• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Lingkungan Sekolah

7. Sekolah Ramah Lingkungan

Pendidikan ramah lingkungan merupakan usaha nyata manusia yang teratur dan terencana dalam menyelamatkan lingkungan hidup sebagai tempat tinggal, mempertahankan hidup, dan meneruskan keturunan. Pendidikan ramah lingkungan merupakan sebuah konsep hidup yang bersinergis antara manusia dengan alam (Pendidikan Ramah Lingkungan dan Pendidikan untuk Semua, 2009, diakses dari http://sumberilmu.info/). Isi Pendidikan Ramah Lingkungan yaitu:

a. Menyadarkan manusia, bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa alam, dalam memanfaatkan sumber daya alam manusia tidak harus merusaknya.

b. Menanamkan sikap menghargai keseimbangan makrokosmos bumi, yaitu bahwa segala benda dan makhluk yang tercipta di bumi adalah saling melengkapi untuk menjaga keseimbangan alam semesta.

c. Tidak merusak ekosistem bumi, misalnya dengan mengolah sampah organik dan non-organik menjadi barang yang bermanfaat, sehingga tidak merusak ekosistem tanah dan air.

Pendidikan ramah lingkungan sangat penting untuk diterapkan dan diajarkan di lingkungan sekolah dengan tujuan agar peserta didik nantinya menjadi manusia yang peduli dan peka terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. Pendidikan ramah lingkungan juga bertujuan untuk membantu peserta didik dalam memperoleh pengertian dasar tentang bagaimana fungsi lingkungan serta bagaimana cara menjaga dan mengelolanya.

Konsep 3R diterapkan dalam mewujudkan sekolah ramah lingkungan. Konsep 3R terdiri dari Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), berikut ini dijelaskan tentang konsep 3R:

a. Reduce

Reduce atau pengurangan merupakan kegiatan mengurangi pemakaian atau pola perilaku yang dapat mengurangi produksi sampah serta tidak melakukan pola konsumsi yang berlebihan.

b. Reuse

Reuse atau penggunaan kembali merupakan kegiatan menggunakan kembali material atau bahan yang masih layak pakai.

c. Recycle

Recycle atau mendaur ulang merupakan kegiatan mengolah kembali atau mendaur ulang. Kegiatan ini memanfaatkan barang bekas dengan cara mengolah materinya untuk dapat digunakan lebih lanjut (www.artikellingkunganhidup.com).

Bangunan atau gedung sekolah yang ramah lingkungan merupakan aspek penting dalam mewujudkan sekolah ramah lingkungan. Menurut

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 tahun 2010 tentang kriteria dan sertifikasi bangunan ramah lingkungan, menteri negara lingkungan hidup menjelaskan bahwa bangunan ramah lingkungan (greenbuilding) adalah suatu bangunan yang menerapkan prinsip lingkungan dalam perancangan, pembangunan, pengoperasian, dan pengelolaannya dan aspek penting penanganan dampak perubahan iklim.

Bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan ramah lingkungan apabila memenuhi kriteria antara lain:

1. Menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan yang antara lain meliputi:

a. Material bangunan yang bersertifikat eco-label;

b. Material bangunan lokal.

2. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk konservasi sumber daya air dalam bangunan gedung antara lain:

a. Mempunyai sistem pemanfaatan air yang dapat dikuantifikasi; b. Menggunakan sumber air yang memperhatikan konservasi

sumber daya air;

c. Mempunyai sistem pemanfaatan air hujan.

3. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana konservasi dan diversifikasi energi antara lain:

a. Menggunakan sumber energi alternatif terbarukan yang rendah emisi gas rumah kaca;

b. Menggunakan sistem pencahayaan dan pengkondisian udara buatan yang hemat energi.

4. Menggunakan bahan yang bukan bahan perusak ozon dalam bangunan gedung antara lain:

a. Refrigeran untuk pendingin udara yang bukan bahan perusak ozon;

b. Melengkapi bangunan gedung dengan peralatan pemadam kebakaran yang bukan bahan perusak ozon.

5. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan air limbah domestik pada bangunan gedung antara lain:

a. Melengkapi bangunan gedung dengan sistem pengolahan air limbah domestik pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus;

b. Melengkapi bangunan gedung dengan sistem pemanfaatan kembali air limbah domestik hasil pengolahan pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus.

6. Terdapat fasilitas pemilahan sampah;

7. Memperhatikan aspek kesehatan bagi penghuni bangunan antara lain:

a. Melakukan pengelolaan sistem sirkulasi udara bersih;

b. Memaksimalkan penggunaan sinar matahari.

8. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan tapak berkelanjutan antara lain:

a. Melengkapi bangunan gedung dengan ruang terbuka hijau sebagai taman dan konservasi hayati, resapan air hujan dan lahan parkir;

b. Mempertimbangkan variabilitas iklim mikro dan perubahan iklim;

c. Mempunyai perencanaan pengelolaan bangunan gedung sesuai dengan tata ruang;

d. Menjalankan pengelolaan bangunan gedung sesuai dengan perencanaan;

9. Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk mengantisipasi bencana antara lain:

a. Mempunyai sistem peringatan dini terhadap bencana dan bencana yang terkait dengan perubahan iklim seperti: banjir, topan, badai, longsor dan kenaikan muka air laut;

b. Menggunakan material bangunan yang tahan terhadap iklim atau cuaca ekstrim intensitas hujan yang tinggi, kekeringan dan temperatur yang meningkat.

Dalam penerapan sekolah ramah lingkungan pengelolaan sarana dan prasarana pendukung ramah lingkungan sangat diperlukan. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (2012: 19-20) pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan di sekolah meliputi:

Tabel 1. Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan

Standar Implementasi Pencapaian

A.Ketersediaan sarana prasarana pendukung yang ramah lingkungan. 1. Menyediakan sarana prasarana untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup di sekolah

Tersedianya 6 (enam) sarana prasarana untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup di sekolah sesuai dengan standar sarana dan prasarana Permendiknas no 24 tahun 2007, seperti : air bersih, sampah (penyediaan tempat sampah terpisah,

komposter), tinja, air limbah/drainase, ruang terbuka hijau, kebisingan/getaran/radiasi, dll. 2. Menyediakan sarana prasarana untuk mendukung pembelajaran lingkungan hidup di sekolah.

Tersedianya 6 (enam) sarana prasarana pendukung pem- belajaran lingkungan hidup, antara lain; pengomposan, pemanfaatan dan pengolahan air, hutan/taman/kebun seko- lah, green house, toga, kolam ikan, biopori, sumur resapan, biogas, dll). B. Peningkatan kualitas pengelolaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana yang ramah lingkungan. 1. Memelihara sarana dan prasarana sekolah yang ramah lingkungan.

Terpeliharanya 3 (tiga) sarana dan prasarana yang ramah lingkungan sesuai fungsinya, seperti :

a. Ruang memiliki

pengaturan cahaya dan ventilasi udara secara alami.

b. Pemeliharaan dan pen-

gaturan pohon peneduh dan penghijauan. c. Menggunakan paving block 2. Meningkatkan pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas sanitasi sekolah.

Tersedianya 4 (empat) unsur mekanisme pengelolaan dan pemeliharaan sarana meliputi : penanggung jawab, tata tertib, pelaksana (daftar piket), pengawas, dll terkait dalam kegiatan penyediaan dan pemakaian sarana fasilitas sanitasi sekolah.

3. Memanfaatkan

listrik, air dan ATK secara efisien.

20% efisiensi pemanfaatan listrik, air dan ATK

4. Meningkatkan kualitas pelayanan kantin sehat dan ramah lingkungan .

Kantin melakukan 3 (tiga) upaya dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kantin sehat dan ramah lingkungan, meliputi :

a. Kantin tidak menjual

makanan/minuman yang mengandung bahan pen- gawet/pengenyal, pewarna, perasa yang tidak sesuai dengan standar kesehatan. b. Kantin tidak menjual

makanan yang tercemar/ terkontaminasi,

kadaluarsa.

c. Kantin tidak menjual makanan yang dikemas tidak ramah lingkungan, seperti : plastik,

styrofoam, aluminium foil.

Penerapan pendidikan ramah lingkungan di sekolah akan menciptakan sekolah yang ramah lingkungan. Sekolah ramah lingkungan akan menciptakan perilaku warga sekolah yang peduli terhadap alam dan lingkungannya. Perilaku ramah lingkungan merupakan perilaku untuk mengedepankan open spaces, penggunaan dan pengelolaan air bersih, pengolahan air hujan, teknologi hijau, penghematan sumber energi, dan penghijauan (Astrini Ayu Puspita, 2013 :9).

Sikap ramah lingkungan merupakan sikap positif setiap manusia terhadap lingkungan hidup yang berupa tindakan dalam perlindungan alam dan lingkungan yang memadai dan penghargaan tentang fungsi ekologi

lingkungan hidup yang memberikan layanan pada manusia tanpa didominasi oleh pertimbangan ekonomi, yang mendorong eksploitasi lebih. Sikap ramah lingkungan terlihat pada kepedulian siswa terhadap lingkungan hidupnya sehari-hari baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah (Kana Hidayati, 2007: 7).

Dari beberapa pemaparan diatas maka dapat diambil kesimpulan mengenai sekolah ramah lingkungan, yaitu sekolah yang di dalamnya terdapat pembelajaran, kegiatan dan program untuk mengelola dan melindungi lingkungan hidup dan dalam pelaksanaan pembelajaran, kegiatan, program tidak menyebabkan kerusakan lingkungan hidup.

Dokumen terkait