• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOGOR

2009

Dengan ini saya menyatakan bawa tesis Kandungan Klorofil, Struktur Anatomi Daun Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) dan Kualitas Udara Ambien di Sekitar Kawasan Industri Pupuk PT. PUSRI di Palembang adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, 2009

Efri Roziaty

EFRI ROZIATY

.

Chlorophyll Content, Anatomical Structure of Angsana Leaf (Pterocarpus indicus Willd.) and Ambient Air Quality Around Fertilizer Industrial Area PUSRI Ltd. In Palembang. Under supervision of DEDE SETIADI and IBNUL QAYIM

Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) leaf has a certain sensitivity that can be used to determine air polution. Exposure of plants to pollutants will cause an accumulation to the plant. The research was conducted on October to November 2008 around the area of fertilizer factory PUSRI Ltd. in Palembang. The results showed that the lowest value of total chlorophyll content was 36.3 SPAD unit in Zone A 100 m from fabrics. The highest one was 57.5 SPAD unit in Punti Kayu Forest Park, as the control. Comparing to the control, chlorophyll content in Zone A and Zone B was found highly significant. The location more than 500 m wasn’t disturbing the chlorophyll content. Ambient air quality test showed in all sampling stations was still under the Quality Threshold Value from Government. Although gas emission value from fabrics was under the Quality Standard, but the effect of pollutants to the chlorophyll was showed by the damage of some leave tissues like epidermis, and mesophyll. Microscopic observation showed damages at each station. Although air quality was still under threshold value, it has influenced the anatomical structure of angsana leaf. The highest damage percentage of leaf anatomical structure was in Zone A 100 m, medium in Zone B 500 m and the lowest one was in Zone C 1000 m from fabrics.

Keywords : Pterocarpus indicus, chlorophyll content, SPAD meter, ambient air, leaf anatomy, mesophyll.

(Pterocarpus indicus Willd.) dan Kualitas Udara Ambien di Sekitar Kawasan Industri Pupuk PT. PUSRI di Palembang. Dibimbing oleh DEDE SETIADI dan IBNUL QAYIM.

Zat buangan terutama gas yang berasal dari industri – industri besar seperti industri pupuk dapat menimbulkan berbagai macam kerusakan pada beberapa organisme. Pada tumbuhan, pencemaran oleh gas – gas buangan tersebut dapat menimbulkan pengaruh pada klorofil (zat hijau daun), karena gas buangan secara umum mengandung zat toksik yang sangat berbahaya. PT. Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) adalah salah satu produsen pupuk terbesar di Indonesia yang berlokasi di Palembang, Sumatera Selatan. Selain memproduksi pupuk urea, PUSRI juga memproduksi amonia cair, sebagai bahan baku utama pupuk urea. Sebagai sebuah industri, PT. PUSRI mengeluarkan emisi berupa polutannya ke udara salah satunya dalam bentuk gas. Jenis polutan gas yang diemisikan adalah NOx, SO2,

CO dan NH3.

Salah satu cara pemantauan pencemaran udara adalah dengan menggunakan tumbuhan sebagai bioindikator. Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang paling dominan jumlahnya dalam satu tanaman dan paling peka terhadap pencemar. Daun pohon angsana sebagai salah satu pohon yang memiliki tingkat kepekaan tertentu diduga merupakan bioindikator pencemaran udara yang baik. Sehingga daun dapat difungsikan sebagai pemantau pencemaran udara khususnya melalui analisis kadar klorofil daun tanaman.

Lamanya pemaparan tumbuhan terhadap zat pencemar akan mengakibatkan terakumulasinya pencemar tersebut ke dalam tumbuhan. Hal ini antara lain dapat terjadi pada sistem membran kloroplas tempat awal fotosintesis. Tingkat toleransi masing – masing jenis tanaman terhadap jenis pencemar (polutan) tertentu berbeda – beda. Namun seringkali pengaruh zat toksik terhadap tumbuhan tidak nyata pada tampilannya. Senyawa – senyawa tertentu yang sulit dilakukan secara langsung di udara, ternyata dapat dilakukan melalui analisis pada daun tanaman.Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) merupakan salah satu pohon yang memiliki tingkat kepekaan tertentu diduga merupakan bioindikator pencemaran udara yang baik. Lamanya pemaparan tumbuhan terhadap zat pencemar akan mengakibatkan terakumulasinya pencemar tersebut terhadap tumbuhan.

Penelitian dilakukan dari Oktober 2008 – Desember 2008 di sekitar kawasan pabrik pupuk PT. PUSRI Palembang. Penelitian dilakukan di tiga stasiun dengan radius 100 m (Zona A), 500 m (Zona B) dan 1000 m (Zona C) di sekitar pabrik pupuk PT. PUSRI Palembang. Tanaman kontrol diambil dari Hutan Wisata Punti Kayu Palembang. Untuk pengukuran kandungan klorofil total daun menggunakan alat klorofil meter Konica Minolta seri SPAD 502. Anatomi daun dilakukan di Laboratorium Silvikultur BIOTROP Bogor. Untuk Analisa Kualitas Udara Ambien dilakukan di Laboratorium Teknis Bapedalda Palembang.

Nilai kandungan klorofil total dari yang tertinggi hingga terendah adalah 36,3 unit SPAD berlokasi di Stasiun A pada Zona 1 dan tertinggi 57,5 unit SPAD berlokasi di kontrol Hutan Wisata Punti Kayu Palembang. Setelah diuji dengan

1000 m. Pada radius lebih dari 500 m tidak menimbulkan pengaruh emisi pabrik pupuk urea terhadap kandungan klorofil Angsana.

Hasil sampel udara ambien di semua stasiun pengamatan menunjukkan bahwa konsentrasi NOx, SO2, dan CO belum melebihi Nilai Ambang Batas/Nilai

Baku Mutu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Propinsi melalui Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No. 17 Tahun 2005 tanggal 13 Mei 2005 tentang Baku Mutu Udara Ambient dan Tingkat Kebisingan Udara Ambien dan untuk NH3 belum melebihi Nilai Ambang Batas/Nilai Baku Mutu yang telah ditetapkan

melalui KEPMENLH No. 50/MENLH/11/1996 Tentang Baku Mutu Tingkat Kebauan (dalam waktu pengukuran 1 jam). Pengamatan mikroskopis menunjukkan perbedaan respons tanaman di masing – masing stasiun.

Hal ini ditunjukkan dengan tingkat kerusakan struktur anatomi daun tertinggi pada Zona A pada radius 100 m selanjutnya sedang pada Zona B atau jarak 500 m dari pabrik. Pada Zona C pada radius 1000 m tingkat kerusakan rendah dan relatif masih normal. Sehingga mungkin dapat diajukan beberapa saran yang perlu dikembangkan dan atau ditindaklanjuti kemudian adalah mengenai (1) Dalam menentukan kebijakan mengenai Nilai Baku Mutu untuk kualitas udara ambien oleh Pemerintah hendaknya jangan hanya mengacu kepada kepentingan manusia (antroposentris) tetapi juga perlu dipertimbangkan aspek biologis lainnya yaitu pengaruh polutan terhadap kelangsungan hidup tumbuhan yang terdapat di sekitar kawasan industri pupuk PT. PUSRI; (2) Penelitian lanjutan mengenai organisme lain, seperti burung yang terdapat di sekitar kawasan industri pabrik pupuk PT. PUSRI.

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2009

Hak Cipta dilindungi Undang – undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

UDARA AMBIEN DI SEKITAR KAWASAN INDUSTRI

Dokumen terkait