• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KATEKESE UMAT SEBAGAI UPAYA UNTUK

A. Katekese Umat

6. Shared Christian Praxis (SCP) sebagai Salah Satu

menawarkan pokok-pokok pemikiran realitas. Model ini juga menawarkan suatu bentuk analisa untuk memahami realita yang menerangkan dan menelusuri suatu tindakan manusia. (Heryatno WW, 1997:1-5)

Katekese umat memiliki berbagai model dengan kekhasannya masing-masing. Model-model ini biasanya kita temukan dalam pendalaman iman yakni dalam buku panduan APP, Adven dan pada BKSN yang dibuat oleh keuskupan untuk dipakai sebagai bentuk pelaksanaan katekese umat. Oleh karena itu, bertolak dari mana awal model katekese umat pada umumnya terdapat satu model yang cocok dengan katekese umat, yakni model Shared Christian Praxis (SCP).

Pada bagian awal telah dibahas bahwa katekese umat adalah komunikasi iman umat. Apa yang dikomunikasikan? Tentu yang dikomunikasikan adalah pengalaman hidup umat itu sendiri yang sudah direfleksikan dan dimaknai menjadi pengalaman iman. Berkaitan dengan pengalaman hidup maka sangat cocok digunakan model katekese umat Shared Christian Praxis (SCP), sebab model ini juga berpusat pada pengalaman hidup atau selalu bermula dari pengalaman menuju refleksi iman dan sampai pada pengalaman baru. Maka dari

itu, di bawah ini akan dibahas secara lengkap apa itu Shared Christian Praxis (SCP), komponen, dan langkah-langkahnya.

Katekese dengan model Shared Christian Praxis ini pertama kali diperkenalkan oleh Thomas H. Groome. Ia adalah seorang ahli katekese yang berusaha mencari pendekatan katekese yang handal dan efektif, yaitu suatu model yang sungguh-sungguh mempunyai dasar teologis yang kuat, mampu memanfaatkan perkembangan ilmu pendidikan dan memiliki keprihatinan pastoral yang aktual. Model ini ditawarkan untuk menjawab kebutuhan para katekis dalam membantu umat demi perkembangan iman mereka. Untuk memahami lebih dalam tentang katekese umat model SCP ini serta langkah-langkahnya, maka secara khusus akan diuraikan di bawah ini lima langkah yang saling beruntun (Heryatno WW, 1997:5), sebagai berikut:

1) Pengertian Shared Christian Praxis (SCP)

Model SCP merupakan salah satu model katekese umat yang menekankan proses yang bersifat dialogis partisipatif. Tujuan dari proses ini adalah agar dapat mendorong peserta untuk mampu mengomunikasikan antara Tradisi dan visi hidup peserta dengan Tradisi dan visi Kristiani. Dan pada akhirnya, peserta baik secara pribadi maupun bersama mampu mengadakan penegasan dan pengambilan keputusan demi makin terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah.

Model katekese ini dapat dikatakan sebagai model praksis, karena bermula, berproses dan berakhir dari praksis hidup peserta. Pengalaman hidup

peserta tersebut, direfleksikan secara kritis sehingga peserta mampu menemukan maknanya, kemudian dikonfrontasikan dengan Tradisi atau visi Kristiani supaya muncul pemahaman sikap dan kesadaran baru yang memberi motivasi pada praksis baru. Orientasi model SCP ini adalah praksis peserta sebagai subyek yang bebas dan bertanggungjawab (Heryatno WW, 1997:1).

Model SCP ini memiliki tiga komponen yaitu praksis, Kristiani dan sharing. Untuk memahami lebih dalam model ini, maka akan dijelaskan masing-masing komponen itu sebagai berikut:

a) Praksis

Praksis adalah suatu tindakan manusia yang sudah direfleksikan. Sebagai tindakan, praksis meliputi seluruh keterlibatan manusia dalam dunia yang mampunyai tujuan untuk mencapai perubahan hidup yang meliputi kesatuan antara praktek dan teori, antara refleksi kritis dan kesadaran historis. Proses kesatuan antara praktek dan teori akan membentuk suatu kreatifitas, sedangkan refleksi dan kesadaran historis akan mengarah pada keterlibatan baru.

Praksis mempunyai tiga unsur yaitu: aktifitas, refleksi dan kreatifitas. Ketiga unsur ini memiliki fungsi yakni mampu membangkitkan berkembangnya imajinasi, meneguhkan kehendak dan mendorong praksis baru yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan moral. Berikut ini penjelasan mengenai ketiga unsur tersebut, sebagai berikut:

Unsur pertama, aktifitas meliputi kegiatan mental dan fisik, kesadaran, tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan kegiatan publik yang merupakan

medan untuk perwujudan diri sebagai manusia. Kedua, refleksi menekankan refleksi kritis terhadap tindakan historis pribadi dan sosial terhadap kehidupan bersama serta terhadap “Tradisi” dan “visi” iman Kristiani sepanjang sejarah. Ketiga, kreatifitas merupakan perpaduan antara aktifitas dan refleksi yang menekankan transendensi manusia dalam dinamika menuju masa depan yang terus berkembang sehingga melahirkan praksis baru (Heryatno WW, 1997:1-2). b) Kristiani

Maksud dari Kristiani dalam Shared Christian Praxis adalah mengusahakan agar kekayaan iman Kristiani sepanjang sejarah dan visinya makin terjangkau dan relevan untuk kehidupan umat. Namun jangan lupa bahwa yang ditekankan di sini mengenai kekayaan iman Kristiani adalah pengalaman iman Tradisi Kristiani sepanjang sejarah dan visinya.

Tradisi Kristiani mengungkapkan realitas iman jemaat yang hidup dan sungguh dihidupi. Sedangkan visi Kristiani menegaskan tuntutan dan janji Allah yang terkandung di dalam Tradisi, tanggung jawab dan pengutusan orang Kristiani sebagai jalan untuk menghidupi semangat dan sikap kemuridan. Artinya bahwa Tradisi Kristiani mengungkapkan tanggapan manusia terhadap Allah yang terlaksana dalam hidup mereka sebagai realitas iman, Tradisi senantiasa mengundang keterlibatan praktis. Sedangkan visi Kristiani menegaskan tuntutan dan janji Allah yang terkandung dalam Tradisi, tanggung jawab dan pengutusan orang Kristiani sebagai jalan untuk menghidupi semangat dan sikap kemuridan. Visi Kristiani yang paling hakiki adalah terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah di dalam kehidupan manusia (Heryatno WW, 1997:3).

c) Sharing

Istilah shared atau sharing mengandung pengertian komunikasi timbal balik, partisipasi aktif dan kritis dari semua peserta. Istilah ini juga merupakan proses katekese yang menekankan unsur dialog-partisipatif peserta yang ditandai dengan suasana kebersamaan, persaudaraan, keterbukaan, keterlibatan, dan solidaritas. Dalam sharing semua peserta diharapkan untuk ikut aktif, terbuka, siap mendengarkan dengan hati pengalaman orang lain dan berkomunikasi dengan kebebasan hati juga (Heryatno WW, 1997:3-4).

Dalam sharing orang dapat berbagi rasa, pengetahuan serta saling mendengarkan pengalaman orang lain. Tentu, ada dua hal penting di dalamnya yakni membicarakan dan mendengarkan. Membicarakan di sini lebih menekankan pada menyampaikan atau mengungkapkan pengalaman hidup yang didasari oleh sikap keterbukaan, kerendahan hati, kepercayaan satu dengan lainnya dalam mengungkapkan pengalaman dan pengetahuan yang nyata dalam dirinya. Sedangkan mendengarkan berarti mendengarkan dengan hati tentang apa yang disharingkan oleh para peserta. Mendengarkan berarti juga melibatkan keseluruhan diri untuk menangkap pesan atau intisari dari apa yang disharingkan peserta sehingga dalam mendengarkan timbullah gerak hati, empati terhadap apa yang dikomunikasikan oleh orang lain (Sumarno Ds, 2014:17).

2) Langkah-langkah Shared Christian Praxis (SCP)

Menurut Thomas H. Groome, SCP merupakan suatu model berkomunikasi tentang makna pengalaman hidup antar peserta, yang mana dalam prosesnya

terdapat lima langkah pokok. Namun sebelumnya didahului langkah awal atau pendahuluan sebagai berikut:

a) Langkah Awal: Pemusatan Aktivitas

Tujuan dari langkah ini adalah mendorong peserta sebagai subyek utama menemukan topik pertemuan yang bertolak pada kehidupan konkret berkaitan dengan tema dasar pertemuan. Dengan demikian, tema dasar tersebut dapat mewakili pokok-pokok permasalahan dalam hidup, keprihatinan, serta kebutuhan peserta. Dalam memilih tema, perlu juga diperhatikan situasi konkret peserta, tujuannya, dinamika pendekatan yang bersifat dialogis, dan sumber-sumber iman Kristiani (Heryatno WW, 1997: 10). Tema dasar harus sungguh-sungguh menggerakkan peserta agar aktif terlibat dalam pertemuan, menekankan partisipasi dan dialog, dan tidak bertentangan dengan iman Kristiani. Maka seorang pendamping harus mampu membantu peserta merumuskan prioritas tema yang tepat dengan konteks hidup umat.

Perlu juga diperhatikan bahwa pada tahap ini, pendamping dapat menggunakan sarana-sarana seperti simbol, foto, cerita, film, video, poster, cergam dan lain-lain yang dapat mendukung dalam pemilihan tema bersama. Maka dengan itu, seorang pendamping harus dapat memilih sarana yang tepat. Di samping itu pendamping harus dapat menciptakan lingkungan psikososial dan fisik yang mendukung supaya peserta dapat berpartisipasi aktif dan kreatif dalam suasana dialog dan kebersamaan Heryatno WW (1997:9-10).

b) Langkah I: Pengungkapan Praksis Faktual

Langkah ini bertujuan membantu peserta agar mengungkapkan pengalaman hidup faktual. Peserta menyadari pengalaman hidupnya, membahasakan dan mengomunikasikannya pada peserta lain. Pengungkapan pengalaman hidup faktual ini bisa berupa pengalaman peserta sendiri, atau kehidupan dan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat, ataupun gabungan keduanya yang dia pandang cocok dengan tema yang sudah digali bersama (Heryatno WW, 1997:11).

Langkah ini diawali dengan tuntunan pertanyaan sesuai dengan tema. Perumusan pertanyaan pun harus jelas, terarah dan tidak terkesan menyinggung perasaan peserta lain, sesuai dengan situasi peserta dan bersifat terbuka dan obyektif. Setelah itu, peserta membagikan pengalamannya dan pada saat ini tidak boleh ada komentar atau tanggapan. Selain dari itu, peserta juga diberi kebebasan untuk mengungkapkan pengalamannya dengan gaya dan pilihannya. Mereka dapat mengemukakannya melalui puisi, nyanyian, tarian, gambar, lambang, atau simbol, dll (Heryatno WW, 1997:12).

Penekanan pada langkah ini adalah proses dan kehidupan konkret yang menjadi pokok penting dalam proses katekese. Oleh karena itu, pendamping perlu menyadari tujuan dan pokok pemikiran dasarnya. Pokok pemikiran dasar perlu diajukan secara jelas dan terbuka serta berhubungan dengan tema utama dan menggaris bawahi aspek-aspek pokok dari praksis keterlibatan faktual peserta.

Pada langka ini, pendamping berperan sebagai fasilitator dengan tujuan menciptakan suasana hangat dan mendukung sehingga peserta dengan hati gembira mau membagikan pengalamannya tanpa merasa tertekan. Pendamping

perlu bersikap ramah, bersahabat dan meyakinkan peserta bahwa komunikasi pengalaman mereka sangat penting untuk seluruh proses katekese (Heryatno WW, 1997:13).

c) Langkah II: Refleksi Kritis pada Komunikasi Praksis Faktual

Langkah ini bertujuan membantu peserta supaya berdasar pengalaman hidupnya sampai pada tingkat kesadaran terdalam guna mengolah dan menemukan makna baru hingga ia terdorong melangkah pada praksis baru. Ada beberapa perspektif yang perlu diperhatikan dalam langkah ini yaitu refleksi kritis pada pengalaman peserta, interpretasi kritis dan kreatif pada komunikasi pengalaman faktual, serta komunikasi Tradisi dan visi oleh para peserta (Heryatno WW, 1997:14).

Refleksi kritis pada tahap ini dimaksudkan agar peserta berpikir secara sungguh-sungguh akan setiap pengalamannya. Kemudian peserta dapat menemukan atau mengambil nilai-nilai apa yang mau dilaksanakan dan dengan demikian dapat mengarah pada perubahan sikap yang konkret. Pada hakekatnya ingin membantu peserta merefleksikan secara kritis praksis faktual apa yang mereka komunikasikan dengan memperdalam, mempertajam dan mengolah pengalaman mereka yang menekankan segi pemahaman, kenangan, dan imajinasi. Sedangkan interpretasi bertujuan memberi arti dan nilai pada praksis faktual, menanamkan unsur-unsur yang dapat memperteguh, serta yang harus ditolak dan dikembangkan lebih lanjut.

Pada langkah ini, pendamping dituntut agar dapat menciptakan suasana pertemuan yang saling menghormati dan mendukung setiap gagasan dari peserta.

Pendamping harus dapat mendorong peserta untuk mengadakan dialog dan penegasan bersama yang bertujuan memperdalam, menguji pemahaman, kenangan dan imajinasi peserta. Setiap peserta diajak untuk mengomunikasikan pengalamannya, namun jangan sampai menimbulkan kesan pemaksaan. Oleh karena itu, pendamping perlu menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat analitis dan tidak mengganggu harga diri peserta. Pendamping perlu juga menyadari keadaan peserta karena refleksi merupakan tahap yang sulit yang membutuhkan kesabaran dan keterampilan untuk memperkembangkannya Heryatno WW (1997:14-16).

d) Langkah III: Mengusahakan Tradisi dan Visi Kristiani lebih Terjangkau Langkah ini menekankan agar Tradisi dan visi Kristiani menjadi lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta yang konteks dan latar belakang kebudayaannya berbeda. Tradisi Kristiani mengungkapkan iman jemaat Kristiani sepanjang sejarah pewahyuan Ilahi. Tradisi hadir dalam Kitab Suci, liturgi, adat-kebiasaan Jemaat Perdana, doa, credo, dogma, teologi, sakramen, bahasa religius, seni, dan kepemimpinan kehidupan jemaat. Visi Kristiani merupakan suatu konsekuensi dari janji dan tanggungjawab yang muncul pada Tradisi. Visi Kristiani mengungkapkan janji keselamatan dan kepenuhan yang mendorong peserta pada tanggungjawab mereka untuk menjadi partner Allah dalam mewujudkan kehendak-Nya yaitu menyelamatkan manusia Heryatno WW (1997: 19-20).

Pada langkah ini, pendamping menginterpretasikan dan mengkomunikasikan aspek Tradisi dan visi Kristiani kepada peserta. Dalam

menginterpretasikan dan mengomunikasikan nilai-nilai Tradisi dan visi Kristiani, pendamping perlu memiliki latar belakang yang cukup dalam hal penafsiran, menghormati Tradisi dan visi Kristiani yang otentik dan normatif, kritis mengambil nilai-nilai yang terkandung dalam Tradisi dan visi Kristiani, menggunakan metode interpretasi yang sifatnya menegaskan, meneguhkan, mempertanyakan dan mengundang keterlibatan peserta.

Pada tahap ini, pendamping dapat berfungsi sebagai “guru” dan sekaligus sebagai “murid”. Sebagai guru pendamping bukanlah pengajar tetapi sebagai patner, yang bersama peserta berusaha menyadari kehendak Allah. Sedangkan sebagai murid, pendamping siap belajar dan maju untuk segala ilmu. Sementara dalam memberikan penafsiran, pendamping perlu mengikutsertakan kesaksian iman, harapan dan cinta pada nilai Tradisi dan visi Kristiani. Maka dari itu, sebelum melaksanakan proses katekese, pendamping sungguh-sungguh membuat persiapan yang matang demi suksesnya langkah ini.

e) Langkah IV: Hermeneutik yang dialektik antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan “Tradisi dan Visi” Peserta

Langkah ini lebih menekankan interpretasi yang dialektis antara Tradisi dan visi faktual peserta dengan Tradisi dan visi Kristiani yang akan melahirkan kesadaran sikap dan niat baru sebagai jemaat Kristiani. Jadi, dalam langkah ini mempunyai tujuan untuk mengajak peserta, berdasar nilai Tradisi dan visi Kristiani menemukan sikap dan nilai hidup yang hendak dikembangkan. Di satu pihak peserta mengintegrasikan nilai-nilai hidup mereka ke dalam Tradisi dan visi

Kristiani, di lain pihak mempersonalisasikan dan memperkaya dinamika Tradisi dan visi Kristiani Sumarno Ds (2014:20-21).

Pada langkah ini, peserta saling dialog tentang hasil pengolahan mereka pada langkah pertama dan kedua dengan isi pokok pada langkah ketiga. Peserta diberi kebebasan mempertimbangkan dan menilai mengenai nilai Tradisi dan visi Kristiani berdasar situasi konkret. Peserta dapat mengemukakan apa yang sungguh-sungguh mereka pikirkan serta mengungkapkan perasaan, sikap intuisi, persepsi, penegasan dan lain-lain Heryatno WW (1997:31-32).

Pada tahap ini juga, pendamping perlu menghormati kebebasan dan hasil penegasan peserta dengan meyakinkan mereka bahwa mereka mampu mempertemukan nilai pengalaman hidup dan visi mereka dengan nilai Tradisi dan visi Kristiani. Oleh karena itu, pendamping hendaknya mendorong peserta untuk mengubah sikap dari pendengar menjadi pihak aktif. Selain itu, pendamping perlu menyadari bahwa tafsiran pendamping bukan kata mati dan bukan merupakan kebenaran satu-satunya Sumarno Ds (2014:21-22).

f) Langkah V: Keterlibatan Baru demi Terwujudnya Kerajaan Allah Langkah ini bertujuan mendorong peserta sampai pada keterlibatan baru dengan harapan juga peserta dapat mengambil keputusan sendiri untuk mengalami pertobatan terus-menerus (metanoia). Maka dari itu, keputusan yang diambil dalam langkah ini haruslah praktis, mudah dilaksanakan dan menyemangati agar mereka setia melaksanakannya. Tentu keputusan yang dibuat peserta dapat beranekaragam bentuknya dan tingkatannya. Pada umumnya keputusan dapat dikategorikan dalam empat kelompok : (a). yang bersifat kognitif, afektif, dan

praktikal; (b). level personal, interpersonal, dan sosial; (c). berkenaan dengan aktivitas pribadi dan kelompok; (d). menjadi operasional dalam kelompok sendiri atau di luar kelompok (Heryatno WW, 1997:35).

Pada langkah ini hendaknya pendamping sungguh-sungguh mengusahakan agar peserta dapat sampai pada keputusan hidup yang akan dilakukan baik pribadi maupun bersama. Pendamping tidak hanya merangkum hasil dari langkah ini tetapi dapat menambah juga dengan hasil rangkuman langkah keempat agar dapat memperkaya dan lebih membantu peserta mengambil keputusan. Pendamping perlu juga memberi semangat kepada peserta, menaruh sikap optimis dan realistis terhadap masa depan peserta yang lebih baik dengan harapan bahwa Allah senantiasa menyertai hidup umatnya dalam keadaan apapun.

Berdasarkan uraian di atas, penulis memilih Shared Christian Praxis sebagai model katekese umat yang akan dipakai dalam penulisan skripsi ini. Sebab model ini sangat cocok digunakan berkaitan dengan kehidupan menggereja Orang Muda Katolik di Wonosari, paroki Santo Petrus Kanisius, Kabupaten Gunungkidul.

B. Sumbangan Katekese Umat sebagai Upaya Meningkatkan Keterlibatan

Dokumen terkait