• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lalat Shyrphid Dewasa

Bab 2. Interaksi Serangga dan Tanaman

B. Serangga Phytophagous/Herbivora

Phytophagous atau herbivor didefinisikan sebagai pemakan tumbuhan, serangga adalah pemakan tumbuhan. Berdasarkan hubungannya dengan jumlah taxa tanaman yang dimakan, maka herbivor dibagi atas monophagous terspesialisasi untuk makan satau taxa tanaman. Oligophagous makan pada beberapa, sedangkan Polyphagous adalah generalis yang makana pada banyak taxa tanaman. Tabuhan Cynipidae yang merangsang terjadinya gall pada tanaman fig adalah bentuk monophagous. Semua tabuhan Cynipidae dari tribe Rhodtini meranagsang gall pada bunga mawar, sedangkan tribe Cynipini merangsang gall pada oak. Kupu-kupu monarch Danaus plexipus (Nymphalidae) adalah contoh serangga oligophagous yanag banyak makan dari genus Asclepis.

Sebagian besar tanaman mempunyai kemampuan mempertahankan diri dari herbivore dengan mengembangkan beberapa strategi, begitupula herbivora mempunyai ofensif terhadap pertahanan diri tanaman (Karban & Agrawal, 2002) (Tabel 2.1). Tabel 2.1 Kemungkinan interaksi antara tanaman dan serangga

Tanaman Herbivor

Respon Possible offense

Resisten Probable offense

Pertahanan (defense) Offense

Adaptive offense

Pada dasarnya mekanisme pertahanan diri tanaman terhadap herbivora dapat dibedakan menjadi (i) pertahanan kemikal, (ii) pertahanan mekanik dan (iii) pertahanan secara tidak langsung. Pertahanan kemikal yang dimiliki oleh tanaman adalah adanya senyawa sekunder metabolik atau allelokemikal chemickal atau noxius

phytochemicals. Senyawa sekunder metabolik seperti phenolic atau tannin, senyawa

terpenoid, alkaloid, cyanogenik, glukosida dan sulfur yang mengandung glukosinolat. Sebagai senyawa pertahanan diri bagi herbivor, maka senyawa sekunder metabolik bekerja dalam dua jalan yaitu level perilaku yanag membuat serangga datang (attract) atau pergi (repel) atau mencegah serangga meletakkan telur dan level fisiologis yang

21 Rekayasa Agroekosistem dan Konservasi Musuh Alami

menjadi racun bagi serangga atau mengurangi nilai nutrisi. Senyawa sekunder metabolik mungkin membuat sebuah spesis serangga pergi, akan tetapi akan membuat spesies lain akan datang sebagai bentuk respon serangga aterhadap senyawa pertahanan tersebut dalam bentuk toleransi senyawa tersebut, kemampuan detoksifikasi atau serangga mampu memecahkan/memisahkan senyawa tersebut.

Sebagai contoh kupu-kupu Danaus plexippus selalu meletakkan telur pada tanaman milkweed yang banyak mengandung senyawa cardiac glycosides, dimana larva kupu-kupu ini mampu memecahkan senyawa tersebut menjadi senyawa anti predator.

Senyawa sekunder metabolik dapat dikategorikan menjadi dua berdasarkan pengaruh kerja biokiminya yaitu (i) Kualitatif ataua toksik dan (ii) kuantitataif. Senyawa sekunder metabolik yang toksik dalam konsentrasi yang rendah adalah alkaloid, sianogenik glikosida, sedangkan senyawa yang bekerja efektif dalam jumlah besar seperti tannin, resin dan silika. Akan tetapi serangga yang terspesialisasi makan tanaman yang mengandung beberapa senyawa sekunder metabolik, maka senyawa tersebut bertindak sebagai Phagostimulan.

Kenampakan sebuah tanaman oleh serangga atau apparansi (apprancy) juga diyakini sebagai faktor mengapa serangga datang. Tanaman yang tinggi seperti pohon-pohon akan lebih mudah terlihat oleh serangga dibandingkan dengan tanaman semak, tanaman yang kecil. Tanaman yanag tinggi (apparent plant) atau mudah nampak umumnya mengandung kuantitaif sekunder metabolik (kategori yang ke-2), sedangkan tanaman kecil umumnya banyak mengandung senyawa kualitatif (kategori yang ke-1). Sisitem monokultur pertanian yang dibuat oleh manusia membuat tanaman yang tidak nampak (unapparent plant) menjadi terekspose oleh serangga, sehingga mudah mengalami kerusakan tanaman pada sistim monokultur.

Adanya kandungan nutrisi, air pada tanaman juga menyebabkan tanaman didatangi oleh serangga. Teori menyatakan bahwa serangga akan lebih preferen pada tanaman stress. Akan tetapi serangga juga lebih preferen pada tanaman yang kaya nutrisi.

22

Bab 2. Interaksi Serangga dan Tanaman

Mekanisme pertahanan mekanik tanaman terhadap serangga lebih merupakan modifikasi dari struktur morfologi dari tanaman itu sendiri seperti lapisan lilin, struktur spines, struktur yang tajam pada pohon , dan kelenjar rekat (sticky gland). Ada juga yang menarik yaitu adanya epidermis yang berkembang termodifikasi menjadi trikoma.

Lapisan lilin, trikoma, dan struktur morfologi permukaan daun, bagi tanaman mempunyai beberapa fungsi yaitu (i) mengurangi desikasi, (ii) mencegah UV, (iii) perekat bagi tanaman merambat dan (iv) adalah sebagai mekanisme pertahanan diri dari serangga herbivore. Strukutr morofologis pada beberapa serangga seperti trikoma juga dapat mengandung senyawa yang berbahaya bagi serangga seperti adanya senyawa lengket yang dapat memerangkap serangga atau senyawa toksis yang mematikan seperti

glandula trichomes.

Serangga herbivor berdasarkan pada bagaimana dia makan, maka dapat dikategorikan menjadi 6 (Scoonhoven et al., 1998):

1. Serangga pengunyah (chewing type) yang memakan makanan tanaman atau bagian tanaman (batang, daun, akar, bunga) dengan cara menggigit dan mengunyah karena dengan adanya mandibula pada alat mulutnya. Serangga-serangga yang termasuk dalam kategori ini adalah belalang, kumbang, larva Lepidoptera, larva symphita (Hymenoptera), Ordo Phasmatodea. Serangga pengunyah juga masih dibedakan lagi menjadi serangga defoliasi Ulat dari ordo Lepidoptera & Hymnoptera Symphita, Orthoptera), Pemakan khusus karena aktivitas makannya mempunyai karakteristik gejala karena perilaku makannya seperti (i) skeletonizer (memakan jaringan di antara tulang daun : beberapa kumbang daun, kumbang moncong dan kumbang scarabidae; larva lepidoptera), (ii) pembuat lubang yang membuat lubang pada daun atau sering dikenal sebagai

pit, dan (iii) pembuat sarang (pembentuk kantong; penggulung daun)

2. Serangga pengisap. Yang memakan tanaman dengan cara mengisap cairan tanaman karena mempunyai alat mulut pencucuk penghisap. Sebagian besar serangga dalam kategori ini adalah ordo Hemiptera, Auchenorhyncha, Stenorhyncha, Thysanoptera dan beberapa tungau. Gejala yang ditimbulkan akibat serangan herbivor tipe ini adalah (i) distorsi tanaman (matinya sel, keriting,

23 Rekayasa Agroekosistem dan Konservasi Musuh Alami

melekuk) (ii) deposit excrement: embun madu, jelaga jamur, dan (iii) diskolorisasi daun: klorosis .

3. Pengorok dan penggerek adalah serangga yang memakan tanaman dari bagian dalam. Pengorok memakan dan hidup di antara dua lapisan epidermis daun. Kenampakan luar dari perilaku makan ini adalah adanya liang-liang korokan (mines). Berdasarkan bentuk korokannya, maka dibedakan menjadi (i)

Serpentine miner yaitu korokan yang secara gradual bertambah ukurannya, (ii) blotch mines yaitu korokan yang berbentuk oval, lingkaran, tak beraturan bentuk,

dan (iii) Comma mines yaitu korokan yang berbentuk liang-liang seperti

serpentine pada awalnya tapi berakhir seperti blotch. Serangga pengorok

umumnya dari ordo Diptera, Lepidoptera, Coleoptera dan Hymenoptera. Sedangkan serangga penggerek mempunyai perilaku makan dengan memakan jaringan kayu seperti pada penggerek batang, penggerek kayu dan penggerek buah Ordo Coleoptera dan Lepidoptera bertindak sebagai penggerek pada batang, kayu dan buah pada berbagai tanaman.

4. Pembentuk Puru atau Gall. Serangga ini membentuk struktur yang unik, mengalami hipertropi. Sering puru dihasilkan dari serangan patogen seperti jamur, virus, bakteri dan nematoda, akan tetapi serangga dapat menyebabkan terjadinya puru. Ilmu yang mempelajari terjadinya puru pada tanaman disebut cecidologi. Puru yang diakibatkan oleh binatang (serangga, tungau dan nematoda) disebut cecidozoa. Ada tiga ordo serangga yang menyebabkan puru pada tanaman yaitu Hemiptera, Diptera dan Hymenoptera. Lebih dari 2 % serangga yang telah teridentifikasi adalah pembuat puru atau kira-kira 13000 spesies.

24

Bab 2. Interaksi Serangga dan Tanaman