Separuh kebenaran
SETIDAKNYA semenjak Uskup Agung Wulfstan menyerukan di satu khotbahnya di York pada 1014 bahwa, “Dunia semakin bergegas dan kiamat kiat dekat”, manusia telah semakin dilanda keyakinan bahwa segalanya menjadi lebih buruk saat ini, dan bahwa segala yang lebih baik adalah milik masa lalu. Dalam diskusi-diskusi tentang globalisasi, banyak hal dilandasi pada pra-anggapan bahwa dunia niscaya menjadi neraka. Beberapa tahun lalu, Paus Yohanes Paulus II menggemakan pandangan koleganya dari seribu tahun lebih tersebut, dengan merangkum perkembangan dunia sebagai berikut:
“Masyarakat di berbagai tempat tengah menyaksikan kebangkitan kembali neoliberalisme kapitalis tertentu yang menempatkan manusia di bawah kekuatan pasar yang buta dan mengondisikan perkembangan masyarakat berdasarkan kekuatan itu…. Maka, di masyarakat internasional, kita menyaksikan sejumlah kecil negara yang menjadi terlalu kaya luar biasa dengan memiskinkan sejumlah besar negara lainnya. Akibatnya, yang kaya menjadi kian kaya, yang miskin semakin miskin.“1)
Dunia dikatakan telah menjadi semakin tak adil. Korus yang terus diulang dalam perdebatan tentang ekonomi pasar berbunyi begini: “Yang kaya kian kaya; yang miskin semakin miskin.” Pernyataan ini diajukan ibarat diktat hukum alam, bukan tesis untuk diargumentasikan. Namun, jika kita amati apa yang tersembunyi di balik slogan yang
1) Wulfstan dikutip dalam Anthony Giddens, Runway World: How Globalisation Is Reshaping Our Lives (London: Profile Books, 1999), h.1. Kutipan Paus Yohanes Paulus II dari “Homily in the José Martí Square of Havana,” disampaikan pada 25 Januari, 1998. Transkrip bahasa Inggris dapat diunduh di http://www.vatican. va/holy_father/john_paul_ii/travels/documents/hf_jp-ii_hom_25011998_ lahavana_en.html.
cukup menggelitik tersebut dan mengkaji apa yang sebenarnya telah terjadi di dunia, kita akan menemukan bahwa tesis tersebut hanyalah separuh kebenaran. Separuh pertama pernyataan itu benar: bahwa yang kaya memang semakin kaya—meski tidak berlaku merata bagi semua orang kaya di semua lokasi, melainkan hanya secara umum saja. Memang benar sebagian kita yang menikmati hak istimewa tinggal di negara-negara makmur telah menjadi semakin kaya dalam beberapa dasawarsa terakhir. Ini juga berlaku bagi penduduk kaya di Dunia Ketiga. Namun, sebagian lagi dari pernyataan tadi, tidak benar. Secara umum, keadaan penduduk miskin di seluruh dunia dalam dasawarsa terakhir tidak lebih buruk. Justru sebaliknya, kemiskinan absolut telah berkurang. Di wilayah di mana kemiskinan secara kuantitatif paling besar–yakni di Asia–ratusan juta orang yang kurang dari 20 tahun lalu harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup, kini telah meraih taraf hidup yang aman, bahkan berhasil meraih kemakmuran yang sederhana. Kemiskinan global telah berkurang, dan ketidakadilan yang meluas sudah mulai berkurang. Bab pertama buku ini akan menyaji serangkaian angka dan uraian tren yang bermanfaat untuk memperbaiki kekeliruan pandangan yang merebak luas tentang situasi dunia.2)
Salah satu buku terpenting yang terbit dalam beberapa tahun terakhir adalah On Asian Time: India, China, Japan 1966-1999. Ini sebuah karya reportase perjalanan yang di dalamnya sang penulis Swedia, Lasse Berd, dan fotografer Stig Karlsson menggambarkan
2) Kecuali jika dinyatakan lain, fakta dan angka yang dikutip di bab ini berasal dari UNDP (United Nations Development Program) dan Bank Dunia, khususnya dalam publikasi tahunan kedua institusi ini, yaitu Human Development Report dan World Development Report, dan kompilasi World Development Indicators 2000. Perlu dicatat bahwa terdapat perbedaan angka antara satu sumber dengan lainnya, karena adanya perbedaan dalam metode pengukuran; karena itu pertimbangan yang sama harus diambil untuk menggunakan metode yang sama saat mempelajari perubahan tertentu sejalan dengan waktu. Dibuku ini
Separuh kebenaran 5
kunjungan-ulang mereka ke beberapa negara di Asia, yang pernah mereka kunjungi di era 60-an.3) Dulu, yang mereka saksikan adalah
kemiskinan, kesengsaraan yang parah, dan ancaman bencana di mana-mana. Seperti halnya para wisatawan lain di Asia, mereka tidak menemukan apapun untuk berharap akan masa depan yang gemilang; mereka pikir, satu-satunya jalan keluar adalah berupa revolusi sosialis. Ketika mereka berkunjung kembali ke India dan Cina pada tahun 90-an, tanpa dapat mengelak mereka harus mengakui betapa kelirunya pandangan mereka terdahulu. Semakin banyak orang telah berhasil melepaskan diri dari belenggu kemiskinan. Masalah kelaparan mulai menghilang. Jalan-jalan semakin bersih. Pondok-pondok yang tadinya terbuat dari lumpur tanah, berubah menjadi rumah-rumah berdinding bata, dengan penerangan listrik dan antena televisi di atapnya.
Ketika Berg dan Karlsson berkunjung ke Kalkuta untuk pertama kali, sepersepuluh penduduk di sana tunawisma. Setiap pagi truk-truk milik instansi berwenang atau kelompok misionaris dikerahkan untuk mengumpulkan jasad-jasad penduduk yang meninggal di malam
ketika membandingkan negara berkembang dengan negara maju, saya merujuk kepada definisi umum yang diterima untuk negara-negara berkembang (atau kurang berkembang), yaitu negara-negara yang memiliki/mengalami standar hidup yang rendah, kesehatan masyarakat dan pendidikan yang rendah, kekurangan modal, ketergantungan ekonomi yang besar kepada pertanian dan bahan mentah, serta ketidakstabilan internal dan ketergantungan kepada dunia internasional. Bandingkan dengan Michael P. Todaro, Economic Development, ed. ke-6., (Reading, Mass.: Addison, Wesley Longman, 1997), h. 38. Dalam definisi ini, sekitar 135 negara termiskin terhitung sebagai negara berkembang klasik, dengan sekelompok tigapuluhan negara lainnya beranjak meninggalkan status negara berkembang. Penting diingat bahwa perbedaan antarnegara ini sangatlah besar, sehingga sulit untuk membahas mereka sebagai satu kelompok. Konsep ini menggabungkan kediktatoran dengan demokrasi, wilayah perang dengan pasar yang berkembang, negara yang amat miskin serta mengalami kelaparan dengan negara yang menuju peringkat negara industri.
sebelumnya. Tigapuluh tahun kemudian, ketika siap untuk memotret orang-orang yang tinggal di jalanan, mereka mengalami kesulitan untuk menemukan orang-orang semacam itu. Kendaraan angkong, atau becak yang dihela oleh pria tanpa alas kaki, mulai menghilang dari pemandangan kota. Alih-alih, orang-orang bepergian dengan mobil, sepeda motor, dan kereta bawah tanah.
Ketika Lasse Berg dan Stig Karlson memperlihatkan foto-foto yang dulu mereka ambil selama kunjungan pertama mereka kepada sejumlah pemuda India, para pemuda tersebut bahkan tidak percaya bahwa latar di foto-foto tersebut adalah tempat mereka sekarang berada. Apa mungkin keadaannya semengerikan itu? Ilustrasi perubahan tersebut diperlihatkan jelas melalui sepasang foto di halaman 42 buku mereka. Di foto lama, yang diambil pada 1976, terlihat seorang gadis India bernama Satto dan berusia 12 tahun. Gadis itu memperlihatkan kedua tangannya yang keriput dan kapalan, sepasang tangan yang menua sebelum waktunya akibat kerja terlalu berat. Foto terbaru memperlihatkan putri Satto, Seema, yang berumur 13 tahun, yang juga memperlihatkan sepasang tangannya. Tangan-tangan Seema terlihat muda dan lembut, sepasang tangan milik seorang anak yang masa kanak-kanaknya tidak tercerabut.
Dari semua hal yang berubah, perubahan terbesar terjadi pada pikiran dan cita-cita penduduk. Televisi dan surat kabar membawa gagasan dan gambar dari belahan lain dunia, sehingga memperkaya gagasan orang-orang tentang kemungkinan yang terbuka bagi mereka. Mengapa orang harus menghabiskan seluruh hidupnya di satu tempat saja? Mengapa perempuan harus dipaksa beranak di usia belia dan mengorbankan karirnya? Mengapa pernikahan harus diatur—dan dikecualikan bagi kelompok penduduk yang tidak boleh disentuh—sementara di negara lain hubungan keluarga jauh lebih bebas? Mengapa pasrah menerima pemerintahan macam ini jika ada
Separuh kebenaran 7
alternatif lain?
Lasse Berg pun menuliskan otokritiknya:
“Ketika membaca tulisan-tulisan analitis yang dibuat pada tahun 60 dan 70-an, baik yang ditulis oleh kami sendiri selaku pengamat, maupun oleh orang-orang asing maupun penulis- penulis India lain, saya tidak menemukan analisis-analisis tersebut di India saat ini. Dahulu, analisis-analisisnya tersebut seringkali berisi skenario-skenario mengerikan–ledakan jumlah penduduk, kerusuhan, pergolakan atau stagnasi–dan bukan berisikan derap langkah kemajuan yang tenang dan mantap, apalagi modernisasi dalam pemikiran dan cita-cita. Siapa yang dapat mengira sebelumnya, bahwa konsumerisme dapat menjangkau begitu dalam dan luas hingga ke desa-desa? Siapa yang dapat menduga sebelumnya, bahwa ekonomi dan kesejahteraan dapat tumbuh dengan baik? Jika diperhatikan lebih lanjut, gambaran-gambaran masa lalu tersebut memiliki kesamaan: semuanya terlalu membesar-besarkan segala hal yang tidak-normal, yang menakutkan, dan yang tidak pasti (kebanyakan penulis mempunyai kegemaran pribadi dan favoritnya masing-masing) dan, di sisi lain, semuanya terlalu mengecilkan kekuatan normalitas.”4)
Perkembangan yang digambarkan oleh Lasse Berg ini bukan hasil revolusi sosialis, melainkan hasil dari pergerakan dalam beberapa dasawarsa terakhir menuju kebebasan individu yang lebih besar. Kebebasan untuk memilih dan memutuskan dan pertukaran internasional telah tumbuh; investasi dan bantuan pembangunan telah mengirimkan ide serta sumber daya, sehingga memungkinkan negara berkembang untuk mengambil keuntungan dari ilmu pengetahuan, dari kekayaan negara-negara lain, serta dari temuan- temuan mereka. Impor obat-obatan dan sistem kesehatan baru telah
memperbaiki kondisi hidup. Teknologi modern dan metode produksi baru telah meningkatkan hasil produksi dan memperbaiki pasokan makanan. Individu menjadi lebih bebas dalam memilih pekerjaan dan menjual produknya. Dari statistik kita dapat mengatakan bahwa hal ini telah meningkatkan kesejahteraan nasional dan menurunkan kemiskinan penduduk. Tetapi yang terpenting adalah bahwa kebebasan itu sendiri, kemandirian dan martabat manusia yang sebelumnya tertekan, telah dicapai melalui otonomi.
Dengan tersebarnya ide–ide humanis, perbudakan yang hanya beberapa abad sebelumnya masih merupakan fenomena dunia, kini telah berhasil dikalahkan dari satu benua ke benua lain. Di zaman sekarang, perbudakan dalam bentuk ilegal memang masih dijumpai, namun sejak pembebasan jazirah Arab pada 1970, hal tersebut praktis telah dilarang di muka bumi. Kerja paksa a la era pra-kapitalistik tengah tergantikan dengan cepat oleh kebebasan—kebebasan dalam menjalin kontrak dan untuk berpindah ke tempat yang telah dibuka pasar.