Profil Minyak dan Stuktur Biaya Konsumen BBM
3.4 Biaya Pengadaan BBM
3.5.1 Sektor Rumah Tangga
Data pengeluaran sektor rumah tangga diperoleh dari Survei Sosial Ekonomi Nasional 1999 (Susenas 1999). Survei tersebut menghimpun juga data pengeluaran energi di rumah tangga. Survei menghasilkan 61.422 sampel untuk mewakili 50.342.683 rumah tangga. Dari survei tersebut BPS menghitung batas kemiskinan dari sisi pengeluaran dalam satuan rupiah per bulan per kapita seperti diperlihatkan pada Tabel 3.6.
Tabel 3.6 Garis Kemiskinan Tahun 1999
Sumber: BPS, Tahun 1999. Perkotaan Pedesaan Aceh 83,683 70,610 Sumut 92,321 70,869 Sumbar 101,168 79,898 Riau 94,948 91,028 Jambi 96,682 79,466 Sumsel 96,133 76,839 Bengkulu 105,816 71,966 Lampung 94,541 70,378 Jakarta 109,164 -Jabar 94,217 73,855 Jateng 88,384 72,210 Yogya 93,921 76,773 Jatim 90,204 73,432 Bali 94,714 81,456 NTB 89,846 74,677 NTT 84,170 66,143 Kalbar 103,471 81,142 Kalteng 100,228 91,974 Kalsel 93,650 71,911 Kaltim 99,286 89,689 Sulut 90,979 75,903 Sulteng 89,509 75,273 Sulsel 85,357 69,017 Sultra 90,455 73,509 Maluku 106,610 93,831 Irian 94,869 95,053 Propinsi
46 KAJIAN KENAIKAN
HARGA BBM 2002 Pembagian kategori sektor rumah tangga pada kajian ini didasarkan pada sisi pengeluaran
dan diasumsikan bahwa penduduk pada tingkat pengeluaran yang sama mengkonsumsi energi dalam jumlah yang sama. Setiap rumah tangga pada setiap propinsi dikelompokkan menjadi 5 kategori dan dibedakan atas rumah tangga perkotaan dan rumah tangga pedesaan. Kriteria kategori didasarkan pada batas kemisikinan untuk setiap propinsi (Tabel 3.6) yang dihitung oleh BPS. Kelima kategori tersebut adalah sebagai berikut,
• Kategori A: Miskin, di bawah garis kemiskinan
• Kategori B: Miskin Sedang, 100%-125% dari garis kemiskinan
• Kategori C: Miskin Atas, 125%-150% dari garis kemiskinan
• Kategori D: Menengah, 150% - 175% dari garis kemiskinan
• Kategori E: Kaya, di atas 175% dari garis kemiskinan
Struktur pengeluaran sektor rumah tangga dibedakan menjadi pengeluaran makanan dan pengeluaran bukan makanan. Pengeluaran bukan makanan terdiri dari enam kelompok, yaitu Perumahan dan Fasilitas Rumah Tangga; Barang dan Jasa; Pakaian, Alas Kaki, dan Tutup Kepala; Barang-barang Tahan Lama; Pajak dan Asuransi; dan Keperluan Pesta dan Upacara.
Seperti diperlihatkan pada Tabel 3.7, jumlah rumah tangga miskin adalah 15,3% terbagi atas 4,3% di perkotaan dan 11,0% di pedesaan. Jumlah rumah tangga kaya adalah 41,3% terbagi atas 21,4% di perkotaan dan 19,9% di pedesaan, pangsa tersebut memperlihatkan jumlah yang hampir sama rumah tangga kaya di pedesaan dan di perkotaan.
Tabel 3.7 Pengelompokan Rumah Tangga
Perkotaan Pedesaan
Kategori Jumlah Rumah Tangga Pangsa (%) Jumlah Rumah Tangga Pangsa (%) A 2.143.457 4,3 5.534.562 11,0 B 2.395.597 4,8 5.668.238 11,3 C 2.374.822 4,7 5.245.163 10,4 D 2.129.751 4,2 4.081.602 8,1 E 10.749.991 21,4 10.019.500 19,9 Total 19.793.618 39,3 30.549.065 60,7
47 KAJIAN KENAIKAN
HARGA BBM 2002 Energi di sektor rumah tangga digunakan untuk memasak, penerangan, dan keperluan
lainnya. Pengeluaran biaya energi termasuk pada kelompok pengeluaran perumahan dan fasilitas rumah tangga. Pengeluaran biaya energi yang dihitung pada kajian ini meliputi pengeluaran minyak tanah, pengeluaran listrik, pengeluaran arang, pengeluaran gas kota, pengeluaran kayu bakar, pengeluaran LPG dan pengeluaran untuk transportasi.
Pada rumah tangga perkotaan minyak tanah kebanyakan digunakan untuk memasak, tetapi pada rumah tangga pedesaan selain digunakan untuk memasak juga untuk penerangan. Pada rumah tangga pedesaan listrik digunakan untuk penerangan, sedangkan pada rumah tangga perkotaan listrik digunakan untuk penerangan dan keperluan lainnya seperti alat-alat hiburan dan pompa air. Rumah tangga perkotaan yang termasuk golongan kaya menggunakan listrik bukan hanya untuk penerangan akan tetapi juga digunakan untuk pendingin, memasak dan pemanas. Arang, gas kota dan LPG digunakan untuk memasak. Sebagian besar rumah tangga di pedesaan menggunakan kayu bakar untuk memasak. Solar, premium dan pelumas digunakan untuk kendaraan.
Seperti diperlihatkan pada Tabel 3.8, rumah tangga miskin di perkotaan mempunyai pengeluaran terbesar pada minyak tanah sebesar 2,39%, sementara itu rumah tangga miskin di pedesaan mempunyai pengeluaran terbesar pada kayu bakar sebesar 3,73%. Rumah tangga miskin sedang dan miskin atas di perkotaan mempunyai pengeluaran terbesar pada minyak tanah dan rumah tangga di pedesaannya terbesar pada arang kayu. Rumah tangga menengah di perkotaan mempunyai lebih banyak peralatan listrik dari pada rumah tangga miskin di atasnya. Hal ini bisa dilihat dari pengeluaran minyak tanah dan listrik yang besarnya hampir sama yaitu 1,90% dan 1,97%. Pengeluaran kayu bakar di rumah tangga menengah pedesaan sebesar 2,18% yang tertinggi dari energi lainnya. Rumah tangga kaya di perkotaan mempunyai pengeluaran tertinggi untuk listrik sebesar 2,07% sedangkan pada rumah tangga di pedesaan adalah pengeluaran kayu bakar sebesar 1,55%.
48 KAJIAN KENAIKAN
HARGA BBM 2002 Tabel 3.8 Pengeluaran Energi Terhadap Pengeluaran Total di Sektor Rumah Tangga
Rata-rata pengeluaran minyak tanah di sektor rumah tangga adalah 1,16% dan pengeluaran minyak tanah pada seluruh golongan rumah tangga di pedesaan di bawah rata-rata. Pengeluaran minyak tanah tertinggi adalah pada rumah tangga miskin di perkotaan sebesar 2,39% diikuti oleh rumah tangga miskin sedang di perkotaan sebesar 2,23% kemudian rumah tangga miskin atas di perkotaan sebesar 2,08%. Pada saat kajian ini disusun, minyak tanah masih merupakan komoditi energi yang disubsidi, jika subsidi minyak tanah dihapuskan maka diperkirakan ketiga kelompok rumah tangga ini akan merasakan dampak langsung terbesar dari penghapusan subsidi minyak tanah.
Pengeluaran listrik pada sektor rumah tangga tergantung dari jumlah, frekuensi pemakaian perangkat listrik dan tarif yang diberlakukan pada masing-masing rumah tangga. Rata-rata pengeluaran listrik di sektor rumah tangga adalah 1,62%. Pengeluaran listrik pada semua golongan rumah tangga di pedesaan di bawah rata-rata. Rumah tangga kaya di perkotaan mempunyai angka pengeluaran listrik tertinggi, yaitu sebesar 2,07% diikuti oleh rumah tangga menengah sebesar 1,96% dan rumah tangga miskin atas sebesar 1,93%.
Pengeluaran arang, gas kota, LPG dan transportasi pada semua golongan rumah tangga di perkotaan dan pedesaan di bawah 1%. Rata-rata pengeluaran kayu bakar adalah 1,59%.
Sumber: Diolah dari Susenas BPS tahun 1999
Kategori : A, Miskin, di bawah batas kemiskinan
B, Miskin sedang, 100% - 125% dari batas kemiskinan C, Miskin atas, 125% - 150% dari batas kemiskinan D, Menengah, 150% - 175% dari batas kemiskinan E, Kaya, di atas 175% dari batas kemiskinan Pdesa*= Pedesaan ; Pkota**= Perkotaan
Transportasi*** = Solar + Premium + Pelumas
Pkota* Pdesa** Pkota* Pdesa** Pkota* Pdesa** Pkota* Pdesa** Pkota* Pdesa** Total
2.14 5.53 2.40 5.67 2.37 5.25 2.13 4.08 10.75 10.02 50.34 4.26 10.99 4.76 11.26 4.72 10.42 4.23 8.11 21.35 19.90 100 Minyak Tanah 2.39 1.17 2.23 1.26 2.08 1.30 1.90 1.35 1.16 1.24 Listrik 1.84 1.13 1.93 1.29 1.93 1.32 1.97 1.35 2.07 1.37 Arang 0.04 0.01 0.02 0.02 0.01 0.02 0.02 0.02 0.01 0.02 Gas Kota 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 0.00 0.01 0.00 0.01 0.01 Kayu Bakar 1.21 3.73 0.77 2.99 0.48 2.60 0.32 2.18 0.10 1.55 LPG 0.00 0.00 0.04 0.01 0.12 0.02 0.18 0.03 0.44 0.12 Transportasi*** 0.06 0.03 0.15 0.08 0.26 0.15 0.32 0.22 0.57 0.39 0.10 0.22 1.62 0.02 0.01 1.59 D E Rata-rata 1.61 Prosentase Pengeluaran Energi terhadap Pengeluaran Total A B C Kategori Daerah
Jumlah Rumah Tangga (Juta) Pangsa (%)
49 KAJIAN KENAIKAN
HARGA BBM 2002 Rumah tangga kaya di pedesaan dan semua golongan rumah tangga di perkotaan
mempunyai pengeluaran kayu bakar di bawah rata-rata. Rumah tangga miskin di pedesaan mempunyai pengeluaran kayu bakar tertinggi sebesar 3,37% diikuti oleh rumah tangga miskin sedang di pedesaan sebesar 1,97% dan rumah tangga miskin atas sebesar 2,60%.