• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semantik

Dalam dokumen Rangkuman tata bahasa Indonesia (Halaman 32-41)

Bagian tata bahasa atau linguistik yang mempelajari arti kata ialah semantik. Sedangkan arti atau makna ialah hubungan abstrak antara kata sebagai simbol dengan objek atau konsep yang ditunjuk atau diwakili.

A. Jenis makna

Ada beberapa arti dan hubungan arti kata. Di antaranya ialah:

1. Arti leksikal

Arti kata (leksem) sebagai satuan yang bebas. Arti ini umumnya dianggap sejajar dengan arti denotatif. Biasa pula dianggap sebagai arti menurut kamus (leksikon).

2. Arti gramatikal

Arti yang timbul setelah suatu bentuk ujaran mengalami proses ketatabahasaan. Arti ini juga disebut anti struktural. Misainya prefiks pe- lazim dianggap mempunyai arti gramatikal ‘alat untuk melakukan sesuatu, atau pelaku perbuatan tertentu’.

3. Arti denotatif

Disebut juga arti harfiah, arti lugas, arti sebenarnya, arti tersurat, yaitu arti yang didasarkan penunjukan secara langsung pada objek atau konsep yang dimaksud. Kata bunga dalam kalimat berikut mengandung arti denotatif .

 Bunga melati harum baunya.

 Untuk ulang tahunnya, saya mengirimi bunga waktu itu.

4. Arti konotatif

Sama dengan arti kias atau arti tersirat, yaitu arti yang didasarkan pada penunjukkan secara tidak langsung. Kata bunga dalam kalimat berikut digunakan menurut arti konotatifnya.

 Yuniar adalah bunga di kelas itu.

 Generasi muda adalah bunga bangsa yang harus dibina.

5. Arti idomatik

Arti yang timbul karena dua kata bersenyawa membentuk satu kesatuan dengan makna baru, dan makna barunya itu tidak dapat ditelusuri dan unsur pembentuknya. Contoh:

 Sehubungan dengan kasus itu, dia akan dihadapkan ke meja hijau.  Jalan itu terlalu banyak polisi tidurnya.

Meja hijau = pengadilan, dan polisi tidur = tanggul penghambat, agar pengendara mengurangi kecepatannya.

B. Hubungan makna

Sebuah kata mempunyai hubungan arti dengan kata yang lain. Ada kata yang artinya sama dengan kata yang lain, artinya berlawanan dengan kata yang lain, atau artinya dicakup oleh kata yang lain. Berikut ini adalah macam-macam hubungan arti.

1. Sinonim

Dua kata atau lebih yang mempunyai arti sama atau hampir sama. Misalnya:  kitab bersinonim dengan buku,

 orang dengan manusia,  gadungan dengan palsu,  evakuasi dengan ungsi,  lestari dengan abadi,  dampak dengan pengaruh,  kendala dengan hambatan,  efektif dengan hasil guna,  efisien dengan daya guna, serta  devaluasi dengan penurunan nilai.

Sinonim yang hampir sama menyebabkan nuansa makna (perbedaan yang sangat halus). Misalnya: bulat-bundar, menyongsong-menyambut.

Sinonim yang hampir sama juga menyebabkan nilai rasa yang berbeda. Misalnya: karyawan, pegawai, buruh.

2. Antonim

Dua kata atau lebih yang artinya berlawanan. Misalnya: wanita dengan lelaki,

hidup dengan mati, lebar dengan sempit, serta efisien dengan boros.

3. Hiponim

Kata-kata yang artinya dicakup oleh arti kata yang lain.

Misalnya: arti kata melati, mawar, famboyan, anggrek dicakup oleh arti kata bunga. Di sini, melati adalah hiponim dari bunga, sedang bunga adalah hiperonim dari kata melati.

Jadi hiperonim adalah kata yang mencakup kata yang lain. Kohiponim adalah hubungan yang sejajar, misalnya apel dengan anggur, kucing dengan harimau, merah dengan putih.

4. Polisemi

Kata-kata yang artinya berkaitan. Misalnya: kaki orang, kaki gunung, kaki langit, kaki bukit.

C. Hubungan bentuk

Dalam realitas bahasa dapat ditemukan kesamaan bentuk antara kata yang satu dengan kata yang lain, Kesamaan itu dapat berupa kesamaan tulisan, kesamaan ucapan, atau kesamaan ucapan dan tulisan sekaligus.

1. Homonim

Dua kata atau lebih yang tulisan dan bunyinya sama sedang artinya berbeda. Misalnya bisa ‘dapat’, bisa ‘racun’, beruang yang berarti ‘mempunyai uang’, ‘mempunyai ruang’, dan yang mengandung makna ‘nama binatang’, serta kopi yang berarti ‘sejenis minuman’ dan yang bermakna ‘salinan’.

2. Homofon

Sejenis homonim, tetapi hanya bunyinya saja yang sama, sedang tulisan dan artinya berbeda. Contoh: massa dengan masa, tang dengan tank, bang dengan bank, sangsi dengan sanksi, keranjang dengan ke ranjang, dll. Seperti kita lihat, homofon yang sama hanya bunyinya.

3. Homograf

Sejenis homonim, tetapi yang sama hanya tulisannya, sedang bunyi dan arti berbeda. Misalnya, serang yang berarti ‘menyerbu’ dan serang yang nama sebuah kota; teras yang bermakna ‘bagian depan rumah’ dan teras yang berarti inti.

D. Perubahan makna

Arti suatu kata dapat berubah oleh beberapa penyebab, antara lain: perubahan nilai rasa, perubahan cakupan makna, perubahan tanggapan antara dua indera, dan perubahan makna karena persamaan sifat.

1. Peyorasi

Perubahan nilai rasa menjadi lebih rendah dari yang sebelumnya. Arti kata dianggap mengalami peyorasi jika nilainya merosot, misalnya, dari yang semula bernilai hormat, menjadi hina, disukai menjadi tidak atau kurang disukai, dll. Misalnya, kata abang, perempuan, bini, gerombolam, betina, emak, eksekusi, dll. Dahulu kata abang mempunyai arti yang sejajar dengan kata kakak. Karena, terlalu sering digunakan untuk menunjuk orang-orang dari lapisan sosial bawah, seperti abang becak, abang bakso, dll, kemudian orang dari lapisan sosial tertentu tidak suka jika disapa dengan kata abang. Dengan demikian nilai kata tersebut menjadi merosot.

2. Ameliorasi

Perubahan nilai rasa menjadi lebih tinggi, lebih hormat, dan lebih disukai. Misalnya perubahan arti kata istri, wanita, suami, kakak, putra, dll.

3. Perluasan arti

Perubahan arti kata yang semula cakupan maknanya lebih sempit dari yang sekarang. Misalnya perubahan arti pada kata saudara, bapak, ibu, berlayar, kereta api, dll.

4. Penyempitan arti

Perubahan arti dari yang semula cakupan maknanya luas kini menjadi lebih sempit. Misalnya perubahan arti pada, kata ulama, pendeta, sarjana, pena, lafal, golongan, dan perkosa.

5. Sinestesia

Perubahan arti karena adanya pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda, misalnya kata keras, lembut, manis, dalam ungkapan kata-katanya pedas, suaranya keras, gerak tubuhnya lembut, wajahnya manis. Kata manis yang seharusnya berhubungan dengan indra pengecap di sini diterapkan pada indra penglihatan atau visual.

6. Asosiasi

Perubahan arti karena adanya persamaan sifat atau hubungan makna secara tidak langsung. Misalnya kata amplop dihubungkan dengan sesuatu yang dimasukkan di dalamnya, yang biasanya berupa uang untuk melicinkan persoalan. Misalnya, dalam ungkapan berikut: agar persoalan itu lekas beres, beri saja dia amplop. Begitu juga kata catut yang dihubungkan dengan arti kata korupsi.

Catatan:

Yang dimaksud dengan nilai rasa suku kata ialah kesan baik buruk, positif negatif kata tersebut. Misalnya kata tolol yang mengandung nilai rasa penghinaan, dan angka tiga belas dianggap mempunyai nilai rasa kesialan

E. Etimologi

Asal-usul bentuk kata dipelajari oleh etimologi. Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa kata memiliki sejarah, mempunyai asal-usul. Dia lahir, tumbuh, dan berkembang. Ada yang hidup terus dipakai orang, dan sebaliknya ada yang begitu lahir, langsung menghilang.

Kata-kata, seperti manusia, mempunyai sejarah dan mengalami perubahan, baik bentuk maupun isinya, baik bunyi maupun artinya. Kita ambil sebagai contoh, misalnya, kata iklan. Kata ini berasal dari bahasa Arab i’lam, bentuk verba imperatif yang berani ‘ketahuilah!’ .Sekarang sinonim dengan advertensi. Dalam komunikasi sehari-hari kita sering memakai kata harta dan arti.Siapa mengira kedua kata ini ternyata memiliki sejarah kelahiran yang sama, berasal dari akar yang sama. Dan keduanya mempunyai hubungan erat dengan kata permata. Baik arti maupun harta berasal dari kata Sanskerta artha ‘arti atau guna’. Harta adalah ‘sesuatu yang sangat berarti atau berguna’ Kata parama juga mempunyai arti yang sama, yakni parama ‘utama’ dan artha. Jadi secara etimologis kata itu bermakna ‘arti atau guna yang utama’. Dan sekarang? Apa maknanya?

Dalam bagian ini kita tidak akan menelusuri asal-usul setiap kata, tetapi kita hanya mencoba untuk memahami konsep-konsep yang menandai perubahan bentuk kata atau proses pembentukan kata, yang lazim kita sebut gejala bahasa.

F. Gejala bahasa

Gejala bahasa atau peristiwa bahasa itu di antaranya ialah:

No Gejala Pengertian Contoh

1 Adaptasi Penyesuaian bentuk berdasarkan kaidah fonologis, kaidah ortografis, atau kaidah morfologis

vyaya menjadi biaya pajeg menjadi pajak voorloper menjadi pelopor fardhu menjadi perlu igreja menjadi gereja voorschot menjadi persekot coup d’etat menjadi kudeta postcard menjadi kartu pos

certificate of deposit menjadi sertifikat deposito mass production menjadi produksi massal 2 Analogi Pembentukan kata

berdasarkan contoh yang telah ada.

Berdasarkan kata ‘dewa-dewi’ dibentuk kata: putra-putri, siswa-siswi, saudara-saudari, pramugara-pramugari

Berdasarkan kata ‘industrialisasi’ dibentuk kata: hutanisasi, Indonesianisasi

Berdasarkan kata ‘pramugari’ dibentuk kata: pramuniaga, pramuwisata, pramuria, pramusaji, pramusiwi

Berdasarkan kata ‘swadesi’ dibentuk kata: swadaya, swasembada, swakarya, swasta, swalayan

Berdasarkan kata ‘tuna netra’ dibentuk kata: tuna wicara, tuna rungu, tuna aksara, tuna wisma, tuna karya, tuna susila, tuna busana.

3 Anaptiksis (Suara Bakti)

Penyisipan vokal e pepet untuk melancarkan ucapan.

sloka menjadi seloka srigala menjadi serigala negri menjadi negeri ksatria menjadi kesatria

No Gejala Pengertian Contoh

4 Asimilasi Proses perubahan bentuk kata karena dua fonem berbeda disamakan atau dijadikan hampir sama.

in-moral menjadi immoral in-perfect menjadi imperfek al-salam menjadi asalam ad-similatio menjadi asimilasi in-relevan menjadi irelevan 5 Disimilasi Kebalikan dari asimilasi,

yaitu perubahan bentuk kata yang terjadi karena dua fonem yang sama dijadikan berbeda.

saj jana menjadi sarjana

sayur-sayur menjadi sayur-mayur

6 Monoftongisasi Perubahan bentuk kata yang terjadi karena perubahan diftong (vokal rangkap) menjadi

monoftong (vokal tunggal)

autonomi menjadi otonomi autobtografi menjadi otobiografi satai menjadi sate

gulai menjadi gule 7 Diftongisasi Perubahan bentuk kata

yang terjadi karena

monoftong diubah menjadi diftong. Jadi kebalikan monoftongisasi.

sentosa menjadi sentausa cuke menjadi cukai pande menjadi pandai gawe menjadi gawai 8 Sandi

(Persandian)

Perubahan bentuk kata yang terjadi karena peleburan dua buah vokal yang berdampingan, dengan akibat jumlah suku kata berkurang satu.

keratuan menjadi keraton kedatuan menjadi kedaton sajian menjadi sajen durian menjadi duren

No Gejala Pengertian Contoh

9 Hiperkorek Pembetulan bentuk kata yang sebenarnya sudah betul, sehingga hasilnya justru salah.

Sabtu menjadi Saptu jadwal menjadi jadual

manajemen menjadi menejemen asas menjadi azas

surga menjadi sorga Teladan menjadi tauladan izin menjadi ijin

Jumat menjadi Jum’at

kualifikasi menjadi kwalifikasi frekuensi menjadi frekwensi kuantitas menjadi kwantitas November menjadi Nopember kuitansi menjadi kwitansi mengubah menjadi merubah februari menjadi Pebruari persen menjadi prosen pelaris menjadi penglaris system menjadi sistim teknik menjadi tehnik apotek menjadi apotik telepon menjadi telfon ijazah menjadi ijasah atlet menjadi atlit nasihat menjadi nasehat biaya menjadi beaya perusak menjadi pengrusak zaman menjadi zaman koordinasi menjadi kordinasi

10 Kontaminasi (kerancuan)

Kekacauan karena dua pengertian yang berbeda, atau perpaduan dua buah struktur yang seharusnya tidak dipadukan.

berulang-ulang dan berkali-kali menjadi

berulang-kali

saudara-saudara dan saudara sekalian menjadi

saudara-saudara sekalian

No Gejala Pengertian Contoh

11 Metatesis Pergeseran kedudukan fonem, atau perubahan bentuk kata karena dua fonem atau lebih dalam suatu kata bergeser tempatnya.

rontal menjadi lontar anteng menjadi tenang usap menjadi sapu palsu menjadi sulap keluk menjadi lekuk 12 Protesis Perubahan fonem di depan

bentuk kata asal.

lang menjadi elang mak menjadi emak mas menjadi emas undur menjadi mundur stri menjadi istri arta menjadi harta

alangan menjadi halangan sa menjadi esa

atus menjadi ratus eram menjadi peram

13 Epentesis Perubahan bentuk kata yang terjadi karena

penyisipan fonem ke dalam kata asal

baya menjadi bahaya

bhayankara menjadi bhayangkara gopala menjadi gembala

jur menjadi jemur bhasa menjadi bahasa.

14 Paragog Perubahan bentuk kata karena penambahan fonem di bagian akhir kata asal.

mama, bapa menjadi mamak dan bapak

pen menjadi pena datu menjadi datuk

hulu bala menjadi hulubalang boek menjadi buku

abad menjadi abadi pati menjadi patih bank menjadi bangku gaja menjadi gajah conto menjadi contoh.

No Gejala Pengertian Contoh

15 Aferesis Penghilangan fonem di awal bentuk asal.

adhyaksa menjadi jaksa empunya menjadi punya sampuh menjadi ampuh wujud menjadi ujud bapak menjadi pak ibu menjadi bu.

16 Sinkop Penghilangan fonem di tengah atau di dalam kata asal.

laghu menjadi lagu

vidyadhari menjadi bidadari pelihara menjadi piara mangkin menjadi makin niyata menjadi nyata utpatti menjadi upeti.

17 Apokop Penghilangan fonem di akhir bentuk kata asal.

sikut menjadi siku riang menjadi ria balik menjadi bali

anugraha menjadi anugerah pelangit menjadi pelangi.

18 Kontraksi Pemendekan atau penyingkatan suatu frasa menjadi kata baru.

tidak ada menjadi tiada

kamu sekalian menjadi kalian kelam harian menjadi kemarin bagai itu menjadi begitu bagai ini menjadi begini.

Akronim, seperti balita, siskamling, rudal, ampera, pada dasarnya termasuk gejala kontraksi.

19 Nasalisasi (penyengauan)

Penambahan bunyi sengau atau fonem nasal, yaim /m/, /n/, /ng/, den /ny/.

me baca menjadi membaca pe duduk menjadi penduduk pe garis menjadi penggaris.

20 Palatalisasi Penambahan fonem palatal /y/ pada suatu kata ketika kata ini dilafalkan.

pada kata ia, dia. pria, panitia, ksatria, bersedia, yang masing-masing dilafalkan /iya/, /priya/, /diya/. /panitiya/, dan /bersediya/. jadi palatalisasi muncul di antara vokal /i/ dan /a/ yang digunakan berdampingan.

No Gejala Pengertian Contoh

21 Labialisasi Penambahan fonem labial /w/ di antara vokal /u/ dan /a/ yang berdampingan pads sebuah kata.

pada kata uang, buang, ruang, juang, kualitas, dan lain-lain. Selain itu, labialisasi juga muncul di antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada kata frekuensi dan kuitansi. Pada waktu kita lafalkan kata-kata itu, terasa sekali, bahwa di antara vokal-vokat tersebut timbul fonem labial /w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/,

22 Onomatope Pembentukan kata berdasarkan tiruan bunyi-bunyi.

hura-hura dari hore-hore. aum (suara harimau) meong (suara kucing) embik (suara kambing) desis (suara ular) desah (suara napas)

ketuk (bunyi pintu atau meja dipukul dengan jari atau palu)

23 Haplologi Perubahan bentuk kata yang berupa penghilangan satu suku kata di tengah-tengah kata.

samanantara menjadi sementara mahardhika menjadi merdeka budhidaya menjadi budaya

Dalam dokumen Rangkuman tata bahasa Indonesia (Halaman 32-41)

Dokumen terkait