METROPOLITAN CIREBON RAYA
A. Sektor Transportasi
Transportasi merupakan proses pergerakan orang dan/atau barang dari satu lokasi ke lokasi lain. Untuk mengakomodasi pergerakan yang terjadi, maka perlu ditunjang oleh fasilitas dan layanan transportasi yang memadai, seperti fasilitas jalan, layanan angkutan umum, bandar udara, serta fasilitas dan layanan transportasi lainnya. Secara umum, konsep pengembangan sektor transportasi di Metropolitan Cirebon Raya dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagian utama, yaitu sistem transportasi internal dan sistem transportasi eksternal.
1. Sistem Transportasi Internal
Pergerakan internal merupakan pergerakan yang terjadi di dalam lingkup metropolitan Cirebon Raya. Pergerakan tersebut dapat dilihat dari, 1) pergerakan antar pusat-pusat kegiatan; 2) pergerakan antara pusat-pusat kegiatan dengan daerah layanannya; dan 3) pergerakan ke objek-objek pariwisata.
Pergerakan baik antar pusat kegiatan maupun pergerakan antara pusat kegiatan dengan daerah layanannya mempengaruhi bagaimana hirarki jaringan jalan yang sesuai untuk mengakomodasinya, Seperti dapat dilihat dalam struktur ruang, semakin tinggi hirarki struktur ruang suatu pusat kegiatan, maka akan semakin tinggi pula hirarki jaringan prasarana transportasi dan jenis transportasi yang dapat digunakan, karena mempertimbangkan seberapa luas skala pelayanannya. Berdasarkan PP 22/2009 tentang LLAJ, Kriteria Hirarki Angkutan Umum dan KM 35/2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang, kriteria hirarki jaringan angkutan dapat dilihat sebagai berikut:
30
TABEL 11
KRITERIA HIRARKI JARINGAN ANGKUTAN UMUM
No Fungsi Hubungan Kelas Trayek Syarat Jalan Jenis Armada
1 PKN PKN Trayek utama (lintas
batas)
Jalan arteri primer Kereta api
Bus besar
2 PKN PKW Trayek utama (lintas
batas)
Jalan arteri primer
3 PKN PKL Trayek utama (lintas
batas)
Jalan kolektor primer
4 PKW PKW Trayek utama (lintas
batas)
Jalan kolektor primer
5 PKW PKL Trayek utama (lintas
batas)
Jalan kolektor primer
6 PPK PPK Trayek utama Jalan arteri sekunder Kereta api
Bus besar
7 PPK sPPK Trayek utama Jalan arteri sekunder
8 sPPK sPPK Trayek utama Jalan arteri sekunder
9 sPPK PL Trayek feeder Jalan arteri sekunder
10 sPPK PL
(perumahan)
Trayek feeder Jalan lokal sekunder Bus besar/
sedang
11 PL PL Trayek feeder Jalan lokal sekunder
12 PL PL
(perumahan)
Trayek feeder Jalan lokal sekunder
13 PL
(perumahan) PL
(perumahan)
Trayek lingkungan Jalan lokal sekunder Bus sedang/
kecil Sumber: UU no 22/2009 dan KM 35/2003
Tabel di atas menunjukkan bahwa penentuan hirarki jalan dan jenis angkutan umum sangat dipengaruhi oleh fungsi hubungan antara hirarki pusat kegiatan. Berdasarkan rencana tata ruang Kabupaten/Kota di Metropolitan Cirebon Raya, maka konsep hirarki jaringan transportasi di Metropolitan Cirebon Raya tahun 2025 adalah sebagai berikut:
31
GAMBAR 12 RENCANA PUSAT KEGIATAN METROPOLITAN CIREBON RAYA Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011
32
TABEL 12
KONSEP HIRARKI JARINGAN TRANSPORTASI DI KOTA CIREBON
No. Deskripsi lokasi Pusat Kegiatan
Hubungan Pusat Kegiatan
Hirarki Jaringan Transportasi Jaringan
Prasarana Jalan Hirarki Trayek
1. Sebagian Kel.
Kejaksan
Kel. Panjunan PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Pekiringan PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Larangan PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Kecapi PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Karyamulya PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Argasunya PPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
2. Kel. Panjunan
Kel. Pekiringan sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Larangan sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Kecapi sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Karyamulya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Argasunya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
3.
Kel. Pekiringan
Kel. Larangan sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Kecapi sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Karyamulya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Argasunya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Kecapi Kel. Karyamulya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Argasunya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kel. Karyamulya Kel. Argasunya sPPK-sPPK Arteri Sekunder Trayek Utama
4.
Kel. Panjunan
Kel. Kesenden sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Kebon Waru sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Lemahwungkuk sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Kasepuhan sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Pegambiran sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Sukapura sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Kejaksan sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Pekalangan sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Pekalipan sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Jagastru sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Lemahwungkuk sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Pegambiran sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Kesambi sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Drajat sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Larangan dan Kecapi
Kel. Pegambiran sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Kalijaga sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Karyamulya Kel. Sunyaragi sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
Kel. Harjamukti sPPK – PL Arteri Sekunder Trayek Cabang
33
TABEL 13
KONSEP HIRARKI JARINGAN TRANSPORTASI DI KABUPATEN CIREBON
No. Deskripsi lokasi Pusat Kegiatan
Hubungan Pusat Kegiatan
Hirarki Jaringan Transportasi Jaringan
Prasarana Jalan Hirarki Trayek
1. Kec. Ciledug
Kec. Losari PKL - PKLp Lokal Primer Trayek Utama
Kec. Pabedilan PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Pabuaran PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Waled PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Babakan PKL – PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Gebang PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Pasaleman PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
2. Kec.
Lemahabang
Kec. Astanajapura PKL – PKLp Lokal Primer Trayek Utama
Kec. Mundu PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Pangenan PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Sedong PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Susukanlebak PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec.
Karangsembung PKL – PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Karangwareng PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
3. Kec. Sumber
Kec. Weru PKL - PKLp Lokal Primer Trayek Utama
Kec. Beber PKL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Greged PKL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Plered PKL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Tengahtani PKL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Talun PKL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Kedawung PKL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Gunungjati PKL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
4. Kec. Palimanan
Kec. Plumbon PKL - PKLp Lokal Primer Trayek Utama
Kec. Klangenan PKL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Kejaksan Kota Cirebon
Kec. Astanajapura
Kab. Cirebon PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Weru
Kab. Cirebon PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Plumbon
Kab. Cirebon PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Kapetakan
Kab. Cirebon PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Cibingbin
Kab. Kuningan PPK - PKLp Arteri Sekunder Trayek Utama
34
TABEL 14
KONSEP HIRARKI JARINGAN TRANSPORTASI DI KABUPATEN KUNINGAN
No. Deskripsi lokasi Pusat Kegiatan
Hubungan Pusat Kegiatan
Hirarki Jaringan Transportasi Jaringan Prasarana
Jalan Hirarki Trayek
1. Kec.
Pasawahan
Kec. Mandirancan PPL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Cigugur PPL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Dukupuntang
Kab Cirebon PPL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec.
Sindangwangi Kab. Majalengka
PPL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
2 Kec. Cilimus
Kec. Mandirancan PKL - PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Pancalang PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Jalaksana PKL – PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec.
Cigandamekar PKL – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Cigugur PKL - PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
3 Kec. Pancalang
Kec. Mandirancan PPL - PPK Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Cilimus PPL – PKL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Beber PPL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Kec. Talun
Kab. Cirebon PPL - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2013
TABEL 15
KONSEP HIRARKI JARINGAN TRANSPORTASI DI KABUPATEN MAJALENGKA
No. Deskripsi lokasi Pusat Kegiatan
Hubungan Pusat Kegiatan
Hirarki Jaringan Transportasi Jaringan Prasarana
Jalan Hirarki Trayek
1. Kec.
Sumberjaya
Kec. Ligung PPK – PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Leuwimunding PPK – PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Palasan PPK – PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Susukan
Kab. Cirebon PPK – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
2 Kec.
Leuwimunding
Kec. Sindangwangi PPK – PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Palasah PPK – PPK Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Ciwaringin
Kab. Cirebon PPK – PPL Lokal Primer Trayek Cabang
3 Kec.
Sindangwangi
Kec. Rajagaluh PPK – PKL Arteri Sekunder Trayek Utama
Kec. Gempol
Kab. Cirebon PPK - PPL Lokal Primer Trayek Cabang
35
Berdasarkan tabel-tabel di atas, dapat terlihat bahwa konsep jaringan prasarana jalan di Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan sedikit berbeda dengan arahan jaringan prasarana jalan di Kota Cirebon. Jaringan prasarana jalan di Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan lebih didominasi oleh jalan lokal, dimana hal ini disebabkan oleh struktur ruang di Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Majalengka yang memiliki cukup banyak Pusat Kegiatan Lingkungan (PKL).
Adapun untuk moda transportasi publik, berdasarkan karakteristik hirarki jalannya, maka Kota Cirebon sebagian besar dipenuhi dengan moda transportasi trayek utama dan trayek cabang, seperti Kereta Api, Bus Besar, dan Bus Sedang. Untuk itu, untuk koridor kecil hingga medium pada Kota Cirebon, transportasi publik berbasis jalan dengan fasilitas eksklusif dapat melayani sebagai sistem transportasi metropolitan yang efisien, seperti BRT, LRT, Bus, dan Tram. Hal ini juga berlaku pada Kabupaten Cirebon, Majalengka, dan Kuningan.
Selain kebutuhan hirarki jaringan jalan, konsep pengembangan transportasi darat di Metropolitan Cirebon Raya juga perlu mempertimbangkan kebutuhan akan hirarki dan lokasi terminal. Hirarki penentuan terminal dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti hirarki pusat kegiatan, jaringan jalan dan moda transportasi yang melaluinya. Berdasarkan KM 31 tahun 1995 tentang Terminal Transportasi Jalan, maka persyaratan penentuan lokasi terminal adalah sebagai berikut:
36
TABEL 16
PERSYARAKAT PENENTUAN LOKASI TERMINAL
No Terminal Persyaratan Teknis Lokasi
1. Terminal
tipe A
1. Terletak dalam jaringan trayek antar kota antar propinsi dan/atau angkutan
lalu lintas batas negara;
2. Terletak di jalan arteri dengan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas IIIA;
3. Jarak antara dua terminal penumpang tipe A, sekurang-kurangnya 20 km di
Pulau Jawa, 30 km di Pulau Sumatera dan 50 km di pulau lainnya;
4. Luas lahan yang tersedia sekurang-kurangnya 5 ha untuk terminal di Pulau
Jawa dan Sumatera, dan 3 ha di pulau lainnya;
5. Mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan
jarak sekurang-kurangnya 100 m di Pulau Jawa dan 50 m di pulau lainnya, dihitung dari jalan ke pintu keluar atau masuk terminal.
2. Terminal
tipe B
1. Terletak dalam jaringan trayek antar kota dalam propinsi;
2. Terletak di jalan arteri atau kolektor dengan kelas jalan sekurang-kurangnya
kelas IIIB;
3. Jarak antara dua terminal penumpang tipe B atau dengan terminal
penumpang tipe A, sekurang-kurangnya 15 km di Pulau Jawa dan 30 km di Pulau lainnya;
4. Tersedia lahan sekurang-kurangnya 3 ha untuk terminal di Pulau Jawa dan
Sumatera, dan 2 ha untuk terminal di pulau lainnya;
5. Mempunyai akses jalan masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal dengan
jarak sekurang-kurangnya 50 m di Pulau Jawa dan 30 m di pulau lainnya, dihitung dari jalan ke pintu keluar atau masuk terminal.
3. Terminal
tipe C
1. Terletak di dalam wilayah Kabupaten daerah Tingkat II dan dalam jaringan
trayek pedesaan;
2. Terletak di jalan kolektor atau lokal dengan kelas jalan paling tinggi kelas IIIA;
3. Tersedia lahan sesuai dengan permintaan angkutan;
4. Mempunyai akses jalan masuk atau keluar ke dan dari terminal, sesuai
kebutuhan untuk kelancaran lalu lintas di sekitar terminal.
Sumber: KM 31/1995 tentang Terminal Transportasi Jalan, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, 2012
Berdasarkan persyaratan penentuan lokasi terminal di atas, maka kebutuhan lokasi terminal di Metropolitan Cirebon Raya tahun 2025 adalah:
37
TABEL 17
KEBUTUHAN LOKASI TERMINAL METROPOLITAN CIREBON RAYA 2025
No Kabupaten/Kota Kebutuhan Lokasi Terminal
1 Kota Cirebon 1. Terminal Tipe A di Kecamatan Harjamukti
2. Terminal Tipe C di Kecamatan Kesambi
3. Terminal Tipe C di Kecamatan Panjunan
4. Terminal Tipe C di Kecamatan Pekiringan
5. Terminal Tipe C Kecamatan Larangan dan Kecamatan Kecapi
6. Terminal Tipe C di Kecamatan Karyamulya
7. Terminal Tipe C di Kecamatan Argasunya
2 Kabupaten Cirebon 1. Terminal Tipe B di Kecamatan Losari
2. Terminal Tipe B di Kecamatan Arjawinangun
3. Terminal Tipe C di Kecamatan Ciledug
4. Terminal Tipe C di Kecamatan Astanajapura
5. Terminal Tipe C di Kecamatan Babakan
6. Terminal Tipe C di Kecamatan Karangsembung
7. Terminal Tipe C di Kecamatan Kedawung
8. Terminal Tipe C di Kecamatan Klangenan
9. Terminal Tipe C di Kecamatan Gegesik
10. Terminal Wisata di Kecamatan Weru
3 Kabupaten
Majalengka
1. Terminal Tipe A di Kecamatan Kadipaten
2. Terminal Tipe C di Kecamatan Ligung
3. Terminal Tipe C di Kecamatan Sumberjaya
4. Terminal Tipe C di Kecamatan Leuwimunding
5. Terminal Tipe C di Kecamatan Sindangwang
4 Kabupaten
Kuningan
1. Terminal Tipe A Kertawangunan
2. Terminal Tipe C di Kecamatan Mandirancan
Sumber: Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, 2012
Selain jaringan jalan, jaringan KA juga dapat dijadikan sebagai sistem jaringan pergerakan internal di Metropolitan Cirebon Raya. Pergerakan tersebut difasilitasi oleh sistem Kereta Api Komuter Regional. Dengan sistem KA, maka beban pergerakan terhadap jalan akan lebih berkurang, termasuk mampu mengurangi tingkat kepadatan pengguna jalan di Metropolitan Cirebon Raya. Akan tetapi, seperti yang telah diketahui bahwa baik KA komuter maupun KA antar kota berada pada sistem jaringan rel yang sama. Hal ini menjadi masalah ketika terjadi pertemuan antara KA Komuter dengan KA antar kota pada jalur KA single track, dimana KA dengan level lebih tinggi akan didahulukan. Disisi lain, hal yang paling penting pada sistem KA komuter adalah ketepatan waktu. Oleh karena itu, untuk menampung pergerakan penumpang KA di Metropolitan Cirebon Raya, sistem jaringan rel double track perlu untuk difungsikan kembali selain pada penyediaan sistem KA komuter.
38
GAMBAR 13 LOKASI WISATA UNGGULAN DI METROPOLITAN CIREBON RAYA Sumber: RIPPDA, 2005
Sebagai metropolitan dengan konsep pengembangan sektor unggulan berbasis pariwisata, industri, dan kerajinan, kemudahan akses ke objek-objek pariwisata menjadi faktor penting dalam mendorong pengembangan pariwisata. Kemudahan akses tersebut dapat dilihat dari kondisi infrastruktur jalan penghubung objek-objek wisata serta ketersediaan moda angkutan, dan terminal pariwisata sebagai tempat pergantian moda transportasi. Untuk itu, perlu adanya penyediaan terminal pariwisata di beberapa lokasi strategis, sebagai penunjang aksesibilitas ke lokasi wisata unggulan di Metropolitan Cirebon Raya.
2. Sistem Transportasi Eksternal
Selain melihat Metropolitan Cirebon Raya sebagai area yang menampung pergerakan di dalamnya (pergerakan internal), Metropolitan Cirebon Raya juga dapat dilihat sebagai suatu nodal (titik) yang memiliki keterkaitan dengan wilayah yang lebih luas. Keterhubungan tersebut memungkinkan adanya pergerakan eksternal, baik yang masuk, keluar, ataupun melalui Metropolitan Cirebon Raya. Pergerakan eksternal baik menuju maupun melalui Metropolitan Cirebon Raya dapat diakomodasi dengan berbagai alternatif moda transportasi publik, yaitu
39
pesawat terbang, kereta api, kapal laut, maupun bus besar. Untuk itu, perlu adanya penyediaan sarana penunjang transportasi tersebut yaitu Bandar udara, stasiun kereta api, pelabuhan, jalan tol, dan jalan nasional atau provinsi.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah baik pada tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota, terdapat beberapa rencana pembangunan infrastruktur strategis yang memungkinkan adanya pergerakan besar di wilayah Metropolitan Cirebon Raya. Beberapa pembangunan tersebut antara lain:
GAMBAR 14 RENCANA PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI METROPOLITAN CIREBON RAYA
Sumber: Analisis Tim WJP-MDM, 2011
Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati dan Aerocity merupakan potensi dan tantangan bagi pembangunan di Metropolitan Cirebon Raya yang perlu untuk dimanfaatkan. Untuk mengakomodasi berbagai pergerakan yang timbul dari pembangunan Bandar Udara Internasional tersebut, beberapa langkah perlu dilakukan, terutama berkaitan dengan aksesibilitas antara BIJB Kertajati dan Aerocity dengan Metropolitan Cirebon Raya.
Beberapa pembangunan yang dilakukan dalam upaya peningkatan aksesibilitas eksternal baik dari sisi barat maupun dari sisi timur Metropolitan Cirebon Raya
40
serta mendukung besarnya potensi pergerakan yang timbul pada masing-masing Kabupaten/Kota, antara lain:
TABEL 18
PROGRAM PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR JALAN DAN PERHUBUNGAN DI METROPOLITAN CIREBON
Program Lokasi Sumber Dana Jangka
Waktu Pembangunan Jalan Tol Jalan Tol Cisumdawu APBD Kab/Kota, APBD
Provinsi, APBN, Swasta 2009-2023 Jalan Tol Cikopo/Cikampek-Palimanan APBN, Swasta 2009-2023 Pembangunan/Pening-katan Jalur Jalan Poros
Cirebon-Cikijing-Ciamis-Pangandaran
APBD Provinsi, APBN 2009-2018 Revitalisasi Jalur KA
Rancaekek-Jatinangor- Tanjugsari-Kertajati-Kadipaten-Cirebon
APBN, Swasta 2009-2028
Pembangunan Terminal Tipe A
Perkotaan Cirebon APBD Kab/Kota, APBD Provinsi, APBN 2009-2023 Optimalisasi Fungsi Bandara Penggung (Cakrabuana) Kota Cirebon
APBD Provinsi, APBN 2011-2028 Peningkatan Kapasitas
dan Fungsi Pelabuhan
Pelabuhan Arjuna (Kota Cirebon)
APBD Provinsi, APBN 2012-2029 Pembangunan Sistem
Angkutan Umum Massal
Perkotaan Cirebon APBD Kab/Kota, APBD Provinsi, APBN, Swasta
2010-2029
41
TABEL 19
ARAH KEBIJAKAN TRANSPORTASI KA 2010-2014
Arah Kebijakan Target
Rehabilitasi jalur KA Jalur Cikampek-Cirebon, Jalur Semarang-Cirebon
Peningkatan jalur KA, reaktivasi lintas mati dan peningkatan spoor emplasemen
Jalur Cirebon-Tegal, Jalur Semarang-Cirebon, Jalur Cirebon-Kroya, Jalur Cirebon-Kadipaten Pembangunan jalur KA
baru/shorcut/parsial double track/double track/double double track
Jalur Cirebon-Brebes, Jalur Cirebon-Kroya
Peningkatan/modernisasi persinyalan perkeretaapian
Peningkatan persinyalan mekanik menjadi elektrik pada Stasiun Cirebon
Peningkatan saluran blok dengan kabel FO pada jalur Tegal-Cirebon
Modifikasi sistem CTC/CTS pada Stasiun Cirebon
Pembangunan/rehabilitasi bangunan operasional perkeretaapian
Perluasan stock yard di Pekalongan dan Cirebon/Jatibarang
Sumber: Renstra Kementerian Perhubungan 2010-2014
GAMBAR 15 USULAN PENGEMBANGAN JALAN DI METROPOLITAN CIREBON RAYA Sumber: Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, 2013
Selain menampung pergerakan manusia, pergerakan barang juga perlu diakomodasi oleh sistem transportasi di Metropolitan Cirebon Raya. Adanya pergerakan barang yang baik memungkinkan distribusi terutama terhadap
produk-42
produk ekonomi seperti produk pertanian, industri, kerajinan, dan sebagainya dapat berjalan dengan lancar.
Proses distribusi barang dapat dilakukan baik menggunakan moda transportasi darat, laut, maupun udara. Kemudahan aksesibilitas dari pusat produksi atau pusat bahan baku ke pusat distribusi dan konsumsi menjadi faktor yang penting dalam sistem pengangkutan barang, termasuk di dalamnya aksesibilitas antara pusat produksi menuju stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara sebagai pintu gerbang distribusi barang ke lokasi yang lebih luas.
Secara umum, perencanaan pengembangan sistem angkutan barang, terbagi menjadi 3, yaitu:
a. Jangka Pendek: Angkutan barang dengan ukuran tertentu tidak boleh masuk ke jalan perkotaan dan ditetapkannya rute angkutan barang; pembatasan loading dan unloading di perkotaan, baik tempat maupun waktu
b. Jangka Menengah: Dibangun terminal angkutan barang/ dry port/ inland port; tersedianya pergudangan yang melengkapi sistem angkutan barang
c. Jangka Panjang: Lebih terintegrasinya sistem angkutan barang antar moda (jalan raya, kereta api, dan laut)
Berdasarkan ketiga hal di atas, beberapa hal yang direncakan dalam mendukung sistem angkutan barang di Metropolitan Cirebon berdasarkan jangka waktu kebutuhan, antara lain:
43
TABEL 20
PERENCANAAN SISTEM TRANSPORTASI BARANG DI METROPOLITAN CIREBON RAYA
No Jangka Waktu Perencanaan Transportasi Barang
1 Jangka Pendek - Pembangunan Jalur Lingkar di Kota Cirebon - Pembangunan Jalur Lingkar di Kabupaten Cirebon 2 Jangka Menengah - Pembangunan pelabuhan barang di Kecamatan
Cantigi, Kabupaten Indramayu
- Pembangunan/ penataan pelabuhan perikanan di Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu
- Peningkatan terminal truk di Kecamatan Gempol - Peningkatan beberapa fungsi stasiun di Kota Cirebon,
Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Indramayu
- Peningkatan kapasitas dan fungsi pelabuhan Arjuna (Kota Cirebon)
- Pembangunan Bandaran Internasional Jawa Barat Kertajati dan Kertajati Aerocity
3 Jangka Panjang Integrasi sistem angkutan barang antar moda berupa perbaikan dan pembangunan jalan, peningkatan status jalan penghubung menuju bandara, pelabuhan, dan stasiun.
Sumber: RTRW Jawa Barat, Hasil Analisis Tim WJP-MDM, 2013