"KURANG BARANG MENCARI,
LEBIH DIBUANG KE REGIONAL"
FOKUS
grinding plant tetap terisi dari sumber yang lebih murah, sedangkan surplus dari Padang kita ekspor.
Sekarang tidak harus packing plant
Semen Gresik disuplai dari Gresik, begitu juga milik Semen Tonasa dan Pa- dang. Tugas SII adalah mencari sumber- sumber yang lebih murah sehingga surplusnya bisa diekspor. Sehingga secara bersamaan kami harus mencari mitra dan pembeli ekspor. Hasilnya, kita dapat revenue sekaligus eisiensi biaya.
Itu kontribusi yang diharapkan holding
terhadap SII.
Apa bedanya bila ekspor dilakukan opco masing-masing?
Dengan adanya konsolidasi ekspor oleh SII, kita punya bargaining posi- tion yang kuat di mata buyer. Tidak diadu-adu lagi. Sehingga harga bisa kita naikkan ke level maksimal. Tidak lagi, misalnya, trader-trader itu datang dan saling mengadu antara Gresik, Padang,
dan Tonasa. Sehingga kadang opco
yang satu bisa jual di level yang lebih rendah, lainnya lebih tinggi, padahal harganya lebih jauh.
Sekarang dengan adanya SII, kita
bisa memonitor dan punya bargaining
position kuat. Sekarang ini kita tahu harga di Vietnam berapa. Dengan be- gitu, kita bisa benchmark, tidak seperti sebelumnya, ketika kita bergantung kepada trader.
Kami juga mulai mengikat kontrak jangka panjang dengan mitra-mitra strategis, yaitu pabrik semen yang pun- ya fasilitas ekspor, dalam arti pelabuhan- nya memadai untuk ekspor. Ia menjadi mitra untuk mengisi kekurangan, tapi kalau kita nggak butuh ya kita ekspor. Jadi, yang kami ekspor bukan hanya dari SMIG, tapi juga dari perusahaan- perusahaan mitra.
Dengan penguasaan sumber-sumber dalam negeri, cita-cita kami bisa meng- konsolidasi potensi ekspor di Indonesia. Sehingga harga pun menjadi lebih baik. Kok baru sekarang membentuk peru- sahaan trading?
Memang bisa dibilang kita agak
terlambat membentuk perusahaan trad-
ing. Orang lain sudah punya belasan, bahkan puluhan tahun. Itu kalau kita
ngomong Heidelberg, Cemex, juga SCG. Kantor SCG Trading di Indonesia cukup besar. Kita baru mulai sekarang. Tapi, tidak ada kata terlambat, kan?
Memang tantangannya banyak. Eksternal ada, di internal sendiri banyak fasilitas kita yang harus dibenahi. Salah satunya persaingan di freight cost. Dalam dunia transportasi, belum tentu jarak yang lebih dekat itu lebih murah. Jarak jauh kalau ada angkot akan lebih murah dibanding jarak dekat tapi harus carter taksi.
Posisi pabrik Semen Indonesia itu bu- kan di jalur perdagangan internasional. Sehingga kita harus carter kapal. Nah,
less competitive kita itu ada di freight cost. Ketika kita bersaing dengan Vietnam, China, atau Thailand, mereka ada di jalur perdagangan internasional. Jadi, kapal-kapal itu turun dari China, melewati Vietnam, Thailand, ke Selat Malaka, lalu langsung Afrika. Itu jalur angkut kapal internasional.
Kita ada di luar itu. Ibaratnya, kita tinggal di pelosok. Jadi, kalau mau cari kendaraan, harus telepon dulu, baru di- jemput. Freight cost itu ditentukan oleh lamanya sewa kapal. Itulah yang jadi masalah kita. Kedua, fasilitas pelabu- han kita tidak didesain untuk keperluan ekspor.
Di situlah kami bermain dan inilah pentingnya kita melakukan konsolidasi. Sehingga dengan berbagai keter- batasan yang kita miliki, pelabuhan yang berkapasitas kecil, loading rate ke- cil, kita masih bisa mendapatkan harga yang maksimal. Kalau nggak, harga kita akan ditekan terus. Sebab, trader akan bilang, ”Wah, freight cost-nya mahal.” Di Vietnam, kapal 50 ribu tiga hari muat sudah selesai. Di sini mesti 10 hari, be- lum lagi jaraknya ke sini lebih jauh. Ada rencana bisnis lain di luar trading semen?
Ke depan, kita ingin menjadi
portfolio investment. Kenapa? Karena melakukan trading dengan mitra dan pihak-pihak luar negeri, kami bisa men- jadi market intelligence. ”(Kita bisa beri usulan, Red) Eh, beli nih pabrik ini, beli perusahaan itu.” Karena kita masuk ke dalam. Kita kenal dan tahu kondisinya seperti apa.
Karena memperbesar market share
itu bukan lagi dengan cara menjual produk lagi, tapi ambil perusahaannya. Ambil perusahaan yang 3 juta, langsung dapat pasar 3 juta. SII bisa menjadi mata-mata. Karena kami trading, bebas masuk ke mana saja. Karena bagi kami, semua pabrik semen itu adalah mitra.
Mereka kompetitor buat pabrik semen lainnya, tapi bagi kami mereka mitra. Jadi, ke depan kita berharap menjadi portfolio investment. Ini salah satu opsi ketika holding ingin memper- besar portofolionya di negara-negara lain. Saat ini kita juga dalam proses mendirikan anak usaha di Singapura. Kenapa? Karena kita perlu status global, itu untuk image juga. ”Oh, ini perusa- haan trading internasional, kantornya kok di dalam negeri?”
Apa lagi langkah bisnis riil yang sudah dilakukan?
Ketika kami berdiri, situasi domestik di kuartal keempat justru kekuran- gan barang. Jadi, yang kami lakukan adalah membeli dari mitra. Kita lakukan kontrak jangka panjang sampai akhir tahun. Mungkin ini pertama kali. Sebab, biasanya kalau opcokan beli per PO (preorder). Karena bayangan kami, kalau barangnya tidak diambil, kami akan ekspor.
Ternyata kita kekurangan barang, akhirnya semua barangnya diam- bil. Tidak ada yang diekspor, malah masih kurang. Di saat sama, kami juga
memberikan bantuan ke opco dalam
hal negosiasi harga. Sehingga mereka dapat harga maksimal.
Kami juga sudah buka pasar baru, masuk ke Malaysia yang belum pernah kita masuki. Lalu Australia, secara kuali- tas kita sudah lulus. Sehingga pabrik di Kupang nanti punya peluang ekspor ke sana.
Target perusahaan di tahun 2017? Pertama, mengekspor kelebihan barang yang dimiliki SMI, berapa pun itu. Kedua, mengamankan pasokan internal karena diproyeksikan di bulan- bulan tertentu akan kurang. Ketiga,
mencari tambahan revenue dengan
cara mengekspor dari pihak ketiga. Jadi, kami diwajibkan melakukan bisnis dengan pihak ketiga.
Pasar ekspor kita paling besar Bang- ladesh. Mereka impor 16 juta ton clinker
setiap tahun. Lalu Sri Lanka, ada 4 juta ton, semuanya dari Semen Padang karena paling dekat. Kemudian, ada Myanmar, Filipina, Taiwan, dan Australia. Kami juga mulai mengembangkan pasar ke Afrika, sudah kirim sampel ke sana. Kemarin ada permintaan dari Mozam- bik, tapi kita tidak ada barang. (lin/znl/ bwo/SG)
INSIDE
Kenapa harus ada KSO? Jadi begini, KSO itu sebagai kelanjutan transformasi korporasi yang terjadi di Semen Indonesia. Dimulai pada tahun 1991, saat Semen Indone- sia berubah dari perusahaan tertutup menjadi terbuka. Dari yang tidak listed
menjadi listed. Ini setelah dilakukan IPO dan go public pada Juli 1991. Transformasi berlanjut dengan adanya konsolidasi dengan (Semen) Padang danTonasa pada tahun 1995. Tahun 1998 kita menjadi strategic partner- nya Cemex. Itu juga bagian dari trans- formasi yang kita jalani.
Berikutnya, di era Pak Dwi (Dwi Soetjipto, red), kita harus sinergi. Untuk memperkuat agar tak ter- gantung pada pimpinan, dibuatlah struktur holding yang kuat. Bagaimana caranya? Semen Indonesia fokus pada hal-hal yang strategis. Sehingga yang
sifatnya operasional diserahkan ke-
pada anak perusahaan atau operating
company (opco). Jadi, kebijakan yang sifatnya strategis menjadi wewenang
holding, sedangkan opco mengurusi operasional.
Transformasi itu mengharuskan adanya opco baru karena adanya pemisahaan tersebut. Nah, dari sana lahirlah Semen Gresik. Tetapi, ini bukan Semen Gresik yang bertrans- formasi menjadi Semen Indonesia. Ini
new baby. Kebetulan, namanya sama dan memiliki value yang masih cukup tinggi.
Semen Gresik ini harus dilahirkan untuk mengemban tugas opco. Karena itu, lahirlah KSO ini. Di mana Se- men Gresik mendapat mandat untuk mengelola aset-aset yang dimiliki Se- men Indonesia. Seperti Pabrik Tuban,
packing plant, dan fasilitas-fasilitas lain
yang selama ini dikelola Semen Indo- nesia. Jadi, semua itu dialihkelolakan ke Semen Gresik lewat KSO ini. Bila bagian dari transformasi korpo- rasi, kenapa harus menunggu sekian lama?
Benar. Idealnya, proses transformasi itu langsung berlanjut setelah Semen Gresik yang new baby itu lahir pada Desember 2013. Tetapi, harus dipa- hami, kita masih memiliki handicap
fasilitas perpajakan di Pabrik Tuban IV yang jatuh temponya pada 1 Januari 2017. Jadi, fasilitas ini kita dapatkan saat operasional (Pabrik) Tuban 4. Saat minta fasilitas pajak, itu kan ada perjanjian tidak boleh dialihkan ke pihak lain. Kalau tetap dilakukan, maka kita kena denda sebesar Rp 166 miliar. Eman, kan? Karena itu, kita pilih me- nunggu sampai 1 Januari 2017.