• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.2.4 Sensitivitas antijamur

Dari hasil uji sensitivitas antijamur dengan menggunakan AST card untuk yeast dengan mesin Vitek, ditemukan 3 (10,7%) isolat resisten terhadap antijamur, yaitu 2 (7,2%) isolat terhadap flukonazol dan flusitosin dan 1 (3,5%) isolat terhadap flusitosin. Dua isolat yang resisten terhadap flukonazol dan flusitosin

53

adalah C. krusei dan satu isolat yang resisten terhadap flusitosin adalah C.

albicans.

Pada penelitian ini didapatkan bahwa antijamur vorikonazol (100%) sensitif terhadap seluruh isolat Candida, sedangkan antijamur lainnya yaitu flukonazol (92,9%) sensitif, kaspofungin (78,6%) sensitif, mikafungin (75%) sensitif, amfoterisin B (92,9%) sensitif dan flusitosin (85,7%) sensitif. Terdapat 4 isolat (14.3%) bersifat intermediet terhadap jenis antijamur tertentu yaitu, 1 isolat terhadap mikafungin, 1 isolat terhadap amfoterisin B, 1 isolat terhadap amfoterisin B dan flusitosin dan 1 isolat terhadap kaspofungin dan mikafungin. Dari 4 isolat tersebut 4 diantaranya adalah C. albicans dan 1 C. tropicalis.

Penelitian oleh Mohamadi et al., (2014) yang melakukan tes sensitivitas antijamur (nistatin, itrakonazol, flukonazol, ketokonazol, clotrimazol, vorikonazol, amfoterisin B dan posakonazol) terhadap isolat kandidasis oral dan kandidiasis popok melaporkan isolat Candida resisten terhadap berbagai antijamur yaitu nistatin (4%), itrakonazol (43%), flukonazol (34,2%), ketokonazol (34,9%), klotrimazol (21,5%), vorikonazol (6%) dan posakonazol (6,7%). Tidak didapat isolat yang resisten terhadap amfoterisin B (Mohamadi et al. 2014).

Pada penelitian ini juga didapatkan 5 isolat yang mengalami terminasi pada pemeriksaan sensitivitas dikarenakan pertumbuhan jamur yang tidak cukup pada kontrol positif (drug terminated : insufficient growth in Positive control well). Isolat-isolat tersebut mengalami terminasi untuk antijamur jenis kaspofungin dan mikafungin. Dari 5 isolat tersebut 2 diantaranya C. albicans, 2 C.

tropicalis dan 1 C. krusei.

54

Blanco dan van Rossem (2013) melakukan penelitian prospektif selama 2 tahun untuk menilai efektivitas dan resistensi mikonazol terhadap subyek dermatitis popok dengan infeksi sekunder oleh Candida, dan melaporkan angka kesembuhan klinis 49,4%, kesembuhan mikologis 45,8% dan kesembuhan kilinis dan mikologis 29,2%, dan tidak ditemukan perkembangan resistensi mikonazol pada pengobatan setelah kekambuhan (Blanco dan van Rossem 2013).

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu hanya dilakukan tes sensitivitas antijamur terhadap antijamur yang digunakan secara luas untuk terapi infeksi Candida mukokutaneus dan infeksi sistemik, sedangkan terhadap antijamur topikal untuk infeksi Candida kulit atau dermatofitosis seperti ketokonazol, mikonazol dan nistatin tidak dilakukan karena belum adanya nilai MIC menurut CLSI dan tidak adanya cakram disk untuk uji sensitivitas manual yang dijual di tempat penelitian ini dilakukan. Penelitian ini juga memiliki keterbatasan karena tidak dilakukan tes untuk menilai efektivitas antijamur topikal terhadap responden kandidiasis popok karena keterbatasan waktu dan biaya.

Pada penelitian ini tes sensitivitas antijamur dilakukan secara otomatis dengan alat Biomerieux Vitek 2 System menggunakan AST card for yeast, yang mampu melakukan tes sensitivitas terhadap beberapa jenis antijamur yaitu flukonazol, vorikonazol, kaspofungin, mikafungin, amfoterisin B dan flusitosin.

Jenis-jenis antijamur lainnya seperti itrakonazol, griseofulvin tidak dapat diuji mengingat keterbatasan kartu sensitivitas yang digunakan dan biaya yang besar.

Tes sensitivitas antijamur secara manual dengan menggunakan metode difusi disk (cakram disk) juga tidak dilakukan pada penelitian ini karena keterbatasan waktu dan biaya.

55

Antijamur topikal yang umum digunakan sebagai terapi infeksi kandida pada kulit adalah antijamur golongan imidazol yang merupakan saalah satu derivat azol. Contoh antijamur topikal seperti klotrimazol, ketokonazol dan mikonazol yang tersedia dalam sediaan salep. Obat antijamur golongan azol menghambat enzim yang diperlukan dalam pembentukan ergosterol pada membran sel jamur. Kekurangan ergosterol akan merusak struktur dan fungsi membran sel sehingga menghambat pertumbuhaan jamur. Derivat azol lain yang digunakan sebagai terapi infeksi kandida sistemik adalah golongan triazol.

Perbedaan dari imidazol dan triazol terdapat pada jumlah cincin nitrogen yang dimiliki.

Pada penelitian ini obat-obatan yang diuji sensitivitasnya terbatas hanya obat-obatan yang memiliki sediaan per oral dan sistemik sedangkan obat-obatan yang memiliki sediaan topikal tidak diuji sensitivitasnya karena tidak tersedianya cakram disk obat antijamur tersebut (klotrimazol, ketokonazol dan mikonazol) di laboratorium RS USU tempat penelitian dilakukan. Cakram disk adalah suatu bahan yang berisi obat-obatan tertentu yang digunakan untuk uji sensitivitas secara manual. Penelitian lebih lanjut mengenai uji sensitivitas antijamur yang memiliki sediaan topikal diharapkan dapat dilakukan pada masa yang akan datang.

Pada penelitian ini didapatkan persentase sensitivitas antijamur diatas 80%

untuk seluruh antijamur yang dites (flukonazol, vorikonazol, kaspofungin, micafungin, amfoterisin B dan flusitosin) sehingga masih dapat digunakan sebagai terapi empiris untuk terapi infeksi Candida mukokutaneus dan infeksi sistemik.

56

Obat antijamur yang tersedia di pelayanan primer di Indonesia terbatas hanya ketokonazol (tablet dan cream), mikonazol (bedak), griseofulvin (tablet) dan nistatin (ovula). Berdasarkan penelitian terdahulu oleh Mohamadi et al. telah ditemukan resistensi terhadap ketokonazol dan nistatin terhadap isolat Candida yang diisolasi dari kandidiasis popok dan oral (in vitro) dan menurut penelitian Blanco dan van Rossem tidak ditemukan resistensi terhadap mikonazol (in vivo), namun tes ini belum dilakukan di Indonesia sehingga dapat menjadi penelitian lanjutan.

Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan telah terjadi resistensi Candida secara in vitro terhadap berbagai jenis antijamur. Penelitian ini menunjukkan bahwa isolat Candida paling sensitif terhadap vorikonazol sehingga dapat menjadi pilihan terapi untuk infeksi Candida.

Flukonazol merupakan obat antijamur golongan triazol. Flukonazol bekerja dengan menghambat sintesis ergosterol, sama seperti mekanisme kerja ketokonazol, namun memiliki efek samping yang lebih ringan dibandingkan ketokonazol. Obat ini efektif untuk pengobatan berbagai jenis jamur kandidiasis mukokutaneus (Katzung et al. 2012).

Flukonazol telah digunakan sejak lama sebagai kemoprofilaksis dan terapi infeksi jamur sistemik karena mempunyai bioavailabilitas oral yang baik dan aman dari efek samping. Resistensi flukonazol penting karena membahayakan pada pasien HIV/AIDS yang mendapat infeksi jamur oportunistik namun resistensi flukonazol kurang bermakna pada pasien kandidiasis vaginalis dan kandidemia (Spampinato & Leonardi, 2013). Variasi struktur azol merupakan penyebab terjadinya pola resistensi silang diantara spesies Candida, sehingga

57

telah ditemukan spesies Candida lain yang mengalami resistensi flukonazol (Spampinato & Leonardi, 2013).

Flusitosin merupakan antimetabolit pirimidin. Flusitosin bekerja sebagai antijamur dengan cara menyebabkan kerusakan asam nukleat serta mengganggu sintesis protein. Obat ini bersifat fungistatik sehingga sering dikombinasi dengan amfoterisin B atau itrakonazol untuk mengobati jamur sistemik (Katzung et al.

2012).

Resistensi primer terhadap flusitosin jarang ditemukan (<2%). Resistensi sekunder terjadi karena inaktivasi enzim-enzim yang berbeda pada jalur pirimidin (pyrimidine pathway) (Spampinato & Leonardi, 2013). Pada penelitian ini didapatkan dua isolat yang resisten terhadap flukonazol dan flusitosin. Resistensi flusitosin mungkin terjadi sebagai resitensi sekunder karena telah terjadinya resistensi flukonazol, sedangkan satu isolat lagi didapatkan resisten hanya terhadap flusitosin yang mungkin merupakan resitensi primer.

Resistensi antijamur merupakan masalah kesehatan yang mulai berkembang di masyarakat global terutama akibat tingginya infeksi jamur oportunistik pada pasien-pasien yang imunokompromis yaitu pasien HIV/AIDS.

Namun ternyata resistensi antijamur tidak hanya didapati pada pasien imunokompromis saja tetapi telah terjadi juga pada Candida yang diisolasi dari kandidasis popok dan oral. Hal ini harus mendapat perhatian dari para dokter dan melakukan penyuluhan serta mencegah praktek swamedikasi merupakan salah satu cara untuk mengontrol terjadinya resistensi obat.

58

BAB V

Dokumen terkait