• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sertifikat Hak Milik Nomor: 300 atas nama Josner Munthe yang diterbitkan

Mahkamah Agung Republik Indonesia

DALAM POKOK PERKARA :

D. Sertifikat Hak Milik Nomor: 300 atas nama Josner Munthe yang diterbitkan

oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Karo

- Bahwa menyimak permasalahan tersebut setelah dihubungkan dengan isi “surat keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor 350/MPP/Kep/ 12/2001tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK terutama Pasal 16 jo. Pasal 17 huruf b menyimpulkan: masalah yang diselesaikan oleh BPSK Batubara telah berada “di luar” kewenangan yang diberikan kepadanya, sebab yang terjadi adalah hubungan“Perjanjian Kredit Modal Kerja” merupakan sengketa atau perkarayang termasuk dalam ruang lingkup hukum perdata yang menjadi kewenangan Peradilan Umum”;

- Bahwa Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batu Bara No. 504/Arbitrase/BPSK-BB/VIII/2016 tanggal 10 Oktober 2016 yang mengabulkan gugatan Termohon Keberatan nyata-nyata bukanlah pemenuhan Ganti rugi dan Sanksi administratif berupa penetapan ganti rugi sebagaimana yang diamanatkan oleh ketentuan yang berlaku dan dengan demikian BPSK Batu Bara telah mengeluarkan putusan yang melebihi kewenangan yang diberikan undang-undang (vide Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 336 K/Pdt.Sus/2012 tanggal 25 Juli 2012 yang mana dalam salah satu pertimbangannya menyatakan : “bahwa sesuai ketentuan yang mengatur tentang kewenangan BPSK untuk menjatuhkan putusan adalah terbatas hanya untuk sanksi administratif dan ganti

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman32dari41Putusan Nomor 62/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Kbj.

rugi, sedangkan penjatuhan sanksi berupa perintah untuk melakukan perubahan perbaikan iklan ataupun menarik seluruh iklan di seluruh Indonesia adalah tidak berdasar hukum karena telah melebihi kewenangan yang diberikan oleh undang-undang” ;

- Bahwa hubungan hukum Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan adalah dengan adanya Perjanjian i.c. PERSETUJUAN MEMBUKA KREDIT No. 029/KC-05-APK/KAL/2012 tanggal 25 April 2012 dan PERSETUJUAN MEMBUKA KREDIT No. 022/KC-05-APK/KRK/2014 tanggal 29 April 2014 yang terjadi antara Pemohon Keberatan dengan Termohon Keberatan (yang diketahui juga oleh istri Termohon Keberatan) dan ternyata kemudian Termohon Keberatan telah melakukan perbuatan ingkar janji (wanprestasi) atas Perjanjian Kredit i.c. PERSETUJUAN MEMBUKA KREDIT No. 029/KC-05-APK/KAL/2012 tanggal 25 April 2012 dan PERSETUJUAN MEMBUKA KREDIT No. 022/KC-05-APK/KRK/2014 tanggal 29 April 2014 yang mana perbuatan ingkar janji (wanprestasi) Termohon Keberatan adalah pokok sengketa dalam perkara a quo ; - Bahwa dengan demikian BPSK Batu Bara tidak mempunyai wewenang untuk memeriksa dan memutus permasalahan antara Pemohon Keberatan dan Termohon Keberatan i.c. perbuatan ingkar janji (wanprestasi) yang dilakukan oleh Termohon Keberatan atas Perjanjian Kredit i.c. PERSETUJUAN MEMBUKA KREDIT No. 029/KC-05-APK/KAL/2012 tanggal 25 April 2012 dan PERSETUJUAN MEMBUKA KREDIT No. 022/KC-05-APK/KRK/2014 tanggal 29 April 2014 (vide Putusan Mahkamah Agung R.I. No. 94 K/Pdt.Sus/2012 tanggal 2 Mei 2012, yang dalam pertimbangannya menyatakan : ”Bahwa meskipun demikian dalam perkara a quo BPSK tidak berwenang melakukan pemeriksaan atas gugatan Penggugat karena pokok sengketa dalam perkara a quo adalah mengenai ingkar janji (wanprestasi) perjanjian investasi atau contractual case sehingga bukan sengketa konsumen sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 8-18 UU Perlindungan Konsumen”);

Menimbang, bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 651 K/Pdt.Sus-BPSK/2013, tanggal 5 Maret 2014; Putusan Mahkamah AgungNomor 472 K/Pdt.Sus-BPSK/2014, tanggal 17 Februari 2015 dan Putusan Mahkamah Agung Nomor 572 K/Pdt.Sus-BPSK/2014, tanggal 18 Nopember 2014, Mahkamah Agung berpendapat bahwa BPSK tidak mempunyai kewenangan dalam memeriksa dan mengadili hubunganPerjanjian yang merupakan sengketa atau perkarayang termasuk dalam ruang lingkup hukum perdata sehingga menjadi kewenangan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman33dari41Putusan Nomor 62/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Kbj.

Peradilan Umum, dengan demikian Majelis Hakim sependapat dengan pendapat Mahkamah Agung tersebut;

Menimbang, bahwa para pihak di dalam “Akta Persetujuan Membuka Kredit” telah bersepakat memilih Pengadilan Negeri Medan apabila timbul perselisihan, sehingga klausula pemilihan forum ini harus ditaati karena perjanjian adalah mengikat para pihak yang membuatnya. Klausula pemilihan forum tidak termasuk klausula yang dilarang dalam hubungan debitur dan kreditur, tidak ada alasan hukum untuk menyimpangi klausula pemilihan forum itu;

Menimbang bahwa yang menjadi masalah pokok dalam permohonan keberatan dari Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha adalah Pemohon Keberatan menolak Pertimbangan dan Putusan BPSK Kabupaten Batu Bara No. :504/Arbitrase/BPSK-BB/VIII/2016tanggal10 Oktober 2016, dengan alasan pokok bahwa :

- Pemohon Keberatan tidak pernah memberikan persetujuan baik secara lisan maupun tertulis kepada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batu Bara, untuk menyelesaikan permasalahan/perselisihan dengan Termohon Keberatan baik secara Mediasi, Konsiliasi, bahkan Arbitrase.

- Permasalahan yang terjadi adalah Termohon Keberatan telah melakukan ingkar janji/wanprestasi terhadap perjanjian kredit antara Termohon Keberatan/Konsumen dengan Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha;

- Pemohon Keberatan in casu PT. Bank Sumut Cabang Kabanjahe telah memberikan fasilitas kredit kepada Termohon Keberatan, dengan memberikan persetujuan membuka kredit (vide bukti P-1 dan bukti P-6), akan tetapi kredit yang diberikan kepada Termohon keberatan/Konsumen. Setelah mendapat Surat peringatan sehingga Pemohon Keberatan telah mengajukan permohonan lelang kepada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Medan;

- Sehubungan dengan pelaksanaan lelang tersebut di atas yang telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tiba-tiba Termohon Keberatan mengadukan permasalahan tersebut kepada BPSK Batubara. Bahwa para pihak intinya bahwa telah memilih tempat kedudukan hukum (domisili) yang tetap dan umum di Kantor Panitera Pengadilan Negeri di Medan, sehingga berdasar pada Pasal 1338 KUHPerdata disebutkan : “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.” Sebagai warga negara yang baik Pemohon Keberatan harus mematuhi undang-undang, sehingga Pemohon Keberatan tidak menyetujui baik secara lisan maupun

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman34dari41Putusan Nomor 62/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Kbj.

tertulis untuk menyelesaikan permasalahan atau sengketa kepada BPSK Batu Bara, akan tetapi BPSK Batu Bara malah memanggil Pemohon Keberatan guna hadir untuk Sidang Arbitrase serta beberapa lagi panggilan dengan maksud tersebut kepada Pemohon Keberatan, sehingga sesuai dengan Pasal 52 huruf a UUPK Jo. Pasal 4 Kepmen Perindag 350/2001 bahwa alternatif dan penyelesaian sengketa konsumen di BPSK adalah melalui cara arbitrase, mediasi, atau konsiliasi berdasarkan pilihan dan persetujuan para pihak, alternatif penyelesaian tersebut bukan merupakan proses penyelesaian sengketa secara berjenjang sehingga hanya dapat dipilih salah satu alternatif penyelesaian berdasarkan persetujuan Para Pihak. Dengan demikian mengacu pada ketentuan tersebut di atas, BPSK Batu Bara tidak berwenang menyelesaikan permasalahan atau sengketa tersebut oleh karena tidak ada persetujuan baik secara lisan maupun tertulis sama sekali dari Pemohon Keberatan, apalagi menjatuhkan putusan terhadap sengketa tersebut sehingga putusan BPSK No. : 504/Arbitrase/BPSK-BB/VIII/2016tanggal 10 Oktober 2016 telah cacat hukum dan tidak sesuai dengan ketentutan yang berlaku maupun fakta-fakta hukum yang sebenarnya terjadi;

- Sehingga Pemohon Keberatan memohon kepada Majelis Hakim agar menyatakan Putusan Majelis Hakim BPSK Kabupaten Batu Bara No. : 504/Arbitrase/BPSK-BB/VIII/2016tanggal 10 Oktober 2016 batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum;

Menimbang, bahwa setelah meneliti Permohonan keberatan a quo, maka masalah yang dipersoalkan oleh Pemohon Keberatan/Pelaku Usahaadalah BPSK Batu Bara tidak berwenang menyelesaikan permasalahan atau sengketa tersebut oleh karena perbuatan dari Termohon Keberatan/Konsumen merupakan perbuatan ingkar janji/wanprestasi karena Termohon Keberatan tidak melakukan kewajibannya sebagaimana yang telah disepakati dalam perjanjian dan Pemohon Keberatan telah melakukan upaya sesuai dengan hukum dengan mengingatkan kewajiban Termohon Keberatan/Konsumen, sehingga menurut Majelis Hakim permohonan keberatan a quotelah diajukan oleh Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha atas dasar alasan lain diluar ketentuan sebagaimana dimaksud Pasal 6 Ayat (3)Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2006, sehingga berdasarkan ketentuan Pasal 6 Ayat (5)Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2006, maka Majelis Hakim dapat mengadili sendiri sengketa konsumen yang bersangkutan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman35dari41Putusan Nomor 62/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Kbj.

Menimbang, bahwa atas keberatan dari Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha tersebut diatas, Termohon Keberatan/Konsumen telah mengajukan jawabannya yang pada pokoknya, sebagai berikut :

- Bahwa menurut Undang-undang Nomor : 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pada Pasal 54 ayat (4) Yo Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK} pada Pasal 36 butir (2). yang menyebutkan:"Bilamana pada persidangan ke II (kedua) Konsumen tidak hadir. Maka gugatannya dinyatakan gugur demi hukum. Sebaliknya jika Pelaku Usaha vang tidak hadir. Maka gugatan konsumen dikabulkan oleh Majelis Hakim tanpa kehadiran Pelaku Usaha (VERSTEK)”

- Bahwa pengajuan permohonan “Parate Eksekusi” melalui Perantara Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Medan yang akan dan/atau telah dilakukan Pemohon Keberatan adalah merupakan cacat hukum dan tidak sah karena untuk menjual objek Hak Tanggungan harus ada berdasarkan Pasal 26 Undang-undang Hak Tanggungan Nomor : 4 Tahun 1996 yang mengaturnya dengan memperhatikan Pasal 14 Peraturan mengenai Eksekusi Hyphoteek yang ada mulai berlakuknya Undang-undang ini, berlaku terhadap Eksekusi Hak Tanggungan, Sehingga selama belum ada Peraturan yang Mengatur tentang Pelaksanaan Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan tersebut, Maka Eksekusi Hyphoteek yang berlaku yaitu harus melalui Pengadilan Negeri setempat, atau dengan kata lain "Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan tidak dapat berdiri sendiri karena Pasal 26 Undang-undang Hak Tanggungan sebagai Pasal Pelaksananya" dan oleh karena Pelaksanaan atau hukum acaranya dari Pasal 26 Undang- undang Hak Tanggungan adalah merujuk pada Pasal 224 H1R/258 Rbg. Maka Pelaksanaan Eksekusinya maupun Lelangnya harus melalui Fiat Eksekusi melalui Pengadilan Negeri, Bukan Melalui Perantara Kantor Pelayanan dan Kekayaan Negara dan Lelang(KPKNL).

Menimbang, bahwa dari segala alasan yang menjadi dasar pengajuan permohonan keberatan dari Pemohon Keberatan/Pelaku Usahamaupun jawaban dari Termohon Keberatan/Konsumen tersebut diatas, maka sebelum mempertimbangkan perihal masalah pokok sehingga Josner Munthe selaku Konsumen mengajukan sengketa konsumen kepada BPSK Batu Bara, maka

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman36dari41Putusan Nomor 62/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Kbj.

Majelis Hakim memandang perlu terlebih dahulu menilai pokok alasan yang menjadi dasar keberatan dari Pemohon Keberatan/Pelaku Usaha, yaitu :

- Apakah BPSK Batu Bara berwenang untuk memeriksa sengketa konsumen in casu, meskipun PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (Bank Sumut) Cabang Kabanjahe, selaku Pelaku Usaha tidak pernah memberikan persetujuan baik secara lisan maupun tertulis kepada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kabupaten Batu Bara, untuk menyelesaikan permasalahan/perselisihan dengan Termohon Keberatan baik secara Mediasi, Konsiliasi, bahkan Arbitrase?

- Apakah Majelis Hakim BPSK Kabupaten Batu Bara berwenang untuk memeriksa dan memutus sengketa konsumen in casu?

Menimbang, bahwa menurut Pasal 2 KepMenPerindag Nomor: 350 Kep/MPP/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK, bahwa BPSK berfungsi untuk menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen di luar pengadilan, dimana dalam Pasal 3 huruf (a) disebutkan bahwa dalam melaksanakan fungsi tersebut, BPSK mempunyai tugas dan wewenang : melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara konsiliasi, mediasi atau arbitrase;

Menimbang, bahwa penyelesaian sengketa konsumen oleh BPSK melalui cara konsiliasi, mediasi atau arbitrase dilakukan atas dasar pilihan dan persetujuan para pihak yang bersangkutan (vide Pasal 4 huruf (a) KepMenPerindag Nomor: 350 Kep/MPP/12/2001 tentang pelaksanaan tugas dan wewenang BPSK);

Menimbang, bahwa selanjutnya dalam bagian ketiga tentang persidangan dengan arbitrase pada Pasal 32 ayat (1) KepMenPerindag Nomor: 350 Kep/MPP/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK, diatur bahwa dalam penyelesaian sengketa konsumen dengan cara arbitrase, para pihak memilih arbitor dari anggota BPSK yang berasal dari unsur pelaku usaha dan konsumen sebagai anggota Majelis;

Menimbang, bahwa dari beberapa ketentuan tersebut diatas, Majelis Hakim berpendapat bahwa antara Pasal 4 huruf (a) dengan Pasal 32 ayat (1) KepMenPerindag Nomor: 350 Kep/MPP/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK, merupakan sistem kerja yang berurutan dan saling berkaitan;

Menimbang,bahwa dengan demikian sebagai cara/alternatif penyelesaian perkara di luar Pengadilan, maka syarat pertama dan mutlak

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman37dari41Putusan Nomor 62/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Kbj.

untuk dipenuhi adalah adanya pilihan dan persetujuan para pihak yang bersangkutan untuk memilih cara apa yang hendak ditempuh untuk menyelesaian sengketa konsumen tersebut;

Menimbang, bahwa setelah Majelis Hakim membaca dan meneliti Putusan Bara No. : 504/Arbitrase/BPSK-BB/VIII/2016tanggal 10 Oktober 2016, yang dikeluarkan oleh Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kabupaten Batu Bara, ternyata tidak terdapat proses atau tahapan untuk memilih dan adanya persetujuan para pihak yang bersangkutan untuk memilih cara konsiliasi, mediasi atau arbitrase untuk menyelesaian sengketa konsumen tersebut;

Menimbang, bahwa bahkan dalam Putusan BPSK tersebut dimuat pada pokoknya bahwa Majelis BPSK pada tanggal 16 Agustus 2016 serta tanggal 23 Agustus 2016 telah memanggil para pihak Pelaku Usaha dan Konsumen melakukan Persidangan (bukan Mediasi) sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 54 ayat (4) Undang-undang Nomor : 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Jo. Pasal 43 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor: 350 Kep/MPP/12/2001 untuk mempertemukan kedua belah pihak dan disarankan untuk melakukan perdamaian, namun Pelaku Usaha tidak menghadiri sidang yang secara patut dipanggil oleh Majelis BPSK Batu Bara dan hanya dihadiri oleh Konsumen;

Menimbang, bahwa terhadap fakta dalam Putusan BPSK tersebut, ternyata pemilihan cara penyelesaian sengketa konsumen telah dilakukan tanpa hadirnya Pelaku Usaha, dan hanya mendapatkan persetujuan dari Konsumen yang memilih penyelesaian sengketa konsumen melalui Arbitrase, sehingga dalam Putusan BPSK tersebut tidak terdapat fakta bahwa Pelaku Usaha memilih atau memberikan persetujuan atas cara apa yang akan ditempuh untuk menyelesaikan sengketa konsumen tersebut;

Menimbang, bahwa dari uraian tersebut, Majelis Hakim menilai bahwa apabila Pelaku Usaha tidak pernah memilih atau memberikan persetujuan atas cara apa yang akan ditempuh untuk menyelesaikan sengketa konsumen tersebut, dan dalam hal hanya konsumen yang memilih cara arbitrase, maka tahapan para pihak untuk memilih arbitor sebagai anggota Majelis menjadi tidak pernah terjadi sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 32 ayat (1) KepMenPerindag Nomor: 350 Kep/MPP/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK;

Menimbang, bahwa dengan demikian menurut hemat Majelis Hakim bahwa BPSK Batu Bara telah melakukan tindakan yang diluar dari

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman38dari41Putusan Nomor 62/Pdt.Sus-BPSK/2016/PN Kbj.

kewenangannya karena telah bertentangan dengan prosedur formalitas tata cara pemeriksaan dan persidangan terhadap sengketa konsumen di BPSK;

Menimbang, bahwa apalagi ternyata dalam Akta Persetujuan Membuka Kreditsebagaimana termuat dalam bukti surat P-1 dan P-6telah memuat bahwa tentang perjanjian ini dan segala akibat serta pelaksanaannya kedua belah pihak memilih tempat kedudukan hukum (domisili) pada Kepaniteraan Pengadilan Negeri di Medan, sehingga Pelaku Usaha dapat tidak bersedia untuk memilih penyelesaian sengketa diantara mereka melalui arbitrase di BPSK;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, Majelis Hakim berpendapat bahwa terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan keberatan dariPT. Bank Pembangunan Daerah SUmatera Utara (Bank Sumut) tersebut dan menyatakan Putusan Majelis BPSK Kabupaten Batu Bara No. :504/Arbitrase/BPSK-BB/VIII/2016tanggal 10 Oktober 2016batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum, dan berdasarkan Pasal 6 Ayat (5) Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2006, selanjutnya Majelis Hakim akan mengadili sendiri perkara aquo dengan amar sebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini;

Menimbang, bahwa selain daripada itu berdasarkan ketentuan Pasal 17 huruf (b) KepMenPerindag Nomor: 350 Kep/MPP/12/2001 tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK bahwa apabila Ketua BPSK melihat dan memperhatikan maksud dan isi permohonan gugatan dari Termohon Keberatan/Konsumen in casu Josner Munthe, yang memohon sesuatu diluar tugas dan kewenangannya, maka seharusnya Ketua BPSK menolak permohonan penyelesaian sengketa konsumen tersebut;

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut, cukup alasan bagi Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini untuk menyatakan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Batu Bara tidak berwenang mengadili perkara ini;

Menimbang, bahwa oleh karena Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Batu Bara tidak berwenang mengadili perkara ini, maka haruslah dinyatakan bahwa permohonan sengketa konsumen yang diajukan oleh Termohon Keberatan/Konsumen kepada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)

Dokumen terkait