Target dan Relisasi Retribusi IMB Kota Serang Tahun 2010-2014
4) Sikap/Kecenderungan ( Disposition ) Para Pelaksana
Berdasarkan hasil wawancara tersebut diketahui bahwa dalam pelaksanaan sanksi yang tertuang dalam Perda tentang IMB di Kota Serang sudah dijalankan oleh masing-masing agen pelaksana sebagaimana mestinya. Hanya saja untuk tindakan penyegelan ataupun eksekusi terhadap bangunan yang belum memiliki IMB masih belum dapat diterapkan secara tegas oleh Pemerintah Kota Serang, hal tersebut karena masih adanya toleransi dan untuk menjaga hubungan kekerabatan antara masyarakat dengan pihak pemerintah.
4) Sikap/Kecenderungan (Disposition) Para Pelaksana
Sikap penerimaan atau penolakan dari (agen) pelaksana akan sangat banyak mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kinerja implementasi kebijakan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi oleh karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil formulasi warga setempat yang mengenal betul persoalan dan permasalahan yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan yang akan implementor laksanakan adalah kebijakan ”dari atas” (Top Down) yang sangat mungkin para pengambil keputusannya tidak
pernah mengetahui (bahkan tidak mampu menyentuh) kebutuhan, keinginan, atau permasalahan yang warga ingin selesaikan.
Sikap penerimaan terhadap Perda Kota Serang tentang IMB ditunjukan oleh beberapa instansi yang memang ditunjuk sebagai pelaksana Perda tersebut, intansi yang dimaksud meliputi: Pertama, Badan Pelayanan Terpadu dan Penanaman Modal (BPTPM) sebagai penyelenggara perizinan, termasuk diantaranya Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Kedua, Pihak Kecamatan, yang keseluruhannya terdapat 6 (enam) Kecamatan di Kota Serang sebagai penyelenggara perizinan khususnya IMB untuk rumah tinggal. Ketiga, Dinas Pengelola Keuangan Daerah (DPKD) Kota Serang sebagai penerima dan pengelola retribusi daerah. Keempat, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sebagai penegak Perda IMB di Kota Serang. Selanjutnya, mengenai sikap masing-masing instansi sebagai pelaksana Perda akan dijelaskan sebagai berikut:
1) Sikap Badan Pelayanan Terpadu dan Penanaman Modal (BPTPM) Kota Serang sebagai pelaksana Perda tentang IMB.
Seperti yang sudah dijelaskan dalam bab sebelumnya, sesuai dengan Keputusan Walikota Serang Nomor 502/Kep.47-Org./2010 tentang Pelimpahan Kewenangan Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Kepada BPTPM Kota Serang, maka sejak keputusan tersebut ditetapkan oleh Walikota Serang penyelenggaraan perizinan termasuk IMB mulai dilaksanakan oleh BPTPM Kota Serang.
Peraturan Daerah Kota Serang Nomor 13 Tahun 2011 tentang retribusi khususnya tentang IMB Kota Serang sendiri disambut baik oleh pihak BPTPM Kota Serang, hal ini seperti yang sudah dijelaskan oleh Kepala Bidang Perizinan dan Pendaftaran Usaha BPTPM Kota Serang bahwa:
“Kebijakan IMB sendiri merupakan keharusan yang ada di sebuah daerah/masyarakat. Untuk kebijakan juga sudah ada aturannya perdanya adalah nomor 13 tahun 2011 itupun sudah diatur. Kami selaku pihak penyelenggara retribusi daerah khususnya perizinan selalu melakukan kegiatan sesuai yang tertera pada Perda tersebut. Dalam satu kasus seperti bangunan atau perumahan yang luasnya lebih dari 5000 meter itu BPTPM mengumpulkan tim teknis untuk melakukan rapat, tim teknis sendiri terdiri dari BLHD, Kecamatan (tempat perumahan itu didirikan), BAPPEDA, dinas tata kota, satpol pp itu semua yang berkaitan dengan perizinan kita undang. Selebihnya sesuai Perda kami melaksanakan pelayanan ke masyarakat yang mengururus perizinan, lalu kelapangan, survei, mengamati, kondisi bangunan, jika tidak memiliki IMB kita tidak langsung ke satpol pp akan tetapi sesuai perda nomor 5 tahun 2009 kita berikan surat teguran sebanyak 3 kali berturut-turut. Akan tetapi jika sudah diberikan peringatan sebanyak 3 kali tersebut tidak diindahkan barulah kita melayangkan surat ke satpol pp. Kalau untuk penyegelan kita masih melihat latar belakang masyarakat sendiri, terkecuali untuk bangunan atau usaha yang membawa dampak buruk bagi lingkungan itu kita berani melayangkan surat ke satpol pp untuk mengeksekusi/menyegel bangunan tersebut.” (Wawancara dengan Bapak Evan Rivana, 10 April 2015, Pukul 14.02 WIB, di Kantor BPTPM Kota Serang).
Berdasarkan wawancara tersebut,tersebut terlihat bahwa penguatan komitmen dalam upaya mencapai tujuan Perda IMB di Kota Serang yaitu untuk mengawasi pembangunan yang meliputi: pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang,
penggunaan sumber daya alam, barang, sarana, prasarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan khususnya di Kota Serang, Serta dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari sektor retribusi IMB ditunjukkan oleh BPTPM dan beberapa SKPD yang memang terkait dalam Perda tersebut.
` Kemudian untuk mengetahui respon masyarakat sebagai pemohon IMB terkait pelayanan perizinan yang diselenggarakan oleh BPTPM Kota Serang, peneliti juga mewawancarai beberapa pemohon IMB. Seperti pernyataan oleh seorang pemohon yang mengatakan bahwa:
Secara umum dari segi pelayanan sudah cukup memuaskan, seperti prosedur yang jelas, informasi mengenai persyaratan mudah dipenuhi, dan perilaku pegawai selalu ada di jam kerja. Hanya saja saya rasa ruang tunggu kurang kondusif dan nyaman karena kecil dan pintunya selalu tertutup. (Wawancara dengan Bapak Tanu Widjayanto, 16 Juni 2015, Pukul 10.30 WIB, di Kantor BPTPM Kota Serang).
Hal Senada juga disampaikan oleh pemohon IMB yang lain, yang mengatakan bahwa:
Saya juga sudah membandingkan hasil pelayanan yang saya terima dengan alur pelayanan yang tertera di Kantor BPTPM, saya rasa hasil pelayanan sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, disamping itu, biaya pelayanannya juga relatif masih wajar karena pertimbangan luas bangunan juga, jadi menurut saya sesuai. Hanya saja yang harus di rombak adalah sarana prasarana seperti ruang pelayanan serta ruang tunggu yang menurut saya masih belum kondusif. (Wawancara dengan Ibu Kameliana, 16 Juni, Pukul 14.00 WIB, di Kediaman Ibu Kameliana).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil pelayanan yang diberikan oleh BPTPM Kota Serang dalam menyelenggarakan IMB sudah baik, hanya saja dalam hal sarana prasarana
seperti ruang pelayanan masih belum memadai. Kemudian untuk mendapatkan kesimpulan yang utuh, wawancara dilanjutkan dan menyasar pada pihak BPTPM, yakni Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian yang menanggapi bahwa:
Untuk sarana ruang pelayanan kita (BPTPM), memang masih sangat minim dan kurang memadai, sebenarnya kita mempunyai keinginan untuk merombak gedung BPTPM mulai memperluas ruang pelayanan sampai perombakan ruangan sekretariat. Hanya saja Gedung BPTPM ini adalah merupakan pemberian dari Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Serang, sehingga disini kita sifatnya hanya menumpang. Kemudian untuk anggaran perombakan gedung sendiri itu adalah kewenangan Disdukcapil, kita tidak memiliki kewenangan untuk merombak gedung. Sebenarnya Kota Serang ini memiliki aset pendapatan dari sektor perizinan yang cukup besar, untuk itu demi kenyamanan masyarakat dalam mengurus perizinan sebenarnya kami pernah coba melayangkan surat ke Walikota perihal pengajuan perombakan ruangan pelayanan agar lebih besar, akan tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya. (Wawancara dengan Bapak Muhammad Ngalim, 17 Juni 2015, Pukul 11.00 WIB di Kantor BPTPM Kota Serang).
Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa gedung BPTPM merupakan pemberian dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DISDUKCAPIL), sehingga pihak sekretariat BPTPM tidak memiliki kewenangan tersendiri dalam mengelola/merombak ruang pelayanan dikarenakan anggaran untuk mengelola gedung sepenuhnya adalah kewenangan DISDUKCAPIL Kota Serang.
2) Sikap Pihak Kecamatan dalam melaksanakan perizinan IMB untuk rumah tinggal.
Sesuai dengan Peraturan Walitota Nomor 42 Tahun 2014 pihak Kecamatan diberikan kewenangan oleh Walikota Serang dalam menyelenggarakan IMB di masing-masing wilayah kecamatan dengan ketentuan bangunan yang akan dibangun tidak lebih dari 150 M² dan luas lahan tidak lebih dari 250 M², hal ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat Kota Serang dalam mengurus IMB karena asumsinya kantor kecamatan berada lebih dekat dengan masyarakat. Sesuai dengan keterangan yang disampaikan oleh Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan Kecamatan Serang, bahwa:
“Pelimpahan tersebut merupakan kewenangan pak walikota, saat
ini pelimpahan untuk IMB di Kecamatan dipertuntukkan bagi bangunan yang luasnya tidak lebih dari 150 M² dan lahan yang tidak lebih dari 250 M² bisa dilakukan oleh pihak kecamatan. Dan yang dilimpahkan hanya IMB untuk rumah tinggal saja untuk usaha seperti kontrakan, ruko, dan lain sebagainya tetap dilakukan oleh BPTPM. Pelimpahan wewenang tersebut sebenarnya sudah ada di perwal yang disahkan di akhir tahun 2014, akan tetapi bulan Maret tahun 2015 baru diimplementasikan.” (Wawancara dengan Ibu Ade Suryaningsih, 09 Maret 2015 Pukul 14.32 WIB di Kantor Kecamatan Serang)
Dalam implementasinya, perizinan seperti IMB belum sepenuhnya dilaksanakan secara maksimal di masing-masing wilayah kecamatan, hal itu disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah belum terpenuhinya persyaratan yang diajukan oleh pemohon IMB, seperti yang diterangkan oleh Kepala Seksi ekonomi Pembangunan kecamatan Curug yang menjelaskan:
“Ada 2 pemohon itu belum bisa kita penuhi karena persyaratannya belum lengkap. Untuk curug terus terang saja belum seperti kecamatan lain dalam artian tingkat kesadaran masyarakat untuk mengurus IMB masih rendah, sebenarnya ada saja masyarakat
yang ingin membuat IMB hanya karena karakteristik masyarakat Curug ini kan kampung yang mayoritas belum punya AJB/sertifikat rumah, kan persyaratan minimal untuk memohon IMB harus memiliki persyaratan tersebut. Kalau untuk kemauan mah, sebenarnya masyarakat mau hanya kendala di persyaratan tersebut. Mereka bertanya, kira-kira untuk IMB berapa bu biayanya? Kita jelaskan dengan luas bangunan segini kira-kira biayanya segini, setelah oke bikin IMB, pas melihat lagi persyaratannya, terbentur. Kalau dari penertiban sendiri dari bagian Terantib sudah ada semacam himbauan-himbauan, kita sih keinginannya pihak BPTPM datang kesini mengadakan sosialisasi dengan pihak kecamatan, kelurahan nanti kita juga mengundang tokoh-tokoh masyarakat dan RT/RW di kecamatan curug karena mereka yang lebih dekat dengan masyarakat. Kalau masyarakat
sih pasti mau dalam mengurus IMB.” (Wawancara dengan Ibu Siti
Rahayu, 14 April 2015, Pukul 14.12 WIB di Kantor Kecamatan Curug).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa mayoritas masyarakat yang tinggal di perkampungan belum mengetahui prosedur dan persyaratan yang harus dipenuhi sebelum mengurus IMB, disamping itu masyarakat juga belum mengetahui teknis perhitungan besaran retribusi yang dikenakan apabila berencana membangun sebuah rumah tinggal. Terkait persyaratan untuk IMB rumah tinggal sendiri relatif mudah, hal ini seperti yang dterangkan oleh Kepala Seksi Kecamatan Serang, bahwa:
“Terkait masalah prosedur penyelenggaraan IMB di kecamatan ini terbilang mudah, karena persyaratannya hanya sertifikat lahan, KTP, dan PBB P2 dan rekomendasi dari kelurahan karena kelurahan yang memiliki wilayah. Kami pihak Kecamatan memang berniat melayani dan menolong dengan berusaha membuat prosedur IMB itu mudah dipenuhi oleh masyarakat.” (Wawancara dengan Ibu Ade Suryaningsih, 09 Maret 2015 Pukul 14.22 WIB di Kantor Kecamatan Serang).
Bila dilihat dari hasil keterangan tersebut diketahui bahwa kemudahan persyaratan memang dijadikan prioritas utama bagi
masing-masing kecamatan yang bertujuan agar masyarakat yang cenderung masih awam mendapat kemudahan dalam mengurus IMB, agar penyelenggaraan IMB di masing-masing wilayah kecamatan, maka hal utama yang sebenarnya dibutuhkan oleh pihak kecamatan adalah sosialisasi yang dilakukan BPTPM kepada masing-masing kecamatan. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan Kecamatan Cipocok, bahwa:
“Ada 3 orang kemarin yang ingin membuat IMB ke kita (Kecamatan Cipocok) tapi kita tolak, karena dari pak Camat juga karena belum ada sosialisasi dari BPTPM, jadi masyarakat yang mengajukan IMB kita arahkan untuk ke BPTPM. Menurut keterangan pihak BPTPM, belum sosialisasikan karena kita (BPTPM) baru dapat perwalnya juga dari pihak kecamatan. Harusnya pihak BPTPM itu berkoordinasi dengan bagian kepala bagian hukum yang menyusun perwal tersebut, setelahnya barulah mengadakan sosialisasi ke masing-masing kecamatan. Jadi kalau ada aba-aba dari BPTPM baru kita laksanakan perizinan IMB sesuai perwal. Dari tingkat kesadaran masyarakat untuk Kecamatan Cipocok sudah sukup baik dalam mengurus IMB. Untuk tahun 2015 dari bulan januari sampai dengan bulan maret sudah ada 18 yang mengajukan surat rekomendasi IMB untuk ke BPTPM. Mungkin karena mereka butuh, seperti ruko-ruko yang di pinggir jalan khawatir terkena penggusuran dan untuk mengajukan pinjaman ke bank.” (Wawancara dengan Ibu Nurhayani, 13 April 2015, Pukul 13.00 WIB di Kantor Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang).
Hal Serupa juga disampaikan oleh Kepala Seksi Ekonomi Pembangunan Kecamatan Walantaka, bahwa:
“Kita sih inginnya pihak BPTPM mengadakan sosialisasi dengan pihak kecamatan, kelurahan terus nanti kita juga nanti mengajak RT/RW di karena yang paling dekat dengan masyarakat. Karena terus terang semenjak Perwal itu kita dapat, belum ada masyarakat yang mengurus IMB kesini, mungkin perwal ini juga
(Wawancara dengan Ibu Ratu Milawati, 14 April 2015, pukul 11.00 WIB di Kantor Kecamatan Walantaka Kota Serang)
Hal ini tanggapi dan dibenarkan oleh Sekertaris Kecamatan Taktakan yang menjelaskan bahwa:
“Dari pihak Kecamatan sudah menyiapkan SDM dan kendaraan operasional untuk menjalankan perizinan termasuk IMB, hanya saja Kecamatan Takatakan sama seperti yang lain, menunggu konfirmasi atau sosialiasai dari BPTPM agar kita dapat menjalankan kewenangan tersebut. Karena masyarakat kan tahunya hanya BPTPM.” (Wawancara dengan Bapak Mustofa, 14 April 2015 pukul 13.00 WIB di Kantor Kecamatan Taktakan Kota Serang).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, bahwa dalam menjalankan perizinan termasuk IMB sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Walikota Serang Noinor 42 Tahun 2014, beberapa kecamatan masih belum ragu untuk mulai menyelenggarakan perizinan khususnya IMB, selain karena menunggu konfirmasi dari BPTPM Kota Serang sebagai induk penyelenggara perizinan pihak kecamatan juga menilai perlu adanya sosialisasi ke masyarakat tentang Perwal tersebut karena mayoritas masyarakat, khususnya pemilik rumah tinggal masih belum mengetahui bahwa dalam mengurus perizinan seperti IMB sudah bisa melalui kecamatan di masing-masing wilayah Kota Serang.
Untuk itu perlu adanya semacam pertemuan antara BPTPM dengan pihak kecamatan dalam rangka sosialisasi tentang keberadaan Perwal khususnya serta Perda Kota Serang Nomor 13 tahun 2011 sebagai pedoman dalam menyelenggarakan perizinan, khususnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bagi masing-masing kecamatan.
3) Sikap Satuan Polisi Pamong Praja dalam menegakkan Perda tentang IMB di Kota Serang.
Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Serang dibentuk berdasarkan peraturan Daerah Kota Serang Nomor 10 Tahun 2008 tentang pembentukan dan susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kota Serang. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Serang menjadi unit kerja dilingkungan Pemerintah Kota Serang.
Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kota Serang memiliki Tugas Pokok yaitu membantu walikota dalam mewujudkan visi dan misi Kota Serang yang terjabarkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah dibidang penegakan perundang-undangan daerah, ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, sumber daya aparatur, dan perlindungan masyarakat. yang dipimpin oleh seorang kepala Satuan. Dalam rangka penegakkan Peraturan Daerah di Kota Serang khususnya Perda tentang IMB, pihak Satuan Polisi Pamong Praja secara intensif melakukan pembinaan, pengawasan dan penyuluhan, seperti yang dijelaskan oleh Kepala Bidang Pengakkan Perda Satpol PP Kota Serang, bahwa:
“Sikap kami sebagai penegak Perda IMB di kota Serang adalah
kami secara intensif mengadakan langkah pengawasan, meminta masukan dari masyarakat, jadi misalnya masyarakat boleh saja melaporkan bahwa didaerah A ada bangunan yang melanggar aturan nah kami akan meninjau masukan dari masyarakat, terkadang kami temukan dilapangan peruntukannya untuk untuk ruko tapi kenyataannya lain dilapangan, seperti di kelapa 2 itu izinnya adalah untuk ruko tapi kenyataanya sekarang dibuatkan itu adalah untuk sorum dan pencucian mobil dan itu kan sudah menyimpang. Kami buat telaahan staf setelahnya kami tujukan kepada walikota kami tembuskan kepada BPTPM, akan tetapi belum ada jawaban apa-apa. Nah ini yang membuat kami ragu
untuk melakukan penindakan. Jika kita feedback ke belakang itu kasus yang terbaru itu ada aduan dari masyarakat dia tidak memiliki IMB, dia juga tidak memilki izin industri nah itu yang pernah kami lakukan penindakan berupa penyegelan di Kasemen itu industri bricket yang menggunakan bahan bakunya dari limbah kayu yang diolah lagi kemudian ada aduan dari masyarakat dan langsung kami segel kami buat police line nya kami gembok ya itu saja jika sudah ada perintah dari walikota baru kami lakukan penindakan.” (Wawancara dengan Bapak H. Raden Kuncahyo, 08 Maret 2015, Pukul 13.23 WIB, di Kantor Satpol PP Kota Serang). Berdasarkan hasil wawancara tersebut, bahwa Satpol PP dalam mengekkan Perda IMB juga memperhatikan masukan-masukan yang disampaikan oleh masyarakat, tindak lanjut dari laporan tersebut adalah berupa tinjauan langsung oleh Satpol PP untuk menemukan penyimpangan terhadap penggunaan bangunan/usaha. Sikap Satpol PP sendiri masih sangat dipengaruhi oleh perintah yang dikeluarkan oleh Walikota Serang menyikapi penyalahgunaan bangunan atau tempat usaha sebagaimana mestinya. Dalam menyikapi bangunan yang tidak ber-IMB sendiri pihak Satpol PP masih mempertimbangkan dampak negatif yang akan timbul, karena pada umumnya mayoritas masyarakat Kota Serang masih belum memiliki IMB.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masing-masing pihak yang terkait dalam perda IMB seluruhnya menerima kebijakan tersebut, hanya saja dalam pelaksanaan IMB di masing-masing wilayah Kecamatan masih belum terlaksana secara optimal, hal ini terakit hal-hal teknis yang memerlukan penguatan kelembagaan yang dalam hal ini adalah pihak kecamatan dalam mendukung pelaksanaan kebijakan IMB khususnya bagi rumah tinggal.