BAB III SEMANGAT PELAYANAN PARA GURU DIJIWA
B. Semangat Pelayanan Para Guru YEMS Dijiwai oleh
Dalam dunia pendidikan, guru merupakan figur yang memegang peranan penting karena setiap anak didik membutuhkan tuntunan dan bimbingan dari seorang guru untuk berkembang menuju pribadi yang utuh. Hal ini merupakan sesuatu yang sudah menjadi anggapan umum dari masyarakat luas karena “lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru” (Djamarah, 2010:1). Sekolah merupakan rumah kedua bagi para guru karena sebagian besar waktu guru berada di sekolah selebihnya berada di rumah dan masyarakat. Dikatakan rumah kedua karena dari sekian banyak waktu, sebagian besar waktunya dihabiskan di sekolah untuk mendidik, mendampingi dan membimbing setiap anak didiknya dalam mengembangkan diri menjadi pribadi yang berbakti kepada bangsa, negara dan agama.
Dalam dunia pendidikan, guru merupakan cerminan pribadi yang mulia (Djamarah, 2010: 3). Guru menjadi cerminan pribadi yang mulia bukan karena
potensi atau prestasi yang dimiliki tetapi guru dikatakan sebagai pribadi yang mulia karena seluruh gerak hidupnya yang mencerminkan sikap dan ketulusan hati dalam tindakan dan perbuatannya setiap hari baik dalam lembaga pendidikan maupun di tengah-tengah masyarakat. Cerminan pribadi yang mulia turut dipengaruhi oleh pandangan dan pemahaman seseorang tentang profesinya sebagai seorang guru.
Djamarah (2010:3) mengatakan bahwa “figur guru yang menjadi cerminan yang mulia adalah sosok guru yang dengan rela hati menyisihkan waktunya demi kepentingan anak didiknya”. Djamarah, menegaskan bahwa sebagai cerminan yang mulia, guru dengan suka rela hadir untuk membimbing, mendidik, menasihati, membantu kesulitan yang sedang dihadapi dalam belajarnya dan bersedia untuk mendengarkan keluh-kesah anak didiknya. Guru yang mulia selalu menjalin relasi dan kerja sama yang baik dengan anak didiknya baik dalam interaksi edukatif di kelas maupun di luar jam pelajaran di kelas bukan sebaliknya membangun jembatan antara guru dan anak didiknya.
Mengemban profesi sebagai guru berdasarkan tuntutan pekerjaan merupakan suatu perbuatan yang sangat mudah. Akan tetapi menjadi guru berdasarkan panggilan hati nurani adalah sesuatu yang tidak mudah karena kepadanya dituntut suatu pengabdian yang lebih kepada anak didiknya daripada karena tuntutan pekerjaan atau material oriented (Djamarah, 2010:2). Seorang guru yang melaksanakan tugas keguruannya berdasarkan panggilan hati nurani akan lebih dekat dengan anak didiknya dan selalu berusaha memikirkan yang terbaik bagi anak
didiknya sekalipun harus berkorban. Yang paling utama dari pelayanan seorang guru karena kesadaran bahwa profesinya sebagai guru merupakan suatu panggilan dari hati nurani adalah memberikan hatinya kepada anak didiknya dan senantiasa menghayati panggilan profesi keguruannya di zaman ini sebagai tugas melanjutkan keguruan Tuhan Yesus Kristus sang Guru sejati (bdk. Sufiyanta, 2014: 93).
Jika panggilan sebagai seorang guru merupakan partisipasi dalam melanjutkan tugas keguruan Yesus Kristus, jelas setiap guru dituntut untuk belajar dari Yesus, bagaimana cara Yesus mengajar sehingga apa yang diajarkan oleh Yesus sungguh menyentuh hati dan kebutuhan manusia. Sebagai perpanjangan tangan dari Yesus untuk melaksanakan tugas pengajaran-Nya, para guru tidak sekedar mengajar dan mendidik. Akan tetapi para guru harus juga melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus dimana Yesus tidak hanya mengajar dengan kata-kata belaka tetapi juga menjadi teladan bagi para murid-Nya sebagaimana yang diceritakan dalam kitab suci perjanjian baru secara khusus dalam injil. Yesus mengajar dengan kata-kata tetapi juga melakukan apa yang diajarkan melalui tindakan-Nya sehingga apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Yesus sungguh-sungguh memikat hati para murid-Nya.
Ketidakhadiran seorang anak didik di dalam kelas, menjadi pergulatan bagi gurunya yang memunculkan berbagaimacam pertanyaan tentang sang anak didik “mengapa anak didiknya tidak hadir? Apa yang terjadi dengan anak didiknya? Kesulitan apa yang dihadapinya? dan lain sebagainya. Hal ini merupakan gambaran seorang guru yang bekerja berdasarkan panggilan hati nuraninya dalam mendidik
dan membimbing setiap pribadi (para anak didik) untuk bertumbuh dan berkembang sebagaimana yang telah diteladankan oleh Yesus sang Guru sejati. Kehadiran guru di sekolah yang dipengaruhi oleh pandangan bahwa profesi sebagai seorang guru merupakan panggilan hati, akan menebarkan warna yang berbeda yang menjadi semangat bagi seorang guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk mendidik setiap pribadi yang dipercayakan kepadanya dalam sebuah lembaga pendidikan.
Fidelis Waruhu dalam tulisannya mengatakan bahwa “mendidik dan mengajar dengan hati hanya mungkin dilakukan oleh guru yang sudah ‘selesai’ dengan masalahnya sendiri”. Jelas bahwa guru mempunya masalah dan kesulitan tersendiri, akan tetapi setiap masalah dan kesulitan itu bisa menjadi pembelajaran bagi seorang guru dalam menjalankan tugas dan profesinya asal saja guru mau berusaha untuk mengolah diri sehingga apa yang dialaminya menghantar pada suatu pemberian diri yang total dalam mendidik dan membimbing anak didiknya menuju perkembangan pribadi yang utuh.
Bertolak dari apa yang diuraikan di atas, para guru YEMS berusaha untuk selalu melakukan tugas dan perutusannya sesuai dengan panggilan hati nurani mereka dalam mendidik dan membimbing setiap anak didik yang datang sebagai anugerah terindah dari Tuhan dalam semangat St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung dari lembaga pendidikan yang bernaung di bawah YEMS sekaligus sebagai bapa spiritualitas para suster Kongregasi FSE yang mendirikan dan
mengelola YEMS ini. Melaksanakan tugas dan perutusan sesuai dengan panggilan hati nurani dalam semangat St. Fransiskus dari Asisi berarti tidak hanya sekedar nama atau aturan tetapi setiap guru dituntut untuk sungguh mendalami nilai-nilai yang ada dalam spiritualitas St. Fransiskus dari Asisi sehingga semangat St. Fransiskus Asisi sungguh hidup dalam diri setiap guru dalam melaksanakan tugas dan perutusannya setiap hari.
Dalam menjalankan tugas dan pelayanannya setiap hari sebagai seorang guru yang dijiwai semangat Fransisikan, para guru harus tetap menyadari nilai-nilai yang mendasari spiritualitas Fransiskan. Sebagaimana St. Fransiskus Asisi yang menganggap setiap saudara sebagai anugerah dari Allah (Konst: art. 77, bdk. Was. Art. 14), demikian juga para guru di YEMS harus memandang setiap anak didik yang masuk dalam lembaga ini sebagai anugerah terindah yang harus diterima untuk dibantu, dididik dan dibimbing menuju perkembangan diri yang utuh.
Sejalan dengan pandangan Djamarah yang mengatakan bahwa sebagai seorang guru yang melaksanakan tugas dan perutusannya sesuai dengan panggilan hati nurani akan selalu mengutamakan kepentingan anak didik bukan kepentingannya sendiri. Para guru yang berkarya di YEMS yang disemangati dan dijiwai oleh spiritualitas Fransiskan berusaha untuk senantiasa menghayati nilai-nilai spiritualitas Fransiskan yang hadir untuk melayani dengan setulus hati, hal ini tampak dalam prinsip hidup yang selalu ditekankan kepada para guru yaitu: “money is not the first but service is the first”. Hadir untuk melayani sesama, itulah semangat hidup yang
dimiliki oleh St. Fransiskus dari Asisi sehingga setiap orang yang menghayati spiritualitas St. Fransiskus dari Asisi harus sungguh memahami dan menyadari apa yang menjadi semangat hidup sang Santo sehingga dalam menjalankan tugas dan perutusannya setiap hari dapat menampakkan nilai-nilai spiritualitas St. Fransiskus dari Asisi sebagai pelindung sekolah yang ada di bawah naungan YEMS.
Bagi St. Fransiskus dari Asisi, persaudaraan merupakan inti dan tempat yang tepat dari pendidikan. St. Fransisikus Asisi memberi inspirasi bahwa bentuk komunitas yang paling tepat untuk mengembangkan hidup manusia adalah persaudaraan. Dalam inspirasi St. Fransiskus dari Asisi, persaudaraan mengandung makna universal. Persaudaraan universal artinya persaudaraan semesta yakni persaudaraan yang bukan hanya antar manusia tetapi persaudaraan yang terjadi antar semua makhluk ciptaan (bdk. Kidung Saudara Matahari; FAK: 324). Semua ciptaan di dunia ini adalah saudara karena sama-sama ciptaan Tuhan. Masing-masing makhluk termasuk manusia saling solider dan peduli merawat kelestarian hidup satu sama lain sehingga semua dapat merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan bersama.
Belajar dari semangat St. Fransiskus Asisi tentang persaudaraan, menghantar setiap pribadi (para pencinta Fransiskus) untuk menghayati komunitas persaudaraan yang dibangun oleh Yesus sebagai sang Guru Illahi (Mat. 23: 11). Persaudaraan yang dibangun oleh Yesus sebagai Guru dengan keduabelas rasul-Nya mengajarkan kepada setiap Fransiskan bahwa dalam persaudaraan ini tidak ada yang disebut sebagai atasan dan bawahan tetapi semuanya menjadi hamba karena berasal dari
pokok yang satu dan sama. Kesamaan yang dimaksud tidak terletak pada kesamaan hak dan kedudukan tetapi dalam kesamaan perhambaan dan pelayanan (Groenen, 2012:162). Saudara-saudari ini justru ingin saling melayani dan mentaati satu sama lain yang didasari dalam kasih Kristus yang tersalib.
Melalui uraian di atas menegaskan kepada para guru yang berkarya di YEMS bahwa sebagai seorang guru yang hadir dan berkarya sesuai dengan panggilan hati nurani yang dijiwai oleh semangat St. Fransiskus dari Asisi dituntut untuk melihat kehadiran seorang anak didik pertama-tama bukan sebagai objek yang tidak tahu apa-apa tetapi sebagai suatu anugerah terindah dari Allah yang harus diterima untuk dididik dan dibantu dalam perkembangan menuju masa depan yang cerah. Dalam persaudaraan Fransiskan, semua menjadi sama rendah, sama tidak bernilai dan tidak berharga (Groenen, 2012:162).
Menjadi saudara bagi yang lain berarti peduli dan mau melayani kebutuhan saudara/saudarinya (anak didiknya). Dalam hal ini kepedulian yang dituntut dari lembaga ini nampak dalam prinsip subsidiaritas dan solidaritas. Hal yang mendasari prinsip ini adalah sikap saling percaya bahwa setiap saudara memiliki talenta dan kemampuan masing-masing sehingga dari perbedaan yang ada, saling melengkapi dan menyempurnakan satu dengan yang lainnya. Kemampuan atau talenta yang dimiliki oleh saudara lain tidak akan berkembang apabila tidak diberi kepercayaan dan kesempatan untuk dikembangkan dalam persaudaraan dalam hal ini di sekolah.
Persaudaraan juga dimaknai sebagai kesatuan dan kebersamaan dengan makhluk hidup yang saling berpengaruh sehingga kepunahan salah satu unsur berarti akan berdampak bagi keseluruhannya. Di sini jelas bahwa apapun profesi dan status kita, semuanya sama di mata Allah sehingga dalam pendidikan Fransisikan ditekankan sikap kerendahan hati yang mendalam untuk melaksanakan tugas dan perutusannya setiap hari. Maka jelas bagi seorang guru bahwa setiap anak didik yang hadir di sekolah dalam lembaga pendidikan yang bernaung di YEMS merupakan saudara sehingga apapun situasinya, bagaimanapun latar belakangnya dan keadaannya harus diterima dengan keterbukaan hati untuk dibimbing dan dibantu.
Selain persaudaraan, salah satu semangat Fransiskan yang menjiwai para guru yakni semangat kedinaan. Kedinaan bukanlah suatu konsep yang statis melainkan suatu sikap dinamis yang bersatu dalam cinta dan dalam kerendahan hati yang mendalam untuk selalu siap-sedia dalam melayani sesama (Iriarte, 1995: 113). Kerendahan hati yang suci bukanlah sikap perendahan dan sikap dina yang dibuat- buat. Kerendahan hati berazaskan kebenaran, yang memampukannya untuk bisa membedakan apa yang baik dan apa yang tidak baik.
Di sini jelas bahwa guru dalam pelayanannya berarti bersedia untuk memberi kesempatan dan kepercayaan bagi setiap anak didiknya untuk mengerjakan tugasnya sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki oleh setiap anak didiknya. Bakat dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anak didik berbeda-beda ada yang
berbakat dalam bidang eksakta, ada yang berbakat dalam bidang bahasa dll sehingga kehadiran anak didik bukan sebagai objek pendidikan tetapi subjek dari pendidikan itu maka pendidikan perlu memperhatikan kemampuan dari masing-masing anak didiknya (bdk. Suparno dkk, 2002: 28-29). Guru harus yakin dengan keberadaan anak didiknya sebagai subjek yang memiliki talenta dan kemampuan yang kuat sehingga guru hadir sebagai fasilitator untuk membantu setiap anak didiknya dalam menyelesaikan tugasnya.
Sebagai seorang guru yang menghayati spiritualitas Fransiskan dalam menjalankan tugas dan perutusannya sesuai dengan panggilan hati nuraninya untuk melayani anak didiknya perlu memperhatikan sepuluh nilai pedagogi/prinsip persekolahan Fransiskan (bdk. pedoman pendidikan Fransiskan) yang semestinya senantiasa dijalankan yaitu:
1. Sacrum ( Kekudusan )
Kudus berarti menjadi milik Allah. Menjalankan pendidikan berbasis nilai kekudusan berarti menyadari bahwa dalam segala kegiatan pendidikan semua harus dilihat kaitannya dengan kehendak Tuhan. Misalnya pendidikan kita hendaknya bertujuan sesuai dengan kehendak Tuhan yakni supaya hasil pendidikan dibaktikan pada kesejahteraan semua orang bukan hanya untuk kepentingan dan kesenangan pribadi (kekayaan sendiri, popularitas pribadi) karena kehendak Tuhan adalah agar semua orang selamat. Salah satu cara menanamkan nilai kekudusan dalam kegiatan pendidikan misalnya dengan mengawali, mengiringi dan mengakhiri kegiatan belajar
mengajar dengan doa bersama sehingga semua disadarkan bahwa saya belajar supaya dapat semakin memuliakan Tuhan yakni dengan cara belajar serius supaya dapat sungguh menguasai bahan pelajaran sehingga kelak dapat memanfaatkan kepandaian yang diperolehnya untuk kesejahteraan banyak orang.
2. Bonum ( Kebaikan )
Kitab Kejadian menyadarkan kita bahwa semua diciptakan Allah dengan sungguh amat baik. Yang membuat baik adalah karena semua diciptakan dalam martabat yang luhur. Keluhuran ini terjadi karena dalam semua ciptaan terpatri keilahian Allah penciptanya. Dalam diri manusia terpatri gambar dan rupa Allah, dalam diri ciptaan lain yang hidup terpatri jejak Allah (Vestigia Dei) serta dalam ciptaan tidak hidup yang lain terpatri bayangan Allah (Umbra Dei). Menjunjung tinggi nilai kebaikan berarti menghargai martabat seluruh ciptaan baik martabatnya sendiri, martabat sesama, dan martabat semua makhluk lain di bumi ini yang terwujud dengan sikap adil kepada semua: memberikan semua sesuai dengan haknya. Jangan sampai orang lain kita korbankan demi upaya kita dalam meraih hak kita atau juga sebaliknya diri kita diabaikan dan dirugikan karena pemenuhan kebutuhan orang lain. Maka pendidikan berbasis nilai kebaikan berarti seluruh upaya dan kegiatan pendidikan harus sedapat mungkin semakin menghormati, mengokohkan, dan mengembangkan martabat manusia dan ciptaan lainnya.
3. Verum (Kebenaran)
Benar dalam Bahasa Yunani adalah ‘Aletheia’ yang berarti adanya (realitanya) dikenal, dipahami. Maka berbicara soal kebenaran berarti berbicara tentang kesesuaiannya dengan kenyataan yang ada. Belajar dalam hal ini berarti usaha untuk memahami realitas yang ada seutuhnya dalam kejernihan dan kejujuran sehingga anak didik tidak jatuh pada pesimisme atau juga optimisme yang berlebihan namun bisa memahami semuanya secara proporsional. Oleh karena itu, belajar dalam semangat kebenaran berarti sedapat mungkin mengajak seluruh civitas pendidikan untuk tidak hanya memahami segalanya dalam teorinya yang muluk- muluk tetapi dengan pedagogi eksperiensial (learning by doing) mengalami kenyataan dalam segala kekayaan dimensi dan pemaknaannya. Fransiskus sendiri adalah pribadi yang amat menjunjung tinggi pembelajaran eksperiensial seperti terungkap dalam peristiwa Greccio1.
4. Iustum ( Keadilan )
Adil berarti memberikan hak untuk tumbuh dan berkembang sampai mencapai kesempurnaan sehingga seiring dengan perkembangannya tersebut dapat terlibat dalam kehidupan masyarakat melalui pelaksanaan kewajiban-kewajibannya
1 Dalam Buku Riwayat Hidup St.Fransiskus karangan Celano dikisahkan bahwa menjelang Natal
Fransiskus mengutarakan kei gi a ya u tuk de ga ata kepalaku se diri elihat da merasakan bagaimana Yesus Kristus, Allah Putra yang luhur lahir di dunia dalam keadaannya yang
secara tulus dan penuh kesediaan berdasarkan kesadaran pribadi bukan karena paksaan. Maka pendidikan berbasis nilai keadilan harus benar-benar memberi ruang tumbuh bagi semua yang terlibat di dalam pendidikan itu sehingga masing-masing juga dapat melaksanakan kewajibannya dengan setia dan bakti.
5. Honestum ( Kejujuran )
Kejujuran selain berarti kesesuaian dengan kenyataan dan realita tanpa dimanipulasi demi kepentingan dan keuntungan sendiri atau orang/golongan tertentu juga bermakna tulus atau lurus hati yakni sikap kita terhadap orang lain di mana kita selalu mengharapkan dan mengupayakan agar sesama kita senantiasa dalam keadaan yang baik dan sejahtera. Pendidikan berbasis kejujuran mengajak kita untuk membangun dalam diri semua yang terlibat dalam karya pendidikan untuk mempunyai respek pada orang lain dan berusaha untuk membuat orang lain selamat dan sejahtera tentu tanpa melupakan kebutuhan pribadi sehingga tertutup kemungkinan untuk memanipulasi informasi demi keuntungan pribadi.
6. Humanum ( Kemanusiaan )
Tujuan pendidikan menurut Driyarkara adalah memanusiakan manusia artinya membuat manusia menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang punya jiwa, raga, keinginan dan harapan sehingga dapat memperlakukan yang lain juga sebagai manusia dengan mengakui dan menghargainya sebagai manusia yakni
makhluk yang sama dengan dirinya mempunyai keinginan, harapan, pendapat dan sebagainya.
7. Pulchrum ( Keindahan )
Seni mengasah dan memperlembut jiwa. Seni membuka ruang ekspresi anak. Oleh karena itu perkembangan batin anak amat membutuhkan seni. Melalui pendidikan dan ekspresi seni manusia diasah kepekaannya akan keindahan, keharmonisan, keselarasan yang dalam kehidupan sehari-hari memungkinkan kita untuk juga peka dan peduli akan keindahan dan keluhuran Tuhan dalam setiap ciptaan-Nya. Seni memungkinkan orang untuk merasakan damai dalam hidupnya.
8. Unum ( Kesatuan, Keutuhan )
“Ut Omnes Unum Sint” adalah ungkapan dari Alkitab dalam bahasa Latin. Kalimat yang sama dalam Alkitab bahasa Indonesia disebut :” Supaya mereka menjadi satu”. Kalimat ini diangkat dari Injil Yohanes 17 : 21. Unum (persatuan, kesatuan) adalah kata yang sering digunakan dalam Alkitab. Pemikiran yang melatar-belakangi istilah ini adalah: adanya kesatuan umat Allah yang dalam Kitab Suci Perjanjian Lama berasal dari satu Bapa. Persekutuan ini digambarkan oleh pemazmur sebagai persekutuan yang diwarnai dengan kehidupan bersama
yang rukun dan damai (Mzm13:7).
Dalam Perjanjian Baru kesatuan itu lebih dimengerti sebagai keadaan akibat dirobohkannya dinding pemisah antara orang Yahudi dengan orang kafir;
antara orang Yunani dengan orang bukan Yunani; antara tuan dan hamba; antara laki-laki dan perempuan. Semua menjadi satu di dalam Yesus Kristus (Ef. 2:12, Gal. 3:26-29). Yesus Kristus adalah satu-satunya dasar dari kesatuan umat-Nya yang beragama. Orang percaya adalah saudara-saudara dari Yesus Kristus. Dan saudara satu terhadap yang lain dalam satu keluarga Allah. Mereka mempunyai satu Allah dan Bapa dari semua (Gal. 4:6). Mereka dituntun oleh Roh yang satu menjadi tempat kediaman Allah di dalam Roh (Gal. 2:22).
Injil Yohanes menyaksikan betapa dalamnya keinginan Yesus agar murid- murid-Nya menjadi satu. Keinginan Yesus ini disampaikan melalui doa permohonan-Nya kepada Bapa. Isi doa Yesus sangat penting, sebab menyangkut eksistensi para murid di tengah dunia, termasuk eksistensi orang percaya. ”Supaya semua menjadi satu” adalah doa Yesus yang tetap aktual hingga kini. Dengan menjadi ”satu”, maka dunia percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia. Kita dipanggil untuk ”menjadi satu” sama seperti Bapa dan Anak adalah satu. Hendaklah persatuan dan kesatuan ini senantiasa diwujudkan dalam pelayanan kita di tengah- tengah Gereja dan masyarakat.
9. Clarum (Cemerlang, Cahaya, Kecerdasan )
Pedagogi fransiskan berusaha mengarahkan dan mengembangkan kepribadian anak didik holistik dan bermutu dalam aspek kemanusiaan, iman, moral dan sosial. Dalam proses pendidikan itulah anak didik semakin memperoleh wawasan dan khasanah pengetahuan yang luas dan memadai serta kritis (bijaksana)
demi mencerdaskan dirinya dan sesama. Di sisi lain pedagogi fransiskan ini turut mendukung visi dan misi negara RI seperti yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4:
“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,...”
Nilai pedagogi Fransiskan yang integral inilah yang menjadi cahaya (terang) baru dalam membangun dan mencerdaskan kehidupan Gereja, bangsa, dan dunia yang bersatu dan damai.
10. Pacem : ( Damai )
Profil lulusan yang dicita-citakan oleh pendidikan YEMS adalah pribadi- pribadi yang setelah mengalami pendidikan di lembaga pendidikan yang bernaung di YEMS ini berkembang ke arah gambaran manusia ideal yakni manusia yang didukung oleh kematangan/kedewasaan iman dan pribadinya serta perkembangan seluruh talentanya secara optimal, utuh dan seimbang dan tergerak hatinya oleh Roh Kudus dalam kasih untuk solider dengan sesamanya teristimewa yang miskin dan tersingkir, melibatkan diri secara proaktif dan setia sebagai wujud baktinya kepada Allah dalam upaya dan perjuangan untuk mewujudkan masyarakat yang damai dan sejahtera yang semakin layak dihuni oleh siapapun manusia apapun agama, suku, adat dan kepercayaannya demi tercipta kehidupan yang semakin harmonis dan saling
membahagiakan satu sama lain. Pedagogi fransiskan menghantar anak didik untuk menginternalisasikan nilai kedamaian kepada semua orang. Fransiskus Asisi telah memberi inspirasi kepada para pengikutnya yaitu selalu membawa damai (shalom) kepada semua orang bahkan seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Pax et Bonum (Damai dan Kebaikan).
C. Penerapan Paradigma Pedagogi Fransiskan Bagi Para Guru Dalam