• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKTOR PERKEBUNAN

Dalam dokumen PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 23-33)

PBB SEKTOR PERKEBUNAN, PERHUTANAN,

DAN PERTAMBANGAN

A. SEKTOR PERKEBUNAN

Perkebunan adalah usaha pertanian yang diusahakan dengan pengurusan yang teratur dan sistematik, penjagaan tanaman yang rapi, kawasan tanaman yang luas, pengeluaran produk yang teratur dan mengikuti jadual (Abd.Rachman, 1992: 109).

PBB sektor Perkebunan, peraturan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tanggal 27 Desember 2010 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-149/PJ/2010 tanggal 27 Desember 2010. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tersebut di atas, yang dimaksud dengan objek pajak sektor perkebunan adalah objek pajak bumi dan bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan yang diberikan hak guna usaha perkebunan.

Sebagaimana halnya dengan sektor pedesaan dan perkotaan, pendataan untuk sektor perkebunan juga menggunakan Surat Pemberitahuan Objek Pajak Sektor Perkebunan. SPOP sektor perkebunan ini dikirim ke wajib pajak yaitu perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan. Setelah diisi secara jelas, benar, lengkap dan ditandatangani oleh salah seorang dari direksi perkebunan, SPOP tersebut kemudian dikirim ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama dengan dilampiri data pendukung yang dibutuhkan berupa fotokopi surat dari Dinas Perkebunan tentang izin (hak) pengelolaan perkebunan ataupun fotokopi Hak Guna Usaha dari Badan Pertanahan Nasional. Untuk menguji kebenaran data yang tercantum di dalam SPOP Perkebunan tersebut, Kantor Pelayanan Pajak Pratama dapat menggunakan data dari instansi terkait yaitu Dinas Perkebunan setempat.

perkebunan. Standar Investasi Tanaman perkebunan adalah jumlah biaya tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman. Standar Investasi Tanaman perkebunan ini masing-masing berbeda menurut umur dan jenis tanamannya. Misalnya tanaman coklat yang berumur satu tahun akan berbeda dengan yang telah berumur lebih dari satu tahun. Tanaman coklat akan berbeda Standar Investasinya dengan tanaman karet walaupun umurnya sama. Demikian juga Standar Investasi Tanaman ini berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sedangkan

Dalam penentuan SIT ini terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui sebagai berikut:

Tanaman berumur panjang adalah tanaman yang berumur lebih dari satu tahun dan pemungutan hasilnya dilakukan lebih dari satu kali dan tidak dibongkar sekali panen.

Tanaman berumur pendek adalah tanaman yang berumur sampai dengan satu tahun dan pemungutan hasilnya dilakukan satu kali dan dibongkar sekali panen. Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) adalah tanaman pada fase belum menghasilkan yang dimulai dari umur tanaman satu tahun (TBM1) dan seterusnya sampai dengan tahun terakhir tanaman tersebut belum menghasilkan (TBMn) yang rentang fasenya tergantung masing-masing jenis tanaman.

Tanaman Menghasilkan (TM) adalah tanaman pada fase menghasilkan yang dimulai dari tahun pertama tanaman menghasilkan (TM1) sampai dengan tahun terakhir tanaman tersebut menghasilkan (TMn) yang rentang fasenya tergantung masing-masing jenis tanaman.

Satuan Biaya Tanam (SBT) adalah satuan biaya yang diinvestasikan tiap tahun berdasarkan umur dan jenis tanaman.

Satuan Biaya Pembangunan Kebun (SBPK) adalah satuan biaya tahunan perkegiatan yang meliputi kegiatan pembukaan lahan dan penanaman yang selanjutnya disebut P0, pemeliharaan tahun pertama yang disebut P1, dan seterusnya sampai dengan pemeliharaan tahun terakhir sebelum tanaman tersebut menghasilkan yang disebut Pn untuk setiap hektar perluasan kebun disuatu wilayah yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan,

Departemen Pertanian. SBPK yang diterbitkan ini dikelompokkan menjadi 6 (enam) wilayah, yaitu:

1. Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali

2. Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, Sumatera Barat, Bangka Belitung

3. Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau

4. Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur

5. Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur

6. Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat

Secara empiris besarnya biaya tenaga kerja, bahan dan alat adalah sebesar 71% dari biaya dalam SBPK, sedangkan sisanya sebesar 29% merupakan biaya infrastruktur, sertifikasi lahan, management fee dan administrasi. Contoh SBPK tahun 2009 seperti tabel berikut.

Indeks Biaya Tanaman yang selanjutnya disebut IBT adalah angka yang digunakan sebagai dasar penentuan SBT untuk fase TM dan disusun oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana tabel berikut.

Gambar 2 Tabel Indeks Biaya Tanaman

Tabel Indeks Biaya Tanam (IBT)

Penghitungan SIT untuk tanaman berumur panjang sebagai berikut: 1. SIT pada fase TBM ditetapkan sebagai berikut:

a. SIT pada fase TBM1 merupakan SBT pada fase TBM1

b. 2) SIT pada TBM2 merupakan penjumlahan dari SIT pada fase TBM1 dengan SBT pada fase TBM2.

c. 3) SIT pada fase TBMn merupakan penjumlahan dari SIT pada fase TBMn-1 dengan SBT pada fase TBMn

2. SIT pada suatu tahun dalam fase TM ditetapkan sebesar SIT pada fase TBM terakhir (TBMn) ditambah dengan SBT pada fase TM tahun tersebut. 3. Rincian fase TBM dan TM sesuai umur tanaman masing-masing jenis

tanaman adalah seperti tabel berikut.

Gambar 3 Fase TBM dan TM Sesuai Umur dan Jenis Tanaman

Tabel Rincian fase TBM dan TM sesuai umur tanaman

Penghitungan SBT pada tanaman berumur panjang adalah sebagai berikut: 1. SBT pada fase TBM:

a. SBT pada fase TBM1 adalah sebesar 71% dari SBPK untuk kegiatan P0 dan kegiatan P1

b. SBT pada fase TBM2 adalah sebesar 71% dari SBPK untuk kegiatan P2 dan seterusnya

c. SBPK pada angka 1) dan angka 2) di atas adalah SBPK untuk tahun sebelum tahun pajak berjalan.

d. Dalam hal SBPK pada angka 3) di atas tidak diterbitkan, maka SBT pada fase TBM tahun pajak berjalan ditentukan berdasarkan penyesuaian SBT pada fase TBM tahun pajak sebelumnya dengan tingkat diskonto 10%, dengan formula sebagai berikut:

SBTt = SBTt-1 x ( 1 + i ) dimana:

SBTt = SBT tahun pajak berjalan SBTt-1 = SBT tahun pajak sebelumnya

i = tingkat diskonto yang ditetapkan sebesar 10%

2. SBT pada fase TM ditetapkan sebesar SBT pada fase TBM terakhir (TBMn) dikalikan dengan IBT pada fase TM tersebut.

Contoh perhitungan SIT Kelapa Sawit tahun 2011 dan penjelasannya adalah sebagai berikut.

Penjelasan:

Kolom 1: Fase tanaman dikelompokkan menjadi fase TBM dan fase TM.

Fase TBM terdiri dari TBM1 (kegiatan P0 dan P1), TBM2 (kegiatan P2) dan seterusnya. Fase TM terdiri dari TM1 sampai dengan TM22 Kolom 2: Umur tanaman kelapa sawit mulai dari umur 1 tahun sampai 25

tahun

Kolom 3: IBT yang digunakan sebagai dasar perhitungan SBT pada fase TM

Kolom 4: SBPK per ha yang diterbitkan Direktorat Jenderal Perkebunan pada

tahun sebelum tahun pajak berjalan pada fase TBM.

Kolom 5: SBT per ha pada fase TBM untuk tahun pajak berjalan.

Perhitungan SBT untuk fase TBM sebagai berikut:

a. SBT TBM1 (P0)= 71% x (SBPK P0) = 71% x 13.768.000= 9.775.280 x (1+0,1) = Rp10.752.808,- b. SBT TBM1 (P1)= 71% x (SBPK P1) = 71% x 7.950.000 = 5.644.500 x (1+0,1) = Rp6.208.950,- c. SBT TBM2 (P2)= 71% x (SBPK P2) = 71% x 7.688.000 = 5.458.480 x (1+0,1) = Rp6.004.328,- d. SBT TBM3 (P3)= 71% x (SBPK P3) = 71% x 8.365.000 = 5.939.150 x (1+0,1) = Rp6.533.065,-

Kolom 6: SBT per ha pada fase TM untuk tahun pajak berjalan.

Perhitungan SBT untuk fase TM sebagai berikut:

a. SBT TM1 = (SBT TBM3) x (IBT TM1) = 6.533.065 x 0,9514 = Rp6.215.558,-

Kolom 7: SIT per ha untuk Tahun Pajak berjalan, merupakan nilai tanaman

sesuai umurnya, dihitung dengan cara sebagai berikut:

a. SIT TBM1 = (SBT TBM1) = (SBT P0) + (SBT P1) = 10.752.808 + 6.208.950 = Rp16.961.758,-

b. SIT TBM2 = (SIT TBM1) + (SBT TBM2) = 16.961.758 + 6.004.328 = Rp22,966.086,-

c. SIT TBM3 = (SIT TBM2) + (SBT P3) = 22.966.086 + 6.533.065 = Rp29.499.151,- d. SIT TM1 = (SIT TBM3) + (SBT TM1) = 29.499.151 + 6.215.558 = Rp35.714.709,- e. SIT TM2 = (SIT TBM3) + (SBT TM2) = 29.499.151 + 5.913.730 = Rp35.412.881,- f. SIT TM3 = (SIT TBM3) + (SBT TM3) = 29.499.151 + 5.626.929 = Rp35.126.080,- g. Dan seterusnya

Kolom 8: SIT per M2 sebagai dasar ketetapan nilai tanaman.

Penghitungan SIT untuk tanaman berumur pendek ditentukan sebesar biaya pengolahan tanah, penanaman, dan pemeliharaan untuk tanaman tersebut. Di dalam suatu wilayah perkebunan terdapat beberapa jenis areal yaitu: a) areal produktif, b) areal belum produktif, c) areal emplasemen dan d) areal lainnya. Pengertian dari masing-masing areal dan penentuan NJOPnya adalah sebagai berikut:

1. Areal Produktif adalah suatu areal di dalam wilayah suatu perkebunan yang telah ditanami dengan komoditas perkebunan baik telah menghasilkan ataupun belum menghasilkan. Nilai tanah untuk areal ini merupakan penjumlahan dari Nilai Dasar Tanah dengan Standar Investasi Tanaman. Nilai Dasar Tanah diperoleh dari perkalian luas tanah areal produktif dengan nilai dasar tanah areal produktif per meter persegi. Nilai dasar tanah areal produktif merupakan hasil penilaian di lapangan yang dihitung dalam satuan rupiah per meter persegi sedangkan Standar Investasi Tanamannya dihitung dalam satuan rupiah per hektar.

2. Areal Belum Produktif merupakan suatu areal di dalam wilayah suatu perkebunan yang terdiri dari areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami dan areal yang belum diolah. Nilai tanah untuk areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami merupakan perkalian luas tanah areal sudah diolah tetapi belum ditanami dengan nilai dasar tanah areal sudah diolah tetapi belum ditanami per meter persegi termasuk di dalamnya biaya

pembukaan lahan, sedangkan nilai tanah untuk areal yang belum diolah merupakan perkalian luas tanah belum diolah dengan nilai dasar tanah areal belum diolah per meter persegi.

3. Areal Emplasemen adalah suatu areal di dalam wilayah suatu perkebunan yang diatasnya terdapat bangunan-bangunan dan sarana pelengkap lainnya, seperti perumahan karyawan, kantor perusahaan, gudang, dan lain-lain. Nilai tanah untuk areal emplasemen ini adalah merupakan perkalian luas tanah areal emplasemen dengan nilai dasar tanah emplasemen per meter persegi termasuk biaya pematangan tanah. 4. Areal Lainnya terdiri dari areal tidak produktif/tidak dapat dimanfaatkan

(seperti rawa, cadas, dan jurang) dan areal jalan yang meliputi jalan utama yang terletak di dalam/di luar areal perkebunan, jalan produksi yang berfungsi untuk pengumpulan hasil dan jalan kontrol yang berfungsi untuk pengawasan areal perkebunan. Nilai tanah untuk areal tidak produktif merupakan perkalian luas tanah areal tidak produktif dengan nilai dasar tanah areal tidak produktif per meter persegi, sedangkan nilai tanah areal jalan merupakan perkalian luas tanah areal jalan dengan nilai dasar tanah areal jalan per meter persegi termasuk di dalamnya biaya pematangan tanah.

Perhitungan nilai tanah per meter persegi suatu areal perkebunan adalah dengan jalan membagi nilai tanah seluruh areal dengan luas tanah seluruh areal. Hasil perhitungan ini yang merupakan nilai tanah per meter persegi suatu areal kebun kemudian dikonversi ke dalam Tabel Klasifikasi Tanah untuk menentukan NJOP per meter persegi dari areal perkebunan tersebut sebagai dasar untuk menghitung PBB terutang.1

Contoh perhitungan PBB Perkebunan:

PT.Sawit Seberang, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit didaerah Sumatera Utara memiliki/menguasai/mendapat manfaat dari tanah dan bangunan dengan rincian sebagai berikut :

1 Pola perhitungan seperti ini menimbulkan bias terhadap nilai yang sebenarnya dari masing-masing areal, karena kemungkinan terdapat perbedaan nilai tanah yang sangat signifikan dari

A. Tanah

1. Areal kebun :

a. Usia tanaman 2 tahun : 100 Ha, Nilai Dasar Tanah (NDT) = Rp1.700,- / M2. SIT (TBM2) : Rp22.966.086,- per Ha

b. Tanaman sudah menghasilkan : 300 Ha, NDT = Rp1.700,-/M2 S I T ( TM1 ) : Rp35.714.709,- per Ha 2. Areal emplasemen : a. Kantor : 0,5 Ha , NDT = Rp14.000,- / M2 b. Gudang : 1 Ha , NDT = Rp10.000,- / M2 c. Pabrik : 2 Ha, NDT = Rp10.000,- / M2 B. Bangunan :

a. Kantor : 500 M2 , Nilai Bangunan = Rp700.000,- / M2 b. Gudang : 1.000 M2, Nilai Bangunan = Rp505.000,- / M2 c. Pabrik : 4.000 M2 , Nilai Bangunan = Rp365.000,- / M2 Hitung PBB atas perkebunan tersebut bila NJOPTKP : Rp10 juta!

Jawaban: A. Nilai Tanah:

1. Areal Kebun :

a. Usia tanaman 2 tahun : 100 x 10.000 x Rp1.700 = Rp

1.700.000.000,-SIT (TBM2): 100 x Rp22.966.086,- = Rp 2.296.608.600 b. Tanaman sdh menghasilkan : 300 x 10.000 x Rp1.700= Rp 5.100.000.000,- SIT (TM1): 300 x Rp35.714.709,-= Rp10.714.412.700,- 2. Areal Emplasemen : a. Kantor : 0,5 x 10.000 x Rp14.000,- = Rp 70.000.000,- b. b. Gudang : 1 x 10.000 x Rp10.000,- = Rp 100.000.000,- c. c. Pabrik : 2 x 10.000 x Rp10.000,- = Rp 200.000.000,- Nilai Tanah ( 1 + 2 ) = Rp20.181.021.300,- Nilai Tanah/M2 = Rp20.181.021.300/4.035.000 = Rp5.001,49/M2 Hasil konversi : Kelas 161 = Rp5.000,- /M2

NJOP Tanah seluruhnya = 4.035.000 x Rp5.000 = Rp20.175.000.000,- B. Nilai Bangunan :

a. Kantor : 500 x Rp700.000,- = Rp 350.000.000,-

b. Gudang : 1.000 x Rp505.000,- = Rp 505.000.000,-

c. Pabrik : 4.000 x Rp365.000,- = Rp 1.460.000.000,-

Nilai Bangunan seluruhnya = Rp 2.315.000.000,-

Nilai Bangunan/M2 = Rp2.315.000.000 / 5.500 = Rp420.909,09 Hasil konversi : Kelas 068 = Rp427.000,- /M2

NJOP Bangunan seluruhnya = 5.500 x Rp427.000,- = Rp2.348.500.000,-

NJOP Tanah dan Bangunan seluruhnya = Rp22.523.500.000,-

NJOPTKP = Rp 10.000.000,-

NJOP untuk perhitungan PBB = Rp22.513.500.000,-

PBB = 0,5% x 40% x Rp22.513.500.000,- = Rp45.027.000,-

Dalam dokumen PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK (Halaman 23-33)

Dokumen terkait