. 32

Pada tahun 1927 Natsir pergi ke Bandung untuk melanjutkan sekolah ke AMS (Algemene Middlebare School). Dan disekolah ini ia mulai menekuni ilmu pengetahuan Barat dan Dunia Timur. Maka tak heran dalam usianya yang relatif belia (21 tahun) Natsir telah menguasai lima bahaa Asing ( Belanda, Arab, Inggri, Perancis, dan Latin) dan dua bahasa daerah (Minangkabau dan Sunda). Penguasa-annya atas bahasa-bahasa itu sangat memungkinkan Natsir melakukan penjelaja-han intelektual.

Peristiwa mengesankan Natsir di AMS adalah ketika ia berhasil meng-ungkapkan keburukan sistem keras dalam pabrik gula di Jawa yang membuka aib bangsa kolonial terhadap diskriminasi rasial sistem kolonial.66

Pengalaman pribadi ini, membuka pikiran Natsir akan buruknya kolo-nialisme dan politik kolonial, serta mendorongnya mempelajari politik lebih dalam. Disadarinya pula, tumbangnya tirani kolonialisme sangat ditentukan oleh perjuangan politik. Maka penguasaan ilmu politik menjadi suatu keharusan yang tidak bisa ditawar. Terjun dalam kancah perjuangan politik tanpa bekal penge-tahuan politik tidak hanya naïf tapi juga sia-sia. Politik kenyataan ini membuatnya melahap buku-buku politik baik dari ilmuan Islam maupun Barat.

Disamping itu, ia pun aktif kembali di JIB cabang Bandung. Dengan aktifnya Natsir di pengurus inti JIB, ia berusaha melakukan pendekatan dan menumbuhkan simpati dikalangan kaum terpelajar terhadap Islam yang dimana pada saat itu pemuda-pemuda muslim menampakan kecendrungan corak berfikir dan bergaul ke Barat-baratan.

Semasa tinggal di Bandung, Natsir belajar pada tokoh utama Persis (Persatuan Islam), Ahmad Hassan. Peristiwa ini tercatat dalam sejarah hidup Natsir sebagai peristiwa yang menariknya ke dalam gerakan perjuangan Persis yang dipimpin oleh A. Hassan.