• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

E. Analisis Data

1) Sikap batin tulus ikhlas menjalani hukuman

Proses perenungan terhadap kejatuhan hidup yang dialami ketiga informan membuat mereka banyak

berintrospeksi diri, mengakui kesalahan dan memohon pengampunan Tuhan, hingga akhirnya mampu berbesar hati menerima hukuman serta mensyukuri setiap berkat kehidupan.

a) Menyadari dan mengakui kesalahan lewat perenungan hidup

BE menyadari hukuman penjara ini adalah bayaran atas kesalahannya. BE banyak berefleksi dan merasa beruntung diselamatkan Tuhan lewat hukuman penjara. Jika masih berada di luar bisa jadi perilakunya semakin parah, bisa saja hal lebih buruk menimpa.

“Kita juga harus menyadari perilaku kita kemarin, untunglah kita disini diselamatkan.. dipondokkan sebentar haha” (BE, 1102-1104)

Berintrospeksi diri banyak juga dilakukan oleh SA dan SR. SA mengatakan, kesulitan hidup yang dialami saat ini bukanlah dari Tuhan, melainkan akibat kekosongan jiwanya yang jauh dari Tuhan hingga melakukan kesalahan fatal. SR pun mengakui hal yang sama, dulu terlalu jauh dari agama hingga kini mengecewakan kedua orang tua.

“Dan ini menjadikan satu cobaan saya karena saya merasa cobaan ini kan bukan dari Tuhan, saya merasakan sesuatu yang saya salah, saya berpikir yang keliru karena kekosongan e.. jiwa saya, saya diisi oleh iblis.. saya melakukan sesuatu perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.” (SA, 1434-1439)

“Wuaa karena satu.. aku ngerasa karena kemarin di luar itu aku terlalu jauh dari agama. Terus kedua udah ngecewain orang tua to.. yowis lah aku disini tak memperbaiki diri, tak buat misalnya kemarin di luar kurang ee agama ya disini agama ya tak perbanyak.” (SR, 847-851)

Kesadaran penuh atas segala perbuatan bersalah membantu para informan untuk lebih mudah berbenah dan mendekatkan diri pada Tuhan.

b) Mau memohon ampun dan pertolongan dari Tuhan Tuhan menjadi satu-satunya sumber pertolongan dan tempat memohon pengampunan, ketika segala upaya dan kekuatan manusia sudah diusahakan. Sadar bahwa hanya Tuhan yang mampu menolong, membuat SR memohon ampun dan tak henti berdoa sejak hari pertama ditahan.

“Mikir to aku.. waduh berdoa berdoa berdoa kayak gitu. Baru hari pertama itu masuk woo langsung pikirannya "aduh parah ini, wah kenapa ya ini?" haa kayak gitu. Haa ya udah itu minta ampun, nyari pertolongan to.. berdoa aja nah pas aku dibesuk itu tak suruh bawain buku-buku doa karena aku nggak hafal to doa-doa.. tak suruh bawain biar aku bisa berdoa to, tak baca tak baca tak baca gitu.” (SR, 1124-1130)

Begitu pula SA, yakin bahwa Tuhan maha pengampun dan dapat mengetahui segala kesusahan hidupnya, membuat SA terus berlutut meminta maaf pada Tuhan.

“Itu tidak boleh.. dan saya meminta ampun dan Tuhan memberikan kelegaan di hati saya. Berarti saya... Tuhan itu merasakan semua.. Tuhan tu udah mengampuni dosa saya. Dan saya diubahkan hidup saya lho.. luar biasa kok..” (SA, 493-496)

Kelegaan hati akhirnya dirasakan setelah sungguh bertobat dan mendekatkan diri pada Tuhan. Bagi para informan, Tuhan menjadi teman setia yang senantiasa menemani mereka di tengah kesendirian menjalani hukuman.

c) Jera dan menyesal sehingga tidak mau mengulang kesalahan

Kehidupan lapas yang serba terbatas dan jauh dari kata nyaman membuat BE, SA, dan SR jera dan menyesal, sehingga bertekad penuh untuk tidak mengulangi kesalahan dan tidak mau kembali dipenjara sebagai residivis. Hal ini tercermin dari ungkapan ketiganya berikut ini :

“Yang penting saya harus jadi individu.. manusia yang lebih baik lagi. Apa kesalahan saya yang dulu kan jangan diulang lagi... jangan lagi..Nggak mau jadi residivis.. Nggaak!!! Jangan.. jangan ituu. Jangan residivis, mantan narapidana aja. Ex napi aja, jangan jadi residivis... hiiiii nggak enaak..” (BE,863-870)

“karena dalam hidup dalam hati saya tidak mau jatuh. Jatuh lagi, salah yang kemarin jatuh buat saya.. iman saya jatuh lagi. Karena saya kan udah pegangan sama tongkat sama Tuhan.. gadanya udah saya pegang. Ini kan lembah kekelaman disini Vi, saya nggak mau jatuh lagi.” (SA, 1083-1088)

“Terus ee.. apa ya.. pokoknya hidupnya lurus lah, dah nggak mau mbelok-mbelok lagi.. dah ngerti hukum hehe. Setelah masuk sini kan jadi tahu ya menceng-menceng jadinya kayak disini, dan ya harus hati-hati.. lebih hati-hati jelas.. lebih hati-hati ke depannya.” (SR, 931-938)

Sudah menyadari kesalahan masa lalu dan merasakan betapa rumit serta tidak enaknya berurusan dengan hukum, membuat para informan tidak mau lagi mengalami kejatuhan hidup.

d) Kerelaan hati menerima hukuman penjara

Sikap lain yang dimiliki para informan adalah mau berbesar hati menerima hukuman. Kerelaan hati SA untuk diproses Tuhan menjadi manusia yang lebih kuat, penerimaan SR atas ganjaran perbuatannya, keikhlasan BE untuk menjalani takdir hidup. Semuanya ini terungkap dalam pernyataan berikut :

“Tapi ini buat saya mungkin jadii.. sesuatu yang unik ya, yang unik kalau saya menerimanya.. Ya saya harus menerimanya dengan suatu kerelaan hati, ingat kepasrahan yang tinggi. Akhirnya saya bisa menerima bahwa ini yang saya lakukan ini saya salah dan cara itu yang ada dalam hukuman saya ini menjadi suatu alat Tuhan.. ya.. untuk menjadikan saya lebih kuat lagi” (SA, 439-446)

“Ya buatku itu kuncine nerima lah, harus tak syukurin 5 tahun orang aku juga tetep salah to.. aku tetep salah.. ya aku dihukum tadi.” (SR, 378-380)

“Sekarang disini saya jauh lebih berpikir.. "wah saya harus ikhlas lah", kalau ikhlas kan entah apa itu diberi kemudahan. Kalau disini ya ngerjain ini itu jangan dipikir nanti dapet apa gitu, kayak kerja

diluar kan dapet duit nggo nyambung urip, nek disini kan nggak dapet. Yo rapopo, intine tetep berjuang dan berdoa.. yo ini takdir gitu to.” (BE, 1220-1226)

Tidak menyangkal perbuatan bersalah yang telah dilakukan membantu para informan untuk memperoleh kedamaian hati selama menjalani hukuman.

e) Bersyukur atas segala berkat di tengah musibah Kehidupan penjara yang keras dan serba terbatas sangat menggoda para informan untuk putus asa dan menyerah. Kehilangan, kekurangan, dan tekanan sangat banyak untuk dikeluhkan. Sangat mudah bagi para informan jika ingin terus menggerutu dan marah pada keadaan. Namun, ketiga informan memilih untuk mensyukuri jalan hidup yang harus mereka jalani dan bersyukur atas setiap berkat kecil yang didapat sehinga beban hidup terasa tak terlalu berat. Seperti BE bersyukur karena di balik segala kengerian penjara, ternyata masih ada teman-teman dari Polsek lama yang sudah dikenal dan ikut menjaga.

Woh bayangannya ngeri... penjara.. tempatnya orang-orang bermasalah, ya to? Mesti ada pembunuhan, jambret, rampok, copet, wah ngeri iki gambarannya. Ada yang bilang kan penjara itu kan nerakanya dunia.. ya to? Tapi ya alhamdullilah bersyukur dulu temen-temen saya yang waktu di Polsek itu udah banyak yang dikirim disini jadi udah pada tahu. (BE, 221-227)

Bersyukur pun juga banyak dilakukan SA. SA mengatakan, saat awal pemenjaraan dirinya hampir dilanda putus asa, tetapi dengan bersyukur akhirnya ia dapat bertahan dan bangkit. SA banyak mensyukuri berkat yang ia dapat, mulai dari tambahan lauk makanan yang dapat menambah rasa maupun kelayakan hidup di penjara yang masih baik meski penuh keterbatasan daripada terlantar di jalanan.

Saya hampir putus asa "Tuhan sampai kapan?" akhirnya saya patahkan rasa saya itu. Nah itu kalau saya begitu mungkin saya menyerah, tapi akhirnya saya tadi "kenapa kamu tidak ucapkan syukurmu?". Di dalam 1 Tesalonika 5 ayat 16 akhirnya saya menemukan "bersukacitalah dalam segala apapun" Vi. (SA, 1053-1058)

Saya adaptasi itu makanan yang saya tidak suka tadi dengan cara sugesti saya, ya artinya ngediss-ngediss bener. Walaupun kadang-kadang ada orang anu "Pak SA mau ini ada kering?" ya puji Tuhan saya bersyukur ada kering karena kering ini bagus sekali ada kering teri, kering kacang, kering tempe itu ya.. itu luar biasa nambahin rasa, itu bisa seminggu kita. (SA, 1888-1894)

Dan kita harus mensyukuri bahwa Tuhan tu luar biasa untuk kita sebenarnya. Dan ternyata di penjara.. lebiih baik daripada yang di luar yang hidupnya tinggal tidur di kolong jembatan dan segala macem. Jadi bersyukur harusnya.. (SA, 638-642)

Tak hanya BE dan SA saja, SR pun merasakan beban hidupnya terasa lebih ringan dengan bersyukur. 5 tahun penjara yang awalnya terasa sangat lama dan berat

menjadi lebih ringan dijalani karena SR bersyukur hukumannya masih jauh lebih sedikit daripada napi lain dengan kasus yang sama.

Jadi pas pertama kena 5 tahun itu "wah ngeri itu lama", tapi setelah ke.. kan kalau disini kan blok tahanan kan blok A.. setelah aku ke blok napi satu blok itu banyak yang kasusnya sama tapi hukumannya lama, ada yang 10, 14.. ya aku langsung "wah yaa bersyukurlah dapet 5". Pertamanya aku "wah kadang.. wah nggak adil ini kayak gini 5 tahun ini" tapi ternyata lihat yang di belakang "haduh kok ngeri-ngeri.." aku kena 5 jadi ya bener disyukuri wae dapet 5. (SR, 349-358)

Setiap tantangan hidup semakin terasa sulit ketika terus dikeluhkan dan disangkal. Ketiga informan menemukan bahwa tantangan hidup mereka terasa lebih ringan saat hati mampu bersyukur dan melihat berkah dalam setiap musibah. Bersyukur membuat ketiganya kuat menjalani hukuman penjara.

Dokumen terkait