PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2010-2014
4.3. KESAKITAN / MORBIDITAS
4.3.1 Sepuluh Besar Penyakit
Meningkatnya umur harapan hidup dan perubahan struktur umur penduduk ke arah usia tua serta perubahan pola dan gaya hidup menyebabkan
0
Jml Kematian (000) 35,1 34,8 37,5 41,5 49,7 64,2
2000 2005 2010 2015 2020 2025
Gambaran 10 (sepuluh) besar penyakit pada tahun 2011 berdasarkan laporan SP2TP tahun 2011 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.5 Sepuluh Besar Penyakit Di Provinsi Lampung Tahun 2011
NO. KODE NAMA PENYAKIT JUMLAH
PENDERITA %
1 (J00) Nasopharyngitis akut (common cold) 83.451 31,30
2 (A09) Diare dan Gastroenteritis 78.905 23,41
3 (A04.9) Infeksi Usus karena bakteri lainnya 30.739 9,12
4 (K29.7) Gastritis 30.016 8,91
5 (J10) Hypertensi 23.762 7,05
6 (J11.8) Influenza 19.613 5,82
7 (J02.9) Pharyngitis Akut 17.824 5,29
8 (M06.9) Rheumatoid Atritis 17.671 5,24
9 (K30) Dispepsia (gangguan fungsi lambung) 17.649 5,24
10 (R50.9) Febris/Demam 17.431 5,17
Sumber : SP2TP 2011
4.3.2 P2 Diare
Penyakit diare masih menjadi masalah yang serius dan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kematian bayi dan balita di negara sedang berkembang termasuk negara Indonesia. Dan merupakan salah satu penyakit yang berpotensial menjadi KLB. Untuk itu perlu penanganan yang serius terutama penemuan kasus sedini mungkin, pengobatan penderita, penggunaan oralit dan dan mengatasi dehidrasi di tingkat rumah tangga. Penanganan tidak hanya dilakukan secara kuratif tetapi juga preventif. Kematian tersebut terbanyak disebabkan oleh kekurangan vitamin A, dehidrasi, disentri dan diare persisten.
UKBM merupakan salah satu bentuk upaya untuk penanggulangan diare.
per 1000 penduduk menjadi 22,58 per 1000 penduduk tahun 2011. Angka ini bila dibandingkan dengan rata-rata nasional, angka ini masih jauh dibawah angka nasional: 374 per 1.000 penduduk. Walaupun angka kesakitan meningkat namun angka kematian atau CFR diare masih dibawah 1%, seperti terlihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.6 Distribusi kasus Diare dan Penggunaan Oralit Tahun 2005–2011
Tahun
Kasus Pengobatan
CFR
(%) IR /1000 Penderita Meninggal Oralit (bungkus) Infus
2005 67.056 3 69.702 1.020 0,004 9,98
2006 151.655 12 619.551 6.320 0,008 20.49
2007 159.929 10 696.910 10.046 0,007 21,94
2008 135.587 13 647.226 7.232 0,010 18,34
2009 148.557 7 97,3% 1,95% 0,005 19,83
2010 158.082 < 1% 20,78
2011 173.691 < 1% 22,58
Sumber : Lap. Evaluasi Program P3PL dan Profil Kesehatan Kab/Kota.
Distribusi angka kesakitan diare per 1000 penduduk di Kabupaten Kota terlihat bahwa angka kesakitan tertinggi ada di Kabupaten Tulang Bawang dan terendah ada di Kabupaten Way Kanan, seperti terlihat pada grafik dibawah ini :
0 10 20 30 40 50
IR 14,36 24,29 28,33 19,23 13,81 20,9 13 39,62 31,12 24,7 29,94 20,19 25,24 33,04 22,58
LB TGM LS LTIM LT LU WK TLB PSW PRING MSJ TLBB BDL MTR Prov
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten kota
4.3.3 P2 DBD
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia pada umumnya dan Provinsi Lampung pada khususnya, dimana kasusnya cenderung meningkat dan semakin luas penyebarannya serta berpotensi menimbulkan KLB.
Angka Kesakitan (IR) selama tahun 2004 – 2011 cenderung berfluktuasi.
Angka kesakitan DBD di Provinsi Lampung tahun 2011 sebesar 17,3 per 100.000 penduduk dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) kurang dari 95% serta CFR lebih dari 1%. CFR selama tiga tahun terakhir terlihat selalu diatas 1% dimana ini menunjukkan bahwa dalam penatalasanaan penderita DBD di sarana pelayanan kesehatan masih belum optimal/baik, seperti terlihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.7 Situasi kasus DBD Provinsi Lampung Tahun 2004 – 2010 Tahun K a s u s
IR/100.000 CFR
(%) ABJ
Penderita Meninggal
2004 912 14 13,19 1,54 64,93
2005 696 10 9,97 1,46 67,61
2006 1.402 14 18.94 1.02 83.77
2007 4.470 24 61,32 0,50 91,21
2009 1.862 20 24,85 1,05 74,93
2010 1.714 29 22,53 1,69 *
2011 1.328 17 17,3 1,3 68,51*
Sumber : Laporan Profil Kesehatan Kab/kota
Ket. : Data ABJ 2011 : 3 Kabupaten tidak ada datanya : LB, TLB, TLBB
Distribusi dari angka kesakitan (IR) DBD di Kabupaten Kota terlihat bahwa angka kesakitan tertinggi ada di Kota Bandar Lampung dan terendah ada di Kabupaten Lampung Timur. CFR tertinggi ada di Kabupaten Lampung Tengah dan Angka Bebas Jentik (ABJ) diKabupaten Tanggamus, seperti terlihat pada grafik dibawah ini :
Grafik 4.13 Distribusi Angka Kesakitan (IR) DBD per 100.000 penduduk, CFR & ABJ Per Kabupaten Kota Se-Provinsi Lampung Tahun 2011
0 50 100 150
IR 4,49 12,9 18,21 3,13 4,56 27,09 9,26 28,34 15,34 38,18 4,22 8,68 46,39 17,68 17,3
CFR 0 0 0 0 7,4 0 0 0 4,9 2,1 0 0 1,7 0 1,3
ABJ 96,57 26,08 79,31 84,93 82,09 63,15 80,18 92,72 38,48 85,95 91,54 68,91
LB TGM LS LTIM LT LU WK TLB PSW PRING MSJ TLBB BDL MTR Prov
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten kota
Di Provinsi Lampung, organisasi yang bergerak dalam pencegahan DBD bernama Pokjanal (Kelompok kerja operasional) DBD. Keberadaan Pokja/Pokjanal DBD yang ada selama ini telah menunjukan peningkatan kinerja yang cukup optimal. Hal ini terlihat bahwa angka bebas jentik mendekati target dan adanya penurunan kasus DBD. Jadi di sini masyarakat harus menganggap bahwa tindakan preventif itu lebih efektif.
kewajiban dari Pokjanal DBD masing-masing daerah. Dan perlu menanamkan bahwa PSN jauh lebih efektif dari tindakan kuratif termasuk fogging yang fungsinya terbatas.
Jadi upaya yang dilakukan untuk pemberantasan DBD yaitu dengan meningkatkan kualitas tatalaksana kasus, menyediakan bahan insektisida dan larvasida, mengoptimalkan peran Pokjanal Pokja DBD yang sudah ada serta mengembangkan peran serta masyarakat termasuk swasta serta LSM, sebagai daerah perlintasan antara Jawa-Sumatera, maka kegiatan surveilans khususnya Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB harus disiagakan dan ditingkatkan kualitasnya di semua jajaran.
Grafik 4.14 Persentase DBD ditangani di Provinsi Lampung tahun 2011
0 50
% 100
% Ditangani 100 99 100 100 100 100 100 100
Target 80 80 80 80 80 80 100 100
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota
Berdasarkan grafik diatas tampak bahwa persentase penderita DBD yang ditangani selama enam tahun 2004-2011 telah mencapai target.
4.3.4 P2 Malaria
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan mempengaruhi angka kesakitan bayi, anak
bidang kesehatan.
Malaria secara epidemiologi merupakan penyakit menular yang lokal spesifik, pada sebagian daerah Provinsi Lampung merupakan daerah endemis yang mempunyai daerah yang berpotensi untuk berkembangnya penyakit malaria seperti daerah-daerah pedesaan yang mempunyai rawa-rawa, genangan air payau di tepi laut dan tambak-tambak ikan yang tidak terurus, kecuali beberapa wilayah di Kabupaten Lampung Barat yang merupakan persawahan dan perkebunan. Oleh karena itu perlu upaya pengendalian untuk menurunkan/menekan masalah malaria.
Gambaran insiden malaria di Provinsi Lampung sampai tahun 2010 menggunakan indikator AMI (Annual Malaria Incidens) yang berdasarkan pada kasus–kasus klinis namun sejak tahun 2011 telah menggunakan indikator API (Annual Paracite Incidens).
Jika dilihat selama 7 tahun (2004-2011) terakhir angka AMI cenderung fluktuatif (Tabel 4.7). AMI Provinsi Lampung tahun 2011 sebesar 1,92 per 1.000 penduduk, angka ini telah berada di bawah target sebesar 5,5 per 1.000 penduduk dan jika dibandingkan dengan angka nasional (<50 ‰) AMI di Provinsi Lampung masih relatif rendah. Sedangkan untuk Annual Paracite Insidence (API) per 1000 penduduk Provinsi Lampung tahun 2011 sebesar 0,5 per 1000 penduduk. Angka ini telah ada di bawah target yang ditetapkan yaitu kurang dari 1 per 1000 penduduk.
Tabel 4.8 Situasi Malaria di Provinsi Lampung tahun 2004-2010 No. Tahun Malaria Klinis AMI (0/00) Periksa
Darah API (0/00)
8 2011 4799 1,92 4136 0,5
Sumber : Seksi P2 bidang P3PL & profil Kesehatan Kab/kota
di Kota Bandar Lampung dan API tertinggi ada di Kabupaten Pesawaran, seperti terlihat pada grafik dibawah ini :
Grafik 4.15 Distribusi Angka Kesakitan Malaria klinis (AMI) dan Mikroskopik (API) per 1.000 penduduk
Per Kabupaten Kota Se-Provinsi Lampung Tahun 2011
0 2 4 6 8 10
AMI 6,32 0,17 0,52 0,19 0,47 0,16 0,56 0 0,49 7,96 1,92
API 0,73 0,2 0,89 0 0,14 0,07 0,2 0,37 4,74 0,08 1,36 0,19 0,23 0,54 0,5
LB TGM LS LTIM LT LU WK TLB PSW PRING MSJ TLBB BDL MTR Prov
Sumber : Profil Kesehatan Kabupaten kota
Persentase Malaria yang di konfirmasi dengan laboratorium dan diobati dengan ACT di Provinsi lampung selama tahun 2007 – 2011 cenderung meningkat, seperti terlihat pada grafik dibawah ini :
Grafik 4.16 Persentase Malaria dengan Konfirmasi Laboratorium &
Diobati ACT Di Provinsi Lampung Tahun 2011
0 20 40 60 80 100
Laboratorium 11 32 57 78 87,5
Diobati ACT 0 33 87 90 93,7
2007 2008 2009 2010 2011
kelompok umur > 15 tahun, seperti terlihat pada grafik dibawah ini :
Grafik 4.17 Distribusi Kasus Malari per Golongan Umur Di Provinsi Lampung Tahun 2008 – 2011
0 1000 2000 3000 4000
2008 136 646 611 670 2460
2009 106 557 613 501 3420
2010 68 266 287 299 2111
2011 64 395 513 439 2933
0-11 bulan 1 - 4 tahun 5 - 9 tahun 10 - 14 tahun > 15 tahun
Sumber : Dinas l Kesehatan Provinsi
Bila dilihat berdasarkan jenis vektor Malaria maka di Provinsi Lampung terdapat 12 species dari nyamuk Anopheles spp yaitu An. Vagus, An, Sundaicus, An. Barbirotris, An. Acconitus, An. Indefinitus, An. Kochi, An. Subpictus. An.
Tesselatus, An. Minimus, An. Maculatus.
Grafik 4.18 API dibandingkan ABER Di Provinsi Lampung Tahun 2011
0 1 1 2 2 3
API 1 0,5 0,4 0,5
ABER 1,5 2 2
2008 2009 2010 2011
Sumber : Profil Kesehatan Kab/Kota.
dibagi jumlah penduduk dikali 100%. Grafik menggambarkan API tahun 2008 – 2010 cenderung menurun demikian pula dengan ABER. Hal ini menunjukkan bahwa kasus malaria di masyarakat semakin menurun.
4.3.5 P2 TB Paru
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberculosis), sebagian besar kuman menyerang ke paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya.
Penyakit TBC masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia, menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, menunjukkan bahwa penyakit TBC merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia serta merupakan penyakit nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi.
Penanggulangan TB Paru dilaksanakan dengan Strategi DOTS sesuai dengan rekomendasi WHO yang terdiri atas 5 komponen: Komitmen politis, diagnosis TB dengan mikroskopis, PMO (pemantau minum obat), kesinambungan ketersediaan OAT (obat anti Tb) dan Pencatatan pelaporan yang baik dan benar.
Dengan adanya program Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) dalam penanggulangan TB Paru maka pengembangan Unit Pelayanan Kesehatan perlu ditingkatkan jumlahnya.
Angka kesakitan (Prevalensi) TB berdasarkan laporan yang masuk dari Kabupaten Kota untuk Provinsi Lampung tahun 2011 sebesar per 100.000 penduduk
Berdasarkan tabel 4.9. dibawah diketahui bahwa angka BTA positif pada tahun 2003-2011 cenderung meningkat, sedangkan angka konversi dan kesembuhan nampak berfluktuatif naik turun. Pada tahun 2011 angka Penemuan Kasus (CDR) TB belum mencapai target >70%, sedangkan untuk angka kesembuhan telah mencapai target > 85.
Tabel 4.9. Situasi P2 TB Paru di Provinsi Lampung tahun 2004-2011 No. Tahun Jumlah BTA+ CDR (%) Konversi
(%) Sembuh (%)
1 2004 2.756 28 85 83
2 2005 3.648 33,7 87 59,64
3 2006 4.611 41,3 85,5 84,80
4 2007 4.539 40,5 87 82,29
5 2008 4.696 39,3 83 82,64
6 2009 4.682 41,3 89,75 85,62
7 2010 5.045 42,34 88,6% 87%
8 2011 5.991 48,68 90,18 88,48
Sumber : Evaluasi Program P3PL
Bila dilihat distribusi pencapaian indikator penemuan kasus (CDR) dan angka kesembuhan terlihat bahwa angka penemuan kasus (CDR) tertinggi ada di
di Kabupaten Mesuji.
Grafik 4.19 Angka Penemuan Kasus (CDR) dan Angka Kesembuhan (CR) TB Per Kabupaten Kota Se-Provinsi Lampung Tahun 2011
0 20 40 60 80 100 120
CDR 30,36 49,92 51,81 36,14 41,91 56,86 77,22 56,25 27,62 39,72 36,25 29,76 72,98 25,96 48,68 CR 79,72 88,96 87,8 90,12 95,27 96,95 90,8 84,28 79,57 89,35 49,3 84,33 88,92 78,46 88,48
LB TGM LS LTIM LT LU WK TLB PSW PRING MSJ TLBB BDL MTR Prov
Sumber : Bidang P3PL Dinkes Provinsi lampung
Dalam upaya peningkatan di masa mendatang, diharapkan peran dari seluruh pihak terkait untuk bersama mengatasi penanggulangan program TBC sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam hal ini peningkatan peran Gerdunas Provinsi dan kab/kota, Pengawas supervisor/wasor kabupaten/kota agar dapat menganalisa PRM/PPM yang mempunyai error rate 5% dan meningkatkan jumlah PRM/PPM yang melakukan cross check, menguatkan jejaring Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan Puskesmas dalam rangka pelaksanaan DOTS.
Penyakit HIV dan AIDS merupakan salah satu penyakit menular seksual yang belum ditemukan obatnya dan mempunyai dampak sosial yang sangat berat.
Salah satu tujuan program Pemberantasan Penyakit Menular Langsung adalah menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan yang diakibatkan oleh penyakit menular langsung dan mencegah penyebaran serta mengurangi dampak sosial akibat penyakit sehingga tidak menjadi masalah kesehatan.
Penyakit Seksual termasuk infeksi HIV dan AIDS merupakan salah satu program yang menjadi prioritas yang dilaksanakan di Provinsi Lampung.
Kegiatan dalam penanggulangan penyakit seksual ini dilaksanakan dengan penemuan dan pengobatan penderita baik secara pasif di puskesmas maupun secara aktif dengan melakukan survey dengan sasaran kelompok resiko tinggi seperti Wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) eks lokalisasi, narapidana, karyawan tempat hiburan, panti pijat, diskotik, siswa sekolah menengah Umum (SMU) dan lain sebagainya.
Jumlah kasus AIDS di Provinsi Lampung selama tahun 2002 – 2011 berfluktuasi dimana semua kasus HIV/AIDS telah ditangani 100%. Gambaran jumlah kasus AIDS pertahun dan kumulatifnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
Grafik 4.20 Jumlah Kasus AIDS pertahun dan kumulatifnya Di Provinsi Lampung Tahun 2011
0 100 200
Kasus per tahun 1 4 7 49 51 41 28 11 29 22
Kasus Kumulatif 1 5 12 61 112 153 181 194 222 233
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Sumber : Evaluasi Bidang P3PL dan Profil Kesehatan Kab/Kota.
grafik dibawah ini :
Grafik 4.21 Distribusi Kasus HIV dan AIDS Per Kabupaten Kota Se-Provinsi Lampung Tahun 2011
0 50 100 150
HIV 8 0 17 8 17 0 3 0 0 13 1 1 59 3 130
AIDS 8 0 1 2 7 0 0 0 1 0 0 0 0 3 22
LB TGM LS LTIM LT LU WK TLB PSW PRING MSJ TLBB BDL MTR Prov
Sumber : Profil Kesehatan kabupaten Kota
Kegiatan penanggulangan HIV & AIDS yang meliputi pencegahan, pelayanan dan penunjang belum semua bisa optimal terlaksana di Provinsi Lampung. Kota Bandar Lampung yang cukup lengkap melaksanakan kegiatan pelayanan, hal tersebut dikarenakan banyak di bantu oleh LSM aktif SSG, JAPAL. Sebagai RS rujukan, RS Abdul Muluk melaksanakan pelayanan: VCT, ART, OI, gizi, paliatif, perawatan laboratorium, dukungan case manajemen, sedangkan RS Jiwa, Puskesmas Panjang, Puskesmas Sukaraja pelayanannya terbatas, hanya melaksanakan VCT (Voluntary Conseling Treatment). LSM SSG, JAPAL selain melakukan VCT, LSM ini juga melakukan home base care, untuk memberikan dukungan terhadap ODHA.
Selain itu dalam rangka mencegah penularan HIV/AIDS melalui produk darah adalah dengan melakukan pemeriksaan atau skrining setiap darah yang didonorkan pada unit transfusi darah, seperti terlihat pada tabel dibawah ini :
NO UNIT TRANSFUSI DARAH
1 UTD RS Liwa 1.172 1.172 100,00 0 0,00
2 UTDRS Kota Agung & RS Panti
Secanti 956 956 100,00 0 0,00
3 UTD PMI Lampung Selatan 1.984 1.984 100,00 0 0,00
4 UTD PMI Lampung Timur 635 635 100,00 0 0,00
5 PMI Lampung Tengah 3.237 3.256 100,59 12 0,37
6 UDD PMI Lampung Utara 1.813 1.813 100,00 2 0,11
7 Way kanan 0 0 0
8 PMI Tulang Bawang 2.520 2.520 100,00 0 0,00
9 Pesawaran 0 0 0
10 UTD Pringsewu 4.148 4.148 100,00 3 0,07
11 Mesuji 0 0 0
12 Tulang Bawang Barat 0 0 0
13 UTD Pembina Bandar Lampung 55.310 55.310 100,00 126 0,23
14 UTDRS PMI Kota metro 5.085 4.885 96,07 17 0,35
JUMLAH PROVINSI 76.860 76.679 99.76 160 0,21