• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.5. Semiotik Ferdinand de Saussure

Tanda-tanda (sign) adalah basis dari seluruh komunikasi (Littlejohn, 1996:64). Manusia dengan perantaraan tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal bisa dikomunikasikan di dunia ini. Kajian semiotika sampai sekarang telah membedakan dua jenis semiotika, yakni: a. Semiotika komunikasi, menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam

komunikasi yaitu pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal yang dibicarakan). Selain itu menekankan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu.

b. Semiotika signifikasi, tidak mempersoalkan adanya tujuan berkomunikasi. Sebaliknya yang diutamakan adalah segi pemahaman suatu tanda sehingga proses kognisinya pada penerima tanda lebih diperhatikan daripada proses komunikasinya. (Sobur, 2006:15)

Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, tetapi juga termasuk dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi. (Sobur, 2006:15)

Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, dan makna (meaning) adalah hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu tanda. Menurut Hjelmslev, mendifinisikan tanda sebagai “suatu keterhubungan antara wahan ekspresi (expression plan) dan wahana isi (content plan). (Sobur, 2006:15-16)

Kata “semiotika” berasal dari bahasa Yunani yaitu semeion yang berarti “tanda” atau seme yang berarti “penafsir tanda”. Jika diterapkan dalam tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie). Sebuah teks baik itu lagu, musik, surat cinta, makalah, iklan, cerpen, puisi, komik, kartun, dan semua hal yang mungkin menjadi “tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda, yakni suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi. (Sobur, 2006:16-17)

Isi atau makna dari sebuah lirik lagu dikatakan dapat merepresentasikan suatu relitas yang terjadi. Karena menurut Fiske, representasi merujuk pada proses yang dengannya realitas disampaikan dalam komunikasi, via kata-kata, bunyi, citra, atau kombinasinya. (Fiske, 2010:282)

Jika ada seseorang yang layak disebut sebagai pendiri linguistik modern dialah sarjana dan tokoh besar asal Swiss yaitu Ferdinaand de Saussure. Saussure memang terkenal karena teorinya tentang tanda.

Semiotika signifikasi adalah akar dari pemikiran Saussure yang didefinisikan sebagai “ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial”. Implisit dari definisi tersebut adalah sebuah relasi bahwa bila tanda merupakan bagian dari kehidupan sosial, maka tanda juga merupakan bagian dari aturan-aturan sosial yang berlaku. Ada sistem tanda (sign system) dan

sistem sosial (social system) yang keduanya saling berkaitan. Dalam hal ini Saussure berbicara mengenai konvensi sosial (social convention) yang mengatur penggunaan tanda secara sosial yaitu pemilihan, pengkombinasian dan penggunaan tanda-tanda dengan cara tertentu, sehingga ia mempunyai makna dan nilai sosial. (Sobur, 2006:vii)

Sedikitnya ada lima pandangan dari Saussure yang dikemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi-Strauss, yaitu pandangan tentang 1. Signifier (penanda) dan Signified (petanda), yang cukup penting dalam upaya

menangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem tanda, dan setiap tanda itu tersusun atas dua bagian, yakni signifier (penanda) dan signified (petanda). Menurut Saussure, bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). Suara-suara baik itu suara manusia, binatang, atau bunyi-bunyian semua dapat dikatakan bahasa apabila semua itu mengekspresikan, menyampaikan ide-ide, pengertian-pengertian tertentu. Menurut Bartens (2001) tanda adalah suatu kesatuan dari suatu bentuk penanda dan petanda. Signifier adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Sedangkan Signified adalah aspek mental atau gambaran mental dari signifier. Apabila penanda dan petanda ini digabungkan akan menghasilkan suatu konsep makna yang sebenarnya. Gabungan antara kedua unsur tersebut menghasilkan suatu pemahaman yang dinamakan signification. Dengan kata lain signification adalah upaya untuk memberikan makna.

2. Form (bentuk) dan Content (materi, isi), isi diistilahkan dengan expression dan content, satu berwujud bunyi yang lain berwujud ide. Jadi bahasa berisi sistem nilai, bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi, tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaannya.

3. Langue (bahasa) dan Parole (tuturan, ujaran), dalam pengertian umum langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya, sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu.

4. Synchronic (sinkronik) dan Diachronic (diakronik), menurut Saussure linguistik harus memperhatikan sinkronis sebelum menghiraukan diakronis. Studi sinkronis sebuah bahasa menurut Lyons adalah deskripsi tentang keadaan tertentu bahasa tersebut (pada suatu “masa”). Bertens menyebut “sinkronis” sebagai “bertepatan menurut waktu”. Jadi linguistik sinkronis mempelajari bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. Sedangkan diakronis menurut Bartens adalah “menlusuri waktu”. Jadi studi diakronis atas bahasa tertentu adalah deskripsi tentang perkembangan sejarah (“melalui waktu”).

5. Syntagmatic (sintagmatik) dan Associative (paradigmatik), hubungan sintagmatik dan paradigmatik adalah kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep. Jadi sintagmatik adalah kumpulan tanda yang berurut secara logis sedangkan paradigmatik adalah hubungan yang saling menggantikan. (Sobur, 2006:46-54)

2.6. Kerangka Berpikir

Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda-beda dalam memaknai suatu peristiwa atau objek. Hal ini dikarenakan latar belakang pengalaman (field of experience) dan pengetahuan (frame of reference) yang berbeda-beda pada setiap individu tersebut.

Begitu juga ketika individu menciptakan sebuah pesan komunikasi yang dalam hal ini pesan disampaikan dalam bentuk lagu, maka pencipta lagu juga tidak terlepas dari dua hal tersebut yaitu latar belakang pengalaman dan tingkat pengetahuan.

Pada penelitian ini peneliti memaknai tanda dan lambang yang ada dalam obyek juga berdasarkan pengalaman dan pengetahuan peneliti. Peneliti melakukan pemaknaan terhadap tanda dan lambang berbentuk tulisan pada lirik lagu “Rahasiaku” yang dibawakan oleh grup band Gigi dalam album Salam Kedelapan.

Dalam hubungannya dengan konsep gender, peneliti menggunakan metode semiotik Saussure, sehingga akhirnya dapat diperoleh hasil dari interpretasi data mengenai penggambaran kesetaraan gender dalam lirik lagu tersebut.

Dari penggunaan metode Saussure yang menitik beratkan pada aspek material (petanda) dan aspek mental (penanda) yang pada akhirnya diperoleh signifikasi. Sehingga menghasilkan suatu interpretasi mengenai bagaimana

kesetaraan gender yang digambarkan dalam lirik lagu “Rahasiaku”. Secara sistematis dapat ditunjukkan bagan kerangka sebagai berikut:

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir Lirik Lagu “Rahasiaku” oleh Gigi Analisis Menggunakan Metode Semiotik Saussure Hasil Interpretasi Data Mengenai Penggambaran Kesetaraan Gender

34 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yang menginterpretasikan secara rinci pemaknaan lirik lagu “Rahasiaku” yang dibawakan oleh grup band Gigi. Metode ini memfokuskan pada “teks” sebagai objek. Serta bagaimana menafsirkan dan memahami kode (decoding) di balik lirik lagu tersebut.

Penelitian kualitatif menggunakan metode deskriptif kualitatif dikarenakan beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda; kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat peneliti dan yang diteliti; dan ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola yang dihadapi. (Meleong, 2002:5)

Metode penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, dengan memaknai lirik lagu “Rahasiaku” menggunakan teori semiotik Ferdinand de Saussure, yaitu pandangan mengenai Signifier (penanda) dan Signified (petanda); Form (bentuk) dan Content (isi); Langue (bahasa) dan Parole (tuturan, ujaran); Synchronic (sinkronik) dan Diachronic (diakronik); Syntagmatic (sintagmatik) dan Associative (paradigmatik). Melalui

pandangan dari Saussure itulah baru kemudian dijelaskan melalui penafsiran dengan menggunakan konsep gender. Dari analisis lirik lagu tersebut dapat diketahui gambaran mengenai kesetaraan gender. Sehingga dapat ditarik suatu makna yang sebenarnya dari lirik lagu “Rahasiaku” yang dibawakan oleh grup band Gigi.

Dokumen terkait