Lima Puluh Ke Dua I. Pikiran Sendiri
IV. Para Sesepuh
81 (1) Bāhuna
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Campā di tepi Kolam Teratai Gaggārā. Kemudian Yang Mulia Bāhuna mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:
“Bhante, dari berapa halkah Sang Tathāgata terlepas, terpisah, dan terbebas, sehingga Beliau berdiam dengan pikiran yang bebas dari batasan-batasan?” [152]
V 153 Sutta 82 143 “Bāhuna, adalah karena Sang Tathāgata terlepas, terpisah, dan terbebas dari sepuluh hal maka Beliau berdiam dengan pikiran yang bebas dari batasan-batasan. Apakah sepuluh ini? (1) Adalah karena Sang Tathāgata terlepas, terpisah, dan terbebas dari bentuk maka Beliau berdiam dengan pikiran yang bebas dari batasan-batasan. (2)-(5) Adalah karena Sang Tathāgata terlepas, terpisah, dan terbebas dari perasaan … persepsi … aktivitas-aktivitas kehendak … kesadaran maka Beliau berdiam dengan pikiran yang bebas dari batasan-batasan. (6)-(10) Adalah karena Sang Tathāgata terlepas, terpisah, dan terbebas dari kelahiran … penuaan … kematian … penderitaan … kekotoran maka Beliau berdiam dengan pikiran yang bebas dari batasan-batasan.
“Seperti halnya bunga teratai biru, merah, atau putih, walaupun terlahir di dalam air dan tumbuh di dalam air, menjulang ke atas air dan berdiri tanpa dikotori oleh air,137 demikian pula, Bāhuna, adalah karena Sang Tathāgata terlepas, terpisah, dan terbebas dari kesepuluh hal ini maka Beliau berdiam dengan pikiran yang bebas dari batasan-batasan.”
82 (2) Ānanda
Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya:
(1) “Adalah tidak mungkin, Ānanda, bahwa seorang bhikkhu yang tanpa keyakinan akan mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini. (2) Adalah tidak mungkin bahwa seorang bhikkhu yang tidak bermoral … (3) … seorang bhikkhu yang sedikit belajar … (4) … seorang bhikkhu yang sulit dikoreksi … [153] (5) … seorang bhikkhu yang memiliki teman-teman yang jahat … (6) … seorang bhikkhu yang malas … (7) … seorang bhikkhu yang berpikiran kacau … (8) … seorang bhikkhu yang tidak puas … (9) … seorang bhikkhu yang berkeinginan jahat … (10) … seorang bhikkhu yang menganut pandangan salah akan mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini. Adalah tidak mungkin bahwa seorang bhikkhu yang memiliki kesepuluh kualitas ini akan
mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini.
(1) “Adalah mungkin, Ānanda, bahwa seorang bhikkhu yang berkeyakinan akan mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini. (2) Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang bermoral … (3) … seorang bhikkhu yang banyak belajar … (4) … seorang bhikkhu yang mudah dikoreksi … (5) … seorang bhikkhu yang memiliki teman-teman yang baik … (6) … seorang bhikkhu yang bersemangat … (7) … seorang bhikkhu yang penuh perhatian … [154] (8) … seorang bhikkhu yang puas … (9) … seorang bhikkhu yang berkeinginan sedikit … (10) … seorang bhikkhu yang menganut pandangan benar akan mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini. Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang memiliki kesepuluh kualitas ini akan mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini.”
83 (3) Puṇṇiya138
Yang Mulia Puṇṇiya mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:
“Bhante, mengapakah kadang-kadang Sang Tathāgata condong untuk mengajarkan Dhamma dan kadang-kadang tidak condong untuk mengajar?”
(1) “Ketika, Puṇṇiya, seorang bhikkhu memiliki keyakinan tetapi tidak mendatangi Beliau, maka Sang Tathāgata tidak condong untuk mengajarkan Dhamma. (2) Tetapi ketika seorang bhikkhu memiliki keyakinan dan mendatangi Beliau, maka Sang Tathāgata condong untuk mengajar.
(3) “Ketika seorang bhikkhu memiliki keyakinan dan mendatangi Beliau, tetapi ia tidak memperhatikan Beliau … (4) Ketika ia memperhatikan Beliau tetapi tidak mengajukan pertanyaan … (5) Ketika ia mengajukan pertanyaan tetapi tidak mendengarkan Dhamma dengan menyimak … (6) Ketika ia mendengarkan Dhamma dengan menyimak, tetapi setelah mendengarnya, ia tidak mengingatnya … (7) Ketika, setelah mendengarnya, ia mengingatnya tetapi tidak memeriksa makna dari ajaran-ajaran
V 155 Sutta 84 145 yang telah ia ingat … (8) Ketika ia memeriksa makna dari ajaran-ajaran yang telah ia ingat tetapi tidak [155] memahami makna dan Dhamma dan kemudian berlatih sesuai Dhamma … (9) Ketika ia memahami makna dan Dhamma dan kemudian berlatih sesuai Dhamma, tetapi ia bukan seorang pembabar yang baik dengan penyampaian yang baik, seorang yang berbakat dalam memberikan khotbah yang dipoles, jernih, jelas, ekspresif dalam makna … (10) Ketika ia adalah seorang pembabar yang baik dengan penyampaian yang baik, seorang yang berbakat dalam memberikan khotbah yang dipoles, jernih, jelas, ekspresif dalam makna, tetapi ia tidak mengajarkan, mendorong, menginspirasi, dan menggembirakan teman-temannya para bhikkhu, maka Sang Tathāgata tidak condong untuk mengajar Dhamma.
“Tetapi, Puṇṇiya, (1) ketika seorang bhikkhu memiliki keyakinan, (2) mendatangi [Sang Tathāgata], (3) memperhatikan [Sang Tathāgata], (4) mengajukan pertanyaan, dan (5) mendengarkan Dhamma dengan menyimak; dan (6) setelah mendengarkan Dhamma, ia mengingatnya, (7) memeriksa makna ajaran-ajaran yang telah ia ingat, dan (8) memahami makna dan Dhamma dan kemudian berlatih sesuai Dhamma; dan (9) ia adalah seorang pembabar yang baik dengan penyampaian yang baik, seorang yang berbakat dalam memberikan khotbah yang dipoles, jernih, jelas, ekspresif dalam makna; dan (10) ia mengajarkan, mendorong, menginspirasi, dan menggembirakan teman-temannya para bhikkhu, maka Sang Tathāgata condong untuk mengajarkan Dhamma. Ketika, Puṇṇiya, seseorang memiliki kesepuluh kualitas ini, maka Sang Tathāgata sepenuhnya condong untuk mengajarkan Dhamma.”
84 (4) Pernyataan
Di sana Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu!”
“Teman,” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata sebagai berikut:
“Di sini, teman-teman, seorang bhikkhu menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: ‘Aku memahami: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang
dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.”’ Sang Tathāgata [156] atau siswaNya yang adalah seorang yang telah mencapai jhāna – mahir dalam pencapaian, mahir dalam pikiran orang-orang lain, mahir dalam jalan pikiran orang-orang lain – menanyainya, menginterogasinya, dan memeriksanya. Ketika ia sedang ditanyai, diinterogasi, dan diperiksa oleh Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menemui kebuntuan dan gugup. Ia menemui malapetaka, menemui bencana, menemui malapetaka dan bencana.
“Sang Tathāgata atau siswaNya yang adalah seorang yang telah mencapai jhāna … dengan pikirannya melingkupi pikiran bhikkhu itu dan mempertimbangkan: ‘Mengapakah yang mulia ini menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: “Aku memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’”?’ Sang Tathāgata atau siswaNya, setelah dengan pikirannya melingkupi pikiran bhikkhu itu, memahami:
(1) “‘Yang mulia ini rentan pada kemarahan dan pikirannya sering dikuasai oleh kemarahan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh kemarahan adalah satu kasus kemunduran.
(2) “‘Yang mulia ini bersikap bermusuhan dan pikirannya sering dikuasai oleh permusuhan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh permusuhan adalah satu kasus kemunduran.
(3) “‘Yang mulia ini cenderung bersikap merendahkan dan pikirannya sering dikuasai oleh sikap merendahkan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh sikap merendahkan adalah satu kasus kemunduran.
(4) “‘Yang mulia ini bersikap kurang-ajar dan pikirannya sering dikuasai oleh sikap kurang-ajar. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh sikap kurang-ajar adalah satu kasus kemunduran.
(5) “‘Yang mulia ini bersikap iri dan pikirannya sering dikuasai oleh sikap iri. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh sikap iri adalah satu kasus kemunduran.
V 157 Sutta 85 147 (6) “‘Yang mulia ini kikir dan pikirannya sering dikuasai oleh kekikiran. [157] Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh kekikiran adalah satu kasus kemunduran.
(7) “‘Yang mulia ini licik dan pikirannya sering dikuasai oleh kelicikan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh kelicikan adalah satu kasus kemunduran.
(8) “‘Yang mulia ini penuh muslihat dan pikirannya sering dikuasai oleh muslihat. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh muslihat adalah satu kasus kemunduran.
(9) “‘Yang mulia ini memiliki keinginan jahat dan pikirannya sering dikuasai oleh keinginan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh keinginan adalah satu kasus kemunduran.
(10) “‘Ketika masih ada yang harus dilakukan lebih lanjut,139 yang mulia ini berhenti di tengah jalan karena suatu pencapaian keluhuran yang lebih rendah. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, berhenti di tengah jalan adalah satu kasus kemunduran.’
“Sungguh, teman-teman, adalah tidak mungkin bagi seorang bhikkhu yang belum meninggalkan kesepuluh hal ini untuk mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini. Tetapi adalah mungkin bagi seorang bhikkhu yang telah meninggalkan kesepuluh hal ini untuk mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini.”
85 (5) Pembual
Pada suatu ketika Yang Mulia Mahācunda sedang menetap di antara penduduk Ceti di Sahajāti. Di sana Yang Mulia Mahācunda berkata kepada para bhikkhu:
“Teman-teman, para bhikkhu!”
“Teman!” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Mahācunda berkata sebagai berikut:
“Di sini, teman-teman, seorang bhikkhu adalah seorang pembual, seorang yang menyombongkan tentang pencapaian-pencapaiannya: ‘Aku mencapai dan keluar dari jhāna pertama. Aku mencapai dan keluar dari jhāna ke dua … jhāna ke tiga … jhāna ke empat … [158] … landasan ruang tanpa batas … landasan kesadaran tanpa batas … landasan kekosongan … landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Aku mencapai dan keluar dari lenyapnya perasaan dan persepsi.’ Sang Tathāgata atau siswaNya yang adalah seorang yang telah mencapai jhāna – mahir dalam pencapaian, mahir dalam pikiran orang-orang lain, mahir dalam jalan pikiran orang-orang lain – menanyainya, menginterogasinya, dan memeriksanya. Ketika ia sedang ditanyai, diinterogasi, dan diperiksa oleh Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menemui kebuntuan dan gugup. Ia menemui malapetaka, menemui bencana, menemui malapetaka dan bencana.
“Sang Tathāgata atau siswaNya yang adalah seorang yang telah mencapai jhāna … dengan pikirannya melingkupi pikiran bhikkhu itu dan mempertimbangkan: ‘Mengapakah yang mulia ini menjadi seorang pembual, seorang yang menyombongkan tentang pencapaian-pencapaiannya: “Aku mencapai dan keluar dari jhāna pertama … Aku mencapai dan keluar dari lenyapnya perasaan dan persepsi”?’ Sang Tathāgata atau siswaNya, setelah dengan pikirannya melingkupi pikiran bhikkhu itu, memahami:
(1) “‘Sejak lama perilaku yang mulia ini telah rusak, cacat, ternoda, dan bebercak, dan ia tidak secara konsisten menjalankan dan mengikuti perilaku bermoral. Yang mulia ini tidak bermoral. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, ketidak-bermoralan adalah satu kasus kemunduran.
(2) “‘Yang mulia ini adalah tanpa keyakinan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, tanpa keyakinan adalah satu kasus kemunduran.
(3) “‘Yang mulia ini sedikit belajar dan tanpa perilaku yang selayaknya. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, sedikit belajar adalah satu kasus kemunduran. [159]
V 160 Sutta 85 149 (4) “‘Yang mulia ini sulit dikoreksi. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, menjadi seorang yang sulit dikoreksi adalah satu kasus kemunduran.
(5) “‘Yang mulia ini memiliki teman-teman yang jahat. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, pertemanan yang buruk adalah satu kasus kemunduran.
(6) “‘Yang mulia ini malas. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, kemalasan adalah satu kasus kemunduran.
(7) “‘Yang mulia ini berpikiran-kacau. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, berpikiran kacau adalah satu kasus kemunduran.
(8) “‘Yang mulia ini adalah seorang penipu. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, penipuan adalah satu kasus kemunduran.
(9) “‘Yang mulia ini sulit disokong. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, menjadi seorang yang sulit disokong adalah satu kasus kemunduran.
(10) “‘Yang mulia ini tidak bijaksana. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, kurangnya kebijaksanaan adalah satu kasus kemunduran.’
“Misalkan, teman-teman, seseorang berkata kepada temannya: ‘Kapan saja engkau memerlukan uang untuk apa pun, temanku, mintalah padaku dan aku akan memberikannya kepadamu.’ Ketika temannya memerlukan uang, ia berkata kepada temannya: ‘Aku memerlukan uang, teman. Berikanlah kepadaku.’ Yang lainnya berkata: ‘Kalau begitu, teman, galilah di sini.’ Ia menggali di sana tetapi tidak menemukan apa pun. Kemudian ia berkata: ‘Engkau berbohong kepadaku, teman, engkau tidak jujur ketika engkau menyuruhku menggali di sini.’ Yang lainnya berkata: ‘Aku tidak membohongimu, teman, aku bukan tidak jujur. Kalau begitu, galilah di sana.’ Ia menggali di sana juga tetapi tidak menemukan apa pun. Sekali lagi, ia berkata: ‘Engkau berbohong kepadaku, teman, engkau tidak jujur ketika engkau menyuruhku menggali di sana.’ Yang lainnya berkata: ‘Aku tidak membohongimu, teman, aku bukan tidak jujur. [160] Kalau begitu, galilah di sana.’ Ia menggali di sana juga tetapi tidak menemukan apa pun. Kemudian ia berkata:
‘Engkau berbohong kepadaku, teman, engkau tidak jujur ketika engkau menyuruhku menggali di sana.’140 Yang lainnya berkata: ‘Aku tidak membohongimu, teman, aku bukan tidak jujur. Aku gila, aku kehilangan akal sehat.’
“Demikian pula, teman-teman, seorang bhikkhu adalah seorang pembual, seorang yang menyombongkan tentang pencapaian-pencapaiannya: ‘Aku mencapai dan keluar dari jhāna pertama.’ … [seluruhnya seperti di atas hingga:] [161] … (10) ‘Yang mulia ini tidak bijaksana. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, kurangnya kebijaksanaan adalah satu kasus kemunduran.’
“Sungguh, teman-teman, adalah tidak mungkin bagi seorang bhikkhu yang belum meninggalkan kesepuluh hal ini untuk mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini. Tetapi adalah mungkin bagi seorang bhikkhu yang telah meninggalkan kesepuluh hal ini untuk mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini.”
86 (6) Pengetahuan Akhir
Pada suatu ketika Yang Mulia Mahākassapa sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, taman suaka tupai. Di sana Yang Mulia [162] Mahākassapa berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu!”
“Teman,” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Mahākassapa berkata sebagai berikut:
“Di sini, teman-teman, seorang bhikkhu menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: ‘Aku memahami: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan spiritual telah dijalani, apa yang dilakukan telah dilakukan, tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.”’ Sang Tathāgata atau siswaNya yang adalah seorang yang telah mencapai jhāna – mahir dalam pencapaian, mahir dalam pikiran orang-orang lain, mahir dalam jalan pikiran orang-orang lain – menanyainya, menginterogasinya, dan memeriksanya. Ketika ia sedang ditanyai, diinterogasi, dan diperiksa oleh Sang Tathāgata atau siswaNya, ia menemui
V 163 Sutta 86 151 kebuntuan dan gugup. Ia menemui malapetaka, menemui bencana, menemui malapetaka dan bencana.
“Sang Tathāgata atau siswaNya yang adalah seorang yang telah mencapai jhāna … dengan pikirannya melingkupi pikiran bhikkhu itu dan mempertimbangkan: ‘Mengapakah yang mulia ini menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: “Aku memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan … tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.”’?’ Sang Tathāgata atau siswaNya, setelah dengan pikirannya melingkupi pikiran bhikkhu itu, memahami: ‘Yang mulia ini menilai dirinya terlalu tinggi dan membayangkan bahwa penilaiannya itu benar; berpikir bahwa ia telah memperoleh apa yang belum ia peroleh, telah menyelesaikan apa yang belum ia selesaikan, dan telah mencapai apa yang belum ia capai; dan dengan menilai dirinya terlalu tinggi, ia menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: “Aku memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan … tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’”’
“Sang Tathāgata atau siswaNya yang adalah seorang yang telah mencapai jhāna … setelah dengan pikirannya melingkupi pikiran bhikkhu itu dan, mempertimbangkan: ‘Mengapakah yang mulia ini menilai dirinya terlalu tinggi dan membayangkan bahwa penilaiannya itu benar; berpikir bahwa ia telah memperoleh apa yang belum ia peroleh, telah menyelesaikan apa yang belum ia selesaikan, dan telah mencapai apa yang belum ia capai; dan mengapakah, dengan menilai dirinya terlalu tinggi, ia menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: “Aku memahami: ‘Kelahiran telah [163] dihancurkan … tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun’”?’
“Sang Tathāgata atau siswaNya yang adalah seorang yang telah mencapai jhāna … setelah dengan pikirannya melingkupi pikiran bhikkhu itu, mempertimbangkan: ‘Yang mulia ini telah banyak belajar, mengingat apa yang telah ia pelajari, dan mengumpulkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran itu yang baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, yang mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna – ajaran-ajaran demikian telah banyak ia pelajari, diingat, dilafalkan secara lisan, diselidiki dengan pikiran, dan ditembus
dengan baik melalui pandangan. Oleh karena itu yang mulia ini menilai dirinya terlalu tinggi dan membayangkan bahwa penilaiannya itu benar; ia berpikir bahwa ia telah memperoleh apa yang belum ia peroleh, telah menyelesaikan apa yang belum ia selesaikan, dan telah mencapai apa yang belum ia capai; dan dengan menilai dirinya terlalu tinggi ia menyatakan pengetahuan akhir sebagai berikut: “Aku memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan … tidak akan kembali lagi pada kondisi makhluk apa pun.’”’
“Sang Tathāgata atau siswaNya yang adalah seorang yang telah mencapai jhāna … setelah dengan pikirannya melingkupi pikiran bhikkhu itu, memahami:
(1) “‘Yang mulia ini penuh kerinduan, dan pikirannya sering dikuasai oleh kerinduan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh kerinduan adalah satu kasus kemunduran.
(2) “‘Yang mulia ini penuh niat buruk, dan pikirannya sering dikuasai oleh niat buruk. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh niat buruk adalah satu kasus kemunduran.
(3) “‘Yang mulia ini menyerah pada ketumpulan dan kantuk, dan pikirannya sering dikuasai oleh ketumpulan dan kantuk. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh ketumpulan dan kantuk adalah satu kasus kemunduran.
(4) “‘Yang mulia ini gelisah, dan pikirannya sering dikuasai oleh kegelisahan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh kegelisahan adalah satu kasus kemunduran.
(5) “‘Yang mulia ini menyerah pada keragu-raguan, dan pikirannya sering dikuasai oleh keragu-raguan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, dikuasai oleh keragu-raguan adalah satu kasus kemunduran.
(6) “‘Yang mulia ini menyukai bekerja, bersenang dalam bekerja, dan menekuni kesenangan dalam bekerja. [164] Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, bersenang dalam bekerja adalah satu kasus kemunduran.
V 165 Sutta 87 153 (7) “‘Yang mulia ini menyukai berbicara, bersenang dalam berbicara, dan menekuni kesenangan dalam berbicara. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, bersenang dalam berbicara adalah satu kasus kemunduran.
(8) “‘Yang mulia ini menyukai tidur, bersenang dalam tidur, dan menekuni kesenangan dalam tidur. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, bersenang dalam tidur adalah satu kasus kemunduran.
(9) “‘Yang mulia ini menyukai kumpulan, bersenang dalam kumpulan, dan menekuni kesenangan dalam kumpulan. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, bersenang dalam kumpulan adalah satu kasus kemunduran.
(10) “‘Ketika masih ada yang harus dilakukan lebih lanjut,141 yang mulia ini berhenti di tengah jalan karena suatu pencapaian keluhuran yang lebih rendah. Tetapi dalam Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, berhenti di tengah jalan adalah satu kasus kemunduran.’
“Sungguh, teman-teman, adalah tidak mungkin bagi seorang bhikkhu yang belum meninggalkan kesepuluh hal ini untuk mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini. Tetapi adalah mungkin bagi seorang bhikkhu yang telah meninggalkan kesepuluh hal ini untuk mencapai pertumbuhan, kemajuan, dan kematangan dalam Dhamma dan disiplin ini.”
87 (7) Persoalan Disiplin
Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sehubungan dengan Bhikkhu Kalandaka:142 “Para bhikkhu!”
“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab: Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
(1) “Di sini, seorang bhikkhu adalah seorang pembuat persoalan