RUANG LINGKUP PENDIDIKAN KARAKTER
2. Sekolah Luar Biasa
Pada dasarnya sekolah mempunyai peranan penting di dalam menumbuh kembangkan karakter siswa menuju kearah yang lebih positif. salah satunya adalah SLB. Berikut Pengertian SLB, fungsi SLB, dan Jenis-jenis anak-anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di SLB.
a. Pengertian Sekolah Luar Biasa
Tempat penyelenggaraan pendidikan dibagi menjadi tiga lingkungan yaitu formal, informal dan non formal. Sekolah Luar Biasa adalah sebuah lembaga pendidikan formal yang melayani pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Sebagai lembaga pendidikan SLB dibentuk oleh banyak unsur yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan, yang proses intinya adalah pembelajaran bagi peserta didik. Jadi SLB merupakan lembaga pendidikan khusus yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (Aqila Smart, 2012: 91).
Dalam ketentuan umum UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 1 ayat 1 dikemukakan bahwa: “Proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan, yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara” (UU Sisdiknas, 2006 : 72). Bertitik tolak dari tujuan itulah setiap lembaga pendidikan termasuk di dalamnya Sekolah Luar Biasa hendaknya bergerak dari awal hingga akhir sampai
commit to user
titik tujuan suatu proses pendidikan, yang pada akhirnya dapat “mewujudkan terjadinya pembelajaran sebagai suatu proses aktualisasi potensi peserta didik menjadi kompetensi yang dapat dimanfaatkan atau digunakan dalam kehidupan” (Hari Suderadjat, 2005: 6).
Syafaruddin (2002:87) mengemukakan bahwa: “Dalam sistem pendidikan nasional Indonesia sekolah memiliki peranan strategis sebagai institusi penyelengara kegiatan pendidikan.” Oleh karena itu, jelaslah bahwa Sekolah Luar Biasa memiliki dan mengemban tugas yang berat tetapi penting. Berat karena harus selalu berperang menghadapi berbagai kelemahan, ancaman dan tantangan guna menselaraskan program-program kegiatan yang terealisir dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang bergerak demikian cepat. Penting, karena tugas-tugas dan fungsi sekolah sangat diperlukan untuk mengembangkan potensi anak-anak berkebutuhan khusus demi kelangsungan hidupnya yang harus selalu dinamis dan optimis.
Melihat kedudukan sekolah yang demikian pentingnya Syafaruddin (2002 :88) mengatakan bahwa:“ sekolah menjadi pusat dinamika masyarakat. Keberadaan sekolah menjadi institusi sosial yang menentukan pembinaan pribadi anak dan sosialisasi serta pembudayaan suatu bangsa.” Di balik fungsi dan peranan sekolah yang sangat esensial bagi perkembangan pribadi peserta didik, masyarakat dan bangsa, serta tingginya harapan masyarakat terhadap sekolah ada satu realita yang masih jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat. Dengan kata lain lembaga-lembaga sekolah masih berkualitas rendah dan belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Hal itu tercermin dari rendahnya kualitas lulusan
commit to user
sekolah yang diekspresikan dengan menganggurnya siswa-siswa yang telah lulus sekolah. Bahkan dalam realita keseharian terlihat para lulusan yang belum dapat hidup mandiri untuk mengatasi persoalan kehidupannya sehari-hari. Hal ini
sebagai cerminan masih rendahnya kualitas sumber daya manusia sebagai output
pendidikan di Sekolah Luar Biasa. Hal itu dilatar belakangi karena siswa-siswi di SLB tidak mempunyai IQ yang rendah di banding dengan anak-anak normal pada umumnya. Gambaran di atas sesuai dengan yang dikemukakan oleh Hari Suderadjat (2005: 4) yang mengemukakan bahwa “lulusan sekolah khususnya di Indonesia dinilai bermutu rendah dalam komparasi Internasional”.
Sejalan dengan pendapat Hari Suderajat dikemukakan pula tentang lemahnya mutu pendidikan kita oleh Syafaruddin (2002: 19) sebagai berikut: Dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan masyarakat. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan, penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas, atau cenderung tambal sulam, bahkan lebih orientasi proyek. Akibatnya, seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan, baik industri, perbankan, telekomunikasi, maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. Bahkan SDM yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak, moral, dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa.
commit to user
Berangkat dari kenyataan di atas, maka harus dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan keberhasilan sekolah sehingga menjadi lembaga pendidikan yang efektif dan produktif. Terwujudnya Sekolah Luar Biasa yang efektif dan produktif merupakan suatu ciri bahwa sekolah itu berhasil dalam mengemban dan menjalankan tugas dan fungsinya. Sondng P. Siagian (dalam Syafa.ruddin, 2002 : 97) mengemukakan bahwa: “Organisasi yang berhasil adalah organisasi yang tingkat efektivitas dan produktivitasnya makin lama makin tinggi”. Oleh sebab itu, dikemukakan Sondang P. Siagian (2002: 1) bahwa :”Produktivitas suatu organiasasi harus selalu dapat diupayakan untuk terus ditingkatkan, terlepas dari tujuannya, misinya, jenisnya, strukturnya, dan ukurannya. Aksioma tersebut berlaku bagi semua jenis organisasi.” Jadi, sesuai dengan pendapat tersebut, tentunya termasuk di dalamnya organisasi pendidikan atau Sekolah Luar Biasa harus melakukan berbagai upaya guna meningkatkan efektivitas dan produktivitasnya, sehingga apa yang diharapkan dapat dicapai secara optimal.
Untuk melihat keberhasilan suatu sekolah tentu harus diukur dengan kriteria sebagaimana dikemukakan Sergiovanni dan Carver (H.M. Daryanto, 2006 :17) bahwa ada empat tujuan yaitu: Efektivitas produksi, efisiensi, kemampuan
menyesuaikan diri (adaptiveness), dan kepuasan kerja, dapat digunakan sebagai
kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu penyelenggaraan sekolah. Efektivitas produksi, yang berarti menghasilkan sejumlah lulusan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku.
Menelaah perkembangan yang terjadi di sekolah dan lulusan sekolah sebagai refleksi dari kualitas layanan pendidikan dibandingkan dengan PP No. 19
commit to user
tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang di dalamnya meliputi: (1) Sandar Isi, (2) Standar Proses, (3) Standar Kompetensi Lulusan, (4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (5) Standar Sarana dan Prasarana, (6) Standar Pengelolaan, (7) Standar Pembiayaan, dan (8) Standar Penilaian Pendidikan, ternyata masih banyak kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Hal ini terlihat dengan masih rendahnya mutu kompetensi lulusan, masih kurangnya profesionalisme guru dalam mengelola pembelajaran, masih banyaknya guru yang belum berkualifikasi akademik S1, masih rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarkat, dan sebagainya. Dengan kata lain, fenomena yang terlihat dalam lembaga pendidikan Sekolah Luar Biasa saat ini masih rendah mutu layanannya. Kualitas layanan pendidikan tersebut dicerminkan dengan suatu ukuran tingkat daya hasil suatu program yang menjadi tanggung jawab sekolah.
Dalam upaya meningkatkan mutu layanan pendidikan di Sekolah Luar Biasa tidak dapat terlepas dan harus didukung oleh berbagai pihak yang
berkepentingan (stakeholders) diantaranya pihak masyarakat. Hal ini penting
karena masyarakat memiliki peran yang sangat diperlukan oleh sekolah. Mengenai hal ini diungkapkan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 dalam Hadiyanto, (2004 : 85) yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a). Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah; b). Komite sekolah/madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dan memberikan
commit to user
pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.
b. Fungsi Sekolah Luar Biasa
Sekolah dipandang perlu memberikan layanan kepada siswa yang memiliki tingkat kemampuan, kecerdasan, dan bakat yang luar biasa di atas standar rata-rata, dalam bentuk perlakuan pendidikan dan pengajaran, secara utuh dan optimal dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan sekolah reguler. Oleh sebab itu penyelenggaraan akselerasi pendidikan yang dimulai dari setiap jenjang pendidikan dapat terselenggara di sekolah-sekolah yang ada pada saat ini sebagai penampung dari aspirasi masyarakat yang diamanatkan melalui GBHN dan Undang-Undang Pendidikan Nasional yang berlaku dewasa ini. Hal ini juga berpengaruh pada fungsi dari sekolah luar biasa (SLB) tersebut, dimana sekolah luar biasa (SLB) dipandang dapat memberikan pelayanan kepada siswa yang memiliki kelainan fisik dan mental ini agar nantinya mereka dapat mengenyam pendidikan yang tidak saja didapat oleh anak-anak normal lainnya yang telah di landaskan oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.
Sehingga nantinya mereka akan mampu bersaing dengan dengan masyarakat lainnya dalam hal memperoleh pekerjaan di masyarakat luas serta akan sesuai dengan tujuan dari pembangunan pendidikan di Indonesia itu sendiri. Pelayanan yang dilakukan oleh sekolah ini akan berhasil apabila semua komponen-komponen baik itu yang berasal dari sekolah atau komponen dalam diri anak tersebut, sehingga dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar dapat
commit to user
berjalan dengan baik dan didukung oleh lingkungan yang kondusif (http://www.indomedia.com/sripo/06/07/0706hot1.htm/ diakses 16/11/2011).
Tujuan sekolah luar biasa terdapat pada Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 1991 (72/1991) tanggal 31 desember 1991 tentang pendidikan luar biasa yang dikutip dari http://www.theceli.com/dokumen/produk/pp/1991/72-1991.htm. Pada Bab II tentang tujuan pendidikan luar biasa menyatakan bahwa:
Pasal 2
“Pendidikan luar biasa bertujuan membantu peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal-balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan”.
Sistem pendidikan khusus atau pendidikan luar biasa (PLB) yang dalam hal ini identik dengan sekolah luar biasa (SLB) di Indonesia ialah pendidikan bagi anak berkelainan disediakan dalam tiga macam lembaga pendidikan, yaitu Sekolah Berkelainan (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan Terpadu. Sekolah luar biasa, sebagai lembaga pendidikan khusus tertua, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama, sehingga ada SLB Tunanetra, SLB Tunarungu, SLB Tunagrahita, SLB Tunadaksa, SLB Tunalaras, dan SLB Tunaganda. Sedangkan SDLB menampung berbagai jenis anak berkelainan, sehingga di dalamnya mungkin terdapat anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan atau tunaganda. SLB merupakan sekolah yang diperuntukkan untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada
commit to user
umumnya (Aqila Smart, 2012: 33). Jadi SLB sangat penting di dalam menunjang keberjaminan pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus yang memang memiliki kekurangan di dalam hidupa mereka.
Sesuai dengan hakikatnya sekolah merupakan lembaga yang sangat strategis dan memiliki fungsi yang sangat penting dalam mengembangkan pendidikan. Banyak pendapat yang mengemukakan tentang fungsi sekolah
diantaranya dikemukakanoleh Hadari Nawawi sebagai berikut:
“Peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah mengembangkan potensi manusiawi yang dimiliki anak-anak agar mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan sebagai manusia, baik secara individual maupun sebagai anggota masyarakat” (Hadari Nawawi, 1982: 27)”.
Oleh karena itulah maka dapat dikatakan bahwa fungsi sekolah adalah
meneruskan, mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan suatu
masyarakat, melalui kegiatan ikut membentuk kepribadian anak-anak agar menjadi manusia dewasa yang mampu berdiri sendiri di dalam kebudayaan dan masyarakat sekitarnya. Mukhlison dalam (www.balinter.net/diakses /20/12 2011) mengemukakan bahwa fungsi sekolah adalah: 1). Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan, dan diharapkan anak yang telah menyelesaikan sekolahnya dapat melakukan sesuatu pekerjaan atau paling tidak sebagai dasar dalam mencari pekerjaan; 2). Sekolah memberikan keterampilan dasar; 3). Sekolah membuka kesempatan untuk memperbaiki nasib; 4) Sekolah menyediakan tenaga pembangunan.
Kedua pendapat di atas pada dasarnya sama dan saling melengkapi tentang fungsi sekolah dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan pendapat para ahli
commit to user
tersebut di atas maka Sekolah Luar Biasa sebagai lembaga pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut: 1). Tempat pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang memberikan dasar-dasar pengetahuan, sikap, dan keterampilan; 2). Memberikan rehabilitasi bagi anak-anak yang memiliki hambatan baik fisik,
mental, emosi, maupun sosial. 3). Mengembangkan life skill bagi anak-anak
berkebutuhan khusus sebagai bekal untuk dapat mandiri dalam kehidupannya bermasyarakat; 4). Membentuk anak-anak yang berbudaya dan menjadi warganegara yang sadar akan hak dan kewajibannya.
Pentingnya fungsi sekolah bagi kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yang pada akhirnya tertuju pada kesejahteraan manusia. Oleh karena itulah, pengembangan Sekolah Luar Biasa semestinya mendapat suatu perhatian yang semakin bermutu dengan terobosan-terobosan upaya yang tidak pernah berhenti dilakukan oleh semua pihak. Pelaksanaan evaluasi pun semestinya tidak dilupakan karena maju mundurnya pengembangan sekolah akan signifikan dengan upaya-upaya perbaikan yang selalu dilakukan sebagai tindak lanjut dari hasil evaluasi.
Jadi pada Intinya SLB berfungsi memberikan pelayanan pada anak berkebutuhan khusus dan jika dikatagorikan ke dalam anak berkesulitan belajar karena memiliki keterbatasan fisik di dalam menerima setiap pelajaran di sekolah. Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar merupakan bagian dari ilmu pendidikan luar biasa atau sering disingkat PLB atau sering disebut oertopedagogik (Abdurachman, 1999: 19).
commit to user
c. Jenis dan Karakteristik Anak Berkebutuhan khusus di Sekolah Luar
Biasa.
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dan lainnya. Getskow dan Konezal (1996: 9) menyatakan:
“ Kids with special needs is divided into eight sections. Its is arranged so that activities are open-ended and can be used for a variety of purpose. Teacher and parents should feel free to adapt the activities to the ability level their children” .
(“Anak-anak dengan kebutuhan khusus dibagi menjadi delapan bagian. Adalah diatur sedemikian rupa sehingga kegiatannya bersifat terbuka dan dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Guru dan orang tua harus merasa bebas untuk menyesuaikan kegiatan dengan tingkat kemampuan anak-anak
mereka”)".
Sedangkan Bandhi Delphi (2006) Menyatakan di negara Indonesia anak berkebutuhan khusus yang mempunyai gangguan perkembangan dan telah diberikan layanan di SLB antara lain sebagai berikut:
1) Anak yang mengalami hendaya (impairment) penglihatan (tunanetra),
khususnya anak buta (totally blind), tidak dapat menggunakan indera
penglihatan untuk mengikuti segala kegiatan belajar maupun kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, tunanetra dibagi menjadi dua kelompok, yaitu buta total dan kurang penglihatan (Aqila Smart, 2012: 36). Pada umumnya kegiatan belajar dilakukan dengan rabaan atau taktil karena kemampuan indera raba sangat menonjol untuk menggantikan indera penglihatan. Bagi mereka untuk mengerti dunia sekelilingnya harus bekerja dengan benda- benda konkret yang dapat diraba dan dapat dimanipulasi melalui observasi
commit to user
perabaan benda-benda riil, dalam tempatnya yang alamiah mereka dapat memahami bentuk ukuran, berat, kekerasan, sifat-sifat permukaan, kelenturan, suhu dan sebagainya (Sofan Amri, 2011: 68).
2) Anak dengan hendaya pendengaran dan bicara (tunarungu wicara), pada
umumnya mereka mempunyai hambatan pendengaran dan kesulitan melakukan komunikasi secara lisan dengan orang lain. Bagi yang sudah terlatih mereka dapt berkomunikasi dengan orang lain dengan cara melihat
gerak bibir (lip reading) lawan bicaranya. Oleh karena itu ada yang
menyebut anak tunarungu dengan istilah “permata” karena matanya seolah-olah tanpa berkedip melihat gerak bibir lawan bicarannya (Sofan Amri, 2011: 69).
3) Anak dengan hendaya perkembangan kemampuan (tunagrahita), memiliki
problema belajar yang disebabkan adanya hambatan perkembangan intelegensi, mental, emosi, sosial, dan fisik. Akibatnya, dalam tugas-tugas akademik yang menggunakan intelektual mereka sering mengalami kesulitan
4) Anak dengan hendaya kondisi fisik atau motorik (tunadaksa). Secara
medis dinyatakan bahwa mereka mengalami kelainan pada tulang, persendian, dan saraf penggerak otot-otot tubuhnya, sehingga digolongkan sebagai anak yang membutuhkan layanan khusus pada gerak anggota tubuhnya.
5) Anak dengan hendaya prilaku maladjustment. Anak yang berprilaku
commit to user
menonjol antara lain sering membuat keonaran secara berlebihan, dan bertendensi kearah prilaku kriminal. Anak tunalaras selalu ingin
memenuhi kebutuhan dan keinginannnya tanpa memperdulikan
kepentingan orang lain. Untuk memenuhi kebutuhannya itu, ia menggunakan kesempatan yang ada tanpa mengingat kepentingan orang lain.
6) Anak dengan hendaya autism (autistic children).Anak autistic mempunyai
kelainan ketidakmampuan berbahasa. Hal ini diakibatkan oleh adanya cedera pada otak. Secara umum anak autistic meliputi kelainan berbicara, kelainan berbicara disamping mengalami gangguan kemampuan intelektual dan fungsi saraf. Kelainan anak autistic meliputi kelainan berbicara, kelainan fungsi saraf dan intelektual, serta prilaku yang ganjil. Anak autistic mempunyai kehidupan sosial yang aneh dan terlihat seperti orang yang selalu sakit, tidak suka bergaul, dan sangat terisolasi dari lingkungan hidupnya.
7) Anak dengan hendaya kelainan perkembangan ganda (multihandicapped
and developmentally disable childern). Mereka sering disebut dengan istilah tunaganda yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup hambatan-hambatan perkembangan neurologis. Hal ini disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan kemampuan pada aspek intelegensi, gerak bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat. Kelainan perkembangan ganda juga mencakup kelainan dalam fungsi adaptif.
commit to user
Mereka umumnya memerlukan layanan-layanan pendidikan khusus dengan modifikasi metode secara khusus.