PROFIL KUALITAS NUTRISI PASCA FERMENTASI
3.2 Profil Kualitas Nutrisi Limbah Buah Durian Fermentasi .1. Pengaruh Komposisi Inokulum
3.2.1.2 Serat Kasar, Selulosa, Lignin dan Hemiselulosa
Serat kasar merupakan karbohidrat yang susah dicerna oleh manusia dan ternak non ruminansia. Komponen
penyusun serat kasar adalah selulosa, hemiselulosa, lignin dan silika. Penurunan serat kasar, selulosa, lignin dan peningkatan hemiselulosa produk limbah buah durian fermentasi dengan Phanerochaete chrysosporiumdanNeurospora crassadapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Penurunan serat kasar, selulosa, lignin dan peningkatan hemiselulosa limbah buah durian fermentasi denganPhanerochaete chrysosporiumdan Neurospora crassa.
Perlakuan
Penurunan Peningkatan
Serat Kasar Selulosa Lignin Hemiselulosa --- % ______ Komposisi Pc dan Nc (1:1) Komposisi Pc dan Nc (2:1) Komposisi Pc dan Nc (1:2) 33,99a 32,41a 6,03a 47,97a 35,74a 34,18a 6,11a 49,95a 25,87b 23,40b 4,54b 34,77b SE 1,39 1,49 0,15 1,73 Keterangan: Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang
sama berpengaruh berbeda nyata (P<0.05)
Penurunan serat kasar, selulosa dan lignin lebih tinggi pada komposisi inokulum Phanerochaete chrysosporium dan Neurospora crassa, perbandingan 1:1, dan perlakuan B (komposisi inokulum Phanerochaete chrysosporium dan Neurospora crassa, perbandingan 2:1) disebabkan perlakuan tersebut menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium yang (bersifat selulolitik dan lignolitik) sehingga lebih banyak menghasilkan enzim selulase dan ligninase untuk
menghasilkan enzim amilase, selulase, dan protease (Nuraini, 2006).
Ditinjau dari segi retensi nitrogen juga tinggi pada perlakuan LBDF dengan Phanerochaete chrysosporium dan Neurospora crassa perbandingan 1:1) yaitu 66,07%.
Retensi nitrogen tinggi menunjukkan bahwa kualitas protein pada substrat tersebut lebih baik dari pada dua perlakuan lainnya. Hal ini didukung oleh Wahju (1997) mengemukakan bahwa retensi nitrogen dipengaruhi oleh daya cerna protein, kualitas protein dan keseimbangan konsumsi nitrogen serta energi metabolisme dalam ransum.
Tingginya retensi nitrogen juga berkaitan dengan jumlah protein kasar yang dikonsumsi juga tinggi. Konsumsi protein pada komposisi inokulum Pc dan Nc (1:1) yaitu 2,86 gram/ekor. Hal ini berkaitan dengan kandungan protein kasar yang lebih tinggi setelah difermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium dan Neurospora crassa 1:1, yaitu 14,30%. Konsumsi protein kasar yang tinggi mengakibatkan semakin banyak protein yang dicerna sehingga banyak yang ditinggalkan didalam tubuh akibatnya persentase retensi nitrogen meningkat.
3.2.1.2 Serat Kasar, Selulosa, Lignin dan Hemiselulosa
Serat kasar merupakan karbohidrat yang susah dicerna oleh manusia dan ternak non ruminansia. Komponen
penyusun serat kasar adalah selulosa, hemiselulosa, lignin dan silika. Penurunan serat kasar, selulosa, lignin dan peningkatan hemiselulosa produk limbah buah durian fermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium danNeurospora crassadapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Penurunan serat kasar, selulosa, lignin dan peningkatan hemiselulosa limbah buah durian fermentasi denganPhanerochaete chrysosporiumdan Neurospora crassa.
Perlakuan
Penurunan Peningkatan
Serat Kasar Selulosa Lignin Hemiselulosa --- % ______ Komposisi Pc dan Nc (1:1) Komposisi Pc dan Nc (2:1) Komposisi Pc dan Nc (1:2) 33,99a 32,41a 6,03a 47,97a 35,74a 34,18a 6,11a 49,95a 25,87b 23,40b 4,54b 34,77b SE 1,39 1,49 0,15 1,73 Keterangan: Superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang
sama berpengaruh berbeda nyata (P<0.05)
Penurunan serat kasar, selulosa dan lignin lebih tinggi pada komposisi inokulum Phanerochaete chrysosporium dan Neurospora crassa, perbandingan 1:1, dan perlakuan B (komposisi inokulum Phanerochaete chrysosporium dan Neurospora crassa, perbandingan 2:1) disebabkan perlakuan tersebut menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium yang (bersifat selulolitik dan lignolitik) sehingga lebih banyak menghasilkan enzim selulase dan ligninase untuk
mendegradasi selulosa dan lignin dengan demikian serat kasar, selulosa dan lignin menjadi lebih rendah.
Menurut Dhawale and Kathrina (1993) dan Howard et al.(2003) kapang Phanerochaete chrysosporium dapat mendegradasi lignin dan senyawa turunannya secara efektif dengan cara menghasilkan enzim peroksidase ekstraselular yang berupa lignin peroksidase dan mangan peroksidase. Kapang Phanerochaete chrysosporium merupakan kapang pelapuk putih yang mampu mendegradasi komponen lignoselulosa secara selektif, merombak lignin terlebih dahulu kemudian diikuti oleh selulosa (Toumelaet al., 2002).
Disamping itu kapang Neurospora crassa juga menghasilkan enzim selulase walaupun dalam jumlah sedikit, yang bisa merombak selulosa. KapangNeurospora crassadapat menghasilkan enzim amilase, enzim selulase dan protease (Nuraini, 2006).
Tingginya penurunan selulosa pada perlakuan komposisi inokulum Pc dan Nc (1:1) dan (2:1) disebabkan tampak secara visual pertumbuhan kapang yang subur dan merata (Phanerochaete chrysosporium bewarna putih dan Neurospora crassa bewarna orange) pada seluruh substrat. Kapang yang banyak tumbuh lebih banyak selulosa yang dirombak. Ini berkaitan dengan kapang Phanerochaete chrysosporium bersifat selulolitik, sehingga lebih banyak menghasilkan enzim selulase untuk mendegradasi selulosa yang mengakibatkan selulosa turun. Disamping itu kapang Neurospora crassajuga menghasilkan enzim selulase walaupun dalam jumlah yang sedikit yang bisa merombak selulosa. Kapang Neurospora crassadapat menghasilkan enzim amilase, selulase, dan protease (Nuraini, 2006).
Tingginya penurunan lignin karena lebih banyak menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium yang (bersifat lignolitik), sehingga lebih banyak menghasilkan enzim ligninase yang dapat mendegradasi lignin dengan demikian lignin menjadi lebih rendah. Menurut Dhawale dan Kathrina (1993) dan Howardet al.(2003) kapangPhanerochaete chrysosporium dapat mendegradasi lignin dan senyawa turunannya secara efektif dengan cara menghasilkan enzim peroksidase ekstraselular yang berupa lignin peroksidase dan mangan peroksidase.
Tingginya peningkatan hemiselulosa karena selulosa dan ligninnya rendah disamping itu juga terlepasnya ikatan lignin dengan hemiselulosa, sehingga kandungan hemiselulosa meningkat. Hemiselulosa diperoleh dari hasil NDF (hemiselulosa, selulosa dan lignin) dikurang dengan ADF (selulosa dan lignin). Menurut Taherzadeh (1999) hemiselulosa mengikat lembaran serat selulosa membentuk mikrofibril yang meningkatkan stabilitas dinding sel serta hemiselulosa juga berikatan silang dengan lignin membentuk jaringan komplek dan memberikan struktur yang kuat.
3.2.2 Kecernaan Serat Kasar
Kecernaan serat kasar tinggi dari limbah buah durian yang difermentasi dengan komposisi inokulum kapang Phanerochaete chrysosporiumdanNeurospora crassa(1:1) dan (2:1) yang dapat dilihat pada Tabel 7. Ini berkaitan dengan kandungan serat kasar yang juga lebih rendah 14,76% dan 14,35% .
mendegradasi selulosa dan lignin dengan demikian serat kasar, selulosa dan lignin menjadi lebih rendah.
Menurut Dhawale and Kathrina (1993) dan Howard et al.(2003) kapang Phanerochaete chrysosporium dapat mendegradasi lignin dan senyawa turunannya secara efektif dengan cara menghasilkan enzim peroksidase ekstraselular yang berupa lignin peroksidase dan mangan peroksidase. Kapang Phanerochaete chrysosporium merupakan kapang pelapuk putih yang mampu mendegradasi komponen lignoselulosa secara selektif, merombak lignin terlebih dahulu kemudian diikuti oleh selulosa (Toumelaet al., 2002).
Disamping itu kapang Neurospora crassa juga menghasilkan enzim selulase walaupun dalam jumlah sedikit, yang bisa merombak selulosa. KapangNeurospora crassadapat menghasilkan enzim amilase, enzim selulase dan protease (Nuraini, 2006).
Tingginya penurunan selulosa pada perlakuan komposisi inokulum Pc dan Nc (1:1) dan (2:1) disebabkan tampak secara visual pertumbuhan kapang yang subur dan merata (Phanerochaete chrysosporium bewarna putih dan Neurospora crassa bewarna orange) pada seluruh substrat. Kapang yang banyak tumbuh lebih banyak selulosa yang dirombak. Ini berkaitan dengan kapang Phanerochaete chrysosporium bersifat selulolitik, sehingga lebih banyak menghasilkan enzim selulase untuk mendegradasi selulosa yang mengakibatkan selulosa turun. Disamping itu kapang Neurospora crassajuga menghasilkan enzim selulase walaupun dalam jumlah yang sedikit yang bisa merombak selulosa. Kapang Neurospora crassadapat menghasilkan enzim amilase, selulase, dan protease (Nuraini, 2006).
Tingginya penurunan lignin karena lebih banyak menggunakan kapang Phanerochaete chrysosporium yang (bersifat lignolitik), sehingga lebih banyak menghasilkan enzim ligninase yang dapat mendegradasi lignin dengan demikian lignin menjadi lebih rendah. Menurut Dhawale dan Kathrina (1993) dan Howardet al.(2003) kapangPhanerochaete chrysosporium dapat mendegradasi lignin dan senyawa turunannya secara efektif dengan cara menghasilkan enzim peroksidase ekstraselular yang berupa lignin peroksidase dan mangan peroksidase.
Tingginya peningkatan hemiselulosa karena selulosa dan ligninnya rendah disamping itu juga terlepasnya ikatan lignin dengan hemiselulosa, sehingga kandungan hemiselulosa meningkat. Hemiselulosa diperoleh dari hasil NDF (hemiselulosa, selulosa dan lignin) dikurang dengan ADF (selulosa dan lignin). Menurut Taherzadeh (1999) hemiselulosa mengikat lembaran serat selulosa membentuk mikrofibril yang meningkatkan stabilitas dinding sel serta hemiselulosa juga berikatan silang dengan lignin membentuk jaringan komplek dan memberikan struktur yang kuat.
3.2.2 Kecernaan Serat Kasar
Kecernaan serat kasar tinggi dari limbah buah durian yang difermentasi dengan komposisi inokulum kapang Phanerochaete chrysosporiumdanNeurospora crassa(1:1) dan (2:1) yang dapat dilihat pada Tabel 7. Ini berkaitan dengan kandungan serat kasar yang juga lebih rendah 14,76% dan 14,35% .
Tabel 7. Kecernaan serat kasar Perlakuan
_____________________________
Kecernaan Serat Kasar (%) _____________________
Pc dan Nc (1:1) 57,91a
Pc dan Nc (2:1) 59,36a
Pc dan Nc (1:2) 50,07b
SE 1,84
Keterangan : Superskrip yang berbeda berpengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01)
Rendahnya kandungan serat kasar disebabkan kandungan lignin dan selulosa yang terkandung dalam LBDF dipecah oleh enzim ligninase dan selulase yang diekskresi oleh kapang Phanerochaete chrysosporium sehingga lebih mudah dicerna dan kecernaan meningkat.
Menurut Wahyu (1997) semakin rendah kandungan serat kasar pada bahan pakan maka semakin tinggi kecernaan serat kasar bahan pakan tersebut. Makanan yang mengalami fermentasi biasanya mempunyai nilai gizi yang lebih baik dari bahan asalnya disebabkan mikroorganisme bersifat katabolik atau memecah komponen yang komplek menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dicerna (Winarno dkk, 1980). Tingginya kecernaan serat kasar juga disebabkan kandungan hemiselulosa yang tinggi. Hemiselulosa adalah karbohidrat yang mudah dicerna, sehingga dapat meningkatkan kecernaan serat kasar.
3.3. Profil Kualitas Nutrisi Limbah Buah Kopi Fermentasi