BAB 4. DRAMATURGI DALAM KOMUNIKASI POLITIK JOKOWI
4.2. PENDEKATAN DRAMATURGI DALAM KOMUNIKASI POLITIK
4.2.1. Panggung Depan Jokowi
4.2.1.2. Setting dan Personal Front Jokowi di Panggung Depan
Goffman membagi kawasan depan menjadi set panggung (setting) dan perangkat pribadi (personal front). Bila diaplikasikan dalam konteks Jokowi, maka setting yang melekat padanya adalah situasi yang mendukung perannya sebagai walikota, antara lain Balaikota, Rumah Dinas Loji Gandrung, serta lokasi-lokasi lain yang telah disiapkan baginya, seperti kursi di baris terdepan yang direservasi untuk walikota pada acara-acara seremonial. Sedangkan personal front adalah perangkat yang dianggap audiens dapat menunjukkan status Jokowi sebagai walikota, baik dalam bentuk fisik maupun sikap. Perangkat pribadi Jokowi yang berbentuk fisik antara lain adalah seragam dinas, mobil dinas, serta rombongan protokol dan pengawal, sedangkan sikap adalah perilaku dan pembawaannya sebagai walikota.
Berdasar pengamatan Peneliti, Jokowi memahami adanya setting dan personal
front dirinya sebagai walikota, dan berhati-hati dalam menanganinya. Setidaknya
ada tiga hal yang mengindikasikan perilaku tersebut. Yang pertama, Jokowi sengaja memilih tempat-tempat yang sederhana untuk menjamu para tamunya. Peneliti mencatat beberapa kali Jokowi menjamu pejabat yang berkunjung ke Solo di warung-warung kaki lima, seperti Warung Gule Kambing Bu Bejo saat menjamu seorang direktur jenderal (14 Februari 2012) dan Warung Sate Mbok Galak saat menjamu seorang menteri (16 Februari 2012). Karena terkadang jamuan tersebut juga mengajak wartawan, maka warung-warung tersebut dapat juga menjadi tempat bagi terlaksananya konferensi pers dengan pejabat tersebut (sebagaimana yang terjadi pada tanggal 16 Februari). Alasan pemilihan warung sebagai lokasi untuk menjamu para pejabat tinggi diutarakan Jokowi sebagai berikut:
“Ketemu dirjen, ketemu menteri, ya ngajaknya makan di (warung) soto, di (warung) sate, (warung) kelas-kelas PKL [pedagang kaki lima – Pen.].
Nggak pernah kita ajak ke restoran, karena kita ingin menyampaikan
kesan, keberpihakan kita ke mana. Ini harus tersampaikan dalam tindakan-tindakan seperti itu. …(Staf para pejabat dari) provinsi (dan) pusat itu sering mau ngajak pindah ke restoran, katanya nggak menghargai (pejabat yang dijamu), (padahal) mindset-nya itu yang perlu dibenahi. Lha wong orang yang punya restoran sudah kaya-kaya, mau
dibikin kaya terus! Kapan yang kecil-kecil jadi kaya, jadi sejahtera. Pola
pikir dan sikap seperti itu harus diubah. Tunjukkan pada menteri, pada pejabat, bahwa banyak yang mesti disuntik [diberi dukungan – Pen.] agar mereka bisa lebih baik.” (Wawancara Jokowi, 14 Februari 2012)
Penyataan di atas menunjukkan bahwa melalui pemilihan warung kaki lima sebagai tempat menjamu para tamunya, Jokowi ingin mengirimkan isyarat keperpihakannya kepada masyarakat, baik para pengunjung yang menyaksikan langsung maupun warga Solo yang membaca berita tersebut melalui media yang meliput. Pemilihan warung ini juga menunjukkan bahwa Jokowi menyadari
setting yang tepat bagi dirinya untuk tampil di publik, dengan cara mengubah setting yang jamak diasosiasikan publik terhadap pejabat (yaitu restoran) menjadi setting yang diasosiasikan lebih dekat dengan masyarakat kebanyakan (yaitu
warung kaki lima).
Hal kedua yang mengindikasikan kehati-hatian Jokowi dalam mengatur setting adalah kecenderungannya untuk menghindar dari setting yang telah diciptakan untuknya. Indikasi tersebut Peneliti dapat setelah mengamati tindakan Jokowi di dalam acara-acara formal yang memilih duduk di lokasi yang tidak menyolok, dan bukan di kursi yang telah direservasi oleh penyelenggara acara untuk rombongan
walikota. Contohnya adalah pada saat peresmian Hutan Kota Balekambang (24 Februari 2012), Jokowi memilih untuk duduk di kursi taman yang berada di samping panggung, padahal kursi untuknya telah disiapkan di baris terdepan panggung. Hal serupa juga terjadi ketika Jokowi menonton pertunjukan wayang orang di amphiteater terbuka Balekambang (11 Maret 2012). Di acara tersebut, Panitia telah menyiapkan area khusus di barisan kursi penonton, yang dilengkapi dengan meja kecil tempat diletakkannya makanan ringan dan minuman kemasan. Namun ketika tiba di lokasi, Jokowi memilih untuk duduk di baris belakang bersama penonton lain, lalu berjalan berkeliling di daerah penonton untuk melihat pertunjukan dari berbagai arah. Indikasi lain diperoleh pada saat roadshow Esemka di Jakarta (25 dan 26 Februari). Pada kegiatan itu, Jokowi beserta istri memilih melakukan roadshow berkelliling Jakarta dengan menumpang bis yang diperuntukkan bagi rombongan wartawan dan tim logistik. Padahal, dalam rombongan roadshow tersebut terdapat pula beberapa mobil sedan yang lebih nyaman dan layak untuk ditumpangi seorang walikota. Kebiasaan di atas juga dicatat oleh Thayrun, yang mengutip wawancaranya dengan David Wijaya, seorang sahabat Jokowi:
“Pak Jokowi itu kalau njagong [menghadiri acara – Pen.] nggak mau duduk di depan, tapi seringnya duduk di belakang, bahkan kadang lewat samping. Jokowi sekarang bersedia di depan, ya cuma karena peraturan protokolernya sebagai walikota (mengharuskan demikian).” (dalam
Thayrun, 2012:34)
Jokowi juga terindikasi berhati-hati dalam dalam mengendalikan personal front dirinya. Hal ini dapat dilihat dari pandangannya tentang sistem protokoler, yang
merupakan bagian dari personal front seorang walikota. Sebagaimana ia ungkapkan kepada Peneliti:
“Kepala daerah itu (kalau berpergian) ke mana-mana, di depan (mobilnya) pasti ada Patwal [motor patroli pengawalan – Pen.], di belakangnya ada kepala dinas ikut (mengiringi dengan) 20 mobil… Saya tujuh tahun jadi walikota nggak pernah (melakukan hal) kayak gitu. Semau saya aja, kalau pas ada hal yang penting, (dan) perlu protokol, ya
oke. Tapi kalau enggak (perlu), ya enggak (pakai protokol), ngapain.” (Wawancara Jokowi, 13 Februari 2012).
Pernyataan Jokowi tersebut konsisten dengan hasil pengamatan Peneliti. Selama periode penelitian, Jokowi hampir selalu berpergian dalam satu mobil tanpa keikut-sertaan kendaraan lain, baik berupa pengawalan maupun rombongan dinas.4 Dalam proses perpindahannya dari satu lokasi ke lokasi lain di Solo, rombongan Jokowi hanya terdiri atas Jokowi, satu ajudan, serta satu supir, dan ketiganya berada dalam mobil yang sama. Dalam berbagai kegiatan resmi yang menuntut kehadiran Sekretaris Daerah maupun kepala-kepala dinas terkait, seperti pada saat penyambutan Menteri (16 Februari 2012) dan berbagai kegiatan kemasyarakatan, Jokowi akan langsung datang sendiri bersama kedua stafnya tersebut ke tempat acara, sedangkan Sekretaris Daerah maupun kepala dinas hadir secara terpisah ke lokasi acara. Ini berbeda dengan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pemimpin daerah di tempat lain yang umumnya datang ke tempat acara bersama-sama rombongan.
4Satu-satunya pengecualian adalah pada roadshow mobil Esemka (Jakarta, 25-26 Februari 2012), yaitu saat Jokowi menjadi bagian dari rombongan konvoi yang berkeliling dari satu kantor media ke kantor media lain. Peneliti mengecualikan data ini, karena adanya konvoi merupakan bagian dari tujuan roadshow, yaitu menciptakan arak-arakan ramai agar menarik perhatian publik terhadap mobil Esemka.
Kecenderungan Jokowi untuk menghindari protokoler juga nampak ketika ia terindikasi sebisa mungkin meninggalkan tempat acara tanpa bergabung dengan rombongan protokol pejabat yang umumnya menggunakan pasukan pengawalan. Jokowi terlihat sengaja memilih untuk meninggalkan tempat acara lebih lambat dengan membiarkan rombongan pejabat pergi terlebih dahulu, agar dapat leluasa menghindar dari rombongan protokoler.
Satu peristiwa yang memperkuat indikasi kehati-hatian dalam hal penggunaan
personal front dan setting ini dapat dilihat seusai Jokowi menjamu makan siang
seorang pejabat tinggi dari sebuah kementerian, yang hadir bersama sekitar 15 orang pejabat dinas terkait di tingkat Kota Solo dan Provinsi Jawa Tengah, diiringi beberapa motor patroli pengawalan. Kali ini mobil dinas Jokowi ikut berada dalam konvoi rombongan, karena meninggalkan lokasi pada waktu yang bersamaan dan melalui rute yang sama pula. Saat rombongan tiba di persimpangan, lampu lalu-lintas menandakan merah, sehingga motor patroli pengawalan menghentikan lalu-lintas yang bersilangan agar rombongan dapat terus melaju tanpa hambatan. Menyaksikan hal ini, Jokowi dengan cepat menginstruksikan kepada supirnya, “Ora usah melu kuwi! (Tidak usah mengikuti
rombongan itu!)” Maka supir Jokowi seketika menghentikan mobil dinas yang
kebetulan berada di posisi paling akhir dari konvoi, agar berhenti sebelum lampu lalu-lintas serta membiarkan mobil tersebut terpisah dari rombongan.
Peneliti yang menyaksikan kejadian di atas menilai bahwa reaksi spontan Jokowi dipicu oleh kesadaran bahwa ia sedang menggunakan simbol personal front walikota (yaitu mobil dinas bernomor AD-1) dan berada dalam setting seorang pejabat (yaitu konvoi dengan pengawalan motor), namun justru tidak ingin
menonjolkan kedua hal tersebut, terlebih untuk hal-hal yang dapat dipersepsi negatif oleh masyarakat (seperti melanggar lampu lalu-lintas dan mengambil hak pengguna jalan lain dari arah yang bersilangan). Kejadian ini memperkuat indikasi bahwa Jokowi menyadari bahwa persepsi masyarakat selaku audiens dapat dibangun melalui setting dan personal front, dan oleh karenanya mengontrolnya agar tidak mencederai peran yang ingin ia tunjukkan.