LANDASAN TEOR
3.4. Metodologi Green Productivity
3.4.7. Teknik dan ToolsGreen Productivity
3.4.7.13. Seven Waste in Production
Pekerjaan yang tidak menambah nilai merupakan pekerjaan yang murnipemborosan. Hal ini termasuk kegiatan yang tidak dibutuhkan dan harusdihilangkan secara sempurna. Contoh kegiatan ini adalah waktu menunggu.Pemborosan ini haruslah dihilangkan karena tidak memiliki nilai tambah. Toyotatelah mengidentifikasikan 7 jenis aktivitas utama yang tidak memiliki nilaitambah dalam bisnis atau proses manufaktur sebagai berikut (Liker, 2004)
1. Produksi berlebih (overproduction)
Perusahaan mungkin saja memproduksisesuatu lebih awal atau dalam jumlah yang lebih besar daripada yangdibutuhkan oleh konsumen. Hal tersebut akan
mengakibatkan pemborosanlain seperti biaya kelebihan tenaga kerja, persediaan, dan transportasi karenapersediaan berlebih. Persediaan dapat berupa persediaan fisik atau antrianinformasi.
2. Waktu menunggu (waiting time)
Beberapa kegiatan pemborosan sepertipekerja yang mengamati mesin otomatis yang sedang berjalan, atau berdirimenunggu tahapan selanjutnya dari proses, atau menunggu alat, pasokan,komponen, dan lain sebagainya, atau mengganggur saja akibat kehabisanbahan baku, keterlambatan proses, kerusakan mesin dan bottleneck (sumbatan)kapasitas.
3. Transportasi atau pengangkutan yang tidak perlu, memindahkan barang dalamproses (work in process/WIP) dari suatu tempat ke tempat lain pada suatuproses, bahkan meski dalam jarak dekat. Selain itu juga pemindahan bahanbaku, komponen, atau barang jadi ke dalam atau keluar gudang penyimpananatau dari satu proses ke proses lain.
4. Pemrosesan secara berlebih atau pemrosesan yang keliru
Melakukan langkahyang tidak perlu untuk memproses komponen. Pemrosesan yang tidak efisienkarena alat dan rancangan produk yang tidak baik menyebabkan gerakan yangtidak perlu dan menghasilkan barang cacat. Pemborosan terjadi ketikamembuat produk dengan kualitas lebih tinggi daripada yang diperlukan.Seringkali ”pekerjaan” ekstra dilakukan untuk mengisi kelebihan waktudaripada dihabiskan untuk menunggu.
Bahan baku, barang dalam proses, atau barang jadi yang berlebih menyebabkan
lead time yang panjang, barang kadaluarsa, barang rusak, peningkatan biaya
transportasi dan penyimpanan, dan keterlambatan. Persediaan berlebih juga menyembunyikan masalah ketidakseimbangan produksi, keterlambatan pengirim dari pemasok, produk cacat, waktu turun mesin peralatan, dan waktu
setup yang lebih lama.
6. Gerakan yang tidak perlu (unnecessary motion)
Setiap gerakan yangdilakukan karyawan selama melakukan pekerjaan mereka yang bukan gerakanyang tidak memberi nilai tambah pada komponen seperti meraih, mencari,menumpuk komponen, alat, dan lain-lain. Selain itu, berjalan juga merupakanpemborosan.
7. Produk cacat (defects)
Produksi komponen yang cacat atau yang memerlukanperbaikan. Perbaikan atau pengerjaan ulang, barang rongsokan, memproduksibarang pengganti, dan inspeksi berarti penanganan, waktu, dan upaya yangsia-sia.
Menurut Liker (2004), terdapat jenis pemborosan baru yaitu kreativitas karyawanyang tidak dimanfaatkan. Hilangnya waktu, ide, keterampilan, peningkatan, dankesempatan belajar karena tidak melibatkan atau mendengarkan karyawan andamerupakan salah satu jenis pemborosan juga.
Taiichi Ohno menganggap pemborosan yang paling mendasar adalah produksiberlebih, karena hal tersebut menyebabkan pemborosan yang lain (Liker, 2004).Memproduksi lebih awal atau lebih banyak daripada yang diinginkan pelanggandalam operasi manapun dalam proses manufaktur akhirnya akan
menyebabkanbertumpuknya persediaan di salah satu proses hilir. Bahan baku hanya diammenunggu untuk diproses oleh operasi selanjutnya.
Menurut Taiichi Ohno, 7 pemborosan pertama sangat penting karena dampaknyaterhadap pemborosan ke-8. Produksi, persediaan, dan hal lain yang berlebihmenyembunyikan masalah dan para karyawan tidak dipaksa untuk berpikir.Mengurangi pemborosan akan mengungkapkan masalah dan memaksa parakaryawan untuk menggunakan kreativitas mereka untuk memecahkan masalah(Liker, 2004).
3.4.7.14. 5S-Good Housekeeping Practices
Dengan mengimplementasikan 5S maka tingkat kualitas, lead time, dan reduksibiaya dapat diperbaiki. Penjelasan dari 5S adalah sebagai berikut (Monden, 1993):
1. Seiri atau Ringkas
Seiri merupakan aktivitas dalam memilih barang-barang dan menyimpanhanya
yang diperlukan dan menyingkirkan yang tidak diperlukan. 2. Seiton atau Rapi
Seiton berarti mengatur dan mengidentifikasi beberapa hal untuk
kemudahanpenggunaan. 3. Seiso atau Resik
Hal ini berarti aktivitas melakukan proses pembersihan, untuk menjagakerapihan dan kebersihan.
Seiketsu merupakan aktivitas untuk secara konstan menjaga 3S yangpertama
sebagai rutinitas.
5. Shitsuke atau Rajin/Disiplin
Shitsuke berarti membuat pekerja memiliki kebiasaan atau budaya dari 5Sini.
3.5.Environmental Performance Indicator (EPI)
EnvironmentalPerformance Indicator (EPI) adalah sebuah indikator
lingkungan yang merupakansalah satu hal yang diperkirakan dapat menunjukkan berbagai dampak darisebuah aktivitas pada lingkungan serta usaha untuk mereduksinya. EPImenggambarkan efisiensi lingkungan dari proses produksi dengan melibatkanjumlah input dan output. Indikator dapat dievaluasi pada fisik, denganmenghubungkan kinerja terhadap jumah bahan baku input yang digunakan, aliranlimbah, konsumsi energi, kualitas udara dan air. Selain fisik, indikator juga dapatdievaluasi pada keuangan yang meliputi penilaian keuangan terhadap dampakfisik atau aktivitas proses dari entitas. Pada akhirnya, indikator kinerja dapatmenggabungkan indikator sistem, untuk menunjukkan usaha penyempurnaanoleh sebuah perusahaan, pabrik atau unit proses untuk mengurangi dampak lingkungannya. Indeks EPI dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
Indeks EPI = ∑��=1��.��
Nilai k adalah jumlah kriteria limbah yang diajukan dan Wi adalah bobot darimasing-masing kriteria. Bobot ini diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepadapara ahli kimia lingkungan. Bobot yang dimaksud di atas didasarkan
padaparameter kesehatan manusia dan keseimbangan lingkungan (flora dan fauna).Kedua parameter tersebut diberikan prosentase yang sama sebab apabila suatu zatkimia dinyatakan berbahaya bagi lingkungan, maka akan berbahaya juga bagi kesehatan manusia, karena manusia juga mengonsumsi makanan yang berasal darihewan dan tumbuhan. Nilai Pi merupakan presentase penyimpangan antara mutu limbah dengan hasil analisis perusahaan dengan menggunakan persamaan:
P = ������� −��������
������� x 100%
Menurut Okun dan Ponghis (1975) dalam Soeparman dan Suparmin (2001:25-27),ada beberapa indikator pengukuran kualitas limbah cair yang penting diketahui,yaitu Total Suspended Solid (TSS), Biochemical Oxygen
Demand (BOD),Chemical Oxygen Demand (COD), organisme coliform, pH, Dissolved Oxygen(DO), Chlorine Demand, nutrien, heavy metals, dan parameter
lainnya.
Adapun beberapa pengukuran kualitas limbah cair yg perlu diketahui adalah sebagai berikut :
1. Total Suspended Solid (TSS) merupakan bahan padat yang dihilangkan padapenyaringan melalu media standar halus dengan diameter mikron.
2. Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen
biokimiamerupakan ukuran kandungan bahan organik dalam limbah cair. BODditentukan dengan mengukur jumlah oksigen yang diserap oleh sampel limbahcair akibat adanya mikroorganisme selama satu periode waktu tertentu,biasanya 5 hari, pada suatu temperatur tertentu, yang umumnya 200.
BODmerupakan ukuran utama limbah cair serta memberikan petunjuk daripengaruh yang diperkirakan terjadi pada badan air.
3. Chemical Oxygen Demand (COD) juga merupakan salah satu indicator kekuatan limbah cair. COD adalah ukuran persyaratan kebutuhan oksidasi sampel yang berada pada kondisi tertentu, yang ditentukn denganmenggunakan oksidan kimiawi.
4. pH limbah cair adalah ukuran keasaman atau kebasaan limbah cair. pHmenunjukkan perlu atau tidaknya pengolahan pendahuluan untuk mencegahterjadinya gangguan pada proses pengolahan limbah cair secara konvensional.